Breakfast At Tiffany’s #19

Yang paling bisa membuatku merasa lebih baik adalah melompat ke taksi dan pergi ke Tiffany’s. Tempat itu langsung menenangkanku, keheningan dan kemewahan; hal yang benar-benar buruk tidak akan mungkin menimpamu di sana, dengan pria-pria bersetelan indah itu, semerbak aroma perak dan dompet kulit buaya.”

Ini adalah jenis novel yang renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata sang Penulis kala masih kere, menjalani kehidupan sebagai seorang penyendiri dalam sebuah apartemen sebagai Penulis lokal yang tak bernama, sunyi dalam perenungan mencari jati diri. Mencoba mencipta karya dengan banyak percobaan, hingga suatu ketika ada tetangga apartemen yang ternyata seorang gadis borjois, penyuka pesta yang mengubah kehidupannya. Memberinya warna, jatuh hati. Bertetangga dengan seorang artis akan membuatmu tampak layak jadi artis, maka Penulis ini berhasil mencipta cerita berdasar pengalamannya. Hingga latar belakang sang gadis pujaan diungkap. Selamat, jelas ini adalah sebuah anugerah buat Truman Capote, Breakfast At Tiffany’s adalah martir menuju ketenaran. Maka saat perpisahan, jelas ia kehilangan. “Kurasa tidak ada yang akan merindukanku. Aku tidak punya teman.” / “Aku, aku akan merindukanmu.”

Tahun 2007 atau 2008 saya pernah membacanya di kos Ruanglain_31, pinjam teman dari Jakarta. Apa kabar Uni Dien? Ga sempat mengulasnya, sehingga akhir tahun lalu ada teman yang mendonasikan buku-bukunya, saya ambil saja buku ini. Kubaca cepat, karena selain tipis, novel ini tak terlalu butuh banyak telaah. Nyaman, lezat di tiap halaman, enak sekali dinikmati.

Kisahnya seperti yang kuringkas di atas, tentang seorang penyendiri yang beruntung bisa bertetangga dengan artis. Dengan alur mundur, sebuah fakta keberadaan sang artis terkini, di Afrika? Patung, foto dan beberapa bukti mengarah ke sana. Diskusi dengan Joe Bell yang hampir tak percaya. Lalu kita diajak ke masa lalu, dengan sudut pandang orang pertama, sang aku (karakter tanpa nama) menyadari tetangga apartemennya seorang artis bernama Holly Golightly. Tengah malam itu, dia terkunci di luar karena kuncinya hilang, maka sang aku mengintip, menyaksikan Mr Yunioshi membukakan pintu komplek. Dan suatu malam, setelah beberapa kali kekesalan Mr Yunioshi, maka Holly gantian memencet bel apartemenku, meminta tolong. Dan mulailah kita saling mengenal. Awalnya hanya meminta tolong membukakan pintu, lalu menitip kucing, lalu mengajak keluar dan semakin hari semakin dekat.

Miss Holly adalah seorang penyuka pesta, tamunya ga main-main, kalangan Hollywood, para pria terkemuka, orang-orang terkenal. Sang aku otomatis keseret terkenal. Aku merasa tersanjung: bangga karena ada orang yang mengira Holly adalah kekasihku. Pesta pora, kebisingan tetangga, kegaduhan orang-orang dalam melayani malam, sungguh bertolak dengan sang aku yang pendiam. Mereka saling mengisi, Holly bercerita kehidupan artis, sang aku bercerita dunia literasi. Kegemarannya di tempat-tempat elit, salah satunya tentu makan pagi di Tiffany’s. Maka saat karyanya terbit betapa bahagianya. Langsung memberitahukan padanya. Pusing karena senang ternyata bukan sekadar ungkapan. Aku harus memberitahu seseorang; dan, melompati dua anak tangga sekaligus.

Siapa pun yang bisa memberimu kepercayaan diri, kau berutang banyak kepada mereka. Ada momen menyentuh hati, saat Holly kabur ke apartemennya dini hari, menginap dan cahaya pagi menyinari masuk jendela. Saat menyaksikan jalinan warna rambut Holly berkilauan di tengah-tengah sirat merah-kekuningan dari dedaunan, aku merasakan cinta kepadanya yang cukup untuk membuatku melupakan diriku dan keibaanku terhadap diri sendiri yang memicu rasa putus asa.

Namun fakta mengejutkan diungkap. Masa lalu Holly yang suram, suatu hari apartemen mereka didatangi seorang pria tua yang mengaku sebagai dokter, yang mengaku sebagai suaminya. Namanya bukan Holly. Dia adalah Lulamae Barnes. Dahulu. Dan kisah itupun memberi pukulan dlaam hati. “Ya ampun, Honey. Apa mereka tidak memberimu makan di sini? Kau kurus sekali. Seperti saat aku pertama kali melihatmu. Matamu cekung sekali.” Adegan ini sempat membuatku senyum kecut, gadis kan memang sengaja diet, bukan karena kurang makan. Ah orang tua. Aku memercayainya. Cerita itu terlalu masuk akal untuk dijadikan tipuan. Tapi, sungguh, aku sudah menghitung semalam dan aku hanya punya sebelas pacar – tidak termasuk apa pun yang terjadi sebelum aku berumur tiga belas tahun karena, yah, itu tidak layak dihitung. Sebelas. Apa itu menjadikanku pelacur? Tapi jujur kepada dirimu sendiri. Jadilah apa pun kecuali pengecut, seorang munafik, seorang penipu emosi, seorang pelacur: aku lebih memilih penyakit kanker daripada hati penipu.

Jangan pernah jatuh cinta kepada makhluk liar Mr. Bell.” Kau tak boleh memberikan hatimu pada makhluk liar: semakin banyak yang kauberikan kepada mereka, semakin kuat pulalah mereka. Jika kau membiarkan dirimu jatuh cinta pada makhluk liar, kau akan berakhir dengan mendongak menatap langit. Jika Holly bisa menikahi ‘fetus absurd’ itu, maka pasukan militer mana pun dari seluruh dunia ini sangat mungkin menyeretku.

Aku senang. Aku ingin punya paling tidak Sembilan anak. Beberapa bagian memang tampak melankolis, seperti cita-cita Holly yang sederhana. Masa mengubahnya. Kekesalan masa remajanya. “Aku sudah bilang, pernikahan itu tidak sah. Tidak mungkin sah.” Ceritanya tentang keagungan perhiasan. Mengenai berlian sebelum berumur empat puluh tahun adalah sesuatu yang kampungan, bahkan beresiko. Curhatannya tentang rencana pernikahannya dengan artis. Seandainya aku diberi kebebasan untuk memilih di antara semua orang yang hidup di dunia ini, hanya perlu menjentikkan jari dan berkata datanglah kamu, aku tak akan memilih Jose. Sampai topeng keglamoran kalangan jetset. Sebagian dari mereka mungkin berlidah jujur, tapi mereka semua berhati penipu.

Ada pertemuan, ada perpisahan. Holly sudah memutuskan. Aku duduk di ranjang Holly, memeluk kucing Holly, dan merasa sedih untuk Holly, hingga seluruh partikel terkecilnya, seperti yang dapat dirasakannya sendiri. Kami bertemu di pinggir sungai suatu hari; begitu saja. Bebas merdeka, kami berdua. Kami tidak pernah menjanjikan apapun. Kami tidak pernah. Hari-hari bersama Holly yang riuh akhirnya menjadi masa lalu juga. Bagaimana bisa mereka mengira telah menghancurkan hati kami jika sepanjang waktu, kami menginginkan mereka pergi. Kutegaskan kepadamu, kami sedang menertawakan hal ini saat kesedihan itu datang.

Pada akhirnya sang aku harus ‘mengakui’, kisah ini disamarkan. Aku harus melindungi keluargaku dan namaku, dan jika menyangkut kedua hal itu, aku menjadi seorang pengecut. Rumah adalah tempat kau merasa di rumah, dan aku masih mencari tempat itu.

Novel ini mengangkat nama sang Penulis. Diangkat ke layar lebar dengan bintang besar di masanya: Audrey Hepburn, menjadikannya nominasi Best Actress Oscar tahun 1961. Awalnya Capote ingin Marilyn Moonroe tapi justru Hepburn yang dapat peran Holly. Beberapa adegan jadi ikonik, seperti Hepburn memegang pipa rokok panjang dengan gaun pesta. Luar biasa memang, kita tak pernah tahu karya mana yang akhirnya bisa melambungkan nama seorang Penulis.

Tak seperti In Cold Blood yang kontroversial karena pembunuhan satu keluarga berdasar kisah nyata itu tampak mengerikan, Breakfast At Tiffany’s dibuat dengan warna-warni ceria. Novel ini menginspirasi banyak hal karena pengaruh pop culture, salah satu yang terkenal adalah musisi asal Texas bernama Deep Blue Something yang merilis lagu berjudul Breakfast At Tiffany’s dalam album Home tahun 1996.

Wuthering Heights. Aku mengucap “Oh” dengan kelegaan yang terdengar jelas, “oh” dengan peningkatan intonasi yang memalukan, “filmnya.”

Breakfast At Tiffany’s | By Truman Capote | copyright 1958 | Pengiun Books, Middlesex, 1961 | Diterjemahkan dari Breakfast At Tiffany’s | Penerbit Serambi | Penerjemah Berliani M. Nugrahani | Penyunting Anton Kurnia | Pemeriksa aksara Daniel Sahuleka | Pewajah isi Siti Qomariyah | Cetakan kedua, Maret 2009 | ISGBN 978-979-024-107-7 | Skor: 5/5

Karawang, 230619 – Roxette – Wish I Could Fly

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day19 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Thank’s to Anne Hyde atas tiga bukunya.

Yang Telah Tiada #18

Jadi Mary Grimes, kalau saya tidak meminumnya, suruh saya meminumnya, karena rasanya saya menginginkannya.”

Seri novella Penerbit Circa. Atau lebih tepatnya ini adalah satu cerpen yang dicetak dalam satu buku, dinukil dari kumpulan cerita Dubliners sejatinya ini memang cerita pendek, sama Penerbit Circa dicetak terpisah laiknya novela, novel pendek. Buku kumpulan cerpen yang terdiri dari lima belas cerita yang bersama-sama meceritakan Dublin dengan berbagai aspek kehidupan, tumbuh dari masa kanak-kanak sampai dewasa, bahkan yang sudah mati. Seperti Bartleby, Si Juru Tulis karya Herman Melville terbitan Oaks, bukunya sungguh tipis. Cerita sih lumayan bagus, tapi tak bisa sememuaskan karena saking sedikitnya halaman, buku ini selesai baca hanya jeda Magrib ke Isya! Tak ubahnya buku saku Yaa Siin yang bisa ditenteng di pengajian. “Saya suka gagasan itu, dan bukankah ranjang yang empuk sama baiknya dengan peti?” / “Peti itu tujuannya untuk mengingatkan mereka tentang datangnya maut.”

Saya melihat cerita dalam The Dead ini tentang percobaan pengampunan masa lalu, melupakan hal-hal lama yang sudah lewat, memang alangkah baiknya tak diungkit bila terasa akan menimpulkan masalah, apalagi masalah yang melibatkan rasa terhadap pasangan. Saya masih sangat ingat, tahun 2011 calon istri saya menumpuk diary-nya di tempat sampah, membuangnya jauh. Melepaskan masa lalunya demi kebersamaan kita. Dia mungkin tak melihat kemungkinan saya ambil, bisa saja kubuka curhatannya masa remaja. Kubacai tulisan mudanya. Namun saya tak lakukan. Saya hanya tersenyum, membiarkan masa lalunya yang tertinggal terkikis dari ingatan, membiarkan catatan hariannya lenyap dengan sendirinya. Karena pada dasarnya saya juga ga mau masa laluku dikorek, ditelusur detail maka kubiarkan segalanya berlanjut. The Dead menyajikan kisah cinta remaja yang menghantui pasangan, sekalipun ‘sang mantan’ sudah tak ada. Memikirkannya, memusingkannya. Jalan kita di dunia ini dipenuhi banyak sekali kenangan sedih, dan jika kita terjebak dalam kenang-kenangan sedih itu maka kita tidak akan pernah bisa memiliki keberanian melanjutkan hidup dengan langkah-langkah gagah dengan orang-orang di sekitar kita.

Kisahnya tentang pasangan Mr. and Mrs. Conroy yang menghabiskan malam dalam jamuan, lalu bisikan, rahasia masa lalu dan beberapa fakta yang tak saling tahu sebelumnya terkuak. Dituturkan dengan tenang dan mengalir tanpa hentakan emosi. Dibuka dengan sudut pandang para pelayan dan tuan rumah, mereka menyambut para tamu di acara pesta dansa tahunan yang diadakan nona Morkan. Selepas lewat jam sepuluh, barulah duo karakter utama Gabriel dan Gretta Conroy tiba.

Gabriel adalah lelaki muda dnegan tubuh tambun dengan perawakan agak tinggi. Basa-basi betapa perempuan kalau dandan memang lama, Gretta membutuhkan tiga jam. Acara malam itu larut dalam banyak diskusi di antara musik dansa. Tentang agama dan politik. Antara Kristen Protestan dan Katolik yang bagi kita seakan tak ada bedanya, padahal prinsipil. Sama seperti orang Barat memandang Sunni dan Syiah di Timut Tengah yang seolah sama saja, padahal sungguh bertentangan. Pilihan Gabriel Conroy menjadi penulis mendapat banyak sindiran, karena di sana masa itu tak mau sentuhan politik dianggap kurang mencintai bangsa. Sastra lebih mulia dibanding politik. Seorang yang lebih memilih menguasai bahasa asing dan lebih memilih seni daripada politik lokal adalah seorang yang layak dicurigai sebagai sosok yang tidak nasionalis. Ia suka keluyuran di dermaga ke toko-toko buku bekas ke Hickey’s di Bachelor’s Walk, ke Ebbs’s atau Massey’s di Aston’s Quay atau ke O’Chohissey di pinggir jalan. Mengingatkan hobiku yang menghabiskan berjam-jam memandang buku bekas, di Gladag Solo penuh kenangan indah. Gabriel memang bergaji kecil dalam memenuhi hasrat literasi. Ia lebih menyukai buku-buku gratis yang ia dapatkan untuk diulas daripada cek honornya yang bernilai kecil. Ia suka merasakan sampulnya dan membuka halaman-halamannya yang baru keluar dari percetakan.

Dalam iringan musik mereka menghabiskan malam yang dingin bersalju. Piano memainkan musik waltz dan ia dapat merasakan sapuan rok di lantai ruang dansa. Dan orang-orang mungkin berdiri bawah guyuran salju di dermaga di luar sana, menatap jendela-jendela yang menyala dan mendengarkan musik waltz.

Ada keagungan dan misteri dalam sikap istrinya itu seakan-akan wanita itu melambangkan sesuatu. Jika ia seorang pelukis maka sudah dilukisnya wanita dengan pose seperti itu. Malam itu, Gretta ‘keceplosan’ bilang masa lalunya. Masa remaja yang tak terlupa tentang seorang pria yang mencintainya, lelaki bernama Michael Furey yang tinggal sama neneknya, dia mati muda tapi hari-harinya sempat mengisi hatinya. Kabur dari rumah, dan teman-teman dan lari bersama-sama dengan hati nan liar dan bergelora menuju petualangan baru. Betapa asyiknya di luar sana, betapa menyenangkannya berjalan-jalan berjalan-jalan di luar sana, pertama-tama menyusuri tepian sungai dan kemudian melewati taman.

Lebih baik pergi dengan gagah ke alam lain, di tengah kejayaan sebuah gairah, daripada memudar dan layu pilu bersama usia. Diluarduga, nama dan kisah masa lalu istrinya itu ‘menghantuinya’ membuatnya tak bisa nyaman tidur sepulang dari pesta. Mungkin masa itu bisa disebut sebagai masa yang luas: dan jika mereka hilang drai ingatan kita, mari berharap bahwa setidaknya dalam pertemuan semacam ini kita masih tetap membicarakannya dengan bangga dan cinta, masih menjaga ingatan tentang orang-orang hebat yang telah tiada atau pergi, yang ketenarannya tidak akan pernah dilupakan oleh dunia. Begitulah, yang telah tiada tetap hinggap di pikiran setiap orang yang pernah dekat. Luapan cinta yang tertahan dari suami kepada istrinya yang masih muda, rasa sesak yang tak pernah hilang di akhir cerita.

James Joyce seperti karakter-karakternya, lebih peduli kepada keindahan dan kualitas estetis, yang bukan pragmatis seperti memberikan informasi tentang satu atau hal lain. Dia ingin membuat satu cerita yang menggambarkan keunggulan Dublin dibanding kota-kota lain di dunia yang pernah Joyce kunjungi, keramahannya. Keramahan inilah yang ditampilkan bibi dengan penuh keceriaan para bibi yang menghelat makan malam. Sejatinya ini hal yang lumrah, kita pasti juga akan dengan senang hati bercerita tentang kota-kota yang tinggali dengan senang hati. Saya akan dengan semangat akan berkisah betapa kucinta Solo, kusayangi setiap kenangan di Cikarang dan kini di Karawang dengan penuh cinta melewatkan hari-hari. Dublin bagi Joyce adalah kota yang kita tempati dengan segala momennya. Tradisi keramahan Irlandia yang luhur, dan hangat yang telah diwariskan oleh para leluhur kepada kita dan kelak harus kita wariskan kepada anak cucu kita, tetap hidup di antara kita. “Saudara-suadari, generasi kita mungkin melakukan kesalahan tetapi bagi saya, saya rasa generasi kita memiliki derajat keramahan, kemanusiaan tertentu yang bagi saya tidak dimiliki generasi baru yang sangat serius, dan terlalu terdidik, yang kini tumbuh bersama kita.”

Mari kita bersulang untuk kesehatan, kesejahteraan, panjang umur, kebahagiaan, dan kemakmuran mereka dan mereka tetap memegang posisi membanggakan yang mereka duduki dalam profesi mereka dan kedudukan terhormat mereka dan kasih sayang mereka di hati kita.

Seledri adalah makanan yang bagus untuk darah dan ia sekarang dalam perawatan dokter. “Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.”

Yang Telah Tiada | By James Joyce | Diterjemahkan dari The Dead | Dubliners halaman 175-226 | New York, Penguins Book 1996 | Penerbit Circa | Penerjemah Wawan Eko Yulianto | Editor Cep Subhan KM | Penata isi Shohifur Ridho’I | Penata sampul Azwar R. Syafrudin | Lukisan sampul Enggar Rhomadioni | xx + 76 hlm.; 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Februari 2019 | ISBN 978-602-52645-9-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220619 – Sherina Munaf – Kembali Ke Sekolah

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day18 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019