Water For Elephants #2

Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sengat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman… kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar, dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian…”

Aku sungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan, dan aku mengatakan apa yang sesungguhnya… Gajah setia seratus persen!” Theodore Seuss Geisel, Horton Hatches the Egg, 1940

Buku yang awal sampai pertengahan begitu datar, kurang konflik, sungguh hampir saja saya menyerah kecewa. Sampai akhirnya ketika kereta melaju, perseteruan terjadi, dan dua karakter dilempar tewas dari kereta. Dilampumerahkan istilahnya. Memuncak saat sebuah irama band memberi sinyal, ending yang nyaris bagus, karena yah kembali ke sweet juga. Kenapa ga dibuat keras, tangis yang pilu dan apa adanya akan kepahitan hidup?

Saya memutuskan membelinya karena sudah diadaptasi film dengan bintang Robert Pattison. Saya belum menontonnya, akhir-akhir ini aktor bling bling Twilight ini kembali menjadi buah bibir ketika dipilih menjadi pemeran Batman menyingkirkan Nicholas Hoult. Jadi penasaran aksinya menjadi Jacob, sang dokter hewan yang nyentrik.

Kisah sebenarnya sungguh menarik dimula. Bagaimana seorang remaja menghadapi kerasnya hidup. Dengan pola plot bolak-balik menyertakan masa tua dan muda secara bergantian tiap beberapa bab, kisah hidup Jacob Jankowski. Sayangnya hanya dimula, bab setelah nasib tragis mendatar. Seorang tua yang pikun yang tinggal di panti wreda, berusia 90 atau 93 tahun? Ia sampai lupa, termasuk nama sang perawat Rosemary yang sabar dan tekun mengurus para manula. Suatu saat ketika di kantin akan makan siang, Jacob beradu argumen dengan manula lain karena mengaku dulu bekerja sebagai pengurus air untuk gajah. Jacob yang sejatinya menghabiskan karir di sana membantah, mencapnya sebagai pembohong. Dan kisah lalu merentang jauh ke belakang tahun 1930an.

Jacob adalah remaja yang memiliki masa depan cerah, seharusnya, kuliah di kampus terkemuka bidang dokter hewan seperti ayahnya yang bijak. Suatu hari ia dipanggil ke kantor karena ada hal mendesak, sempat was-was takut ia kena kasus dan memalukan orang tua, justru ia yang terkejut karena ia menerima kabar mengejutkan, kabar tragis kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan. Sebagai anak tunggal dan tak memiliki saudara, ia kini sebatang kara. Kuliahnya yang sudah hampir di garis finish, suatu hari saat ujian kelulusan ia kabur, meninggalkan kertas kosong dan menggelandang. Pergi dengan kehampaan hati, tanpa rencana, tanpa uang, tanpa harapan. Jacob naik gerbong kereta yang sedang pelan, dan memulai petualangan baru.

Ternyata itu adalah gerbong kereta sirkus. Berkenalan dengan orang-orang dibalik pertunjukan Benzini Bersaudara Pertunjukan Paling Spektakuler Di Dunia. Dunia sirkus di tahun 1930n terbagi dalam beberapa hal: para pejabat, para performa, para pekerja. Jacob yang awam, ditanyain sama bos Paman Al, dia adalah seorang mahasiswa yang cabut. Gayung bersambut, ia diterima menjadi bagian sirkus. Apalagi Paman Al begitu mengidamkan dokter hewan. Keadaan makin sempurna saat sebuah sirkus keliling bangkrut dan menjual asetnya kepada siapapun. Salah satu aset yang berhasil diambilalih adalah gajah unik bernama Rosie. Sebuah idaman, sirkus punya gajah.

Tak semudah itu menaklukkan gajah, tak ada pawang, maka sang pengurus August Rosenbluth ditunjuk. Jacob lalu berkenalan dengan istri August, bernama Marlena. Jacob jatuh hati, waduh gawat jatuh cinta pada istri orang, istri sahabatnya. Konflik sesungguhnya terjadi antara Jacob, Marlena, August yang mengurus Rosie yang sering ngambek, bahkan pernah makan sayuran di kebun warga. Nah segi empat itu tipikal sinetron jatuhnya, kita bisa tebak cinta pemuda kepada Marlena akan berakhir bagaimana, kita juga dengan mudah menerka nasib Rosie setelah menunjukkan peningkatan dalam latihan, lalu memukau dalam pertunjukan. Sayang sekali sih, Sara tak memiliki amunisi rahasia buat memberi kejut Pembaca. Nasib para karakter pendamping, seperti teman tidur yang suka baca Walter lalu temannya yang ditampung karena lumpuh juga sempat memberi asa, sayangnya dah keburu jatuh, menuju akhir sekali. Mungkin eksekusi irama darurat lalu meledak dalam kemarahan di akhir sedikit menyelamatkan. Air Untuk Gajah mencoba drama, sayangnya hanya sedikit yang menyentuh.

Bagian bagusnya, beberapa akhir bab ada selipan gambar asli yang diambil dari museum secara resmi bagaimana aksi sirkus di kala itu, termasuk penjelasan, riset pesaning Ringling dan penelurusan Penulis akan kisah pertunjukan kala itu. novel ini hanya menyentuh, sedikit hati kecil karena sentuhannya yang biasa. Bagian Ok mungkin juga pola plot maju mundur yang mengingatkanku pada novel Kakek 100 Tahun yang melompat jendela dan menghilang dari Swedia, sayangnya ini versi binatang besar yang memang berat sekali untuk dikisahkan.

Menyelundup di kereta Sir, kutemukan dia mengendap-endap di gerbong tidur.”

Air Untuk Gajah | By Sara Gruen | Diterjemahkan dari Water For Elephants | copyright 2006 | Alih bahasa Andang H. Sutopo | Desain cover Marcel A.W. | GM 402 01 10 00064 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 512 hlm.; 20 cm | ISBN 978-979-22-6252-0 | Skor: 3.5/5

Untuk Bob, masih menjadi senjata rahasiaku

Karawang, 020619 – Dewa 19 – Risalah Cinta

#Day2 #30HariMenulis #ReviewBuku #Juni2019

#RIPReyes #SelamatJalanBuAni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s