Cara Berbahagia Tanpa Kepala – Triskaidekaman

Kenapa memang? Kamu enggak mau mikir lagi lalu kamu memotong kepalamu? Memang begitu ya cara membereskan masalah?

Setelah sekian lama, kini saatnya; kepala Sempati membentuk otomoni sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan. Kukira bakal membaca sebuah kisah berkias. Fantasi dimana, kepala yang terpenggal cuma dalam imaji atau termaktub dalam cerita hantu, dunia lain atau minimal semirip Nick Si Kepala Nyaris Putus atau jadikan kisah humor gelap yang berbayang. Sayangnya enggak. Cara Bahagia Tanpa Kepala benar-benar cerita tentang cara tak berlogika, tanpa berkelapa yang menjadikannya justru tidak berbahagia. Janggal sih, sudah niat memenggal kepala agar bahagia, malah ketika tak berkepala pusing sendiri mencari kepalanya di mana, lalu memori yang disimpan ke sebuah tuas semacam flash disk rusak malah pening sendiri. Jadi maunya apa? Ide memenggal kepala sendiri dengan sukarela saja sudah sangat buruk, apalagi pening dan pusing tanpa kepala? Lantas di mana otaknya? Konyol sekali kakak.

Kisahnya tentang Sempati yang menemukan titik jenuh, pada masa yang mengecewakan di puncak tak bahagia sebagai pekerja kantor di Jakarta. Hidupnya rumit, sehingga ingin mengenyahkan kepala. Kebetulan di kantor sebelah ada jasa membahagiakan klien dari selembaran yang dijejalkan pramuniaga di sakunya. Maka ia pun mengikuti program Bebaskan Kepalamu. Ini bukan kiasan, ini benar-benar memisahkan ‘Prosesor dari CPU dan monitor tapi komputermu masih bisa digunakan’. Ga mati? Dari penjelasan petugas, M4 yang meragukan di lantai 31, bisa dan beberapa klien masih hidup. Ga ada omongan garansi, tak ada desus apapun tentang asuransi. Seolah memotong leher semudah pijat refleksi di warung remang-remang. Dengan membayar mahal, dengan izin kerja yang rancu. Bukankah ini cara mewah untuk bunuh diri? Pengen sederhana, ke rel kereta api dan di sini juga dicoba. Tapi kok mati? Lho… Mungkin Pati barus baca buku Terapi Pikiran Bahagia-nya Okatastika Badai Nirmala, “Kebahagiaan tidak ubahnya seperti aliran listrik yang tidak diketahui bentuk atau pun warnanya tetapi nyata sekali dampaknya bagi lampu yang menyala terang di rumah Anda…”

Di tempat tinggal Sempati di gedung yang sama, di lantai berbeda tinggalkan karakter aneh berikutnya Jatayu. Semacam hacker yang diminta tolong Pati untuk mengecek kandar kilas yang menyimpan sisa-sisa harapan setelah kepala Pati hilang. Flashdisk itu rusak dan tetap tak bisa dibuka, malah mereka berantem yang berujung masalah lagi. Identitas Jatayu sendiri disimpan, walaupun tak terlalu mengejutkan nantinya karena memang kisahnya berkutat di mereka-mereka juga. Saling silang keluarga, pengembangan karakter yang kurang OK. Nantinya ayah ibu kakek saudara itu hanya mbulet saja di mereka-mereka. Urusan pengembangan karakter gini jadi ingat buku My Secret Identity-nya Ardina. Kisah remaja yang menjadi Penulis di sekolah Amerika dengan menyembunyikan jati diri. Bab demi bab selalu memberi karakter penting baru, bukan sekadar tempelan. Karakter tersebut memicu konflik yang memicu karakter lain memutuskan sikap. Di sini malah jatuhnya menjadi konflik keluarga yang diputar-putar.

Setelah bagian pertama: Hilang selesai kita maju ke bab Buang. Sempat kuharap adalah kisah jauh sekalian dan berbeda karena bagian awal yang mengecewakan, nyatanya karakter baru yang dituturkan ternyata hanya memutar. Derai Cemara dan Semanggi membuka tempat parkir di lapangan umum, tanpa izin usaha tanpa surat hak milik mendirikan bangunan. Lapangan parkir yang ga biasa, mereka membuka tempat penitipan kepala. Ga usah tertawa karena memang tertulis gitu. Lima tamu pertama tampak istimewa, nantinya ada tautan lagi. Sedap Malam yang menyimpan masa lalu yang tak sedap. Bagian ini juga membuka tabir, siapa ayah kandung Pati sebelum Darnal yang beberapa kali disebut. Sebagai keluarga, sebagai bos di tempat kerja. Ada bagian yang agak merusak sebenarnya, bagaimana seorang istri dibiarkan tidur di rumah kalian dengan lelaki lain dan kamu diam saja? Konyol!

Bagian ketiga Kenang adalah bagian menjawab banyak hal. Ibu Pati, Mer yang rumit sebagai orang ketiga di keluarga Darnal dan Tania, yang nikah paksa. Pati yang terlahir dalam minor, ayahnya yang juga ada kekurangan yang memutuskan membuka bengkel jam di depan rumah yang nantinya menjelma merasuk menjadi mesin dalam jam tangan. Weleh, makin ga jelas. Tania yang juga memiliki anak cacat karena adegan aneh karena tangan Pati dan jam tangan yang berjarum cacat, dunia menggila. Kisah tak berlogika bahkan di dunia Sihir Potter pun mendengar tembok bicara dianggap tak wajar bagi Hermione. Dan Rowling menjelaskan dengan hebat bahwa tembok itu berisi pipa untuk makhluk buas berbahasa ular. Ini kutuk cacat menghinggap dengan analogi weleh-weleh. Jam tangan yang berpikir. Kawan lama selalu ada untuk kembali. Tak perlu alasan mengapa, tak perlu bertanya ingatkah kami pada konsep penghianatan. Buku ditutup dengan bagian Pulang, di mana semua kembali ke kehampaan. Begitu juga Pembaca, hampa.

Sebenarnya ada nilai lebih di buku ini. Ide memberi tanda tangan asli di halaman muka patut diapresiasi. Sederhana tapi menjual. Ayooo yang lain juga dong. Dengan sedikit kata-kata tambahan biar menambah kesan. Di Cara Bahagia tertulis pesan, “Head’s on top!” Rahasia merekatkan. Rahasia meretakkan. Mereka salah sangka. Saya melangkahi kodrat semula, menghancurkan hidup anak yang bahkan belum bermula. “Ayah, ibu tolong. Aku takut – seluruh benda di kamar ini ingin masuk di dalam tubuh dan kepalaku.” Cukup.

Satu selesai, Sembilan menuju. Fantasi bukan, misteri bukan, humor bukan, surealis blas. Malah isinya mencoba puitis tapi ya gitu deh. Membuat beberapa kata berima, tapi ya gitu deh. Bab dan penamaan juga dibuat seunik Buku Pertama, Buku Panduan Matematika Terapan, tapi memang ga terlalu nyangkut ya gitu deh. Berkali-kali muncul kata primodial seolah itu adalah mantra hebat, embrio dewa Pemalu. Dengan derit desah di kamar sebelah. Adakah yang lebih mengerikan daripada kehilangan sebongkah kepala? Kalau tak ada, apa lagi yang harus ditakutkan? Membaca cerita tak berlogika di mana manusia masih bisa bicara, mendengarkan, mencium, melihat dan bahkan berpikir tanpa kepala seolah indera tersebut letaknya ada di perut.

Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang buruk.Ya keinginan itu tiba-tiba datang. Ya, keinginan melepaskan kepala saya.Ya, berat sekali. Dan semakin berat.

Dan semakin berat.

Dan

Semakin

Berat…

Cara Berbahagia Tanpa Kepala | Oleh Triskaidekaman | GM 619202032 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyunting naskah Teguh Afandi | Desain sampul Orkha Creative | Perwajah isi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Mei 2019 | ISBN 978-602-06-2993-3 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2994-0 | Skor: 2/5

Karawang, 100919-180919 – Sherina Munaf – Ada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s