Jeritan Dari Pintu Kubur – Abdullah Harahap

“…di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampung ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

Buku kedua Abdullah Harahap yang kubaca, setelah terpesona dengan Kolam Darah, saya memang memastikan akan membaca karyanya lagi. Sayang sekali, untuk kali ini kurang memuaskan. Saya sudah bersiap ketakutan, saya sudah was-was aura mistisnya, saya sudah antispasi membaca dalam remang Malam Minggu sendiri dan kutuntaskan hari ini (27/10/19). Sayang sekali, gagal terpenuhi. Jeritan Dari Pintu Kubur malah berjalan klise, dramanya bak sinetron azab yang tayang di tv tiap malam, endingnya ketebak, yang baik pada akhirnya menang, yang kalah ya yang jahat. Aura mistis yang kunanti juga nyaris ga muncul, hanya segelintir tanpa bikin merinding. Tumbal bayi malam Jumat Kliwon, jimat untuk pengasihan, tapi justru malah dendam kematian yang utama. Bagaimana arwah penasaran mencipta kengerian untuk menuntut balas.

Kisahnya tentang Parman, perampok yang selesai menjalani hukuman. Mendapati istrinya meninggal secara tak wajar. Ditemukan tewas nyaris telanjang di sungai, info yang beredar karena bunuh diri. Namun jelas bukan karena itu, pembaca sudah diberitahu bahwa kematian Lila karena ulah Pak Lurah (karakter tanpa nama) yang mencoba memperkosanya, dalam kamarnya ada lubang yang mengarah ke top roof, Lila lari dan di atap itulah, Lila terjun ke sungai. Lila menjadi arwah penasaran. “Persetan! Biar halusinasi, kalau itu jerit arwah isteriku, aku tak peduli.”

Parman adalah pembantu pak Lurah, maka karena ia akan diusir warga, ia minta bantuan perlindungan. Pak Lurah punya asisten Pak Bejo yang kekar dan plontos, gambaran jahat seorang antagonis yang bengis. Pak Lurah yang walau gugup, mencoba membantu. Namun suatu pagi, saat Parman sedang merenungi nasib di tempat ditemukannya Lila nyangkut di akar pohon sungai, ia menemukan keganjilan. Di tepian rumah Pak Lurah, di sungai itu ia menemukan kutang Lila, maka spekulasi Pak Lurahlah yang melakukan pembunuhan berkecamuk di kepala. Subuh itu, ia mendatangi rumah orang terkaya di desa itu. Teriak-teriak kayak orang gila, warga berkumpul, malah massa itu lalu mengeroyok Parman yang seperti orang gila. Lalu dirawat di klinik, Bejo diminta membereskan oleh bosnya. Malam itu, arwah Lila menolong Parman, karena menampakan diri dan membuatnya bersembunyi di semak menyaksikan Bejo yang coba membunuhnya pulang tanpa hasil.

Parman kabur ke Bu Lasmi, mantan istri Pak Lurah. Di sana ia cerita bagaimana kronologinya, karena pernah ada asmara diantara mereka, ada sendu yang menguar, tapi Bu Lasmi sudah berencana menikah, maka godaan Parman ditampik. Ia membantu perawatan Parman ke kota, dengan bus yang dalam perjalanan ia pingsan berkat banyak darah keluar. Naas, kaki kanannya harus amputasi karena sudah kena inspeksi, ia hampir putus aja. Sekarang bagaimana ia bisa menuntut balas dengan satu kaki?

Maka Bung Abdullah mencipta karakter bernama Dorothea, seorang suster yang wajahnya mirip Lila. Parman mengejarnya, mengeja Lila untuk perempuan yang merawatnya, nyaris membuatnya gila. Antara halusinasi ataukah penampakan ataukah ia sudah beneran edan. Nah, dari sinilah keklisean kisah dimulai. Sungguh kebetulan yang konyol dicipta, Tea yang bercerita pada kedua orang tuanya, lalu kita tahu identitas Tea yang ternyata bersaudara dengan Lila, lalu membantu Parman membalas kematian kakaknya, lalu amburadullah kengerian yang sudah disusun itu. “Hantu? Tidak ada hantu di dunia ini bung. Apalagi di siang bolong seperti kemarin, waktu kau kejar-kejar suster Dorothea…”

Pak Lurah seorang bisex, Bejo wakilnya adalah pasangan tidur, mereka memiliki jimat dari mayat bayi yang mati di malam Jumat, diawetkan dan disimpan dalam sebuah kotak. Barang siapa memilikinya, ia bisa tembus pandang. Dari situlah kekayaan Pak Lurah, merampok dalam senyap. Parman sendiri tertangkap dalam aksinya karena setelah melacur, ada rambut perempuan yang terselip sehingga ajian itu hilang.

Kisah menjadi makin tak jelas saat, Pak Lurah dengan mudah memecat Bejo, orang kepercayaan yang sudah lama mengabdi demi pemuda bernama Kardi yang mencari kerja, mengantar surat untuk Bejo agar pulang. Pak Lurah terkesima kemudaan Kardi dan nafsunya membumbung, Bejo sendiri saat sampai di kampung menemukan kejanggalan karena alasan ia diminta pulang, ayahnya sekarat dan akan membagikan warisan. Bagaimana ini merupakan jebakan, ibunya buta huruf dan adik-adik perempuannya hanya bisa bersolek. “Mengapa kau pandangi aku begitu? Mata pak lurah membayangkan ketakutan.”

Kisah berakhir dengan nyaris tanpa pukau, Pak Lurah menuai kejahatan, Parman menuai kerja kerasnya, Tea menemukan kejutan, bagaimana ia belum tampil tapi ada penampil lain yang ternyata arwah Lila sendiri yang muncul menuntut balas. “Aku bukan membanggakan diri, isteriku memang cantik. Itu salah satu sebab mengapa aku teramat mendambakannya.”

Agak janggal membayangkan Tea menolak dokter atau banyak lelaki yang menggodanya, ia adalah semacam perawat idola. Kalau dokter yang sudah beristri wajar, tapi begitu banyak pemuda lajang mengantre, lalu menjatuhkan pilihan kepada Parman yang terlihat gila? Semakin tercurah perhatian perempuan terhadap laki-laki, semakin tertumpah pula harapan lelaki lain yang justru mengharapkan perhatian itu ditunjukkan hanya pada dirinya seorang. Atau inikah yang dinamakan cinta? Cinta buta.

Cerita tampak terlalu mengada-ada, seolah orang jahat itu harus menuai kepahitan di akhir. Hati manusia abu-abu, kebaikan mengurus Lila dan ibunya memang tampak lumrah, tapi ia mengharap balas nafsu yang terlihat agak konyol. Legenda urban, dimana pencurian mayat yang dikubur malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon memang ada, di kampungku dulu juga gitu. Keluarga akan mendirikan tenda di dekat kubur sampai 40 hari setelah penguburan. Serem? Begitulah nyatanya. Seolah ini memberi gambaran kisah semacam ini memang mungkin terjadi. Tapi jelas, ga sesinetron ini. Semua dendam apakah harus terbalas? “Aku akan datang untuk membalasmu!

Ini adalah buku bekas persewaan dan perpustakaan. Hurufnya sebagian kabur, kertas buram yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. dari penerbit indi, dicetak tanpa ISBN dengan ukuran sedikit lebih besar dari buku saku. Ada stempel merah ‘Perpustakaan NIKA’ Delanggu dan ‘Taman Batja Galiuk’ Kauman 120 Pati. Sayang sekali halaman hilang dua, halaman 63-63 bagian yang agak panas ketika Parman berkunjung ke Bu Lasmi, perempuan yang merenggut perjakanya. Bagian itu jelas disobek, kepingan kisah menjadi tak lengkap.

Dengan kekecewaan ini apakah saya tak berniat lagi akan kisah horor Abdullah Harahap? Nope, sesekali memang perlu terpeleset untuk menggapai harap lagi. Jeritan Dari memang gagal memenuhi harap, tapi jelas ini hanyalah pijakan horor kecil untuk letupan seram selanjutnya.

Dorothea tertengadah. Takjub.

Jeritan Dari Pintu Kubur – Abdullah Harahap | Cetakan pertama, Agustus 1984 | Penerbit ‘GULTOM’ Agency | Skor: 2.5/5

Karawang, 271019 – Bee Gees – You Should Be Dancing

Buku dibeli di lapak buku bekas Gladag, Solo pada tanggal 29 September 2019 beli 5 hanya 20k bareng Damar Laziale

Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana – Kurt Vonnegut

Sudah berkali-kali hati saya kecewa sebelum meninggalkan lembah durjana ini untuk dunia yang lebih baik. Tapi kekecewaan yang saya rasa paling dalam disebabkan oleh…

Berisi dua cerpen tentang masa depan yang mengerikan. Di penghujung abad 22, manusia sudah menemukan obat abadi, dimana penuaan bisa disikat. Tak ada wabah, tak ada perang, tak ada pembunuhan massal. Kedamaian yang didapat? Belum tentu. Kematian menjadi barang langka, usia manusia sungguh panjang. Kakek nenek, bisa hidup bersama dengan cucu cicit, dan generasi setelahnya. Dan bagaimana manusia menghadapi bencana overpopulasi? Satu lagi, adalah masa depan yang bisa jadi solusi masalah cerpen pertama, populasi manusia diatur agar seimbang, setiap kelahiran berarti harus teregister kematian lain. Maka tampak jahat, tampak membunuh adalah kelaziman. Dua tema yang luar biasa menantang nalar, dua opsi masa depan yang sungguh misterius dan mengerikan. Perang adalah damai? Ataukah, anti-perang adalah damai?

#1. Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana
Kalau begitu, seratus tahun lalu juga sudah ada.” Kakek Ford hidup di tahun 2185 bersama banyak keluarga dekatnya, panjang umur dalam arti sebenarnya. Saat minuman anti-geranose ditemukan ia berusia 70 tahun dan sampai 102 tahun kemudian ia masih hidup. Menjadikan privasi adalah barang mahal, langka karena dunia tampak sempit, orang makin banyak. Orang jadi mendamba hidup dalam penjara yang tenang, barangsiapa yang berani menyebarkan berita bagaimana nikmatnya penjara tak akan boleh masuk lagi.

Dengan sudut pandang Lou, keluarga ini hidup berhimpit dalam apartemen bersama seluruh keluarga dari kakek, ayah, anak, cucu, cicit… Kakek Ford sebagai generasi paling tua, memegang surat wasiat nantinya kepada siapa kasur di kamarnya diwariskan, dan selalu mengancam mereka-mereka yang mengusik kenyamanan di jelang akhir hidupnya. Di tengah ruang ada ranjang yang empuk, tinggi, luas dan berkanopi yang dicita-citakan seluruh keluarga Ford. Namun dengan obat anti-aging, entah hidupnya mau sampai kapan? Aku tidak akan panik sampai aku yakin aku memang layak panik akan sesuatu. Hiruk-pikuk dunia ini akan segera lepas dariku bagai jubah bagai jubah berduri, dan aku akan segera menemukan kedamaian.

Pertanda kematian sama asingnya dengan Zoroastrianisme atau pemberontakan Sepoy, membungkam suara dan melembamkan hati mereka masing-masing. “… nanti ketika bendera kotak-kotak di Indianapolis Speedway dikibarkan, dan ketika kakek sudah siap buat Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana.”

#2. 2BR02B
Nomor telpon 2BR02B dibaca to be or not to be, yang diambil dari soliloquy dalam buku tragedi Hamlet yang artinya pengungkap kegalauan hidup dan keinginan bunuh diri bahwa ayahnya ternyata dibunuh pamannya sendiri. Di sini dijadikan humor satir tentang masa depan yang ideal, angka kelahiran diatur sedemikian rupa, sehingga klik dengan angka kematian. Menurut Undang-undang, seorang bayi hanya boleh hidup bila orangtuanya berhasil menemukan seseorang yang mau sukarela mati.

Di era itu, tak ada penjara, tak ada kampung kumuh, tak ada rumah sakit jiwa, tak ada cacat, tak ada kemiskinan, tak ada perang. Seluruh penyakit sudah ditaklukkan, begitu juga usia tua. Kematian, kecuali kecelakaan adalah petualangan bagi mereka yang sukarela. Penduduk Amerika stabil di angka Empat Puluh juta.

Si Pelukis merenungkan teka-teki menyedihkan tentang kehidupan yang ingin dilahirkan, dan setelah dilahirkan, dan peranak pinak, dan menjalankan kehidupan yang lebih lama, planet ini dituntut untuk bertahan selamanya. Pelukis, dan model lukisan Leona Duncan, dan kenaifan yang fana.

Dengan setting rumah sakit bersalin Chicago dengan lukisan ‘Studio Bunuh Diri Etis’. Seorang ayah Edward K. Wehling Jr. mendapat karunia anak kembar tiga. Yang otomatis harus merenggut tiga nyawa, atau mau mengorbankan salah satu atau salah dua guna penyeimbang. “Aku tidak mau mati di otomat…”

Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.”

Kubaca kilat pada hari Senin (21/10/19) ketika istirahat kerja. Sebelum makan siang, dan setelahnya. Di meja kerja sembari mendengarkan kumpulan lagu lokal, kutuntaskan di ruang ATK (Alat Tulis Kantor) dengan rebahan santuy. Bukunya tipis sekali, hanya berisi 46 halaman. Dari Penerbit OAK yang kini sudah tutup, masuk ke dalam kolektor edition, di mana halaman muka ada nomor koleksinya. Saya mendapatkan nomor 090. Menurutku exclusive sih, bagus sekali buku dinomori oleh Penerbit. Dengan kover bagus banget, lukisan karya Arwin Hidayat, seolah mewakili kisah suram yang ada, masa depan yang rumit. Mengekspresikan wajah-wajah tanya, seolah memang kita (nantinya) memang hidup di masa tak tentu arah. Namun tetap dengan masalah utama yang sama, dulu, kini dan nanti.

Umat manusia sudah mampu mengalahkan kehendak Tuhan. Kesejahteraan hidup yang makin menjamin, kelahiran tak terkendali, harapan umur panjang. Longevity – yang mengingatkan pada tulisan Shailesh Modi bahwa di era exponential harapan hidup manusia bertambah 3 bulan setiap tahunnya. Empat tahun lalu harapan hidup manusia ada di angka 79 tahun dan akan terus naik saat ini ada di angka 80. Artinya di tahun 2036 harapan hidup manusia akan mencapai 100 tahun! Teori transhuman. Sementara bumi menyediakan sumber daya alam yang dalam prediksi matematis tak akan cukup dalam 50 tahun ke depan. Manusia banyak, makanan kurang. Sebuah ancaman yang harus diantisipasi yang kini jadi debat rumit para ilmuwan. Solusi untuk mencegah kepunahan umat. Masuk akal sekali-kan?

Di sini kita disuguhi opsi pertama, seolah pembiaran berjalan laiknya saat ini. Sehingga overpopulasi atau populasi dijaga seimbang dengan konsekuensi yang sangat mahal.

Ini adalah buku kedua Kurt Vennegut yang kubaca setelah Gempa Waktu yang wow itu. Gempa waktu 2001 merupakan nyeri otot kosmis dalam tendon-tendon Takdir. Ketika kota New York pukul 14:27 tanggal 13 Februari tahun itu, Alam Semesta mengalami krisis kepercayaan diri. Haruskan ia mengembang tanpa batas? Apa maknanya? Alam Semesta mendadak sontak menyusut sepuluh tahun tanggal 17 Februari 1991. Hebat ini penulis, memainkan ironi kehidupan. Imaji tak berbatas, menantang nalar, memadukan realita dengan konsep-konsep fantasis khas fiksi ilmiah. Menertawai sekaligus mengutuk kebiadapan manusia dan kedangkalan manusia abad 20.

Dunia ini seharusnya sedikit berantakan, menurutku.”

Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana | by Kurt Vonnegut | Diterjemahkan dari Big Trip Up Yonder | Penerbit OAK, 2017 | Cerakan pertama, Seprtember 2017 | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Arwin Hidayat | Perancang sampul Azka Maulana | Penata Letak Hengki Eko Putra | x + 28 hlm., 12×18 cm | ISBN 978-602-60924-5-8 | Skor: 4/5

Karawang, 231019 – Raisa – Mantan Terindah

Skipping Christmas – John Grisham

Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

Terpingkal-pingkal saya menamatkan cerita Natal kali ini, sungguh luar biasa Penulis Amerika yang biasanya serius kali ini mencipta cerita tema sederhana, tapi ternyata menyimpan gas tawa luar biasa. Separuh akhir sungguh menakjubkan, seolah melempar punch-line, membuat seantero pemirsa terpingkal sejadinya. Sempat khawatir cerita akan membosankan, Grisham yang punya CV hukum menakjubnya, menjadikan cerita keluarga ini menjadi luar biasa menghibur. Dengan bermodal sebuah tradisi tahunan, rencana absen perayaan menjadi bencana tak terkira, menjadi hangat, lalu sungguh indah sekali pesan yang hendak disampaikan. Ngumpet dari tetangga demi kabur di hari besar? Sejauh ini tak ada yang melihatnya, atau setidaknya begitu perkiraannya. Salah satu kehebatan buku ini adalah, tatanan yang rapi itu tiba-tiba boom, rusak hanya karena satu kalimat. Sebuah telpon sekitar jam sebelas yang mengacaukan segalanya. Hebat ya.

Sebuah rumah di Hemlock, empat belas tujuh delapan. Luther Krank, lima puluh empat tahun dan istrinya Nora Krank untuk pertama kalinya semenjak putri satu-satunya dewasa akan merayakan Natal berdua. Blair Krank menjadi relawan pendidikan di Lima, Peru dan akan pulang tahun depan. Natal pertama berduaan ini direncana Luther untuk pergi berlibur ke pantai sebuah pulau di Karibia sepuluh hari, maka mereka akan absen perayaan sakral tersebut. Lagian setelah dihitung-hitung, sungguh boros sekali pengeluarannya. Tahun lalu Krank mengeluarkan biaya 6.100 Dollar. Justru itu yang tidak disukai Luther tentang Natal. Semua orang mencoba menjual sesuatu, menghimpun dana, menharap tip, bonus, sesuatu, sesuatu, sesuatu. Ia jadi kesal lagi kemudian senang lagi.

Sekarang sudah terkepung aku.” Cobaan menerpa dari berbagai sudut akan rencana skip Natal. Dari teman-teman kerja, yang biasanya ngumpul makan malam mewah, Luther menetapkan diri ga ikut. Membuatnya bangga akan keputusannya untuk menghindari segala kekacauan Natal. Dari tetangga sekitar yang paling heboh. Kebiasaan pasang Frosty, boneka salju yang ditaruh di atap untuk hiasan, menjadi kabar paling menggemparkan Hemstock Street. Lomba tahunan antar kota, yang otomatis kali ini kalah karena ada warga yang tak memasang frosty. Frosty dengan bohlam dua ratus watt akan bergabung dengan keempat puluh satu temannya. Kabar dia absen Natal lagi menyebar, sampai ke berita tv, sampai tahu semua sepanjang jalan Hemstock. Beginilah hidup, bila kita tampak beda maka akan ada perlawanan. Ia berkeringat sekaligus kedinginan, mereka akan tertawa, mencibir, dan berkisah tentang Luther yang absen Natal selama bertahun-tahun ke depan. Setiap istrinya agak ragu, selalu diujar. “Bayangkan saja, pantai-pantai indah itu dear, menanti kita di sana.

Rencana liburan berangkat berpesiar tanggal 25 siang, semakin mendekati hari H semakin kencang angin menerpa. Polisi keamanan yang rutin tiap tahun jaga, ditolaknya untuk beli ‘kalender’, dari yayasan sosial yang biasa jual cokelat, ditolak pula, tukang jual pohon cemara langganan sampai kaget ketika Luther tak turut membeli, telpon dari pembuat kartu ucapan, dimentahkan, semakin kuat dorongan luar, Luther semakin yakin dan merasa menang telah melakukan perlawanan untuk tak ikut merayakan. Budaya konsumtif, perayaan berlebih, Sinterklas palsu, terasa buang-buang uang dan dimanfaatkan para kapitalis. Beberapa rekan salut, ia bisa melakukan acara beda, beberapa heran, kok bisa seorang Kristiani tak turut serta. Ini membuatnya bersalah atas budaya materialisme yang picik. Rasa sakit memagur tajam saat ia berhenti meluncur.

Dan boom! Sebuah telpon di jam 11 siang merusak segalanya. Sungguh benar-benar mengerikan, bagaimana rencana dan realisasi menghancurlebur, menyirnakan segalanya. Hebat, seolah setelah set up dibangun dengan runut, Grisham melontarkan punch-line bertubi, lucu dan sungguh bermakna manis. Entah kenapa saya terasa tersindir, tentang tabiat hambur uang kita akan Lebaran, kebiasaan kita berfoya saat Idul Fitri, jauh dari makna sederhana yang diminta agama, ga ada kekhusukan, ga banyak momen reliji-nya. Judul buku ini Absen Natal, tapi benarkan tahun ini keluarga Kranks beneran absen Natal?

Chemistry suami istri Krank juga keren sih. Saling isi, salah satunya pas kegemparan terjadi dan menjalankan tugas masing-masing. “Ia membayar wine itu dan menyeretnya menjauh delapan ratus meter ke mobilnya, dalam hati mengomeli suaminya, di setiap langkahnya yang terasa berat.” Lihat, mereka saling dukung-dan-marah. Untuk menemukan pasangan yang tepat memang harus berjuang. “Dulu aku butuh tiga tahun untuk melihat potensimu.”

Setelah terpesona A Painted House, saya menjadikan Penulis ini spesial. Mencoba menikmati kumpualn cerpen dalam Ford County, juga luar biasa menghibur. Dan ini buku ketiganya, bertema komedi dan inspirasi Natal, juga sangat menakjubkan. Saya sudah punya The Firm yang sudah difilmkan dengan bintang Tom Cruise, mungkin akan kubaca tahun depan, karena membaca cerita dari penulis yang sama berturut itu kurang nyaman. Agar, pola dan kesamaan alur ga berasa. Ia langsung bertatap muka dengan para tetangganya, orang-orang yang tidak ingin dijumpainya saat ini.

Kebetulan hari ini saya sedang konsen ke 5S. Tahu dong ajaran Jepang tentang tempat kerja yang nyaman harus menerapkannya, dalam bahasa Indonesia menjadi 5R. Nah di sini disinggung, walau dikit. Bagaimana joke tentang kerapian. ‘Coba cari di kantor Stanley’ merupakan slogan perusahaan untuk berkas kerja yang tidak pernah ditemukan. Ia tak ingin melihat arlojinya, hatinya gundah, galau, dan ingin menyerah secara total.

Ending Skipping Chrismas sungguh indah. Mengajarkan kebersamaan, mengajak berbagi, mengajak mengalah, berkorban untuk kepentingan lebuh luar, kepentingan umum lebih tinggi ketimbang pribadi. Bagiamana sinisme dilepas, Swade Kerr adalah vegetarian loyo yang hampir tak mampu memungut koran paginya. Bagaimana saling ini dan tahan emosi, Ia merasa ingin muntah. Dari semua kemewahan yang terkandung di situ, langkahnya terasa makin cepat. “Ini adalah kado dari kami untuk kalian, sebuah pemberian Natal yang tulus dari lubuk hati kami tanpa mengharapkan imbalan.

Momen yang hampir bikin nangis pas Luther menangkap kesempatan. Saat kedua pandangan itu bersatu. Luther menangkapnya. Ini memang gila, tapi mengapa tidak?

Kita tak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan, kita tak tahu jodoh anak kita siapa. Namun kita bisa mengarahkan, bisa memberi nasehat bijak. Dan pamor Enrique naik lagi. “Ganteng, lulusan luar negeri, dokter.” Natal adalah saat yang penuh kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Absen Natal? Pikir lagi, keluarga Krank sudah merasakan ‘karma’. “Tapi mestinya aku bawa kamera.” Membicarakan cuaca meskinya adalah hal yang paling netral.

Dan semua terpana oleh lantunan musik.

Absen Natal | By John Grisham | Copyright 2001 by Belfry Holding, Inc | Cover design John Fontana | Cover ilustration Andrew Davidson | Diterjemahkan dari Skipping Christmas | Alih bahasa Budiyanto T. Pramono | GM 402 03.002 | Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Januari 2003 | 240 hlm.; 18 cm | ISBN 979-22-0159-9 | Skor: 4.5/5

Karawang, 161019 – 221019 – Kenny G – Theme Dying Young

Kusala Sastra Khatulistiwa 2019: Teh & Sadimin

Kita hanya akan membicarakan prosa, sayang. Bahkan karya pertama atau kedua hanya bisa bertahan dua tahun.

Sebelumnya, kita refresh sejenak ke tahun lalu. Secara gemilang Penerbit Banana menempatkan dua bukunya di daftar pendek. Sesuai prediksi Kura-Kura Berjanggut menyabet Prosa Terbaik. Terlihat relatif tertebak karena memang sulit sekali mencipta novel setebal hampir seribu halaman. Dengan gegap gempita menyajikan cerita detail perseteruan kerajaan di ujung Indonesia Barat. Salut.

Bagaimana tahun ini? Pada tanggal 4 September, kita dapat daftarnya. Sepuluh buku saya beli di lima tempat berbeda. Beberapa saat setelah Bung Richard Oh memposting para kandidat, saya langsung pesan daring ke toko buku langganan. Dema Buku di Jakarta, bisa mensuplai Tango & Sadimin, Cara Berbahagia Tanpa Kepala, Dekat & Nyaring dan Bertarung Dalam Sarung. Agak sulit mencari buku terbitan indie, yang akhirnya setelah tanya kanan-kiri kupesan langsung ke Penerbit Pustaka Jaya di Bandung untuk Bugiali, dan Penerbit Aura di Lampung untuk Seekor Capung Merah, keduanya via penulis langsung yang diarahkan ke marketingnya. Buku ketujuh kuterima dari Surabaya, Jamaloke dikirim dari toko daring TB Buruh Membaca, agak terlambat responnya tapi akhirnya tiba sebelum meletupkan kecewa. Buku ke delapan Teh dan Penghianat kubeli di Gramedia World Karawang, inipun saya tanya di inbox Instagram guna memastikan, sudah muter ke Togamas Solo kosong. Dan akhirnya melengkapi daftar, Paperbook Plane dari Yogyakarta menyediakan Republik Rakyat Lucu dan Atraksi Lumba-Lumba, keduanya ketika kupesan sudah tahu rontok dari 5 Besar, tak mengapa karena memang tujuannya menikmati segalanya…

Mari kita telusur satu per satu, disusun berdasarkan selesai baca.

#1. Cara Bahagia Tanpa KepalaTriskaidekaman
Tentang Sentani yang dirudung kesulitan hidup dan memutuskan memenggal kepalanya sendiri agar bahagia. Dan bagaimana bisa manusia masih tetap hidup, tetap bergelut dalam rutinitas padahal empat dari panca indera itu sudah dilenyapkan. “Memang begitu ya cara membereskan masalah?”

#2. Dekat & NyaringSabda Armandio
Tentang suatu masa di gang Patos di pinggir kali yang terkena desak laju perekonomian kota. Edi yang jenius bak Einstein mengolah berbagai cara guna bertahan hidup, Nisbi yang memiliki masa lalu pelik, sampai anak kecil, Anak Baik yang imut dalam imaji laba-laba tempurung. Bagaimana cara mengusir warga dengan kekerasan terselubung. “Kalau tidak ada Jackie Chan, dunia bisa kacau.”

#3. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Tentang adat Bugis dan segala istiadatnya. Tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Bagaimana harga diri itu mahal. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#4. Tango & SadiminRamayda Akmal
Tentang lingkaran keluarga pelacur, pengemis, buruh tani, juragan dan pak haji pemilik pesantren dengan tiga istrinya. Semua coba dijelaskan serunut dan senyaman mungkin, banyak sisi abu-abu dalam diri manusia. “Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.”

#5. BugialiArianto Adipurwanto
Tentang hikayat manusia super nan kere dengan tuak dan kehebatannya. Saling silang dengan karakter lain cerita pendek, saling isi dan sapa. Bagaimana kenikmatan minum arak adalah setara surga. “…kita membaik-baiki orang berharap kita dibaiki. Betapa hinanya kita.”

#6. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
Tentang teror militer terhadap warga dengan sudut Rumi, anak imut yang dihinggapi capung. Bagaimana kehidupan mengalir di tanah rantau, di negeri jauh dan segala kesibukan sehari-hari. “Bukankah kematian juga yang menungguku di ujung lain? Di penghujung senja?”

#7. JamalokeZoya Herawati
Tentang perjuangan Indonesia Merdeka, dari sudut jelata di Jawa Timur. Perang yang tersaji sepanjang 1940-an sampai masa transisi Indonesia Orde Baru. Bagaimana nasib manusia disajikan dengan pilu, walau tetap syukur padaNya. “Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

#8. Teh dan Penghianat Iksaka Banu
Tentang Indonesia pra merdeka dengan segala perjuangannya. Terbagi dalam banyak tema dan perseteruan. Tentang Indonesia setelah merdeka, mencoba mempertahankan kedaulatan. Bagaimana penghianat tersisip dalam gejolak. “Awalnya semua baik-baik saja, sampai si wanita merasa diperlakukan tidak adil. Itu motif yang selalu berulang…

#9. Republik Rakyat LucuEko Triono
Tentang komedi yang dicipta masa remaja, masa kuliah sampai dewasa. Tak akan pernah habis mengupas kelucuan politikus, tak akan pernah lekang membahas ironi hidup para pengajar. Bagaimana Republik ini bisa bertahan dari gempuran kritik? Maka kita ciptakan Wakil Rakyat Garis Lucu. “Ketidakpastian adalah ruh kreativitas.”

#10. Atraksi Lumba-LumbaPratiwi Juliani
Tentang impian kecil masa kanak menyaksikan atraksi lumba yang kandas, dan kenangan-kenangan yang melingkari kehidupan yang memberi efek, lalu mencipta takdir. Bagaimana menghadapi kenyataan, setelah beberapa kenang menggores tajam. “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

Tahun ini kumulai dengan kabar duka, sempat down beberapa hari dan mengalami masa antara. Merenungkan hidup, mau ngapain ke depan, kerinduan membuncah untuk pulang ke Solo, dalam kebosanan rutinitas kerja, menyumpatnya dengan keraguan, menghadangnya dengan alasan bertahan. Bagaimana keluarga memang segalanya, senyum Hermione seolah memaku diri bertahan guna mengorbankan seribu satu impian muda, memaksa menenggelamkan banyak skenario, andai ini itu. Selalu; sabar, tawakal, iqtiar.

Menenggelamkan diri dalam bacaan, menikmati huruf demi huruf memang bagiku semacam obat melarikan diri dari kepenatan waktu, menenggelamkan diri seolah menghentikan gerak luar dari tekanan yang muncul. Februari, lalu Maret datang, rutinitas menikmati Oscar nyaris ku-skip, April lalu Mei, ulang tahun May yang otomatis mengajak menginjak bumi lagi. Juni dalam #30HariMenulis #ReviewBuku dan akhirnya saya kembali terjebak rutinitas tahunan, lagi.

Ketika kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa diumumkan, belum satupun baca. Rasanya sayang melewatkan moment ini, dengan semangat lahap yang kembali, kukejar jua akhirnya. Semua rampung baca pada 12 Oktober, rampung ulas 14 Oktober. Dibuka dengan buruk oleh Cara Berbahagia, yang anehnya malah mencari kepala yang dengan sukarela dilepasnya, merupakan skor terendah. Lalu Banana, lagi-lagi menyajikan novel bagus yang sayangnya terlampau tipis, coba dikembangbiakan lagi, banyak hal di Gang Patos bisa digali. Bertarung sekadar hobi. Tango memberikan kembali kepercayaan diri dengan skor sempurna. Bugiali dan Seekor Capung, duo indie ini dengan tepuk tangan membahana bisa melejit dalam daftar pendek ketika kubaca. Jamaloke kembali mengajak santai dalam narasi berbelit tanpa daya kejut, Teh sesuai ekspektasi yang memang Bung Iksaka jago di cerita pendek. Dua terakhir yang sudah tersingkir, ngalir saja. Setelah senyam senyum di Republik, daftar prosa ditutup dengan sangat bagus oleh Atraksi. Aneh, kumpulan kisah sebagus ini tercoret.

“… aku mendengar suara tepuk tangan. Semakin lama semakin keras.” Merupakan kalimat penutup buku Teh dan Penghianat. Seolah menjadi pertanda, Bung Iksaka Banu menang lagi? “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.” Adalah kalimat akhir yang bombastis dalam Tango & Sadimin, seolah tangan Tuhan akan membantu Mbak Ramayda Akmal memenangkan piala prosa terbaik. Siapapun itu, besok kita tahu salah satu dari mereka yang berada di puncak acara, yang pasti Penerbit Major Gramedia Grup kembali mendudukinya setelah vakum tiga tahun.

Prediksiku, jelas menyesuaikan skor. Cara Berbahagia coret pertama, Bugiali adalah kuda hitam dengan tuaknya sulit di puncak, Seekor Capung akan senasib Gentayangan, gagal terbang tinggi. Final match: Teh dan Sadimin, keduanya skor lima bintang. Teh memang sangat menawan, mencipta cerita sejarah dalam penggalan-penggalan cerpen, yang sulit sekali untuk tak bilang wow ketika punch-line disaji di tiap akhir naskah. Tango sangat tangguh. Tak kusangka, para karakter diungkap hati abu-abunya dengan gemilang. Lalu siapa yang akan menang? Apakah ending tepuk tangan, atau gapaian tangan Tuhan? Saya lebih percaya sang Pencipta akan selalu bersama para pemenang, bersama Nini Randa dan Haji Misbah. Or is just me?

Karawang, 151019 – Train – If It’s Love

Atraksi Lumba-Lumba – Pratiwi Juliani

Orang-orang desa bangun lebih pagi daripada dan mereka hidup cermat: listrik, air, dan segala sesuatunya harus digunakan seperlunya saja…”

Seperti inilah seharunya cerita pendek dibuat. Kisah ada di sekitar kita, tampak nyata, tampak apa adanya. Atraksinya sendiri berakhir tak semulus yang diharapkan, tapi terus tersimpan dalam ingat seolah abadi. “… panas sekali bulan ini. Semoga panen bagus.”

#1. Menyayangi Bianglala
Pengalaman naik bianglala anak kecil yang diceritakan kepada teman-teman sekelas, membagi permen dan pamer khas anak sekolah. Anak orang kaya, yang habis berlibur ke kota. Tampak manis dan menggemaskan. Ternyata, orang tua Rima cerai, ia hanya sesekali ajak keluar kota sama ayahnya, dan bainglala adalah salah satu moment yang diambil untuk menancapkan gores, karena berikutnya waktu digulir cepat. Ibunya menikah lagi, mereka pindah dan ketika sudah dewasa, ia kembali mengukir kenangan kembali ke kampung untuk sebuah pemakaman. “Ayolah kita ke pasar malam tengah kota selepas acara tahlil tiga hari.”

#2. Rambutan yang Timbul di Kepala
Cerita biji yang tertelan lalu ditakuti akan tumbuh dalam perut dengan batang tumbuh tembus ke kepala juga kualami dulu. Seringnya biji asam, karena di kampung ada pohon asam besar sekali, dikeramatkan, dibuat pesta anak-anak saat berbuah, dan banyak sekali remaja naik pohonnya yang rindang. Sang Aku memiliki kenangan tentang lomba makan rambutan di masa kecilnya, dan saat itu tiba-tiba ia ingin makan rambutan, Mujib temannya yang gembeng ga sengaja menelan biji rambutan. Ditakut-takuti, makin kencang nangisnya. Hari masih sangat pagi, toko yang menjualnya ada tujuh kilometer jauhnya, berkenalan dengan lelaki menarik, sambil ngopi dan makan rambutan berkaleng, mereka berkisah. “Tidak ada. Aku sering membaca. Tetapi membaca itu hal umum yang dilakukan semua orang, bukan hal yang special.” Kita semua tidak lebih dari sebuah foto profil yang bisu.

#3. Atraksi Lumba-Lumba
Seolah ini adalah penggalan kisah di judul pertama. Ameli dan ayahnya memiliki kenangan pahit tentang sebuah acara karnaval atraksi lumba-lumba. Bangun pagi, berkendara jauh, akan menontonnya. Penonton penuh, dan antrian panjang. Apes, mereka kehabisan tempat. Berharap bisa masuk, dengan menyogok petugas jaga, malah minta dua kali harganya. Dan mereka gagal menyaksikan. Kenangan yang unik memang yang akan tersimpan erat terikat dalam kepala, dan kegagalan serta efeknya inilah yang terlihat dalam tawanya saat di Yogyakarta, kelak. “Oh kau anak yang baik, semoga kelak nasibmu baik.”

#4. Pecundang
Dari novel Maxim Gorky berjudul Pecundang, kita diajak berkelana tentang hidup dan kepahitannya. Kita tahu sang Penulis bunuh diri dengan meninggalkan sekalimat buat anak dan istrinya, ‘Goodbye my beloved.’ Cerita dalam perjalanan bermobil memang menarik untuk dikupas, melalalngbuana. memiliki kenangan pahit tentang ayahnya, sebuah pohon beringin di pinggir jalan mengurainya, ada maaf sebelum terlambat. Sebuah kebesaran hati, legawa, tanggung jawab, dan ketulusan. Oh ya? Ingat cerpen ini berjudul pecundang, benarkah kata maaf sudah berucap? “Apakah kau menangis saat dia dikuburkan?

#5. Pembalut
Kisah ini juga seakan adalah nukilan dari cerpen pertama dan ketiga. Memiliki kenangan ketika bersekolah menengah lanjutan pertama. Sempat mengingin untuk sekolah asrama, saat meninjau bersama ibunya ke sekolah tersebut ketika libur tahun, betapa kecewa. Betapa jorok, dan tak terawat bangunannya. Bahkan air di kamar mandi tak menyala, dengan sampah berserakan. Akhirnya ia melanjutkan di sekolah tengah kota yang lebih umum. Pembalut di sini baru bersinggung saat salah satu siswi kurang berpunya sedang mens pas upacara bendera, dibelikan pembalut di koperasi sekolah. Mereka saling mengenal walau tak akrab, lalu suatu ketika gadis itutak kelihatan, ia keluar sekolah. Waktu merentang dan mereka kembali bertemu di sebuah warung soto yang ternyata milik sang gadis. Semua tampak nyata dan membumi, dan bisa kita jumpai di sekitar kita, bukan? “Tidak perlu dimengerti, aku juga tidak mengerti akan banyak hal. Andai aku bias lebih mengerti banyak hal.”

#6. Seekor Kucing dan Gelandangan Tua
Ini satu-satunya cerita mengambil sudut orang ketiga, seolah pencerita mendongengkan kepada kita sebuah pengalaman mengamati kejadian di alun-alun pinggir kota yang ramai, pemuda dan kebaikan hatinya bertemu gelandangan tua dan kucing sakit, memberi makan kucing dan pak tua, karena pemuda tinggal di kontrakan atas, sang gelandangan yang memutuskan merawat si empus dan suatu malam mereka kembali bertemu, lebih tepatnya, sang pemuda dating ke area pasar tempat gelandangan istirahat, makan malam yang hangat, kali ini tak ada si empus. “Tidak. Aku menyayanginya. Dia mati dalam keadaan ada seseorang yang menyayanginya.”

#7. Film
Berkenalan, menonton bareng, ngopi dalam cerita renyah. Kok rasanya enak sekali ya, saya belum pernah mengalami hal semacam itu dalam sehari. Padahal kita tahu, pengalaman semacam ini bisa terwujud, menyenangkan kedua belah pihak. Cerita aneh untuk film aneh. Mal masing tutup di pagi hari, gedung bioskop juga belum buka dong. Mara datang terlalu dini, ngopi dulu dan berkenalan dengan laki-laki yang menarik bernama Ricky, dan ditimpali Martin. Lhaa… seperti itulah canda alir tanpa beban. Ngobrol beberapa hal, berniat nonton film rumit, lalu mendiskusikannya. Mara pulang larut, suaminya menyambut dalam keanehan pula, dan tadaaa… “Jangan menjadi gelas yang penuh, Anwar.” Hiks, sayang Gundala dapat ulasan negatif.

#8. Kepulangan
Ini mungkin yang terbaik. Perjalanan pulang ke rumah nenek yang misterius, sungguh aneh, sungguh janggal. Pertengkaran orang tua mereka memicu benih cerai, Anggi dan kakaknya menguping, lalu pura-pura tidur saat ibunya masuk kamar dan meminta bergegas, malam itu juga mereka akan ke rumah nenek. Ayahnya menyetir dengan gamang, malam itu gerimis, dan dari sudut anak-anak kita diajak menjadi saksi akhir sebuah perjalanan satu kehidupan. “Masuklah, temani ibumu.” Begidik.

#9. Yang Teratur dan Yang Tidak Teratur
Ini mungkin kisah yang paling biasa, seorang pelukis coba mencipta ruangan dengan kesempurnaan guna mencipta karya. Jullie membeli mebel dan sejenisnya dengan mengajak Ami lalu mengecat-nya. Sang pemabuk yang stylist. Membuat tempat santai di rumah belakang, dengan musik jazz, dan kenyamanan hidup. “Jangan mabuk jika sedang bekerja dengank. Jika kau ingin mabuk, liburlah dulu.”

#10. Rumah Bercat Putih
Judulnya mengingatkanku pada novel John Grisham, A Painted House yang diterjemahkan Gramedia menjadi Rumah Bercat Putih. Isinya tentang pasangan tua yang dulu bercerai, Yos menderita batuk berdarah, didatangi mantan istrinya Marta yang kini menjanda. Mereka melewatkan hari itu dengan mengharu, masa tua pasti datang, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, Yos sakit keras dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Anak kesayangan mereka Anggi datang, membisikkan kata-kata dalam tidur Yos dan akankah ada kesempatan lagi bersua dalam kehangatan keluarga? “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

#11. Cerita-Cerita Kematian
Pasangan yang merayakan malam dansa, menginap di sebuah hotel lalu menyaksikan kematian, pemilik syalawan bunuh diri. Hantu itu tidak ada, dan tuhan juga. Diskusi larut dalam keterasingan masing-masing. Bagus sih, open minded. Mereka menikmati waktu kebersamaan, berdiskusi tentang hal-hal yang diluar batas dengan enak diikuti. Di mana jiwa pergi ketika berpisah dengan tubuh? “Kebenaran itu universal. Hantu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.”

Saya yakin, berbulan-bulan dari sekarang, saya masih bisa dengan santai mengingat kisah-kisah di sini dengan hanya membaca judul cerpennya. Buku bagus ini, kenapa ga masuk ke daftar pendek? Saya bisa yakin pula, mayoritas adalah pengalaman pribadi Pratiwi Julian dengan modifikasi di sana-sini tentunya. Saya ga tahu kehidupan keluarga dan orang-orang terdekatnya, tapi jelas sekali cerita yang disaji tampak nyata. Contoh dalam Atraksi Lumba-Lumba, di adegan pembuka kita dikasih tahu sang karakter utama berusia tujuh tahun di tahun 1998, pas dengan kelahiran Penulis di tahun 1991.

Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa selesai baca dan ulas semua. Syukurlah, setelah pembuka yang buruk dan naik turun kehangatan, daftar ini ditutup dengan sangat bagus. Kumpualn cerita pendek ini dapat stempel Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018. Good luck PJ.

Bagus narasinya, bagus dialognya, bagus susunan plotnya. Mengalir merdu. Biasanya kalau pengalaman pertama melahap buku puas, karya berikutnya tinggal masalah waktu untuk dinikmati pula. Saya ingin menutup catatan ini dengan kutipan satu paragraf di cerpen terakhir halaman 250. Menurutku, tuturan kalimatnya sungguh alami.

Kami sedang dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulia sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kini dan kanan. Wajahnya menoleh ke sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang pada bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya | Oleh Pratiwi Juliani | Penerbit Kepustakan Gramedia Populer | KPG 59 18 01548 | Cetakan pertama, September 2018 | Desaigner Aditya Putra | Ilustrator Aditya Putra | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penyunting Leila S. Chudori | x + 277 hlm.; 11,5 cm x 17,5 cm | ISBN 978-602-481-025-2 | Skor: 4/5

Untuk Mom.

Karawang, 131019-141019 – Whitney Houston – I Will Always Love You

Thx to Paperbookplane, Yogyakarta. Empat kali kesempatan duduk depan laptop: Sabtu pagi, Minggu pagi, Minggu sore kemarin, dan Senin pagi tadi. Editing ulas bahkan kulakukan saat istirahat kerja Senin (14/10/19) di ruang meeting Initiative and Drive, dengan hanya berteman kopi dan dingin ruangan.

Republik Rakyat Lucu – Eko Triono

Kalian menyaksikan orang belajar dan lulus, sementara kalian, oh, wahai ruang kelas dengan segala isinya, kalian senantiasa di sini setia menampung dan menelan semua kebodohan anak bangsa yang datang pada suatu pagi dan tetap bodoh pada suatu sore.”

Buku kedua Bung Eko Triono yang kubaca setelah Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing. Kurang suka komedi macam gini. Kumpulan cerita yang mencoba melucu, beberapa lumayan bikin senyum, tapi mayoritas ya gitulah. Mencoba satir, kritik sosial, kritik politik, bagaimana pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tak bijak, tapi warga juga sama komedinya, sama konyolnya seperti kisah klakson kendaraan saat lampu lalu lintas masih hijau, kan aneh. Tapi beneran nyata! Tokoh utama adalah Gembus, mengingatkanku pada tokoh Tom Gembus di koran harian Solo Pos yang satu frame sama Jon Koplo dan Lady Cempluk. Cerita keseharian warga negara Indonesia dalam balutan Rakyat Lucu. Sepanjang-panjangnya kemarahan, toh kosakata manusia terbatas jumlahnya.

Terbagi dalam tiga bab utama, seperti fase kehidupan manusia. Pendidikan, kuliah dan pekerjaan, sampai irisan sosial dengan sekitar.

#1. Masa Belajar dan Jatuh Cinta
Bagian ini merupakan kritik pendidikan di negara kita yang aneh bin ajaib. Seperti hukuman buat yang terlambat diminta berdiri di bawah terik, tanpa kecuali. Awalnya murid, lalu guru, lalu kepala sekolah, lalu ke atas terus hingga presiden. Karena terasa memberatkan hukuman ditiadakan saja. Hehe…

Kritik yang menohok ada di Kalah Sama Tukang Bengkel, bagaimana sebuah sekolah akan disidak, seorang murid Gemplak yang belum bisa baca coba disembunyikan, eh malah kena. Akhirnya sekolah mencipta aturan, bagi murid yang tak bisa baca keluar, rekrut siswa hanya yang sudah bisa baca, biar kualitas sekolah terjaga. Lantas buat apa sekolah dasar kalau semua siswa sudah pada bisa baca? Inisiatif akademis yang aneh sejatinya. Mirip kan dengan pola rekrut kampus ternama yang ketat, disaring agar hanya yang unggulan masuk, lantas apa yang akan dikuliahi kalau dah pada unggul?

Obsesi nama Siti yang lucu, LKS berkah untuk sampingan bisnis, sampai akhirnya cerita cinta monyet yang berengsek. Jadi Gembus diminta buat puisi oleh gadis idaman, setelah merenung, menekur sampai bermuhasabah di Perpustakaan guna mencipta syair masterpiece, puisi jadi lalu dikirim. Hasilnya? Puisi itu malah berakhir di Kusno, siswa tampan nan rupawan. Ternyata puisi ciptaan Gembus hanya dijadikan alat gaet. Sedih cuk!

Ditutup dengan mengharu, bagaimana Gembus dan siswa teladan tak melakukan corat coret baju kelulusan, dengan melakukan tindakan mulia terhadap sekolah dan sekitar, mendermakan seragam, sampai memberi makan burung dan semut di sekitar sekolah seolah mereka kerasukan nabi. Cita-cita mulia menjadi menteri pendidikan.

#2. Meniti Karier, Sengsara, Kadang Tertawa
Pendidikan adalah investasi peradaban. Ini bukan ruang publik atau kapitalisme. Pendidikan merupakan ruang kultural, kebudayaan, tempat untuk memanusiakan manusia dan seterusnya. Kisah kuliah yang nyeleneh. Surat miskin untuk beasiswa tak mampu, diperuntukkan warga kaya. Gembus yang sulit mendapat stempel di kelurahan merasa dirugikan. Maka kita ciptakan saja stempel sendiri.

Kisah cinta yang diperumit lebih konyol lagi. Gadis cerdas yang keblinger ketika diucap sayang. Tiap kali gadis itu lewat taman bunga, bunga-bunga di sana akan layu seketika, menyembunyikan diri mereka sebagai budak warna-warni di hadapan sang tunggal ratu cantik. Haha, selalu muncul mengapa. “Kalau begitu harus jelas dulu…” Matahari redup dan entah mengapa terasa sedingin itu waktu.

Bagian saat menafsirkan ayam terbang malah lebih rumit. Beberapa pakar lelucon kelak menafsirkan bahwa kelucuannya adalah puncak dari perenunagn itu sendiri. Bagaimana beli togel berdasarkan mimpi, menghitung kemungkinan angka. Ayam yang tertabrak kereta di dekat perlintasan, ayam terbang, kok bisa? Otak atik gatuk yang ternyata ga gatuk, karena istrinya yang jitu. Ah ngapusi

Pengalaman menjadi guru honorer bergaji cekak, nyambi ojek online, di mana penumpangnya siswinya sendiri, cium tangan sebelum dan sesudah antar beli kue ulang tahun. Dan akhir yang mengharu. Andai ojek online sudah ada lima belas tahun lalu, saya yakin saya juga akan berprofesi sampingan itu. Kala itu, banyak waktu luang, bingung cara nambah uang, terhimpit di rantau dalam kebusukan asap kendaraan kota. Ah.. masa lalu… Ahsu dahlah...

#3. Karier Politik dan Ke Mana Angin Menggiring Nafsu Batin
Anda tak lolos seleksi, kami hanya butuh kader berpengalaman, mampu bekerja sama dengan baik.” Hehe.. setiap ganti bab, ada karikatur sebiji di belakang judul. Yang pertama menolak olahraga karena yang dibutuhkan adalah olah jiwa. Yang kedua tentang cinta, mengapa mencintai? Ya karena cinta itu sendiri. Nah yang ketiga ini menurutku paling lucu, bagaimana rekrut kader partai berjalan? Karena integritas? Enggak! Luar biasa murni? Nope! Trus? Karena yang dibutuhkan yang bisa kerja sama. Nah!

Kalau mengumpulan cerita kelucuan, kekonyolan nan tragis tentang politik serta partai politik dan lingkaran politikus, Republik ini juaranya. Bisa sekarung penuh, membuncah, melebihi kapasitas. Bisa diketik sepuluh ribu kata, dalam semalam karena ide norak melimpah ruah, mengalir menganak sungai. Ga percaya? Baru juga kemarin lusa, politikus menjelma koemdian di acara talkshow tengah pekan. Manjadi trending topik berhari-hari, betapa para politikus kita lebih lucu dari badut. Bab ini hanya sebagian sangat kecil yang terjadi di negeri ini.

Jajan diluar? Jajan begituan. Jelang pemilu, jadilah merakyat. Banyak cara menjadi jelata secara instan. Akting ala kadar atau mendalami? Bisa diatur. Yang paling tragis mungkin adalah kunjungan presiden yang menyukai warna kuning. Segala sandiwara coba dicipta. Ketika presiden datang, ciptakan suasana hangat, senyum ramah, kemakmuran terlihat, warga bahagia, semua sejahtera, gemah ripah loh jinawi. Dan rencana sang presiden naik kapal batal, diganti helikopter, semua rencana itu buyar. Kekacauan yang ada. Alami kan!?

Diakhir dengan kunjungan menteri Finlandia ke Indonesia, ketika malam ia turun ke masyarakat dan mengejutkan karena banyak orang tidur di pelataran toko, banyak pemulung, dan betapa mengerikan melibatkan anak-anak dalam putaran ekonomi? Menteri Pendidikan si Gembus itupun ngeles, natural. Menyatu dengan alam dan mandiri. Haha.. oke sip! Gembus yang ketika sekolah begitu idealis itu? Ya. Gembus yang mahasiswa jenius itu? Iya.. begitulah negeri ini berputar, saat tanggung jawab ada di tangan, rencana-rencana brilian yang disusun dan diniatkan sirna.

Secara cerita ini hanya have fun aja sih, sekelat lewat buat refreshing, mengejutkan juga masuk ke sastra. Sudah tepat tersingkir cepat. Entah mengapa lelucon semacam ini bisa menyeruak, padahal kurang menyentuh kalbu, kurang mendalam. Catatan-catatan yang bisa ditemui di berbagai sosial media bisa jauh lebih lucu. Kisah-kisah seperti ini tak akan membuat kerut mengerut, ga perlu banyak mikir, sekadar seru-seruan. Beberapa mencoba filosofis, Ada orang tua di desa yang mengajari melihat bulan purnama dari genangan air di gentong. Bahwa semesta adalah penjelmaan dari penciptanya. Beberapa mencoba puitis, tapi poin utamanya memang komedi, seperti judulnya. “Ketidakpastian adalah ruh kreativitas.”

Sembilan dari sepuluh sudah selesai ulas. The last one is coming…

Republik Rakyat Lucu dan Cerita-Cerita Lainnya | Oleh Eko Triono | Penyunting Ipank Pamungkas | Penyelaras akhir Reddy Suzayzt | Tata letak Werdiantoro | Ilustrasi isi Fathurrahman Karyadi | Rancang sampul Sukutangan | Copyright 2018 | ISBN 978-602-5868-40-5 | 168 halaman | 13 x 19 cm | Penerbit Shira Media | Skor: 3.5/5

Karawang, 121019 – Diana Krall – Cry Me A River

Thx to Paperbook Plane, Shopee dan Titus RP, dua buku KSK terakhir bisa kunikmati berkat mereka.

Teh dan Penghianat – Iksaka Banu

Tetapi dengan membuka kebejatan moral ini selebar-lebarnya kepada umum, kepercayaan orang kepadanya akan luntur…

Ketika tahu buku Iksaka Banu masuk daftar panjang kandidat, saya sudah memprediksinya akan melaju ke daftar pendek, bahkan sebelum kubaca. Ketika beliau menggarap cerita pendek, ada nada optimis. Apalagi ini adalah cerita fiksi dibalut sejarah, ga bisa sembarangan menggubah, dengan turut terus mengikuti alur waktu.

#1. Kalabaka
Pembuka yang menghentak, di ujung Barat Indonesia era kolonial, bagaimana para penjajah menduduki Aceh dengan segala cara, dengan segala upaya, jelas bukan dengan diplomasi. Hukuman mati bagi para pembangkang, libas tanpa hati. “… Aku hanya ingin mengatakan, cukup sering kekacauan bermula dari kita sendiri. Seandainya kita lebih bijaksana hal seperti ini tidak akan terjadi.”

#2. Tegak Dunia
Perdebatan bumi bulat atau datar sudah ada sejak doeloe kala, ini hanya sebagian kecil konflik yang dicipta. Bagaimana para pemuka agama menentang penciptaan dan penggunaan globe, bola dunia, bahwa bumi bulat seperti bola dengan pemetaan detail daerah yang ada. “Banyak orang sesat di luar sana. Tuan ingin menambah jumlah mereka?”

#3. Teh dan Penghianat
Mengejutkan. Bagus banget euy, cocok buat jadi judul buku. Para pemilik teh dan cara bertahan dari gempuran musuh, baik penduduk lokal atau perantau Asia lainnya. Para tentara bayaran ini mau saja melawan warga negaranya sendiri, meredam perang, membunuh para bumiputera yang mencoba memberontak kompeni. Target berikutnya, Perang Padri! Wow, ending yang sakti. Sebaiknya kita tetap waspada, penghianat tetaplah penghianat. Sentot dan kekuatan uang.

#4. Variola
Kisah aneh di zaman percobaan penemuan obat penyakit menular. Vaksin variola, cacar sudah didapat, proses peralihan dan menjaga daya tahan dengan memasukkan ke dalam tubuh anak-anak (Eropa) sehat yang akan dibawa ke Bali, tempat wabah sedang berlangsung. Pihak Panti menentang, pihak Gereja menolak. Dan kitapun disuguhi ending yang mengharu pekat. Ada jalan, selalu ada jalan bagi mereka yang terus berjuang. Rahasia hitam tuan Diaken.

#5. Sebutir Peluru Saja
Ini cerita sejatinya sederhana. Perampok, begal yang meresahkan warga, tersudut di atap rumah seorang juragan, lalu sang aku, Tuan Skaut sedang lewat, maka dihadang seseorang untuk dimintai bantu. Karena aku memegang senapan, barang langka bagi bumiputera, diminta menembak jatuh sang penjahat. Namun, tak semudah itu menentukan, ada fakta-fakta meyakitkan mengapa sang begal beraksi selama ini. Peristiwa yang patut disesali, sepanjang hidup.

#6. Lazarus Tak Ada di Sini
Mengharukan, saat sekarat seorang Letnan sedang dijenguk pendeta untuk bertobat, untuk mengucap doa kidung puji jelang ajal. Ternyata sang Letnan Lazarus Willem Stijthart memiliki masa lalu yang lebih dalam tentang ajaran agama, menghafal banyak ayat, memahami detail isi Alkitab. Dan bagaimana menenangkan hati, jiwa sekarang itu? Menggubah ayat, menanamkan kesejukan menuju alam lain. “Apakah Ia akan menerimaku?

#7. Kutukan Lara Ireng
Dengan dalih menjaga kesehatan warga, dengan dalih uang yang menguntungkan, dengan dalih untuk kepentingan umat, sebuah konspirasi dicipta. Kapten Frederick Zwarteboom adalah kepala kapal operasi narkoba, ditugaskan operasi di wilayah pantai Jepara, Juwana dan Rembang, dia biasa tanpa asisten, kali ini ada perintah dari pusat bahwa Agen Polisi Bernard Eigensteen akan menjadi side kick dalam operasi tangkap tangan para gembong di lautan, sang junior yang takjub lalu menjadi gugup, dan harus memutuskan sesuatu yang berat, turut terjerumus dalam kosnpirasi atau mati?

#8. Di Atas Kereta Angin
Bagi mereka, pantalon dan sepatu adalah pembeda kedudukan antara priyayi dan kawula. Cerita paling ringan, konfliknya hanya boleh enggaknya pesuruh bumiputera mengendarai sepeda milik tuan tanah. Karena Kees memiliki Fiets atau kereta angin alias sepeda baru merek Columbia Roaster maka sepeda lama boleh dipakai si Dullah, untuk keperluan sehari-hari, ada temannya, Jan yang berkunjung dan keberatan seorang lokal mengendarainya, haha… lalu adegan piknik ke Prambanan menjadi lelucon tak lucu. Tragedi terusirnya Spanyol dari Kuba dan Filipina tidak terjadi di sini. “Beberapa orang masih di masa lalu. Ingin diperlakukan seperti raja diraja. Terutama para pegawai negeri. Kasihan.”

#9. Belenggu Emas
“… Kita hidup dalam diskriminasi.” Sebuah perjuangan perlawanan, persamaan hak perempuan tak hanya milik pribumi. Seorang istri Belanda-pun melakukan hal yang berani demi menjaga supremasi persamaan hak. Seorang penyuka sastra, seorang wanita yang ingin mandiri setelah kecewa pada sebuah fakta tentang suaminya, lalu Nyonya Westenenk berkunjung ke Sumatera untuk menjadikan dirinya seorang kontributor tulisan koran lokal Soenting Melajoe yang mana pemiliknya adalah wanita. Jadi penasaran sejarah hidup Roehana Koeddoes. “The white man’s burden.

#10. Nieke de Flinder
Ini tentang skandal seks orang penting. Sungguh menghibur, sungguh mendebarkan ketika kepala redaksi menolak memuat kisah asmara terlarang seorang berpengaruh. Setelah mereka yang hidup dari kepuasan jasmani tanpa pernikahan, musnahlah dari muka bumi mereka para penyuka sesama jenis. Dan dua kertas yang diketik itu. Duh… keren sekali kakak. “Awalnya semua baik-baik saja, sampai si wanita merasa diperlakukan tidak adil. Itu motif yang selalu berulang…” Hidup memang penuh rintangan, dan siapa yang berani mengambil resiko itu, termasyurlah… Orang bisa berkedok apapun. Tetapi jejak asusila mudah tercium. “… Itulah tugas polisi, memata-matai moral?”

#11. Tawanan
Jarak dan ketegasan akan memunculkan rasa segan, yang pada gilirannya akan membangun kepatuhan. Pihak Belanda yang tertawan, pribumi dibantu sang Hollander meminta tanda tangan kesepakatan tukar tawanan tanpa syarat. Para bumiputera yang dikira lemah itu ternyata kini sudah menghebat, merdeka hati dan pikiran, memperjuangkan hak hidup, mengusir mereka yang coba kembali mendompleng kekuasaan. Renyah.

#12. Indonesia Memanggil
Australia punya andil untuk kemerdekaan Indonesia. Lewat buruh angkut di Pelabuhan di Brisbane dan sekitarnya, mereka melakukan mogok massal ketika kapal perang Belanda berisi perlengkapan senjata yang akan diberangkatkan ke Jawa pasca Proklamasi, diblokir, dilarang bergerak. Indie Verloren, Rampspoed Geboren. Dan keputusan Jannes Grisjman yang berani.

#13. Semua Sudah Selesai
Tahun 1950an Indonesia banyak menasionalisasikan Perusahaan asing, beberapa yang coba bertahan pun dipaksa hengkang, atau menjadi tamu di bekas jajahannya. Tak terkecuali sebuah industri roti, dengan citarasa lezat dan nama besar, Arnoud Scherpezin mengalami dilema berat. Pulang ke Belanda atau bertahan dengan beberapa konsekuensi rumit, ia mungkin sudah jatuh hati sama Indonesia, sama para pekerja, dan rutinitas penciptaan roti, waktu berjalan maju tanpa memberi kesempatan kedua, putuskan! Semua sudah selesai. … aku mendengar suara tepuk tangan. Semakin lama semakin keras.

Harus diakui, Bung Iksana mencerita dalam novel Sang Raja sungguh terlihat biasa sekali, kalau ga mau dibilang buruk. Entah kenapa, aturan dasar untuk tak mengikuti garis dalam menata kata di Sang Raja malah dilakukan, runut, panjang dan membosankan. Boring, mudah sekali ketebak. Saya belum baca, Semua Untuk Hindia yang menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, tapi jelas Ratu Sekop adalah kenikmatan tersendiri dalam melahap cerita pendek dengan tema beragam. Teh dan Penghianat, lebih susah dibuat karena semua temanya tentang sejarah pendudukan Belanda di Indonesia dari zaman perang Aceh sampai pasca Proklamasi. Dan rupanya, berhasil mempertahankan tempo, tempao kenyamanan menelusur kata per kata. Menghentak di pembuka, menggila di tengah, ceria dalam peluk setia di akhir. Paket komplit. Apakah dua kalimat akhir itu pertanda juara?

Prediksi: Well, secara kompetisi lima kandidat utama Prosa sudah kubaca ulas semuanya. Teh Dan Penghianat jelas masuk pusaran kemungkinan besar memegang piala utama. Lawannya hanya satu, head-to-head dengan Tango & Sadimin. Siapa yang akan menang? Tunggu lusa, dalam ulasan lengkapnya.

Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat. Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

Teh dan Penghianat | Oleh Iksaka Banu | KPG 59 19 01637 | Cetakan pertama, April 2019 | Perancang sampul Adi Suta | Ilustrasi Adi Suta | Penataletak Tim Pracetak Grafika Mardi Yuana | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xii + 164 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-481-137-2 | Skor: 5/5

Untuk anakku: Demetrius Dyota Tigmakara

Karawang, 091019-111019 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Thx to Gramedia World Karawang, jalan kaki sepulang kerja ke sana selalu merupakan kenikmatan tak terkira. Buku ini kubeli di sana setelah beberapa toko daring sudah kosong dan pencarianku saat mudik Solo juga berakhir hampa.