Jokowi, Sangkuni, Machiavelli #29

Jokowi adalah konstruksi media. Dalam kesadaran ini, para penasihat, pembisik, dan Jokowi sendiri mesti ‘memberi makan’ media dengan materi berita yang disukai hari-hari ini.”

Ini adalah buku kumpulan esai kedua Bung Seno Gumira Ajidarma yang kubaca setelah Tidak Ada Ojek Di Paris. Isinya sama, tulisan beliau di berbagai media, disatukan dan bumbuhi keterangan lengkap pustaka. Kalau obrolan Tidak Ada Ojek tentang kota metropolitan dan kehidupan kaum jelata, kali ini beliau mengambil tema politik. Banyak banget yang ingin disampaikan seolah, tema beragam. Mungkin judulnya yang agak provokatif dengan menyandingkan Pak Presiden dengan dua tokoh jahat.

Sulit bersikap tegas terhadap saudara dan kawan sendiri jika mereka bersikap korup dan merugikan orang banyak.

Tentu saja ini tergolong nepotisme, yang dalam aristokrasi feudal, sahih sajalah adanya.
Secara teoritis, feodalisme sebagai ideology sudah ditinggalkan, dalam praktiknya, nepotisme dan kroniisme adalah bukti kehadiran feodalisme.
System nilai adalah istilah lama saja dari pengertian wacana.
Bedanya, pada Gus Dur kata-katanyalah yang menarik sebagai hiburan sensasional; pada Jokowi tindakannyalah yang diikuti dengan hati riang, seolah-olah karena mampu membereskan Tanah Abang, pasto akan mampu juga membereskan segalanya. Setelah dikecewakan 1.001 pejabatm politikus dan wakil rakyat yang memble, muncullah Jokowi bagai jawaban 1.001 harapan.
Referensi terhadap wayang ini menunjukkan, dunia politik Indonesia di zaman baru tetap berorientasi kepada dunia lama.
Batara Wisnu, yang dalam Bhagavad-Gita berkata kepada Arjuna, “Engkau hanyalah alatku.” Bhatara-Yudha adalah scenario yang ilahiah sifatnya, tempat Kresna menjadi pawing yang harus menjaga kodrat setiap orang.
Klasifikasi calon presiden: (1) pemimpin etis, (2) pemimpin merakyat (3) pemimpin nanggung.
Barangkali penting bagi kebahagiaan pendukungnya – artinya mempunyai dampak ‘spiritual’, tetapi tidak memberi akibat konkret dalam kehidupan praktis, karena sepak bola jika dikembalikan kepada ‘hakikat’-nya (astaga!) memang adalah ‘main bola’ (baca ketrampilan memainkan bola dengan kaki) sahaja, meski bertatapan dnegan dunia bisnis.
Boleh diamati, seberapa jauh Prabowo telah berkomentar tentang Wiranto dan seberap ajuh Wiranto telah berkomentar tentang Prabowo di media massa.
Dalam situasi itu, seorang Golput dapat mengatakan dirinya sebagai ‘berpolitik dengan cara tidak berpolitik’, sedangkan yang tidak mencoblos karena malas cukup dikatakan sebagai ‘tidak berpolitik’. WIRANTO Soekita (1929-2001) ternyata –dalam klasifikasi saya- mengajukan tiga kategori, yakni (1) berpolitik, (2) terlibat dalam politik (3) tidak berpolitik.
Narsisme teracu kepada pemuda Narcissus yang dikisahkan Ovid, penyair Romawi yang hidup dalam masa kekuasaan Kaisar Augustus (63 SM – 14 SM). Peud atampan yang sellau menolak cinta itu, terkutuk untuk mencintai bayangannya sendiri di permukaan kolam, da akan tersiksa begitu rupa sehingga hanya kematian bisa membebaskannya [Hamilton: 1961 (1940), 87-8]. Cerita ideologis sebagai cinta kepada diri sendiri melebihi cinta kepada siapa pun, sehingga disebut narsisisme.
Kewasdaan Troya. “Aku takut kepada orang Yunani, meskipun ketika mereka memberi hadiah.” – Pendeta Laocoon.
Nilai etis prinsip kemenangan adalah segalanya, jelas lebih rendah nilainya daripada sikap terhormat dalam kekalahan.
Pendekatan persuasif dalam mencapai tujuan, dengan hasil akhir win-win solution – yang kadang terdengar rada-rada munafik.
Mao Zedong: mundur selangkah untuk maju beberapa langkah.
Terdapat tiga strata social dalam pewayangan. Strata tertinggi adalah dewa-dewa, strata di bawahnya adalah para kesatria, dan strata terbawah adalah rakyat jelata, yang terwujud dalam punakawan. Di antara para dewa dan kesatria terdapatlah ‘strata antara’ yakni manusia setengah dewa, yang meskipun bertubuh manusia, tetapi tingkat kesuciannya setara – jika tidak melebihi – dewa, yang dikenal sebagai para Begawan ahli rupa. Adapun para raksasa sebagai anasir kejahatan adalah oposisi abadi terhadap semua strata.
Jokowi tidak pernah berhasil ngibul: sekali wagu tetap wagu. Ndeso.
Pengalaman sebagai pedagang pun membuat ia sulit dikibuli pedagang lain.
“Jangan dikira saya ini tidak bisa tegas. Saya juga bisa tegas.” Meskipun diucapkan dengan nada datar, saya menyarankan tidaklah terlalu perlu untuk coba-coba mengujinya.
Apa bedanya badut politik dengan badut biasa? Ternyata bukan berbeda, tetapi bertentangan. Jika badut biasa nilai tambahnya jelas, yakni memberikan hiburan, dan karena itu dibutuhkan, maka kehadiran badut politik sangat memprihatinkan.
Kuasa adalah suatu bnetuk tindakan atau hubungan antarkhalayak, yang pada setiap persentuhannya bernegosiasi, sehingga karena itu tiada akan pernah tetap dan stabil. Orde Baru membangun berhala baru yang bernama ‘stabilitas’.
Politik praktis, politik dalam pengertian sempit, yang urusannya adalah seberapa banyak mendapat massa terpilih, kursi di parlemen, dan jago-jago partai menjadi menteri, syukur-syukur menjadi presiden plus wakilnya.
Dalam buku taktik catur 1001 Winning Chess Sacrifices and Combinations penjelasan ‘zugzwang’ adalah ‘compelled to move’ atau ‘dipaksa untuk bergerak’, adapun penjabarannya: suatu posisi ketika seorang pemain tidak terancam, tetapi hasilnya adalah kerugian baginya pada saat bergerak.
Situasi zugzwang adalah situasi yang snagat sulit diatasi: harus bergerak, tetapi ancaman menjadi nyata justru karena pergerakan itu sendiri.
Dalam buku How Not To Play Chess: sebelum mengajari orang-orang menjadi suci dan sufi, adalah lebih baik menunjukkannya bagaimana menghindari dosa.
Kapan seseorang tidak harus berterusterang? Itu terjadi jika suatu pesan berpeluang, atau bisa dipastikan akan menimbulkan persoalan apabila disampaikan dengan terbuka, tetapi yang tetap mendesak untuk disampaikan. Pada saat itulah dibuthkan kata-kata bersayap. Dengan begitu kata-kata bersayap bukanlah sekadar sindiran, melainkan terdapat factor ungensi di dalamnya.
Mereka adalah pribadi yang tidak tertarik kekuasaan, kekayaan, maupun status social, karena bagi mereka kebahagiaan terdiri atas pengetahuan atas kebenaran.
Membuat catur lebih terbandingkan dengan politik daripada permainan lain, dan secara social lebih istimewa. Seolah dengan menjadi pemain catur sama belaka dengan menjadi ahli strategi dalam kehidupan politik.
Mereka yang berotak unggul dan memilih jadi pecatur di Uni Soviet sebetulnya melarikan diri dari kenyataan, karena hanya di atas papan catur yang disebut peraturan bisa dipegang teguh (Rand, 1982: 52-7).
Jika ia menyukai film, bukanlah melulu karena tergiring arahan pembuatnya, melainkan karena bermakna bagi diri dan kehidupannya, demi kepentingannya sendiri. Jadi makna bagi pemirsa, bukan konsumsi melainkan produksi.
Kekuasaan harus dibatasi, tidak seumur hidup. Karena kekuasaan absolut selalu melakukan korupsi terhadap rakyat, dnegan cara mengubah rakyat menjadi kawan dan partisan.
Anarkisme adalah gerakan politik yang menuntut penghapusan Negara, mengganti semua bentuk otoritas pemerintahan dengan persekutuan bebas, dan kerja sama kelompok maupun pribadi secara sukarela.
Bersama Verheijen, saya juga setuju: “Kecintaan saya terhadap tumbuhan dan hewan cukup besar, tetapi kepentingan manusia harus didahulukan.”
Patriotism dalam politik tak pernah kekurangan dimensi.
Tubuh manusia dibentuk oleh norma-norma kesehatan, gender, dan keindahan. Tubuh secara konkret dibentuk oleh diet, olahraga, dan intervensi medis.
Kesemuan itu jadi berganda, karena politik identitas sendiri secara teoritis adalah pengingkaran terhadap fakta, bahwa dalam situasi pascamodern, identitas selalu sekaligus kenergandaan identitas.
Seperti telah diketahui bersama, dalam politik kata rakyat paling sering dieksploitasi, dimanfaatkan, dipinjam, diatasnamakan, maupun diputarbalik.

Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan.

Jokowi, Sangkuni, Machiavelli | Oleh Seno Gumira Ajidarma | copyright 2016 | Cetakan pertama, September 2016 | Penerbit Mizan | Desainer sampul Dodi Rosadi | 216 hlm.; 21 cm | ISBN 978-979-433-977-0 | Skor: 3.5/5
Untuk Nagalangit dan Lautan Cahaya

Karawang, 300419 – Brian Adam – Heaven // 290619 – Sherina Munaf – Click Clock

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day29

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s