The Strain #15

Dalam waktu kurang dari seminggu, makhluk ini akan menghabiskan semua orang di Manhattan dan kurang dari sebulan untuk menguasai Negara ini. Dalam dua bulan – dunia ini.”

Buku fantasi karya dari sutradara terkenal Guilermo Del Toro, orang yang dulu menghasilkan film Pan’s Labyrinth, yang dua tahun lalu menghentak Oscar lewat The Shape Of Water. Ini adalah buku pertama beliau yang kubaca, duet dengan Chuck Hogan. Beberapa tahun lalu buku ini sempat dibahas mendalam di Total Film Indonesia, sempat membuatku penasaran berat. Bagaimana seorang sutradara mencipta karya novel.

Musuh terbesarku adalah diriku sendiri, ‘mano. Aku ini seperti anjing geladak yang mengendus-endus di jalan yang tidak tahu apa artinya hari esok.” Kisahnya panjang nan berliku. Tawaran masalah yang disajikan benar-benar berat. Sebuah pesawat mendarat di bandara, semua penumpang mati tanpa sebab yang jelas, kecuali empat orang. “Itu sebabnya keempat orang yang selamat menjadi kunci pemecahan teka-teki ini. Kalau-kalau mereka menyaksikan sesuatu. Atau terlibat di dalamnya.” Mereka tewas tanpa bekas luka, tanpa adanya racun di dalam tubuh, tanpa ada tanda-tanda penganiayaan. Jelas, dalam medis ini mustahil. Sesuatu di balik kematian 206 penumpang penerbangan transatlantik secara tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan. Virus? Serangan teroris? Bunuh diri masal? Lalu gerhana ini. Jika penyakit ini disebabkan virus, aku harus menemukan obatnya. Hanya satu obatnya: kematian. Pemusnahan jasad. Kematian yang mereka syukuri. “Mengapa kau meninggalkan empat orang itu dalam keadaan sadar? Itu menciptakan masalah baru.

Tragedi ini tentu saja menimbulkan banyak spekulasi. Semua pendarataan di JFK sudah dibatalkan untuk berjaga-jaga, dan jalur transpotasi udara dialihkan ke Newark dan LaGuardia. “Berapa lama pesawat itu mendarat sebelum akhirnya mati mesin?” Enam menit. Lalu segala penelusuran dicoba. Manusia memang tertarik pada hal-hal yang tak bisa dijelaskan, hal-hal aneh, dan mungkin tragis. Biasanya tubuh akan membiru setelah mati enam belas jam. Namun mayat-mayat itu tak membusuk, mereka tak bernapas, mati tapi tak membusuk. Harus melakukan apa kecuali melakukan penyelidikan dari awal. Kitalah awalnya. Mayat itu masih utuh, tak rusak. Hanya karena kita memahami bagaimana sesuatu bekerja, bukan berarti kita memahaminya…

Saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Kode etik kedokteran adalah, Satu – tidak melakukan hal berbahaya. Kode etik politikus adalah, Satu – muncul di televisi. “Peraturan industri penerbangan adalah, ‘selalu salahkan pilot.’ Tidak ada yang namanya kesalahan penerbangan, baik jadwal yang terlambat maupun pemangkasan biaya pemeliharaan.”

Kami akan memulai dari sana.” Empat menit tanpa oksigen merupakan ambang batas kerusakan otak permanen. Kau tak bisa terus memikirkan semua jiwa yang nyawanya bergantung pada perintahmu: para manusia yang menumpuk di dalam misil bersayap yang melesat berkilo-kilo di atas tanah.

Lalu dipanggillah sang protagonis, sang jagoan utama. Ephraim Goodweather. Dia tidak menyetir mobil. Dia hidup dalam cengkraman lusinan batasan rutinitas obsesif-kompulsif, antara lain menyentuh dan berulang-ulang membersihkan semua cermin di dalam rumah, yang diyakininya bisa mengusir kesialan. Ia sedang berlibur dengan anaknya, Zack. Aku ingin menjadi ayah yang terbaik. Sebab itulah yang patut diterima Zack. Itulah satu-satunya tujuanku saat ini. Sedang main game ketika suara sirine terdengar di rumahnya. Eph adalah seorang duda, bercerai dengan Kelly Goodweather yang kini punya pacar baru Matt Sayles, sehingga pola asuh anak tunggal berganti. “Lalu bagaimana? Intinya, akhir pekan bersama putraku hilang, dan aku tak kan mendapatkannya kembali. Kau tahu, ada satu titik ketika aku harus memilih antara keluarga atau pekerjaan. Kukira aku akan memilih keluarga, tapi kelihatannya itu belum cukup.” Well, ini kondisi darurat, mau tak mau Eph ke bandara JFK. Lima menit kegelapan malam di siang bolong. Tetapi, ini adalah New York, dan kalau sesuatu sudah berakhir – itu benar-benar berakhir.

Eph adalah kepala proyek Canary, proyek yang dinamakan seperti trik penambang batu bara zaman dulu, Ketika para penambang harus membawa burung kenari dalam sangkar saat masuk ke dalam gua bawah tanah untuk mendeteksi ada tidaknya zat berbahaya secara kasar. Burung kenari yang efektif membaui gas metana dan karbon monoksida.
Mereka bisa telanjang di depan satu sama lain tanpa merasakan setaran seksual. Sebab proses mengenakan pakaian antibahan berbahaya sangatlah berlawanan dengan nilai seksualitas. Kepolisian sudah melakukan karantina, penyelidikan sudah berjalan. Dia bertelanjang kaki, dan hanya mengenakan pakaian rumah sakit – pakaian johny, dan terlihat waspada. Yang begitu tertutup si pemakainya akan terisolir dari atmosfer luar. “Semua meninggal, Ephaim. Semuanya.” Namun dalam penyelidikan lebih lanjut, ada empat orang yang masih hidup.

Lalu kisah membentang di tempat lain. Tentang Abraham Setrakian. Sardu. Atau makhluk yang dulunya Sardu. Kulitnya tampak hitam dan keriput menyatu dengan warna lipatan jubbah gelapnya yang longgar. Kisah selingan yang manjadi kunci itu diceritakan sepotong-sepotong. Aku menyebutnya Mr. Leech, si Tuan Lintah, karena kulitnya. Dalam mimpiku. Aku kembali melihatnya, si Mr. Leech dan dia sedang tersenyum.

Bagi mereka, gerhana sangat berlawanan dengan kata luar biasa. Lebih tepat dikatakan sebagai penanda dari langit dan Tuhan atas hilangnya harapan mereka. Teori kematian muncul. Ada yang bilang karena gerhana. Istilah yang tepat adalah okultasi, peristiwa tertutupnya sebuah benda langit oleh benda langit lainnya yang lebih besar. Seolah hukum alam yang biasanya dipercaya tentang kematian dan pembusukan sedang ditulis ulang, tepat di ruangan ini.

Untuk mengetahui penyebab kejadian ini. Pasti ada jawaban, penjelasannya. Jawaban yang rasional. Sesuatu yang mustahil telah terjadi, dan kita harus harus mencari tahu penyebabnya dan menghentikannya. Mendekorasi ulang dan merenovasinya kembali tiba-tiba bisa terlihat bagitu jorok.
Teori berikutnya adalah zombie. Manusia penghisap darah yang melegenda. Dari istilah Dickward – otak tumpul, hingga istilah lebih rumit seperti Necro-boy (mayat hidup), setiap kelompok populer memilih istilah favorit mereka sendiri. Makhluk yang takut sinar matahari dan menyaksikan tubuh makhluk itu pecah dan hancur berantakan secara bersamaan saat tercabik sinar matahari yang membakar, berubah menjadi abu dan uap. Camins. Peters. Lily… dan Luss. Ada kemungkinan juga vampire. Ada tujuh vampire asli, yang dikenal sebagai Tetus. Para penguasa. Bukan satu di setiap benua. Sebagai penguasa, mereka tidak memerintah sendiri-sendiri, melainkan sebagai klan. “Memenggal kepala hingga terlepas dari bahan adalah cara paling ampuh. Sinar matahari juga bisa – sinar matahari langung. Tapi juga ada beberapa cara lain, cara yang lebih kuno.”

Teori lain, bisa juga ada racun yang sengaja dikirim dari Jerman yang mengakibat penumpang tak sadarkan diri. Kepuasan yang melegakan dalam perbuatannya itu. Juga kekuatan. Ya – kekuatan. Seolah mengisap nyawa makhluk hidup lain ke dalam tubuhnya. Menurut Eldritch Palmer, setiap orang harus menikmati tidur bagai di dalam Rahim, dan tidur seperti bayi.

Menurutmu, apa yang kita lihat di atas atap pagi ini adalah akhir dari spesies kita.” Cerita muter-muter dengan penuh belit, memusing tak terkendali, sampai akhirnya di bagian Malam Permulaan, mulai muncul titik terang. Mereka tidak bisa menyeberangi air yang mengalir. Tidak bisa jika tanpa bantuan manusia. “Cermin berlapis perak, itulah kuncinya. Cermin berlapis perak bisa menunjukkan kebenaran.” Mungkin kau mengira sedang melibatkan aku dalam masalahmu. Padahal sebenarnya, akulah yang melibatkanmu ke dalam masalahku.

Setiap kaum imigran pasti merasa khawatir keturunan mereka akan merangkul budaya bangsa lain dan melupakan warisan budaya sendiri. Tapi ketakutan Neeva jauh lebih spesifik: dia takut putrinya yang telah terdokrin menjadi gadis Amerika dengan kepercayaan diri yang berlebih justru akan berbalik melukainya. “Aku tak yakin ini masuk akal. Masuk terowongan demi memerangi binatang buas di kandangnya sendiri.”

Kepanikan sudah terjadi. Panik adalah respon yang tepat untuk kejadian ini, lebih tepat daripada berpura-pura tak terjadi apa apun. “Aku selalu bilang, jika ingin mendapatkan perhatian orang-orang bawakan sekantong tikus untuk mereka.” Kekacauan ini tak hanya di Amerika, makhluk ini menginginkan dunia. “Catat perkataanku, jika kau melihat perubahan besar dalam ekologi tikus, itu berarti bencana buruk sedang terjadi. Jika tikus-tikus mulai panik, itu saatnya menjual saham GE. Satnya keluar, mengerti maksudku? Mereka pertanda.”

Sayangnya, kisah ini menemui antiklimaks. Cerita bombastis di awal, ibarat kita langsung di taruh di puncak gunung. Cerita lalu melandai dengan cepat, membosankan di tengah, dan akhirnya saat penyelesain disajikan, pembaca sudah lelah. Perperosok di jurang. “Cara paling gampang adalah mengendalikannya. Mangatur habitat mereka, mengganggu ekosistem mereka. Memotong jalur pasokan makanan dan membuat mereka keluar karena kelaparan. Kemudian cari sarang akarnya, bersihkan.” Sulit memang menjaga konsistensi.

Terapi alkohol sudah banyak membantu. Tapi satu hal yang tak pernah kumiliki adalah menenangkan diri dan menerima hal-hal yang tak bisa kuubah. Kesehatan adalah hak pertama setiap manusia yang lahir, dan kehidupan adalah serangkaian hari yang dilalui tanpa harus merasa cemas. Dia masih di luar sana. Kasus ini belum selesai, novel ada tiga seri. The Fall dan The Night Eternal.

Namun karena ini adalah sutradara besar yang menyandang Best Director. Rasanya kesempatan harus diberikan, liburan mudik lalu saya sudah beli seri keduanya. Target baca bulan Juli nanti. Semoga bisa lebih memuaskan. Del Toro adalah mbah-nya fantasi. Saya percaya The Fall bisa!

Rahasia untuk mempertahankan kekuatan kemudaannya? Unsur yang sangat sederhana. Balas dendam.

The Strain | By Guillermo Del Toro & Chuck Hogan | Diterjemahkan dari The Strain | Published in 2009 by Harper | Alih bahasa Ellysnawati | Penerbit Elex Media Komputindo | 188141510 | ISBN 978-602-02-4421-1 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180619 – Dewa 19 – Separuh Nafas

#Day15 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan