Maut Di Venesia – Thomas Mann

Untuk Tuhan kami yang asing.

Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, sampai cuaca yang tak ramah. Sempat boring di tengah setelah perjalanan panjang di Jerman menuju Italia, lalu membelok lagi dalam gondola yang beriak, barulah saat sampai di hotel apa makna maut yang dimaksud muncul, cerita mulai menemu titik temu. Tipis, berhasil dibaca kilat di Hotel Horison Bekasi di pagi hari dan sore di sela Pelatihan Koordinator Pemagangan yang diselenggarakan oleh Disnakertrans 2-8 Agustus 2019. Tuhan sendiri yang membuat kepala kita tertunduk di hadapan keindahan dan merundukkan jiwa kita yang angkuh dekat dengan tanah. Aschenbach bermain-main dengan pikirannya sendiri – ia menyulamnya sedemikian rupa dan terlalu arogan untuk mengakui ketakutannya akan suatu perasaan.

Kisahnya tentang seorang sastrawan Jerman, Gustave Aschenbach, yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan kesempurnaan telah lama berhasrat untuk dapat beristirahat dalam kesempurnaan pula, dan bukankah ketiadaan juga bentuk kesempurnaan? Maka ia memilih santai di luar negeri. Sebenarnya tanpa tujuan, ia klontang-klantung dengan koper dari satu hotel ke hotel lain, menikmati waktu luang yang berharga. Musim semi tahun 19– ia memutuskan melepas penat. Seni memperkaya hidup, seni memberikan pengalaman lebih dalam akan kebahagiaan, seni melahap segalanya lebih cepat dari apapun di dunia. Seni mengukir petualangan jiwa dan akal pada wajah-wajah pencintanya. Memberikan mereka pilihan hidup untuk hidup bebas setenang mungkin, mendorong mereka menuntut kesempurnaan, merasakan kegugupan dan kelelahan sebagaimana pekerjaan melibatkan hasrat menggebu dan kenikmatan tak kasat mata.

Ada dua manusia aneh yang bisa jadi dijabarkan sebagai malaikat maut menintai, kala di komplek kuburan Nordfriedhof di Munchen ada manusia memperhatikannya dengan intens dan misterius, dan saat naik gondola (perahu dayung), seorang gondoliere (pendayung gondola) illegal mengantarnya. Dua orang asing yang mencurigakan itu tak banyak interaksi tapi hanya ‘mengantar’ yang bisa jadi asisten Izrail. Kemalangan takdir sepertinya gemar melayang-layang di sekitar kepalanya, kemalangan tampak bergelantung dengan murung pada salah satu sisi kepalanya.

Sejatinya Gustave sudah curiga ada yang tak beres di liburannya ini. Hasrat manusia tak ubahnya kejahatan, hasrat tak akan muncul selama ada keteraturan, selama tak ada perubahan. Hasrat datang bersama tiap deru angin yang merubuhkan suatu struktur, setiap celah robekan pada kain kehidupan sosial, karena di sana pulalah harapan dapat muncul. Nah, ia terjebak dalam hubungan aneh dengan tamu lain di hotel itu. Seorang pemuda tamvan bernama Tadzio, mabuk cinta mengikutinya ke manapun pergi. Eros, sebagaimana kita tahu mencintai kelengahan, sebab kelengahanlah yang ia ciptakan. Maut mengintai, sang jagoan kita tetap tenang. Tak ada yang lebih jelita di dunia ini ketimbang senyuman dan tatapan yang diberikan Tadzio pada teman bermain dan pengikut setianya. Bah! Aschenbach mengenalinya dan menyambutnya dengan senyum heran serta kebingungan. Ia merenung, ia bermimpi, mulutnya perlahan, mengeja sebuah nama.

Tadzio sendiri tak berkontak langsung dalam cuap hingga kalimat akhir. Sungguh janggal bukan? Tak ada hubungan lebih aneh, lebih teliti, dibandingkan, dua makhluk yang hanya mengenal satu sama lain lewat tatapan dalam pertemuan sehari-hari, yang berlangsung bahkan berjam-jam lamanya, mengamati satu sama lain lekat-lekat, namun karena suatu tingkah atau adat tertentu mereka berakhir menahan diri dan berlagak seperti orang asing. Mereka hanya saling senyum, saling lirik dan berpapas sepintas lalu seolah pertemuan mereka tak sengaja. Mungkin ini yang disebut jauh di hati, dekat di mata. Hampir semua hal yang besar menjadi besar karena unsur berikut: keberhasilan menentang penderitaan dan kesengsaraan, kemiskinan, kepapaan, kelemahan, kebajikan, gairah, dan ribuan rintangannya.

Bayangkan seorang pria matang usia 50an masih malu-malu mau, ehem pada remaja laki pula. Sepuh, seorang seniman berpengaruh yang menghasilkan banyak karya itu puber lagi. Hanya seniman yang berhasil membuahkan karya bermakna dalam berbagai tahap kehidupan manusia sajalah yang dapat dianggap agung, disanjung dunia, atau layak diberi kehormatan. Menjelaskan perasaan itupun tak sepenuhnya langsung ke poin. Kita terus diajak berputar, diajak jalan-jalan ke dalam kerumitan kota Venesia. Inilah Venesia, dan inilah kekumuhan yang melecehkan dan menghianati keindahannya, kota separuh dongeng, separuh jebakan, kota di mana dulu udaranya mampu melukis keindahan, di mana para musisi menyanyikan nada-nada buaian yang menggairahkan.

Mann menyebut karakter utama kita dengan sudut orang ketiga, pelancong kita. Padahal ini sejatinya semi-otobiografi pengalamannya dalam berlibur. Sebenarnya tengah mencekik leher pembaca mudanya yang berusia dua puluh tahunan dengan pernyataan sinis terkait kebenaran karya seni dan kehidupan seni serta sastrawan. Agar suatu karya intelektual dapat secara langsung berpengaruh di masyarakat, dan menciptakan pengaruh yang dalam mengakar dan berkepanjangan, maka karya tersebut harus bergantung pada suatu keselarasan, yakni bergabung antara takdir sang penulis dan apa yang terjadi di sekitarnya. Nah, pengalaman itu diolah dengan desus dan bumbu fantasi. Entah kebenaran sang Penulis yang menyukai sesama itu nyata ataukah sekadar candaan yang terselubung. Seni jadi tanya tak berkesudahan saat disanding dengan pilihan hati. Dunia intelektual menantang pendapatnya akan pertanyaan tak berkesudahan terkait seni dan selera.

Saya sih suka bagian-bagian yang menjelaskan kesenyapan, kesendirian dalam runung. Bersimpati pada kegelapan dan kekacauan dalam jurang di hati tiap manusia, bersimpati pada jiwa manusia yang terasing. Jiwa yang terasing di usia senja, seolah menampar kehidupan ini makna sukses itu apa? Semua akan dilibas zaman. Dihiasi pemandangan duniawi masyarakat yang menyerahkan hidup mereka pada kesederhanaan dunia.

Aschenbach tak perlu lagi menganalisa dirinya. Ia tak dapat merasakan apapun baik percaya diri, kepantasan usia, kematangan dan kemandiriannya, semua mencegahnya untuk berpikir jernih, dan kesulitan memutuskan apakah yang dirasakan itu merupakan bentuk pembatasan diri, ataukah kelengahan sensualitas yang mencegahnya melanjutkan perbuatan yang tadinya ingin ia lakukan. Ia selalu saja menjaga jarak, selalu saja mengamati sekeliling. Nyalinya seolah ciut tapi jiwa dan hatinya bergemuruh. Ada debar, ada rasa was-was kenikmatan menyaksikan apa yang dipuja itu akan lenyap bila melakukan tindakan keluar batas. “Demi keindahan Phaedrus-ku, demi keindahan semata, hanya keindahanlah yang dapat menenangkan jiwa kita. Sebab hanya itulah satu-satunya aspek spiritualitas yang dapat kita rasakan melalui indra masing-masing, karena keindahan dapat kita rasakan langsung.”

Sejatinya ia sempat keluar dari hotel, lalu mencoba keluar Venesia, tapi ada ‘arahan’ yang membuatnya kembali. Saya beri tahu, bahwa ada wabah sampar mengintai. Pemerintah Itali coba meredam isu itu, warga coba tak sepenuhnya sadar dan mengharap itu hanya sekelebat lewat, tapi ternyata wabah itu lebih ganas dari fiksi khayal. Lebih parah lagi, sebab penyakit itu menyerang pencernakan dengan ganas, tak jarang penyakit itu membuat ‘kering’ tubuh penderitanya. Bisa ditebak akhirnya karena judulnya memang spoiler. Ia bersandar dengan lengan bergantung lemas, bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki dan ia membisikkan frasa-frasa basi tentang mabuk cinta dan dambaan yang mustahil, tak masuk akal, konyol, hina, namun juga tak bercelah dan tak pantas dihormati, “Aku mengasihimu.”

Cinta memang buta. Dan kebutaan itu tak dipungkiri membawa konsekensi buruk.

Hidupnya tak ubahnya sebuah bakti, dan ia tentara, begitu pun tercebur dalam dunia seni, dan seni adalah medan peperangan, perjuangan melelahkan yang kini membunuh seseorang yang bahkan sebelum ia sempat mencicipi hari tua. Betapa anehnya petualangan itu, putaran takdir itu, menakjubkan, memalukan, seganjil mimpi-mimpi terliar!

Maut Di Venesia | By Thomas Mann | Diterjemahkan dari Death in Venesia dalam Stories of Three Decades | Alfred A. Knopf: New York, 1936 | Terjemahan bahasa Jerman oleh H. T. Lowe-Porter | Penerjemah Noa Dhegaska | Penyunting Olive Hateem | Penata letak isi Alra Ramadhan | Penata sampul Enggar Rhomadioni | Perancang sampul Agus Teriyana | vii + 130 hlm’ 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-90721-48 | Skor 4/5

Karawang, 110819 – George Benson – Body Talk (Alternative Take)

Eid Al-Hajj 2019. HBD Hermione Budiyanto 5 tahun aka #Ciprut, diketik santai pasca Sholat Ied dengan iringan Legacy of Jazz. Buku kelima terbitan Circa yang kubaca setelah: Memoar Pablo Neruda, Masa Depan Adalah Ilusi, Yang Telah Tiada dan Matahari dan Baja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s