Bugiali – Arianto Adipurwanto

Maq Kepaq: “Sebenarnya di mana surga neraka itu?” / Bugiali: “Ndak ada surga neraka, kita dapat minum tuak, inilah surga. Neraka itu kalau kita tidak dapat lanjut minum tuak.”

Kumpulan kisah yang berkutat di Lelenggo, kental sekali dengan istilah lokal. Menurut Google Map yang kubuka setelah selesai baca, Lelenggo berada di… , tidak ketemu, tidak ada. Ga tercantum di Google Map. Lha, apakah fiktif? Nope. Saya sampai menghubungi Bung Arianto untuk memastikan apakah ada daerah dimaksud. Ternyata ada. “Lelenggo real mas. Mungkin belum msuk google map karena pelosok.” Lelonggo adalah kampung halaman sang Penulis? Terlahir di Selebung, Lombok Utara.

#1. Suara Dari Puncak bukit
Ini adalah cerita sepasang manusia yang mengeluhkan tempat tinggal yang dirasa dikutuk, bertahun ga punya anak. Maq Colaq dan Naq Colaq yang sedang mau ngopi malah ngerumpi masa-masa yang menyedihkan yang sudah mereka jalani. “Untuk apa gunanya tanah yang luas ini kalau kita ndak punya anak.” Sang istri yang putus asa mengancam bunuh diri, kecewa akan hidup. Pembuka kisah yang janggal, karena kita tak tahu mana yang laki dan perempuan, nantinya setelah beberapa halaman saya pahami bahwa Maq untuk laki, Naq untuk perempuan. Saya pakai analogi Sunda untuk menyapa saja akhirnya, ‘M’ untuk Mang, ‘N’ untuk Neng agar lebih mudah mengingat dan menyerap.

#2. Mantra
Maq Colaq yang seolah terserap dimensi lain. Labu yang memiliki mata, hidung, mulut itu terasa hidup. Ketakutan akan pengaruh mistis, sementara Naq Colaq yang sedang mencari kutu menanyakan ada apa, ia terus saja merancau seolah perang mantra. “Ada apa?”

#3. Malam Ketika Naq Colaq Diusung dengan Keraro Meninggalkan Lelenggo
Naq Colaq yang sakit keras, dibawa ke Lelonggo dengan ditandu bersama warga dan anaknya, Colaq. Malam melewati sungai Keditan bersama iringan suara burung hantu dan dares (burung peliharaan orang yang menguasai ilmu hitam), sampai tengah malam. Anak Colaq, cucu Naq Colaq menyambut. Mereka lalu membuat penangkal racun yang sudah masuk ke tubuh Naq. Siapa yang tega meracun orang tua ini? “Ada babi, ada babi.

#4. Pendea
Pendea adalah orang yang datang setiap musim kopi dengan membawa berbagai macam barang dengan tujuan menukarnya dengan kopi. Ini adalah kisah para pendea yang datang ke rumah Naq Capiq. Kopi di kebunnya sudah habis dipetik, tapi tamu yang datang tak boleh pulang dnegan tangan hampa. Maka berdebatlah ia dengan sang suami. “… Sumpah! Saya akan pindah dari tempat ini. Dari dulu tidak lain yang kita susahkan. Kopi, kopi terus.

#5. Pemburu Musang
Sejak usia sepuluh tahun ia sudah menjadi pemburu musang, hingga kini ia menjadi pemburu yang tak tertandingi. Mampu mengenali bau musang dan mampu melacak keberadaannya. Ia mampu menjadi hantu yang baunya pun tak bisa dilacak oleh musang yang ia akan tangkap. Bugiali, kini ia dalam sekap karena ia malah diburu oleh musang! Dan…

#6. Bugiali
Walaupun kita menderita di dunia, kita harus bahagia di surga. Kematian membuat warga Lelonggo ketakutan, orang kaya diracun karena iri dan ini mencipta kecurigaan sesama warga. Hanya dua orang yang ga takut, adalah Bugiali dan Maq Kepaq. Bugiali yang teramat miskin, tampak bahagia tanpa beban berlebih, dan Maq Kepaq memakan semua makanan yang diberikan warga tanpa prasangka. “Jangan berani lawan saya, saya Bugiali.”

#7. Bagindali
Di Lelonggo, hanya Bugiali yang tidak takut makan di rumah siapapun. Yang lain, bahkan takut makan di rumah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa lalat, kutu, semut dan makhluk-makhluk tak terlihat adalah suruhan orang selaq (orang yang menguasai ilmu hitam) yang ingin membunuh mereka. Legenda kehebatan, Bugiali dan Bagindali, siapa nomor satu siapa nomor dua? “… tekecodet tekecodet.”

#8. Mur Monjet
Legenda di puncak Mur Monjet yang dikutuk. Dunia orang mati dan hidup itu beda, apakah surga dan neraka ada? Siapa yang menguasai kita? Tuak! Terus kenapa Bugiali pengen membunuh kita? Karena kita meminum tuaknya. Hentikan!

#9. Sepotong Kisah Bugiali
Ada dua hal yang membuat Bugiali tak terkalahkan, ia bisa berjalan cepat dan ia cepat sekali berbicara. Istrinya, Kirsip banyak yang dikeluhkan warga karena kurang pantas untuk seorang yang cekatan, suka belanja berlebihan. Mereka miskin, pinjaman di mana-mana, sudah banyak menjual barang-barang pribadi, lalu apalagi yang hendak diperdagang? “Kita jual pintu itu.

#10. Puq Bijoq Mencari Tingo
Tingo adalah serangga kecil berwarna merah yang membuat gatal. Puq Bijoq sedang mencari tingo ketika anaknya Bugiali datang, memberi saran pakai minyak tanah aja biar cepat beres. Bugiali mau metik kopi, disembur kata-kata pedas, kopi lagi kopi lagi, dalam ketegangan itu muncullah anak kedua Kecepeh yang membawa bakul yang sedikit, datang bersama bayinya guna memetik kopi. Weleh.

#11. Sabuk Bugiali
Beberapa orang yang yakin bahwa Sudar Gana berhasil merebut sabuk Bugiali. Namun ia masih hidup, legenda kehebatan ini mencipta perseturuan siapa yang paling hebat? Sebagian ibu-ibu juga menakuti anak-anaknya dengan Sudar Gana sebagai raksasa bertanduk, bertaring, berjenggot, bermata lebar dan sebagainya.

#12. Pencuri Kopi
Ini kisah paling lucu nan ironis. Ini cerpen terbaik. Sepasang manusia terpaksa mencuri kopi gara-gara ga punya duit, ga punya duit tapi memaksa beli makanan yang dijual tetangga yang miskin dengan utang, bayar nanti. Dan malam itu mereka terpaksa melakukan kejahatan itu. Puq Mayu jaualan masih banyak, Naq Sukiq yang simpati memborong. Maq Sukiq geram, ga ada duit kok memaksa. Dan malam itu dengan terpaksa mencuri di kebun kopi milik Maq Tegep. Menegangkan. “Nah, kan dapat.”

#13. Ketika Musim Panen Kopi
Rumah Kirsip berada di pinggir jalan, menciptanya ramah setiap ada warga yang lewat guna senyum sapa. Betapa keramahtamahan diagungkan oleh warga sini. Kita tidak bisa hidup kalau tidak ada mereka, mereka itu orang-orang kaya, nasib kita tergantung pada mereka. “…kita membaik-baiki orang berharap kita dibaiki. Betapa hinanya kita.

#14. Kedatangan Jiwar
Nasib orang memang ga ada yang tahu. Jiwar yang dulu miskin kini menjadi terlihat kaya, kedatangannya dengan gaya akan memperbaiki rumah yang memprihatinkan, menawarkan giling kopi gratis karena sudah punya mesinnya, sampai motor barunya siap dipakai. “Saya sekarang ndak menderita kayak dulu. Sekadar makan sehari-hari ndak susah.” Pasangan Sumir dan Kirsip, saudara Jiwar yang miskin menyambutnya dalam masam.

#15. Puq Dusaq yang Tak Kunjung Mati
Orang tua yang sudah sekarat, tak kunjung mati karena dianggap punya gawan, di sini disebut sesangi. Atau memiliki selaq, semacam ilmu hitam yang membuat murka Yang Maha Kuasa. Kondisi ini mencipta Kirsip dalam dilema, menderita mengurus mertua. Banyak gunjingan warga, kasihan dia. Sumir sebagai anak, suatu ketika mendengar kasak-kusuk, ilmunya harus diturunkan dulu kepadanya agar beban orang tuanya lepas. Hiks, “Kasian Kirsip sudah lelah urus mertua, nanti harus urus lagi urus suaminya.”

#16. Sudar Gana
Puq Dusaq yang terkenal abadi, pagi ini ditemukan mati. Legenda Batu anak hebat, itu dicerita bahwa ia ditemukan dalam rempung pisang dalam kemisa. Banyak pertanyaan warga muncul, Puq Dusaq menyebutnya bayi Tuhan yang keluar dari batang pisang. Dari cerita turun temurun, Sudar Gana adalah makhluk pencuri jiwa, tak ada yang bisa kembali jika jiwanya sudah dibawa. “Dia sudah dekat dengan kalian, bersiaplah.”

#17. Upacara Pembakaran Kelor
Kisah Maq Merdip dengan lilitan utangnya. Hingga akhirnya ia tak datang di rapat rutin karena rapat yang sejatinya kesempatan untuk mencicil itu, ia tak sanggup. Maka keputusan bulat diambil, “Ya sudah, kita anggap lunas.” Dilakukan upacara bakar kelor sebagai syarat. Siapa yang bakar? Kirsip. Maka jamu dia nantinya!

#18. Pengisah Kesedihan
Tragedi Maq Dumbeng yang jatuh di Tangkok Binong menjadi buah bibir warga. Sang pencerita dengan sumringah bertutur kisah sedih yang menjadi minat pendengar. Ketika beralih ke kabat baik, antusias mereka redup, tapi ketika gosip ke yang kabar buruk menjadi riuh lagi. Sejak itu, ia memetik pelajaran bahwa para warga tidak suka cerita tentang kebahagiaan.

#19. Empat Orang Pengangkut Kayu Telah Lama Lewat
Hehe, cerita lucu seorang penunggu durian runtuh. Diberikan kepada empat orang pengakut kayu yang lewat, gratis. Lalu ia menunggu di bawah pohon lagi. Ada yang minta lagi, walau niat beli, ia kasih lagi. Ia tunggu lagi, kelamaan, ada yang usul tebang saja. Hah. Sumir, sang penunggu durian jatuh. Lalu cerita ditutup dengan aneh, salah satu pengangkut kayu itu jatuh di Tangkok Binong. Hah…

#20. Kisah-kisah yang Hanyut di Sungai Keditan
Maq Sukiq bercerita kepada Sumir seolah sudah mengenal lama, padahal mereka baru bertemu. Lalu muncullah empat pengangkut kayu dari hutan, saling sapa. Dan betapa bekal itu lebih dari cukup untuk beli beras. Percakapan mereka berdua berakhir dengan nir transaksi, sekadar basa-basi ngalor-ngidul. Mereka benar-benar pergi, seekor capung berwarna merah terbang dan hinggap di atas sebongkah batu. Dan sungai Keditan mengalir seperti biasa.

Kumpulan cerpen yang mengaduk, ga ada konsistensi. Di cerita lain pasangan siapa, di cerita berikutnya berganti padahal nama karakter sama. Berkutat di tradisi warga, seperti tamu yang membawa bekal guna ditukar dengan kopi, tapi saat taun rumah kehabisan memaksa cari, logika anak zaman now pasti tinggal bilang ga ada. Tidak, adat itu tak memperbolehkan seenaknya pulang tangan hampa. Tindak tanduk, sopan santun, adat leluhur masih dijaga. Lalu, Bugiali yang terlihat perkasa-pun terjatuh juga, miskin tanpa beban, hebat dnegan tuak, melegenda, menyatu dengan alam.

Untungnya, penutup buku ini bagus banget. Tiga cerpen terakhir bertautan, saling isi, saling sambung dengan sudut pandang berbeda, dengan inti tukang angkut kayu yang jatuh. Dari sudut pencerita kesedihan, dari sisi penunggu durian runtuh dan penjual yang disapa lewat. Dan sungguh, maha benar sungai Kepidan yang menjadi saksi mati segala peristiwa masa lalu, kini dan akan datang. Sebiasa alirannya yang normal dari hulu ke hilir.

Prediksi: Sebenarnya buku ini sekadar bagus, terlampau mengedepankan kedaerahan, banyak sekali suku kata Sasak yang tertera sampai menyita dua halaman penuh guna penjelasan. Agak mengejutkan, sore ini ketika pengumuman lima besar, Bugiali melaju ke daftar pendek, saya langsung mengucapkan selamat via WA ke Penulis. Karena jadi buku kelima yang kubaca pasca kehebohan Tango & Sadimin yang sedikit berhasil mengembalikan kepercayaan, harap tinggi itu gagal terpenuhi. Jelas Bugiali bukan jagoanku. Seperti Tiba Sebelum Berangkat yang mengejutkan melaju, dan berakhir kalah, saya bisa melihat Bugiali juga tak akan juara 16 Oktober nanti. Bisa melaju sejauh ini sungguh luar biasa, dari Penerbit legendaris Pustaka Jaya, moga jadi pematik kebangkitan.

Bugiali Sehimpun Cerpen | Oleh Arianto Adipurwanto | Penerbit Dunia Pustaka Jaya | Bekerja sama dengan Studio Hanafi | Artwork (kover) Hanafi | Cetakan pertama, 2018 | ISBN 979-978-419-499-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 250919-051019 – Sherina Munaf – Mimpi dan Tantangan

*) diketik dalam dua kali kesmepatan duduk. Tanggal 25 September sore saat pengumuman lima besar muncul, dan dini hari ini 5 Oktober dengan segelas kopi dan kumpulan lagu Sherina Muanf dan Bee Gees.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s