Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer #4 #1

Laut tetap kaya, dia berikan kepada kita segala-galanya sampai yang terindah di dunia: mutiara.”

Buku yang luar biasa menguras emosi. Bagaimana di era kolonial Belanda, kita menjadi bangsa yang terjajah bukan hanya geografis tapi juga tatanan sosial yang begitu menyakitkan. Lebih miris lagi, para priyayi itu, orang-orang penting yang mengabdi pada penjajah juga pada akhirnya melakukan tindakan semena-mena terhadap kaum cilik. Di zaman sekarang tak menutup hal semacam itu masih ada, orang kaya yang menindas warga tak punya dengan bentuk yang lebih ‘lembut’. Namun ya tak separah ini tentunya. Keras. Ganas. Amoral. Dalam buku keempat Pramoedya Ananta Toer yang saya baca ini, seorang gadis pantai merasa terombang-ambing nasib, bisa dibilang masalah ketidakadilan, tapi keadilan yang bagaimana diwujudkan kala itu? Ini adalah budaya, ini adalah sebuah masa yang larut dalam kebiasaan, lupakan tata krama, lupakan moral, setiap masa memiliki daya ragamnya masing-masing.

Kisah dibuka dengan pengantar bagaimana rupa dan kehidupan sang nenek dalam satu halaman penuh. Kemiskinan yang menggelayuti dan bagaimana Pram mempersembahkan kisah Gadis Pantai untuk neneknya yang pergi ke Jakarta di era penjajahan Jepang, pergi merantau dan tak kembali.

Kita catat dari daerah ini, kawan | Nelayan dimakan ikan | Sedang di darat hanya tiga jam istirahat | Dari segala yang didapat | Untuk tengkulak dan pajak | Nasi dan pukat” – ‘Kampung Nelayan’, Pinore Gangga.

Usia sang gadis pantai baru empat belas tahun. Kesehariannya dalam debur ombak dan kesenangan remaja itu suatu hari terampas, datang seorang utusan yang menemui orang tuanya. Ia dibawa ke kota, ia dinikahkan dengan pembesar, tanpa permintaan setuju enggaknya. Dengan tangis yang menderai, ia akan menjadi istri seorang priyayi, tidak tinggal di gubuk lagi, tidak perlu bergelut dalam kesulitan ekonomi. Dengan dokar mereka melaju, dengan kain sarung yang indah, kebaya, kalung dan gelang yang cantik.
Ketika sampai di rumah Bendoro, orangnya lagi tidur, penjaganya malah berdebat dengan kedua orang tuanya dan kepala kampung yang mengantar. Tak boleh berisik, tak boleh mengganggu sang tuan rumah. Ada adegan absurd bahwa mereka melihat ada anak kecil yang menangis, itu anak siapa? Bendoro. Ibunya mana? Pulang kampung dan tak kembali, kok bisa? Dicerai? Nope. Terus gmana? Mana ada yang tahu, hanya Bendoro dan Tuhan yang tahu. Maka sang gadis pantai akan dinikahkan dengan seorang duda? Poligami? Kesemena-menaan yang terstruktur. Uang dan jabatan di era itu jelas memainkan perannya. “Betapa hebat Bendoro mengajar putera-puteranya. Sekecil itu sudah bisa bicara bahasa Belanda.” Nah sekarang apa bedanya, saat kita takjub sama anak kecil yang ngoceh fasih bahasa Inggris atau juga mendelujur berbahasa Arab? Ayolah kita harus bangga dengan Bahasa Indonesia, biar tak kantro seperti kepala kampung yang takjub sama anak kecil yang berbahasa asing.

Proses pengenalan, diskusi sudah haid belum? Apa itu haid? Dan segala hal yang dituturkan sungguh menyayat nurani. Namun apa itu nurani? Semua dilibas dalam kesepakatan sepihak dan tawa sang penguasa. Para pengantar pulang, sang gadis ditinggalkan. Setelah menjadi istri sang Bendoro, gadis pantai yang lugu adaptasi. Mengucap, “Sayaha Bendoro.” Setiap percakapan, tak boleh bekerja sehingga tangannya yang kasar akan menghalus, dan melayani suaminya dengan ketaatan luar biasa. Maka ia kini menyandang nama ‘Mas Nganten’. Dengan segala pelayanan, dan aktivitas baru sebagai Bendoro puteri. “Sekarang kamu mesti belajar menangis buat dirimu sendiri. Tak perlu orang lain lihat atau dengarkan. Kau mesti belajar menyukakan hati semua orang.”

Waktu berjalan dan gadis empat belas tahun itu tumbuh dalam benteng kemewahan dan tangis masa muda yang terenggut, tapi sampai kapan? Adegan di pembuka yang memperlihatkan seorang anak, tanpa ibu itu menjadi sinyalir akan nasibnya kelak. Harta yang coba dikumpulkan, kekuatan yang coba dihimpun, hingga keberanian untuk mengungkapkan pendapat coba dialirkan. “Sebodoh-bodohnya orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan.” Namun memang lagi-lagi, keadaanlah yang penguasa. “Kenang-kenang ini jahat. Di luar gedung mas nganten, yang ada cuma keganasan, keganasan atas kepala kami, orang-orang kebanyakan.” Suamiku! Oh suamiku! Tidak, dia tidak suamiku, dia bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya, aku hanya budak sahaya yang hina-dina.

Di kampung nelayan tak ada kamusnya orang malas, kemalasan adalah barang paling aneh di kampung. “Tambah mulia seseorang, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang kebanyakan yang kerja.” Di benteng, sang penguasa, sang pengadiil, sang suami, sang dipertuan adalah sang Bendoro. Segala ucapnya adalah sabda, segala tindak tanduknya adalah teladan, tak ada yang bisa menghalangi, tak ada yang bisa mencegah. Lalu bagaimana nasib sang gadis pantai saat akhirnya ia hamil dan akan dibawa kemana kehidupan remaja ini? Pengabdian, perjuangan, dan kebangkitan. Waktu memang kejam, keadaan memang sungguh kejam.

Roman yang sangat menggugah. Sungguh hebat. Tak perlu kalimat membara untuk membakar amarah tak perlu teriak maki untuk menyulut emosi, tak perlu serbuan perang dengan darah di mana-mana untuk memilukan pembaca dalam kesedihan mendalam. Hebat adalah kata pertamaku seusai menuntaskan Gadis Pantai, buku keempat beliau yang kubaca setelah Bumi Manusia, Midah dan Perawan Dalam Cengkraman Militer. Polanya agak sama dengan Bumi Manusia, pembaca diajak tamasya di era kolonial, diajak mengenal para priyayi dan lingkungan pendopo lalu dihempaskan dalam ketidakteraturan nasib. Endingnya benar-benar bagus, sedih tapi apa daya pribumi jelata selalu disudutkan sama priyayi, para priyayi akan tunduk aturan hollander. Salah satu yang disinggung adalah pembuatan jalan raya yang membentang ujung Barat Jawa ke ujung Timur itu. “Bukan main tuan besar Guntur, kalau ada empat orang seperti dia, habislah orang Jawa.

Agama memang menjadi alat yang tak pernah berakhir untuk sebuah pegangan. Untuk arah yang baik atau bisa juga ke arah negatif. “Bagaimana kalau dia mati? Masuk neraka atau surga? | “Siapa tahu? Berdoa dia tak pernah, bisanya cuma mendongeng.” Para pemuka, para bangsawan menjualnya, menjadikannya sebuah pelecut untuk tunduk, padahal Tuhan memberi kesamaan di hadapanNya. “Barangkali ikan akan lebih jinak kalau kita ngaji.”

Tak disebutkan pasti tahun berapa setting waktu cerita, hanya disebutkan sekilas masa setelah kematian muda Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini. Buku ini seakan mencambuk kita, betapa era tersebut warga kebanyakan harus tunduk, setunduk-tunduknya terhadap para penguasa. Bersyukurlah wahai kita yang besar di zaman milenium. Kesetaraan, kesempatan, peluang sukses yang diberikan sedari muda adalah sama. Tak ada penindasan, tak ada kelaliman. Syukur.

Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”

Gadis Pantai | Oleh Pramoedya Ananta Toer | Pertama terbit dalam cerita bersambung di Lentera/Bintang Timur, 1962 | copyright 2003 | Penerbit Lentera Dipantara | Cetakan ke 7, September 2011 | 272 hlm; 13 x 20 cm | ISBN 979-97312-8-5 desain buku M. Bakkar Wibowo dan Ong Hari Wahyu | Kulit muka Ong Hari Wahyu | Skor: 5/5

Karawang, 271018 – 010619 – Agnes Monica – Muda (Le O Le O)

#1 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thanks To Bus Taman Baca Galuh Mas Karawang

Ini adalah buku keempat Pram yang kubaca setelah Bumi Manusia, Midah, dan Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s