Mesin Waktu – H.G. Wells

Kita yang hidup sekarang hanya mendapatkan sisa sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang terdahulu. Masa depan masih saja kosong dan gelap. Masa depan masih saja belum diketahui. Masa depan adalah cahaya samar yang tampak di kejauhan.”

Novela kedua HG Wells yang kubaca setelah Pulau Dokter Monreau yang luar biasa itu. Mungkin ekspektasiku yang ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita, bagaimana ia memasuki masa ratusan hingga ribuan juta tahun ke masa depan. Jauh sekali dibandingkan Timeline-nya Michael Crichton yang sama-sama mencipta alat jelajah sebuah dimensi keempat. “Dapatkah sebuah kubus memiliki perhitungan yang jelas padahal ia yang sebelumnya tidak ada untuk waktu yang sangat lama sekali?” Dimensi keempat adalah cara lain untuk melihat waktu. Tidak ada perbedaan antara waktu dan salah satu dari tiga dimensi ruang kecuali jika kesadaran kita bergerak mengikutinya.

Kisahnya tentang Sang Penjelajah Waktu yang berhasil menciptakan mesin waktu, diskusi dengan para pakar dari psikolog, editor, Filby, bocah berambut merah yang suka menyanggah, profesor, Petugas Medis, dan lainnya termasuk Aku. Orang yang diambil sudut pandangnya. Mungkin ini ciri khas Wells di mana cerita orang lain yang dituturkan lagi, jadi menempatkan sang Penulis sebagai pendengar. Bermain aman, lebih terasa hidup karena seandainya Pembaca mau komplain, Wells dengan santai bisa bilang, “Lha… saya hanya menuliskan kisah orang lain, kalau mau komplain benar enggaknya silakan ke narasumber.” Wah pintar juga ya, apalagi Wells terkenal sebagai pencerita fiksi yang dipadu dengan teori ilmiah sehingga disebut ‘Bapak Fiksi Ilmiah.’ Memperlakukan kebenaran sebagai seni untuk menarik perhatian, aku menganggapnya sebagai cerita.

Setelah makan kenyang pasca ‘jalan-jalan’, ia berteriak. “Aku kelaparan, aku sudah melewati waktu yang paling menakjubkan.” Ia lalu meminta para pendengar diam dan memperingatkan untuk tak menyela cerita, sang Penjelajah Waktu mulai bertutur. ‘Berdasarkan teori-teori mewah yang liar.’ Bahwa setiap bentuk nyata itu harus memiliki perhitungan keempat arah, yaitu panjang, luas, lebar, dan massa. Namun melalui penyempurnaan perhitungan yang ada aku akan menjelaskan bahwa kita cenderung mengabaikan fakta. Memang benar ada empat dimensi, tiga di antaranya kita sebut tiga bidang ruang dan yang keempat adalah waktu. Di laboratoriumnya, ia memulai petualang ke masa depan yang misterius di tahun 802.701 masa yang ditunjukkan oleh Mesin Waktu. Satu tahun terasa seperti sama dengan satu menit.

Ia terdampar di sebuah negeri yang futuristik, manusia kerdil yang disebut Eloi. Di Timur laut aku melihat muara besar atau bahkan anak sungai. Aku menduga itu Wandsworth dan Battersea. Aku pikir kerapuhan fisik manusia, berkurangnya kecerdasan, dan kehancuran disebabkan oleh masalah terbesar manusia itu sendiri. Dunia antah itu mencipta banyak senyum, manusia masa depan itu tampak bahagia, seperti tanpa beban hidup.

Sebuah kejadian, saat di sungai ada yang hanyut tapi banyak yang tak peduli, maka ia berinisiatif membantu. Eloi itu berterima kasih dan mengabdi padanya, bernama Weena, gadis yang terlihat rapuh. Ke manapun pergi, ia ikut. Mesin waktunya hilang, ada sebuah sumur misterius yang ditakuti, muncul saat malam. Terbenamnya matahari itu membuatku berpikir tentang akhir dari umat manusia. Musibah besar yang dialami manusia di masa lampau adalah serangan Morlock, dan Eloi adalah sapi tambun belaka. Tampak menyeramkan seolah kaum atas kedatangan setan. Sang Penjelajah mengira ada makhluk bawah tanah yang mengerikan mengancam kaum Eloi. Maka karena penasaran dan demi kembali mengambil Mesin Waktu, ia nekad turun. Sumur itu gelap, dan dengan korek api, senjata ala kadar petualangan berlanjut. Karena berdiri di sana tanpa senjata kecuali tangan, kaki, dan gigi gemeretuk, juga korek api, maka ia selamat. Ternyata makhluk bawah tanah itu juga manusia, mereka menyebutnya Marlock. Kita tahu bahwa kelak segalanya akan menjadi lebih baik. Merupakan keniscayaan zaman. Seluruh dunia akan menjadi cerdas, berpendidikan dan saling kerja sama.

Nah, mulai saat perlawanan Morlock itulah kisah menjadi hidup, menjadi mendebarkan. Gagasan aneh Grant Allen, jika masing-masing generasi mati dan menyisakan hantu, maka dunia akan disesaki hantu-hantu. Teori bahwa mereka akan berkembang biak selama 800.000 tahun itu tak mengherankanku jika aku melihatnya empat sekaligus. Bayangakn, kamu masuk goa, hanya bercahaya korek api yang sesekali mati saat batangnya mengabu, lalu dalam keadaan hampir putus asa, secara dramatis muncul ‘bantuan’ yang memberi nyala bangkit. Ia gemetar saat memikirkan bagaimana mereka akan menginterogasi. Gambaran yang mengerikan adalah ketika kau berada di kegelapan dan semua makhluk seram mengepungmu. Memiliki fase Nebukadnezar. Sampai nantinya, kembali selamat, kembali ke masa kini, terduduk di laboratorium persis seperti sebelum menjelajah. Mimpi? Ataukah mesinnya benar-benar bekerja? Aku berada di ruang kerja yang lama, persis seperti yang dulu. Mungkin aku telah tertidur dan bermimpi, semuanya adalah mimpi. Ia memang tak menginginkan pendengar percaya, anggap ini adalah kebohongan atau ramalan. Semua itu mudah terjadi ketika seluruh dunia berada dalam satu imajinasi dan tidak terhubung dengan kenyataan yang aku temukan di sini.

Seseorang tidak dapat berbohong di balik banyaknya kemungkinan. Beberapa meragukan kisahnya, tapi fakta bahwa ada bunga yang diselipkan Weena ke sakunya memberi sebuah klu penting. Saku ini selalu membingungkan Weena tapi akhirnya ia menyimpulkan bahwa saku adalah jenis eksentrik dari vas untuk dekorasi bunga. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan waktu meneliti dan bekerja keras supaya bisa masuk ke masa depan dan sekarang ia ingin keluar dari tempat ini. Ia telah membuat diri menjadi rumit dan paling putus asa dibanding manusia manapun.

Lalu sang aku berkunjung ke laboratorium, melihat mesinnya, melihat kemungkinan kembali dicoba. Tidak boleh datang ke masa depan untuk berman-main. Penasaran dan harapan adalah hal yang lebih baik daripada putus asa. Semuanya terjadi di dunia yang indah dan aneh. Aku melakukan perjalanan, sejenak berhenti berkali-kali, melampaui jarak seribu tahun bahkan lebih, terhisap oleh misteri dan takdir bumi, memandangi daya tarik matahari yang berukuran lebih besar dan lebih bulat di langit sebelah barat, dan kehidupan lama di bumi yang telah surut.

Aku sedih memikirkan betapa singkatnya impian dari kecerdasan manusia. Kisah ditutup dengan petuah bagus seolah buku motivasi. Hidup adalah mimpi. Mimpi berharga yang menyedihkan, atpi aku tidak tahan ketika mimpi itu tidak cocok untukku. Ini gila. Ketika pikiran dan kekuatan telah sirna maka penghargaan dan kelembutan masih ada di dalam hati manusia.
Melakukan tarian sambil bersiul The Land of the Leal seriang mungkin. Tahukah kamu bahwa istirahat terbaik adalah sebelum senja, yaitu ketika angin terhenti di antara pepohonan? Pantas sering dikutip para penyair. Dasar kaum hobi rebahan!

Mesin Waktu | By H.G. Wells | Diterjemahkan dari Time Machine | United Kingdom: William Heinemann, 1895 | Penerjemah Suci DP | Penyunting Margo Yuwono | Desai nisi dan sampul @timoergurita | Penerbit Octopus | Cetakan kesatu, 2016 | ISBN 978-602-72743-7-6 | Skor: 3/5

Karawang, 220919 – 240919 – Nsync – Tearing Up My Heart // Billie Holiday – A Foggy Day

Thx to: Boekoe Therapy, Yogyakarta

Satu komentar di “Mesin Waktu – H.G. Wells

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s