Pekan Terakhir Musim 2018/2019

LBP 0-3
Partai akhir yang tak menentukan sama sekali. Sampai bawa delapan pemain Primavera. Sampai para bintang dah pada mudik duluan. Pada akhirnya musim ini terselamatkan berkat juara Coppa. Next year kita coba lagi Serie A.

Pevita Pearce Prayitno
Torino 3-0 Lazio; Belotti
Lazio sudah gak punya kepentingan. Piala sudah di tangan. Tiket Yuropa sudah di kantong. Saatnya Belotti menari untuk menarik para peminatnya musim depan.

Imoenk Milanisti
Torino 1-1 Lazio, Immobile
Ini laga main-main ya. Gak ada pengaruh apa-apa. Banyakin deh pemain Primavera, lumayan buat uji tanding.

Raditya Dika Jr.
Torino 2-1 Lazio, Belotti
Lazio pongah setelah amankan trofi dan memastikan tiket liga sparing. Lagipula ini game sudah tidak menentukan apa-apa, selain gengsi Lazio ingin naik peringkat. Belotti siap jadi pembeda di laga ini agar kembali laris di bursa transfer.

Arina Hashimoto Pranata (X)
Torino v Lazio 1-0
Belotti
Torino gagal lolos ke UEL gara2 Lazio juara Coppa. Match terakhir di home tentu Torino tak mau kehilangan peringkat 7. Lazio akan banyak menurunkan pelapis. Torino akan menutup musim dengan kemenangan.

Emas Nani
Torino 2-0 lazio
Belotti
Partai terakhir membuat semangat tim asal kota Turin berlipat.Tim ibukota yang minim prestasi akan menjadi korban. Tiga poin untuk saudara tiri tim scudeto.

DC
Torino 3-1 Lazio
Belotti
Menang di kandang. Itu sangat manis buat penggemar. Sekaligus pahit buat tamu.

Takdir
Torino 1 – 3, Immobile
Partai penutup musim. Luis Alberto kemungkinan pergi. Savic kemungkinan pergi. Caicedo kemungkinan pergi. Tiga bintang yang akan all out, tapi tetap pinalti diambil Immobile. Addio 18/19.

Karawang, 260519

On this day, 2013 Lazio 1-0 Roma. Lu71c

Iklan

Pekan Ke 37: Lazio Vs Bologna

Perkiraan formasi lawan bologna
PROBABILE FORMAZIONE (3-5-2):
Guerrieri;
Wallace, Luiz Felipe, Acerbi;
Romulo, Parolo, Badelj, Leiva, Lulic;
Correa, Immobile.
A disp.: Strakosha, Proto, Patric, Armini, Marusic, Durmisi, Milinkovic, Cataldi, Czyz, Jordao, Mohamed, Capanni.
All.: Inzaghi.

LBP 3-0
Lazio juara Copa 2019. Sparing buang. Serie A buang. Musim Lazio selamat berkat satu gelar ini.

Emas Nani
Lazio 2-2 Bologna
Ciro Immobile
Seria A sudah memastikan Juve sebagai juara. EPL sudah memastikan City sebagai juara. Bondesliga sudah memastikan Bayern sebagai juara.

AW
Lazio 2-0 Bologna, Correa
Momentum juara Coppa masih bikin Lazio greget. Tiket ke Europa sudah disabet. Correa akan kembali jadi goal target.

Yua Mikami Pranata
Lazio v bologna 1-0
Immobile
Lazio sudah pasti ke UEL. Bologna udah aman dari degradasi. Duel Inzaghi v Mihajlovic.

Deepika Prayitno
Lazio 4-1 Bologna; Caicedo
Pekan terakhir di kandang sendiri. Para pemain (dan mungkin pelatih) yang akan meninggalkan klub memberikan yang terbaik. Kalau skornya gak besar berarti mereka gak cinta Lazio.

DC
Lazio 1-1 Bologna
Immo
Satu zona Cempiens. Satu lagi Salvezza. Imbang adalah hasil yang cocok.

Takdir
Lazio 2-0 Bologna, Immobile
Partai pesta juara. Tak ada beban, tak ada yang muram. Suka suka yang juara.

Holiday Inn Express Jakarta, 200519

Final Copa 2019: Musim Lazio Masih Bisa Diselamatkan

Senad Lulic: “Kami siap!

Inilah laga terbesar Lazio musim ini. Kemenangan akan menyelamatkan segalanya, kekalahan berarti kegagalan ke Champion dan nirgelar kembali. Lupakan Liga Sparing yang memang patut dilupakan, lupakan kebobrokan Serie A yang memang sedang bobrok. Inilah partai hidup mati Lazio. Satu kemenangan lagi dan akan tercatat dalam sejarah. Mumpung Juve, Milan, Inter, dan Genoah sudah tersingkir. Ayo rapatkan barisan.

Dimulai dari kekalahan menyakitkan dari juru kunci Chievo Verona di Olimpico dengan skor 1-2 pada 20 April. Lalu dirunut kalah lagi dari pesaing utama zona juara, Atalanta 1-3, pintu Lazio The Great ke Liga Champion musim depan tertutup sudah. Bisa jadi akibat konsentrasi yang terkuras habis demi sebuah piala di akhir musim, Simone Inzaghi mengorbankan banyak laga di Serie A yang sudah tak menarik. Fokus melawan Milan di semifinal leg dua (menang agg 0-1) memang berubah sebuah tiket final berkat gol tunggal Correa melalui nutmeg. Namun efek tiket itu memang mahal, sangat mahal, termasuk keputusan meminta mundur sang pelatih. Inzaghi kini mendapat mosi tak percaya manajemen, evaluasi musim sedang berjalan dan tiga tahun setengah yang dirasa cukup. Maka malam ini jadi pertaruhan sesungguhnya Lazio dan seluruh daya upaya untuk memenangkan piala. Semua kekuatan fokus di Olimpico, segalanya dikerahkan. Laziale bersatu! Musim Lazio masih bisa diselamatkan. Akhir karier kepelatihan Inzaghi di Olimpico masih bisa diselamatkan.

Atlanta mengalami musim yang menakjubkan, ya harus kita akui. Dengan skuat yang lebih solid, pelatih yang sempat dicoba Inter Milan, Gian Piero Gasperini dan rontok ini, kembali menemukan sentuhannya. Terlihat cara bermain Atlanta dengan strategi variatif. Mental menang juga menjadi kunci, terlihat skuat hitam biru tak mudah drop ketika mereka tertinggal terlebih dulu. Seperti saat di semifinal, Atlanta sempat ketinggalan cepat dari Fiorentina di kandangnya, tapi mental mereka sedang bagus-bagusnya sehingga berhasil membalikkan keadaan. Termasuk saat melawan Lazio dua pekan lalu, tertinggal gol cepat Parolo, Atlanta malah menggila. Saya sendiri menyaksikan betapa seolah pamain Atlanta ada di mana-mana, sehingga serangan Lazio yang memang kerap disusun dari bawah sulit dikembangkan. Bola dikejar terus, dan hasil akhir adalah kekecewaan. Lazio yang ofensif itu rontok tanpa daya. Gradi bersih yang berantakan.

Di Serie A memang posisi jomplang. Atalanta sedang panas-panasnya, bukan sekadar mencapai tiket ke Champion, posisi mereka bahkan sudah memperebutkan posisi tiga! Pekan masih dua lagi, rasanya kita sudah mendapat komposisi empat besar saat ini dengan yakin. Dengan poin 65 mereka kini unggul tiga angka dari posisi lima dan saling pepet sama inter. Lazio kini ada di posisi kedelapan dengan 58 poin, jauh dari zona yang ideal sebagai tim besar, sekadar ke Liga Sparing aja masih butuh perjuangan. Memang rasanya Lazio bunuh diri, nirpoin sering terjadi gara-gara kesalahan sendiri. Komposisi pemain yang tak berimbang maka saat Lucas Leiva sebagai pemain jangkar krusial cedera, habis sudah, penyerang yang terlalu mengandalkan Immobile, ketika Immobile buntu, habis sudah, sesekali Caicedo masih bisa memberi solusi tapi jelas Immobile Depend terlalu besar. Caicedo menjadi player of the month Maret-April berarti ada sesuatu yang benar-benar harus dibenahi. Urusan bek masih sungguh rumit, hanya Acerbi yang benar-benar konsisten. Luiz Felipe masih butuh menit terbang, Radu dah menua sulit sekali berlari 90 menit, ga kena encok saja dah syukur, Bastos, Wallace, Patric pintu keluar terbuka lebar. Ada yang masih ingat Basta? Sepertinya ia kena jentikan Thanos, lenyap tak berbekas.

Awalnya kukira kesuksesan Atalanta menyingkirkan Juventus dengan skor telak tiga gol hanyalah kebetulan, tapi ternyata enggak. Mereka bisa konsisten memacu kekuatan. Bayangkan dalam tiga belas pertandingan mereka tak terkalahkan, lima laga terakhir sapu bersih dan Lazio ada di dalamnya! Inilah penantian Atalanta selama 56 tahun, mereka juga akan all out. Atlanta sudah tiga kali ke final: 1963, 1987 dan 1996. Lawan yang sedang dalm top performa melawan tim pincang Lazio. Lazio yang punya tradisi di Copa melawan tim yang sedang on fire. Lazio sudah sepuluh kali di final dengan enam piala diantaranya. Terakhir tahun 2013 menggasak Roma. Jadi ketika harapan piala itu sudah benar-benar dekat, sungguh segala energi akan dikerahkan. Betapa serunya?! Bursa taruhan wajar memihak mereka, statistik laga akhir memang sangat menentukan, kepercayaan diri menatap final mereka bisa saja di atas nirwana, Lazio jadi ‘tuan rumah’ tentunya dukungan lebih melimbah dan menggugah dan membuncah. Tujuh Laziale Karawang siap ramaikan! Laga yang paling dinanti-nanti ini kini tinggal hitungan jam. Lulic siap. Laziale siap. Lazio Siap. #ForzaLazio #AvantiLazio

Prediksi Foccer:
LBP 0-3
Lulic siap. Laziale siap. Lazio siap.
DC
Atalanta 1-2 Lazio
Immobile
Kalah lagi? Masa iya. Galah, tropi ini penting.
AW
Atalanta 2-1 Lazio, Zapata
Game ini sudah tahu sama tahu. Kedua tim musim ini sudah sering bertemu. Hasil kemenangan dikunci Duvan Zapata sebagai penentu.
AP (X)
Atalanta v Lazio 0-1
Immobile
Lazio wajib juara di kandang sendiri. Atalanta menjalani musim yang indah. Atalanta berpeluang juara Coppa ke 2x.
Isabela Moner Prayitno
Atalanta 2-1 Lazio; Ilicic
Dari beberapa perhelatan terakhir, juara copa italia selalu tim yang memiliki posisi lebih baik di klasemen Serie A. Ssttt, aku kasih tahu kamu. Di atas saya adalah orang terlucknut di dunia karena telah melakukan spoiler Game of Thrones. Dosanya tak terampuni. Semoga Allah mengampuni jiwa-jiwa terkutuk seperti itu.
Damar IRR
Atlanta 1-2 Lazio
Caicedo
Lazio akan terus menekan sepanjang waktu, Lazio akan comeback dan Lazio akan menang.
Emas Nani
Atalanta 3-1 lazio
Zapata
Partai final yang ga diinginkan. Walau Lazio lebih sering berada di final. Musim ini Atalanta akan mengheningkan suasana nobar 7 buah laziale karawang.
Nicola Ventola
Atalanta 3-2 Lazio
De Roon
Tim Kota Bergamo rasanya layak meraih gelar Coppa Italia setelah konsistensinya selama bbrpa musim terakhir. Lazio akan kesulitan d partai puncak nanti.
Mamanya Barra
Atalanta 0-2 Lazio
Immobile
Kedua tim akan tampil dengan skuad terbaik. Pertandingan akan sangat menarik. Selamat bermain kembali Milinkovic-Savic.
Takdir
Atlanta 2-2 Lazio, Immobile
Laga akbar tahun ini tersaji penuh drama. Lazio unggul dua gol dulu, Atlanta menyamakan kedudukan. Dua kali lima belas tak ada gol dan pinalti adalah solusi drama ulangan sepuluh tahun lalu. Hari H, final!

Perkiraan formasi:

Atalanta XI (3-4-2-1): Pierluigi Gollini; Andrea Masiello, Jose Luis Palomino, Gianluca Mancini; Timothy Castagne, Marten de Roon, Remo Freuler, Hans Hateboer; Josip Ilicic, Alejandro Gomez; Duvan Zapata

Lazio XI (3-5-1-1): Thomas Strakosha; Felipe, Francesco Acerbi, Stefan Radu; Senad Lulic, Luis Alberto, Lucas Leiva, Sergej Milinkovic-Savic, Adam Marusic; Ciro Immobile

Karawang, 150519 – Roxete – She Doesn’t Live Here Anymore

Pekan Ke 36: Cagliari Vs Lazio

LBP 0-3
Jarang Lazio main malam Minggu karena keseringan ikut Liga Sparing. Sekalinya main, ngamuk tiga gol. Modal buat final Copa. #ForzaLazio

Nana Komatsu Prayitno
Cagliari 1-3 Lazio; Caicedo.
Cagliari lagi bagus2nya. Lazio lagi seneng kebobolan. Tapi Tim besar seperti Lazio pantang dipermalukan. 💪

Mia Melano Pranata
Cagliari v Lazio 0-1
Immobile
Cagliari sudah aman dari degradasi. Lazio fokus juara Coppa. Immobile akan jadi pembeda.

Takdir
Cag 1-4 Laz, Immobile
Analisis tak akan ada kejutan. Jelang final sekalipun Lazio memainkan cadangannya cadangan akan tetap menang, walaupun sedang terpuruk kepastian tak ke Liga Juara musim depan. Cagliari hanya akan jadi ajang latihan. H-4.

AW
Cagliari 1-2 Lazio, Caicedo
Aku sukses di-PHP di game sebelumnya karena main dakon. Kali ini Lazio akan kembali jadi lakon. Immobile tidak tercatat jadi scorer, but Caicedo would do it at Real Count.

Mason Nurdinho
Cag 2-3 Laz, immobile
Pertandingan tersaji dengan ketat. Tempo serangan naik turun. Namun Lazio layak menjadi pemenang

Hafeezy
Cagliari 1-1 Lazio, Correa
Lazio akan menyimpan tenaga untuk final. kekalahan pekan lalu vs Atalanta akan menjadi ajang balas dendam di final nanti. Kesempatan Lazio di liga sangat tipis untuk masuk zona eropa.

Emas Nani
Calgiari 2-1 Lazio
Ciro
Semakin mendekati akhir The great semakin loyo. Kalah dari tim semenjana melempar impian main di ucl 7 pcs laziale Karawang.

DC
Cagliari 0-2 Lazio
Immobile
Saya percaya. Kali ini Lazio menang. Di kandang lawan.

Widy
Cagliari 3-3 Lazio, Immobile
Lama ga ikutan kuiz. Akhirnya ikut lagi. Maen dikandang Cagliari. Kayaknya Lazio bisa menang tapi bisa juga draw.
Karawang, 100519

Avengers: Endgame – Hidup Tak Semanis Ini, Sudah Pas Infinity Yang Pahit

Natasha Romanoff: “If we don’t get that stone, billions of people stay dead.”

Durasi tiga jam yang sangat melelahkan. Namun kenapa saya nonton dari jam 22:30 sampai 01:30 di hari pertama tayang (24/4) kemarin tak ngantuk sama sekali, tak beranjak ke toilet sama sekali, benar-benar bisa fokus dan tak semelelahkan yang kukira. Mungkin karena antusiasme yang berlebih pasca kehebohan di Civil War dan memuncak di Infiny War, Endgame kurang memenuhi ekspektasi. Serasa ada yang hilang, entah karena ketinggian harap atau memang kurang sreg sama pilihan eksekusi cerita. Hidup tak semanis ini, sudah pas Infinity yang pahit. Kenyataan dengan waktu linier, tak bisa diubah. Jangankan lima tahun ke belakang, kita mengubah pilihan tindakan lima detik yang lalu saya tak bisa. Film tentang mesin waktu memang sudah sangat banyak dibuat, rata-rata suka, mayoritas bahkan kunilai sangat tinggi. Endgame sendiri cerdas dengan memainkan masa dengan segala kecanggihan alat yang dicipta, tapi jelas ini adalah sebuah penurunan dari seri terdahulu. Ini film fantasi, ciptakan kehidupan sesuai kehendakmu.

Cerita bagaimana saya dapat tiket juga dilema, sempat akan ramai-ramai nonton sama teman-teman kerja, batal karena ga ada yang mau booking, ada yang pacarnya sedang shift malam sampai ketidaksabaran menemui titik waktu, sehingga ketika salah satu sudah beli tiket sama teman lain, saya akhirnya memaksakan beli sendiri pulang kerja. Beli di tempat, jam-jam prime jelas penuh kecuali baris paling depan, makanya sebelum Magrib saya beli yang sekalian malam hari. Dapat baris ketiga, dengan posisi pas di tengah. Mampir ke Gramedia lihat buku, belum gajian dan tetap bawa buku pulang Teori Kesusastraan (Rene Weller & Austin Warren). Maka setelah tidur-tidur ayam selepas isya, gosok gigi biar fresh, tanpa minum banyak minum, cus jalan kaki ke Festive Walk Karawang. Ternyata hampir penuh, hebat, hype Marvel benar-benar hebat. Seberapa lama nuansa endgame bertahan?

===catatan ini mengandung spoiler===

Bagi yang belum nonton Infinity War, jelas disarankan untuk melihatnya dulu karena cerita langsung nyambung. Setelah jentikan Thanos yang fenomenal, mengabu-kan separuh warga semesta termasuk para super hero jagoan kita. Kemuraman melanda seisi bumi. Dibuka dengan adegan Clint Barton/ Hawkeye (Jeremy Renner) bersama keluarga sedang menikmati hari, melatih anaknya memanah, istri dan anaknya sedang pesta kebun menyiapkan makanan. Ketika sedang ceria-cerianya, ketiganya menghilang. Ketiganya mengabu. Sementara di angkasa, setelah berhari-hari mengudara tanpa kejelasan nasib Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr.) dan Nebula (Karen Gillan) mengisi waktu dengan main-main lempar jentik dan sisa oksigen sehari lagi, rasanya esok jadi hari akhir. Maka datanglah sang juru selamat Carol Danvers/Captain Marvel (Brie Larson) untuk memulangkannya ke bumi. Di bumi, wajah-wajah frustasi atas segala kekalahan telak, orang-orang terkasih mengabu. Mereka yang tersisa Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson), Bruce Banner/Hilk (Mark Ruffalo), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans), Rocket (voice by Bradley Cooper), Thor (Chris Hemsworth) dan James Rhodes/War Machine (Don Cheadle). Percobaan melacak keberadaan Thanos (Josh Brolin) awalnya sulit, dengan Captain Marvel di sana, tak ada yang tak mungkin. Terpantau di sebuah planet tanpa pengamanan, tanpa pertahanan khusus, sendirian, ngopi lihat matahari terbit, makan camilan, wah sang main villain ternyata pensiun setelah misinya menyeimbangkan populasi berhasil terlaksana. Maka misi balas dendam itu terlihat begitu mudahnya, di sebuah gubuk reot, Thanos sedang santai sore lalu disudutkan, diinterogasi, diancam. Dengan santai dan tak merasa bersalah, ia sudah menghancurkan semua Batu Ajaib-nya, memencarkannya. Maka adegan berikutnya begitu mengguncang semua penonton, kepala Thanos dipenggal oleh Thor!!! Wow, ini film tiga jam dan menit berjalan belum juga setengah jam sang tokoh antagonis utama yang seri lalu begitu mengerikan, begitu menakutkan, begitu digdaya dan unbeaten tiba-tiba keok! Rocket sampai shock dan nanya, eh kenapa? “I went for the head.” Seperti sikap Rocket, semua penonton menahan napas. Oh why? Wow, Marvel emang gilax! Ketika dendam sudah berhasil dibalaskan, apalagi sekarang? Separuh warga itu tak akan bisa kembali hidup. Di sini sejatinya film selesai. Ayoo pulang kawan-kawan, film ga jadi tiga jam tapi hanya tiga belas menit. Di sini sejatinya kenyataan yang haqiqi. Waktu yang linier, kepahitan hidup yang menyelingkupi. Balas dendam tak bisa mengembalikan jiwa-jiwa yang mengabu, balas dendam tak bisa membuat yang sudah tiada kembali hadir di tengah-tengah kita. Balas dendam yang tuntas terasa hampa. HAMPA.

Dan di layar terpampang kalimat, ‘Lima Tahun Kemudian.’ Semua tampak muram, semua tampak menyedihkan. Thanos yang terpenggal tetap menang. Hingga di sebuah gudang, sekumpulan tikus sedang melakukan aktivitas biasa tapi memberi efek luar biasa, secara tak sengaja membuat lubang cacing, menarik hidup jagoan terlupa Scott Lang/Ant-Man (Paul Rudd). Scott yang melewatkan lima tahun, di dimensi lain hanya sekejap, tak ada apa-apa, hanya kehampaan. Waktu sekarang, di mana di lapang yang luas berderet ‘makam memorial’ menemukan namanya ada. Jadi ada lubang yang bisa dilewati guna memasuki masa lampau, atau sebaliknya. Maka ia pun mengubungi Avengers, kembalinya Ant-Man memberi harapan. Tony Stark yang kini menyepi, punya putri cantik Morgan Stark (Lexi Rabe) dengan kutipan legendaris ‘Aku Mencintaimu 3,000 kali’ diajak untuk kembali. Thor yang mengejutkan banyak orang karena kini ndut, diajak balik. Yang paling emosional jelas Hawkeye yang kini menjadi pembunuh bayaran di Jepang atas nasib busuk keluarganya, ia dijemput khusus oleh teman sejatinya Romanoff, kini pasukan Avengers kembali bersatu. Menjalani kemungkinan memasuki perjalanan waktu, kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya. Teori kuantum? Time Heist? Yeah, apalah. Back To The Future itu omong kosong? Dan Endgame melakukan omong kosong itu.

Percobaan-percobaan awal lucux, serum gamma dan mesin waktu ciptaan Tony dan segala kemungkinan perjalanan itu dibuat fun. Setelah bermenit-menit muram durjana, akhirnya ketemu juga. Trailer saat para jagoan berjalan dengan seragam putih yang ikonik itu muncul. Sekali perjalanan, ke waktu-waktu sebelum Thanos menemukan keenam batu. Mencegah bencana, menggurat kembali segala kemungkinan merevisi kehidupan. Maka adegan-adegan dari beberapa film lama, serial MCU dalam sebelas tahun terakhir pun dimunculkan. Dari adegan porak poranda New York di The Avengers (2012), Thor: Dark World (2013), sampai Guardian of Galaxy (2014). Semacam nostalgia, mencuri waktu, mengambil batu-batu ajaib sebelum disatukan.

Dari semua adegan perjalanan waktu, semua mencoba dibuat untuk sebisa mungkin menyentuh hati. Di New York 2012, Banner, Rogers, Lang, Stark berusaha mengambil Time, Mind dan Space Stone. Pencarian batu waktu, mungkin yang paling lucu. Atau mungkin yang paling mudah? Karena prosesnya, Hulk yang berencana menemui Doctor Strange di Sanctum Sanctorum malah dicegat oleh The Ancient One (Tilda Swinton), “You’re five years early.” tarik ulur, tanya jawab bagaimana masa depan akan mewujud. Karena dengan batu waktu, bisa memajukan dan memundurkan masa, maka penjelasan Hulk bahwa di masa depan sang Doktor menyerahkan dengan sukarela batu tersebut kepada sang musuh setelah 14 juta pertimbangan. One down.

Sementara pertempuran yang rumit itu selesai. Loki malah berhasil mencuri tesseract dalam koper yang tergeletak tanpa ada yang lihat. Duh! Dan saat di lift, sang Kapten berhasil mengambil Mind Stone di tengah-tengah pasukan musuh. Hail Hydra! Adegan Kapten vs Kapten itu juga ga mengada-ada karena pernah muncul di komik edisi #156. “I can do this all day. Yeah I know.” Lalu Scott kembali ke masa kini, sementara duo utama karena terlepas batunya, maka berjalan ke masa lalu tahun 1970an. Two downs.

Jelas bertemunya Tony Stark dengan sang ayah Howard Stark (John Slattery). Diskusi panjang lebar di mana mereka ngopi dengan segala kecanggungan dan kesempatan peluk yang mengharu. Bayangkan, kamu di usia dewasa ini bertemu ayahmu yang sedang menanti kelahiranmu di masa lalu. Indah, sungguh suatu momen yang sangat berharga, menelusuri garis waktu bertemu orang terkasih di masa lalu. Sayangnya ini hanya ada di film. Di sini, Steve ketemu Peggy, duh. Nantinya akan jadi adegan ending yang sunyi. Space Stone dengan mudahnya diambil. Three downs.

Berikutnya kita ada di Asgard. Saat Thor gendut bertemu ibunya Frigga (Rene Russo). Apalagi itu adalah momen jelang kejadian mengerikan. Kesempatan bercengkrama yang tak ternilai harganya. Sungguh indah, bisa bertemu orang terkasih yang telah tiada, mengajak ngobrol dan membiarkan segala momen langka terjadi. Bersama Rocket, Thor berhasil mengambil Reality Stone sebelum si Malekith menggunakannya melawan nine realms. Four downs.

Yang kelima, saat pencarian batu hijau aka Soul Stone di mana dalam proses mengambilnya harus mengorbankan jiwa seseorang yang dicinta. Apesnya, tugas di wilayah ini ada di pundak Barton dan Romanoff. Maka saat mereka di Vormir bertemu Red Skull (Ross Marquand), sebagai penjaga batunya. Salah satu harus berkorban, saling klaim untuk terjun dan sungguh jiwa ksatria ditunjukkan, saling tangkap dan lempar senjata demi keselamatan rekan. Hiks, sedih. Sungguh menyedihkan. “Tell my family I love them.” Five downs, one to go.

Nah, batu keenam yang terakhir dalam pencarian ada di tangan Nebula dan Rhodes ke Morag untuk mengambilnya sebelum Peter Quill/Star-Lord (Chris Pratt), terjadi bencana, di mana Thanos, Ebony dan rekan mendeteksi kelainan dalam radar, menemukan Nebula lain yang berhianat, mencoba mencuri Power Stone. Batu terakhir pun bisa diambil. Lengkap sudah. Namun, di bagian ini Thanos menyusup. Inilah lubang cacing yang retak, mengajak musuh ke masa depan dan ketika semua kembali ke masa kini, Thanos dkk ikut memasukinya. Perang besar terjadi, adegan yang paling ditunggu itu muncul dalam setengah jam akhir. Sebagai film akhir permainan, semua menggelegar, bombastis, fenomenal, yah, 30 menit akhir adalah pengalaman menonton bioskop yang menguras emosi, sekaligus pamitan. Thanos yang perkasa itu, akankah berhasil ditaklukkan? Ataukah kesempatan kedua-pun akhirnya melayang percuma laiknya Infinity yang mengharu biru? Saksikan di bioskop, dalam durasi 3 jam yang melelahkan. Beneran melelahkan? Hidup tak seindah ini, sekalipun endingnya jagoan ada yang tewas. Truly happy at last. Endworld!

Sungguh menggila, Endgame update (9/5) pendapatan sudah melewati Titanic (1997). Rasanya akan menjelma menjadi film terlaris sepanjang masa, selisih dengan Avatar (2009) hanya 600an juta Dollar, dan masa tayang masih lama. Di weekend rilis menjadi film pertama yang memecahkan rekor semilyar dollar! Selain karena film ini dibangun selama sepuluh tahun terakhir, film ini juga gencar promosi, gencar memberikan trivia yang bikin penasaran untuk semua orang, yang bahkan ga ikuti sekalipun. Bukti gampangnya, teman kerja ada yang ga ikuti sama sekali film Marvel dan pasca Endgame ia berencana mau merunut nonton, 21 film tersisa, yakin kuat Nak. Jadi angka-angka gila dalam box office sejatinya sudah seharusnya mematahkan manusia Biru. Menjadi film dengan pre sale terbesar di web Fandango dan Atom Ticket. Di Indonesia, seperti yang kusampaikan di awal Cinemaxx memberi slot istimewa dengan jam tayang 24 jam selama dua hari dengan start jam 05:00. Wow kan. Trailernya memecahkan rekor view di youtube, sang sutradara bahkan gencar membuat tagar #DontspoilTheEndgame dan #ThanosDemandYourSilence dengan judul awal “Marvel Studio’s Avengers – Official Trailer.” Untuk memberi kejutan ketika nanti akhirnya kata ‘Endgame’ akhirnya rilis. Kata endgame sendiri diambil dari kalimat Doctor Strange di Infinity War saat berujar, “We’re in the endgame now.” Dan judul ini jelas lebih pas ketimbang Infinity War: Part II.

Karena ini adalah perpisahan Iron Man, maka wajar dialah satu-satunya yang baca naskah secara utuh. Mengingat kontraknya habis, eh maksudnya film puncak beliau maka Rober Downey Jr. wajar diistimewakan, justru yang mengherankan kenapa ga sekalian ia masuk ke jajaran penulis naskah? Bukannya ia sejatinya punya hati?

Walau bukan yang terbaik, menurutku. Seluruh film Marvel karya Russo Brothers sukses. The Winter Soldier memberi hype luar biasa akan sang kapten cikal bakal seluruh plot kumpulan orang hebat ini, jangan lupakan kejutan Nick Fury, sebuah keberanian yang jos sekali kakak. Civil War jelas menggila, sekumpulan pahlawan malah beradu sendiri dan adegan di bandara out benar-benar awesome, dan Infinity War jelas adalah segala puncak itu sebelum di film ini mendingin. Selain tikus dan Manusia Semut, jagoan sesungguhnya film ini bisa jadi adalah sang manusia Pemanah yang tampil menonjol. “Clint, son of Edith.

Credit titlenya bagus banget, satu per satu para pahlawan ditampilkan selayar penuh, pamitan yang sangat layak dengan iringan skor yang bagus banget. “Make Way for Tomorrow Today.” Ga ada scene after credit euy. Jadi apa maksud ending dansa Peggy dan sang kapten? Segala analisis bermunculan, yang pasti ini adalah misteri yang memberi banyak harapan, permainan ini jelas belum berakhir kawan-kawan. “I love You 3000.”

Avengers: Endgame | Year 2019 | Directed by Anthony Russo, Joe Russo | Screenplay Christopher Markus, Stephen McFeely | Cast Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Paul Rudd, Chadwick Boseman, Brie Larson, Tom Holland, Karen Gillan, Zoe Saldana, Evangeline Lily, Tessa Thompson, Ren Russo, Elizabeth Olsen, Anthony Mackie, Sebastian Stan, Tom Hiddleston, Danai Okoye, Benedict Wong, Pom Klementieff, Dave Bautita, Letitia Wright, John Slattery, Tilda Swinton, Jon Favreau, Hayley Atwell, Natalie Portman, Marisa Tomei, Michelle Pfeiffer, William Hurt, Cobie Smulders, Sean Gunn, Jacob Batalon, Vin Diesel, Bradley Cooper, Gwyneth Paltrow, Robert Redford, JOSH BROLIN, Chris Pratt, Samuel L. Jackson, Benedict Cumberbatch, Ken Jeong, Ross Marquand and Stan Lee| Skor: 4/5

Karawang, 270419 – Lisa Ekdahl – Give Me That Slow Knowing Smile – 090519 – The Corrs – Breathless

Pekan Ke 35: Lazio Vs Atlanta

Akumulasi banyak.
20k dari Syaiful 👍🏾
50k dari Damar, Lazio Menang 👍🏾

LBP 3-0, Immobile
Fokus Lazio sisa musim ini hanya terpaku di final Coppa 15 Mei. Semua laga hanya sparing, termasuk lawan tim yang jadi lawan di final nanti. Caicedo bisa saja sedang on fire, tapi pinalti tetap milik Immobile. #ForzaLazio

AP
Lazio v atalanta 1-0
Immobile
Pemanasan final Coppa. Lazio wajib menang jika masih ingin dapat tiket UCL. Atalanta tentu tak mau kalah demi tiket UCL.

Takdir
Lazio 2-0, Caicedo
Untuk kedua kalinya beruntun pemain Sepele menjadi Man of the Month. Ini adalah gladi resik final Copa. Rasanya Caicedo makin percaya diri, begitu juga Laziale. H-10.

DC
Lazio 2 – 1 Atalanta
Immo
Partai seru. Keunggulan main kandang. Itu yang bikin 3 poin milik Lazio

VW
Lazio vs Atalanta : 1-2, Zapata
Ajang buat tes sparing. Lazio anggap semua lawan sparing. Siap dapat hasil ala liga sparing.

Disha Patani Prayitno
Lazio 2-1 Atalaintar ; Gol Caicedo
Ini laga berat. Laga yang sulit dimenangkan oleh tuan rumah sejak sang tamu lebih layak untuk mewakili negaranya di ajang cempyens. Tapi demi surprize 50k, saya terpaksa menjagokan lazio.

Mamanya Barra
Lazio v Ata 2-0
Immobile
Lazio harus menang. Atalanta juga ingin menang. Immobile kembali bikin gol.

Cristiano Doni
Lazio vs Atalanta 2-2
Gosens
Duel seru Perebutan UCL yang berakhir imbang, Elang Ibukota bakal agak kesulitan menghadapi Tim tamu yang dimotori Robin Gosens, tidak kalah pun sudah syukur buat Lazio.

Emas Nani
Lazio 1-1 Atalanta
Ciro
Duel tim medio yang sama sama berhasrat main di UCL. Sama lemah sama nekat sama sama berbagi angka.Hasil imbang akan melempar mimpi keduanya.

Karawang, 050519