Seekor Capung Merah – Rilda A. Oe. Taneko

Einstein: “Seorang kritik adalah penjaga kualitas sastra. Peran terpenting dalam kemajuan sastra dan budaya.”

Dua puluh lima cerpen yang kubaca dalam perjalanan bus Solo-Karawang, selesai ketika sampai kota Semarang (30/09/19). Kubaca sedari sehabis Asar saat menunggu bus tiba, sampai jelang Isya dengan lampu baca dalam kendaraan. Petualangan dengan banyak tema, dari cinta yang kandas, pengorbanan anak sulung yang tak bertepi, demo mahasiswa 1998, penculikan dan pembunuhan aktivis, sampai imaji peri. Paling banyak berkutat di Lancaster, Inggris tempat sang Penulis bernaung.

#1. Antara Den Haag dan Delft
Cerita perjalanan dengan sudut pandang aku bernama Ito, yang berdialog dengan seorang kakek, tentang masa lalunya, seorang Indonesia yang terasing di negeri Belanda. Perjalanan kendaraan umum yang seolah perjalanan hidup bermakna. “Banyak orang yang ingin pulang. Tapi tak semua orang yang pergi dapat kembali… dan di tiap-tiap pengembaraan ada saatnya menetap, memulai hidup di suatu tempat, mengenal orang-orang…” Cerita berakhir dengan kalimat motivasi, bahwa segala hal harus diperjuangkan. Pembuka yang bagus.

#2. Awan Hitam Menghadang Di Depan
Ray menyambut Boxing Day, waktu yang tepat buat belanja jelang akhir tahun, saat perayaan Natal karena banyak diskon. Merayakan kemenangan pemilik modal dan menyerahkan diri pada ketundukan pemujaan barang-barang. Ray membeli barang-barang kesayangan istri dan anaknya, Cut Meutia dan Adriana yang esok akan berkunjung. Antusiasme, kerinduan bertemu orang terkasih, menanti canda tawa secara langsung. Lalu sebuah tragedi di ujung Barat Indonesia terjadi, meluluhlantakkan segalanya…

#3. Bukan Sebambangan
Cerita dibuka dengan narasi kece. “Selepas subuh, matahari hangat kuku dan embun masih memberati dedaunan. Pohon nangka, belimbing, dan ubi jalar masih terliaht mengantuk…” Lamina dan kesendirian yang menyejukan. Di hutan ia bisa memejam mata dari kehidupan nyata, menikmati kesendirian dan menemukan ketenangan. Ia menemukan wanita meringkuk dekat pohon pisang. Hanum yang diculik, dipaksa kawin dengan pria sesuai adat. Keduanya lalu disatukan dalam akhir yang mengharu.

#4. Di Market Square
Persahabatan yang tak biasa. Emma dan Amelia yang sedang saling curhat tentang krisis ekonomi yang melanda, banyak orang menjadi susah. sulit dapat kerja, dan tunjangan yang disunat. Dan bagaimana seorang Penulis terkenal, seolah santai, hanya weekend writer, menghasilkan satu novel dalam sebulan. “well done, well done…”

#5. Di Pelarian
Dalam perjalanan ke pantai, kita menjadi saksi remaja korban pelecehan, di Inggris dijanjikan masa indah, ternyata dijual. Dalam sekap yang tak menentu, ia kabur. Bertemu sang aku di bus. Mengapa tak mencari polisi? Hujan di pantai, “Help me!”

#6. Dongeng Peri
Kau lebih mirip dengan orang-orang di tempat ini daripada di sisi lain pintu. Kulit dan rambutmu lebih gelap dibanding mereka.” Pangeran (pemberontak) dan putri (bukan Etta) yang melewatkan malam dalam kembang api, bom. “Mereka pernah sangat hidup. Hati mereka lembut, berakal sehat dan berkulit segar.

#7. Gambar Mei
Mungkin salah satu yang terbaik. Mei dan keistimewaan menggambar, meramalkan kematian. Namanya Mei, ia buka bicara apa saja. Siapa yang digambarnya akan mati. “Itu mistik dan bisa membuatmu sirik. Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang sirik.” Saat ia sudah kuliah dan berencana melakukan demo di kampus, Mei membuat pertanda. “Jangan pergi besok, tidak baik dan berbahaya.” Nah… kisah cenayang yang mau tak mau, suka tak suka, percaya tidak percaya, hanya dari goresan gambar seorang gadis.

#8. Joseph dan Sam
Sedih. Tapi mau bagaimana lagi, sering kali kita membantu seseorang, orang yang dibantu nyelunjak, minta lebih. Mendua niat dan harapan. Jadi sang aku menghabiskan masa tua sendiri, lebih tepatnya menyendiri, menikmati hari-hari, tetangganya meminta bantu, jagain anaknya, karena sedang ada acara, sekali dua ok lah, lalu berlarut dan keseringan. Joseph dan Sam lalu tak bisa ditemukan, bukan salahku, tapi didakwa nirpeduli. Bah! “Tahukah kamu dimana orang tua kami?”

#9. Kambing
Ini kisah tragis. Bagaimana pasangan hidup, sakit kanker, sudah parah. Berobat di banyak tempat, habis banyak biaya, rasa frustasi menghinggapi. Dan mengambil jalan ke dukun. Sang dukun memberi solusi, sakitnya akan ditransfer ke binatang kambing. Kambing yang terlihat polos, dan bermata bulat kelereng itu. Dan terjadilah, sesuatu yang mengerikan. Betapa cinta sejati begitu murni. Begitu cintakah kita pada kehidupan, Ami? // Bukankah kematian adalah alami? / Seperti bunga yang tumbuh lalu layu dan mati. / Apakah tidak mungkin kematian lebih indah dibanding kehidupan?

#10. Kawan Keluarga
MSM: Mirrors, Signal, Manoeuvre… Blind spot…” Persahabatan yang kental. Dave datang berkunjung untuk kesekian kalinya, main catur, buka you tube, seolah rumah ini rumahnya juga. Dave sudah berkali-kali kena check mate, fufufu… dan adegan di Big Hero Six menjadi kasar.

#11. Kembang Api di Stasiun Kereta
Ini juga terhanyut seru. Bagaimana mantan mencoba menggoda, mengajak bertemu lagi setelah sekian purnama terputus. Pengalaman pribadi? Lati dan komedi cinta di stasiun kereta api. Setelah tiga tahun dua bulan satu hari tak jumap dengan Steen, apakah masih sama? Kisah mereka hanyalah sebuah kesalahan. “Apakah ada kemungkinan, sekecil apa pun itu, untuk kamu percaya?”

#12. Lemari Buku Ayah
Sejarah Indonesia tentang masa pembersihan sebagai dalih pembunuhan massa, selalu akan dibuat ceritanya. Kali ini dari sudut sang anak yang kehilangan ayahnya, lemari buku menjadi saksi perjalanan masa. “Untuk sebuah perubahan tentu butuh korban, Bunda.” Dan ending yang membuat pilu.

#13. Lubang Bumi
30 September 1965. Sudah ada telepon genggam. Lubang bumi: sebuah kawah raksasa, dan ia berdiri di pinggirnya. “Aku rela mati untuk melahirkanmu ke dunia. Anakku.

#14. Madonna and Child
Cerita selingkuh yang laik dibalas selingkuh? Cerita mengapa memilih (akan) mendua dengan menyakiti pasangan, dengan penuturan lembut seolah lumrah? Kamu melakukan itu, mengapa saya enggak? Ini bisa jadi pematik sesuatu untuk digunjingkan. Surat Maryam, ayat pertam Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Sad. Lana dan pengelanaan percobaan meneruskan keturunan. Boleh aku berjalan bersamamu Lana?

#15. Mrs. Esa
Orang tua, warga Indonesia yang bermukim dalam keterasingan Inggris. Imigran yang digunjing, perempuan pulang malam sebagai gadis penghibur? Orang-orang tua pemalas yang hanya menengadah uang santunan pemerintah? Bagaimana anak-anak muda, remaja menghadapi orang tua menjadi dasar menjelajah kata. Nyonya Esa dan kekhawatiran lingkungan asing.

#16. Nyonya Whittard dan Kanan-kanak yang Hilang
Musim panas yang hangat. Cerita antar tetangga yang mengharukan. Setelah bertahun-tahun tak berkontak, tetangga itu bertemu saudaranya. The lost children. Keluarga Whittard yang bersatu di usia senja. David dan Donna kini bisa menghabiskan masa bersama lagi. Maya mendengar seksama, apakah ada yang janggal? “Kerap kali saya merasa saya sedang menunggu es krim yang dijanjikan ibu.” Hiks,

#17. Pemungut Kastanye
Ad yang suka makan kastanye panggang, ia sudah bosan rasanya mirip biji semangka yang membosankan. Setelah dua generasi keluarga Ad tinggal di Indonesia, ia menikah denganku, tapi sekarang harus tinggal di sana. Kerinduan kampung halaman, sedikit terobati karena ada perkumpulan para pelajar, saat kelulusan maka aku mendapat kata perpisahan yang berarti pula teman baru. Begitu saja terus… “Bangunlah. Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?

#18. Penghuni Swan Yard
Welcome to our house! It isn’s usually messy like today… it’s worse. Kisah Els dan San yang membeli rumah, tempat tinggal dengan tetangga yang janggal. Ternyata mereka salah investasi, ini bukan kompleks perumahan biasa. Ada kutukan yang mengintai, masa lalu suram. “Kamu terlalu banyak membaca karya-karya Austen.”

#19. Rumah Impian
Perjalanan hidup menyedihkan tanpa ekspresi meluap, sangat menyentuh hati. Hal semacam ini banyak terjadi, pengorbanan anak untuk orang tua, pengorbanan saudara untuk masa depan adiknya, pendidikan dan kelangsungan hidup. Pengorbanan saudara untuk kakak yang tak diperhatikan, pengorbanan tak bertepi. Kohar sang pahlawan, yang sekadar ingin punya rumah sendiri tak cukup mampu setelah segala yang ia perjuangkan selalu ludes atas nama keluarga. “Apa bapak ingin naik haji?”

#20. Sahabat Lama
Sudah bisa menebak akhirnya. Sahabat lama yang miskin, idealis, muda terpisah jarak. Lalu boom, sekembali dan turut bertemu menjadi kaya dan dihormati. Mendadak kaya itu bisa diartinya dua hal: pertama dengan cara korupsi, kedua menang lotere. Sayangnya di Indonesia, judi ilegal, maka bisa dipastikan Fajri akan terjerat KPK. “Jangan cemas, kami akan mengeluarkan Anda.

#21. Satu Jam Menuju Manchester
Cerita perjalanan kendaraan umum menuju Manchester. Ada beberapa pengamatan di sekitar, anak muda yang mendapat tempat duduk yang cuek terhadap orang tua, wanita yang berdiri, memainkan ironi betapa orang tua anak muda itu mengajarkan kebaikan. “Aku sangat hormat pada ibuku, dan selalu mencoba menuruti perkataannya.” Oh, smile you’re on CCTV!

#22. Seekor Capung Merah
Rumi, anak kecil ini dan cerita dengan sahabat bersama rahasia di kala sore, capung yang hinggap dan nuansa tragedi. Dari Mbak Soeplah, saya tahu ada orang jahat di luar sana. Para ninja yang melakukan penculikan. Aku melihat ada seekor capung merah hinggap di rambutnya yang hitam, serupa jepit rambut. Sayap-sayap merah capung itu beristirahat damai di kepala Rumi.

#23. Sudut Wyresdale Road
Pasangan sempurna Bia dan Akan, tampak ideal karena menawan di kedua sisi: penampilan dan otak. Malam itu untuk pertama kalinya listrik padam, dan untuk pertama kalinya juga setelah sepuluh tahun menikah, mereka bertengkar. “Tidak sah kalimat cerai itu kalau bercampur emosi. Untuk bercerai butuh saksi dan pengadilan.” Jadi penasaran kehidupan Titi Kamal dan Christian Sugiono? Sepuluh tahun lalu mereka mencipta kehebohan ketika menikah, sampai pada bilang kesempurnaan cinta. Benarkah?

#24. Wennington
Cerita pelayaran di abad 19. John dan impian pemilik nahkoda Wennington. Memiliki Janet, gadis yang menantinya di kampung halaman selepas berpetualang, tapi saat di Semarang ia jatuh hati dengan gadis lokal. Cinta memang buta, dan kisah romantis itu hanya omong kosong.

#25. Wennington’s Morse
Benarkah bintang-bintang di angkasa kala malam menyapa itu adalah kode morse yang dikirim? Apakah langit itu lautan, mercusuar adalah matahari, bulan adalah lampu kapal? Setelah laut, kita akan sampai di ujung dunia. Apakah kita akan bertemu lagi? “Bukankah kematian juga yang menungguku di ujung lain? di penghujung senja?”

Menikmati kumpulan cerpen memang gampang-gampang susah, ga seperti novel yang memiliki benang terkait sepanjang cerita, cerpen lebih liar dan bebas dengan tema beragam. Seekor Capung sendiri kisah sedih dengan balutan imut, dipilih menjadi judul buku dengan kover ciamik. Tak melulu kesedihan, ada harapan, kesetiaan, dan janji berjuang bersama. Dua puluh lima cerita yang memiliki sejarah penerbitan, tak satupun yang pernah kubaca sebelumnya, jadi ini adalah pengalaman pertama dengan Rilda.

Prediksi: Seperti Gentayangan (Intan Paramaditha) yang berdasar pengalaman hidup di luar negeri, Seekor Capung yang melaju ke daftar pendek, rasanya juga tak akan juara. Sulit memang menjaga konsistensi bagus dalam kumpulan cerita pendek. Dengan tema beragam, diberi kebebasan berkisah tanpa runut sekalipun, Seekor Capung di beberapa bagian memang OK, sangat Ok malah. Bahkan sangat menyentuh, paling realistis dan nyata tentu saja pengorbanan demi keularga hingga tak bisa memiliki rumah sederhana sekalipun, menukil beberapa sejarah menjadikan seolah fiksi, bagaimana era kolonial itu mencipta cinta.

Cerita sedih tanpa perlu uraian air mata, cerita tragedi tanpa perlu darah berserakan, cerita inspirasi tanpa perlu kata-kata motivasi melimpah ruah. Semua mengalir apa adanya, seolah air sungai yang biasa menyapa ranting, menyapu batu kali, atau sesekali ada seekor capung merah yang melintas di atas alirannya. Enam sudah, empat menuju. #KSK2019

Seekor Capung Merah | Oleh Rilda A. Oe. Taneko | Ilustrasi Pata Areadi | Desain cover & layout Team Aura Creative | Penerbit Aura | vii + 250 hal: 13.3 x 20.5 cm | Cetakan April 2019 | ISBN 978-623-211-052-6 | Skor: 4/5

Karawang, 021019-051019-091019 – M2M – Pretty Boy