Yang Telah Tiada #18

Jadi Mary Grimes, kalau saya tidak meminumnya, suruh saya meminumnya, karena rasanya saya menginginkannya.”

Seri novella Penerbit Circa. Atau lebih tepatnya ini adalah satu cerpen yang dicetak dalam satu buku, dinukil dari kumpulan cerita Dubliners sejatinya ini memang cerita pendek, sama Penerbit Circa dicetak terpisah laiknya novela, novel pendek. Buku kumpulan cerpen yang terdiri dari lima belas cerita yang bersama-sama meceritakan Dublin dengan berbagai aspek kehidupan, tumbuh dari masa kanak-kanak sampai dewasa, bahkan yang sudah mati. Seperti Bartleby, Si Juru Tulis karya Herman Melville terbitan Oaks, bukunya sungguh tipis. Cerita sih lumayan bagus, tapi tak bisa sememuaskan karena saking sedikitnya halaman, buku ini selesai baca hanya jeda Magrib ke Isya! Tak ubahnya buku saku Yaa Siin yang bisa ditenteng di pengajian. “Saya suka gagasan itu, dan bukankah ranjang yang empuk sama baiknya dengan peti?” / “Peti itu tujuannya untuk mengingatkan mereka tentang datangnya maut.”

Saya melihat cerita dalam The Dead ini tentang percobaan pengampunan masa lalu, melupakan hal-hal lama yang sudah lewat, memang alangkah baiknya tak diungkit bila terasa akan menimpulkan masalah, apalagi masalah yang melibatkan rasa terhadap pasangan. Saya masih sangat ingat, tahun 2011 calon istri saya menumpuk diary-nya di tempat sampah, membuangnya jauh. Melepaskan masa lalunya demi kebersamaan kita. Dia mungkin tak melihat kemungkinan saya ambil, bisa saja kubuka curhatannya masa remaja. Kubacai tulisan mudanya. Namun saya tak lakukan. Saya hanya tersenyum, membiarkan masa lalunya yang tertinggal terkikis dari ingatan, membiarkan catatan hariannya lenyap dengan sendirinya. Karena pada dasarnya saya juga ga mau masa laluku dikorek, ditelusur detail maka kubiarkan segalanya berlanjut. The Dead menyajikan kisah cinta remaja yang menghantui pasangan, sekalipun ‘sang mantan’ sudah tak ada. Memikirkannya, memusingkannya. Jalan kita di dunia ini dipenuhi banyak sekali kenangan sedih, dan jika kita terjebak dalam kenang-kenangan sedih itu maka kita tidak akan pernah bisa memiliki keberanian melanjutkan hidup dengan langkah-langkah gagah dengan orang-orang di sekitar kita.

Kisahnya tentang pasangan Mr. and Mrs. Conroy yang menghabiskan malam dalam jamuan, lalu bisikan, rahasia masa lalu dan beberapa fakta yang tak saling tahu sebelumnya terkuak. Dituturkan dengan tenang dan mengalir tanpa hentakan emosi. Dibuka dengan sudut pandang para pelayan dan tuan rumah, mereka menyambut para tamu di acara pesta dansa tahunan yang diadakan nona Morkan. Selepas lewat jam sepuluh, barulah duo karakter utama Gabriel dan Gretta Conroy tiba.

Gabriel adalah lelaki muda dnegan tubuh tambun dengan perawakan agak tinggi. Basa-basi betapa perempuan kalau dandan memang lama, Gretta membutuhkan tiga jam. Acara malam itu larut dalam banyak diskusi di antara musik dansa. Tentang agama dan politik. Antara Kristen Protestan dan Katolik yang bagi kita seakan tak ada bedanya, padahal prinsipil. Sama seperti orang Barat memandang Sunni dan Syiah di Timut Tengah yang seolah sama saja, padahal sungguh bertentangan. Pilihan Gabriel Conroy menjadi penulis mendapat banyak sindiran, karena di sana masa itu tak mau sentuhan politik dianggap kurang mencintai bangsa. Sastra lebih mulia dibanding politik. Seorang yang lebih memilih menguasai bahasa asing dan lebih memilih seni daripada politik lokal adalah seorang yang layak dicurigai sebagai sosok yang tidak nasionalis. Ia suka keluyuran di dermaga ke toko-toko buku bekas ke Hickey’s di Bachelor’s Walk, ke Ebbs’s atau Massey’s di Aston’s Quay atau ke O’Chohissey di pinggir jalan. Mengingatkan hobiku yang menghabiskan berjam-jam memandang buku bekas, di Gladag Solo penuh kenangan indah. Gabriel memang bergaji kecil dalam memenuhi hasrat literasi. Ia lebih menyukai buku-buku gratis yang ia dapatkan untuk diulas daripada cek honornya yang bernilai kecil. Ia suka merasakan sampulnya dan membuka halaman-halamannya yang baru keluar dari percetakan.

Dalam iringan musik mereka menghabiskan malam yang dingin bersalju. Piano memainkan musik waltz dan ia dapat merasakan sapuan rok di lantai ruang dansa. Dan orang-orang mungkin berdiri bawah guyuran salju di dermaga di luar sana, menatap jendela-jendela yang menyala dan mendengarkan musik waltz.

Ada keagungan dan misteri dalam sikap istrinya itu seakan-akan wanita itu melambangkan sesuatu. Jika ia seorang pelukis maka sudah dilukisnya wanita dengan pose seperti itu. Malam itu, Gretta ‘keceplosan’ bilang masa lalunya. Masa remaja yang tak terlupa tentang seorang pria yang mencintainya, lelaki bernama Michael Furey yang tinggal sama neneknya, dia mati muda tapi hari-harinya sempat mengisi hatinya. Kabur dari rumah, dan teman-teman dan lari bersama-sama dengan hati nan liar dan bergelora menuju petualangan baru. Betapa asyiknya di luar sana, betapa menyenangkannya berjalan-jalan berjalan-jalan di luar sana, pertama-tama menyusuri tepian sungai dan kemudian melewati taman.

Lebih baik pergi dengan gagah ke alam lain, di tengah kejayaan sebuah gairah, daripada memudar dan layu pilu bersama usia. Diluarduga, nama dan kisah masa lalu istrinya itu ‘menghantuinya’ membuatnya tak bisa nyaman tidur sepulang dari pesta. Mungkin masa itu bisa disebut sebagai masa yang luas: dan jika mereka hilang drai ingatan kita, mari berharap bahwa setidaknya dalam pertemuan semacam ini kita masih tetap membicarakannya dengan bangga dan cinta, masih menjaga ingatan tentang orang-orang hebat yang telah tiada atau pergi, yang ketenarannya tidak akan pernah dilupakan oleh dunia. Begitulah, yang telah tiada tetap hinggap di pikiran setiap orang yang pernah dekat. Luapan cinta yang tertahan dari suami kepada istrinya yang masih muda, rasa sesak yang tak pernah hilang di akhir cerita.

James Joyce seperti karakter-karakternya, lebih peduli kepada keindahan dan kualitas estetis, yang bukan pragmatis seperti memberikan informasi tentang satu atau hal lain. Dia ingin membuat satu cerita yang menggambarkan keunggulan Dublin dibanding kota-kota lain di dunia yang pernah Joyce kunjungi, keramahannya. Keramahan inilah yang ditampilkan bibi dengan penuh keceriaan para bibi yang menghelat makan malam. Sejatinya ini hal yang lumrah, kita pasti juga akan dengan senang hati bercerita tentang kota-kota yang tinggali dengan senang hati. Saya akan dengan semangat akan berkisah betapa kucinta Solo, kusayangi setiap kenangan di Cikarang dan kini di Karawang dengan penuh cinta melewatkan hari-hari. Dublin bagi Joyce adalah kota yang kita tempati dengan segala momennya. Tradisi keramahan Irlandia yang luhur, dan hangat yang telah diwariskan oleh para leluhur kepada kita dan kelak harus kita wariskan kepada anak cucu kita, tetap hidup di antara kita. “Saudara-suadari, generasi kita mungkin melakukan kesalahan tetapi bagi saya, saya rasa generasi kita memiliki derajat keramahan, kemanusiaan tertentu yang bagi saya tidak dimiliki generasi baru yang sangat serius, dan terlalu terdidik, yang kini tumbuh bersama kita.”

Mari kita bersulang untuk kesehatan, kesejahteraan, panjang umur, kebahagiaan, dan kemakmuran mereka dan mereka tetap memegang posisi membanggakan yang mereka duduki dalam profesi mereka dan kedudukan terhormat mereka dan kasih sayang mereka di hati kita.

Seledri adalah makanan yang bagus untuk darah dan ia sekarang dalam perawatan dokter. “Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.”

Yang Telah Tiada | By James Joyce | Diterjemahkan dari The Dead | Dubliners halaman 175-226 | New York, Penguins Book 1996 | Penerbit Circa | Penerjemah Wawan Eko Yulianto | Editor Cep Subhan KM | Penata isi Shohifur Ridho’I | Penata sampul Azwar R. Syafrudin | Lukisan sampul Enggar Rhomadioni | xx + 76 hlm.; 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Februari 2019 | ISBN 978-602-52645-9-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220619 – Sherina Munaf – Kembali Ke Sekolah

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day18 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s