Kronik Kematian Yang Telah Diramalkan #17

“Jangan menyisir rambut kalian di saat malam; kalian akan memperlambat datangnya para pelaut.”

Novel tipis yang masuk dalam daftar bacaan #JanuariBaca tahun ini (2018). Kisahnya biasa, tapi eksekusinya luar biasa. Apa yang menarik dari kisah yang sudah kita ketahui ending-nya? Apa yang manjadi daya pikatnya? Alur dan tutur kalimat adalah penolongmu. Dan tentu saja nama besar Gabriel Garcia Marquez menjamin hal itu. sebagai Penulis nomor satu yang kuanugerahkan saat menyusun best 100 novels, Gabo adalah bapaknya surealis magic di mana apa yang dikatakan tak seperti apa yang kalian dengar. Bahkan tanggal lahir beliau kita jadikan sebagai tanggal berdirinya grup WA – Bank Buku. Yang mau gabung silakan informasi. Chronicle of a Death Foretold adalah sebuah cerita drama mengerikan yang disajikan dengan indah. Pembawaan yang unik dan seakan pembunuhan misteri metafisik.

Nah, ini adalah buku yang bercerita terkait kekesalan pasca menikah, sang istri ternyata sudah tidak perawan dan saat nama lelaki nama yang telah merenggutnya, sang suami mengembalikan istrinya kepada orang tuanya, nama yang disebut dibunuh. Sesederhana itu? Kalau cerita ya, istimewanya kisah dibawakan berliku dan puitik. Clotilde Armenta, pemilik usaha mapan itu, adalah orang yang melihatnya dalam nyala cahaya pagi, “Dia sudah terlihat menyerupai hantu.

Santiago Nasar mengenakan kemeja dan celana panjang dari linen putih, keduanya tidak dikanji, persis seperti yang dipakainya pada hari sebelumnya ketika menghadiri penikahan itu. itulah bajunya untuk kesempatan-kesempatan istimewa. Hari itu adalah hari kematiannya. Bersamaan dengan kedatangan uskup yang melintasi sungai. “Hidup terlalu singkat untuk orang-orang menceritakan kemeriahannya.” Pagi itu memang sejatinya ada semacam perayaan reliji. Uskup mulai memberi isyarat salib di udara menghadap kerumuman orang di dermaga, dan ia terus melakukannya secara mekanis setelah itu, tanpa dendam atau inspirasi, sampai kapalnya menghilang dari pandangan, dan semua yang tertinggal hanyalah keributan ayam jantan.

Kisah dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah adegan Nasar tewas, kenapa dia dibunuh singkatnya adalah ia orang yang menjadi kambing hitam sebuah efek kemeriahan singkat pesta pernikahan, mantan gadisnya. Angela Vicario, gadis cantik yang baru menikah satu hari sebelumnya, telah dikembalikan ke rumah orang tuanya, karena suaminya mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Tidak ada penderitaan yang lebih memalukan daripada seorang perempuan yang diputuskan dari cintanya dalam gaun pengantin.

Pernikahan yang memang sejatinya tak saling cinta, itu lalu dikisahkan dalam bagian berikutnya. Sang gadis jelita memiliki kisah masa lalu yang suram, masa lalu yang menyedihkan. “Satu-satunya yang kupinta dari Tuhan adalah agar memberiku kekuatan untuk melakukan bunuh diri. Tapi Dia tidak memberikannya kepadaku.” Angela memang tak mengharap pernikahan itu, adalah suaminya yang pemuja yang mengharap cintanya. “Aku tidak pernah mengerti bagaimana dia bisa tahu bahwa hari itu ulang tahunku.” Orang penting, orang kaya yang begaya. “Sepertinya dia juga berenang di kolam emas.”

Seperti pepatah lama, ‘Pemburuan akan cinta adalah pemburuan setinggi elang’ – Gil Vicente. Cinta pada pandangan pertama yang terus diperjuang tanap tahu detail masa lalu, detail snag gadis pujaan berbuntut panjang. “Cinta bisa dipelajari juga.”

Sang suami semacam kepala mafia yang borjuis. “Aku benci lelaki yang angkuh, dan aku belum pernah melihat orang yang begitu ngotot.” Namun pagi setelah pernikahan ia kecewa karena istrinya sudah tak suci, ia lalu mengerahkan pasukan untuk membunuh manusia masa lalu istrinya. Banyak warga sejatinya tahu, tapi tetap saja pagi itu tampak mencekam. Mereka otomatis merasa kasihan. “Kau selalu harus berpihak pada yang mati.”

Kisah lalu ditarik lebih ke balakang. Bagiamana harus mengantisipasi kemiskinan. Argumentasi tegas dari kedua orang tuanya adalah bahwa sebuah keluarga bermartabat dan kekayaan seadanya tidak punya hak untuk meremehkan nasib semujur itu. “Ibu mengajariku untuk tidak sekali-kali berbicara tentang uang di depan orang lain.”

Ketika kau mendengarkan dengan stetoskop kau bisa mengenali suara air mata menggelak di dalam jantungnya. Dari sebuah wilayah pesisir yang riuh dan bau ikan yang meruap. Salah satu simbol kejayaan utama dari rezim konservatif yang telah menyebabkan Kolonel Aureliano Buendia melarikan diri dari kekacauan Tucurinca. Aroma bunga-bunga dari jarak yang begitu dekat memiliki kaitan yang sangat erat dengan kematian bagi dirinya.

Detail kematian lalu diungkap. Pagi itu bagaimana Nasar menemui ajalnya. Tidak ada kematian yang lain yang begitu lebih gampang ditebak. Setelah adik perempuannya mengungkap nama untuk mereka, kembar Vicario pergi ke peti di kandang babi, tempat menyimpan teralatan pengorbanan dan dua pisau terbaik. “Kita seharusnya membebaskan anak-anak malang itu dari kewajiban mengerikan yang telah jatuh pada mereka.”

Di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia, ini masalah kehormatan. Memegang tingkat yang terbikin dari lignum vitae (kayu kehidupan – pognut/pokhut; jenis kayu yang terkenal akan kekuatan, kekerasan, dan kerapatannya) yang telah mereka hadiahkan untuknya di pesta. Anjing-anjing menyalak kepadanya seperti biasanya setiap mendnegar dia masuk, tapi dia menenangkan mereka dalam remang-remang fajar dengan gemericik kuncinya. Dia menyimpan banyak kemarahan yang tertunda pada pagi hari terjadinya kriminalitas itu.

Aku bahkan tidak akan pernah menikahinya seandainya dia tidak menuntaskan urusan yang harus diselesaikan oleh seorang lelaki. Bulan tampak di ketinggian langit, dan udara sangat jernih, dan di dasar jurang kau bisa melihat percikan cahaya dari suluh Santa Elmo (percikan listrik yang menimbulkan daerah terang, muncul pada waktu berangin di sekitar titik kecil seperti puncak gereja atau tiang kapan, dinamakan santa pelindung para pelaut) di pemakaman. Itu adalah jiwa tersiksa dari kapal budak yang karam dengan muatan orang-orang kulit hitam dari Senegal yang menyeberang dari mulut pelabuhan utama di Cartagena de Indias. “Kalau kau menyembelih seekor sapi, kau tak akan mampu menantap ke dalam matanya.”

Jika dibandingkan mahakarya Seratus Tahun Kesunyian, jelas jauh sekali. Ini semacam novelet yang tak lebih dari dua ratus halaman, dinikmati di sebuah masjid Al Jihad, Karawang ketika menanti istri rapat koperasi, saya membacanya dalam keadaan setenang mungkin dalam kesunyian tempat ibadah.

Kronik Kematian Yang Telah Diramalkan | by Gabriel Garcia Marquez | diterjemahkan dari Chronicle of a Death Foretold | copyright 1978 | Penerjemah Dian Vita Ellyati | Editor Bahasa Sandiantoro | Desain Sampul/Tata Letak Andy FN | Pemeriksa Aksara Indri Tj | ISBN 978-979-25-9398-3 | Cetakan I: Desember 2009 | Penerbit Selasar Surabaya Publishing | Skor: 4/5

Karawang, 130818 – Backstreet Boys – Shape Of My Heart || 210619 – Agnes Monica – Matahariku

#Day17 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan