Humanisme Y.B. Mangunwijaya #26

Pancasila adalah hasil finalnya, di mana “humanisme” terumuskan dalam sila pertama, secara de facto di Negara kita bersifat pluralis ini, tidak hanya dalam konteks “agama” dalam arti formal, melainkan juga keyakinan dan kepercayaan dalam arti kultural.

Saya seorang muslim, dan saya penikmat segala bacaan. Saya sepintas mengenal Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya atau yang lebih akrab dengan sebutan Romo Mangun lewat novel Burung-Burung Rantau. Novel tersebut masih kusimpan, belum sempat kubaca. Namanya sering muncul di beranda sosmed sebagai sastrawan yang ternyata setelah membaca ini malah makin kagum karena profesinya yang banyak. Justru buku ini duluan yang kubaca, kubeli sewaktu liburan Lebaran lalu di Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Kubaca kilat bulan ini, dan luar biasa. Ternyata beliau adalah sosok besar. Romo Mangun adalah seorang humanis religius yang mencurahkan seluruh hidup dan karyanya untuk terwujudnya humanisme. Dan humanisme tidak pernah selesai diperjuangkan karena menuntut pembaruan terus-menerus untuk menjadi manusiawi dan menghargai kemanusiaan. Sebelum menjadi profesi apapun ia harus menjadi manusiawi terlebih dulu sehingga bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama.

Buku ini adalah kolaborasi Forum Mangunwijaya IX yang ditulis oleh orang-orang hebat, total ada delapan kontributor: A. Sudiarja, Sj, Ferry T. Indratno, Bakdi Soemanto (alm.), Bandung Mawardi, B. Rahmanto, Erwinthon Napitupulu, Musdah Mulia, dan St. Sularto. Kedelapannya menampilkan esai yang mewah, renyah dibaca, nikmat diikuti. Cara review, menuturkan pandangan hidup, sampai ketertarikan karya-karya beliau yang ditelusur. Banyak hal yang patut dipelajari. Romo Mangun sepaham dengan pandangan Rudolf Otto (The Idea of the Holy) bahwa manusia adalah makhluk religius (homo religious), demikian setiap manusia serta merta bersifat religius; ada sifat yang disebut ‘suci’ dalam arti moral. Religius di sini tidak harus berarti sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling) atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada suatu lain. Saking banyaknya tema yang mau disampaikan karena beliau memang multi-karya, salah satunya arsitekur. Bidang arsitektur melakukan pendekatan konsep ‘guna’ dan ‘citra’.

Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929 sebagai sulung 12 bersaudara, meninggal dalam tugas pada 10 Februari 1999 di tengah seminar di Jakarta. Romo Mangun menerapkan paradigma berpikir nggiwar dalam setiap langkah memperjuangkan humanisme. Konon, Romo Mangun menjadi pastor karena terharu pada partisipasi rakyat dalam gerilya, dan untuk ‘membayar utang kepada rakyat’. Maka pelayanannya bukan sebatas pelayanan gerejani, paroki, melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin dan melebar untuk kerja sama dengan agama lain.

Banyak sekali pemikiran yang disampaikan dalam buku tipis ini. Seperti kala Romo banyak mengkritik pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwash, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekankan kreativitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri.

Sebagai penikmat buku, jelas saya sangat tertarik di bagian sastra. Ada satu bagian yang mengulas detail sekali salah satu karya beliau berjudul Balada Becak (1985) bagaimana kisah benar-benar membumi, ada di antara kita. Kisah cinta wong cilik di mana angan dan kenyataan tak sejalan. Sastra, berbeda dengan teater, hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, tranquil, sehingga terjadi dialog antara pembaca dan novel pada satu pihak, pada pihak lain, seperti Bima Suci, bacaan mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri. Menjadikanku ingin segera menikmati novel beliau, Manusia Indonesia yang humanisme religius dan nasionalisme yang terbuka. Dua kerangka besar inilah Indonesia bisa ikut menyumbang pemikiran dalam pergaulan dunia yang luas.

Bagian akhir tentang arsitek saya yang awam turut kagum, ada sekitar 84 karya beliau. Beberapa kontroversial. Pemikiran tetang ‘Gereja Diaspora’ yang dalam teologi katolik pasti menjadi sesuatu yang kontroversial atau inkonvensional. Mengidealkan gereja sebagai “jaringan titik-titik simpul organik.. yang berpijak pada realitas serba heterogen… tidak beranggotakan orang-orang berdasarkan daerah, tapi berdasakan fungsi atau lapangan kerja… titik-titik simpul bisa berupa lone rangers seperti gerilya yang sendirian…, namun lincah ke mana-mana.” Beberapa sudah dipugar, yang sayang sekali sebagian itu menghilangkan identitas awal.

Menurut Mochtar Lubis ciri-ciri manusia Indonesia, pertama hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka lain di belakang, merupakan suatu ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau sebenarnya dikehendaki oleh kekuatan-kekuatan dari luar karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana baginya. Kedua segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi kalau sukses manusia Indonesia tidak segan-segan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Ketiga memiliki sifat feodal yang tinggi, ABS (asal bapak senang). Keempat percaya takhayul. Kelima berkarakter lemah. Keenam bukan economic animals, sehingga boros. Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih maju.

Sementara sifat positifnya, pertama memiliki sifat artistik yang tinggi sehingga mampu menghasilkan kerajinan seni. Kedua suka menolong dan gotong royong. Ketiga berhati lembut, suka damai, memiliki selera humor dan memiliki kesabaran hati. Keempat adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik terutama di bidang ketrampilan.

Pandangannya tentang pendidikan juga sangat bagus. Pendidikan sebagai sosialisasi tidak melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bersifat sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status. “Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan cita-manusianya yang dianut, sehingga tidak netral.” Tujuan pendidikan adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, biajksana, humanis, dan menjadi sosok manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein. Kata post merujuk pada sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seorang yang sesudah menjadi bukan sarjana. Dia tetap sarjana. Tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensianya, lebih dalam visinya, lebih dewasa.

Sebagai orang Jawa, beberapa pemikirannya jelas terinspirasi sejarah Jawa. Citra manusia Jawa yang hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Sejajar dengan ajaran Plato, segala peristiwa kehidupan manusia ‘wus dhasar pinasthu karsaning dewa’ (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa). Bahwa yang menciptakan adalah dewa, yang melahirkan adalah orang tua, yang membuat bahagia itu guru, yang membuat kaya kuasa itu raja, yang membuat gembira adalah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka. (Serat Paramayoga/Pustakaraja).
Manusia Indonesia yang ideal adalah sesuai pedoman Pancasila, manusia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku dan budi pekerti berdasar kelima dasar Pancasila.

Komunisme sudah hancur oleh perkembangan ‘masyarakat warga’ (civil society), pembaruan politik ada di mana-mana, perestroika di Rusia dan demokrasi di Barat, namun menurut Fukuyama, sejarah berakhir dengan bentuk demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosiologi. Sudah sangat umum ada empat kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk berkeinginan, kebebasan dari rasa takut. Lalu menurut Hussein Nars, ilmuwan Iran kebebasan beragama ada dua jenis: kebebasan untuk menjadi (freedom to be) dan kebebasan bertindak (freedom to act), yang pertama sifatnya tanpa batas, yang kedua dapat dibatasi oleh aturan.

Dari semua pemikiran beliau yang sangat saya kagumi, jelas tentang saling menghormati, baginya agama lain bukan saingan, apalagi musuh, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaan, khususnya melayani masyarakat yang miskin. Kita tahu, saat ini Indonesia sedang panas-panasnya politik, agama menjadi tunggangan, agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Pluralisme beragama adalah lawan dari eksklusivisme agama. Artinya filsafat pluralisme mengakui semua agama dengan cara pemeluknya memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang.

Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” – Ernest Renan dalam Qu’est ce qu’une nation? (1882).

Humanisme Y.B. Mangunwijaya | By Forum Mangunwijaya IX | Copyright Kompas Media Nusantara | Penerbit Buku Kompas, 2015 | KMN: 20305150074 | Editor Ferry T. Indratno | Perancang sampul A Novi Rahmawanta | Ilustrasi sampul Dok. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko | xvi + 144 hlm.; 24 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-938-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 270619 – Sherina Munaf – Primadona

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day26 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s