Paper Towns #8

Apa sebabnya aku mendapat kehormatan ini?

Inilah buku yang kubaca selama libur lebaran di Palur dan Jatipura, saat mudik menjadi teman jelang tidur. Selesai dalam tiga malam. Buku remaja yang memang ringan, ngalir saja, ternyata memuaskan. Memang ekspektasiku tak tinggi, ini semacam trial baca bukunya John Green, saya beli baca satu ini bila sukses membuka kran buku lainnya, semisal The Fault In Our Stars yang terkenal itu. Ternyata lumayan bagus, nama John Green dari awal 2010an sampai sekarang memang sedang hangat diperbincangkan, dulu pas sedang ramai sempat menimang-nimang bukunya di Gramedia Mega Bekasi, dan menanti lima tahun baru benar-benar terealisasi. Jadi mari kita ulas bagaimana tingkah remaja Amerika menyambut kelulusan sekolah.

Buku dibuka dengan dua kutipan. Seperti laiknya semua buku, kutipan yang mewakili isi cerita. Dari Atlas tentang cahaya yang sepintas lewat dalam gelap dan The Mountain Goats tentang arti sahabat. Memang cerita yang disodorkan adalah kisah persahabatan unik antara seorang gadis aneh dengan remaja pria tetangganya yang lurus.

Dan setelahnya, ketika kami pergi keluar untuk menatap lenteranya yang selesai dibuat dari jalan, aku berkata aku suka cara cahayanya menerangi wajah yang muncul sekelebat dalam gelap. – ‘Jack O’Lantern’, Katrina Vandenberg dalam Atlas.

Kata orang, teman takkan menghancurkan satu sama lain. Tahu apa mereka soal teman? – ‘Game Shows Touch Our Lives’, The Mountain Goats

Kisahnya dibuka dengan sebuah potongan adegan di pagi hari. Bagaimana Quentin Jacobsen (di sini lebih sering dipanggil Q) yang berpisah dengan Margo Roth Spiegelman setelah melakukan petualang. Prolog-nya memberitahu kita bahwa penemuan mayat Robert Joyner di taman Jefferson Park oleh mereka berdua di masa kecil menjadikan dua respon yang saling tolak belakang. Q yang pasif dan penurut ditenangkan oleh orang tuanya bahwa semua yang bernyawa suatu saat akan mati, petuah bijak yang wajar dari orang dewasa kepada anak-anak dan Margo yang punya rasa ingin tahu berlebihan laiknya detektif, malah menyelidiki. Ini juga jadi akar nantinya ketika mereka beranjak dewasa. Maka ceritapun dibuka dengan hari terpanjang dalam hidup Q. Cerita dipecah dalam tiga bagian: Senar, Rerumputan, dan Wadah.

Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri.

Bagian Senar adalah satu hari full petualangan Margo dan Q, sudut pandang cerita orang pertama dengan Q yang seorang siswa baik-baik, penurut, pintar, punya absensi kehadiran di kelas menakjubkan hingga dijadikan teladan yang sering disebut para orang tua. Q bertetangga dengan Margo, gadis petualang yang cantik yang pemikirannya memang jauh lebih dewasa. Penuturan hari yang panjang itu sempat bertele dimulai dengan pagi sampai malam yang biasa, membosankan sungguh lamban, karena memang masih pengenalan karakter. Bagaimana kehidupan di kelas di Amerika sana di kelas 3 SMU. Q yang bersahabat dengan si nyentrik Ben yang terobsesi pesta prom, Chuck yang jenius, Radar yang aneh, Margo yang berpacaran dengan Jason Worthington dan berteman dekat dengan Lacey, memiliki anjing lucu Myrna Mountweazel. Setelah runut panjang, sampailah kita di tengah malam. Jendela rumah Q diketuk, dan Margo mengajaknya berpetualang. Menjadikannya sopir, melakukan sepuluh babak. Q yang dasarnya anak baik sempat bimbang, tapi Margo menawarkan malam istimewa yang takkan terlupa. Dan petualang tak terlupapun tercipta. “Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.”

Bagian kedua Rerumputan berkisah hari pasca malam mencekam itu. Margo ga muncul di kelas, Q melanjutkan kehidupan yang wajar, tapi efek malam itu ternyata panjang. Penyelidikan, telusur kejadian untuk memecahkan misteri. Margo yang mempunyai adik Ruthie yang seru dan orang tua yang kesal, karena Margo kini sudah berusia 18 tahun dan dianggap dewasa maka kepergiaannya sudah bukan lagi menjadi urusan polisi bila orang tua tak membuat laporan kehilangan, dan benar saja Margo si anak bengal sudah direlakan pergi dari rumah, memulai kehidupan dewasanya, padahal masih ada pesta prom dan wisuda, sampai berhari-hari tak muncul. Inilah bagian dua yang ditawarkan, Q dkk melakukan penyelidikan ala detektif. Dengan bantuan buku sastra kumpulan puisi Woody Guthrie dan Whitman, terutama Whitman dnegan buku Song of Myself. Kode yang disebar, dengan kalimat-kalimat yang ditandai yang kemudian menjurus ke sebuah petunjuk di pintu kamar Q yang membuatnya harus menyelidiki keluar kota ke lubang troll. Misteri itu belum tuntas sampai bagian ini selesai. Dan beranikah Q melakukan perjalanan ke New York, karena dalam proses selidik ternyata kemungkinan Margo ada di sebuah daerah x yang fiktif. New York yang membentang jauh dari Florida, perjalanan udara tak memungkinkan, mereka kere, maka dengan mobil pemberian orang tua Q mereka pun nekad.

Bagian Wadah adalah cerita perjalanan, dijelaskan dengan detail jam per jam. Dengan mobil hadiah orang tua Q mereka bergantian di belakang stir. Perjalanan misterius menuju kota Agloe, New York yang merupakan kota kertas. Akankah mereka berhasil menemukan Margo? Saya kasih sedikit bocoran, mereka mengalami kecelakaan. Nah! Tertarik kan. Ayoo nikmati kisah remaja Amerika dengan sastra, musik klasik dan ide cemerlang dalam perjalanan darat yang menakjubkan!

Cara bercerita yang bagus. memberi tanya kepada pembaca, menyodorkan sebuah plot yang lucu. Gadis bengal yang menghilang, orang tua yang tak peduli, justru menarik minat tetangganya, remaja seusia yang sejatinya jatuh hati. Lelaki polos yang penasaran, menemukan kota kertas yang misterius yang ternyata ada, berdasarkan fakta. Bahkan kalau kalian coba di google map akan muncul juga kota itu.

Tak seperti masa remajaku yang lurus, pengalaman Q menelusuri kota akan selalu dikenang saat ia nantinya berusia 30-40 tahun. Seperti kalimat-kalimat pembukanya. “… semua orang mendapatkan satu keajaiban. Contohnya, aku mungkin takkan pernah disambar halilintar, atau memenangkan Hadiah Nobel, atau menjadi diktator suatu negara kecil di Kepulauan Pasifik, atau mengidap kanker telinga yang vtak dapat disembuhkan, atau mengalami tubuh terbakar secara tiba-tiba. Tetapi jika kita mempertimbangkan semua hal-hal yang tak mungkin itu sekaligus, setidaknya salah satunya bisa saja terjadi pada masing-masing dari kita. Kau bisa saja melihat hukan katak. Aku bisa saja menapakkan kaki di Mars. Aku bisa saja dimangsa paus. Kau bisa saja menikahi Ratu Inggris atau bertahan hidup bertahun-tahun di lautan. Tetapi keajaibanku berbeda: dari semua rumah di subdivisi di antero Florida, aku tinggal bersebelahan dengan Margo Roth Spiegelman.”

Hebat ya. coba kalimatnya sedikit diubah, aku bisa saja menikahi Sherina Munaf, aku bisa saja mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, aku bisa saja menapakkan kaki di Hollywood, aku bisa saja menyaksikan derby della capitale di Olimpico, aku bisa saja bersalaman dengan Saoirse Ronan, dan seterusnya… tak ada yang mustahil di hidup, karena seperti yang Q alami yang tercipta hidup bertetangga dengan Margo yang mengantar malam tak terlupa, kita semua bisa saja kena kutuk menjalani hidup tak sebiasa yang kita kita suatu saat nanti.

Malam ini sayang, kita akan memperbaiki bayak hal yang keliru. Dan kita akan mengacaukan beberapa hal yang benar. Yang pertama akan jadi yang terakhir, yang terakhir akan jadi yang pertama, yang lembut hati akan mewarisi bumi, tetapi sebelum kita mengubah dunia secara radikal, kita harus belanja…

SSHISS

Kota Kertas | By John Green | Diterjemahkan dari Paper Towns | copyright 2008 | 6 15 1 60 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Angelic Zaizai | Desain sampul Martin Dima (martin_twenty1@yahoo.com) | Cetakan ketiga, Juni 2015 | ISBN 978-602-031834-9 | 360 hlm.; 20 cm | Skor: 4/5

Untuk Julie Strauss-Gabel, yang tanpa dirinya tak mungkin ini jadi kenyataan

Karawang, 150619 – Kylie Minogue – Spinning Around

#Day8 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019