Bumi Manusia: Air Matanya Berlinang

Cinta itu indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”Jean Marais

Tiga jam yang melelahkan. Kutonton di hari terakhir, malam terakhir tayang di Karawang dalam pergantian hari (10 ke 11 September 2019), Bumi Manusia memberi pengalaman sedih tak terperi tentang cinta dan perjuangan menuju kebebasan. Sedari mula saya sudah patutkan diri untuk tak membandingkan dengan maha karya bukunya, saya coba melihat sisi positifnya, bagaimana novel ini pada akhirnya mewujud ke dalam layar lebar, setelah berkali-kalu kandas dari tangan Riri Riza sampai Anggy Umbara. Film ini disampaikan Hanung dan tim terlihat sekali mencoba sama persis dengan novel. Template-nya benar-benar sesuai, tak diubah, tak dimodifikasi, perasaan takut mengecewakan fan Pram malah menjadi belenggu tersendiri. Seolah saya menelusuri garis yang meliuk-liuk dalam sebuah teka-teki benang kusut yang pasti ketemu ujung, yang pada akhirnya ketemu juga garis finish sesuai dugaan. Lega? Tidak, nangis? Ya, tapi dalam puas.

Kisahnya tentang Minke (Iqbaal Ramadhan) yang jatuh hati kepada Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh) ketika menjadi teman main Suurhof (Jerome Kurnia) ke Wonokromo. Suurhof yang bertandang untuk ketemu Robert Mellema (Giorgino Abraham), ia sejatinya naksir adiknya, tapi gayung itu malah bersambut ke Minke, yang karena sebuah sebab mendasar ia lebih mencintai pribumi. Kemunculan Annelies sendiri dibuat begitu dramatis, kamera menyorot tangga, lalu bergerak perlahan menyorot punggung dengan menampakkan kulit langsatnya, berpakaian Eropa sehingga sebagian terbuka, berjalan ke teras, lalu secara perlahan lagi kamera bergerak memperlihatkan wajah cantik Mawar yang membawa mawar guna diletakkan di vas. Lalu Minke berlaku bak Dilan dengan mencium tangan sang gadis. Dan ketika ibunya turut bergabung, mereka bertiga menemukan klik. Klik yang coba terus dijaga sampai akhir kisah. Nyai Ontosoroh / Sanikem (diperankan dengan luar biasa bagus oleh Sha Ine Febriyanti) adalah pribumi yang diambil paksa menjadi pasangan oleh Herman Mellema (Peter Sterk). Walaupun Herman mencoba menikah resmi, tapi posisi Belanda yang menjajah dan statusnya yang masih menikah membuatnya gagal mendapat akta nikah. Dilema era, cinta yang terhalang aturan, benang kusut efek kolonial, rumit sejak dalam pikiran.

Setelah pengenalan karakter yang tak bertele itu kita terus diajak ikuti arus yang lempeng persis buku. Minke yang mengaku hanya Minke akhirnya terbuka identitasnya, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, anak pejabat. Sahabatnya sang pelukis Jean Marais (Hans de Kraker) dan anaknya May Marais (Ciara Brosnan) mendapat porsi cerita lebih sedikit, tapi di adegan-adegan penting seperti kutipan terkenal “Adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”, itu muncul. Korban perang Aceh yang menemukan cinta sejati. Guru HBS juga mendapat porsi sedikit, kita tahu ia jatuh hati pada muridnya, tapi kesan itu hanya tersirat.

Minke yang memiliki nama pena Max terinspirasi dari nama pena Max Havelaar, bercerita bagaimana kekagumannya pada Nyai Ontosoroh sebagai perempuan modern yang luar biasa. Datang sebagai gundik, tanpa sekolah resmi yang mumpuni, menjelma jadi hebat, fantastis lebih tepat, menjalankan bisnis keluarga dengan begitu memukau. Keras, cadas tanpa meninggalkan sisi feminis. Tak ada salahnya juga saya bilang, bahwa karakter sepenting ini begitu sukses di tangan Sha Ine Febriyanti. Kalau hanya nominasi Piala Citra, ia akan dapatkan.

Minke melakukan perjuangan menuju negeri bebas melalui pena, melalui tulisan-tulisannya. Beberapa kotroversi sampai dibahas di kelas. Ada persaingan dengan Suuhrof, cinta dan karya. Pribumi, darah campuran dan Belanda totok (murni). Hal yang sekarang jelas bukan masalah, di era awal abad 20 menjadi begitu krusial. Jadi ingat Harry Potter seorang darah campuran lho, berhasil mendepak Draco yang sombong. Sayangnya di bagian ini, jagoan tak menang.

Konflik sejatinya benar-benar muncul ketika Herman ditemukan tewas di rumah pelacuran babah Ah Tjong (Chew Kin Wah). Persidangan di Surabaya memunculkan banyak spekulasi, riuh di eranya. Andai ada twitter, pasti heboh dengan ghibah dan uneg-uneg nitizen yang julid abis. Nyai Ontosoroh dituduh sebagai pelaku karena dengan kematian ‘suami’nya ia mendapat segala harta. Sosoknya yang membiarkan percintaan anaknya, dan tagihan lacur anak-ayah yang seakan didiamkan menambahkan pendulum timbang tersangka. Namun, seorang pelacur bernama Meiko (Kelly Tandiono) menyudahi segalanya. Sampai di sini seakan lega, saya yakin penonton non-baca akan tersenyum riang, dan menghembuskan napas alhamdulillah disertai bisikan cerah, “selesai juga kasusnya…” Happy ending, dengan pernikahan megah. Minke juara kelas, ralat! Juara dua seantero negeri! Adegan pertemuan kedua ibu mempelai yang menyenangkan, bak dongeng putri-putri Disney.

Bukan Pram namanya kalau pembaca tersenyum di akhir. Tragedi baru saja disusun dari kepingan-kepingan tawa pesta nikah semalam suntuk, pesta kebun di tepi danau sampai adegan nganu di siang hari sebagai pengantin baru. Kali ini masalah ditimbulkan dengan pengadilan yang mempertanyakan status Annelies. Siapa wali sahnya? Pernikahan dengan Minke diperdebat, dan pengadilan terasa tak melakukan keadilan. Demo bak 212 dengan jubah dan sorban digelar dengan gerbang Perkebunan Bogor sebagai ganti Monas. Minke dan terutama Nyai Ontosoroh sebagai ibu kandung melakukan perlawanan hingga keringat peluh terakhir. Lupakan adegan perang epik bak The Raid, jelas adu golok dan bedil itu kurang fokus dan tak terlalu digarap serius karena sejatinya poin utamanya adalah, rumah itu berhasil diduduki. Akahkah Nyai dan Sinyo kembali berhasil memenangkan sidang?

Memang melelahkan, seratus delapan puluh satu menit duduk menyaksikan cerita cinta era kolonial ini. Oiya, saya sampai lupa, belum bercerita tentang Darsam (Whani Darmawan) yang menjadi orang kepercayaan keluarga Mellena dalam menjaga keamanan. Ia memiliki tugas membunuh Minke sekembali dari kota B (di film tentu saja terpampang nama kotanya), tapi ia bertindak benar dengan hanya menaati perintah Nyai. Ia kena tembak, tapi cuma gatal katanya, ia mengacungkan clurit demi menjaga tanah tuannya tetap aman, dan ia memainkan peran bagus pula sebagai kusir. Rasanya pengen ngopi di warung dengan kaki nangkring di kursi woy.

Setting film juga patut diacungi jempol. Terlepas dari beberapa kekurangan minor, apa yang ditampilkan sudah sangat bagus. Kereta api dengan suara lengkingan dan asap arangnya seolah kereta Hogwart yang mengantar murid-murid Gryfindor yang ceria, rumah Jawa dengan pendopo dan kursi goyangnya, suasana desa dengan sawah maha luas, jalan tanah dengan set warung makan di tepinya, gedung pengadilan minimalis yang hidup, dokar dan kenikmatan ketuk kaki kuda yang merdu, sampai kosan Minke yang terasa mewah di zamannya, induk semang nyonya Telinga walaupun minim menit tetap memberi kesan bahwa penghuni kos adalah raja. Beberapa memang harus diakui tampak palsu, tapi jelas bikin set seperti ini butuh perjuangan ekstra. Dan saya sangat sangat mengapresiasinya. Sungguh berterima kasih.

Keputusan menujuk Iqbaal Ramadhan juga kurasa sudah sangat pas, pas usia dan momennya, walaupun saya pribadi sangat kesal di awal pengumuman, nyatanya ia sukses menjelma Minke dengan sisa gombal pemuda Bandung. Pasca kehebohan Dilan, rasanya sulit untuk mengatrol generasi muda guna menarik minat generasi millenial berbondong-bondong ke bioskop. Setelah sebulan tayang, angka bioskop diluar duga belum menyentuh dua juta. Memang ga ada rumus pasti menghitung prediksi box office, tapi dengan terwujudnya buku sastra terbesar di Indonesia ke layar lebar dan pendapatannya tak sesuai harap sungguh sebuah alarm, sungguh disayangkan. Nasib tiga buku berikutnya benar-benar tergantung respon film ini. Duh, kalau film semegah ini tak menemui titik harap sang produser, apa jadinya seri berikutnya. Kekhawatiran kasus The Subtle Knife boleh jadi menyelingkupi.

Seperti bukunya, saya juga menangis sejadi-jadinya di akhir. Saat lampu bioskop menyala, tampak malu juga saya mengusap air mata. Adegan “Kita sudah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Itu adalah kesempurnaan film bagus dalam menyampaikan akhir yang pedih. Didukung musik menyayat hati dan suara berat Iwan Fals dalam mengumandangkan lagu karya Ismail Marzuki, “Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang…” Apa sih yang akan kita komplain? Bumi Manusia sejatinya menemui titik pijak yang sudah pas. Sangat pas. Seperti kata sang Sutradara, Tiga jam memang waktu minimal yang dibutuhkan untuk menyampai detail-detail yang diminta pembaca. Nah, seperti yang kubilang, seolah memang ada kait beban di sini. Kita tak akan bisa memuaskan semua orang, kawan.

Salut untuk naskah yang ditulis tetap mengacu dengan kombinasi asli bahasa asing, Indonesia sampai makian Suroboyoan. Sulit lho, mencipta atmosfer seperti ini, makin ok sebab hampir semua karakter juga melontarkannya dengan fasih dan nyaman di telinga. Tepuk komunikasi pingpong itu nikmat diperdengarkan. Menampilkan subtitle untuk film lokal juga ga masalah, mendukung sekali. Skoringnya lebih bagus lagi, dibanding Perburuan yang mengganggu, iringan musiknya sudah memenuhi tugasnya dengan pujian.

Terakhir, karya sastra memang sulit diterjemahkan ke bioskop. Beberapa sukses besar, mayoritas menyedihkan. Saya ambil contoh satu saja, tahu novel hebat The Sound and The Fury karya William Faulkner yang terbit tahun 1928? Tahun 1959 pernah dibuat, luluh lantak saudara-saudara. Lalu coba dibangun lagi dengan totalitas dimana kendali peran, tulis dan disutradari oleh aktor besar James Franco tahun 2012, tak ada gaung ke Oscar malah berakhir dengan caci maki. See, mencipta karya visual dari buku besar memang tak mudah.

Saya jadi teringat Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, adaptasi dibuat dengan sangat padat oleh Alfonso Cuaron menjadikannya film durasi terpendek serial Potter dan lantas menjadikannya seri terbaik. Andai Bumi Manusia juga begitu, atau semoga saja ada kesempatan seri Buru berikutnya dengan naskah sehebat Steve Kloves. Please tetap berlanjut, wujudkan. Saya tunggu, kita tunggu Anak Semua Bangsa.

Bumi Manusia | Tahun 2019 | Sutradara Hanung Bramantyo | Diadaptasi dari Buku karya Pramoedya Ananta Toer | Penulis Skenario Salman Aristo | Pemeran Iqbaal Ramadhan, Mawar de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Giorgino Abraham, Bryan Domani, Donny Damara, Ayu Laksmi, Dewi Irawan, Christian Sugiono, Ciara Brosnan | Skor: 4/5

Karawang, 120919 – Nikita Willy – Luka

Terima kasih untuk Bung Handa(BM) atas tiketnya. Sehat, bahagia dan makmur selalu ya.

Iklan