Dekat & Nyaring – Sabda Armandio

Kalau kau pernah mencintaiku, tundalah kelegaan yang ditawarkan kematian dan hiduplah cukup lama di dunia yang ganas ini utnuk menceritakan kisahku.”Hamlet, Babak 5, Adegan 2

Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi terasa ada yang kurang. Padat sekali karena memang fokus terhadap isu kejadian di satu tempat. Ini adalah buku kedua Sabda Armandio yang kubaca setelah 24 Jam Bersama Gaspar, 2/3 bagian mula buku itu bagus banget, 1/3 akhir agak mengecewakan. Di Dekat & Nyanying, semua gamblang dan benar-benar jelas. Sedekat kita menatap tragedi yang dicipta di Toko Edi, senyaring suara gesek tali yang ditarik dalam utas roda melintasi sungainya. Ga bertele, ga memainkan banyak kata aneh. Ada bagian yang lucu, di mana salah satu karakter yang memiliki niat mencipta karya berani ‘menerjunkan diri’ ke dalam lapisan bawah masyarakat. Bukan sekadar melakukan penelitian bak mahasiswa magang, ia menikahi warga lokal, membuat jurnal, melakukan banyak langkah berani dalam menjalani hidup. Tepuk tangan untuk Dea Anugrah! Bersenang-senang dengan kawan masih bisa kok dalam lingkup fiksi.

Kisahnya berkutat di kampung Gang Patos. Sebuah wilayah pinggiran sungai yang sebagian besar warganya kena gusur. Di situ ada perumahan baru yang lebih menjual, kompleks Permata Permai Residence. Ini cerita tentang orang-orang yang bertahan, dengan lingkar tanya sampai kapan? Ancaman jelas berkali-kali muncul sekalipun ga dijelaskan detail. Bujuk rayu mungkin diumbar dengan ganti rugi yang mengerikan. Tidak, hal-hal itu ga dibicarakan di sini. Kita langsung ke pokok-pokok masalah, bukunya hanya 110 halaman, hanya poin penting yang menunjang cerita yang digores.

Tokoh penggerak di sini nyaris keren semua. Ada sifat dasar manusia yang dianut dan runut sehingga nyaman sekali dilahap. Ada Edi yang punya warung buka 24 jam (menurut Kina, warung Edi seribu kali lebih baik dari swalayan) yang menyediakan berbagai kebutuhan. Edi adalah manusia serba bisa, berhasil mengakali masalah-masalah hidup dengan prinsip, ‘selalu saja jalan lain’. Contoh paling riil, jual daging ular palsu, menjual daging ular sanca dengan merek cobra, ambil listrik dari tiang biar bebas bayar, sampai hal-hal sederhana yang jadi kendala di sekitar. Namun pada dasarnya ia baik pada sesama warga. Ide jualan dengan tali menjulur ke seberang sungai dengan ember sebagai ‘kendaraan’ mengantar-ambil barang-duit saja sudah revolusioner. Menurut buku tokoh swalayan yang ia baca dalam sekali duduk, ada tiga hal yang diyakini sebagai modal awal: keyakinan, pikiran positif dan uang sedikit. Tokoh favorit! “Karena aku seorang penemu dank au asistennya.

Lalu ada Nisbi yang memiliki anak Anak Baik. Sebagai orang tua tunggal, ia begitu tegar. Banyak pergulatan yang dihadapi, terutama masa lalunya. Bagaimana suaminya, seorang polisi yang selingkuh, ia mati dengan penuturan kisah begitu sangat bagus, tragis dan merinding disko! Kematiannya dicerita detail bersama sekarung wanita kekasih gelapnya, bersama komitmen militer dan tanggung jawab. Begitu jantan. Anak Baik yang sedang imut-imutnya selalu bertanya ke mana ayahnya? Mati. Ada jalan untuk menghidupkannya, dengan legenda Pak Koksi. Dengan syarat laba-laba yang dimasukkan ke dalam kotak cerah. Ah anak kecil. Imajimu Nak. Dunia akuariumnya juga dituturkan dengan sangat bagus. “Kalau tidak ada Jackie Chan, dunia bisa kacau.

Sam, adalah bekas warga situ yang kini menjadi polisi. Ia tampak mengesalkan, tampak buruk sedari perkenalan, egois dan kejam. “… Kita semua tahu masalahnya apa, dan kita juga tahu seolusinya. Persoalan ini bisa selesai dalam sekejap. Tapi, ada yang jauh lebih rumit, bukan soal pergi atau tak pergi, selamat atau tak selamat. Dalam kondisi begini, aku rasa kau tak perlu menyelamatkan siapa pun.” Sudah tertebak apa yang akan dilakukannya, sampai akhir pilu ia menjalankan tugasnya dengan baik. Layangan, rokok samsu, dan suara letupan.

Berikutnya Wak Eli yang menceritakan dongeng Orang Patos dan Orang Koksi. Ia melanjutkan dongeng dari Nisbi ke Anak Baik. Persaingan dua kubu ini terjadi sejak dulu kala. Legenda kerangka naga, mendirikan rumah pertama dan rumah klan berikutnya di seberang sungai, rencana menyatukan yang gagal, lalu upaya menerkam klan lain itu tampak jahat. Jembatan yang dibangun untuk transpotasi barter sampai akhirnya terjadi permusuhan. Bagaimana Samwau menjadi orang pertama yang meninggal di komunitas itu setelah kehilangan pasangan sejatinya menyedihkan sekali. Hidup, oh hidup. Wak Eli mencerita juga meyakinkan (kata Naka Baik, “cerita Wak Eli lebih tua dan kusam, pasti lebih benar”), dan Anak Baik begitu terpesona kisahnya. Anak Wak Eli, Aziz adalah seorang dewasa yang mengalami keterbelakangan mental. Berlaku seperti anak kecil meskipun seusia Edi, sukanya lihat kartun, di sini Tom and Jerry diapungkan. Sedih juga melihat nasib Aziz akhirnya. Dunia (fiksi sekalipun) memang kejam. Ingatan memang senjata yang ampuh untuk mengembalikan kepercayaan diri.

Kemudian ada Kina, inilah kunci segala kisah. Perannya relative kecil, menjadi teman jalan ke mal Nisbi, saling mengisi satu sama lain. Memutuskan menikah dengan Idris, pemuda sederhana yang keheranan betapa beruntungnya bisa mendapatkan istri special. Idris cuma penjual regulator gas otomatis, miskin yang bahkan membolak-balik celana dalam untuk mengirit pengeluaran pakaian. Kina suka merekam, mencatat dan menuliskan semacam diary. Hal-hal remeh di sekeliling kehidupan masyarakat Patos. Nantinya kita tahu, Kina ternyata punya sesuatu yang menggelitik di akhir saat bertemu sobatnya. “Aku kira kau ke sini untuk membawa pesananku, bukan mengkritik metodeku.”

Kira-kira karakter penting hanya itu, mereka berkutat dalam rimba kehidupan yang ganas dan panas. Ada garis tragedi disiapkan Sadba, “Aku rasa kalau kau mau sedikit saja melatih diri buat berprasangka baik, hidupmu akan jauh lebih mudah.” Nyatanya ga semudah itu. Letupan itu benar adanya, dekat dan nyaring. Hanya petasan, hanya efek film lokal adu padu, hanya lonceng warung Edi, hanya letupan knalpot motor busuk. Namun bagaimana akhirnya ini bukan hanya suara yang dekat dan nyaring biasa? Semisal bunyi ledakan pistol? Semalam menikmati novela tragedi. “Bagian mana yang berbelit-beli?” / “Bagian naganya.”

Prediksi: menjadi buku kedua yang kubaca kategori prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini, kurasa Dekat & Nyaring potensial melaju ke lima besar. Kelemahan utama jelas buku ini terlampau tipis, ibarat bercinta, sejatinya menikmati proses dan dan kekuatannya, sayang durasinya ga lama sehingga sebelum mencapai klimaks kita sudah kalah duluan. Yang pasti, tebakanku Dekat & Nyaring ga akan juara. “Syarat ketiga, kita harus menggambar laba-laba.

Dekat & Nyaring | Oleh Sabda Armandio | Penerbit banana | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Yusi Avianto Pareanom | Perancang sampul P.S. Jati | Penataletak Risdianto | 12 cm x 18 cm, 110 halaman | ISBN 978-979-1079-70-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180919 – Sherina Munaf – 1.000 Topeng

One thought on “Dekat & Nyaring – Sabda Armandio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s