Kawitan #12

Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu

Segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka di perpustakaan / Dulu pernah ada semak buah beri / di mana seekor musang menyelinap / bersembunyi dari tangan mungil sang waktu / tubuhnya ringan menyelusup / jauh hingga ke pucuk bayang sehelai daun / Dan pada pukul enam sore / semuanya lingkap bagai kata-katamu / bagai cahaya di belantara raya / tersamar pekik liar burung-burung malam

Sebelum dini hari di bawah mimpi pohon kastanye / siapa dari kalian yang menyamar bajak laut Arabia / menghunus belati kayu, membuka semua pintu / mencari jalan rahasia menuju dongeng yang lain:
Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / selalu bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada

Atau tentang benua yang perlahan tenggelam / dan orang-orang terlambat menuliskan namanya di sana / Tapi seekor kucing yang lelap di teras rumah / sekilas tampak terjaga, memandang kalian / mengeong seakan tengah mengigau / Cakarnya yang tumpul / tadinya membias cahaya bulan yang entah
Kini tak ada ayunan di kuil taman puingmu / tak ada sarang burung yang terjatuh / menyimpan telur-telur yang sebentar akan menetas
Dan pada buku ini, di perpustakaan ini / gambar-gambar masa lalu / telah kabur warnanya

Saya nukilkan judul terbaik dalam buku ini, berjudul ‘Kuil Taman
Menikmati puisi masih menjadi hal yang sulit bagiku. Masih kurasakan hal yang sama dari satu bait ke bait lain, kumpulan puisi yang kupilihpun tak sembarangan, rata-rata menjadi pemenang atau kandidat dalam Kusala Sastra Khatulistiwa pun Dewan Kesenian Jakarta. Kawitan dan rangkaian panjang yang kucoba hirup tiap katanya.

Seperti janjiku, tahun ini saya akan menikmati 12 buku kumpualn puisi. Buku kedua, buku bulan Februari. Buku ini kubeli Selasa lalu (12/2/19) di Gramedia Karawang bersama May dan Hermione sembari beli sampul buku dan pop toy dan refreshing, kubaca kilat Kamis (14/2/19) pulang kerja. Ga sampai satu jam selesai. Dibaca nyaring, lirih, dan beberap berulang sekalipun di ruang meeting Priority kantor.

Ada dua bagian: pertama Muhibah Tanah Jauh, kedua Kampung Halaman. Buku ini dihimpun dari berbagai sumber media massa dari tahun 2007 dalam ‘Naga Banda’ di Bali Post sampai tahun 2016 dalam ‘Doa Puisi’ di Harian Indo Post, yang membuktikan sang penyair sudah sangat berpengalaman, bahkan di sampul ada stempel ‘Pemenang II Sayembaya Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015’.

Saya selalu kesulitan mengulas puisi euy, narasinya tak runut sehingga saya tak tahu mana awal mana ujung, cerita yang dituturkan acak, random seolah ngasal, maka saya mending nukil yang menurutku menarik ya lalu sedikit berkomentar. Saya ketik dalam dua kali kesempatan duduk, pada 16 Februari sempat mengendap di folder, saya selesaikan 16 Juni hari ini, sore hari bersama serangkaian musik jazz. Sekalian saya masukkan dalam event tahunan saja.

Dalam puisi ‘Tanah Baru Di Adiwena’ ada bait yang bagus: Seekor laba-laba merambati bebatuan / Kumbang bercinta di sela wangi hujan dini hari / Dan kadal tak jemu memanggil-manggil / Kadal-kadal kecil yang lain. | Sebab adanya waktu, bagaimana dirayakan / Adanya yang tiada, bagaimana lagi mesti dilupakan?

Bagian yang kuanggap bagus adalah bait bercinta di sela wangi hujan dini hari. Laba-laba, kumbang, kadal, para binatang itu merayakan pagi dengan meriah!

Dalam judul ‘Perpustakaan Kampus’ kutemukan: Di dalam tidur diam-diam jiwaku meminta. Berdoa / Mengikat janji pada maut / agar abadi dalam dunia fana ini / Aku berjalan dari rumah ke rumah / Di sana tak ada ibu yang menunggu menyambutku / Bagai anak hilang abai tak pulang / aku berharap bisa mengembara | Mendayung sampan di hutan-hutan.

Bagian mendayung sampan di hutan-hutan menurutku unik, kita tahu maksudnya adalah mendayung di sungai yang mengalir membelah hutan, tapi dalam baitnya kita malah disodori langsung tanpa detail. Ibarat bilang mengusap air di pipi, tanpa keterangan itukah air mata?

Dalam judul ‘Aku dan Jiwaku’ menawarkan absurditas di mana fisik dan jiwa adalah dua entitas yang saling bersapa: Aku dan jiwaku berbaring berdampingan / kami telanjang | bagai dua kanak remaja / Kami saling menatap / seolah lama tak jumpa.

Di judul ‘Rumah Jean’ mari kita kutip: Apa yang dipikirkan pohon-pohon ketika tiba musim gugur; / Maut yang pias di wajah ibu atau nujuman masa depan yang tersamar kabu? | Apa yang dibayangkan pohon-pohon ketika melihat dahannya yang hijau / sarang kecil seekor pelatuk yang kuyup oleh hujan / atau lenguh kerbau di padang luas?

Menjadikan tumbuhan berpikir dan bisa membayangkan keadaan sekitar, menjadikan mereka makhluk hidup yang mengamati sekeliling, menjadikan hidup yang hidup dengan nalar dan perasaan.

Judul ‘Bunga Untuk Sitor’ ada bagian: Apakah bisa wangi dupa / mengantarkan doa-doa kepada para dewa? | Apakah bisa seorang ibu demam semalaman / terbaring di ranjang / seketika tersembuhkan / oleh sentuhan tangan tuhan?

Ga perlu diperdebatkan sih, wangi dupa sebagai sarana ibadah, sarana reliji tapi kurasa disini mereka seolah hidup sehingga bisa jadi tukang pos doa untuk para dewa. Walau sang penyair malah menambah tanda tanya(?). Mereka dicipta dengan api, melayangkan asap mistis dan menyentuh hati malaikat demi kesembuhan orang terkasih.

Sebatang pohon ara, empat pina / tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu | segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka / di perpustakaanmu.

Bait ini ada di pembuka judul ‘Kuil Taman’ yang menarik adalah menjadikan buku terbuka sebagai perangkap, menjadikan gua, puing yang berserak menyambut para makhluk. Lalu di judul yang sama terdapat bait bagus, mungkin malahan menurutku paling bagus: Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / sellau bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada.

Nah, kota yang sangat tua yang mencipta segalanya, sebelum agama dan tuhan turut!

Satu lagi, dalam judul ‘Matoa’: Kubayangkan matoa yang ini / Terusir dari tanah leluhur / Cuma berkawan membagi hidup / Bersama segugusan pakis dan rumput | yang pelan-pelan melayu / melapuk jadi rabuk akar dahan / lalu tumbuh kembali / sebagai pakis dan rumput yang lain / yang tak dikenalinya.

Suka bagian dalam pelan-pelan melayu, melapuk jadi rabuk yang nantinya akan bangkit, seolah semua siklus ini, siklus hidup mati adalah tarikan napas, bukan takdir alam yang perlu dipikirkan.

Demikian ulasan singkat dariku, sangat menanti respon kalian para penyair, para pengunjung setia blog, para penyuka puisi untuk memberi masukan. Cara menikmatinya, cara mengulasnya, cara benar-benar merasuki keindahan rima dan bait.

Sungguh sajak adalah barang mewah yang sulit kujangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

Kawitan | Oleh Ni Made Purnama Sari | GM 616202022 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Copyright 2016 | Ilustrasi sampul Natisa Jones | Setter Nur Wulan Dari | ISBN 978-602-03-2788-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160219 – Sherina Munaf – Primadona || 160619 – Dave’s True Story – Ned’s Big Dutch Wife

#Day12 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s