Buffalo Boys: Koboi Lokal Dengan Lenguh Kerbau

Naikkan taruhannya!”

Trailer-nya bagus banget, melambungkan harap. Saat filmnya tayang, ternyata ga sesuai hype dimula. Cepat tenggelam, dan setelah setahun akhirnya, akhir pekan lalu saya berkesempatan streaming. Dan benar saja, ga semegah yang diharap. Sempat masuk ke dalam web Amerika sebagai film 20 action movie of the year semester ini, namun itu tetap saja tak cukup menolong. Ceritanya tak lebih bagus dari Wiro Sableng yang tahun lalu juga terpuruk. Dengan bintang-bintang besar dari ario Bayu, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo sampai Happy Salma. Premisnya mengarah ke film koboi dengan kearifan lokal. Bukan kuda yang ditunggang, tapi kerbau! Untung kerbau bukan kambing. Kalau suatu saat Timur Tengah tertarik membuat kisah serupa, bisa jadi Camel Boys adalah pilihan pas.

Setting-nya adalah Indonesia abad 19 dalam masa kolonial Belanda. Negara ini tengah dijajah dalam fisik dan mental. Tersebutlah pendekar lokal Hamza (Mike Lucock) yang secara dramatis tewas saat melarikan diri dari kejaran penjajah kejam Van Trach (Bussemaker). Menyisakan Arana (muda_Donny alamsyah) bersama dua bayi dalam perahu. Mereka lalu merentang jauh ke Amerika untuk menemukan kedamaian, dan waktu lalu digulir percepat di tahun 1860.

Dalam sebuah kereta api yang melaju, tersebutlah sebuah tarung judi. Kini kedua bayi yang selamat itu telah dewasa dengan gagah dan jantan. Suwo (Yoshi Sudarso) bandar judinya, Jamar (Ario Bayu) yang ladeni musuh yang berbadan besar. Pertarungan itu menghantar memori ke Indonesia, maka mereka bersama Arana (tua_Tio Pakusadewo) mengembang misi dalam perjalanan mudik. Mereka pulang ke Indonesia untuk menuntut balas! Ah tema klise yang selalu ada. Ziarah dengan setting tempat, latar candi. “We have to go back to avenge your father.”

Di hutan, bertemu perampok, mencoba memperkosa korban dalam pedati. Dihajarlah perampok yang dipimpin oleh Fakar (Alex Abbad) dan dilukai satu matanya. Sri (Mikha Tambayong) dan sang kakek berterima kasih, menawarkan trio ini ke kampung untuk disambut, minimal minum kopilah. Di kampung itu, mereka dalam tekanan kolonial, terkait kesetiaan, pajak, dan aturan adat dusun. Sebelum konflik beneran ada, datanglah yang ditunggu-tunggu karakter film ini, Kiona (Pevita Pearce) sang buffalo girl, menunggang kerbau pacu saat pulang. Keluarga ini tampak tertekan. Lalu muncullah penjahat, Drost (diperankan dengan cool oleh Daniel Adnan). Segala geriknya mantab, bak Joker yang mengintimidasi. Ia meminta keterangan masalah tiga orang buron, awalnya pada bungkam, tapi karena orang tua Sri memiliki masa lalu traumatis, ia berujar melihat mereka dan mereka kini bersembunyi. Tak ada maaf bagi penghianat. Ia ditangkap dan akan dijatuhi hukuman mati.

Di kantor sheriff, hukuman mati dijalankan di tengah kampung. Hukuman yang dilakukan di depan warga sebagai efek jera. Tampak sadis, tampak sangat mencekam. Di perkumpulan inilah kita menyaksikan laiknya film-film koboi yang kita kenal. Ada arena judi, kantor pajak, tempat pelacuran, bank yang korup, pedagang dan pembeli yang hilir mudik, penjual bunga, sampai bar yang menyajikan minuman keras dalam kaidah yang mumpuni. Semua setting tempat dibuat semewah mungkin, lumayan berhasil. Demi menegakkan keadilan versi penjajah, semua warga menyaksikan. Termasuk jagoan kita yang menyelinap.

Mereka membara dendam, bersiap menembak Van Trach dengan bermodal laras panjang bak sniper. Sayangnya ada kendala lagi, Arana menyaksikan ada perempuan cantik Seruni (Happy Salma) yang merupakan orang special masa lalunya, menghalangi sasaran sepintas lalu, membuat goyah, membuat mengurungkan niat menarik pelatuk. Mereka kembali menyusun strategi, para musuh mengancam, mau menyerahkan diri atau ada warga yang mati. Dan adegan berikutnya justru petaka, rumah dibakar, pengobanan yang menyakitkan, ini seperti penebusan dosa. Tak ada tombol rewind akan waktu. Semua sudah jadi abu.

Misi itu harus berlanjut. Dengan persenjataan lengkap, dengan modal mental dendam penuh baja, dengan dua kerbau yang gesit nan lincah, dengan peluru renceng yang melilit tubuh (dalam akhir film masih utuh), dengan kekuatan bulan akan melakukan pembalasan, mereka memutuskan menyerbu, berhasilkan mereka memporakporandakan kezaliman para londo? Film ini dibintangi Hanah al Rasyid? Ada yang mengenalinya? Coba kita lihat lebih dekat!

Bagian akhir saat mereka menyerang itu langsung mengingatkanku pada adegan akhir The Magnificent Seven. Bedanya dibalik, dari Hollywood para jagoan yang defensif, dalam Buffalo Boys mereka posisi menyerang. Beda paling mencolok ya jelas kualitas efek dan keseruan. Klimaknya beda. Magnificent meledak bak meriam yang tepat sasaran lalu dipenuhi konveti kemenangan mewah, megah, nan mempesona, dalam Bufallo malah adegan ngobrol jarak dekat, adu tembak mengingin mirip Lucky Luke, minus kecepatan bayang. Bahkan adegan dalam trailer saat wajah Pevita kena muncrat darah, baru muncul di ujung, dan cuma sepersekian frame. Sayang sekali. Kurang gahar, kurang mencekam, kurang aksi, kebanyakan slot ngegoliam. Dan parahnya lagi, era penjajahan Belanda tapi dialognya English. Entah kenapa ga sekalian Indonesia saja, toh ini film setting di Indonesia. Bandingkan film pendekar zaman Advent Bangun atau Barry Prima yang para penjajah ngumpat juga pakai bahasa Belanda. Terkait pilihan bahasa, saya jadi ingat film Valkyrie-nya Tom Cruise, yang dengan cerdik membuka kisah dengan bahasa Jerman lalu diseimbangkan bahasa Inggris, sehingga akhirnya mahruf seluruhnya Inggris. Sehingga tanpa banyak penjelasan kita tahu, setting di Jerman dengan kenikmatan Internasional. Ga seperti Buffalo yang campur baur, salah kaprah, ga jelas. Atau bisa dibilang poin inilah terpenting, secara cerita buruk sekali, plothole bertebaran, ketebak sekali arah cerita, sifat para karakter juga gamblang mana hitam mana putih, tak ada abu-abu, secara dialog yang disajikan juga ga memorable malah ada diskusi konyol, semisal kalajengking, ‘duh!’, secara keseluruhan sungguh-sungguh biasa. Bahkan untuk menambah kenarsisan sang sutradara turut serta memainkan peran, walau kecil di akhir sebagai salah satu penjahat dengan kumis melinting sangat panjang sebagai Mango. Boleh aja sih, tapi hampir tak berdampak apapun.

Sisi positifnya, varian film lokal makin beragam ga berkutat di tema horor dan drama komedi. Terbit bersamaan di tahun Wiro Sableng, Buffalo tak lebih bagus dari adaptasi novel Bastian Tito. Sama-sama menawarkan adu tangkas pendekar, bedanya asli Indonesia versus ala koboi. Sejatinya kelebihan utama kisah ini adalah action! Walau action-nya sedikit sebenarnya cukup menjanjikan. Tembak jarak dekat, adu badik bak jagoan, tembak-tembakan di lantai atas ala koboi jadul, kelahi tangan kosong, sampai syarat film aksi penuh ledakan dan darah memancar ada, bonus adegan kekerasan seks yang absurd. Sekali lagi, sayangnya sangat sedikit. Kurang macho dan kurang laki dan kurang bad-ass.

Perlu diperbanyak adegan kelahi laiknya film-film Guy Richie yang penuh satir, opening yang kece lho padahal. Perlu cerita yang kuat untuk menopang alur, ide koboi naik kerbau saja sudah tampak seksi. Gadis cantik dengan make up berlebih sampai tak dikenali sah saja, toh sekadar karakter sempalan. Perlu juga akhir sedih, sehingga pecinta kartun Disney sewot. Film koboi dengan lenguh kerbau sejatinya cukup menarik, rasanya akan lebih sedap jika ditambah pula sedikit humor. Kita sudah biasa dikerjai tavok sesepuh, tak ada yang melarang membawanya ke layar lebar. Semangat Bert!

Buffalo Boys | Year 2018 | Directed by Mike Wiluan | Screenplay Raymond Lee, Mike Wiluan | Cast Yoshi Sudiarso, Ario Bayu, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Daniel Adnan, Happy Salma, Mikha Tambayong, Donny Alamsyah, Donny Damara, Alex Abbad, Hannah al Rasyid, Conan Stevens dan Mike Wiluan | Skor: 2.5/5

Karawang, 240719 – M2M – Jennifer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s