The Table: Drama Berkelas Di Atas Meja

Kau pasti punya banyak cerita.”

Meja dan kesaksian bisu. Seni berbicara. Kau mengatakan sesuatu yang setajam pisau kepada seseorang agar dia terus mengingatnya seumur hidup. Terkadang pembicaraan menemui jalan buntu. Namun jelajah kosa kata memang tawaran menarik seolah udara kosong di antara dua manusia adalah lembah petualang. Bicara memang mirip main pingpong, saya melempar bola, lawan menyambutnya dengan arah yang coba kita tebak, lalu kita balas lagi lempar bolanya, lawan bicara akan kembali melontarkannya. Begitu terus sampai terjadi jeda untuk ngopi. Bila kedua pemain tenis meja bisa memainkan bola dengan aduhai, pastinya penonton berdecak kagum. The Table adalah permainan pingpong kelas Olimpiade. Sungguh menghibur. Sungguh layak ditabur konveti seusai wasit meniup peluit akhir. Jadi mari kita jangan membicarakan hal-hal yang muram. Jika tak membicarakannya, maka hal itu juga tak pernah ada.

Bermula dari iseng di tv ada jeda bulu tangkis (si May yang nonton) pagi tadi saat bangun tidur, kuraih remote mengganti-ganti channel ketemu Spongebob di GTV. Entah pada episode apa karena sudah di tengah menit, Spongebob kini mengenakan celana panjang bersama orang-orang kaya dan mewah. Spongebob dengan muka mendamba dari kaca menyaksikan mobil lewat bahwa hari ini tayang perdana film Barnicle Boy. Namun karena ia sekarang adalah kalangan atas, Barnicle Boy dan Krasty Krab adalah kelas bawah, tontonnya menyesuaikan. Mereka menonton film bioskop berjudul ‘The Table’ di mana adegannya hanya meja selama tiga jam! Tak disangka, ada Squidwart Tentacles di kursi bioskop, Spongebob yang bosan menyapa dan menanyakan, apa bagusnya? “Itulah seninya, tak bisa dijelaskan!”

Begitulah, siangnya saya search di web cari filmnya untuk unduh. Walau hanya sama judulnya jelas ini bukan film yang ada dalam salah satu episode si Kuning. Ketemu film ini, film Korea yang menyita satu jam lebih malam mingguku. Sebuah refleks yang menghasilkan tontonan berkelas. Inilah yang kukhawatirkan, menyukai drama Korea. Please, jangan keseringan cium kodok. Hiks, drama berkelas di atas meja.

Kisahnya tentang meja di kafe pinggir kota yang sepi, nyaman dan sungguh tenang sekali. Sebuah tempat yang sangat ideal untuk membaca buku, dengan sajian teh atau kopi kental. Selama 70 menit kita akan menyaksikan meja dan seputarannya, meja menjadi saksi empat obrolan sepasang manusia dengan berbagai tema, yang jelas feminisme sangat kental, karena sangat tampak dominasi perempuan di sini dalam menentukan sikap. Satu meja yang sama, empat cerita yang berbeda. Ceritanya dalam satu hari, dari pagi saat anak sekolah berangkat sampai malam saat lampu-lampu jalanan menyapa.

Yang pertama adalah seorang artis Yoo-jin (Jung Yu-Mi) yang menemui mantan kekasihnya kala sekolah dulu. Artis terkenal di Korea yang datang saja, memakai masker buat nutupi identitas, serta kaca mata hitam agar publik tak lihat. Chang-seok (Jung Jun-won) masih lajang, tampak sekali ia mengagumi sang artis. Ga nyangka ia yang dulu pendiam kini malah tenar. Chang adalah pekerja kantor yang canggung, dan pertemuan ini mengungkap beberapa fakta masa lalu. Lalu gosip infotaimen terkait berita miring Yoo menambah jarak pertemuan nostalgia itu. “Melihatmu setelah sekian lama, seharusnya kita berbagi cerita saja.”

Kedua adalah Min-Ho (Keon Seong-woo) pemuda yang habis dipecat, lalu melalangbuana ke India lalu Eropa, dan kini setelah empat atau lima bulan kembali di Korea menemui temannya Eun-hee (Han Ye-ri) yang baru sebulan pindah kerja ke sebuah kantor majalah kuliner. Gajinya kecil tapi passionate. Ternyata mereka baru bertemu tiga kali, ini pertemuan keempat, wajar masih ada jarak dan jeda dan kecanggungan. Permainan gesture, mimik wajah dan keindahan bertutur kata mencipta sebuah cinta yang walau tak terucap langsung penonton tahu mereka sejatinya bisa berjalan bersama di masa depan. Eun tampak sangat cantik, kamera sering sekali berlama-lama menyorot wajah putihnya, leher jenjangnya, dan seni berbicara disertai senyum mencipta kesempurnaan. Catet ah, nama artisnya Han Ye-ri! Seperti keputusan di film ini ke depan sebenarnya mau ngapain kita? Jalan atau bubar jalan? Nah, saya juga bisa putuskan, kapan-kapan kutonton lagi filmmu lagi ya, dek. “Sewaktu menaci pekerjaan baru, aku mencoba menulis novel.”

Ketiga adalah sebuah pertemuan konspirasi jahat antara Kyeong-jin (Jeong Eun-chae) dan Sook-ja (Kim Hye-ok). Sebelum dimulai sesi ini, kita disuguhi adegan teko penuh air putih yang meresap teh dan setelah bermenit-menit airnya kini berubah warna. Mantab! Kita diminta menyaksikan perubahan warna air seolah penelitian ilmiah. Setelah pertemua sepasang laki-perempuan, kini kita dihadapkan perempuan-perempuan. Ngegoliam menentukan arah. Kyeong-jin adalah seorang penipu yang merencana menikah dengan pria istimewa. Sebuah tangkapan besar istilahnya, padahal bukan lelaki kaya, tinggal di desa bahkan masih miskin karena baru sebulan kerja. Target tipu sejatinya adalah bosnya, eh malah jatuh hati sama anak buah. Maka jadikan ini adalah momen istimewa karena melibatkan hati. Ia meminta Sook-ja untuk berakting menjadi ibunya, menulis naskah sandiwara pertunangan dan penikahan, lalu detail-detail saat disampaikan malah membuat Sook yang penipu ini tampak merenung sedih, sejatinya sangat personal karena tanggal nikah yang direncana sama dengan tanggal nikah anaknya 30 Mei, dan anaknya kini sudah tiada, menambah kepedihan, sang gadis memiliki nama kecil ‘Kura-kura’ yang lamban, yang dibesarkan dengan cinta, dan penuh kasih sayang. Hiks. “Itu tepat sebelum pernikahan putriku.”

Yang keempat terjadi setelah hujan di malam hari, adalah sepasang mantan kekasih yang janjian ketemu jelang pernikahan Hye-kyeong (Im Soo-jung). Calon suaminya sedang di New York maka ia berencana melepas masa lajang dengan ketemu mantan kekasih, mengajak selingkuh, mengajak menghabiskan masa bersama sebelum benar-benar berpisah. Mau selamanya, minimal dua tahun ya biar kamu tetap tampan. Nope. Minimal sampai hari H deh. Nope. Yah, malam ini aja. Nope! Woon-cheol (Yeon Woo-jin) adalah lelaki canggung, merencana ini jadi pertemuan akhir dengan Hye, apapun alasannya. malam sebelumnya padahal ia bermimpi bercinta dengannya, menghabiskan hari indah dan berjalan bersama ke masa depan. Kesempatan itu sejatinya ada, karena Hye yang tampak sekali mencintainya menantangnya bila ingin membatalkan pernikahan ia siap bersama, bahkan bila Woon mau menjadi kekasih gelapnya sebelum atau sesudah nikah, ia siap. Cinta memang pedih kawan. Namun keputusan harus diambil. Dan di sinilah kedewasaan manusia diuji. Waktu memang kejam, sangat kejam, waktu linier tak bisa dipinjam untuk hura-hura kawan. Dan kalian hei manusia, akan dilindas zaman, mati dan diganti generasi. Karena bila tercipta, dosa satu akan merentang dosa yang lain. “Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.”

Meja itu menyaksikan semua keputusan-keputusan yang diambil manusia yang fana. Letupan kecil emosi, tawa tertahan, dan seni bicara setiap individu. Dan kita menjadi saksi pula akan drama haru biru segelintir nasib manusia. Meja, ya, meja. Bisa-bisanya jadi film unik nan menawan. Skoringnya karya Narae, bagus banget. Petikan akustik lembut yang mengisi kemeriahan dua manusia bercengkrama, seolah musiknya adalah musik kafe yang memang ada dalam film, padahal jelas ditempel.

Kisah ngobrol di kafe mengingatkanku pada kumpulan cerita pendek karya Yusi Avianto Pareanom berjudul ‘Rumah Kopi Singa Tertawa’ di mana dalam sebuah resto ada beberapa meja yang menyajikan dialog para pengunjung. Tak ada sangkut paut antar meja memang, tapi jelas sajian obrolannya tajam. Kata Hercule Poirot, “Kata-kata, Mademoiselle hanyalah kulit luar sebuah gagasan.”

Obrolan intens dalam The Table sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Saya malah menduga sebagian kisah adalah pengalaman sang Penulis. Beberapa adegan juga langsung mengingatkanku pada masa lalu dengan sang mantan. Hiks, bagaimana ia meninggalkanku untuk menikah dan menghabiskan malam terakhir H-1 dalam obrolan telpon sampai subuh. Duh, lupakan. Kisahku tak seromantis film drama. Tapi sama anying-nya.

Telinga yang mendengarkan, mata yang melihat, mulut yang membentuk kalimat, indahnya percakapan. Ceritakan padaku lebih banyak lagi, saya mendengarkan. Ngegoliam di atas meja, ini menyenangkan sekali.

The Table | Year 2016 | Directed by Jong-Kwan Kim | Screenplay Jong-Kwan Kim | Cast Jung Yu-Mi, Jung Jun-Wo, Soo-mi Jung, Ye-Ri Han, Eun-Chae Jung, Sung-Woo Jeon, Hye-Ok Kim, Woo-jin Yeon | Skor: 4/5

Karawang, 270719 – Mariah Carey – Obsessed

Iklan

Buffalo Boys: Koboi Lokal Dengan Lenguh Kerbau

Naikkan taruhannya!”

Trailer-nya bagus banget, melambungkan harap. Saat filmnya tayang, ternyata ga sesuai hype dimula. Cepat tenggelam, dan setelah setahun akhirnya, akhir pekan lalu saya berkesempatan streaming. Dan benar saja, ga semegah yang diharap. Sempat masuk ke dalam web Amerika sebagai film 20 action movie of the year semester ini, namun itu tetap saja tak cukup menolong. Ceritanya tak lebih bagus dari Wiro Sableng yang tahun lalu juga terpuruk. Dengan bintang-bintang besar dari ario Bayu, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo sampai Happy Salma. Premisnya mengarah ke film koboi dengan kearifan lokal. Bukan kuda yang ditunggang, tapi kerbau! Untung kerbau bukan kambing. Kalau suatu saat Timur Tengah tertarik membuat kisah serupa, bisa jadi Camel Boys adalah pilihan pas.

Setting-nya adalah Indonesia abad 19 dalam masa kolonial Belanda. Negara ini tengah dijajah dalam fisik dan mental. Tersebutlah pendekar lokal Hamza (Mike Lucock) yang secara dramatis tewas saat melarikan diri dari kejaran penjajah kejam Van Trach (Bussemaker). Menyisakan Arana (muda_Donny alamsyah) bersama dua bayi dalam perahu. Mereka lalu merentang jauh ke Amerika untuk menemukan kedamaian, dan waktu lalu digulir percepat di tahun 1860.

Dalam sebuah kereta api yang melaju, tersebutlah sebuah tarung judi. Kini kedua bayi yang selamat itu telah dewasa dengan gagah dan jantan. Suwo (Yoshi Sudarso) bandar judinya, Jamar (Ario Bayu) yang ladeni musuh yang berbadan besar. Pertarungan itu menghantar memori ke Indonesia, maka mereka bersama Arana (tua_Tio Pakusadewo) mengembang misi dalam perjalanan mudik. Mereka pulang ke Indonesia untuk menuntut balas! Ah tema klise yang selalu ada. Ziarah dengan setting tempat, latar candi. “We have to go back to avenge your father.”

Di hutan, bertemu perampok, mencoba memperkosa korban dalam pedati. Dihajarlah perampok yang dipimpin oleh Fakar (Alex Abbad) dan dilukai satu matanya. Sri (Mikha Tambayong) dan sang kakek berterima kasih, menawarkan trio ini ke kampung untuk disambut, minimal minum kopilah. Di kampung itu, mereka dalam tekanan kolonial, terkait kesetiaan, pajak, dan aturan adat dusun. Sebelum konflik beneran ada, datanglah yang ditunggu-tunggu karakter film ini, Kiona (Pevita Pearce) sang buffalo girl, menunggang kerbau pacu saat pulang. Keluarga ini tampak tertekan. Lalu muncullah penjahat, Drost (diperankan dengan cool oleh Daniel Adnan). Segala geriknya mantab, bak Joker yang mengintimidasi. Ia meminta keterangan masalah tiga orang buron, awalnya pada bungkam, tapi karena orang tua Sri memiliki masa lalu traumatis, ia berujar melihat mereka dan mereka kini bersembunyi. Tak ada maaf bagi penghianat. Ia ditangkap dan akan dijatuhi hukuman mati.

Di kantor sheriff, hukuman mati dijalankan di tengah kampung. Hukuman yang dilakukan di depan warga sebagai efek jera. Tampak sadis, tampak sangat mencekam. Di perkumpulan inilah kita menyaksikan laiknya film-film koboi yang kita kenal. Ada arena judi, kantor pajak, tempat pelacuran, bank yang korup, pedagang dan pembeli yang hilir mudik, penjual bunga, sampai bar yang menyajikan minuman keras dalam kaidah yang mumpuni. Semua setting tempat dibuat semewah mungkin, lumayan berhasil. Demi menegakkan keadilan versi penjajah, semua warga menyaksikan. Termasuk jagoan kita yang menyelinap.

Mereka membara dendam, bersiap menembak Van Trach dengan bermodal laras panjang bak sniper. Sayangnya ada kendala lagi, Arana menyaksikan ada perempuan cantik Seruni (Happy Salma) yang merupakan orang special masa lalunya, menghalangi sasaran sepintas lalu, membuat goyah, membuat mengurungkan niat menarik pelatuk. Mereka kembali menyusun strategi, para musuh mengancam, mau menyerahkan diri atau ada warga yang mati. Dan adegan berikutnya justru petaka, rumah dibakar, pengobanan yang menyakitkan, ini seperti penebusan dosa. Tak ada tombol rewind akan waktu. Semua sudah jadi abu.

Misi itu harus berlanjut. Dengan persenjataan lengkap, dengan modal mental dendam penuh baja, dengan dua kerbau yang gesit nan lincah, dengan peluru renceng yang melilit tubuh (dalam akhir film masih utuh), dengan kekuatan bulan akan melakukan pembalasan, mereka memutuskan menyerbu, berhasilkan mereka memporakporandakan kezaliman para londo? Film ini dibintangi Hanah al Rasyid? Ada yang mengenalinya? Coba kita lihat lebih dekat!

Bagian akhir saat mereka menyerang itu langsung mengingatkanku pada adegan akhir The Magnificent Seven. Bedanya dibalik, dari Hollywood para jagoan yang defensif, dalam Buffalo Boys mereka posisi menyerang. Beda paling mencolok ya jelas kualitas efek dan keseruan. Klimaknya beda. Magnificent meledak bak meriam yang tepat sasaran lalu dipenuhi konveti kemenangan mewah, megah, nan mempesona, dalam Bufallo malah adegan ngobrol jarak dekat, adu tembak mengingin mirip Lucky Luke, minus kecepatan bayang. Bahkan adegan dalam trailer saat wajah Pevita kena muncrat darah, baru muncul di ujung, dan cuma sepersekian frame. Sayang sekali. Kurang gahar, kurang mencekam, kurang aksi, kebanyakan slot ngegoliam. Dan parahnya lagi, era penjajahan Belanda tapi dialognya English. Entah kenapa ga sekalian Indonesia saja, toh ini film setting di Indonesia. Bandingkan film pendekar zaman Advent Bangun atau Barry Prima yang para penjajah ngumpat juga pakai bahasa Belanda. Terkait pilihan bahasa, saya jadi ingat film Valkyrie-nya Tom Cruise, yang dengan cerdik membuka kisah dengan bahasa Jerman lalu diseimbangkan bahasa Inggris, sehingga akhirnya mahruf seluruhnya Inggris. Sehingga tanpa banyak penjelasan kita tahu, setting di Jerman dengan kenikmatan Internasional. Ga seperti Buffalo yang campur baur, salah kaprah, ga jelas. Atau bisa dibilang poin inilah terpenting, secara cerita buruk sekali, plothole bertebaran, ketebak sekali arah cerita, sifat para karakter juga gamblang mana hitam mana putih, tak ada abu-abu, secara dialog yang disajikan juga ga memorable malah ada diskusi konyol, semisal kalajengking, ‘duh!’, secara keseluruhan sungguh-sungguh biasa. Bahkan untuk menambah kenarsisan sang sutradara turut serta memainkan peran, walau kecil di akhir sebagai salah satu penjahat dengan kumis melinting sangat panjang sebagai Mango. Boleh aja sih, tapi hampir tak berdampak apapun.

Sisi positifnya, varian film lokal makin beragam ga berkutat di tema horor dan drama komedi. Terbit bersamaan di tahun Wiro Sableng, Buffalo tak lebih bagus dari adaptasi novel Bastian Tito. Sama-sama menawarkan adu tangkas pendekar, bedanya asli Indonesia versus ala koboi. Sejatinya kelebihan utama kisah ini adalah action! Walau action-nya sedikit sebenarnya cukup menjanjikan. Tembak jarak dekat, adu badik bak jagoan, tembak-tembakan di lantai atas ala koboi jadul, kelahi tangan kosong, sampai syarat film aksi penuh ledakan dan darah memancar ada, bonus adegan kekerasan seks yang absurd. Sekali lagi, sayangnya sangat sedikit. Kurang macho dan kurang laki dan kurang bad-ass.

Perlu diperbanyak adegan kelahi laiknya film-film Guy Richie yang penuh satir, opening yang kece lho padahal. Perlu cerita yang kuat untuk menopang alur, ide koboi naik kerbau saja sudah tampak seksi. Gadis cantik dengan make up berlebih sampai tak dikenali sah saja, toh sekadar karakter sempalan. Perlu juga akhir sedih, sehingga pecinta kartun Disney sewot. Film koboi dengan lenguh kerbau sejatinya cukup menarik, rasanya akan lebih sedap jika ditambah pula sedikit humor. Kita sudah biasa dikerjai tavok sesepuh, tak ada yang melarang membawanya ke layar lebar. Semangat Bert!

Buffalo Boys | Year 2018 | Directed by Mike Wiluan | Screenplay Raymond Lee, Mike Wiluan | Cast Yoshi Sudiarso, Ario Bayu, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Daniel Adnan, Happy Salma, Mikha Tambayong, Donny Alamsyah, Donny Damara, Alex Abbad, Hannah al Rasyid, Conan Stevens dan Mike Wiluan | Skor: 2.5/5

Karawang, 240719 – M2M – Jennifer

Alice Through The Looking Glass – Lewis Carroll

Boleh saja kau mengatakannya ‘tak masuk akal’, tetapi aku telah mendengar banyak hal tak masuk akal yang kalau dibandingkan dengan ‘tak masuk akal’-mu lebih masuk akal seperti kamus.” – Ratu Merah

Buku yang aneh sekali. Masih bagusan yang seri pertama, Alice In Wonderland karena terasa original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh diluar nalar. Setelah membaca Alice Through The Looking Glass, rasanya film adaptasi tiga tahun lalu terasa terjemahan sangat bebas karena tak ada misi menyelamatkan Mad Hatter, di sini bahkan tak disebut. Adegan ikonik saat ini jatuh dari langit yang sangat lamaaaaaa itu penyesuaian, di noevl ga ada sama sekali. Misi di Alice Through lebih ke personal yang menjelajah dunia antah, antara mimpi dan selipan khayal, antara dunia terbalik dengan imajinasi terlampau tinggi. Semenit lalu balap lari, semenit lalu, ngerumpi dengan bunga mekar, semenit lalu, terhempas dalam laju kereta, semenit lalu menyaksikan adu kuda, semenit lalu menatap tembok dengan telur raksasa di atapnya dalam renunagn, semenit kemudian menjelma Ratu. Cerita acak yang menantang nalar. Alice In Wonderland masih sangat bisa diikuti, Alice Through sudah benar-benar melampaui kegilaan. “Tahukah kamu, hari ini banyak sekali puisi dibacakan padaku. Anehnya – sangat aneh menurutku – semua puisi sedikit banyak menyinggung tentang ikan. Kanapa di sini semua senang pada ikan?

Kisahnya Alice (kini berusia tujuh tahun enam bulan) dan Dinah, kucing kesayangannya sedang di kamar bermain dengan benang dan bola menghabiskan waktu, Dinah kini punya anak kucing Kitty. Lalu dalam keisengan Alicer bertanya, “Kitty, dapatkah kau bermain catur? Ayolah, jangan tersenyum sayang. Aku bertanya serius…” dan karena kesal Alice sampai mengancam, “… dan kalau kau tidak mengubah perilakumu segera, akan kumasukkan kau ke Rumah Kaca Cermin.” Dari omong kosong tentang cermin yang bisa ditembus itu malah menjadi nyata, mula-mula ada asap tipis menyelingkupi. Pura-pura kacanya melembut hingga bisa menembus masuk.

Di dunia cermin segalanya berbanding balik. Apa yang dialami Alice tentu saja dialami Pembaca. “Aku tak mengerti. Begitu membingungkan.” Dan Sang Ratu menjawab. “Itu akibat dari hidup dengan mundur. Awalnya selalu membuat bingung.” Semua makhluk di sini bisa bicara, dan kebun beralaskan seolah papan catur terbentang. Imaji saat ia mengajak Kitty main catur kini mewujud. Alice di dunia cermin untuk beradu strategi main catur!

Tak apa menjadi bidak, asal boleh ikut main – walau tentu saja aku ingin menjadi ratu.” Begitulah, para prajurit saling adu tangkas. Kuda yang diajak bertukar pikir, benteng menjulang dalam nuansa istana. Alice dalam misi menjadi ratu. Mula-mula ia adalah pion, menjelajah hutan. Bertemu banyak kenalan, monster Jabberwocky. Lalu kebun bunga daisy dan mawar yang berisik, bunga Lili Macan yang suka celoteh. Lalu adegan lari, lari yang seolah tiada henti sampai kelelahan karena semakin cepat Alice maju jarak yang dicipta malah makin melebar. Well, ingat alice ini dunia cermin!

Yang membuat aneh sekali tentu saja saat Alice tiba-tiba ada dalam laju kereta api, kepada sang masinis ia memberitahu tak punya tiket. Teman duduknya yang aneh, dengan serangga Agas yang memberi klu demi klu. Mungkin inilah hutan di mana semunya tak punya nama. Tiba-tia seolah dihempaskan ke hutan bertemu anak rusa yang terkejut bertemu anak manusia, saat di percabangan jalan di mana keduanya mengarah ke rumah Tweedledee dan rumah Tweedledum. Kalau yang ini sudah kita temui di seri pertama. Memang begitulah yang terjadi, mungkin terjadi, dan kalaupun terjadi, mestinya terjadi seperti itu. tetapi karena tidak terjadi, maka tidak terjadi. Itulah logikanya.

Di dunia cermin puisi adalah sebuah kebiasaan. Banyak sekali sajak dibacakan, baik sekadar untuk pemanis, untuk teka-teki, atau untuk teman ngelantur, pengantar tanya-jawab, yang semestinya malah jauh lebih membingungkan karena bermain diksi. Seperti penafsiran mimpi. “Kalau dia tidak bermimpi tentang kamu, kamu berada di mana? Kau akan tidak ada di mana-mana. Kau hanya bagian dari mimpinya.

Setibanya di sebuah toko, Alice disapa Domba penjaga toko. Alice tak tahu kenapa ia di sana, maka ia menjawab tak tahu, mungkin melihat-lihat dulu. Sang Domba yang pusing, malah berujar Alice seorang anak atau gasing, dan ia bisa mengambil barang seolah dari udara. “Yang terindah selalu paling jauh.”

Dan setiba di sebuah tembok menjulang, Alice melihat telur di atasnya. Telur itu ternyata adalah Humpty Dumpty! Ia duduk bersila di puncak tembok tinggi. Berdiam diri seolah patung. Ia semacam filsuf. “Persoalannya adalah apakah kau bisa membuat kata-kata dengan banyak arti yang berbeda-beda.” Alice dengan enteng dijawab Humpty Dumpty, “Persoalannya adalah kata-kata mana yang akan menjadi pemimpinnya – hanya itu.” dan hadiah yang kita tunggu tiap tahun dalam ulang tahun membuat si Humpty ketawa, kenapa menunggu hadiah satu dalam setahun kenapa ga dibalik saja, hadiah di 365 dalam 366 hari? Hanya di hari lahir kita tak memerlukan hadiah. Wow.

Dalam hutan, Alice bertemu pasukan. Mula-mula tiga, empat lalu bersepuluh, dua puluh, banyak sekali. Pasukannya ribuan, kacau. Bersama Raja dan sang pembawa pesan, mereka berteka-teki. Mereka lalu menyaksikan pertarungan Singa versus Unicorn. Bersama Hatta melaporkan perkembangan terkini perang. saat dalam diplomasi, terdengar suara genderang bertupi, membuat Alice menutup telinga dan memecjamkan mata. “Kalau suara genderang ini tidak bisa mengusir mereka tak akan ada lagi yang bisa.

Semua cepat sama saja, tetapi sungguh ceroboh memakai helm orang lain dengan pemiliknya masih ada di dalamnya.” Saat kembali tersadar, Alice sendirian di hutan melanjutkan perjalanan dan bertemu dua Kesatria hitam dan merah memperebutkan Alice untuk dijadikan tawanan. “Aku tak tahu. Aku tak ingin menjadi tawanan siapapun, aku ingin menjadi ratu.” Keduanya adu tangkas untuk menjadi pengantar Alice menuju istana. Bagian narasi indah tersaji di halaman 130. “… Bertahun-tahun berselang ia bisa menceritakan kejadian ini dengan sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin – mata biru lembut dan senyum ramah si Kesatria, sinar matahari terbenam membuat rambutnya gemilang, dan terpantul menyilaukan dari baju logamnya, kudanya bergerak tanpa tujuan, dengan tali kekang menggantung di leher, merengguti rumput di dekat kaki Alice, dan hutan membayang gelap di kejauhan – semua itu bagaikan lukisan indah bagi Alice yang melidnungi matanya dengan telapak tangan sambil bersandar pada pohon, memperhatikan pasangan kuda dan penunggangnya serta mendengarkan setengah bermimpi lagu berirama sedih itu.” Seni naik kuda adalah menjaga agar tak ada tulang yang patah. Kurasa tidak, seni naik kuda adalah menjaga keseimbangan dengan baik.

Kotak kedelapan, akhirnya.” Dan saat langkah Alice menuju final di papan kotak kedelapan, berhasilkan Alice menjadi ratu?

Otakku akan tetap bekerja. Bahkan makin sering kepalaku di bawah, makin sering aku membuat penemuan baru.” Banyak hal merumitkan diri, membuat dahi berkerut. Semakin tipis halaman, semakin ngelantur. Puisi berserakan. Pengandaian ada di mana-mana, lha judulnya saja sudah aneh kan. Nasihat sang Kesatria patut dituangkan. “Selalulah berkata jujur – berpikir sebelum bicara – dan catatlah sesudah itu.”

Penampilan dua ratu selalu menarik perhatian, mereka berdebat dan saling oceh seolah dunia memah tempat keluh kesah. “Pikirannya agaknya sedang dalam tahap ingin membantah sesuatu, hanya saja dia tak tahu apa yang harus dibantahnya.” – Ratu Putih / “Sifat jahat dan pemarah.” – Ratu Merah. / “Mungkin kesabarannya juga pergi. Sungguh ini percakapan yang konyol.” – Alice

Realitas hidup adalah hidup hari ini. Berlama-lama bermain di cahaya berseri, Hidup ini bukankah hanya mimpi? Alice di Negeri Cermin, tak ubahnya sebuah dunia maya yang ideal untuk lari dari realita yang keras ini. “Dia mungkin demam karena terlalu banyak berpikir.”

Alice Di Negeri Cermin | By Lewis Carroll | Diterjemahkan dari Alice Through The Looking Glass | GM 616189002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penerjemah Djokolelono | Desain sampul dan ilustrasi sampul Ratu Lakhsmita Indira | ISBN 978-602-03-2505-7 | 176 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 210719 – Gloria Estefan – Don’t Wanna Lose You

Origin – Dan Brown

Origin – Dan Brown

Kita harus rela membuang kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kitaJoseph Campbell

Semua ketebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bisa tahu endingnya. Mungkin karena saya sudah mulai terbiasa membaca cerita detektif, mungkin karena saya sudah menikmati buku Sapiens-nya Yuval Noah Harari, mungkin juga karena saya sudah membaca Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Origin benar-benar mengikuti arus, mengikuti alur yang sudah saya perkirakan. Lantas kenapa nilai saya masih kasih tinggi? Kehebatan Dan Brown tetap pada pace cerita yang cepat, pembawaan yang asyik, serta selalu mencoba sedramatis mungkin. HP terjatuh tak sengaja ketika benar-benar dibutuhkan? Salah password karena tombol capslock terpencet? Presentasi kegagalan menyatakan kehidupan awal dari sup primodial? dst…, hanya dramatisasi yang dicipta berlebihan. Selalu, hebat jua berhasil memukau setiap pergantian bab. Saya mulai baca Selasa (02/07/19) dan selesai baca Sabtu (06/07/19) dengan satu lagi yang repeat tak jemu: Milk and Toast and Honey bisa seribu kali terdengar, untuk buku setebal 500 halaman dengan cetak lebar, jelas ini sebuah prestasi. Dan hanya buku-buku istimewa di atas 500 halaman yang bisa kuselesaikan baca kurang dari seminggu. Origin menawarkan pergulatan sains versus agama, jelas bukan hal yang baru. Origin membawa tanya semesta, kita dari mana, kita mau kemana? Bukan hal baru, pula. Dalam agama, hampir semua agama, aliran apapun mengajarkan: ‘Kita dari Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan.’ Apalagi teknologi yang ditawarkan, dari mobil tanpa sopir Tesla X, Uber mobil, modifikasi ruangan dan aula, sampai kemungkinan Komputer bisa berpikir. Origin mengajak kita tamasya ke tempat-tempat eksotis, warisan dunia. Sebuah jejak yang selalu dilakukan Robert Langdon, semua buku Dan Brown juga gitu (kan?!). Kali ini kita diajak ke Spanyol, lebih tepatnya tempat-tempat keramat di Bilbao, Barcelona dan Madrid. Bayangkan, dalam sehari semalam di tiga kota itu dicipta kehebohan, khas Dan Brown yang membawa-bawa sang professor dengan gadis pendamping yang jelita. Memang hanya sedikit sekali hal baru yang ditawarkan Origin, tapi pergulatan hati akan reliji yang terus melaju masih sangat bisa dinikmati.

Kisahnya dibuka dengan sebuah pertemuan rahasia antara seorang futuris ateis Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama mayoritas dunia, seorang Rabi Koves mewakili Yahudi, seorang ulama Syed al-Fadl mewakili Muslim dan Uskup Antonio Valdespino mewakili umat Kristiani di sebuah perpustakaan keramat Montserrat di Catalonia, Spanyol. Mereka sedang diskusi tentang agama dan sains, lebih tepatnya Edmond memperlihatkan sebuah temuan asal mula manusia dan akan ke mana, yang katanya akan mengguncang dunia, mengguncang iman umat yang paling fanatik sekalipun. Tergambar, ketiganya sangat khawatir dan mencoba mencegah temuan itu disebarkan. Sempat membuatku berkenyit dahi, wah temuan seberbahaya itukah? Sampai-sampai tiga pemuka agama terbesar di dunia, gemetar?

Edmond berencana membuat pengumuman penemuan itu sebulan lagi, nyatanya hanya berselang beberapa hari ia membuat semacam seminar mewah di Museum Guggenhein di Bilbao. Yang konon terlihat seperti suatu halusinasi makhluk luar angkasa, bentuk kolase bergelombang, meliuk, acak. Dengan arsitek Frank Gehry yang diresmikan tahun 1997. Dengan pengamanan canggih, dengan tamu undangan terbatas orang-orang penting, orang-orang terpilih, dengan penampilan dan sambutan yang luar biasa dalam museum bersejarah, anehnya seluruh tamu ga ada yang tahu sang pengundang akan mempresentasikan apa, termasuk tuan rumah, hanya promosi ini akan jadi temuan terhebat abad ini. Temanya: ‘SEMALAM BERSAMA EDMOND KIRSCH’. Salah satu tamunya adalah Robert Langdon. Edmond adalah salah satu mahasiswa Langdon yang sukses, lulusan Havard, seorang pecandu komputer, futurist, ateis dan mantan dosen ini mendapat kehormatan. Ketika masuk ke dalam museum, setiap tamu akan diberi earphone, awalnya dikira setiap tamu mempunyai pemandu museum, satu-satu sehingga tampak istimewa dan intim. Ternyata bukan, sang pemandu adalah satu komputer. Dimana mereka bisa merespon, membantu setiap orang untuk ngapain aja, menjelaskan seni yang dipamerkan. Pemandu Langdon bernama Winston, kalian nantinya akan tersenyum saat tahu nama ini dari mana berasal. Keterkejutan Langdon bisa saja mewakili pembaca, temuan ini maju sepuluh tahu lebih cepat. Komputer cerdas yang bisa berpikir? Juga bukan barang baru, film Her salah satunya memberi gambaran pada kita bahwa System Ios bisa menjadi teman, bukan sekadar teman ngobrol tapi juga teman kencan. Di sini Winston menjadi pemandu, teman diskusi, seorang pelayan, sampai partner memecahkan misteri. Hebat, rasanya pengen segera tahu sepuluh tahun lagi akan seperti apa.

Di antara tamu yang hadir, ada seorang pensiunan Angkatan Laut, Laksamana Luis Avila. Tamu tambahan di menit terakhir, sekali lagi dibuat dramatis. Sedari mula kita tahu, ia temperamen, kecewa akan hidup masa tuanya karena tragedi bom di Sevilla menewaskan anak istrinya, ia sempat akan bunuh diri, sampai akhirnya menemukan ketenangan hati, menemukan kedamaian dalam agama. Bukan Katolik umum yang kita kenal, ia ternyata menjadi umat Jemaah Palmarian, sebuah aliran agama Kristen yang menentang Paus, sehingga mendirikan aliran baru dengan komunitas terbatas dan khusus. Dengan Paus sendiri, Paus Palmarian dengan yang pertama adalah Paus Clemente tahun 1976. Yah, mungkin mirip dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) kalau dalam Islam. Cabang aliran agama, apapun agamanya selalu ada.

Saya juga perlu menjelaskan karakter ceweknya. Adalah sang pemilik museum, seorang wanita cantik yang menjadi tunangan Pangeran Spanyol, Pangeran Julian. Proses Ambra Vidal dilamar dibuat dramatis, ketika acara pagi hari di tv live, sang pangeran berjongkok dan memintanya menjadi pasangan. Siapa yang bisa menolak pangeran? Pangeran romantis lagi! Ambra tak punya pilihan lain. Tampak ia berjiwa bebas, cocok untuk pemikir pemberontak. Sebagai calon ratu, di acara besar, ia dijaga langsung dari kemanan kerajaan, Guardian Real dengan duo yang akan menemani kita sepanjang kisah: agen Fonseca dan agen Diaz. Sayang sekali, beberapa karakter tak berdosa menjadi korban tewas konspirasi ini, termasuk mereka berdua yang berdedikasi. Dunia memang tak adil, kadangkala.

Satu lagi, saya juga harus menulis nama Uskup Valdespino yang istimewa sepanjang kisah. Ia adalah kepercayaan raja, menjadi penasihat kerajaan yang peranannya jauh lebih penting ketimbang kepala keamanan Garza, humas gaul milenial Monica Martin, banyak keputusan raja diambil berdasarkan diskusi dengan sang uskup. Kejutan hubungan mereka agak janggal sih, tapi hati Raja siapa yang tahu? Perlu saya sampaikan, al-Fadl tewas di tengah gurun, jelas dibunuh karena niat menyebarkan penemuan Edmond. Lalu Rabi Koves juga dibunuh di sebuah diskotek, ini pembunuhan yang dilakukan seorang hitman. Hanya sang Uskup yang selamat, sehingga ia kini tersudut, dituduh menjadi dalang. Saya bisa nebak, tidak, dan kalian bisa pegang ini juga saat menikmati buku ini. Sebuah situs konspirasi sekali-kali muncul dalam selipan bab menjelaskan alur. Misteri siapa pemasok informasi dari dalam itu adalah monte@ihlesia.org, nah identitasnya ketika dibuka terlihat keren. Situs dengan alamat ConspiracyNet.com menjadi kunci yang membantu Brown mengalirkan kisah, menjadi alat bantu Pembaca mengungkap, sekaligus pengecoh.

Kehebohan Origin dipatik oleh pembunuhan Edmond Kirsch tepat saat ia akan mempresentasikan temuannya, tepat di atas mimbar, dengan kamera menyala siaran langsung ke seluruh dunia dengan penonton menyentuh angka tiga juta, sebuah kasus pembuhuhan dramatis yang ada hanya dalam kisah fiksi. Yang akan dikenang ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Kau hanya akan punya satu kesempatan, meraihnya sangatlah penting. Sang pembunuh adalah Laksamana Avila atas perintah Sang Regent, ia seorang pengsiunan tapi masih bisa melakukan dengan tembakan akurasi sempurna, menggunakan salib modifikasi sehingga bisa dirubah menjadi pistol, bisa meloloskan diri sebegitu mudahnya dalam pengamanan super ketat, dan karena Langdon muncul dalam video, ia ditangkap. Dituduh terlibat, termasuk Ambra sang pemilik museum jua bertanggung jawab. Namun dengan bantuan Super Komputer Winston, mereka berhasil meloloskan diri. Dengan dramatis pula. Naik kapal, naik jet pribadi, lalu helicopter, luar biasa. Semua itu terjadi hanya dalam semalam! Bahkan Will Gates saja bisa terheran-heran.

Misi ini kemudian berubah menjadi adu cepat, Langdon dan Ambra mencoba membongkar video Edmond untuk disiarkan ke internet, sementara pihak Gereja mencoba menjegalnya, dan pihak kepolisian Spanyol mengejar sang pelaku pembunuhan demi harga diri bangsa. Pangeran Julian yang didesak memberi keterangan. Semua saling silang dalam drama penuh aksi, khas Dan Brown. Pertanyaan jelas, bukan akankah Langdon selamat, karena karakter sepenting ini pastinya akan ada seri berikutnya, sekalipun sudah ditembak dengan ujung pistol menempel di dada, Brown ga akan berani menyingkirkannya, sekalipun berulang kali pula peluru hampir mengenai, terguling dalam pecahan kaca, lari Robert lari! Seolah remaja baru lulus sekolah dengan fisik prima. Bukan pula, akankah rahasia kehidupan ini berhasil terbongkar, akankah menguncang iman Anda? Iman kita? Bukan. Ga ada hal baru dalam penemuan Edmond, semua yang disiarkan sudah banyak bisa kita baca di buku-buku filsafat yang tebalnya bisa buat lempar kucing berisik di garasi. Pertanyaan sejatinya ada di masa depan, yang bertahan nantinya Agama atau Sains? Karena menurut prediksi Brown hanya satu yang bertahan! Dan kemungkinan Homo Sapiens yang tersingkir, dalam waktu masa depan yang tak jauh lagi. Ah masa depan yang misterius.

Hampir ga ada hal baru dalam Origin, ironi judul buku ya. Original tapi ga ada yang original? Semua adalah modifikasi hal-hal yang pernah ada. Dari mana asal kita tidak semengejutkan ke mana kita akan pergi. Ah terlalu berlebihan respon tiga pemuka agama tersebut, buktinya setelah membacanya saya juga biasa saja. Kurang bukti, kurang seksi, kurang meyakinkan. Di sini Dan Brown gagal menyakinkan kita semua, mayoritas deh kalau ga mau disebut semua. Teorinya ga kuat, dan prediksinya tentang masa depan manusia juga sudah banyak (coba) diungkap banyak ilmuwan. Hampir semua yang disampaikan adalah ramuan banyak bumbu. Dipadukan, disadur, diceritakan ulang dengan taburan aksi menakjubkan, memikat, nah kelebihananya ya di sini. Aksi Langdon yang sangat seru. Beberapa hal yang asyik di sini: “Timing sangatlah penting.” Benar apapun yang kalian hadapi, ketepatan waktu jelas masuk proritas. Lalu misteri empat puluh tujuh kata puisi, yang terus membuat tanya, puisi siapa? Apa sebenarnya kalimat yang dimaksud? Aku berada di dalam gunung, aku pasti sedang bermimpi. Hentikan tembakan, sarungkan senjata kalian. Origin hanyalah aksi tipu sang agen, dengan efek sekeren animasi Hollywood. Terjemahan bebas kumpulan puisi William Blake tahun 1790-an Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

Tyger tyger, burning bright? In the forest of the night.

Origin | By Dan Brown | Diterjemahkan dari Origin | Terbitan Doubleday, New York 2017 | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, November 2017 | Penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, dan Dyah Agustine | Penyunting Esto Ayu Budihabsari | Book design by Maria Carella | Jacket design by Michael J. Windsor | Jacket photograph: spiral stairs © rosmi duaso/Alamy | background © Birute Vijeikiene / Shutterstock | Pemeriksa aksara Eti Rohaeti, Oclivia Dwiyanti P., Aninda Pradita Haryawan | Copyright 2017 | 516 hlm.; 23.5 cm | ISBN 978-602-291-442-6 (softcover) | Skor: 4.5/5

Untuk Mengenang Ibuku

Karawang, 090719 – Eva Mayerhofer – Bend // 130719 – t.A.T.u – All About Us // 160719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Baca juga ulasan Inferno dari Dan Brown

baca

The dark religions are departed & sweet science reigns.

Misteri Rumah Masa Lalu – V. Lestari

Tidak tahukah, Mama rasa takut itu tidak boleh diutarkan? Karena kita jadi semakin takut.” – Kristina

Cerita Penulis janda beranak satu dengan segala kegalauannya. Kubaca tepat seminggu (01/07/19-09/07/19) diantara Alice Though The Looking Glass dan Origin, kisahnya memang tak muluk-muluk. Sesuai ekspektasi roman tahun 1990an dengan segala kesederhanaan teknologi. Sangat ketebak alurnya, cerita seakan adalah pengalamanan pribadi sang Penulis V. Lestari atau memang ini kisah nyata? Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, lika-liku kehidupan pengarang lokal dalam menjalani keseharian. “Kau masih ingat nasihat Mama tentang isi hati orang yang bisa berbeda jauh dari penampilannya?

Yosepin (akrab dipanggil Bu Yos) adalah Penulis yang tinggal di rumah kontrakan Nyonya Samosir di Jakarta, induk semang yang kurang ideal karena suka menaikkan uang sewa rumah, suka bergosip, dan basa-basi yang pahit. Saat ini Yosepin mengalami paceklik ide, keuangan yang sedang turun, mantan suaminya Rahadi yang rese karena sering gangguin. Mereka cerai karena suaminya selingkuh. Ditambah lagi, anak semata wayangnya berusia 15 tahun yang sedang mekar-mekarnya suka gonta ganti pacar. Karena kecantikannya Kristina memang terlihat tomboy, laiknya playgirl. Setelah beberapa kali pacaran dengan teman sekolah sebaya, kini malah pacaran dengan lelaki seusia mamanya. Joko, seorang pekerja kantor berusia 33 tahun, lebih muda dua tahun dari Yosepin! Mereka memanggilnya Om Joko. Gmana ga bikin jantungan? Usia pacar anaknya dua kali lipat! Namun pada dasarnya Kristina baik jadi bisa jaga diri. Sebuah ironi dilontarkan. “Berjanjilah untuk lebih berterus terang mengenai perasaanmu. Kalau kau takut katakan saja. Jangan menyimpan sendiri. Bukankah kita bisa saling memberi keberanian?” Jelas sekali di sini hubungan ibu-anak sungguh erat, dan sang putri menjadi primadoa untuk berbagi, senasib sepenanggungan. Yosepin menyukai istilah kita yang digunakan Kristina. Itu menandakan Kristina menganggap masalah itu sebagai masalahnya juga.

Nah, plot benar-benar bergulir ketika sisa waktu perpanjangan kontrak rumah tinggal beberapa hari, diminta uang panjar buat perpanjang, dengan ancaman penghuni baru sudah mengantri, ia tak punya duit, sehingga mencoba bertahan dan mencari pinjaman, mau bilang ke Rahadi ga enak, karena kalau minta tolong ke mantan suaminya ia memberi angin harapan, Rahadi masih cinta, tapi tidak dengan Yosepin. Minta uang muka buat bukunya ke penerbit, malu. Jelas di sini Yosepin sangat menjunjung tinggi nilai hormat. Mau pinjam bank, takut susah cicil kreditnya. Ketika banyak hal yang dipeningkan bersamaan, muncullah malaikat penolong. Ia bernama Taufik SH, seorang pengacara yang tiba-tiba datang ke rumahnya kasih tahu, bahwa Yosepin dapat hibah rumah di Bogor dari seseorang yang misterius bernama Sasmita. “Lebih baik kita berprasangka daripada terlalu percaya.” Antara curiga dan bahagia, Yosepin menerima hadiah tersebut. Tanpa ketemu sosok yang berjasa, karena sang pengacara terikat sumpah jabatan, ia hanya menjalankan kewajiban. Dan Sabtu itu dengan mobilnya Joko, bertiga mengecek rumah di pinggir kali, di kawasan Gawir, Bogor.

Rumah itu tampak kumuh karena lama tak ditinggali, beralamat di Gang satu nomor dua belas A, yang ternyata adalah nomor 13 yang tabu, angka sial, sehingga nomornya disesuaikan (pintar juga idenya, dibuat mistis). Rumahnya retak-retak, pas ditikungan aliran air sungai kali Ciliwung, sehingga pondasinya dihajar air setiap saat. Dan dari tetangganya bernama Bu Sarma, ia tahu bahwa penghuni sebelumnya Pak Sasmita telah tiada, istrinya meninggal dunia karena sebuah tragedi suatu malam hujan dan badai menyeretnya dalam bencana (nantinya jadi sejenis motif menakuti). Mereka tak memiliki keturunan, tampak sering cek cok, dan musibah itu mencipta kemurungan. Lantas kenapa dia meninggalkan rumah itu begitu saja? Akibat kenangan traumatis? Yosepin karena terdesak keadaan, dan sangat membutuhkan rumah bernaung tak terlalu ambil pusing tentang omongan tetangga yang katanya rumah angker, rumah hantu, rumah yang tak aman, mereka tetap memutuskan pindah. Sekalian cari suasana baru, cari ide baru. Tantangan baru.

Kristina pindah sekolah, ia begitu ceria akan suasana asri pedesaan, kota hujan yang sejuk. Cucu bu Sarma, tetangganya bernama Iwan yang nantinya menjadi teman sekolah karena sebaya jadi akrab dan membantu adaptasi. Rumah dua kamar yang misterius itu mencipta aura janggal, malam pertama Yosepin merasa ada penghuni lain di kamarnya, malam berikutnya ada yang seakan memeluknya, padahal ia sendirian di kamar, Kristina ada di kamar sebelah yang ruangnya dipisah pintu penghubung. Kebebasan itu berbahaya, karena membuat orang kehilangan kendali diri. Jadi jangan cuma berpikir toh, tidak akan berbuat macam-macam. Kita itu manusia yang bisa berbuat salah, tergoda setan. Dan setan itu ada di mana-mana. Dan suatu malam di depan rumah ia melihat laki-laki berpeci mondar-mandir melihat rumahnya, mengawasi, pergi lalu mengamati. Semakin membuat cekam. Semalam ia tidak bisa tidur merenungkan semua. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?

Karena dirundung banyak tanya, akhirnya Josepin meminta bantuan Joko untuk menyelidiki masa lalu Sasmita dengan mencari Taufik SH terlebih dulu yang juga misterius karena sudah pindah kantor, lewat iklan baris di Koran, pencarian ala detektif itu membuahkan hasil dan usaha memecahkan identitas sang pemberi rumah serta motifnya, Yosepin juga mencari saudara ibunya yang hilang kontak. Bu Delima yang kini sudah tua, lalu membuka beberapa rahasia keluarga. Nah bagian ini sangat menyentuh hati. Dan betapa mengejutkan ternyata nama Sasmita muncul, jadi bukan karena pemberian gratis dan asal, ada benang yang menghubungkan mereka, ada masa lalu orang tuanya yang mengejutkan, dan hubungan tak restu sampai dosa turunan. Sampai akhirnya suatu malam, rumah masa lalu itu ditempa hujan bertubi yang mengakibatkan longsong, sekali lagi. Akankah mereka selamat? Bagaimana nasib Joko yang terus membantu keluarga ini, apakah benar ada motif tersendiri? Atauakh benar-benar cinta mati kepada Kristina? Bukankah yang nampak pada pandangan pertama ini merupakan tantangan? Bukankah kemandirian itu juga berarti keberanian?

Secara garis besar, cerita ngalir nyaman. Khas tahun 1990an, bagaimana menghubungi penerbit masih dengan telpon meja, surat menyurat, masih butuh printer dengan serba hati-hati cetaknya karena harga kertas mahal. Terima kasih Yahoo! Pencarian alamat seseorang dengan memasang iklan di Koran, keramahtamahan yang masih terjalin di antara warga, tanpa sosmed, tanpa teknologi digital yang mewah. Facebook dan Twitter pun tersenyum. Memang Yosepin sudah menggunakan komputer untuk menulis cerita, sudah mulai meninggalkan mesin ketik. Komputer tidak bisa diperintahkan seperti bos menginstruksikan sekretarisnya.

Komputer generasi awal, yang klasik. Tahun 1995? Hhhmm… yah, simpannya saja masih pakai disket!
Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini, ketika hubungan Joko dan Kristina memang tak lazim, sangat janggal. Saya bisa menebak pasti ada sesuatu dengan alasan hibah rumah ini, tapi ga nyangka juga identitas Sasmita yang ternyata punya alasan sangat kuat. Saya bisa menebak, akhir dari kebuntuan ide nulis Yosepin yang tetap saja bisa kejar dealine. Hal-hal semacam ini lumrah, wajar. Dan V. Lestari mengikuti alur rel tebak itu. Memang tak muluk harapan itu, keunggulan novel ini jelas khas manusia Indonesia. Nama-nama Indonesia sekali, Joko, Iwan, Wati, Sasmita, Didit, Taufik Sarma, dst justru menjadikan terasa asli Indonesia. Konflik yang ditawarkan juga seperti rakyat kebanyakan. Ekonomi, cinta, keceriaan remaja, mistisme, dan syukurlah tak ada sara (suku, agama, ras dan antar golongan) yang disinggung sama sekali di sini. Memang sudah sangat pas. Misteri rumah masa lalu menjadi bacaan novel bagus di tengah bacaan sastra yang berat, kumpulan cerpen melimpah, terjemahan dari Eropa Timur sampai non-fiksi yang sungguh melelahkan. Buku sederhana, yang tampak istimewa. Buku ini juga klasik dalam memetakan karakter orang, yang protagonist akan konsisten baik sampai akhir, yang tampak jahat tetap digambarkan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia. Betapa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang berharga sekali. Sesuatu untuk dinikmati sekarang.

Apalah arti hidup ini bila kita tidak memiliki ketenangan dan ketentraman. Orang tak bisa begitu saja tidur dan melupakn tanggung jawab atau kewajibannya.

Misteri Rumah Masa Lalu | Oleh V. Lestari | GM 401 01 15 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Proofreader Selviana Rahayu | Desain sampul oleh maryna_design@yahoo.com | ISBN 978-602-03-1220-0 | 456 hlm.; 18 cm | Skor: 3.5/5

Teruntuk Ikka Vertika dan Meilani

Ariobimo Jakarta, 110719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Parasite: Kolaborasi Jahat Orang-Orang Miskin

Kebudayaan adalah parasit mental yang muncul secara tidak sengaja, dan sesudahnya memanfaatkan semua orang yang terinfeksi olehnya.” – Karl Marx

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Catat, saya ga kenal semua cast and crew film ini. Saya sangat awam film Asia, termasuk dari Negeri Gingseng. Hanya sesekali lihat, salah satu yang menancap di kepala adalah megahit: Oldboy yang ternyata bagiku biasa saja. Kalian harus mencium banyak kodok sebelum menemukan seorang pangeran. Saya belum banyak mencium kodok Korea, jadi rasanya wajar saya tak menemukan pangeran di sini. Selamat datang di dunia Bong, di mana sedetik setelah tertawa kalian bisa mengeluarkan air mata kesedihan.

Nah, Parasite ini hype-nya lebih gila. Era sosmed membantu mempromosikan segala puja puji. Daun-daun ditempel di banyak sisi poster film seakan jaminan film bermutu. Kisahnya tentang keluarga miskin yang mendamba kehidupan mewah. Kemiskinan orang pinggiran yang lazim kita temui di bantaran kali Ciliwung di Jakarta itu kita dapati juga di Korea Selatan. Satu keluarga terdiri sepasang suami istri dan dua anak. Mereka pengangguran semua. Kerja serabutan untuk bertahan hidup. Cerita dibuka betapa kere-nya. Wifi gratis hilang, ada kecoa ketika ada semprot asap jendela tetap dibuka agar dapat asap gratis, kerja melipat bok pizza malah sebagian besar rusak, ada gelandangan yang hobinya pipis di depan rumah mereka. Ah gambaran jelata yang sempurna. Gambaran orang susah yang pantas untuk diangkat dalam komedi satir.

Catat lagi ya, ekspektasi saya sangat tinggi setelah film ini memenangkan Cannes Film Festival tahun ini, gempitanya luar biasa. Palme d’Or tayang bisokop lokal woy! Saya sampai bilang ke May sebelum mulai, “Kamu bisa berharap banyak ke film ini.” Harga dianggap sebagai tanda kualitas. Siapa yang meragukan Cannes? Di semua lini media menyerang kita, bilangnya penuh pujian kudus, sebagus itu, wow, brilian, film of the year dan masih sangat banyak lagi. Hampir-hampir menyatukan kaum snob dan fan film ledakan. Nyaris semua kalangan bilang keren, sekali lagi nyaris. Dari sineas kenamaan Joko Anwar, rekan sejawat twitter, Grup WA Bank Movie sampai direkap dan semua satu suara, sekali lagi nyaris satu suara. “Twitter dan Facebook membantu saya untuk memutuskan apa yang dipedulikan orang.” Kata Winstead, dan ini mencipta gelombang optimis. Gelembung pecah dalam antusiasme membuncah. Setelah (tidak) ditunggu tiga hari, akhirnya muncul di bioskop Karawang. Awalnya mau nanti-nanti saja, nunggu sabda Lee, lha istri malah confirm ikut. Jadinya kita titipkan Hermione ke rumah nenek, berduaan kita bermalam Jumat (27/06/19) di bioskop. Hiks, ga niat nonton di hari pertama. Malah mendadak duduk dalam sekap di malam pertama tayang di kota tercintah.

Suatu hari seorang kawan yang mapan dan tamvan (diperankan exclusive oleh bintang Seo-Joon Park – yang katanya terkenal dan bikin histeris seisi studio), teman Ki-woo (Woo-sik Choi) ini datang. Memberi hadiah sebuah batu bertuah yang disebut bernilai seni. Batu itu katanya, adalah batu keberuntungan. Ada aura positif yang dipancarkan. Dan ternyata kedatangan si tamvan selain kasih hadiah juga menawarkan pekerjaan. Ia akan kuliah keluar negeri. Ketika menghadapi ketidakpastian, biasanya muncul naluri pertamanya menolak sesuatu yang baru, dan mencari-cari alasan mengapa konsep yang tak biasa itu bisa gagal. Ki-woo walaupun tampak meragukan, ia malah mengambil kesempatan itu. Menjadi guru les pengganti. Ijazah yang dipalsukan lewat photoshop yang jadi keahlian sang adik. Ki-jung (So-dam Park). Ketika satu orang sukses masuk istana tertutup itulah, ia membawa gerbong lainnya. Tak sekadar satu tipuan tertentu yang mencari paparan seni. Seni menipu kemudian menjadi sumber penghasilan yang dahsyat. Sang adik menjelma guru seni buat si bungsu. Lalu berikutnya ayahnya, Ki-taek (Kang-ho Song) menjelma sopir Mr Park (Sun-kyun Lee) yang nantinya menjadikan sang istri (Hye-jin Jang) pembantu sang nyonya rumah Yeon-kyo (Yeo-jeong Jo). Lengkap sudah, kolaborasi jahat orang-orang miskin. Saat keluarga Park liburan keluar kota, berencana menginap, maka secara otomatis keluarga miskin ini menjadi tuan rumah semalam, pesta pora siap digelar hingga sebuah bel rumah berbunyi di malam badai tersebut. Membuyarkan segala halu yang sudah disusun. Sumber daya ekonomi paling penting adalah kepercayaan akan masa depan, dan sumber daya ini terus-menerus terancam oleh para penipu.

Sutradara Rusia Contantin Stanislavski bilang bahwa dalam akting permukaan, aktor tak pernah larut dalam perannya. Mereka menyadari keberadaan penonton dan penampilannya tak bisa otetik. Akting permukaan, “tak pernah menghangatkan jiwamu dan merasuk ke dalam perasaan manusia yang sensitif dan dalam tak bisa diperlakukan dengan teknik semacam itu.” Rasa percaya diri berlebih mungkin cenderung sulit diatasi di wilayah kreatif. Tips menonton film sederhana. Kalian menyadari kondisi bahwa kalian datang untuk menilai acara itu, tidak untuk merasakannya. Akibatnya sejak kalian duduk kalian sudah menghakiminya. Jangan, kalian akan tetap menemukan kejanggalan sekalipun dari pemenang Cannes. Duduk, nikmatilah. Tak pernah ada masalah dengan ide aneh.

Pesulap senang mengelabuhi penonton, tetapi yang terpenting baginya adalah membuat sesama pesulap bingung. Ending Parasite jelas menimbulkan interpretasi beragam. Sebagian membuat bingung, dan muncul kata ‘mengapa si A membunuh si B’, ‘mengapa si itu malah kabur ke sana?’, ‘mengapa dia ketawa adiknya tewas’, dan seterusnya. Ya, mengapa? Mengambil resiko menjadi lebih menarik saat dihadapkan pada kerugian pasti jika diambil. Bayangan kerugian pasti mengaktifkan ‘system go’. Hal ini saya rasakan saat ‘Jessica’ tercinta berdarah. Lihatlah tatapan marah seorang ayah yang menganalisis cepat segala tragedi ini.

Saat mendapatkan pengetahuan di suatu bidang, kita terpenjara oleh prototipe kita sendiri. Memperkuat kesimpulan mereka bahwa situasi ini harus dirubah. Secara bersamaan berkepala panas dan dingin. Kepala panas, menghasilkan tindakan dan perubahan; kepala dingin membentuk tindakan dan perubahan dalam bentuk yang bisa diterima dan dilaksanakan. Ini situasi genting. Dan seperti kata sang ayah dalam kamp pengungsi bencana: rencana terbaik ya tanpa rencana.

Bergaul dengan orang berada di rumah mereka laiknya tinggal di kamp fantasi bola. Kamu merasa diri hebat hingga tiba giliran untuk memukul bola, kamu tak hanya gagal memukul, bahkan melihat bolanya pun tidak bisa. Keluarga miskin ini sadar bahwa mereka bukan kalangan jetset, mereka hanya memainkan kamuflase, ya yang paling menyedihkan bagiku adalah saat Ki-woo dalam adegan ciuman di lantai atas menyaksikan orang-orang kaya ini berpesta ulang tahun di kebun yang sejatinya mendadak saja tampak anggun. Tidak, kamu tidak bisa bicara dengan bahasa yang sama. Barangkali kemiskinan sosial tidak akan pernah bisa dihapus, tapi banyak di Negara maju kemiskinan biologis jadi masa lalu. Benarkah?

Dalam Budha asas pertama adalah “Kesengsaraan ada, bagaimana meloloskan diri darinya?” Dalam Parasite jelas sekali, mempertontonkan menjadi penipu ga papa, asal kita bisa lolos dari jerat kemiskinan, yang ternyata menghuni nyaman di tubuh inang memberi konsekuensi tragis. Siapa sangka ada parasite lain yang bisa saling tikam? Kalian terkejutkan? Saya juga. Film menjelma hebat saat bel malam hujan deras itu berbunyi, mengacaukan segalanya. Membunuh tawa penonton, mencipta banyak kerut di dahi, lalu mencoba filosofis dengan menampar kepahitan hidup dalam teori sebab-akibat. Kemiskinan, penyakit, tua, pengangguran, sampai kematian bukanlah takdir tak terhindarkan manusia. Mereka adalah buah ketidaktahuan kita. Sebab-akibat. Tirai kesenyapan sedemikian tebal sehingga kita bahkan tidak bisa merasa yakin bahwa hal-hal semacam ini terjadi – apalagi menjabarkan secara rinci.

Perbedaan nyata antara kita dan keluarga milyuder adalah mitos pelekat yang menyatukan individu, keluarga, dan zonasi masyarakat. Pelekat itu telah menjadikan keluarga Park tampak elok dipandang. Kalian pasti ikut melongo ketika pertama kali sang guru les matematika masuk ke dalam rumah istana calon bos guna hanya menjadi pengisi waktu tambah belajar. Ekspresi spontan katro itu mencipta ide jahat, kesenjangan, dan rasa ingin, harapan karena ada peluang. Lebih baik berbisnis dengan orang-orang ‘rekomendasi’ ketimbang berjudi dengan alam. Padahal kita tak tahu rantai rekomendasi sendiri ternyata memutar lalu melilit leher, semua terlambat. Referensi tak ubahnya koalisi jahat, di mana kita menyerahkan pisau dengan ujung tajam menghadap diri sendiri.

Jadi sangat wajar selepas keluar biskop May complain. Filmnya sudah bagus di awal dan memberi akhir yang mengecewakan. Kita maklumi karena dia memang penikmat sinetron Cinta Buta-nya Nikita Willy jadi akhir kisah yang menyedihkan rasanya belum bisa diterima. Saya, justru sebaliknya. Saya kecewa di awal sampai terdengar bunyi bel rumah itu, komedinya terlihat konyol. Sekeluarga ditipu sekeluarga, orang-orang kaya dan berpendidikan dengan mudahnya terpedaya, tunggu dulu karena kita sudah sepakat tak banyak cari plot hole, bisa kita lewati sahaja. Film menjadi thrilling ketika palu kejutan pertama ditabuh bahwa ada parasite lain yang menghuni inang, dan sampai ending, inilah bagian terbaik film. Sebuah replacement, sebuah ironi, sebuah tragedi.

Namun bukan produk yang menciptakan nilai. Konsumenlah yang menciptakannya. Konsumen Parasite sedang sakaw. Film drama? Komedi? Horror? Thriller? Saya lebih suka menyebutnya ironi-komedi! Kita terlalu gembira akibat momen eureka atau kemenangan karena berhasil mengatasi hambatan. Parasite jelas bukan film biasa, tapi belum bisa disebut menjadi yang terhebat tahun ini. Dia kaya sehingga dia baik. Atau dia baik karena dia kaya. Karena kalau kita kaya kita juga akan seperti mereka.

Ada arogansi yang menemani kesuksesan.

Parasite | Year 2019 | Directed By Joon-ho Bong | Screenplay Joon-ho Bong, Jin Won Han | Cast Kang-ho Song, Sun-kyun Lee, Yeo-jeong Jo, Woo-sik Choi, So-dam Park, Hye-jin Jang, Seo-Joon Park | Skor: 4/5

Karawang, 280619 – Sherina Munaf – Lihatlh Lebih Dekat // 060719 – Boyzone – No Matter What