Mesin Waktu – H.G. Wells

Kita yang hidup sekarang hanya mendapatkan sisa sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang terdahulu. Masa depan masih saja kosong dan gelap. Masa depan masih saja belum diketahui. Masa depan adalah cahaya samar yang tampak di kejauhan.”

Novela kedua HG Wells yang kubaca setelah Pulau Dokter Monreau yang luar biasa itu. Mungkin ekspektasiku yang ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita, bagaimana ia memasuki masa ratusan hingga ribuan juta tahun ke masa depan. Jauh sekali dibandingkan Timeline-nya Michael Crichton yang sama-sama mencipta alat jelajah sebuah dimensi keempat. “Dapatkah sebuah kubus memiliki perhitungan yang jelas padahal ia yang sebelumnya tidak ada untuk waktu yang sangat lama sekali?” Dimensi keempat adalah cara lain untuk melihat waktu. Tidak ada perbedaan antara waktu dan salah satu dari tiga dimensi ruang kecuali jika kesadaran kita bergerak mengikutinya.

Kisahnya tentang Sang Penjelajah Waktu yang berhasil menciptakan mesin waktu, diskusi dengan para pakar dari psikolog, editor, Filby, bocah berambut merah yang suka menyanggah, profesor, Petugas Medis, dan lainnya termasuk Aku. Orang yang diambil sudut pandangnya. Mungkin ini ciri khas Wells di mana cerita orang lain yang dituturkan lagi, jadi menempatkan sang Penulis sebagai pendengar. Bermain aman, lebih terasa hidup karena seandainya Pembaca mau komplain, Wells dengan santai bisa bilang, “Lha… saya hanya menuliskan kisah orang lain, kalau mau komplain benar enggaknya silakan ke narasumber.” Wah pintar juga ya, apalagi Wells terkenal sebagai pencerita fiksi yang dipadu dengan teori ilmiah sehingga disebut ‘Bapak Fiksi Ilmiah.’ Memperlakukan kebenaran sebagai seni untuk menarik perhatian, aku menganggapnya sebagai cerita.

Setelah makan kenyang pasca ‘jalan-jalan’, ia berteriak. “Aku kelaparan, aku sudah melewati waktu yang paling menakjubkan.” Ia lalu meminta para pendengar diam dan memperingatkan untuk tak menyela cerita, sang Penjelajah Waktu mulai bertutur. ‘Berdasarkan teori-teori mewah yang liar.’ Bahwa setiap bentuk nyata itu harus memiliki perhitungan keempat arah, yaitu panjang, luas, lebar, dan massa. Namun melalui penyempurnaan perhitungan yang ada aku akan menjelaskan bahwa kita cenderung mengabaikan fakta. Memang benar ada empat dimensi, tiga di antaranya kita sebut tiga bidang ruang dan yang keempat adalah waktu. Di laboratoriumnya, ia memulai petualang ke masa depan yang misterius di tahun 802.701 masa yang ditunjukkan oleh Mesin Waktu. Satu tahun terasa seperti sama dengan satu menit.

Ia terdampar di sebuah negeri yang futuristik, manusia kerdil yang disebut Eloi. Di Timur laut aku melihat muara besar atau bahkan anak sungai. Aku menduga itu Wandsworth dan Battersea. Aku pikir kerapuhan fisik manusia, berkurangnya kecerdasan, dan kehancuran disebabkan oleh masalah terbesar manusia itu sendiri. Dunia antah itu mencipta banyak senyum, manusia masa depan itu tampak bahagia, seperti tanpa beban hidup.

Sebuah kejadian, saat di sungai ada yang hanyut tapi banyak yang tak peduli, maka ia berinisiatif membantu. Eloi itu berterima kasih dan mengabdi padanya, bernama Weena, gadis yang terlihat rapuh. Ke manapun pergi, ia ikut. Mesin waktunya hilang, ada sebuah sumur misterius yang ditakuti, muncul saat malam. Terbenamnya matahari itu membuatku berpikir tentang akhir dari umat manusia. Musibah besar yang dialami manusia di masa lampau adalah serangan Morlock, dan Eloi adalah sapi tambun belaka. Tampak menyeramkan seolah kaum atas kedatangan setan. Sang Penjelajah mengira ada makhluk bawah tanah yang mengerikan mengancam kaum Eloi. Maka karena penasaran dan demi kembali mengambil Mesin Waktu, ia nekad turun. Sumur itu gelap, dan dengan korek api, senjata ala kadar petualangan berlanjut. Karena berdiri di sana tanpa senjata kecuali tangan, kaki, dan gigi gemeretuk, juga korek api, maka ia selamat. Ternyata makhluk bawah tanah itu juga manusia, mereka menyebutnya Marlock. Kita tahu bahwa kelak segalanya akan menjadi lebih baik. Merupakan keniscayaan zaman. Seluruh dunia akan menjadi cerdas, berpendidikan dan saling kerja sama.

Nah, mulai saat perlawanan Morlock itulah kisah menjadi hidup, menjadi mendebarkan. Gagasan aneh Grant Allen, jika masing-masing generasi mati dan menyisakan hantu, maka dunia akan disesaki hantu-hantu. Teori bahwa mereka akan berkembang biak selama 800.000 tahun itu tak mengherankanku jika aku melihatnya empat sekaligus. Bayangakn, kamu masuk goa, hanya bercahaya korek api yang sesekali mati saat batangnya mengabu, lalu dalam keadaan hampir putus asa, secara dramatis muncul ‘bantuan’ yang memberi nyala bangkit. Ia gemetar saat memikirkan bagaimana mereka akan menginterogasi. Gambaran yang mengerikan adalah ketika kau berada di kegelapan dan semua makhluk seram mengepungmu. Memiliki fase Nebukadnezar. Sampai nantinya, kembali selamat, kembali ke masa kini, terduduk di laboratorium persis seperti sebelum menjelajah. Mimpi? Ataukah mesinnya benar-benar bekerja? Aku berada di ruang kerja yang lama, persis seperti yang dulu. Mungkin aku telah tertidur dan bermimpi, semuanya adalah mimpi. Ia memang tak menginginkan pendengar percaya, anggap ini adalah kebohongan atau ramalan. Semua itu mudah terjadi ketika seluruh dunia berada dalam satu imajinasi dan tidak terhubung dengan kenyataan yang aku temukan di sini.

Seseorang tidak dapat berbohong di balik banyaknya kemungkinan. Beberapa meragukan kisahnya, tapi fakta bahwa ada bunga yang diselipkan Weena ke sakunya memberi sebuah klu penting. Saku ini selalu membingungkan Weena tapi akhirnya ia menyimpulkan bahwa saku adalah jenis eksentrik dari vas untuk dekorasi bunga. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan waktu meneliti dan bekerja keras supaya bisa masuk ke masa depan dan sekarang ia ingin keluar dari tempat ini. Ia telah membuat diri menjadi rumit dan paling putus asa dibanding manusia manapun.

Lalu sang aku berkunjung ke laboratorium, melihat mesinnya, melihat kemungkinan kembali dicoba. Tidak boleh datang ke masa depan untuk berman-main. Penasaran dan harapan adalah hal yang lebih baik daripada putus asa. Semuanya terjadi di dunia yang indah dan aneh. Aku melakukan perjalanan, sejenak berhenti berkali-kali, melampaui jarak seribu tahun bahkan lebih, terhisap oleh misteri dan takdir bumi, memandangi daya tarik matahari yang berukuran lebih besar dan lebih bulat di langit sebelah barat, dan kehidupan lama di bumi yang telah surut.

Aku sedih memikirkan betapa singkatnya impian dari kecerdasan manusia. Kisah ditutup dengan petuah bagus seolah buku motivasi. Hidup adalah mimpi. Mimpi berharga yang menyedihkan, atpi aku tidak tahan ketika mimpi itu tidak cocok untukku. Ini gila. Ketika pikiran dan kekuatan telah sirna maka penghargaan dan kelembutan masih ada di dalam hati manusia.
Melakukan tarian sambil bersiul The Land of the Leal seriang mungkin. Tahukah kamu bahwa istirahat terbaik adalah sebelum senja, yaitu ketika angin terhenti di antara pepohonan? Pantas sering dikutip para penyair. Dasar kaum hobi rebahan!

Mesin Waktu | By H.G. Wells | Diterjemahkan dari Time Machine | United Kingdom: William Heinemann, 1895 | Penerjemah Suci DP | Penyunting Margo Yuwono | Desai nisi dan sampul @timoergurita | Penerbit Octopus | Cetakan kesatu, 2016 | ISBN 978-602-72743-7-6 | Skor: 3/5

Karawang, 220919 – 240919 – Nsync – Tearing Up My Heart // Billie Holiday – A Foggy Day

Thx to: Boekoe Therapy, Yogyakarta

Tango & Sadimin – Ramayda Akmal

Jangan mau belajar dari kesalahan diri sendiri. Itu tandanya kau pernah berbuat salah dan bodoh. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.” – Tango

Akhirnya ada kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang benar-benar OK, benar-bener puas. Tango dan Sadimin adalah kisah sendu orang-orang pinggiran yang dituturkan begitu hidup, seolah kesedihan mereka nyata. Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas masalah beragam. Hikayat manusia kebanyakan dalam pusaran asmara, tragedi dan kerumitan hidup. Seorang mucikari tersohor yang memulai, seorang haji teladan yang menutup. Alurnya dicipta dengan ketelitian luar biasa yang membuat pembaca berpikir, berkhayal lalu geregetan dan bergumam duuh!

Kisahnya terjebak dalam lima sudut pasangan. Semua saling silang, menentukan nasib para karakter dengan jitu. Pertama Nini Randa & Satun Sadat. Nini adalah mucikari di pinggir sungai Cimanduy, bagaimana ia mendalami profesi itu dicerita dengan detail yang mengharu. Awal mula kemunculannya yang hanya dari orok terhanyut saat banjir menghadang, ia tumbuh dengan keras, memiliki kekuatan gaib, ketika masih perawan bisa melihat sosok orang yang baru meninggal dunia. Ia berbicara dengan kelelawar dan ulat-ulat, juga makhluk-makhluk lain. Lalu saat remaja, muncullah lelaki misterius Satun Sadat yang memberinya pengalaman baru. Menciptanya menjadi dewasa lebih cepat, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang bekerja di proyek dam, pencari pasir sampai warga sekitar membutuhakn kopi dan singkong, termasuk kehangatan lain. Bayangan dan ingatan itu pula yang membuat ia bertahan dari inisiasi yang mengikis rasa malu dan keangkuhan dasar seorang manusia dalam dirinya.

Nini menjadi terkenal setelah menampung para perempuan, membuatkannya gubuk di sekitar, menarik biaya, menjadikannya lebih cukup materi. Ia tidak mampu menghadapi hantu-hantu bernama kenangan yang diciptakannya sendiri dengan mandor-mandor atau laki-laki yang datang silih ganti datang di hidupnya. Ia memiliki dua anak, pertama Cainah yang dirawat dari hubungannya dengan Satun Sadat, kedua Sadimin dari Haji Misbah yang kala mendemo rumah pelacuran, kena guna-guna, terjerat dalam peluk dan terjadilah. Sadimin dititipkan kepada Uwa Mono, nelayan yang serba bisa. Prinsip hidupnya, nikmati saja, ngalir saja. Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementrara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Mono kini turut mencipta sebuah jaring, meliuk dan melilit dalam romansa benang kusut.

Bagian kedua, Tango & Sadimin. Pasangan ini tampak saling mengisi, secara kaca mata umum. Tango adalah anak buah Nini Randa, Sadimin adalah buah hatinya yang disusupkan ke tetangga. Kita sampai di masa kini, Tango menjadi juragan, bisnis apa saja yang penting menghasilkan. Jualan barang haram, judi, dan tentu saja bos para buruh sawah yang ia urus bersama istri dan orang tua angkat. Sang juragan mendapat dana dari pembagian harta Haji Misbah, dengan petak sawah yang ia terima, Sadimin menjelma pengusaha yang disegani. Beberapa kali berkasus dengan polisi, dan sumpah serapah dengan pesaing. Tango yang seorang pelacur diangkat istri, terasa bisa menempatakn diri. Dia bilang, wajahmu seperti tomat segar di pasar, rambutmu seperti bulu-bulu jagung yang sehat dan lebat, dan kalau kau bersuara di panggung, katanya semua yang mendengar jadi bodoh dan takluk. Keduanya menjadi pasangan tak lazim pula, di akhir kisah bagian mereka, Tango bisa tersenyum walau darah pelan mengalir dari hidung.

Bagian ketiga adalah Nah & Dana, Nah sebagai anak pertama Nini memilih kabur dari rumah demi cinta dan masa depan. Dana adalah anak kandung pengemis yang juga kabur dari rumah untuk merajut asa, memperbaiki status sosial. Mereka dicerita sebagai dua anak SD yang tersisa dalam kelas, setelah teman-temannya satu per satu keluar untuk menikah. Keduanya menghimpun harap dari kerasnya hidup, sejatinya pasangan ini hampir jadi ideal (baca romantis) saat memiliki anak Karim, bersatu dalam kasih, harta bukan segalanya, sungguh kisah cinta hakiki, sepertinya, awalnya, dasarnya. Namun, cerita bagus memang harus disusun dari keping tragedi, maka kesulitan materi membuat mereka kembali menginjak bumi, memaksa mereka mengetuk pintu Nini Randa, nebeng tinggal di kandang sapi, dan nantinya dalam akhir yang pilu. Nukilan Dana mengetuk pintu mertua adalah pembuka novel, jadi memang permainan alur yang dinamis. Nah kabur dari rumah yang melibatkan pencarian ala detektif. Oiya, Dana adalah buruh tembak Sadimin, lingkaran hubung ini akan saling mengikat di ujung kisah yang menyedihkan. Ingatan bahwa tiba-tiba satu orang menghilang sementara dunia tidak berubah sama sekali, membuat hatinya hancur-lebur, lututnya bergetar.

Bagian keempat, pasangan pengemis yang sungguh ajaib. Keluarga yang sempurna mencipta iba. Ozog & Sipon. Mereka terlatih untuk tidak mengeluh, tidak mengumpat, juga tidak tersenyum karenanya. Mereka harus bersikap dan berwajah datar, perpaduan antara kepedihan dan sedikit tekad untuk hidup yang menghasilkan rasa iba mendalam. Ozog adalah lelaki buta, peniup seruling. Sipon adalah wanita kuat buka hanya kuat menengadahkan tang, ia juga harus menggendong suami dalam berkarier. Kedua anak angkat mereka turut dalam aksi meminta derma. Cerita pengemis menggelar wayang golek menjadi legenda sepanjang masa masyarakat tepi Sungai Cimanduy. Kalian yang suka kasih receh kepada para pengiba ini, pikir lagi! Kesedihan adalah awal yang bagus untuk produktivitas. Dan kemudian obsesi.

Peran dalam kisah ini seolah mereka terasa kurang signifikan, tapi tunggu dulu. Pendengki bisa apa? Mereka kalah jumlah dan kalah konsep. Bagian kala mereka terjebak dalam hutan hujan madu yang mistis, bagus banget, seolah di alam raya para makhluk-pun berpesta pora. Keheningan dan angin-angin di hutan itu lebih suka bernyanyi daripada bercerita. Keputusan main paku gepeng di rel kereta api itu sejatinya malah eksekusi kunci. Betapa dunia orang miskin sungguh darurat peduli.

Bagian final, luar biasa, sangat bagus. Sepanjang hidupku menjadi bayangan, aku hanya mengerti tentang penyesalan dan kecurigaan. Yang tak pernah disimpulkan kecuali bahwa dua hal itu adalah musuh kehidupan yang harus cepat-cepat dienyahkan. Misbah & Nyai adalah gambaran sempurna ironi kehidupan. Tokoh agama panutan, memiliki tiga istri (di sini disebut Nyai) dan lima anak (enam, jika Sadimin dihitung). Terlalu sulit menemukan alasan bagi mereka untuk percaya bahwa ayahnya yang kiai, bersih, terhormat, makmur sejahtera, jatuh di pelukan iblis lahir batin seperti Nini Randa. Jadi ketua Rukun Warga, jadi guru ngaji, punya satri banyak, dengan usaha pengeruk pasir. Sejatinya tampak sosok yang patut disegani, dikagumi bila kalian seorang agamis, dan dihormati jika patokan kalian adalah seorang jelata. Dalam kisah ini, perannya memang menutup cerita, slotnya ga sebanyak yang lain. Jadi klimaks itu disusun di rumahnya. Dana yang kehilangan Nah, setelah frustasi cari ke mana saja gagal, termasuk ke kantor polisi yang birokratif. Bertemu pula Sakidin di sana yang diminta kesaksian, datang pula Nini Randa yang juga butuh pengakuan, plus para peminta yang makin merumitkan keadaan. Sejatinya kita tahu akhir Nah, tapi memang dibuat samar, saya suka hal-hal yang menggantung ragu gini.

Melengkapi kepiluan kisah, sang haji sedang pengen bercengkrama malam itu. Nyai ketiga, termuda setelah tahu rahasia marah, wajar jiwa muda. Nyai kedua yang sejatinya pasrah mengabdi, sedang dapat. Nyai pertama yang sabar dan sungguh menanti janji surga kelak, orang yang banyak berkorban, penuh perjuangan di masa awal, sendiko dawuh. Seseorang atau sesuatu yang berharga memang akan selamanya berharga, tetapi tidak selamanya satu-satunya. Selesai? Belum. Kisah ditutup dengan menghebat, betapa seorang tampak agamis yang dipuja banyak orang itu melakukan kegiatan dosa besar. Tak cukup dengan itu, bahkan novel Tango & Sadimin menyajikan akhir kalimat yang luar biasa indah, “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.”

Bisa jadi nantinya, jika Bung Akmal memuncaki penghargaan ini, dia dengan cerdik menutup kisah satu paragraf menggucang.

Prediksi: Jelas akan masuk daftar pendek. Sejauh ini yang terbaik. Sembari menanti menyelesikan baca enam buku lainnya, kalian bisa menjagokan dan menempatkan buku ini sebagai unggulan pertama. Alur, penokohan, konfliks, sampai detail yang disaji sangat ampuh. Betapa absurd cerita perpaduan antara pelacur, pengemis, buruh, juragan dan seorang tokoh agama. Semua yang terbang ke langit, hilang dalam peraduan mistis. Tango & Sadimin adalah novel hebat yang membumi, ada di sekeliling kita, ada di antara masyarakat. Saya ga bohong, sungguh aduhai.

Tango & Sadimin | Oleh Ramayda Akmal | GM 619202024 | Editor Teguh Afandi | Layout Ayu Lestari | Desain sampul Orkha Creative | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 2019 | ISBN 978-602-06-2815-8 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2816-5 | Skor: 5/5

Karawang, 230919 – M2M – The Day You Went Away

Bertarung Dalam Sarung – Alfian Dippahatang

Aku mati dibunuh.” // “Dibunuh karena puisi.

Ceritanya hanya berputar di drama keluarga. Dalam masyarakat Bugis memang harga diri sangat penting dalam keluarga. Semua cerpen di sini berkutat di sana. Perseteruan dengan orang tua, adat yang harus ditegakkan, asal usul yang ditentang, jodoh warisan bapak, riwayat tarung Indonesia Timur dalam kemerdekaan sampai agama daerah yang dijunjung, semuanya ngulik di hubungan darah yang mendrama. Saling silang tunjuk mana yang batil dan enggak. Mengangkat isu sosial dan budaya Toraja dan Makassar. Seperti ucapan persembahan, memang sang Penulis menyatakan keluarga adalah pustaka hidup.

#1. Ustaz To Balo
Tentang keunikan seorang yang memiliki bercak aneh berwarna putih berbentuk segitiga yang harus terbuang. Mati atau dilepas di hutan untuk jadi santapan binatang buas. Nyatanya ia bertahan, menemukan seorang pemuka agama, menjalani hidup dalam kebatinan. Saat akhirnya merasa beruntung dapat menikahi putri sang pemuka, anaknya juga memiliki khas bercak itu dan sang istri meminta cerai karena menanngung malu. “Mengapa kau hendak menceraikan Ranti, Nak?”

#2. Nenek Menerawang dan Ibu Memburu
Ibunya kabur, memilih suami baru dan sang anak dalam tangis tak berkesudahan. Pergi kala terlelap sehingga tak diberi waktu pamit. Sang Nenek adalah dukun atau orang pintar yang kali ini kedatangan Tanta Halidang, dimandikan untuk apa? “Dimandikan agar suaminya tidak ke mana-mana, Nak.

#3. Jangan Keluar Rumah Saat Magrib
Kisah selingkuh yang menyakitkan. Dengan sudut pandang sang calon bayi hasil berzina dengan pelaut, sang ibu malah menikah dnegan Basri sang polisi yang juga turut berzina. Sang ibu yang sejatinya lebih mencintai pelaut yang sedang ke Maluku mencoba mengugurkannya dengan keluar magrib agar roh halus memainkan peran. “Jangan keluar saat Magrib, Anri.”

#4. Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil
Ini adalah cerita bohong yang ditanamkan orang dewasa pada anak bahwa ibunya pergi ke Malaysia cari duit. Ayah dan tantenya memberi harap agar ia tetap menjalani kehidupan kecil dengan tanpa beban. Nyatanya ia terus kena bully, Samri lalu meluruskan hal ini kepada anaknya. “Tiga bulan lagi, Nak.

#5. Bukan Sayid
Kisah kasih tak sampai. Keturunan Sayid Opu yang digadang adalah keturunan Nabi Muhammad tak boleh menjalin hubung dengan keturunan lain. Tradisi kafa’ah di Cikoang, ini coba dimentahkan sang aku, Syarifah Atkah Bintang yang menjalin cinta dengan lelaki Sayid Karaeng, Habri. Dianggap kafir bila melanggar tabu. Bintang membujuk Habri membawanya kabur, tapi tak semudah itu ferguso. “Kau percaya cinta?”

#6. Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata
Ini adalah cerpen terbaik. Paling panjang, paling kompleks, paling vulgar. Jelas buku ini kena label 21+ karena kisah Mayat Hidup. Dengan sudut pandang dua orang, ibu dan anak yang terus melakukan komunikasi setelah ibu meninggal, mereka masih bisa komunikasi karena Rungka yang istimewa. Dari sudut Rungka kita tahu, cintanya pada ibu tak terbatas. Ibu selalu melindunginya saat ayahnya Puto marah karena lelaki ga boleh gemulai. Lalu saat sudut berganti ke almarhum, kita tahu ia selingkuh dengan saudara suaminya demi keturunan, seorang pemuka agama Tamrin. Tobat lombok. Sampai akhirnya Rungka menggali kubur ibunya agar bangkit. “Wajahmu terlihat bingung, kau kenapa, Nak?

#7. Ayahku Memang Setan
Mencari cara untuk balas dendam agar tak diketahui orang. Sakir yang suka bully sang aku, tewas akhirnya saat di pinggir sungai kesempatan memarangnya muncul. Ayahnya pergi berjuang untuk tanah air, berperang bak setan sehingga ia disebut anak setan. Hidup memang pilihan, tapi pilihan macam apa yang tersedia sebagai anak tanpa ayah yang menemani masa kecil? Damai? “Kita berharap begitu, Nak.”

#8. Tangan Kanan Orang Toraja
Serabut kisah tentang Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) di tanah Sulawesi Selatan. Pengorbanan, cinta, dan penghiatanan dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia Timur. Perang yang menjadi pilihannya menjadi konsekuensi pahit. “Pergilah, Nak!”

#9. Prajurit Yang Sakit Hati
Setelah beberapa kali dibujuk bergabung akhirnya ia sepakat. Menyatakan persetujuan adalah ledakan, membuka gerbang kehancuran. Mungkin bisa bebas menghirup udara lepas, tapi tak akan leluasa bertindak. Kalimat ayah adalah kekhawatiran sekaligus pengharapan. Ah, pengasingan terjadi juga. “Kau dinanti untuk membungkam segalanya.”

#10. Aku Tak Kemayu Lagi
Hikayat Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang dibentuk, dikembangkan lalu membubarkan diri membaung dengan organisasi lain. Ayahnya yang marah karena gemulai, “Kau ini lelaki. Kau ini pejantan.” Menempanya, membangungkan tidurnya untuk bergabung ke dalam pasukan. Selalu ada jalan untuk melihat Polongbangkeng berhenti diinjak-injak.

#11. Mayat yang Menceritakan Kematiannya
Riwayat Anda Ruapandewi, penyair yang tewas dibunuh. Dalam alam kuburnya ia dikagumi mayat lain, yang juga menulis puisi, tapi sekadar iseng. Ah syair…, bahasanya sederhana pun selalu butuh tafsir. Dengan kesenangan akan makanan coto, dengan pengagum yang setia bersama. Ada sesuatu di baliknya, sama-sama mati dibunuh tapi ada kaitan. “… kau akan dikenang dengan desas-desus yang tak mengenakan.” Mungkin ini cerpen yang paling ga OK di daftar ini.

#12. Cahaya Gaib
Cerita istri yang tak bisa menghasilkan keturunan, lagi. Kali ini istri kedua, ia lalu berkeluh kesah pada Nenek-nya. Langkah meminta cerai, meminta tolong karena suaminya kembali ke istri pertamanya yang hamil lagi. Lalu datanglah sebuah mobil yang selalu menawar beli kebun Nenek, tetap ditolak hingga jalan keluar itu ia malah melamar anaknya yang masih dalam proses cerai. Well, di sini Nenek adalah orang tua laki-laki di masyarakat Konjo. Sempat membuat bingung karena, Nenek kok disapa Pak. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#13. Orang-orang Dalam Menggelar Upacara
Di Kajang, kauserap pasang – petuah nenek moyang, hutan adalah sakral. Tak boleh ada yang menebang sembarangan. Harus ada ritual, harus ada izin, harus ada pengganti. Sang aku mendapat wejangan. Bila ada pohon yang ditebang sembarangan maka ada adat upacara yang harus dilaku untuk mencari pelaku dengan ujung linggis yang membara diinjak, yang bukan pelaku tak akan mempan. Ketika beberapa orang sudah dilakukan aman, tiba giliranmu. Dadamu sudah berhenti bergemuruh. “Kita bergantung dari hutan. Manfaatnya begitu besar untuk kehidupan, sekaligus penting merawat segala isinya.”

#14. Takdir Mala
Saling silang keluarga menentukan jodoh Mala. Orang tua cerai, menikah lagi dengan janda beranak sehingga tampak saling mengisi. Hingga masa dewasa jodoh ditentukan. Ibu tiri, dan kemarahannya. “Ini musibah, Nak.

#15. Bertarung dalam Sarung
Akhirnya sampai juga di judul buku. Adat tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Tarung dan Bombang dan segala kekuatan yang tersisa. “Nak, aku paham hatimu mungkin berkata, Bugisku sudah rontok…”

#16. Bissu Muda
Untuk menjadi bissu orang harus mengalami mimpi gaib ditemui Dewata. Tak semua lelaki yang berlagak keperempuan bisa diangkat menjadi bissu, pendeta agama Bugis Kuno. Menjadi bissu memang bukan cita-cita, tapi panggilan hati petunjuk Dewata. Kali ini kita mendapati pemuda, sudah lama anak muda tak menjadi bissu. “Orangtuaku menolak keras. Aku dianggap keperempuanan jika jadi bissu.”

#17. Panggilan Gaib
Dua lelaki melambai bersahabat, saat salah satu diangkat jadi bissu yang satunya lagi curiga mimpi dan panggilan gaib itu hanya omong kosong, kebohongan dan akting saja. Ada dendam dan kasih lama yang menguar. “Apa belum jelas? Kau bissu dan aku calabai biasa.”

Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Semalam saat pergantian hari ketika mati listrik dan pagi ini di libur Sabtu cerah dengan kopi dan musik The Legacy of Jazz. Kesan pertamaku selepas menyelesaikan baca adalah, ini kuda hitam Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Banyak hal yang mirip dengan Tiba Sebelum Berangkat-nya Faisal Oddang yang tahun lalu kuperkira rontok di daftar panjang, nyatanya masuk final. Namun jelas, Tiba Sebelum jauh lebih nyaman, lebih bagus dan mendalam. Bertarung Dalam temanya terlalu pendek, pengembangan kisah ga ada. Urusan keluarga mulu, pertentangan dengan ayahnya, padu dengan istri, ketidakharmonisan dengan anak. Bahkan kisah satu dengan yang lain mirip, beberapa pengulangan dalam lingkup sama padahal ini kan tak bersangkut, cerpen terpisah. Coba hitung berapa kata ‘Nak’ yang diujar? Andai ga ditutur dengan baik, malah seperti cerita sinetron, untungnya tata bahasa dan pilihan diksi bagus sehingga tak perlu menjadi suku Bugis untuk bisa menikmati alur.

Prediksi: rasanya buku ini masuk ke daftar prosa terpilih saja sudah prestasi, tak akan juara. Mustahil menjadi nomor satu. Tiba Sebelum yang terasa utuh dan menghebat di tengah pergolakan bissu saja kalah, apalagi ini. Masuk daftar pendek kalau terjadi, hanya keberuntungan.

Bertarung Dalam Sarung | Oleh Alfian Dippahatang | KPG 59 19 01604 | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Udji Kayang | Perancang sampul Harits Farhan | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | ISBN 978-602-481-100-6 | viii + 151; 13.5 cm x 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 210919 – Matchbox Twenty – Unwell

Dekat & Nyaring – Sabda Armandio

Kalau kau pernah mencintaiku, tundalah kelegaan yang ditawarkan kematian dan hiduplah cukup lama di dunia yang ganas ini utnuk menceritakan kisahku.”Hamlet, Babak 5, Adegan 2

Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi terasa ada yang kurang. Padat sekali karena memang fokus terhadap isu kejadian di satu tempat. Ini adalah buku kedua Sabda Armandio yang kubaca setelah 24 Jam Bersama Gaspar, 2/3 bagian mula buku itu bagus banget, 1/3 akhir agak mengecewakan. Di Dekat & Nyanying, semua gamblang dan benar-benar jelas. Sedekat kita menatap tragedi yang dicipta di Toko Edi, senyaring suara gesek tali yang ditarik dalam utas roda melintasi sungainya. Ga bertele, ga memainkan banyak kata aneh. Ada bagian yang lucu, di mana salah satu karakter yang memiliki niat mencipta karya berani ‘menerjunkan diri’ ke dalam lapisan bawah masyarakat. Bukan sekadar melakukan penelitian bak mahasiswa magang, ia menikahi warga lokal, membuat jurnal, melakukan banyak langkah berani dalam menjalani hidup. Tepuk tangan untuk Dea Anugrah! Bersenang-senang dengan kawan masih bisa kok dalam lingkup fiksi.

Kisahnya berkutat di kampung Gang Patos. Sebuah wilayah pinggiran sungai yang sebagian besar warganya kena gusur. Di situ ada perumahan baru yang lebih menjual, kompleks Permata Permai Residence. Ini cerita tentang orang-orang yang bertahan, dengan lingkar tanya sampai kapan? Ancaman jelas berkali-kali muncul sekalipun ga dijelaskan detail. Bujuk rayu mungkin diumbar dengan ganti rugi yang mengerikan. Tidak, hal-hal itu ga dibicarakan di sini. Kita langsung ke pokok-pokok masalah, bukunya hanya 110 halaman, hanya poin penting yang menunjang cerita yang digores.

Tokoh penggerak di sini nyaris keren semua. Ada sifat dasar manusia yang dianut dan runut sehingga nyaman sekali dilahap. Ada Edi yang punya warung buka 24 jam (menurut Kina, warung Edi seribu kali lebih baik dari swalayan) yang menyediakan berbagai kebutuhan. Edi adalah manusia serba bisa, berhasil mengakali masalah-masalah hidup dengan prinsip, ‘selalu saja jalan lain’. Contoh paling riil, jual daging ular palsu, menjual daging ular sanca dengan merek cobra, ambil listrik dari tiang biar bebas bayar, sampai hal-hal sederhana yang jadi kendala di sekitar. Namun pada dasarnya ia baik pada sesama warga. Ide jualan dengan tali menjulur ke seberang sungai dengan ember sebagai ‘kendaraan’ mengantar-ambil barang-duit saja sudah revolusioner. Menurut buku tokoh swalayan yang ia baca dalam sekali duduk, ada tiga hal yang diyakini sebagai modal awal: keyakinan, pikiran positif dan uang sedikit. Tokoh favorit! “Karena aku seorang penemu dank au asistennya.

Lalu ada Nisbi yang memiliki anak Anak Baik. Sebagai orang tua tunggal, ia begitu tegar. Banyak pergulatan yang dihadapi, terutama masa lalunya. Bagaimana suaminya, seorang polisi yang selingkuh, ia mati dengan penuturan kisah begitu sangat bagus, tragis dan merinding disko! Kematiannya dicerita detail bersama sekarung wanita kekasih gelapnya, bersama komitmen militer dan tanggung jawab. Begitu jantan. Anak Baik yang sedang imut-imutnya selalu bertanya ke mana ayahnya? Mati. Ada jalan untuk menghidupkannya, dengan legenda Pak Koksi. Dengan syarat laba-laba yang dimasukkan ke dalam kotak cerah. Ah anak kecil. Imajimu Nak. Dunia akuariumnya juga dituturkan dengan sangat bagus. “Kalau tidak ada Jackie Chan, dunia bisa kacau.

Sam, adalah bekas warga situ yang kini menjadi polisi. Ia tampak mengesalkan, tampak buruk sedari perkenalan, egois dan kejam. “… Kita semua tahu masalahnya apa, dan kita juga tahu seolusinya. Persoalan ini bisa selesai dalam sekejap. Tapi, ada yang jauh lebih rumit, bukan soal pergi atau tak pergi, selamat atau tak selamat. Dalam kondisi begini, aku rasa kau tak perlu menyelamatkan siapa pun.” Sudah tertebak apa yang akan dilakukannya, sampai akhir pilu ia menjalankan tugasnya dengan baik. Layangan, rokok samsu, dan suara letupan.

Berikutnya Wak Eli yang menceritakan dongeng Orang Patos dan Orang Koksi. Ia melanjutkan dongeng dari Nisbi ke Anak Baik. Persaingan dua kubu ini terjadi sejak dulu kala. Legenda kerangka naga, mendirikan rumah pertama dan rumah klan berikutnya di seberang sungai, rencana menyatukan yang gagal, lalu upaya menerkam klan lain itu tampak jahat. Jembatan yang dibangun untuk transpotasi barter sampai akhirnya terjadi permusuhan. Bagaimana Samwau menjadi orang pertama yang meninggal di komunitas itu setelah kehilangan pasangan sejatinya menyedihkan sekali. Hidup, oh hidup. Wak Eli mencerita juga meyakinkan (kata Naka Baik, “cerita Wak Eli lebih tua dan kusam, pasti lebih benar”), dan Anak Baik begitu terpesona kisahnya. Anak Wak Eli, Aziz adalah seorang dewasa yang mengalami keterbelakangan mental. Berlaku seperti anak kecil meskipun seusia Edi, sukanya lihat kartun, di sini Tom and Jerry diapungkan. Sedih juga melihat nasib Aziz akhirnya. Dunia (fiksi sekalipun) memang kejam. Ingatan memang senjata yang ampuh untuk mengembalikan kepercayaan diri.

Kemudian ada Kina, inilah kunci segala kisah. Perannya relative kecil, menjadi teman jalan ke mal Nisbi, saling mengisi satu sama lain. Memutuskan menikah dengan Idris, pemuda sederhana yang keheranan betapa beruntungnya bisa mendapatkan istri special. Idris cuma penjual regulator gas otomatis, miskin yang bahkan membolak-balik celana dalam untuk mengirit pengeluaran pakaian. Kina suka merekam, mencatat dan menuliskan semacam diary. Hal-hal remeh di sekeliling kehidupan masyarakat Patos. Nantinya kita tahu, Kina ternyata punya sesuatu yang menggelitik di akhir saat bertemu sobatnya. “Aku kira kau ke sini untuk membawa pesananku, bukan mengkritik metodeku.”

Kira-kira karakter penting hanya itu, mereka berkutat dalam rimba kehidupan yang ganas dan panas. Ada garis tragedi disiapkan Sadba, “Aku rasa kalau kau mau sedikit saja melatih diri buat berprasangka baik, hidupmu akan jauh lebih mudah.” Nyatanya ga semudah itu. Letupan itu benar adanya, dekat dan nyaring. Hanya petasan, hanya efek film lokal adu padu, hanya lonceng warung Edi, hanya letupan knalpot motor busuk. Namun bagaimana akhirnya ini bukan hanya suara yang dekat dan nyaring biasa? Semisal bunyi ledakan pistol? Semalam menikmati novela tragedi. “Bagian mana yang berbelit-beli?” / “Bagian naganya.”

Prediksi: menjadi buku kedua yang kubaca kategori prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini, kurasa Dekat & Nyaring potensial melaju ke lima besar. Kelemahan utama jelas buku ini terlampau tipis, ibarat bercinta, sejatinya menikmati proses dan dan kekuatannya, sayang durasinya ga lama sehingga sebelum mencapai klimaks kita sudah kalah duluan. Yang pasti, tebakanku Dekat & Nyaring ga akan juara. “Syarat ketiga, kita harus menggambar laba-laba.

Dekat & Nyaring | Oleh Sabda Armandio | Penerbit banana | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Yusi Avianto Pareanom | Perancang sampul P.S. Jati | Penataletak Risdianto | 12 cm x 18 cm, 110 halaman | ISBN 978-979-1079-70-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180919 – Sherina Munaf – 1.000 Topeng

Cara Berbahagia Tanpa Kepala – Triskaidekaman

Kenapa memang? Kamu enggak mau mikir lagi lalu kamu memotong kepalamu? Memang begitu ya cara membereskan masalah?

Setelah sekian lama, kini saatnya; kepala Sempati membentuk otomoni sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan. Kukira bakal membaca sebuah kisah berkias. Fantasi dimana, kepala yang terpenggal cuma dalam imaji atau termaktub dalam cerita hantu, dunia lain atau minimal semirip Nick Si Kepala Nyaris Putus atau jadikan kisah humor gelap yang berbayang. Sayangnya enggak. Cara Bahagia Tanpa Kepala benar-benar cerita tentang cara tak berlogika, tanpa berkelapa yang menjadikannya justru tidak berbahagia. Janggal sih, sudah niat memenggal kepala agar bahagia, malah ketika tak berkepala pusing sendiri mencari kepalanya di mana, lalu memori yang disimpan ke sebuah tuas semacam flash disk rusak malah pening sendiri. Jadi maunya apa? Ide memenggal kepala sendiri dengan sukarela saja sudah sangat buruk, apalagi pening dan pusing tanpa kepala? Lantas di mana otaknya? Konyol sekali kakak.

Kisahnya tentang Sempati yang menemukan titik jenuh, pada masa yang mengecewakan di puncak tak bahagia sebagai pekerja kantor di Jakarta. Hidupnya rumit, sehingga ingin mengenyahkan kepala. Kebetulan di kantor sebelah ada jasa membahagiakan klien dari selembaran yang dijejalkan pramuniaga di sakunya. Maka ia pun mengikuti program Bebaskan Kepalamu. Ini bukan kiasan, ini benar-benar memisahkan ‘Prosesor dari CPU dan monitor tapi komputermu masih bisa digunakan’. Ga mati? Dari penjelasan petugas, M4 yang meragukan di lantai 31, bisa dan beberapa klien masih hidup. Ga ada omongan garansi, tak ada desus apapun tentang asuransi. Seolah memotong leher semudah pijat refleksi di warung remang-remang. Dengan membayar mahal, dengan izin kerja yang rancu. Bukankah ini cara mewah untuk bunuh diri? Pengen sederhana, ke rel kereta api dan di sini juga dicoba. Tapi kok mati? Lho… Mungkin Pati barus baca buku Terapi Pikiran Bahagia-nya Okatastika Badai Nirmala, “Kebahagiaan tidak ubahnya seperti aliran listrik yang tidak diketahui bentuk atau pun warnanya tetapi nyata sekali dampaknya bagi lampu yang menyala terang di rumah Anda…”

Di tempat tinggal Sempati di gedung yang sama, di lantai berbeda tinggalkan karakter aneh berikutnya Jatayu. Semacam hacker yang diminta tolong Pati untuk mengecek kandar kilas yang menyimpan sisa-sisa harapan setelah kepala Pati hilang. Flashdisk itu rusak dan tetap tak bisa dibuka, malah mereka berantem yang berujung masalah lagi. Identitas Jatayu sendiri disimpan, walaupun tak terlalu mengejutkan nantinya karena memang kisahnya berkutat di mereka-mereka juga. Saling silang keluarga, pengembangan karakter yang kurang OK. Nantinya ayah ibu kakek saudara itu hanya mbulet saja di mereka-mereka. Urusan pengembangan karakter gini jadi ingat buku My Secret Identity-nya Ardina. Kisah remaja yang menjadi Penulis di sekolah Amerika dengan menyembunyikan jati diri. Bab demi bab selalu memberi karakter penting baru, bukan sekadar tempelan. Karakter tersebut memicu konflik yang memicu karakter lain memutuskan sikap. Di sini malah jatuhnya menjadi konflik keluarga yang diputar-putar.

Setelah bagian pertama: Hilang selesai kita maju ke bab Buang. Sempat kuharap adalah kisah jauh sekalian dan berbeda karena bagian awal yang mengecewakan, nyatanya karakter baru yang dituturkan ternyata hanya memutar. Derai Cemara dan Semanggi membuka tempat parkir di lapangan umum, tanpa izin usaha tanpa surat hak milik mendirikan bangunan. Lapangan parkir yang ga biasa, mereka membuka tempat penitipan kepala. Ga usah tertawa karena memang tertulis gitu. Lima tamu pertama tampak istimewa, nantinya ada tautan lagi. Sedap Malam yang menyimpan masa lalu yang tak sedap. Bagian ini juga membuka tabir, siapa ayah kandung Pati sebelum Darnal yang beberapa kali disebut. Sebagai keluarga, sebagai bos di tempat kerja. Ada bagian yang agak merusak sebenarnya, bagaimana seorang istri dibiarkan tidur di rumah kalian dengan lelaki lain dan kamu diam saja? Konyol!

Bagian ketiga Kenang adalah bagian menjawab banyak hal. Ibu Pati, Mer yang rumit sebagai orang ketiga di keluarga Darnal dan Tania, yang nikah paksa. Pati yang terlahir dalam minor, ayahnya yang juga ada kekurangan yang memutuskan membuka bengkel jam di depan rumah yang nantinya menjelma merasuk menjadi mesin dalam jam tangan. Weleh, makin ga jelas. Tania yang juga memiliki anak cacat karena adegan aneh karena tangan Pati dan jam tangan yang berjarum cacat, dunia menggila. Kisah tak berlogika bahkan di dunia Sihir Potter pun mendengar tembok bicara dianggap tak wajar bagi Hermione. Dan Rowling menjelaskan dengan hebat bahwa tembok itu berisi pipa untuk makhluk buas berbahasa ular. Ini kutuk cacat menghinggap dengan analogi weleh-weleh. Jam tangan yang berpikir. Kawan lama selalu ada untuk kembali. Tak perlu alasan mengapa, tak perlu bertanya ingatkah kami pada konsep penghianatan. Buku ditutup dengan bagian Pulang, di mana semua kembali ke kehampaan. Begitu juga Pembaca, hampa.

Sebenarnya ada nilai lebih di buku ini. Ide memberi tanda tangan asli di halaman muka patut diapresiasi. Sederhana tapi menjual. Ayooo yang lain juga dong. Dengan sedikit kata-kata tambahan biar menambah kesan. Di Cara Bahagia tertulis pesan, “Head’s on top!” Rahasia merekatkan. Rahasia meretakkan. Mereka salah sangka. Saya melangkahi kodrat semula, menghancurkan hidup anak yang bahkan belum bermula. “Ayah, ibu tolong. Aku takut – seluruh benda di kamar ini ingin masuk di dalam tubuh dan kepalaku.” Cukup.

Satu selesai, Sembilan menuju. Fantasi bukan, misteri bukan, humor bukan, surealis blas. Malah isinya mencoba puitis tapi ya gitu deh. Membuat beberapa kata berima, tapi ya gitu deh. Bab dan penamaan juga dibuat seunik Buku Pertama, Buku Panduan Matematika Terapan, tapi memang ga terlalu nyangkut ya gitu deh. Berkali-kali muncul kata primodial seolah itu adalah mantra hebat, embrio dewa Pemalu. Dengan derit desah di kamar sebelah. Adakah yang lebih mengerikan daripada kehilangan sebongkah kepala? Kalau tak ada, apa lagi yang harus ditakutkan? Membaca cerita tak berlogika di mana manusia masih bisa bicara, mendengarkan, mencium, melihat dan bahkan berpikir tanpa kepala seolah indera tersebut letaknya ada di perut.

Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang buruk.Ya keinginan itu tiba-tiba datang. Ya, keinginan melepaskan kepala saya.Ya, berat sekali. Dan semakin berat.

Dan semakin berat.

Dan

Semakin

Berat…

Cara Berbahagia Tanpa Kepala | Oleh Triskaidekaman | GM 619202032 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyunting naskah Teguh Afandi | Desain sampul Orkha Creative | Perwajah isi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Mei 2019 | ISBN 978-602-06-2993-3 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2994-0 | Skor: 2/5

Karawang, 100919-180919 – Sherina Munaf – Ada

36 Buku Baru

Tiga September Dua ribu Sembilan belas dengan tiga puluh enam buku baru dari tujuh sumber buku yang berbeda.

1). Dema Buku, Jakarta (beli dalam dua periode)
#1. Tamasya Bola – Darmanto Simaepa
Cerita bola dari sudut belakang gawang. Niatnya bagus sih, mencoba menampilkan kisah berbeda dunia bola sepak. Namun apa menariknya cerita tentang Barcelona, MU dan Timnas yang bobrok itu?

#2. Maut Di Venesia – Thomas Mann
Cerita Penulis Jerman yang tewas liburan di Italia. Kubaca kilat di Hotel Horison, Bekasi kala seminggu training. Narasinya panjang, dan yah gitulah.

#3. Kematian Di Venesia – Thomas Mann
Entah kenapa Basa-Basi dan Circa bisa bersamaan menterjemahkan buku ini. Hanya rasa penasaran yang menciptaku membeli keduanya bersama-sama.

#4. Bagaimana Aku Menjadi Penulis – Gabriel Garcia Marquez
Circa memang lagi getol-getolnya mengalihbahasakan Para Penulis besar. Kali ini dari Penulis favorit 100 Tahun Kesunyian. Proses kreatif di balik pena?

#5. Tentang Menulis – Bernard Batubara
Saya terpesona Kisah Mobil Bekas beliau. Saya dah beli Milana, walau baru baca dua tiga kisah di mula. Jadi ketika ada pre-order buku non-fiksi tentang menulis-nya tanpa dua kali pikir, langsung beli.

#6. Dekat & Nyaring – Sabda Armandio
24 Jam Bersama Gaspar memang sangat bagus di sepertiga mula, walau memberi ending yang biasa nama Sadba Armadio patut antisipasi. Dari Banana yang tak pernah mengecewakan. Sayangnya tipis sekali.

#7. Cara Berbahagia Tanpa Kepala – Triskaidekaman
Buku keduanya setelah debut bagus Buku Panduan Matematika-nya. Sudah selesai baca, dalam proses ulas. Bahagia tanpa kepala, ga mati ya?

#8. Tango & Sadimin – Ramayda Akmal
Buku yang saat ini sedang kubaca. Kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 dengan stempel pemenang kedua UNNES International Novel Writing Contest 2017.

#9. Bertarung Dalam Sarung – Alfian Dippahatang
Kumpulan cerpen, buku pertama Alfian yang akan kubaca. Karena masuk kandidat Prosa.

2). Gramedia Mal Metropolitan, Bekasi
#10. Max and the Cats – Moacyr Scliar
Buku pertama Moacyr yang kubaca. Dari sepintas pandang juga tahu buku ini akan mirip dengan Life of Pi, bocah dengan macan di perahu yang terombang ambing di tengah laut.

#11. Relativitas – Albert Einstein
Ini buku ilmiah. Akan sulit kunikmati, teori relativitas memang rumit. Jadi mari kita coba benamkan kepala ke kerumitan itu.

#12. The Story Girl – L.M. Montgomery
Novel yang luar biasa indah. Cerita tentang suatu masa di Amerika, gadis pendongeng dan sekumpulan remaja menghabiskan waktu dengan kisah-kisah menakjubkan keluarga King.

#13. Sekali Peristiwa di Banten Selatan – Pramoedya Ananta Toer
Sejauh ini buku yang benar-benar ditulis Pram sukses memperdayaku. Ujung sedih yang menguras air mata. Kali ini kisah dari Banten. Sejatinya saya beli karena pas selesai baca Max Havelaar.

3). Taman Baca Rindang, Klaten
#14. Sang Putri dan Sang Pemintal – Neil Gaiman
Dengan stempel ‘Khusus Dewas’ bagaimana ada judul dengan kata putri di dalamnya?

#15. Stardust – Neil Gaiman
Filmnya sudah lama sekali kutonton, yang paling diingat jelas penampilan melambai sang aktor besar. Seberapa gemulai karakter itu?

#16. Neverwhere – Neil Gaiman
Kisah di London Bawah dengan fantasi rumit dan kejutan yang luar biasa. Sudah baca, dan Gaiman memang jagonya bikin cerita dari dunia lain.

#17. Daisy Manis – Neil Gaiman
Akan menjadi buku pertama Henry James yang kunikmati. Tak pernah meragukan kualitas terjemahan Sastra Dunia milik KPG.

4). Paperbook Plane, Yogyakarta
#18. Apollo dan Para Pelacur – Carlos Fuentes
Akan menjadi buku pertama Carlos Fuetes yang kubaca. Kumpulan cerita dengan tawaran imaji.

#19. Perjalanan Nun Jauh di Atas Sana – Kurt Vennegut
Gempa Waktu benar-benar luar biasa. Persembahan Penerbit Oak yang sudah tutup. Tipis dan futuristic.

#20. Tanah Air Imajiner – Salman Rushdie
Kalau ditanya buku terbaiknya, jelas Midnight’s Children adalah maha karya. Mari kita nikimati kumpulan essay.

#21. Bahasa & Kegilaan – Umberto Eco
Saya dah beli mahakaryanya, belum kebaca sampai sekarang. Semoga jadi non fiksi yang menarik.

#22. Dalih Pembunuhan Massal – John Roosa
Kisah 1965 menjadi tragedi sejarah Indonesia. Sedari dulu pengen banget membaca buku ini, dan kebetulan kena promo 17 Agustus. Melihat lebih dekat kejadian itu?

#23. Puisi-Puisi Pilihan Catullus
Saya kurang mengenal beliau. Saya juga kurang suka membaca puisi. Lantas kenapa tetap kubeli? Dari Penerbit non major dengan tulisan: diterjemahkan langsung dari bahasa latin!

#24. Dalam Kobaran Api – Tahar Ben Jelloun
Novella yang kulahap singkat. Bagus banget ternyata. Kisah yang menginspirasi Arab Spring ini lugas, tak bertele sehingga Pembaca ga diberi kesempatan berpikir panjang tahu-tahu selesai. Terbakar!

5). Gramedia World Karawang, Karawang
#25. Bastian dan Jamur Ajaib – Ratih Kumala
Si gadis kretek yang sulit sekali kumulai, jadi kita nikmati yang kumpulan cerpen dulu ya. Sebenarap ajaib jamurnya?

#26. Pseudonim – Daniel Mahendra
Sejatinya sudah menimang-nimang buku lain yang siap dibawa ke kasir. Entah kenapa kepincut synopsis buku ini. Terkadang judul, kover dan synopsis di belakangnya menjadi snagat krusial untuk keputusan menikmati karya enggak-nya.

#27. The Martian – Andy Weir
Film dengan bintang besar Matt Damon itu menembus Oscar. Astronot pertama yang menginjak Mars, akankah menjadi manusia pertama yang tewas di sana?

#28. Biografi Hasyim As’yari – Zuhairi Misrawi
Pahlawan lokal Islam, pendiri NU yang termasyur. Saya dididik sedari kecil sebagai Muhammadyah, saya penasaran.

#29. Sidney Sheldon’s: Angel of the Dark – Tilly Bagshawe
Well, saya agak khawatir juga menelusur kisah-kisah Sidney yang menggugah. Ditulis oleh generasi kita atas izin wahli waris. Bukunya sudah banyak ternyata, ini akan jadi yang pertama. Kalau sukses memesonaku, bisa jadi berlanjut.

#30. Alex – Pierre Lemaitre
Dari kover dan tulisan di kover belakang novel ini sungguh menjanjikan. Plus dengan embel-embel Pemenang Crime Writer’s Association Award 2013. Meyakini sesuatu bagu sedari mula buku Prancis.

#31. Catching Star – Fira Basuki
Bagiku novel Biru adalah salah satu novel terbaik lokal. Cerita reuni yang kacau karena konflik internalnya. Sampai sekarang belum berkesempatan baca buku Fira Basuki lainnya. Ini akan jadi yang kledua.

6). Toko Buku Gunung Agung Resinda, Karawang
#32. Shopaholic & Baby – Sophie Kinsella
Buku kedua Sophie Kinsella yang akan kubaca setelah petualangan Becky di Pengakuan si Tukang Belanja yang mengejutkanku, sepuluh tahun lalu. Entah ini seri keberapa, yang jelas kini menjadi Becky Brandon (bukan Bloomwood).

#33. Caraphernelia – Jacob Julian
Kenal Jacob Julian sejak 2011 di Kemah Sastra di Cibubur. Setelah bertahun-tahun akhirnya saya berkesempatan menikmati karyanya. Yang judulnya aneh yak. Surprise me sobat.

#34. 101 Must Watch Movies Before U Die – Annabelle
Sebenarnya di era digital gini, untuk mencari rekomendasi film tinggal klik di banyak web. Buku kubeli lebih ke koleksi saja, dan isinya banyak foto ciamik yang sedap dipandang. Well, buku di sampul belakang tertulis Ref. Pengembangan Diri, jadi menonton film bagus termasuk dalam kategori inspiratfi laiknya mendengarkan ceramah Mario Teguh.

7). Taman Baca Bustaka Galuh Mas, Karawang
#35. Tarian Bumi – Oka Rusmini
Well, ada beberapa catatan di dalam buku ini yang menarik minatku tuk baca pulang. Tertulis di halaman depan, ‘If we were a season.’

#36. Ender’s Game – Orson Scott Card
Setelah terkatung-katung berulang kali untuk membeli buku ini, saya akhirnya berkesempatan membaca free dari Taman Baca Galuh Mas. Filmnya sukses luar biasa memesonaku. Sama menakjubkannya?

Karawang, 140919 – U2 – Elevation

#HUTKarawang14Sep19 #HBD36LBP

Friend Zone: Kita Sudah Bisa Tahu Apa Akhirnya

Gink (dalam pelukan hangat Palm): “Saya tidak tahu di mana saya akan mendapatkan teman terbaik lain sepertimu.”

Sepuluh tahun berteman dekat, sangaaaat dekat. Melalui banyak momen bersama dalam suka duka. Senyum tawa, air mata kesedihan saling mengisi dalam peluk dan (nyaris) cium. Ahh… Kita sudah bisa tahu apa akhirnya.

Hanya gara-gara di WA ada yang sher bertulis ‘bngst moment’ yang mengambil salah satu adegan film Friend Zone, saya langsung unduh dan esoknya langsung kutonton kelar. Film romcom yang mewah, ga cocok buat jelata. Naik pesawat lintas negara seolah hanya naik grab, semudah ganti tukang ojek. Pekerjaan yang pacar yang mencipta rekaman lagu dengan berbagai penyanyi dan bahasa membuatnya melalangbuana dari negara satu ke negara lain, Asia Tenggara dan sekitar, termasuk Indonesia. Ketika ada indikasi sang pacar selingkuh, dengan menemukan sekotak kondom yang berisi tiga menyisa dua, penyelidikan dilakukan. Terbang ke sana kemari, mengintai, mengawasi bak detektif. Dibantu teman kentalnya yang sudah akrab lebih dari 10 tahun, yang menjadikan zona teman melampaui kegilaan, kisah ini menemui titik akhir yang terlampau manis. Zona teman adalah area yang nyaman, dengan sahabat karib kita bisa banyak melakukan hal-hal gila tanpa canggung, apalagi ini lawan jenis. Seperti kata Joseph Addison, “Kebahagiaan yang sebenarnya berasal dari… persahabatan dan percakapan dari beberapa teman pilihan.”

Kisah dibuka dengan Gink muda (Pimchanok Leuwisetpaiboon) di tahun 2009, anak sekolah yang imut diantar ayahnya sembari berangkat kerja. Setelah memasuki gerbang, senyum sapa Gink lenyap, ia memanjat tembok, bolos sekolah, di sana sudah menunggu sahabatnya Palm (Naphat Siangsomboon) dengan mobil menderu mereka mengkuti ke mana ayah pergi, yang seharunya ke kota Chonbury ternyata berbelok ke bandara Suvarnabhumi. Lalu melakukan penerbangan lokal dan berakhir di sebuah hotel. Gink dan Palm yang turut serta, menjadi saksi perselingkuhan, walaupun hanya dari kamar sebelah dengan gelas dan suara samar lubang stop kontak. Sedih, marah, kecewa. Selama dalam perjalanan balik, Gink yang bersedu sedan dihibur oleh Palm, rumitnya hubungan orang dewasa, air mata kesedihan yang tak terkira. Ini jadi pondasi kisah untuk menelusur sepuluh tahun kemudian.

2019, Gink dan Palm (seolah) masih menjalani persahabatan, awet pakai formalin. Menjadikan hubungan ini istimewa, sekalipun sudah sama-sama punya pacar mereka terus klik, saling support dan bantu. Kita tahu Palm mencintai Gink, tapi Gink mengganggap hubungan mereka sebatas teman. Dari sini saat durasi baru setengah jam, saya sudah bisa menebak endingnya, perjuangan, kesabaran, dan daya juang pada akhirnya menemukan titik sukses, dan sayangnya film ini mengikuti alur nasihat motivator tersebut.

Di pesta kebun dengan Gink sedang menyanyi di panggung, Palm bercerita kepada ketiga orang yang sama-sama menjalani masa friend zone. Dengan dua gelas penuh berisi minuman penuh di kedua tangan masing-masing kita lalu diajak menelusur masa. Satu tahun, tiga tahun, lima tahun, dan kisah Palm yang sepuluh tahunlah yang kita nikmati. Kisah kilas balik gini sejatinya bagus, asyik sekali menjadi pendengar dalam tutur kata sebuah perkara yang sudah terjadi. Sekalipun kita tak memperhatikan jari manis sang protagonis, kita sudah bisa tahu apa akhirnya.

Bagaimana kekasih Gink, Ted (Jason Young) seorang jetset, memproduksi lagu cinta berjudul Kid Mak dari berbagai bahasa menjadi dekat dengan banyak penyanyi cantik berbagai negara. Total sepuluh penyanyi, dari Indonesia diwakilkan Audrey Tapiheru dan Cantika Abigail. Kisah ini lalu banyak berkutat di sana, sang pacar diduga selingkuh, sehingga Gink ditemani Palm yang seorang pramugara menyelidiki. Melalangbuana dari satu bandara ke bandara lain, menikmati pantai dan mandi air bir, sampai akhirnya pada suatu momen mereka menjadi satu bak dalam posisi menggairahkan. Ingat ini adalah zona teman, tak boleh lebih. Apakah ada kekhilafan? Apakah sang pacar benar selingkuh? Bagaimana masa mencipta mereka berikutnya, masihkah berteman atau melangkah ke jenjang yang lebih intens? Film dengan mencerita hubungan timbul tenggelam gini sejatinya sangat potensial, sayangnya ini untuk kalangan atas dan kalian akan menemukan banyak sekali kejanggalan.

Film terromantisku adalah A Lot Like Love, kisah cinta yang rumit terentang jarak dan hubungan yang menggantung antara Amanda Peet dan Ashton Kutcher itu seolah menyampaikan pesan, selalu ada saya ketika kamu terpuruk dan ke manapun kamu pergi akhirnya akan di pelukanku. Ada kemiripan, tapi jelas A Lot jauh lebih cadas, lebih hidup dengan emosi meletup. Friend Zone malah mengumbar kesabaran akut. Dengan beberapa adegan konyol.

Bngst moment itu memang berengsek sih. Ketika dua ‘teman dua bir’ itu memperlihatkan bahwa mereka menemui teman ceweknya dengan pacar sembari senyum kecut, lha orang ketiga itu menemui lelaki! Wkwkwk… afu tenan. Tampang bloon, nyengir kuda yang enggak banget. Malahan mereka bertiga di ujung kredit title diberi durasi bernyanyi akustik, seolah peran mereka bukan sekadar tempelan, ada penggerak yang bisa menghidupkan garis. Sukses. Justru saya turut mengapresisi adanya penggalan adegan mereka. Adegan favorit saya bahkan di bagian yang ‘hanya’ ngobrol di saat mereka di tepi jurang, setelah mendaki bukit. Gink meminta HP Palm untuk ‘diperiksa’, emang kamu siapa? Gadis yang berani membuka ponselku? Kita tetap teman, ada berapa gadis yang singgah di hatimu? Lalu Gink bercanda pura-pura akan melempar ponsel Palm, dan mereka saling senyum tawa dan kamera menjauh, sangat jauh… seolah bilang kisah cinta yang kita khawatirkan nantinya juga akan menjauh dari ingatan ditelan zaman.

Ada bagian yang mengingatku pada masa muda. Punya teman dekat pas kuliah, ke manapun berdua. Jadi tukang ojeknya, jadi teman makan, teman ngerjain tugas, sampai tempat curhat pacarnya. Ya, kita sama-sama punya pacar tapi tetap nonton bioskop dengan bergenggam tangan. Saya sih menikmati momen itu, dia juga.Sampai akhirnya lulus dan mencoba merangkai masa depan mau ngapain, di titik yang rumit akhirnya kita saling menjauh, saya ke timur ia ke barat dan waktu membunuh hubungan ini karena pertemuan terakhir sembilan tahun lalu berakhir ga bagus. Sedih? Ya, tapi memang ga ada kemungkinan baik untuk terus berjalan bersisian. Biarkan kenang itu digerus udara, menguap dan hilang di awang-awang.

Friend Zone jelas bukan kisahku. Paragraf di atas jauh dari film ini, kita kesulitan bayar kos, makan mie instan jadi rutinitas, sampai cari pinjaman guna bertahan untuk berganti bulan. Jangankan terbang ke sana ke mari, untuk bayar servis Kharisma rutin saja saya pernah mengalami. Film ini terlampau tinggi, ga mungkin rasanya saya lempar jam tangan mahal ke pantai berbuih. Ga mungkin pula saya bergelantung di tiang rambu sekalipun sedang tinggi. Sekilas dan sepantas, Zona Teman menjadikan film Thailand yang biasa saja bagiku.

Friend Zone | Year 2019 | Country Thailand | Directed by Chayanop Boonprakob | Screenplay Pattaranad Bhiboonsawade, Chayanop Boonprakob | Cast Pimchanok Leuwisetpaiboon, Naphat Siangsomboon, Jason Young | Skor: 2.5/5

Karawang, 140919 – Fergie – Big Girl Don’t Cry