Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s