Scary Stories to Tell in the Dark: Makhluk Menyeramkan, Tidak Cocok Untuk Penonton Berhati Lemah

Stella: You don’t read the book. It reads you.

Ini adalah jenis film yang lebih hebat monsternya ketimbang cerita. Kisah pada suatu masa di kota kecil fiksi bernama Mill Valley, Amerika Serikat. Monster yang dicipta luar biasa seram, khas Guilermo Del Toro yang ternyata juga terlibat dalam penulisan naskah. Yang paling menyeramkan ada di rumah sakit, bagaimana makhluk dengan tampang polos, maju perlahan, menautkan di tengah persimpangan koridor rumah sakit dan mengintimidasi, dari berbagai sudut lalu dengan muka ngeri, sang korban ditelan. Tanpa darah di manapun, tanpa adegan bacok-bacokan, hanya ditelan dalam tubuh, tapi efeknya memang bikin gigil. Luar biasa seram. Penonton diajak memasuki dunia mistik dengan penuh gaya.

Kisahnya tentang petualang remaja di malam halloween di tahun 1968. Tahun di mana Amerika sedang bergolak: Pembunuhan Martin Luther Jr, perang Vietnam sampai Pemilu yang dimenangi Presiden Nixon. “Today is election day, people. Vote against Vietnam, vote against destruction, vote against sending our children to die!” Tokoh utama kita adalah Stella Nicholls (Zoe Margaret Colletti) yang seorang kutu buku, bercita-cita menjadi Penulis. Bersama teman-temannya Auggie Hilderbrandt (Gabriel Rush) dan Chuck Steinberg (Austin Zajur) menjalani malam horror, mereka kabur dari genk remaja yang dipimpin Tommy (Austin Abrams) ke sebuah bioskop mobil. Saat mendesak, mereka masuk ke mobil remaja lain, adalah Ramon Morales (Michael Garza) yang tampak aneh menyelamatkan mereka. Saya mencurigainya ada sesuatu yang janggal. Setelah mereda, berempat memasuki rumah tua yang tak berpenghuni. Rumah angker yang menyimpan misteri kematian keluarga Bellows.

Ketika mereka di dalam, gerombolan remaja anarki yang jadi musuh dari kompleks sebelah hadir. Tommy merusak mobil Ramon dan mereka terkuncil di ruang bawah tanah. Tampak serem? Belum…, baru mulai. Di rumah tua itulah Chuck menyaksikan penampakan dunia lain, ruang tengah yang kumuh dan jorok dalam sekejap menjadi ruang keluarga jadul dengan perabot lengkap dan lilin menyala. Di sana tampaklah Sarah Bellows (Kathleen Pollard), arwah gentayangan? Dalam cekaman takut, Chuck kembali dari masa penampakannya dan semua kembali ke semula. Sementara Stella menemukan buku tua, diary Sarah yang terhenti di tengah halaman. Penasaran karena buku itu tampak menarik, ia bawa pulang. Sarah Bellows adalah urban legend kisah horror dari masa lampau, disebut sebagai gadis penyihir dan tewas dalam hukuman. Ada misteri dalam keluarga Bellows. Diary tersebut tampak tak lazim emang, ada aura mistis dan sungguh berani dia bawa pulang. Nantinya kita tahu, Sarah mencoba menuturkan fakta yang disembunyikan publik, dan kisah ini menuntut pembersiahan nama baik. Sarah dan Stella memang seakan dua sisi koin. “Kamu ga bisa jadi penulis di sini, kamu harus ke kota.” Lalu dengan sedih dijawab, “Aku ga bisa ninggalin ayah, sorry.” Hiks, sedih. Banyak impian kandas dengan berkorban mulia, sabar Nak.

Horror dimulai di sini. Buku itu bisa menuliskan sendiri kisahnya, korban pertama adalah Tommy. Diary dalam halaman kosong termaktub tinta bergerak bahwa ia akan diteror orang-orangan sawah bernama Harold ketika ia mengantar telur. Dalam keremangan kebun, Tomy ditikam dengan sisa wajah oenuh kengerian. Ini semacam kutukan, setiap saat Tomy suka menghujat, menghajar boneka sawah sampai menusuk rusak. Ketika malam horor, jelas seolah balas dendam. Satu korban.

Pencarian dilakukan, jelas Tommy tak nampak. Stella baru menyadarinya setelah menelaah buku Sarah. Korban berikutnya adalah Auggie yang sendirian di rumah. Dalam buku bertinta darah, ia akan memakan sesuatu yang menjijikan di kulkas, dan horror itu mencerabutnya dalam kolong tempat tidur. Saya gam mau mencerita detailnya, yang jelas iringan musik dan suasan cekam tampak bagus. Dua korban.

Setelah korban kedua, mereka mengadakan pertemuan. Stella, Ramon dan Chuck, turut pula Ruth (Natalie Ganzhorn) yang tampak manja, dan tetap mencoba positif thinking.Selanjutnya bagaimana? Siapa yang akan jadi korban berikutnya? Kita akan tahu ketika halaman kosong itu menuliskan sendiri ‘ramalan’nya. Korban berikutnya adalah Ruth yang hari itu harus tampil di sekolah, ia memiliki jerawat kecil di wajah. Saat akhirnya jerawat itu terasa gatal, ia ke toilet. Stella cs bergegas ke sana untuk menyelamatkannya. Makhluk yang menghantui sejenis serangga hitam yang mencuat sedikti demi sedikit dari lukanya, ‘untung’nya Ruth berhasil diselamatkan, makhluk itu nyaris menangkapnya, membawa ke dimensi antah tapi bisa dicegah. Ruth traumatis, hanya tampak gila, ambulan mengantarnya ke rumah sakit. Korban ketiga, gagal.

Bukti bahwa kutukan itu masih bisa dilawan. Korban berikutnya yang paling menyeramkan, makhluk ajaib faceless di rumah sakit yang menculik Chuck disajikan dengan detail keren. Sangat keren. Karena tinggal bertiga, mereka menelusuri riwayat medis Sarah ke rumah sakit, awalnya ditolak, tapi alibi buat penelitian, mereka diterima tapi ga bisa secepat yang harapkan, harus ikuti prosedur panjang, maka mereka masuk tanpa izin dengan menyusup. Ada Red Room yang bikin Chuck ketakutan karena traumatis, ia ditinggal sendiri sementara Stella dan Ramon beraksi. Chuck malah apes, karena buku itu menuliskan horor yang mengarah kepadanya. Makhluk mengerikan dengan latar merah menyala bak penuh darah tersaji, bagian ini sempat membuatku menutup mata dan meremas tangan untuk menghilangkan kegugupan. Chuck ditelan kehampaan. Korban keempat.

Berikutnya karena tinggal dua ya, saling menjaga. Karena protagonisnya Stella kita bisa dengan mudah menebak, pendulum itu mengarah ke Ramon. Kecurigaanku terhadapnya luntur, ia juga calon korban. Dia ditangkat, dijebloskan penjara, tampang-nya memang seorang imigran Meksiko sehingga polisi dengan gegabah mengurungnya. Buku itu menuliskan, di penjara itulah muncul makhluk yang bisa jadi paling absurd. Cara berjalannya ngangkang terbalik, yang jadi korban justru orang lain. Korban kelima, keenam ini memang dijadikan penutup, mereka bergegas ke rumah tua, mencoba menutup kutuk, mencoba melawan dengan sisa harapan yang ada. Sekalipun itu dengan darah. Berhasilkah?

Film ini diadaptasi dari judul buku yang sama karya Alvin Schwartz dengan illustrator Stephen Gammell. Novelnya berseri, tepatnya rilis tahun 1981 (Scary Stories to Tell in the Dark), 1984 (More Scary Stories to Tell in the Dark), dan 1991 (More Tales to Chill Your Bones), film ini menyatukan para makhluk itu. Hal ini jelas memicu sekuel, apalagi endingnya gantung. Yup, mereka sementara lolos dari maut, sehingga ada misi yang harus dituntaskan. Kota Mill Valley aslinya adalah Milltown (Downington) di Pennsylvania. Gambaran makhluk menyeramkan memang mengacu pada Guilermo Del Toro, The Blob mengingatkan pada kisah Pan’s Labyrinth. Wajah-wajah monster yang tak perlu membacok guna memancarkan darah banyak kayak dalam buku-buku Stephen King, tapi cukup menatap kosong, menikam lembut, mengguncang jiwa.

Kutonton ketika malam terakhir di Bekasi setelah seminggu pelatihan Koordinator Magang pada 7 September 2019 di XXI Giant Bekasi (gilax saya nonton di hari pertama tayang!). Sebelumnya membeli buku Pretty Girlnya Karin Slaughter. Makhluknya sukses bikin merinding, sayang sekali cerita agak lemah. Kalau biasanya kita membaca buku, maka Scary Stories malah buku membaca kita. Endingnya rada happy, sayang sekali setelah mencekam dalam badai, justru semilir angin yang ditampilkan. Film horor memang bukan genre-ku, tapi sesekali kutonton beberapa memuaskan, seperti Pet Sematary yang mengejutkan. Namun Pet punya keunggulan, ending lebih pas dan lebih scary ketimbang scary stories.

Ini jelas setingkat lebih tinggi dari Goosebumps tapi masih di bawah bayang It. Stories hurt, stories heal.

Scary Stories to Tell in the Dark | Year 2019 | Directed by Andre Øvredal | Screenplay Dan Hageman, Kevin Hageman, Guillermo Del Toro | Cast Zoe Margaret Colletti, Michael Garza, Gabriel Rush, Dean Morris, Gil Bellows, Kathleen Pollard, Will Carr | Skor: 3.5/5

Karawang, 280819 – Mike Perry – Runaway

The Cat’s Paw, The Attic, The Wendigo. Apakah sudah diterjemahkan bahasa Indonesia?

Thx to TMeliaF

Iklan

Dalam Kobaran Api – Tahar Ben Jelloun

Orang beriman ditakdirkan untuk menderita, Tuhan akan senantiasa mengujinya, bersabarlah.”

Wow, akhirnya. Setelah percobaan keenam ini, ada buku terbitan Circa yang kuberi skor sempurna. Novela tentang pematik Arab Spring ini ditampilkan dengan sangat apik. Padat, sederhana, langsung ke pokok masalah dan sungguh menggugah. Suka kisah yang ga bertele-tele gini, diniatkan jadi cerita pendek yang ga perlu meliuk-liuk sehingga nyaman diikuti. Ini cerita kepedihan, pemuda sulung yang frustasi menghadapi hari-hari yang mencemaskan tentang pasangan hidup, kebutuhan hidup dan tujuan hidup. Sungguh hebat, memainkan ironi dan nalar serta kehampaan. Kesenjangan sosial terjadi di banyak tempat, dan Dalam Kobaran Api disampaikan dengan berkelas. Begitulah takdir, kejam dan tak adil. Mengutip Spinoza, “Setiap makhluk hidup cenderung menetap dalam sifat aslinya.” Muram sekali.

Bercerita tentang sosok Mohamed, pemuda sederhana yang menjadi yatim setelah tak lama berulang tahun ketiga puluh. Menjadi tulang punggung keluarga karena ibunya yang sakit-sakitan, memiliki tiga adik laki-laki, dua perempuan. Lulusan Fakultas Sastra, melepas segalanya, sejatinya memiliki banyak potensi hebat. Kisah dibuka dengan api, semua surat pentingnya termasuk ijazah kelulusannya dibakar. “Apa gunanya bergantung pada sehelai kertas yang tak membawamu ke mana-mana.” Saking frustasinya, saking kecewanya terhadap persentase peluang kerja yang ada. Ia memilih dengan paksa menjadi penjual buah keliling, pekerjaan warisan ayah dengan gerobak reot dengan suplai buah dari penadah licik Bouchaib. Inilah pilihan hidup yang membuat banyak hal dalam hidupnya berubah. Demi adik-adiknya, demi ibunya, demi masa depan mereka yang tercinta. Seperti ayahnya, ia tak pernah mengeluh. Dia bukan pria fatalis, bukan pula seorang religius. Mohamed mencoba menyuntikkan harapan pada adiknya, tetapi memang sulit. Terlalu banyak ketidakadilan di negeri ini, kesenjangan terlalu besar.

Sebagai tukang buah keliling, ia selalu mendapat masalah dengan polisi yang seharusnya mengayomi rakyat. Ditanya surat izin, yang berarti kode minta jatah. Diinterogasi tentang Islam extrimis, karena masa lalunya sebagai mahasiswa aktif menentang rezim. Dibuat sulit dengan berbagai hal yang datang justru dari yang katanya penegak hukum. “Orang-orang ini dibayar untuk menciptakan masalah buat kita. Kemungkinan besar polisi itu juga berasal dari keluarga yang sama miskinnya dengan kita. Ibu tahu sendiri, sesama orang miskin tidak menyukai satu sama lain.”

Namun justru banyak hal sekeliling seolah membantunya. Berjualan di tempat-tempat seadanya malah membuat dagangnya laris, bahkan beberapa kali kehabisan. Rejeki dari arah tak terduga, diborong orang yang bersyukur karena anaknya lulus, contohnya itu memainkan takdir dengan gaya. “Kau orang baik, kau pantas mendapatkannya. Aku bisa melihatnya”. Sehingga ia bisa mengambil buah dari orang lain. Bisa buat modal bayar obat, mencoba menata hidup.

Mohamed memiliki kekasih bernama Zineb yang bekerja sebagai sekretaris dokter. Mereka merajut asa, saling cinta, saling menjaga. Zineb ingin segera menikah, tapi Mohamed menanti kemapanan yang entah datang kapan. “Suatu hari nanti, kita akan keluar dari lubang gelap ini. Aku janji padamu. Aku tahu itu. aku bisa merasakannya. Kau akan punya pekerjaan yang mapan, aku tidak akan lagi bekerja untuk dokter hina itu, dan kita bisa memulai kehidupan kita bersama. Lihat saja.” Mau sampai kapan? Sampai akhirnya saat muncul momen marah di bulan Desember 2010. Satu pagi ia mendapat fitasat buruk. “Kalau kau berbicara terus menentang pemerintah, kau akan mendapatkan masalah tentang kita.” Benar saja, hari itu segalanya berjalan menyesakkan. Gerobaknya disita polisi, lalu ia memutuskan menentang, melawan, menuntut ke balai kota. Kau akan menuntut polisi? Kau gila, kau pikir sedang di mana? Swedia? Segalanya lalu mencipta gelombang, dan seperti yang kita tahu. Negeri Timur Tengah bergolak, beberapa rezim yang sudah puluhan tahun berkuasa akhirnya tumbang, beberapa revolusi akhirnya terjadi. Sebagian itu bermula dari sini, dari tukang buah keliling lulusan Sastra yang melawan dengan api. Seperti pembukanya yang menyala, kisah ini ditutup dalam kobaran api.

Kesenjangan yang ditampilkan tampak nyata. Dengan setting Tunisia, negeri Arab yang tampak makmur itu sungguh nyata ditampilkan dengan berbedaan jauh kelas atas dan bawah. Yang kaya makin kaya, yang miskin sungguh menderita. Tuhan jelas tidak menyukai orang miskin, dan bumi ini luas hanya buat orang berpunya. “Di mana kau melihat keadilan di negeri ini?”

Setelah cerita ditutup, kita disuguhi dua wawancara Tahar atas keberhasilan Dalam Kobaran Api. Pertama dari Deborah Triesman dengan judul: ‘Fiksi Minggu Ini: Tahar Ben Jelloun’ berkutat tentang efek yang ditimbulkan, menulis kisah ini di rumah sakit pada Maret 2011, yang terpikir olehnya tentang film ‘The Bicycle Thief’ karya Vittorio De Sica. Memutarnya berulang-ulang di kepala dan keinginan menulis kekersangan yang sama, mengupas persoalan dengan cara yang sama, dan yang terpenting menulis dengan kejujuran yang sama, apa adanya. Ide memang bisa datang dari mana saja, inspirasi yang timbul dalam gejolak. Duka manusia adalah sumber inspirasi yang utama. Sastra tidak akan tertarik pada dunia yang semuanya berjalan baik-baik saja. “Kita bisa menulis segala hal, mengadu tentang apa saja, tetapi tidak mengubah apa-apa.”

Kedua dari wawancara dari Ruth Schneider dengan judul ‘Demokrasi Tidak Seperti Aspirin yang Bisa Kau Larutkan Dalam Air’ tentang proses dan kreativitas. Bagaimana bisa pemuda ini mencipta gelombang dan pandangan sang Penulis akan gayanya bertutur. Mengagumi kutipan dari Henri Bergson, “Kecerdasan ditandai oleh ketidakpahaman natural tentang kehidupan.” Proses mencipta karya yang indah. Novel yang berangkat dari keinginan untuk menjelaskan sesuatu akan berakhir seperti sebuah buku panduan untuk merakit perabot Ikea.

Demi rasa keadilan.” Tahar dengan cerdas memainkan ironi. Harapan dari kekasih yang membayang selalu, Zineb yang tersenyum, Zineb yang marah, Zineb yang memohonnya untuk tidak melakukan apapun. “Kau harus menunggu, aku baru saja mulai bekerja. Aku harus melakukan sesuatu yang besar terlebih dulu.” Impian ke Kanada, tanah yang dijanjikan. Mohamed bisa saja menjadi seperti orang kebanyakan, cuek dan melarikan diri dari fakta. Hidup dalam kemunafikan, seolah segalanya baik-baik saja. Membiarkan ketidakadilan merajalela dan negerinya berjalan seadanya. Tidak, ia mencipta tragedi demi masa depan saudara dan orang terkasih. “Bumi Tuhan sangat luas.”

Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.”

Tak ada orang yang bisa berubah, tapi setiap orang bisa mencoba untuk beradaptasi, sedikit berbohong meski jauh di dalam dirinya dia tahu persis bahwa ia adalah orang yang sama…

Dalam Kobaran Api | By Tahar Ben Jelloun | Diterjemahkan dari bahasa Prancis Par le feu, oleh Rita S. Nezami menjadi The Fire. The New Yorker. 6 September 2013 | Penerbit Circa | Penerjemah Nanda Akbar Ariefianto | Penyunting Anis Mashlihatin | Penata isi Shohifur Ridho’i | Penata sampul Alfin Rizal | Lukisan sampul Enggar Rhomadioni | 68 hlm.; 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Juni 2019 | ISBN 978- 623-90721-0-0 | Skor: 5/5

Karawang, 260819 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah

Max and The Cats – Moacyr Scliar

Aku? Takut? Macan tidak takut siapapun… macan tidak kasatmata. Jiwa.Fransisco Macias Ngueme, Diktator Terguling dari

Saya belum membaca Life Of Pi (a novel by Yann Martel), tapi sudah menonton adaptasinya (a film by Ang Lee). Terlalu banyak kemiripan dengannya, menempatkan seorang bocah bersama kucing besar dalam perahu darurat ketika kapal karam, halusinasi atau kenyataan? Dalam perjalanan laut menyeberangi samudra, melakukan apapun itu demi bertahan hidup. Kail, makanan kaleng, saling melengkapi dan kemudian terdampar selamat. Dasarnya sama, penerungannya jelas beda.

Max dan Kucing-Kucing terbagi dalam tiga babak. Jerman, Perairan, Brasilia. Penuh. Padat dan mempermainkan psikologis. Max adalah orang Jerman yang remaja era 1930an, masa ketika Nazi sedang menapaki kejayaan. Max seorang anak tunggal dari pasangan Erna Schmidt dan Hans Schmidt. Ayahnya yang kolot, seorang saudagar karpet, penjual aksesoris yang menilai uang begitu tinggi. Pengusaha yang terlihat bersahaja, tapi kalau kita lihat dari dalam, dari sudut keluarga, jelas bermasalah. Max melepas perjakanya di gudang toko dengan wanita tetangganya Frida yang bekerja paruh waktu, dengan kepala hias Harimau Benggala. Max yang remaja mendapat sensasi bercinta yang menjadikannya dewasa lebih cepat. Frida adalah anak petani dari selatan, pendek, montok, cerewet. Di gudang itulah, kita tahu ada kepala macan yang dijadikan pajangan, tatapan hampanya menghantui, memberi efek takut kepada Max kita sampai dewasa nantinya. Ada bagian yang membuat kita turut kesal sama Frida terkait mantel bulu yang disyaratkannya guna mengulang perbuatan dosa. Max yang remaja tak kuasa memenuhi harap, dan mantel itu menjadi polemik parah saat suatu ketika ia kenakan dan tak sengaja berpapasan dengan Hans. Dituduh maling, tapi ia ga maling. Max dalam masalah besar bung.

Ketika Nazi benar-benar berkuasa dan mencoba membumihanguskan kaum Yahudi, semua yang menentang arus berakhir mati. Max yang kini sedang mekar dalam bangku kuliah, sejatinya ga terlibat aktivitas politik, tapi karena hubungannya dengan Frida dan Harald sahabatnya, memicu hal buruk berikutnya, ia dalam ketergesaan menyelamatkan hidup bergegas kabur. Dengan bekal seadanya, menumpang kapal Schiller menuju Brasilia. Kapal dari Hamburg itu gagal diraih, maka ia menumpang kapal barang yang juga mengarah ke Brasilia. Kapal yang sedari mula memang mencurigakan, ada banyak binatang di angkut, ada tempat bernaung tapi memprihatinkan dalam kamar sempit, dan karena ini buku tragedi, maka kapal ini karam.

Max terapung dalam ketidakpastian.
Ia berhasil bertahan di perahu darurat, perahu yang sudah disiapkan ketika keadaan genting berisi makanan kaleng, peralatan mancing, pelampung dan sebagainya. Namun ia tak sendirian, ketika sudut perahu itu disingkap, ia terperangah, ada macan melonjak keluar. Macan besar jenis jaguar itu kini ada di sudut lain Max, memperhatikannya, memandangnya penuh nafsu lapar. Max, tak diterkam berkat konsistensi memberi si buas dengan ikan yang dikail, Max makan makanan kaleng, jaguar melahap ikan. Dan perenungan melihat bintang, menatap langit, efek panas terik di siang hari mencipta banyak fatamorgana, harapan bertahan hidup kecil, tapi ada.

Max selamat sampai di Brasilia berkat pertolongan kapal nelayan yang lewat, setelah ia beradu marah dengan jaguar dan juga akhirnya beradu emosi perahu terguling. Cerita Max seperahu dengan macan menjadi pergunjingan, seolah khayal seolah hasil imaji, tapi Max lah yang mengalami dan desas desus apapun itu tak terpengaruh. Max kembali menata hidup di negeri seberang.

Kalau kalian tahu jargon, para perantau adalah pekerja ulet dan pejuang keras di sini jelas ada benarnya. Tak punya siapa-siapa, tak punya banyak hal, hanya permata pemberian ibunya yang disimpan rapi lalu dijual dengan harga layak. Max mencari penghidupan di negeri Samba. “Di Brasilia, orang bisa kaya mendadak dalam semalam.”

Max tak bisa lepas bayang-bayang ketakutan Nazi, setiap lihat lambang Swastika atau lambang yang mirip dengannya ia mengalami traumatis. Namun waktu juga yang menyembuhkan. Kita tahu, sejarah mencatat tahun 1945 era Hitler runtuh, dan dunia berbenah. Max yang merdeka bisa mudik, menyelami masa lalu dan mempunyai opsi lebih banyak. Setelah kepulangannya yang pilu, ibunya meninggal, ayahnya gila, dan serentet fakta pahit ia kembali ke Brasilia. Menikah dengan penduduk lokal, memiliki keluarga. Akankah ia membawa pulang seluruh keluarganya ke Jerman, karena sejauh manapun kau pergi, rumah adalah tanah tempat kamu dilahirkan. Atau menjadi warga Brasilia, tanah seberang yang dijanjikan? Max dan Kucing-kucing jelas, adalah sebuah frame kehidupan yang mengajak kita menyelami pahit manis segala detak waktu yang kita jalani. Akan lebih indah dengan bonus syukur padaNya. Manusia, makhluk fana ini berjuang hidup dengan melakukan apapun, tapi maut selalu hadir di manapun, kapanpun. Max dan segala perenungannya.

Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM Bekasi dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore saat waktu istirahat. Di pinggir kolam renang hotel, berderet kepul asap rokok pemuda lain di kiri kanan. Buku pertama Scliar yang kubaca. Seorang dokter kelahiran 1937 di Porto Alegre, Brasilia. Sudah menghasilkan 62 buku cerita, rasanya Max ini hanya permulaan, karya berikutnya masuk daftar tunggu.

Ada satu adegan yang menurutku sangat bagus. Adegan yang tak tersangkut paut langsung dengan para kucing. Bahwa kala Max kuliah, seorang profesornya eksentrik melakukan eksperimen. Profesor Kuntz melakukan riset gila dengan menggunakan pemuda Gipsi, dipasangi mikrofon yang digantung di leher, dilemparkan ke luar dari pesawat terbang. Sang profesor berharap dalam perjalanan terjun menuju kematian, orang-orang tadi akan memberi pernyataan atau paling tidak jeritan, baik jeritan manusia purba atau tidak, memberi ketegasan tentang arti kehidupan. Ngeri ya. Uji coba kaum gila, memainkan nyawa demi sebuah laporan penelitian.

Jaguar dan kapal karam? Jaguar, kapal karam, dan lari dari Jerman? Apakah itu semua hanyalah impian orang muda bernama Max? Atau mungkin hanya impian buruk luar biasa panjang anak bernama Max, yang akhirnya tertidur setelah suatu hari yang penuh luapan perasaan berat. Ada satu nama Penulis yang direkomendasikan di buku ini, Jose de Alencar, penulis abad sembilan belas yang banyak bercerita tentang Indian. Lalu kegemaran mendengarkan lagu-lagu Beethoven berjudul Ninth Symphony laik lebih sering dikumandangkan suatu saat. Karena agak sulit tentunya mencari lagu Jerman pengantar tidur: Guten abend, Gute natch, Mit rosen bedacht…

Aku berdamai dengan kucing-kucingku.”

Max dan Kucing-Kucing | By Moacyr Scliar | Diterjemahkan dari Max E Os Felinos | Copyright 1981 | 618186019 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Djokolelono | Editor Rini Nurul Badariah | Ilustrasi dan desain sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2018 | 100 hlm.; 20 cm | ISBN 978-602-06-2044-2 | ISBN 978-602-02045-9 (digital) | Skor: 4/5

Karawang, 220819 – Anggun – Bayang-Bayang Ilusi

Hobbs And Shawzzz: Tak Ada Logika

Brixton: “Look at me. I’m Black Superman.”

Ini adalah film jenis ‘Tahan Kantuk Challenge.’ Kalian tahu kenapa Transformer begitu menjemukan? Suara bass berlebih, ledakan tanpa arti, kaleng-kalengan tanpa jiwa. Film dengan daya ledak membahana gini hanya cocok untuk tes volume tape dek baru, menggelegar riuh tanpa koma yang kosong. Bass masih Ok? Masih… Treble masih sip? Masih… Balance juga pas? Ok sip. Hancurkan! Bahkan ada satu adegan saat motor si musuh bisa berubah wujud guna hindari tabrak tronton, iringan musiknya dinukil dari Film robot ini. Hip hip hura-hura, lupakan logika.
Saya sudah berkali-kali bilang, akan skip ini film. Apes, saat ada pelatihan tugas luar di Hotel Horison Bekasi, bioskop terdekat menyajikan dua opsi simalakama: Asterix: The Secret of the Majic Potion dan ini. Karena ini momen nonton bareng sama teman-teman baru, ngikut saja. Saya hanya menyaksikan serial Fast dua: seri pertama saat masih remaja dan seri keempat di Cikarang dengan ending yang mengejutkan itu. Lainnya lihat di tv, itupun sambil lalu karena nyaris semua cuma pengulangan, balap mobil keren (mobil mewah buat rampok, menyelip di sela tronton, wuzzzz), rampok sana-sini (paling diingat adegan brangkas yang ditarik), nambah karakter ini-itu (banyak karakter baru, banyak duit masuk kantong), dst. Francis ini identik ‘kan dengan balapan, Paul Walker (alm.) dan Van Diesel, maka saat spin-off muncul tanpa ketiganya, apa menariknya? Kekhawatiran itu terwujud, saya serasa disiksa menit-demi-menit.

Kamu ga otomatis keren ketika pamer baca Friedrich Nietzsche, mengutipnya, memamerkannya. Kamu ga otomatis keren bisa menghajar puluhan orang dan tak lecet sedikit pun, Apa menariknya jagoan ga terjatuh sedikitpun? Kamu ga otomatis terlihat keren bisa loncat dari gedung tinggi tanpa safety belt dan mendarat selamat, padahal manjat pohon maling buah manga tetangga saja, gemetarnya ga ketulungan. Kamu juga ga otomatis keren bisa kebut di jalanan ramai tanpa khawatir pintunya kegores spion kendaraan lain. Padahal, mobil di rumah kena ranting gores dikit saja kepikiran tujuh hari tujuh malam. Kamu jelas ga otomatis keren sekalipun sebut Game Of Thrones, kasih tahu endingnya bagaimana dan senyam-senyum seolah paling tahu. Fan Lanniter boleh marah. Sejujurnya, ekspektasiku sudah sangat rendah, apa yang bisa diharapkan dari sempalan film yang sudah tak tertarik? Bah, bahkan rekaman video yang dikirim WA di acara balap karung tujuh belasan masih lebih tampak menarik dan benar-benar lucu ketimbang, hhhmmm… hura-hura di Hobbs and Shawzzzz. Wait ‘z’ nya kurang panjang. Z z z z z z z z z z z z z z z z . . .

Kisahnya tentang misi menyelamatkan dunia. Wuih tampak keren. Ini serial kan para penjahat curi mobil dengan gaya balap liar, kenapa jadi misi menyelamatkan dunia. Super Hero lagi pada cuti ya? Sebuah virus dicipta sang Profesor Andreiko (Eddie Marsan), pasukan yang dipimpin Hattie (Vanessa Kirby) mencurinya, saat terdesak virus itu justru disuntikkan ke tubuh. Sang main villain, Brixton (Idris Elba) yang menyebut diri sendiri Black Superman lalu mencoba menculiknya. Karena ini misi besar maka orang-orang yang sebelumnya selalu cekcok/melengkapi, si Hobbs (Dwayne Johnson) dan Shaw (Jason Stantham) terpaksa bersatu. Atas desakan Tuan Locke (Ryan Reynolds) mereka lalu mencoba melindungi Hattie yang ternyata adalah adik Shaw.

Lalu segalanya tak ada logika. Hattie diculik, dari atas gedung melompat bersamaan julur pengait sehingga lari-lari di dinding itu seolah main ayunan, Spider-Man geram pastinya. Bikin passport palsu dengan ironi bantu-tangkap dalam pesawat disaji, niatnya jelas ini melucu, tapi hambar. Sang profesor yang nyentrik itu juga tampil weleh-weleh, ikut menenteng senjata flamethrower, menembak api kayak main selang air. Sampai di Samoa, adegan buruk terus diperlihatakan, dan jelas ini bukan film yang perlu mikir. Penasaran, komen David Lynch kalau turut nonton. Skornya bisa jadi minus. Kenapa saya ambil sample sutradara Mulholland Drive? Kebetulan aja sih namanya sama-sama David. Massa saling gebuki, loncat dari kendaraan sana-sini, senjata tradisional menang lawan brem? Serah deh, logika sudah diredam dalam-dalam ke dalam lumpur hitam pekat senyap, dan seterusnya dan seterusnya. Benar-benar buruk, sangat buruk, amat buruk, terlalu buruk, apalagi ya. Kalian bisa saja punya duit banyak, bikin film ala kadar asal baku hantam, kualitas juga perlu woy. Film sebenarnya bisa cepat selesai saat sang professor kasih dua opsi guna mengagagalkan penyebaran virus: transfer pakai alat canggih yang butuh perjuangan untuk mengambilnya atau bunuh Hattie. Kecewa saya, pilihan pertama diperjuangkan, dan menit-menit menyiksa itu disajikan. Coba langsung ke opsi singkat, mungkin filmnya juga bisa lebih singkat.

Sayang sekali bintang secantik Vanessa Kirby terlibat film ga jelas gini. Bintang Mission Imposible yang salah arah. Udah cocok sama Tom Cruise kenapa selingkuh sama si gundul bermodal otot doang sih? Pesonanya luntur seketika. Ryan Reynolds yang cuma tampil bentar juga ga ngaruh, mau diperankan Ryan Giggs atau Ryan Jombang, ga ada bedanya. Hambar kayak, minum cuka diaduk rata dengan asam dengan segenggam garam yang murni. Rasanya ga jelas. Lagian zaman sekarang siapa yang masih minum Oralit?

Kalian pernah lihat cerita film dengan segala kekacauan logika cerita yang pernah ada? Kalau belum, maka kalian bisa coba film ini. Durasi yang dua jaman, mencipta kebosanan serasa dua zaman. Belasan kali kulihat jam saking boring-nya. Bertubi kumenguap menahan kantuk, suara gelegar itu laksana lullaby merdu pemberat kantung mata. Ini adalah film jenis action buruk yang cuma menyenangkan kaum hippie. Sebutkan hal-hal irasional yang pernah dicipta dalam dunia film aksi, nyaris semua ada di sini. Helikopter dirantai mobil berderet seolah lego yang bisa pasang-ambyar sekejap. Di tengah deru laju balap seorang jagoan bisa dengan mudahnya melempar pengait ke kendaraan lain, dan pas, ceklik tanpa meleset lho, sementara kita kancingin baju saja masih kadang miring tinggi sebelah berkat salah lubang. Ini orang seharusnya suruh ikut ‘tutup botol challenge’, mungkin ga perlu disepak, dikedipin juga tutupnya lepas sendiri saking tutupnya takut. Dalam misi penyelamatan, mereka main hantam saja tanpa ada rasa sedih. Ampun deh! Ampuh deh! Ampun deh! Ampun deh Bambang.

Saya sudah banyak nonton film aksi, banyak juga kok yang sangat bagus. Mad Max, Kingman, Terminator, The Matrix, The Raid, Casino Royale, Mission Impossible, Bourne Series, Die Hard, Iron Man, dan seterusnya. Seri Fast and Furious jelas ga masuk jajaran itu, mungkin seri ke 21 nanti baru deh mereka mementingkan cerita, Taruhlah Saoirse Ronan dalam kebisingan deru knalpot, pasti juri Oscar sepakat berujar: “Ini dia film action berkelas yang sudah lama kutungu-tunggu.”

Cukup Bud cukup. Baiqlah

Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw | Year 2019 | Directed by David Leitch | Screenplay Chris Morgan, Drew Pearce | Cast Dwayne Johnson, Jason Stantham, Idris Elba, Vanessa Kirby, Helen Mirren, Eiza Gonzalez, Eddie Marsan, Eliana Sua, Ryan Reynold | Skor: 2/5

Karawang, 210819 – Sheila On 7 – Sephia

Perburuan: Indahnya Ngobrol Sama Daun

Malam Agustus yang tenang, udara keemasan, dan tak berembun bisa terasa sangat indah, hujan sudah lama tak menyapa ke Karawang. Perburuan adalah tentang peristiwa masa lalu menyedihkan di Jawa bagian Tengah, serta pertempuran yang terjadi di masa pendudukan Jepang. Terjadinya beriringan dengan Perang Dunia Kedua, sebelum Indonesia merdeka di Blora, tempat banyak peristiwa menarik terjadi. Hardo, lari atau mati. Tampak seperti penjelmaan syair, dongeng dan mimpi. Penonton bisa saja menyebut keputusan Hardo menyepi adalah aneh, tapi kita bisa sebut itu adalah eksentrik. Kisahnya sedih dan indah – dan tampak nyata. Kita sedang menyaksikan sebuah film tragedi.

Sejatinya saya menanti tanggal 15 Agustus 2019 untuk menyaksikan Bumi Manusia, sampai ambil cuti tahunan. Malah siang acara penuh, sore ketiduran sehingga menyisakan jam malam untuk menikmati adaptasi buku karya Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia paling malam selepas Isya, maka tak ada opsi yang lebih ideal selain menikmati Perburuan ketika jelang tengah malam.

Cerita merentang enam bulan dari tanggal 14 Februari 1945 sampai Proklamasi berkumandang, bahwa pasukan bentukan Jepang, PETA (Pembela Tanah Air) melakukan perlawanan. Adalah Shondanco Hardo (Adipati Dolken) dan kawan-kawan yang muak atas penjajahan ini. Misi kudeta mereka gagal, pasukan yang kocar-kacir itu melarikan diri ke hutan, sebagian akhirnya menyerah ke Jepang ketika utusan datang bahwa tak akan melakukan hukuman bagi pasukan yang mau kembali, janji memberi kemerdekaan secepatnya kembali digulir.

Raden Hardo adalah anak wedana, ia diburu Jepang karena berbahaya. Dipimpin Shidokan (Michael Kho) yang kejam, dengan kaki tangannya yang jua sahabat Hardo, Karmin (Khiva Ishak). Adegan kejar-tangkap di hutan disajikan dengan tensi lambat, ketika rasanya rasa frustasi muncul, si Jepang memutuskan menangkap orang-orang terdekatnya. Ningsih (Ayushita) tunangannya, ayahnya yang berkhianat yang memberitahu. Dan pada puncaknya, kita tahu semanis impian kemerdekaan, hal itu harus dibarengi dengan harga yang sangat mahal. Saat Si Jepang membuka mulut, seolah kata-katanya menjadi hukum.

Tautan kasih dengan Ningsih, sejatinya dituturkan dengan nada optimis nan kuat. Selama pelarian, di antara mereka terbentang jurang tak berdasar yang tak bisa diseberangi dan itu jelas adalah cinta. Hanya jembatan bernama kemerdekaanlah yang bisa menyatukan mereka. Hardo merindukan sang tunangan dengan segenap kesetian dan angan.

Alurnya maju terus secara linier, tak banyak tanya yang menggantung. Ada empat adegan bagus dalam Perburuan. Pertama ketika di kebun kala Hardo ngobrol sama daun lalu muncul pejabat baru dan mereka bercengkrama. Di tengah hamparan kebun jagung yang cantik dan rapuh menjelang subuh, di jalan setapak transpotasi desa tempat angin semilir mendesah, menghembus kencang lalu menyapu wajah mereka, selembut tanaman bunga sepatu, seakan dipenuhi gambaran indah nukilan ilustrasi kartu pos lokal yang sering kita terima kala itu dari kekasih yang jauh. Subuh itu indah dan tampak cokelat keemasan, kebun jagung dan tanah pertanian di belakangnya disirami cahaya merah dan bayang-bayang yang berpagutan, dengan suara jangkrik yang dijubelkan ke telinga. Ayo tenangkan diri, dan hitung sampai seratus sebelum adegan lain. Saya duduk tenang dan memulai hitung, tak sampai separuhnya, suara gerobak muncul dan mengakhirinya.

Kedua saat di kolong jembatan. Ketika para kere, para tuna wisma ini membunuh waktu dalam rumpian harap akan masa depan Indonesia, Hardo dan pelarian lain menyatu. Well, Tuhan mungkin akan lebih mendengarkan orang-orang teraniaya, kalau kita tidak mengganggu-Nya setiap saat. Sayangnya, malah disusupkan latar gelandang lain main wayang merusak kenikmatan. Seolah ada kelabu yang mengganggu.

Ketiga, pembacaan puisi dalam goa yang dimainkan dengan korek api dan senyum ngeri. Suara bagai dentingan harpa ditiup angin, dan mata yang memancarkan keabadian. Ketika batang api meredup dan kembali menyulut api lain, perenungan dengan jeda seperti ini selalu membuatku terpana. Hardo terlihat sangat sentimental dan romantis. Pernahkah kalian membaca cerita yang tak begitu adil? Kejadian lalu memang tak membunuhnya, tapi senyumnya telah mati. Namun Hardo seolah akan terus bercerita selama masih punya lidah untuk berujar, atau ‘seseorang’ untuk mendengar. Mendengarkan dia bercerita dengan korek api sesaat nyala sesaat kejap mati, sama asyiknya dengan mendengarkan seorang penyair menyenandungkan karyanya tepat di depanmu.

Keempat dan ini yang terbaik, adalah saat pertemuan ayah-anak dalam gubuk di malam hari dengan penggambaran aneh. Gubuk tua itu dengan rahasia yang tersamarkan dirajut, diambil gambar dari langit-langit, dialog menawan tersaji. Nada-nada emas dalam suara mereka disusupi ketakutan dan permohonan. Saat itu bulan belum muncul, tapi cahayanya malah memperburuk keadaan. Bayang-bayang yang sebelumnya bergeming kini bergerak dan menari-nari saat angin malam meniup dahan dan ranting.

Sejatinya memang ini adalah kisah menanti kebebasan. Oh mengerikan sekali, rasanya jika kau hanya bisa menunggu dan seolah tak bisa melakukan apapun. Seandainya Hardo tak bisa bermain puisi, pasti rasanya waktu berjalan bergitu lambat. Keyakinan bahwa Sangkakala keruntuhan Nippon akan berbunyi suatu hari nanti. Kekalahan Jepang itu, awalnya terasa mustahil karena Belanda yang menancapkan belenggu selama ratusan tahun saja bisa disepak dalam waktu singkat, mereka tak percaya, maka rasanya wajar ada gemetar ketakutan menyelingkupi. Namun selama ada kehidupan maka harapan selalu ada.

Perjalanan di hutan dalam pelarian yang indah melewati dunia hijau, dahan-dahan berbisik, pohon trembesi beraroma asam, serta petak-petak sinar matahari yang menyusup ke bawah rimbunan pepohonan. Saya sejatinya berharap akan banyak adegan sunyi di dalamnya, harapan itu hanya sedikit terkabul. Hutan asing yang menawarkan pesona liar, samar dan tak bernama membalutnya bagai pakaian. Suara jangkrik yang seharusnya dominan, semilir angin yang menempa wajah. Di hutan, Hardo memikirkan tanah air (dengan menggenggam tanah), berkhayal bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki umur panjang dan menyaksikan bumi merdeka, memiliki rumah mungil yang nyaman di lembah bersama Ningsih guna hidup bersama.

Penerungan yang dikitari itu tampak sentimental. Sekali lagi, waktu terasa lama saat kau sedang menunggu. Tempo mengiris udara dengan derik jangkrik bersahut-sahutan, makhluk lain pasti sudah lari saat itu juga seandainya ada tempat yang dituju, tapi tak ada tempat lain, di sekeliling Hardo hanya ada kebun gelap, tanah basah dan sapaan sunyi.

Sayangnya, semua itu runtuh oleh skoring. Sial, jelek banget iringan Purwacaraka, merusak mood. Saat sedang asyik merenung, mencoba menikmati keintiman dengan keheningan, musik dimunculkan di waktu tak tepat. Dan suara alat musiknya itu kontinu, duh! Sulit sekali menjelaskan makian yang pas untuk disampaikan, mungkin gabungan antara momen khidmat dan riuh lalu tepok jidat. Alamak.

Ketika film usai, rasanya ingin segera menikmati angin pagi. Dengan kepulan kopi duduk nyaman di teras, hanya gumam “Ayo kita ke kebun jagung dan menunggu, saya pengen ngobrol sama daun.” Lalu bercerita, rerumputan menulis jejak langkah kepergiannya dengan tetesan embun, di atas lembah serta bukit menggantung asap biru tebal, seakan alam sedang memuja altar dalam hutan. Jangkrik bernyanyi sisa semalam, suaranya merdu. Perlahan, matahari menggelincir naik di tengah awan gelap kelabu berubah menjadi bayang-bayang ungu dan merah garang di pagi itu. Enggak muncul rintik kok, Karawang masih kemarau di Agustus tandus. Memang, ada banyak hal yang tidak kumengerti.

Endingnya khas novel Pram. Saya sudah membaca empat buku beliau, Bumi Manusia yang getir, Midah yang berakhir tragis, Gadis Pantai yang menyesakkan dan Perawan Dalam Cengkraman Militer (bukan sepenuhnya tulisan Pram). Letusan itu, sejatinya tak sepenuhnya membuatku terlalu terkejut, sayang ditampilkan buruk, seolah itu adalah adegan tambahan bloppers, dalam credit title film-film Jackie Chan. Setelah usai rasanya ingin protes, mengapa? Yah, hal semacam ini memang mungkin, dan saya dilanda kengerian baru yang sebelumnya tak terpikirkan.

Bukankah merdeka adalah kata yang indah? Sangat ekspresif, M.E.R.D.E.KA. sambil mengepalkan tangan ke atas penuh antusias. Dan terasa damailah seluruh tanah yang berbunga dan segar ini, serta damailah hati kecil kami.

Terberkatilah hati sepimu Hardo, kau benar-benar manusia hebat.

Perburuan | Tahun 2019 | Sutradara Richard Oh | Penulis naskah Richard Oh, Husein M. Atmodjo | Pemeran Adipati Dolken, Ayushinta, Ernest Samudra, Khiva Ishak, Michael Kho | Skor: 3/5

Karawang, 200819 – Sherina Munaf – Click Clock

Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad

Subjudul buku ini terdengar asyik dengan menekankan seorang pembelajar, ‘Belajar Dari Para Maestro Nonfiksi.’ Karena buku ini tidak diperjualbelikan, karena tipis hanya berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran.
#1. Mari Berkenalan dengan Pamela Colloff – Lyz Lenz
“Cuma segelintir penulis unik seperti Pam. Dalams egala aspek pada bisnis ini, ia seperti Unicorn – diburu oleh Chupacabra, dilahap oleh Bigfoot.”#2. Potret Hemingway – Lillian Ross
Orang-orang mencuri cacatnya, mencuri irama dan ritmenya, dan menyebutnya ‘Mahzab Menulis Hemingway.’#3. Mari Mati Bareng – David Samuels
Mengapa bunuh diri berkelompok begitu popular di Jepang?#4. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad – Anthony Shadid
“Pada masa jayanya, Jalan al-Mutamabbi mewujudkan pepatah kuno: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”#5. Proses Prosa Wright – Joanna Cattanach
Lawrence Wright bicara soal pendekatan ‘bagal’ dan kartu pos 4×6 cm dalam menggarap prosa nonfiksi.Kisah Pedagang Buku Yang Tewas Di Bagdad | Penyusun Fahri Salam | Copyright 2018 | Pemeriksa aksara Margareth Ratih Fernandez | Desain sampul & Penata letak Mohammad Sadam Husaen | iii + 61 halaman | 13 x 20 cm | Skor: 4/5
Penerbit Mojok Buku ini tidak diperjualbelikanKarawang, 130819 – Sherina Munaf – Ada

Maut Di Venesia – Thomas Mann

Untuk Tuhan kami yang asing.

Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, sampai cuaca yang tak ramah. Sempat boring di tengah setelah perjalanan panjang di Jerman menuju Italia, lalu membelok lagi dalam gondola yang beriak, barulah saat sampai di hotel apa makna maut yang dimaksud muncul, cerita mulai menemu titik temu. Tipis, berhasil dibaca kilat di Hotel Horison Bekasi di pagi hari dan sore di sela Pelatihan Koordinator Pemagangan yang diselenggarakan oleh Disnakertrans 2-8 Agustus 2019. Tuhan sendiri yang membuat kepala kita tertunduk di hadapan keindahan dan merundukkan jiwa kita yang angkuh dekat dengan tanah. Aschenbach bermain-main dengan pikirannya sendiri – ia menyulamnya sedemikian rupa dan terlalu arogan untuk mengakui ketakutannya akan suatu perasaan.

Kisahnya tentang seorang sastrawan Jerman, Gustave Aschenbach, yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan kesempurnaan telah lama berhasrat untuk dapat beristirahat dalam kesempurnaan pula, dan bukankah ketiadaan juga bentuk kesempurnaan? Maka ia memilih santai di luar negeri. Sebenarnya tanpa tujuan, ia klontang-klantung dengan koper dari satu hotel ke hotel lain, menikmati waktu luang yang berharga. Musim semi tahun 19– ia memutuskan melepas penat. Seni memperkaya hidup, seni memberikan pengalaman lebih dalam akan kebahagiaan, seni melahap segalanya lebih cepat dari apapun di dunia. Seni mengukir petualangan jiwa dan akal pada wajah-wajah pencintanya. Memberikan mereka pilihan hidup untuk hidup bebas setenang mungkin, mendorong mereka menuntut kesempurnaan, merasakan kegugupan dan kelelahan sebagaimana pekerjaan melibatkan hasrat menggebu dan kenikmatan tak kasat mata.

Ada dua manusia aneh yang bisa jadi dijabarkan sebagai malaikat maut menintai, kala di komplek kuburan Nordfriedhof di Munchen ada manusia memperhatikannya dengan intens dan misterius, dan saat naik gondola (perahu dayung), seorang gondoliere (pendayung gondola) illegal mengantarnya. Dua orang asing yang mencurigakan itu tak banyak interaksi tapi hanya ‘mengantar’ yang bisa jadi asisten Izrail. Kemalangan takdir sepertinya gemar melayang-layang di sekitar kepalanya, kemalangan tampak bergelantung dengan murung pada salah satu sisi kepalanya.

Sejatinya Gustave sudah curiga ada yang tak beres di liburannya ini. Hasrat manusia tak ubahnya kejahatan, hasrat tak akan muncul selama ada keteraturan, selama tak ada perubahan. Hasrat datang bersama tiap deru angin yang merubuhkan suatu struktur, setiap celah robekan pada kain kehidupan sosial, karena di sana pulalah harapan dapat muncul. Nah, ia terjebak dalam hubungan aneh dengan tamu lain di hotel itu. Seorang pemuda tamvan bernama Tadzio, mabuk cinta mengikutinya ke manapun pergi. Eros, sebagaimana kita tahu mencintai kelengahan, sebab kelengahanlah yang ia ciptakan. Maut mengintai, sang jagoan kita tetap tenang. Tak ada yang lebih jelita di dunia ini ketimbang senyuman dan tatapan yang diberikan Tadzio pada teman bermain dan pengikut setianya. Bah! Aschenbach mengenalinya dan menyambutnya dengan senyum heran serta kebingungan. Ia merenung, ia bermimpi, mulutnya perlahan, mengeja sebuah nama.

Tadzio sendiri tak berkontak langsung dalam cuap hingga kalimat akhir. Sungguh janggal bukan? Tak ada hubungan lebih aneh, lebih teliti, dibandingkan, dua makhluk yang hanya mengenal satu sama lain lewat tatapan dalam pertemuan sehari-hari, yang berlangsung bahkan berjam-jam lamanya, mengamati satu sama lain lekat-lekat, namun karena suatu tingkah atau adat tertentu mereka berakhir menahan diri dan berlagak seperti orang asing. Mereka hanya saling senyum, saling lirik dan berpapas sepintas lalu seolah pertemuan mereka tak sengaja. Mungkin ini yang disebut jauh di hati, dekat di mata. Hampir semua hal yang besar menjadi besar karena unsur berikut: keberhasilan menentang penderitaan dan kesengsaraan, kemiskinan, kepapaan, kelemahan, kebajikan, gairah, dan ribuan rintangannya.

Bayangkan seorang pria matang usia 50an masih malu-malu mau, ehem pada remaja laki pula. Sepuh, seorang seniman berpengaruh yang menghasilkan banyak karya itu puber lagi. Hanya seniman yang berhasil membuahkan karya bermakna dalam berbagai tahap kehidupan manusia sajalah yang dapat dianggap agung, disanjung dunia, atau layak diberi kehormatan. Menjelaskan perasaan itupun tak sepenuhnya langsung ke poin. Kita terus diajak berputar, diajak jalan-jalan ke dalam kerumitan kota Venesia. Inilah Venesia, dan inilah kekumuhan yang melecehkan dan menghianati keindahannya, kota separuh dongeng, separuh jebakan, kota di mana dulu udaranya mampu melukis keindahan, di mana para musisi menyanyikan nada-nada buaian yang menggairahkan.

Mann menyebut karakter utama kita dengan sudut orang ketiga, pelancong kita. Padahal ini sejatinya semi-otobiografi pengalamannya dalam berlibur. Sebenarnya tengah mencekik leher pembaca mudanya yang berusia dua puluh tahunan dengan pernyataan sinis terkait kebenaran karya seni dan kehidupan seni serta sastrawan. Agar suatu karya intelektual dapat secara langsung berpengaruh di masyarakat, dan menciptakan pengaruh yang dalam mengakar dan berkepanjangan, maka karya tersebut harus bergantung pada suatu keselarasan, yakni bergabung antara takdir sang penulis dan apa yang terjadi di sekitarnya. Nah, pengalaman itu diolah dengan desus dan bumbu fantasi. Entah kebenaran sang Penulis yang menyukai sesama itu nyata ataukah sekadar candaan yang terselubung. Seni jadi tanya tak berkesudahan saat disanding dengan pilihan hati. Dunia intelektual menantang pendapatnya akan pertanyaan tak berkesudahan terkait seni dan selera.

Saya sih suka bagian-bagian yang menjelaskan kesenyapan, kesendirian dalam runung. Bersimpati pada kegelapan dan kekacauan dalam jurang di hati tiap manusia, bersimpati pada jiwa manusia yang terasing. Jiwa yang terasing di usia senja, seolah menampar kehidupan ini makna sukses itu apa? Semua akan dilibas zaman. Dihiasi pemandangan duniawi masyarakat yang menyerahkan hidup mereka pada kesederhanaan dunia.

Aschenbach tak perlu lagi menganalisa dirinya. Ia tak dapat merasakan apapun baik percaya diri, kepantasan usia, kematangan dan kemandiriannya, semua mencegahnya untuk berpikir jernih, dan kesulitan memutuskan apakah yang dirasakan itu merupakan bentuk pembatasan diri, ataukah kelengahan sensualitas yang mencegahnya melanjutkan perbuatan yang tadinya ingin ia lakukan. Ia selalu saja menjaga jarak, selalu saja mengamati sekeliling. Nyalinya seolah ciut tapi jiwa dan hatinya bergemuruh. Ada debar, ada rasa was-was kenikmatan menyaksikan apa yang dipuja itu akan lenyap bila melakukan tindakan keluar batas. “Demi keindahan Phaedrus-ku, demi keindahan semata, hanya keindahanlah yang dapat menenangkan jiwa kita. Sebab hanya itulah satu-satunya aspek spiritualitas yang dapat kita rasakan melalui indra masing-masing, karena keindahan dapat kita rasakan langsung.”

Sejatinya ia sempat keluar dari hotel, lalu mencoba keluar Venesia, tapi ada ‘arahan’ yang membuatnya kembali. Saya beri tahu, bahwa ada wabah sampar mengintai. Pemerintah Itali coba meredam isu itu, warga coba tak sepenuhnya sadar dan mengharap itu hanya sekelebat lewat, tapi ternyata wabah itu lebih ganas dari fiksi khayal. Lebih parah lagi, sebab penyakit itu menyerang pencernakan dengan ganas, tak jarang penyakit itu membuat ‘kering’ tubuh penderitanya. Bisa ditebak akhirnya karena judulnya memang spoiler. Ia bersandar dengan lengan bergantung lemas, bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki dan ia membisikkan frasa-frasa basi tentang mabuk cinta dan dambaan yang mustahil, tak masuk akal, konyol, hina, namun juga tak bercelah dan tak pantas dihormati, “Aku mengasihimu.”

Cinta memang buta. Dan kebutaan itu tak dipungkiri membawa konsekensi buruk.

Hidupnya tak ubahnya sebuah bakti, dan ia tentara, begitu pun tercebur dalam dunia seni, dan seni adalah medan peperangan, perjuangan melelahkan yang kini membunuh seseorang yang bahkan sebelum ia sempat mencicipi hari tua. Betapa anehnya petualangan itu, putaran takdir itu, menakjubkan, memalukan, seganjil mimpi-mimpi terliar!

Maut Di Venesia | By Thomas Mann | Diterjemahkan dari Death in Venesia dalam Stories of Three Decades | Alfred A. Knopf: New York, 1936 | Terjemahan bahasa Jerman oleh H. T. Lowe-Porter | Penerjemah Noa Dhegaska | Penyunting Olive Hateem | Penata letak isi Alra Ramadhan | Penata sampul Enggar Rhomadioni | Perancang sampul Agus Teriyana | vii + 130 hlm’ 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-90721-48 | Skor 4/5

Karawang, 110819 – George Benson – Body Talk (Alternative Take)

Eid Al-Hajj 2019. HBD Hermione Budiyanto 5 tahun aka #Ciprut, diketik santai pasca Sholat Ied dengan iringan Legacy of Jazz. Buku kelima terbitan Circa yang kubaca setelah: Memoar Pablo Neruda, Masa Depan Adalah Ilusi, Yang Telah Tiada dan Matahari dan Baja.