Origin – Dan Brown

Origin – Dan Brown

Kita harus rela membuang kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kitaJoseph Campbell

Semua ketebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bisa tahu endingnya. Mungkin karena saya sudah mulai terbiasa membaca cerita detektif, mungkin karena saya sudah menikmati buku Sapiens-nya Yuval Noah Harari, mungkin juga karena saya sudah membaca Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Origin benar-benar mengikuti arus, mengikuti alur yang sudah saya perkirakan. Lantas kenapa nilai saya masih kasih tinggi? Kehebatan Dan Brown tetap pada pace cerita yang cepat, pembawaan yang asyik, serta selalu mencoba sedramatis mungkin. HP terjatuh tak sengaja ketika benar-benar dibutuhkan? Salah password karena tombol capslock terpencet? Presentasi kegagalan menyatakan kehidupan awal dari sup primodial? dst…, hanya dramatisasi yang dicipta berlebihan. Selalu, hebat jua berhasil memukau setiap pergantian bab. Saya mulai baca Selasa (02/07/19) dan selesai baca Sabtu (06/07/19) dengan satu lagi yang repeat tak jemu: Milk and Toast and Honey bisa seribu kali terdengar, untuk buku setebal 500 halaman dengan cetak lebar, jelas ini sebuah prestasi. Dan hanya buku-buku istimewa di atas 500 halaman yang bisa kuselesaikan baca kurang dari seminggu. Origin menawarkan pergulatan sains versus agama, jelas bukan hal yang baru. Origin membawa tanya semesta, kita dari mana, kita mau kemana? Bukan hal baru, pula. Dalam agama, hampir semua agama, aliran apapun mengajarkan: ‘Kita dari Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan.’ Apalagi teknologi yang ditawarkan, dari mobil tanpa sopir Tesla X, Uber mobil, modifikasi ruangan dan aula, sampai kemungkinan Komputer bisa berpikir. Origin mengajak kita tamasya ke tempat-tempat eksotis, warisan dunia. Sebuah jejak yang selalu dilakukan Robert Langdon, semua buku Dan Brown juga gitu (kan?!). Kali ini kita diajak ke Spanyol, lebih tepatnya tempat-tempat keramat di Bilbao, Barcelona dan Madrid. Bayangkan, dalam sehari semalam di tiga kota itu dicipta kehebohan, khas Dan Brown yang membawa-bawa sang professor dengan gadis pendamping yang jelita. Memang hanya sedikit sekali hal baru yang ditawarkan Origin, tapi pergulatan hati akan reliji yang terus melaju masih sangat bisa dinikmati.

Kisahnya dibuka dengan sebuah pertemuan rahasia antara seorang futuris ateis Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama mayoritas dunia, seorang Rabi Koves mewakili Yahudi, seorang ulama Syed al-Fadl mewakili Muslim dan Uskup Antonio Valdespino mewakili umat Kristiani di sebuah perpustakaan keramat Montserrat di Catalonia, Spanyol. Mereka sedang diskusi tentang agama dan sains, lebih tepatnya Edmond memperlihatkan sebuah temuan asal mula manusia dan akan ke mana, yang katanya akan mengguncang dunia, mengguncang iman umat yang paling fanatik sekalipun. Tergambar, ketiganya sangat khawatir dan mencoba mencegah temuan itu disebarkan. Sempat membuatku berkenyit dahi, wah temuan seberbahaya itukah? Sampai-sampai tiga pemuka agama terbesar di dunia, gemetar?

Edmond berencana membuat pengumuman penemuan itu sebulan lagi, nyatanya hanya berselang beberapa hari ia membuat semacam seminar mewah di Museum Guggenhein di Bilbao. Yang konon terlihat seperti suatu halusinasi makhluk luar angkasa, bentuk kolase bergelombang, meliuk, acak. Dengan arsitek Frank Gehry yang diresmikan tahun 1997. Dengan pengamanan canggih, dengan tamu undangan terbatas orang-orang penting, orang-orang terpilih, dengan penampilan dan sambutan yang luar biasa dalam museum bersejarah, anehnya seluruh tamu ga ada yang tahu sang pengundang akan mempresentasikan apa, termasuk tuan rumah, hanya promosi ini akan jadi temuan terhebat abad ini. Temanya: ‘SEMALAM BERSAMA EDMOND KIRSCH’. Salah satu tamunya adalah Robert Langdon. Edmond adalah salah satu mahasiswa Langdon yang sukses, lulusan Havard, seorang pecandu komputer, futurist, ateis dan mantan dosen ini mendapat kehormatan. Ketika masuk ke dalam museum, setiap tamu akan diberi earphone, awalnya dikira setiap tamu mempunyai pemandu museum, satu-satu sehingga tampak istimewa dan intim. Ternyata bukan, sang pemandu adalah satu komputer. Dimana mereka bisa merespon, membantu setiap orang untuk ngapain aja, menjelaskan seni yang dipamerkan. Pemandu Langdon bernama Winston, kalian nantinya akan tersenyum saat tahu nama ini dari mana berasal. Keterkejutan Langdon bisa saja mewakili pembaca, temuan ini maju sepuluh tahu lebih cepat. Komputer cerdas yang bisa berpikir? Juga bukan barang baru, film Her salah satunya memberi gambaran pada kita bahwa System Ios bisa menjadi teman, bukan sekadar teman ngobrol tapi juga teman kencan. Di sini Winston menjadi pemandu, teman diskusi, seorang pelayan, sampai partner memecahkan misteri. Hebat, rasanya pengen segera tahu sepuluh tahun lagi akan seperti apa.

Di antara tamu yang hadir, ada seorang pensiunan Angkatan Laut, Laksamana Luis Avila. Tamu tambahan di menit terakhir, sekali lagi dibuat dramatis. Sedari mula kita tahu, ia temperamen, kecewa akan hidup masa tuanya karena tragedi bom di Sevilla menewaskan anak istrinya, ia sempat akan bunuh diri, sampai akhirnya menemukan ketenangan hati, menemukan kedamaian dalam agama. Bukan Katolik umum yang kita kenal, ia ternyata menjadi umat Jemaah Palmarian, sebuah aliran agama Kristen yang menentang Paus, sehingga mendirikan aliran baru dengan komunitas terbatas dan khusus. Dengan Paus sendiri, Paus Palmarian dengan yang pertama adalah Paus Clemente tahun 1976. Yah, mungkin mirip dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) kalau dalam Islam. Cabang aliran agama, apapun agamanya selalu ada.

Saya juga perlu menjelaskan karakter ceweknya. Adalah sang pemilik museum, seorang wanita cantik yang menjadi tunangan Pangeran Spanyol, Pangeran Julian. Proses Ambra Vidal dilamar dibuat dramatis, ketika acara pagi hari di tv live, sang pangeran berjongkok dan memintanya menjadi pasangan. Siapa yang bisa menolak pangeran? Pangeran romantis lagi! Ambra tak punya pilihan lain. Tampak ia berjiwa bebas, cocok untuk pemikir pemberontak. Sebagai calon ratu, di acara besar, ia dijaga langsung dari kemanan kerajaan, Guardian Real dengan duo yang akan menemani kita sepanjang kisah: agen Fonseca dan agen Diaz. Sayang sekali, beberapa karakter tak berdosa menjadi korban tewas konspirasi ini, termasuk mereka berdua yang berdedikasi. Dunia memang tak adil, kadangkala.

Satu lagi, saya juga harus menulis nama Uskup Valdespino yang istimewa sepanjang kisah. Ia adalah kepercayaan raja, menjadi penasihat kerajaan yang peranannya jauh lebih penting ketimbang kepala keamanan Garza, humas gaul milenial Monica Martin, banyak keputusan raja diambil berdasarkan diskusi dengan sang uskup. Kejutan hubungan mereka agak janggal sih, tapi hati Raja siapa yang tahu? Perlu saya sampaikan, al-Fadl tewas di tengah gurun, jelas dibunuh karena niat menyebarkan penemuan Edmond. Lalu Rabi Koves juga dibunuh di sebuah diskotek, ini pembunuhan yang dilakukan seorang hitman. Hanya sang Uskup yang selamat, sehingga ia kini tersudut, dituduh menjadi dalang. Saya bisa nebak, tidak, dan kalian bisa pegang ini juga saat menikmati buku ini. Sebuah situs konspirasi sekali-kali muncul dalam selipan bab menjelaskan alur. Misteri siapa pemasok informasi dari dalam itu adalah monte@ihlesia.org, nah identitasnya ketika dibuka terlihat keren. Situs dengan alamat ConspiracyNet.com menjadi kunci yang membantu Brown mengalirkan kisah, menjadi alat bantu Pembaca mengungkap, sekaligus pengecoh.

Kehebohan Origin dipatik oleh pembunuhan Edmond Kirsch tepat saat ia akan mempresentasikan temuannya, tepat di atas mimbar, dengan kamera menyala siaran langsung ke seluruh dunia dengan penonton menyentuh angka tiga juta, sebuah kasus pembuhuhan dramatis yang ada hanya dalam kisah fiksi. Yang akan dikenang ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Kau hanya akan punya satu kesempatan, meraihnya sangatlah penting. Sang pembunuh adalah Laksamana Avila atas perintah Sang Regent, ia seorang pengsiunan tapi masih bisa melakukan dengan tembakan akurasi sempurna, menggunakan salib modifikasi sehingga bisa dirubah menjadi pistol, bisa meloloskan diri sebegitu mudahnya dalam pengamanan super ketat, dan karena Langdon muncul dalam video, ia ditangkap. Dituduh terlibat, termasuk Ambra sang pemilik museum jua bertanggung jawab. Namun dengan bantuan Super Komputer Winston, mereka berhasil meloloskan diri. Dengan dramatis pula. Naik kapal, naik jet pribadi, lalu helicopter, luar biasa. Semua itu terjadi hanya dalam semalam! Bahkan Will Gates saja bisa terheran-heran.

Misi ini kemudian berubah menjadi adu cepat, Langdon dan Ambra mencoba membongkar video Edmond untuk disiarkan ke internet, sementara pihak Gereja mencoba menjegalnya, dan pihak kepolisian Spanyol mengejar sang pelaku pembunuhan demi harga diri bangsa. Pangeran Julian yang didesak memberi keterangan. Semua saling silang dalam drama penuh aksi, khas Dan Brown. Pertanyaan jelas, bukan akankah Langdon selamat, karena karakter sepenting ini pastinya akan ada seri berikutnya, sekalipun sudah ditembak dengan ujung pistol menempel di dada, Brown ga akan berani menyingkirkannya, sekalipun berulang kali pula peluru hampir mengenai, terguling dalam pecahan kaca, lari Robert lari! Seolah remaja baru lulus sekolah dengan fisik prima. Bukan pula, akankah rahasia kehidupan ini berhasil terbongkar, akankah menguncang iman Anda? Iman kita? Bukan. Ga ada hal baru dalam penemuan Edmond, semua yang disiarkan sudah banyak bisa kita baca di buku-buku filsafat yang tebalnya bisa buat lempar kucing berisik di garasi. Pertanyaan sejatinya ada di masa depan, yang bertahan nantinya Agama atau Sains? Karena menurut prediksi Brown hanya satu yang bertahan! Dan kemungkinan Homo Sapiens yang tersingkir, dalam waktu masa depan yang tak jauh lagi. Ah masa depan yang misterius.

Hampir ga ada hal baru dalam Origin, ironi judul buku ya. Original tapi ga ada yang original? Semua adalah modifikasi hal-hal yang pernah ada. Dari mana asal kita tidak semengejutkan ke mana kita akan pergi. Ah terlalu berlebihan respon tiga pemuka agama tersebut, buktinya setelah membacanya saya juga biasa saja. Kurang bukti, kurang seksi, kurang meyakinkan. Di sini Dan Brown gagal menyakinkan kita semua, mayoritas deh kalau ga mau disebut semua. Teorinya ga kuat, dan prediksinya tentang masa depan manusia juga sudah banyak (coba) diungkap banyak ilmuwan. Hampir semua yang disampaikan adalah ramuan banyak bumbu. Dipadukan, disadur, diceritakan ulang dengan taburan aksi menakjubkan, memikat, nah kelebihananya ya di sini. Aksi Langdon yang sangat seru. Beberapa hal yang asyik di sini: “Timing sangatlah penting.” Benar apapun yang kalian hadapi, ketepatan waktu jelas masuk proritas. Lalu misteri empat puluh tujuh kata puisi, yang terus membuat tanya, puisi siapa? Apa sebenarnya kalimat yang dimaksud? Aku berada di dalam gunung, aku pasti sedang bermimpi. Hentikan tembakan, sarungkan senjata kalian. Origin hanyalah aksi tipu sang agen, dengan efek sekeren animasi Hollywood. Terjemahan bebas kumpulan puisi William Blake tahun 1790-an Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

Tyger tyger, burning bright? In the forest of the night.

Origin | By Dan Brown | Diterjemahkan dari Origin | Terbitan Doubleday, New York 2017 | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, November 2017 | Penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, dan Dyah Agustine | Penyunting Esto Ayu Budihabsari | Book design by Maria Carella | Jacket design by Michael J. Windsor | Jacket photograph: spiral stairs © rosmi duaso/Alamy | background © Birute Vijeikiene / Shutterstock | Pemeriksa aksara Eti Rohaeti, Oclivia Dwiyanti P., Aninda Pradita Haryawan | Copyright 2017 | 516 hlm.; 23.5 cm | ISBN 978-602-291-442-6 (softcover) | Skor: 4.5/5

Untuk Mengenang Ibuku

Karawang, 090719 – Eva Mayerhofer – Bend // 130719 – t.A.T.u – All About Us // 160719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Baca juga ulasan Inferno dari Dan Brown

baca

The dark religions are departed & sweet science reigns.

Iklan