Klop #11

Artiku tidak bergantung dari kehadiranku, tetapi pada cintaku dan cinta yang diberikan kepadaku yang tak akan pernah tak hadir. Karenanya, sekali menyalakan rumah ini, nyala itu akan tetap tak akan padam. Tak hadir pun aku tetap berarti. Aku ada, Ibu. Tak hanya kehadiran, ketidakhadiran juga membangkitan kehidupan, semuanya berguna apabila dilakukan dnegan tulus. Kini aku tahu, karena itulah kau tersenyum dan bahagia memandangku.”

Kumpulan cerita pendek yang kupinjam dari Bus Taka Taman Kota, Galuh Mas Karawang. Berisi 20 cerita dengan tema nyeneh.

#1. Mayat
Cerita absurd. Dibuka dengan baik, mengenai curhatan mayat yang jadi pergunjingan masyarakat. Mayat yang jadi bahan berita, menjadi cerita, menjadi sensai khalayak. Maka iapun protes, ke media ia mengetuk pintu menyampaikan keprihatinan. Di meja redaksi iapun berjam-jam mencurahkan tuntutan, komputer yang oenuh kata-kata kotor. Moral, asusila, tata krama, budi pekerti, kepatutan, hukum, bahkan tak urung agama, apalagi kemanusiaanyang dikibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk membungkus kebiadapan. “Semuanya busuk.” Lalu sang mayat berbincang dengan penjaga malam yang bergaji tiga puluh rupiah yang berarti hanya seperak sehari. Cukup? Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Wah!

Saya sudah terbiasa tidak dipercayai. Saya tidak tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas.”

#2. Jenderal
Menjadi militer tidak berarti harus memakai seragam militer dan masuk Akademi Militer. Ini adalah nasehat seorang ayah kepada anaknya untuk menjadi bagian dalam militer, menjadi orang penting dalam ketentaraan. Sayangnya, sang anak menolak, ia malah mendirikan partai politik. Sang jenderal pengsiunan kecewa. Kaulah pemilik hidupmu, bukan aku. Aku hanya sebuah sejarah yang boleh kamu lupakan kalau kamu anggap tak berguna. Lalu konspirasi tercipta.

Putraku, maafkan aku, kau akan ditembak di atas podium, sesudah kamu selesai mengucapkan perintah partaimu untuk kompromi pada penguasa zalim…” dan twist!

Mungkin ini cerpen terbaik dalam daftar.

#3. Merdeka
Selamat datang di dunia. Selamat datang di Indonesia, anakku.” Seorang anak lelaki lahir tepat di HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka iapun bernama Merdeka. Tumbuh menjadi anak pemberani, penuh tanya, pemberontak, sekaligus tukang kritik. Ia dikeluarkan dari sekolah. Ketika teman-temannya memegang ijazah, ia memegang pengetahuan. “Aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup.” Mantab! Basmi korupsi, Nak. Banyak hal mengesalkan memang menjadi merdeka, maka atas saran dukun ia berniat ganti nama. Kamu tidak ingin menjadi merdeka?

Apa kamu kira Merdeka itu bebas dari kesialan? Apa kamu kira Merdeka berarti mendadak jadi kaya dan bahagia? Kamu memang goblok! Merdeka berarti beban. Selangit beban di atas pundakmu sendirian. Merdeka berarti penderitaan. Merdeka adalah sejuta kesengsaraan yang tak putus-putusnya. Merdeka berarti kamu jalan sendirian, kamu tidak punya tuan dan majikan yang akan menolongmu kalau celaka. Merdeka berarti kamu harus menghadapi keperihan, kesengsaraan, nasib busuk itu sendiri. Merdeka itu sakit. Sakit yang mahabesar. Tetapi kamu harus bangga kamu yang terpilih untuk memikulnya. Kamu dianggap mampu dan percaya. Kamu hidup.

#4. Kartini
Dalam kereta api yang salah jurusan saya bertemu dengan wanita (yang mirip sekali) Raden Ajeng Kartini, saya mulai bersapa. Berdiskusi fiktif panjang lebar mengenai kebaya dan kebiasaan dan beberapa hal yang ingin kita tahu. Maka saat Kartini mengelap bibirnya yang bergincu dengan tisu, maka sang aku meminta tisu itu, disimpan buat kenang-kenangan. Lalu saat sang Kartini ke toilet dan berganti pakaian ala wanita zaman now, sang aku terkejut. Betapa drastisnya penampilan seseorang hanya dnegan berganti pakaian. Ibu Kartini itu sebuah konsep perjuangan kebebasan dan kesetaraan perempuan, bukan kostum. Bukan kostum yang membuat perempuan menjadi Kartini, tapi cita-cita. Kartini itu konsep bukan aksesoris.

#5. Mawar
(buat Mbak Kun)

Apa yang sudah terjadi memang tak mudah, tetapi dengan hati yang terbuka, ternyata masih ada celah untuk mengubah. “Mungkin Tuhan telah mengunjungi rumah kita atau memandang kita dari kejauhan. Pandangan-Nya saja sudah membuat damai kembali menghangati rumah ini. Aku tak pernah merasa sehat seperti ini. Apa yang lebih indah dari damai?”

Bunga mawar yang dibawa ke dalam ruang rumah sakit bisa membuat ceria si sakit, bunag mawar yang sudah layu dibuang di tempat sampah dan mengeluh betapa ia kini tak guna. “Aku jadi takut berharap, aku jadi takut merasa senang, aku jadi tak berani mengalami perubahan. Karena kau tahu semuanya sudah ditetapkan…” Yah, inilah hidup selalu ada akhir, tak ada yang abadi.
Ia begitu mencintai kehidupan. Sementara kita yang masih memilikinya untuk sementara, telah begitu melalaikannya.

#6. Y2K
Perang sudah berakhir. Semua pulang. Seluruh keluarga menunggu di beranda. Kisah apa yang dibawakan dari medan tempur. “Di hati ibu kau selalu seorang pahlawan.”

Setiap perkiraan adalah rencana. Mereka menunggu snag putra tiba, tetapi tak kunjung datang. Malah, yang hadir adalah sahabat putra mereka yang membawa sebuah titipan. Kabar sedih yang dibawanya membuat remuk redam, tentunya.

#7. Konsep
Pohon yang ditaman Goen itu berusia 100 tahun. Mereka menua bersama, sang pohon sampai menegur, “Lho empat puluh tahun lalu pada ulang tahunmu ke 60 kamu bilang kamu tak akan bisa hadir hari ini, ternyata kamu masih di sini.”

Mereka bedialog banyak hal, tentang hidup, tentang masa lalu dan rencana-rencana hidup. Kamu hanya pohon, bukan gagasan. “Ya, aku hanya sebuah konsep.”

#8. Surat Kepada Setan
Di hari kemerdekaan yang meriah, di desa yang semarak, di kota pagi itu masih terlelap. “Apa kibaran bendera satu hari bisa mengubah kebrengsekan yang sudah berkerak puluhan tahun?” Di usia 60 tahun, manusia tentunya sudah dianggap tua. Bagaimana dengan sebuah negara? Ketika hal-hal buruk terjadi, setanlah yang disalahkan. Kok bisa? “Ya Tuhan, ini kenapa jadi begini, aku bukan setan, aku bukan setan, aku bukan setaaaannnn! Aku bukan setan…,” kata setan.

#9. Setan
Ada setan yang ingin berhenti jadi setan. Alasannya jelas, karena citra negatif. Protes setan itu berkelanjutan dan panjang, beberapa kesalahan manusia dibicarakan, banyak yang ditimpakan karena godaan setan. Namun setelah berapa lam, setan bertanya, ia berbicara dengan siapa? Tuhan? Bukan. Dirimu sendiri! Jadi setan mau jadi manusia? Hhmm… “Ya, sudah! Aku memang manusia, asal rezekiku tetap setan.”

#10. Siapa
Ada orang menuju gedung MPR, ia bukan siapa-siapa, hanya warga negara abu-abu. Ditanya petugas, ia gamang, ketemu mahasiswa malah diajak gabung, lumayan nambah satu suara, sebenarnya sedang Sidang Istimewa macam apa ini? Tuhan, siapakah aku sebenarnya, siapa sebetulnya mereka?

#11. Kroco
Ngomongin ekonomi, mengenai mata uang rupiah yang naik turun, mengenai politik, sungguh tak menyenangkan. Selalu muncul pro-kontra yang panas. Kroco yang hanya rakyat ngeri, panik, dan jadi bulan-bulanan berita kanan-kiri. “Mengapa para ahli itu tidka bicara dengan ahli yang lain saja? Mengapa mereka menakut-takuti kita yang tak berdaya…”

#12. Soempah Pemoeda
Benarkah soempah pemoeda sudah dilupakan? Tentu saja tidak. Ami yang jadi panitia acara sungguh bisa menghapal, mengucapkan dengan lantang. Pak Amat dan bu Amat bangga, tapi nanti dulu. Bisa mnegucapkan dengan jelas bukan berarti bisa mengaplikasikannyakan?!

#13. KTP
Kisah lucu nan aneh di dalam bus yang melaju, seorang bapak yang tak mau duduk memegang kopor, dipaksa duduk malah mengatakan bawa bom. Penumpang pada panik. Tentu saja kekacauanlah yang tercipta, entah siapa yang memulai, ia ditarik di tengah, disiram bensin dan dibakar. KTP yang tercecer diambil seseorang, waktu diantarkan ke alamatnya kau terkejut karena wajahnya mirip dan seluruh identitasnya adalah identitas yang juga tertera di KTP-mu.

#14. Raja
Sebuah kerajaan dengan segala hiruk pikuknya. Beras menjadi komoditi panas, menjadi penentu kestabilan sebuah negara. Berat laiknya nyawa yang harus dilindungi. Hanya pedagang beras yang menjadi begitu sibuk, dipuja kala bagus dicaci kala rendah. “Jadi jangan salahkan apa yang sudah aku lakukan selama ini...” baginda Raja merenggutkan kembali jubauhnya dari mayat pedagang beras, langsung memakainya kembali.

#15. Kursi
Kursi tua yang jadi rebutan. Ini adalah cerita pengumpamaan yang aneh. Kuris itu jadi sengketa, rebutan anggota keluarga, sampai-sampai ada tetangga yang mencurinya. Heran, kursi yang dibeli di pasar loak jadi rebutan. Kakek-nenek itupun heran kursi di gudang berbuah baru, dan kematian mereka beserta hilangnya kursi menjadi berita hangat, lalu kuris itupun berkelana.

#16. Damai
Barangkali ketentraman ini hanya sebuah lamunan. Walau hanya mimpi, kecantikan itu tetap saja terjamah. Padang penuh bunga, angin semilir, suasana hangat, air sungai yang mengalir tenang, bak surga. Damai. Demi mencapai hal semacam itu maka perang dikobarkan. Perang untuk damai, damai hanya mungkin lewat perang. ahh… idiom yang terus didengungkan umat.

#17. Kembali
Berita ramalan yang mengatakan Indonesia akan ditimpa bencana, apa ini yang disebut kiamat? Segala hal buruk didengungkan, hal-hal pahit diapungkan, kewaspadaan dicipta untuk rakyat. PHK di mana-mana, beberapa wilayah coba melepaskan diri. Itu adalah prediksi tahun baru, akankah terwujud? Tahun Baru heran, kan belum datang kenapa kalian panik semua?

#18. Indonesia
Apakah kamu bangga berbangsa Indonesia?” Pertanyaan ini patut disampaikan kepada kita semua. Ada yang menjawab tidak, dan si diapun dikejar wartawan, mengapa? Lalu konspirasi dicipta, karena ia tak bangga menjadi warga RI semua dipersulit. Semua memunggunginya, semua memusuhinya. Ratusan warga Indonesia melawannya. Benarkah mereka benar-benar bangga berbangsa Indonesia?

#19. Nyahok
Orang berpakaian putih-putih. Kontan mereka menuduhku menyebarkan agama baru. Ini cerita tentang dunia kerja yang slaing silang, kepercayaan jadi barang mahal dan etos kerja jadi tuhan yang harus ditaati. Kantor redaksi yang menyatroni berita. “Tunggu!”

#20. Kutu
Isu pemberantasan KKN sudah ada sejak reformasi dimunculkan. Politik jadi seru setelah banyak hal diungkap ke publik. Saling tuduh, saling sikat adalah hal bias adalam politik. Menyingkirkan kutu busuk lawan jadi lumrah. “Seorang pahlawan lagi telah gugur hari ini…” adalah kalimat retorika, karena dialah dalang pembunuhnya, menyingkirkan dari persaingan. “Kita selenggarakan upacara penbuburan besar dan khidmat hari ini, seperti ada seorang nabi yang sudah pergi…”

Semua tindakan dan segala macam akal untuk membuat kita bertambah dekat lagi pada kekuasaan adalah sah!

Klop | Oleh Putu Wijaya | Cetakan pertama, Mei 2010 | Penyunting Dhewiberta | Perancang sampul Windu | Pemeriksa aksara Titis | Penata aksara Gabriel | Foto penulis Prio | Penerbit Bentang | viii + 236 hlm.; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-93-3 | Skor: 4/5

Buat istriku Dewi Pramunawati, dan anakku Taksu Wijaya pada saat pernikahan perak 07-04-10 | Bahagia bila istri tersenyum, anak tertawa, tetangga menyapa, manusia bersaudara, kehidupan sejahtera, alam terpelihara

Karawang, 160619 – Glee – Call Me Maybe

#Day11 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s