Di Bawah Lindungan Ka’bah #10

Akan aku pikul rahasia itu jika engkau percaya padaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tidak dapat mengambilnya ke dalam hatiku.

Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk semalam (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kalau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck konfliknya lebih rumit dan variasi, Di Bawah hanya satu permasalahan utamanya. Roman kasih tak sampai. Mirip sih, tapi ga serumit Tenggelamnya. Dengan setting tahun 1920an, di mana transpotasi masih begitu minim, komunikasi jarak jauh hanya mengandalkan surat dan telegram, dan adat istiadat timur yang masih sangat dijunjung, hal-hal semacam ini sudah punah saat ini.

Kita ada di era millenium, era digital. Kita hanya butuh beberapa detik untuk tahu kabar di Arab, kita hanya butuh ketik di gawai untuk mengirim kabar di ujung dunia Barat, kita hanya perlu teknologi mahir guna bersapa dengan orang-orang yang berjauhan, niscaya kisah cinta tragis Di Bawah tak perlu terjadi. Ini roman di era Indonesia belum merdeka, dengan segala kesederhanaannya.
Tata bahasanya halus, sastra klasik Indonesia yang sangat indah. Kosakata dipilih dan dipilah dengan ketelitian yang bagi generasi milenial mungkin agak janggal, plotnya mungkin ketebak, mengingat setting tempat dan alurnya mirip sekali dengan Tenggelamnya. Saya sih salut cara berceritanya, mengingatkanku pada buku-buku sains H.G. Wells di mana kisah dalam kisah, lalu diceritakan dengan cara seolah menukil kisah orang, padahal kita tahu ini cerita berdasarkan kehidupan sang Penulis dengan bumbu fantasi.

Dibuka dengan surat dari Mesir, surat dari sahabat yang mengabarkan keadaan, menyampaikan kondisi terkini dan keinginan untuk mengirim naskah sebuah kisah yang dulu pernah dilewati bersama kala di Arab Saudi, di bawah lindungan Ka’bah. “… orang yang tiada berhati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah-tengah samudera yang luas itu…”

Settingnya berlapis. Pertama dari Mesir, kedua dari Mekkah, ketiga di sebuah kampung di Sumatra dan keempat di tanah rantau di Padang Panjang. Maka setelah prolog, bab pertama waktu ditarik ke era tahun 1927 di Mekkah. Indonesia di bawah kolonial mengirim jamaah haji dengan rekor tertinggi, dengan kapal Karimata sang aku menjadi salah satu umat yang beruntung itu, mereka bertolak dari pelabuhan Belawan, empat belas hari terkatung di lautan, sampailah di pelabuhan Jeddah di tepi laut Merah, dua hari kemudian mereka sampai di tanah suci Mekkah.
Selama di Mekkah sang aku bermukim di seorang syekh yang memang menampung jamaah haji. Di sanalah sang aku berkenalan dengan pemuda Indonesia yang pendiam, tampak muram, khusuk dalam berdzikir, wajahnya lebih sering sedih ketimbang ceria. Prasangka aku bahwa di tanah suci semua orang bahagia jelas salah, maka mereka saling bertukar cerita. Di atas sutuh (atap) rumah Arab yang berbentuk kubah itulah kita lagi-lagi diajak kembali ke masa lalu. Masa sang pemuda bernama Hamid itu menjalani masa kecil.

Di usia empat tahun Hamid menjadi yatim, ia terlahir miskin, maka untuk membantu ekonomi ibunya, ia membantu jualan keliling panganan, gorengan. Rumah di sampingnya adalah rumah kosong milik orang Belanda yang dijual karena pulang ke negerinya, suatu hari rumah yang dijaga tukang kebun (di sini ditulis jongos tua) Pak Paiman itu ada pembeli, direnov lalu ditempati orang lokal kaya bernama Engku Haji Ja’far, istrinya Mak Asiah suatu hari membeli gorengan Hamid, berkenalan dan meminta ibunya berkunjung sore itu. Singkatnya, Hamid kini ikut sekolah, biaya ditanggung Pak haji, bareng sama anak tunggal mereka Zainab yang usianya terpaut sedikit. Mereka mengarungi waktu bersama, sekolah di HIS (Hollands Inlandsche School) lanjut ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Wajar sekali, mereka saling mencinta, walau sudah dianggap saudara sendiri, kakak-adik era kolonial tak beda dengan sekarang. Ada benih asmara di dalamnya.

Bedanya, setelah lulus MULO, anak perempuan tak melanjutkan pendidikan, ia akan dikurung di rumah, dipingit, didatangkan guru guna mendapat ketrampilan dan budi pekerti, statusnya hanya menanti calon suami, ia dikurung, hanya mendekam dalam rumah. Sementara Hamid lanjut sekolah ke Pandang Panjang, mengambil ilmu agama. Dan sejauh manapun ia pergi, hatinya terpaut ke hati Zainab. Kunjungan pakansi, liburan ke rumah selalu istimewa saat ketemu pujaan hati.

Konflik pertama dimunculkan kala pak haji Ja’far meninggal dunia, tak lama berselang ibunya sakit keras dan dalam keadaan sekarat ia berpesan untuk menjaga hati, tahu diri, mereka dari keluarga miskin, ibunya tahu Hamid jatuh cinta pada Zainab tapi memintanya untuk memendam, derajat mereka beda, mereka adalah kaum jelata yang hanya beruntung bisa sekolah. Dan ketika ibunya meninggal, sebatang karalah ia sekarang.

Sampai di sini sejatinya pembaca bisa menebak cinta Hamid tak bertepuk sebelah tangan, hanya ia tak punya nyali, terbentur kondisi, terkena tradisi, tak berani melawan adat. Maka dipendam terus, tak berani diungkap. Waktu berjalan, ia coba melupakan, ia coba mengikhlaskan. Maka suatu hari saat Hamid bertemu bu Asiah, ia diminta ke rumahnya. Saat berkunjung disambut Zainab dengan berbunga, bagian inilah yang terbaik. Sempat terbetik asa, mereka akan saling mengucap cinta, saling terbuka mengutarkan hati, naas, ibunya pulang, ibunya keburu sampai rumah. Zainab diminta buat tiga gelas kopi, nah selama di dapur itulah maksud meminta kedatangannya dituturkan. Remuk redam hati pemuda itu, ia diminta meyakinkan Zainab untuk menikahi saudara ayahnya, karena ia yatim maka Hamid diminta mewakili keluarga. Duuuh… kamvret banget bagian ini. Bayangkan, diminta menjadi wakil orang lain mengungkap maksud lamaran kepada gadis pujaan! Gilax. Dan Hamid dengan hati yang perih dan pedih bisa, walau sakit, sakit sekali kawan. Pemuda gagah dengan nyali ciut ini lalu pergi jauh. Merantau tak terkendali, menjadi petualang karena cintanya yang kandas sebelum disampaikan.

Ia menulis surat cinta, surat perpisahan kepada Zainab bahwa ia cinta, ia sayang, ia akan merindu, maka ia pergi jauh. Ingat ya sampai di sini, Zainab tak diberi kesempatan menjawab, sejatinya agak konyol juga kenapa ga menyampaikan langsung saat bisa, kenapa ga dinanti dulu repsonnya. Ah cinta dekade pasca Perang Dunia Pertama, siapa yang tahu hati manusia? Hamid lalu melalangbuana ke berbagai negara, menelusur peta dan sampaikan ia di Arab, menjadi penghuni rumah syekh yang kita kenal di awal. Dan sampailllah kita di masa kini.

Bertemu Saleh, rekan belajar di Padanag Panjang yang akan melanjutkan studi ke Mesir, ia menyampaikan kabar dari kampung yang muram, istrinya yang sahabat Zainab itu lalu membuka fakta-demi-fakta. Duh sungguh gila, cinta mereka. Murni tanpa cela, akankah mereka bisa bersatu?

Cerita cinta di era lalu yang tanpa teknologi digital, sungguh menggugah. Saya jadi ingat pula Romeo + Juliet, bagaimana mereka mengakhiri cerita dengan tragis karena terjadi salah komunikasi. Begitu pula cerita pilu cinta dalam Bumi Manusia yang menampar pembaca di akhir. Dunia memang seperti ini, cerita cinta akan selalu dibuat dengan latar sesuai budaya dan era masing-masing. Di era sekarang-pun masih banyak kasih tak sampai, sekalipun sudah mudah dalam komunikasi, tetap saja hati orang siapa yang tahu?

Wahai anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahwa engkau diserang penyakit cinta. Takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta…

Di Bawah Lindungan Ka’bah | Oleh HAMKA | Penerbit Bulang Bintang | Cetakan ke-32 | Rabi’ul Akhir 1433 H / Maret 2012 | 72 hlm.; 21 cm | ISBN 979-418-063-7 | Skor: 4/5

Karawang, 160619 – The Adams – Lega

#Day10 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

2 thoughts on “Di Bawah Lindungan Ka’bah #10

  1. Saya sudah lupa dengan isi novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Namun dari karya Hamka, yang saya ingat adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s