Hobbs And Shawzzz: Tak Ada Logika

Brixton: “Look at me. I’m Black Superman.”

Ini adalah film jenis ‘Tahan Kantuk Challenge.’ Kalian tahu kenapa Transformer begitu menjemukan? Suara bass berlebih, ledakan tanpa arti, kaleng-kalengan tanpa jiwa. Film dengan daya ledak membahana gini hanya cocok untuk tes volume tape dek baru, menggelegar riuh tanpa koma yang kosong. Bass masih Ok? Masih… Treble masih sip? Masih… Balance juga pas? Ok sip. Hancurkan! Bahkan ada satu adegan saat motor si musuh bisa berubah wujud guna hindari tabrak tronton, iringan musiknya dinukil dari Film robot ini. Hip hip hura-hura, lupakan logika.
Saya sudah berkali-kali bilang, akan skip ini film. Apes, saat ada pelatihan tugas luar di Hotel Horison Bekasi, bioskop terdekat menyajikan dua opsi simalakama: Asterix: The Secret of the Majic Potion dan ini. Karena ini momen nonton bareng sama teman-teman baru, ngikut saja. Saya hanya menyaksikan serial Fast dua: seri pertama saat masih remaja dan seri keempat di Cikarang dengan ending yang mengejutkan itu. Lainnya lihat di tv, itupun sambil lalu karena nyaris semua cuma pengulangan, balap mobil keren (mobil mewah buat rampok, menyelip di sela tronton, wuzzzz), rampok sana-sini (paling diingat adegan brangkas yang ditarik), nambah karakter ini-itu (banyak karakter baru, banyak duit masuk kantong), dst. Francis ini identik ‘kan dengan balapan, Paul Walker (alm.) dan Van Diesel, maka saat spin-off muncul tanpa ketiganya, apa menariknya? Kekhawatiran itu terwujud, saya serasa disiksa menit-demi-menit.

Kamu ga otomatis keren ketika pamer baca Friedrich Nietzsche, mengutipnya, memamerkannya. Kamu ga otomatis keren bisa menghajar puluhan orang dan tak lecet sedikit pun, Apa menariknya jagoan ga terjatuh sedikitpun? Kamu ga otomatis terlihat keren bisa loncat dari gedung tinggi tanpa safety belt dan mendarat selamat, padahal manjat pohon maling buah manga tetangga saja, gemetarnya ga ketulungan. Kamu juga ga otomatis keren bisa kebut di jalanan ramai tanpa khawatir pintunya kegores spion kendaraan lain. Padahal, mobil di rumah kena ranting gores dikit saja kepikiran tujuh hari tujuh malam. Kamu jelas ga otomatis keren sekalipun sebut Game Of Thrones, kasih tahu endingnya bagaimana dan senyam-senyum seolah paling tahu. Fan Lanniter boleh marah. Sejujurnya, ekspektasiku sudah sangat rendah, apa yang bisa diharapkan dari sempalan film yang sudah tak tertarik? Bah, bahkan rekaman video yang dikirim WA di acara balap karung tujuh belasan masih lebih tampak menarik dan benar-benar lucu ketimbang, hhhmmm… hura-hura di Hobbs and Shawzzzz. Wait ‘z’ nya kurang panjang. Z z z z z z z z z z z z z z z z . . .

Kisahnya tentang misi menyelamatkan dunia. Wuih tampak keren. Ini serial kan para penjahat curi mobil dengan gaya balap liar, kenapa jadi misi menyelamatkan dunia. Super Hero lagi pada cuti ya? Sebuah virus dicipta sang Profesor Andreiko (Eddie Marsan), pasukan yang dipimpin Hattie (Vanessa Kirby) mencurinya, saat terdesak virus itu justru disuntikkan ke tubuh. Sang main villain, Brixton (Idris Elba) yang menyebut diri sendiri Black Superman lalu mencoba menculiknya. Karena ini misi besar maka orang-orang yang sebelumnya selalu cekcok/melengkapi, si Hobbs (Dwayne Johnson) dan Shaw (Jason Stantham) terpaksa bersatu. Atas desakan Tuan Locke (Ryan Reynolds) mereka lalu mencoba melindungi Hattie yang ternyata adalah adik Shaw.

Lalu segalanya tak ada logika. Hattie diculik, dari atas gedung melompat bersamaan julur pengait sehingga lari-lari di dinding itu seolah main ayunan, Spider-Man geram pastinya. Bikin passport palsu dengan ironi bantu-tangkap dalam pesawat disaji, niatnya jelas ini melucu, tapi hambar. Sang profesor yang nyentrik itu juga tampil weleh-weleh, ikut menenteng senjata flamethrower, menembak api kayak main selang air. Sampai di Samoa, adegan buruk terus diperlihatakan, dan jelas ini bukan film yang perlu mikir. Penasaran, komen David Lynch kalau turut nonton. Skornya bisa jadi minus. Kenapa saya ambil sample sutradara Mulholland Drive? Kebetulan aja sih namanya sama-sama David. Massa saling gebuki, loncat dari kendaraan sana-sini, senjata tradisional menang lawan brem? Serah deh, logika sudah diredam dalam-dalam ke dalam lumpur hitam pekat senyap, dan seterusnya dan seterusnya. Benar-benar buruk, sangat buruk, amat buruk, terlalu buruk, apalagi ya. Kalian bisa saja punya duit banyak, bikin film ala kadar asal baku hantam, kualitas juga perlu woy. Film sebenarnya bisa cepat selesai saat sang professor kasih dua opsi guna mengagagalkan penyebaran virus: transfer pakai alat canggih yang butuh perjuangan untuk mengambilnya atau bunuh Hattie. Kecewa saya, pilihan pertama diperjuangkan, dan menit-menit menyiksa itu disajikan. Coba langsung ke opsi singkat, mungkin filmnya juga bisa lebih singkat.

Sayang sekali bintang secantik Vanessa Kirby terlibat film ga jelas gini. Bintang Mission Imposible yang salah arah. Udah cocok sama Tom Cruise kenapa selingkuh sama si gundul bermodal otot doang sih? Pesonanya luntur seketika. Ryan Reynolds yang cuma tampil bentar juga ga ngaruh, mau diperankan Ryan Giggs atau Ryan Jombang, ga ada bedanya. Hambar kayak, minum cuka diaduk rata dengan asam dengan segenggam garam yang murni. Rasanya ga jelas. Lagian zaman sekarang siapa yang masih minum Oralit?

Kalian pernah lihat cerita film dengan segala kekacauan logika cerita yang pernah ada? Kalau belum, maka kalian bisa coba film ini. Durasi yang dua jaman, mencipta kebosanan serasa dua zaman. Belasan kali kulihat jam saking boring-nya. Bertubi kumenguap menahan kantuk, suara gelegar itu laksana lullaby merdu pemberat kantung mata. Ini adalah film jenis action buruk yang cuma menyenangkan kaum hippie. Sebutkan hal-hal irasional yang pernah dicipta dalam dunia film aksi, nyaris semua ada di sini. Helikopter dirantai mobil berderet seolah lego yang bisa pasang-ambyar sekejap. Di tengah deru laju balap seorang jagoan bisa dengan mudahnya melempar pengait ke kendaraan lain, dan pas, ceklik tanpa meleset lho, sementara kita kancingin baju saja masih kadang miring tinggi sebelah berkat salah lubang. Ini orang seharusnya suruh ikut ‘tutup botol challenge’, mungkin ga perlu disepak, dikedipin juga tutupnya lepas sendiri saking tutupnya takut. Dalam misi penyelamatan, mereka main hantam saja tanpa ada rasa sedih. Ampun deh! Ampuh deh! Ampun deh! Ampun deh Bambang.

Saya sudah banyak nonton film aksi, banyak juga kok yang sangat bagus. Mad Max, Kingman, Terminator, The Matrix, The Raid, Casino Royale, Mission Impossible, Bourne Series, Die Hard, Iron Man, dan seterusnya. Seri Fast and Furious jelas ga masuk jajaran itu, mungkin seri ke 21 nanti baru deh mereka mementingkan cerita, Taruhlah Saoirse Ronan dalam kebisingan deru knalpot, pasti juri Oscar sepakat berujar: “Ini dia film action berkelas yang sudah lama kutungu-tunggu.”

Cukup Bud cukup. Baiqlah

Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw | Year 2019 | Directed by David Leitch | Screenplay Chris Morgan, Drew Pearce | Cast Dwayne Johnson, Jason Stantham, Idris Elba, Vanessa Kirby, Helen Mirren, Eiza Gonzalez, Eddie Marsan, Eliana Sua, Ryan Reynold | Skor: 2/5

Karawang, 210819 – Sheila On 7 – Sephia