The Table: Drama Berkelas Di Atas Meja

Kau pasti punya banyak cerita.”

Meja dan kesaksian bisu. Seni berbicara. Kau mengatakan sesuatu yang setajam pisau kepada seseorang agar dia terus mengingatnya seumur hidup. Terkadang pembicaraan menemui jalan buntu. Namun jelajah kosa kata memang tawaran menarik seolah udara kosong di antara dua manusia adalah lembah petualang. Bicara memang mirip main pingpong, saya melempar bola, lawan menyambutnya dengan arah yang coba kita tebak, lalu kita balas lagi lempar bolanya, lawan bicara akan kembali melontarkannya. Begitu terus sampai terjadi jeda untuk ngopi. Bila kedua pemain tenis meja bisa memainkan bola dengan aduhai, pastinya penonton berdecak kagum. The Table adalah permainan pingpong kelas Olimpiade. Sungguh menghibur. Sungguh layak ditabur konveti seusai wasit meniup peluit akhir. Jadi mari kita jangan membicarakan hal-hal yang muram. Jika tak membicarakannya, maka hal itu juga tak pernah ada.

Bermula dari iseng di tv ada jeda bulu tangkis (si May yang nonton) pagi tadi saat bangun tidur, kuraih remote mengganti-ganti channel ketemu Spongebob di GTV. Entah pada episode apa karena sudah di tengah menit, Spongebob kini mengenakan celana panjang bersama orang-orang kaya dan mewah. Spongebob dengan muka mendamba dari kaca menyaksikan mobil lewat bahwa hari ini tayang perdana film Barnicle Boy. Namun karena ia sekarang adalah kalangan atas, Barnicle Boy dan Krasty Krab adalah kelas bawah, tontonnya menyesuaikan. Mereka menonton film bioskop berjudul ‘The Table’ di mana adegannya hanya meja selama tiga jam! Tak disangka, ada Squidwart Tentacles di kursi bioskop, Spongebob yang bosan menyapa dan menanyakan, apa bagusnya? “Itulah seninya, tak bisa dijelaskan!”

Begitulah, siangnya saya search di web cari filmnya untuk unduh. Walau hanya sama judulnya jelas ini bukan film yang ada dalam salah satu episode si Kuning. Ketemu film ini, film Korea yang menyita satu jam lebih malam mingguku. Sebuah refleks yang menghasilkan tontonan berkelas. Inilah yang kukhawatirkan, menyukai drama Korea. Please, jangan keseringan cium kodok. Hiks, drama berkelas di atas meja.

Kisahnya tentang meja di kafe pinggir kota yang sepi, nyaman dan sungguh tenang sekali. Sebuah tempat yang sangat ideal untuk membaca buku, dengan sajian teh atau kopi kental. Selama 70 menit kita akan menyaksikan meja dan seputarannya, meja menjadi saksi empat obrolan sepasang manusia dengan berbagai tema, yang jelas feminisme sangat kental, karena sangat tampak dominasi perempuan di sini dalam menentukan sikap. Satu meja yang sama, empat cerita yang berbeda. Ceritanya dalam satu hari, dari pagi saat anak sekolah berangkat sampai malam saat lampu-lampu jalanan menyapa.

Yang pertama adalah seorang artis Yoo-jin (Jung Yu-Mi) yang menemui mantan kekasihnya kala sekolah dulu. Artis terkenal di Korea yang datang saja, memakai masker buat nutupi identitas, serta kaca mata hitam agar publik tak lihat. Chang-seok (Jung Jun-won) masih lajang, tampak sekali ia mengagumi sang artis. Ga nyangka ia yang dulu pendiam kini malah tenar. Chang adalah pekerja kantor yang canggung, dan pertemuan ini mengungkap beberapa fakta masa lalu. Lalu gosip infotaimen terkait berita miring Yoo menambah jarak pertemuan nostalgia itu. “Melihatmu setelah sekian lama, seharusnya kita berbagi cerita saja.”

Kedua adalah Min-Ho (Keon Seong-woo) pemuda yang habis dipecat, lalu melalangbuana ke India lalu Eropa, dan kini setelah empat atau lima bulan kembali di Korea menemui temannya Eun-hee (Han Ye-ri) yang baru sebulan pindah kerja ke sebuah kantor majalah kuliner. Gajinya kecil tapi passionate. Ternyata mereka baru bertemu tiga kali, ini pertemuan keempat, wajar masih ada jarak dan jeda dan kecanggungan. Permainan gesture, mimik wajah dan keindahan bertutur kata mencipta sebuah cinta yang walau tak terucap langsung penonton tahu mereka sejatinya bisa berjalan bersama di masa depan. Eun tampak sangat cantik, kamera sering sekali berlama-lama menyorot wajah putihnya, leher jenjangnya, dan seni berbicara disertai senyum mencipta kesempurnaan. Catet ah, nama artisnya Han Ye-ri! Seperti keputusan di film ini ke depan sebenarnya mau ngapain kita? Jalan atau bubar jalan? Nah, saya juga bisa putuskan, kapan-kapan kutonton lagi filmmu lagi ya, dek. “Sewaktu menaci pekerjaan baru, aku mencoba menulis novel.”

Ketiga adalah sebuah pertemuan konspirasi jahat antara Kyeong-jin (Jeong Eun-chae) dan Sook-ja (Kim Hye-ok). Sebelum dimulai sesi ini, kita disuguhi adegan teko penuh air putih yang meresap teh dan setelah bermenit-menit airnya kini berubah warna. Mantab! Kita diminta menyaksikan perubahan warna air seolah penelitian ilmiah. Setelah pertemua sepasang laki-perempuan, kini kita dihadapkan perempuan-perempuan. Ngegoliam menentukan arah. Kyeong-jin adalah seorang penipu yang merencana menikah dengan pria istimewa. Sebuah tangkapan besar istilahnya, padahal bukan lelaki kaya, tinggal di desa bahkan masih miskin karena baru sebulan kerja. Target tipu sejatinya adalah bosnya, eh malah jatuh hati sama anak buah. Maka jadikan ini adalah momen istimewa karena melibatkan hati. Ia meminta Sook-ja untuk berakting menjadi ibunya, menulis naskah sandiwara pertunangan dan penikahan, lalu detail-detail saat disampaikan malah membuat Sook yang penipu ini tampak merenung sedih, sejatinya sangat personal karena tanggal nikah yang direncana sama dengan tanggal nikah anaknya 30 Mei, dan anaknya kini sudah tiada, menambah kepedihan, sang gadis memiliki nama kecil ‘Kura-kura’ yang lamban, yang dibesarkan dengan cinta, dan penuh kasih sayang. Hiks. “Itu tepat sebelum pernikahan putriku.”

Yang keempat terjadi setelah hujan di malam hari, adalah sepasang mantan kekasih yang janjian ketemu jelang pernikahan Hye-kyeong (Im Soo-jung). Calon suaminya sedang di New York maka ia berencana melepas masa lajang dengan ketemu mantan kekasih, mengajak selingkuh, mengajak menghabiskan masa bersama sebelum benar-benar berpisah. Mau selamanya, minimal dua tahun ya biar kamu tetap tampan. Nope. Minimal sampai hari H deh. Nope. Yah, malam ini aja. Nope! Woon-cheol (Yeon Woo-jin) adalah lelaki canggung, merencana ini jadi pertemuan akhir dengan Hye, apapun alasannya. malam sebelumnya padahal ia bermimpi bercinta dengannya, menghabiskan hari indah dan berjalan bersama ke masa depan. Kesempatan itu sejatinya ada, karena Hye yang tampak sekali mencintainya menantangnya bila ingin membatalkan pernikahan ia siap bersama, bahkan bila Woon mau menjadi kekasih gelapnya sebelum atau sesudah nikah, ia siap. Cinta memang pedih kawan. Namun keputusan harus diambil. Dan di sinilah kedewasaan manusia diuji. Waktu memang kejam, sangat kejam, waktu linier tak bisa dipinjam untuk hura-hura kawan. Dan kalian hei manusia, akan dilindas zaman, mati dan diganti generasi. Karena bila tercipta, dosa satu akan merentang dosa yang lain. “Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.”

Meja itu menyaksikan semua keputusan-keputusan yang diambil manusia yang fana. Letupan kecil emosi, tawa tertahan, dan seni bicara setiap individu. Dan kita menjadi saksi pula akan drama haru biru segelintir nasib manusia. Meja, ya, meja. Bisa-bisanya jadi film unik nan menawan. Skoringnya karya Narae, bagus banget. Petikan akustik lembut yang mengisi kemeriahan dua manusia bercengkrama, seolah musiknya adalah musik kafe yang memang ada dalam film, padahal jelas ditempel.

Kisah ngobrol di kafe mengingatkanku pada kumpulan cerita pendek karya Yusi Avianto Pareanom berjudul ‘Rumah Kopi Singa Tertawa’ di mana dalam sebuah resto ada beberapa meja yang menyajikan dialog para pengunjung. Tak ada sangkut paut antar meja memang, tapi jelas sajian obrolannya tajam. Kata Hercule Poirot, “Kata-kata, Mademoiselle hanyalah kulit luar sebuah gagasan.”

Obrolan intens dalam The Table sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Saya malah menduga sebagian kisah adalah pengalaman sang Penulis. Beberapa adegan juga langsung mengingatkanku pada masa lalu dengan sang mantan. Hiks, bagaimana ia meninggalkanku untuk menikah dan menghabiskan malam terakhir H-1 dalam obrolan telpon sampai subuh. Duh, lupakan. Kisahku tak seromantis film drama. Tapi sama anying-nya.

Telinga yang mendengarkan, mata yang melihat, mulut yang membentuk kalimat, indahnya percakapan. Ceritakan padaku lebih banyak lagi, saya mendengarkan. Ngegoliam di atas meja, ini menyenangkan sekali.

The Table | Year 2016 | Directed by Jong-Kwan Kim | Screenplay Jong-Kwan Kim | Cast Jung Yu-Mi, Jung Jun-Wo, Soo-mi Jung, Ye-Ri Han, Eun-Chae Jung, Sung-Woo Jeon, Hye-Ok Kim, Woo-jin Yeon | Skor: 4/5

Karawang, 270719 – Mariah Carey – Obsessed

Iklan