Di Kaki Bukit Cibalak #21

Maaf, Ayah, yang namanya kebijaksanaan selalu muncul dari kewenangan. Patokannya sangat subjektif dan baur. Kebijaksanaan tidak akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Ini hanya menggeser masalah ke sampinng, bukan menyelesaikannya sama sekali.”

Ini adalah kisah dari pedesaan yang yang sangat membumi, kisah cinta bertepuk sebelah tangan errggh… cinta yang tak harus miliki lebih pasnya, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Sejatinya ini bisa terjadi pada siapa saja, bagaimana orang kebanyakan menghadapi kerasnya hidup. Ga semua yang diharapkan bisa terwujud, ga semua yang dimimpikan bisa terkabul. Orang yang punya prinsip, orang idealis sekalipun melawan arus selalu pada akhirnya punya kepuasan tersendiri kala ia gigih dan kuat atas apa pilihannya. Salute!

Tentang riwayat sebuah desa di kaki bukit Cibalak, Sukabumi. Hikayat orang-orang desa dalam mengarungi kehidupan, perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup. Bagaimana desa Tanggir melalui masa, menjelma hingga kini. Masyarakat yang dituturkan dalam keseharian, petani, pedagang, pamong praja, semua mengalir nyaman. Sampai akhirnya bab pertama ditutup dengan sebuah hasil pemilihan lurah yang berakhir buruk, yang jujur kalah sama yang berduit, yang alim kalah sama sebab politik uang. Ternyata keluhuran budi, kearifan serta kejujuran Pak Badi tidak memberinya nasib baik, karena lurah baru mereka adalah Pak Dirga.

Sang protagonis kita, Pambudi merasa kecewa jagoannya kalah. Ia adalah pemuda 24 tahun yang idealis. Ia bertugas menjadi pengurus lumbung koperasi desa Tanggir. Dua tahun pengabdian yang coba berbuat lurus, menjaga martabat, anti korupsi. Kadang ia bertanya pada diri sendiri kenapa tidak bisa seperti Poyo, teman sejawat yang hidup sejahtera bersama istrinya karena sekongkol, karena korupsi, menghalalkan segala cara untuk kekayaan pribadi. Dan dengan kelapa desa baru ini, makin runyamlah karier Pambudi yang lurus.

Drama sesungguhnya dimulai ketika seorang nenek-nenek mencoba meminjam uang di koperasi, karena butuh uang untuk berobat, berasnya dijual sedikit, dan dengan ketus sang lurah malah memarahi, meminta pinjaman yang lalu untuk dikembalikan, dan dengan kasar mengusir Mbok Ralem. Pambudi yang tahu ada kas menanyakan kenapa, wong cilik butuh pinjaman malah ditolak? Ternyata uangnya akan diputar dengan licik oleh bosnya, marah Pambudi mengambil tindakan sendiri. Ia mundur, tindakan gentle, sangat lakitindakan yang sungguh berani. Katakan TIDAK pada korupsi.

Sebagai pengangguran, ia lalu melakukan pekerjaan kecil-kecilan. Memperbaiki kandang ayam, menggali parit, membuat labur untuk dinding, waktu luang, kelegaan, kenyamanan walau tak berduit itu lalu membuahkan pemikiran brilian. Ia kayuh sepadanya ke rumah Mbok Ralem dan menyampaikan sebuah tekad mulia. Membantunya, tanpa batas! Rocker man.

Dengan bersepeda mereka ke pasar Tanggir, lalu melanjutkan naik bis ke Yogyakarta. Dengan surat keterangan miskin dibawanya ke rumah sakit, Pak mantri bilang bisa mengobatinya gratis asal bukan penyakit ganas sejenis kanker. Maka setelah cek laboratorium, dengan uang seadanya, dengan modal nekad mereka ke rumah sakit. Ternyata Pambudi punya ide brilian, ia ke tukang foto, membeli koran Kalawarta, membayar iklan Sumbangan untuk Mbok Ralem, semacam Peduli Kasih era kini. Kalau sekarang ya sejenis Twitter do your majic, sehingga mengetuk hati pembaca untuk turut menyumbang. Luar biasa, tahun 1990an ada ide mantab gini. Dengan teknologi media cetak yang terbatas, dan ternyata berhasil! Keren.

Dan melalui Pak Barkah, kepala redaksi yang terketuk hatinya memajang iklan S.O.S. itu di halaman pertama, responnya luar biasa. Hari itu harian Kalawarta dibanjiri telepon dan uang melalui rekening kasih atau datang langsung kasih tunai. Koran daerah yang daya edarnya tak akan melewati batas provinsi dengan oplah 12,000 itu berhasil dalam program ‘Dompet Mbok Ralem’ sebesar 2.162.375 rupiah. Sumbangan dari berbagai kalangan, gereja, para pekerja kuli bongkar terminal, haji X, pedagang batik, hamba Allah. Luar biasa, banyak orang baik di Indonesia, banyak orang yang masih peduli sesama.

Sekembali ke desa, namanya melambung, di surau, di emperan toko, di pos ronda nama Pambudi jadi buah bibir. Tak terkecuali pujian dari seorang gadis SMP yang manis, Sanis yang jadi primadona. Sejatinya Pambudi menaruh hati pada kembang desa ini, cinta yang menggebu tapi tertahan dan dalam diam. Bagian roman ini ditampilkan dengan sangat baik, dibumbui malu-malu salam, malu-malu saling senyum sampai lirikan yang sekilas mendebarkan. Eksekusinya juga pas, kuberitahu ya, walau saling mencinta nantinya berakhir pahit. Sudah pas, cinta yang seperti ini nyata, lebih bisa diterima dalam cerita kehidupan yang keras ini, sayangnya nasib Sanis yang tragis tak diikuti dengan kasih asmara Pambudi yang manis. Andai keduanya turut remuk redam novel ini bisa jadi juara. Laiknya cerita buku-buku Hamka yang menyakitkan disiksa asmara. Tidak, Mbah Tohari tetap menyajikan madu cinta dengan seksama dalam porsi yang adil.

Drama kemiskinan di desa Tanggir berlanjut, ketenaran Pambudi memberi efek panjang. Ia ditegur sekretaris desa, yang memberi surat miskin, ia dipanggil camat karena ada warganya yang miskin tak melapor kepadanya dan camat kena damprat gubernur atas kelalaian melayani rakyat. Padahal kita semua tahu, mereka tak bergerak ketika Mbok Ralem terpuruk tanpa uang, kesakitan tanpa ada yang peduli. Kini setelah ia sembuh dengan bantuan pembaca koran, mereka malah saling tuding, saling menyalahkan. Ah khas birokrasi orde Baru yang korup.
Bukit Cibalak. Daya pikir manusia dapat membuktikan bahwa dulu, bukit ini adalah lapisan kerak bumi yang berada di dasar laut. Alam perkasa dengan kekuatan tektonis mengangkat lapisan kerak bumi ke atas permukaan laut dan lebih tinggi lagi. Masa berjuta tahun membentuk Cibalak yang berkapur, meninggalkan lapisan humus yang subur, dan alam mencipta masyarakat yang bersosialisasi hingga kini.

Asmara Pambudi kini dijadikan taruhan. Keluarganya dimusuhi para pamong yang menganggapnya sok pahlawan, Sanis yang jelita malah kini memasuki lingkaran kantor kelurahan setelah didapuk dandan dalam peringatan hari Kartini. Pambudi terusir, ia difitnah dalam kasus uang koperasi, dituduh menyelewengkan dana desa. Ia lalu bekerja dalam perantaua. Wani ngalah luhur wekasane. Di tanah rantau di Yogya, ia sempat lontang lantung, yang akhirnya kembali mempertemukan dengan Pak Barkah. Waktu memberinya kesempatan, waktu menempanya menjadi kuat, waktu pula yang memberi bukti atas idealisnya. Ia kini menjadi bagian dari koran, walau meras kurang cakap dalam jurnalistik, ia belajar, ia bekerja keras dan sembari melanjutkan kuliah. Masa muda, masa perjuangan. Bisa ditebak dengan mudah ke arah mana ia melaju. Kesuksesan.

Ini adalah buku pertama dari Penulis kawakan Ahmad Tohari yang selesai kubaca. Kubaca pasca kesedihan mendalam kehilangan Caisha Lettie awal tahun ini. Buku ini menjadi semacam obat, menjadi pelarian baca pasca tragedi keluargaku. Hanya berselang lima hari setelah kepiluan itu, kucoba susun kembali harapan hidup.

Ia sangat yakin bahwa kematian adalah sekadar proses alami yang langsung dikendalikan oleh Tuhan dari arasy. Takdir, cinta, rejeki semua sudah ada yang atur. Maka di tanah rantau Pambudi yang perkasa menempa diri dalam kerasnya kota. Seberapa kuat menahan goncangan badai ini? Dari kaki bukit Cibalak kita menjadi saksi penggalan kehidupan yang riuh dan adat yang kuat, birokrat yang rumit dan cinta yang kandas.

Bagi lelaki, cinta bukanlah segalanya.

Di Kaki Bukit Cibalak | Oleh Ahmad Tohari | GM 401 01 14 0057 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul eMTe | Pertama terbit 1994 | Cetakan kelima, Maret 2015 | ISBN 978-602-03-0513-4 | 176 hlm.; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 240618 – Nikita Willy – Akibat Pernikahan Dini

#Day21 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s