Mycroft Holmes – Kareen Abdul Jabbar and Anna Waterhouse

“Kesombongan mengakibatkan kehancuran. Dan keangkuhan mengakibatkan keruntuhan.”

Tahun 2016 buku ini sempat heboh, masuk ke daftar best seller beberapa pekan dan membuat penasaran. Selain karena ini adalah kisah sisi lain saudara Sherlock yang termasyur, buku ini ditulis oleh pembasket terkenal NBA, Kareem Abdul Jabbar. Sempat menginginkannya, menimang, memfoto, lalu akhirnya gagal bawa ke kasir. Baru terealisasi tahun lalu karena di lantai dasar Gramedia World Karawang sedang mengadakan GPU Vaganza. Kejahatan kecil yang pernah kutemui di sana-sini dalam hidupku tidak ada apa-apanya dibanding kemrosotan moral yang sesungguhnya, yang sekarang kusaksikan.

Harapanku memang tak muluk-muluk. Nama Holmes terlalu besar untuk ditulis oleh orang lain. Parody, gimmick, saduran sudah banyak dibuat, rata-rata mengecewakan. Harapan yang rendah itu untungnya tercapai. Memang kemunculan saudara Sherlock, Mycroft dalam dunia Sir Arthur Conan Doyle tak terlampau menonjol. Dia hanya muncul di saat-saat yang genting, atau saat diperlukan koneksi ke kerajaan Inggris. Nah, kisah ini adalah cerita sebelum Mycroft menduduki jabatan penting dalam lingkaran istana.

Yang agak mengejutkanku justru tempat utama kisah bukan di Inggris, tapi jauh merentang di Trinidad. Kenapa ciri khas Zaman Victoria yang agung itu malah dihindari? Mencoba bermain aman akan terkaman kasus dari sang adik? Ataukah memang sudah direncana akan ada lanjutan lebih detail? Tidak ada yang lebih buta daripada mereka yang tidak mau melihat.

Cerita dibuka dengan tenang, di mana ada perlombaan perahu dayung, Mycroft dengan jeli memasang taruhan untuk tim yang bertahun-tahun menjadi pecundang. Aku bukan tipe orang yang suka berspekulasi saat berurusan dengan uang. Bahkan dalam hal yang dianggap ‘pasti’. Ngasal yang beruntung ataukah beranalisis? Karena ini buku detektif, tentu saja metode ‘memenangkan’ jagoan sudah terstruktur. “Kau pemimpi, Sir.” / “Bisa kupastikan, aku bukan pemimpi.” / “Kalau begitu, kau ini angkuh, Sir! Ya, anak muda kurang ajar yang angkuh.” Di sini terlihat dia sudah memperlihatkan keangkuhan otaknya. Karena kelihaiannya memang teruji. Sementara Holmes bisa melakukan semua itu dalam sekejap. Hitung-hitungan sama alaminya bagi Holmes dengan bernapas.

Sherlock muncul sepintas dalam kisah, ketika masih kere dan penjabaran singkat sekali. Holmes merasakan lututnya lemas karena lapar. Di plaza dia memindai kerumunan sampai menemukan beberapa pedagang makanan. Tidak seperti adik laki-lakinya, Sherlock tinggi, berkulit gelap, luar biasa kurus dengan paras yang mengingatkan seseorang pada burung pemburu. “Aku benci gagasan jalan menuju neraka dibangun oleh mereka yang memiliki niat baik. Lagipula apa yang kita miliki kecuali apa yang kita niatkan.”

Sesuai adegan pembuka yang memperlihatkan sebuah kasus kematian anak-anak di pesisir pantai, ada ‘hantu douen’ yang memperangkap. “Apakah kau tidak curiga douen itu memanggil anak-anak hanya di sisi pulau ini.” Ya, di luar San Fernando, Trinidad kasus kematian anak-anak tak lazim terjadi. Satu, dua, tiga dst. Makhluk misteri penghisap darah yang harus dipecahkan. Tahayul ataukah benar-benar nyata. Konyol sekali, pikirnya. Aku tidak boleh mengaggap semua misteri yang ada di seluruh dunia sebagai urusan pribadi, karena kalau begitu karierku berumur pendek. Pembaca setia Holmes, pastinya memilih opsi pertama. Maka disusunkan runutan bagaimana sang jagoan bisa terlempar ke sana. Si rambut merah. Dia yang berambut merah menandakan nasib buruk dari awal sampai akhir.

Itulah yang selalu diucapkan suamiku. Dan hal terbaik yang bisa dilakukan seseorang adalah membiarkannya melakukan pekerjaan sebagaimana ia terlahir untuk melaksanakannya. “Menikahi wanita cantik adalah puncak ketololan, kau tidak akan pernha merasa damai.” Ya, kekasih Mycroft yang cantik Georgiana suatu malam tiba-tiba memutuskan ke Trinidad tanpa penjelasan detail. Hal tersebut membuat Mycroft terkejut. Douglas yang jua dari sana lalu menyarankannya untuk menyusul, ada sesuatu yang buruk sedang terjadi di tanah kelahirannya. Dengan akal-akalan, Mycroft mencipta surat tugas untuk menyusul sang kekasih. Para gadis seharusnya tidak belajar sama sekali, karena hal itu bisa memberi mereka penyakit kejiwaan. Kebingungan akan memaksa mereka terfokus hanya pada tugas di depan mata. Ada tiga racun bagi penilaian waras, cinta, benci dan dengki. Kulihat kau tidak begitu terpengaruh dua yang terakhir itu, tapi aku memintamu berhati-hati dengan yang pertama. Nah, tentu saja demi cinta yang jiwaku ada di tangannya. Begitu kau tidak lagi di sultana, kau tidak lagi dalam perlindungan. “Ah sungguh berita buruk di mana-mana, sungguh berita buruk.” Benarkah?

Cerita selanjutnya ya, terus berkutat di sana. Di Trinidad, di tanah seberang. Banyak intrik, pastinya. Kala itu memang British kan juaranya mencipta imperium, di sana salah satu tempat kolonialisme bercokol terbentuklah kisah ini. Mungkin tertebak, mungkin pula alurnya kurang gereget, tapi ya sekali lagi ini ditulis seorang pemain basket. Patut kita hargai. Douglas sebagai sidekick memang tak secemerlang Watson, tapi setidaknya Holmes tak sendirian. “Kaya atau miskin, Douglas, kita semua ini makhluk yang memiliki kebiasaan.” Segalanya tampak sesuai skenario, sampai akhirnya jagoan kita Mycroft Holmes mengungkap segalanya. “Kalau kau menghafal sesuatu, informasi itu akan ada di benakmu selamanya, berputar-putar di sana memenuhi tempat. Kalau kau mencatat sesuatu kau tidak akan mengingatnya sampai ada mengingatkannya padamu. Sama seperti teriakan nelangsa bocah itu, baru saja. Aku mencatat sesuatu yang kubaca yang berhubungan dengan yang kudengar. Apa itu sungguh aneh?”

Kehidupan atau kematian bukanlah hal penting. Yang terpenting adalah misinya: upaya kecil-kecilan mereka untuk menyatakan kebebasan bagi para tawanan. Dan sang musuh yang terlihat kejam itu, terlalu mudah ditaklukkan. Dia adalah perwujudan teori kegilaan moral. Manusia yang tidak punya sedikitpun nurani kemanusiaan. Kelemahan utama kisah seperti ini sering kali terjadi, di sini terulang lagi. Bukannya adu cerdik laiknya head-to-head sang jagoan versus sang antagonist, Mycroft Holmes malah drop. Sayang sekali. Satu-satunya yang tidak natural dalam hal ini adalah ada manusia yang tega melakukan hal semacam ini pada manusia lain.
Masa lalu tidak harus membentuk masa depan. Butuh tiga hari untuk menuntaskan 360 halaman. Meleset sehari karena sekarang musim hujan, malas bangun pagi. Kisahnya klise, awal mula sang kakak Sherlock ini memasuki kerajaan Inggris. Plot utama di Trinidad, terlalu muter-muter tapi yah, untuk permulaan bolehlah. Ditunggu kelanjutan petualangan Mycroft Holmes. “Sungguh khas pria, mengubah topik pembicaraan ke dirinya sendiri.”

Orang-orang yang paling terkelabui adalah mereka yang memilih mengabaikan hal-hal yang sudah mereka ketahui. Ending yang segar ditampilkan dengan menyinggung sang adik yang ‘dititipkan’. Meskipun membutuhkan renovasi di Baker street, adik lelakinya Sherlock Holmes akan segera lulus dan sepertinya akan membutuhkan tempat tinggal kecil sementara di London, membutuhkan kehidupan keluarga. Dan tentu saja Mrs Hudson akan menjadi induk semang yang baik. “Untuk Dickens, semoga Tuhan yang baik menyembuhkannya.”

Kareen Abdul Jabbar adalah seorang pembasket Milwaukee Bucks (1969-1975) dan Los Angeles Lakers (1975-1989), mencetak 38.387 poin. Tahun 1995 masuk Basketball Hall of Fame. Beberapa bukunya masuk best-seller New York Times, termasuk di dalamnya On the Shoulder of Giants yang diadaptasi dalam film dokumenter bersama Anna Waterhouse. Saat ini ia adalah ketua Skyhook Foundation dan kolumnis majalah Time.

Anna Waterhouse adalah penulis dan konsultan skrip profesional. Beberapa naskah film, tv series, sampai dokumenter. Produser frature-length ternama, On the Shoulder of Giants yang menang NACCP Image Award. Saat ini mengajar penulisan skenario di Universitas Chapman, California Selatan.

Kalau kau ingin membuat malaikat tertawa, beritahu rencanamu pada mereka. “Sayangku, aku tidak dapat menjanjikanmu kehidupan yang sungguh menarik, namun aku bisa menjanjikan bahwa kau akan sangat dicintai.” Nah!

Mycroft Holmes | By Kareen Abdul Jabbar and Anna Waterhouse | Copyright 2015, first published by Titan Publishing Groud Ltd of 144 Southwark Street, London SE1 OUP, England | 6 161 85026 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, 2016 | Alih bahasa Primadonna Angela | Editor Bayu Anangga | Proofreader Orinthia Lee | Desain sampul Martin Dima | ISBN 978-602-03-3332-8 | 376 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5

Untuk nenekku, Venus yang menuturkan kisah-kisah terbaik dan membuatku bangga – KAJ

Untuk Eric dan Emily Annae, jiwa sekaligus hatiku – AW

Karawang, 171218-010119 – Nikita Willy – Cinta Putih || 210419 – Dizzy Gilespie & His Orchestra – Night In Tunisia (Interlude)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s