A Simple Favor: Gone Girl Yang Jenaka

Stephanie: “Five days ago. Emily went missing.”

Film dengan ending mengecewakan. Dari mula sampai pertengahan sungguh seru. Keren sekali, seksi dan merumit dalam bermain pikiran. Namun semenjak setelah pengungkapan bahwa sang istri tidak mati, tapi menghilang, bah alur langsung melemah dan rontok tak terkendali. Sempat digadang-gadang sebagus Searching yang sama-sama mencoba mengungkap sebuah kasus hilang/matinya seseorang, Searching berhasil menjaga tempo, bermain serius, dan memiliki twist yang bagus. A Simple Favor gagal mempertahankan gairah itu. Malah, adegan segitiga yang dinanti-nanti itu jatuhnya kayak sinetron klise yang tayang tiap malam di SCTV atau RCTI, ah sama saja buruknya. Astaga, saling silang tunjuk ujung pistol, tembak dan ah cuma bercanda, lalu sebuah mobil menghancurkan segala plot itu. Sayang sekali film dengan bintang besar Blake Lively dan Anna Kendrick berantakan. Gone Girl yang jenaka.

Sebelum memutuskan tonton, saya kena sedikit spoiler bahwa dua bintang utama akan ciuman. Catat. Saya juga kena bocoran bahwa film akan laiknya detektif, pencarian orang hilang. Catat. Selebihnya ngalir. Kisah dibuka dengan menyenangkan, bahwa Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang seorang Vlogger tentang cara memasak ala ibu-ibu kosmopolitan. Ia adalah orang tua tunggal dari putra semata wayang Miles Smothers (Joshua Satine). Kegiatan rutin menjemput si buah hati suatu hari berubah ketika teman main Miles, Nicky Nelson (Ian Ho) mengajak dolanan sepulang sekolah dan sang ibu yang seksi bak model Emily Nelson (Blake Lively), mengizinkan. Adegan kala Lively turun dari mobil, gerimis mengundang, dengan desiran angin disertai musik riuh benar-benar menggambarkan betapa ia istimewa. Betapa nyata eksplorasi kecantikan sang megabintang.

Di rumah Emily yang megah dengan dinding kaca lantai atas dengan view menawan jelas mereka dari keluarga terpandang, lalu mereka saling mengenal dan bergosip. Stephanie yang polos, mengungkap beberapa rahasia. Suaminya tewas kecelakaan mobil bersama saudaranya, ia pernah melakukan zina dengan saudaranya, ketika ayahnya meninggal sang ipar yang tampak reinkarnasi sang ayah membuat jatuh hati. Nantinya ini jadi kejutan pengungkapan fakta. Sementara Emily mengungkap rahasia, pernah main threesome. Wait. MML? Nope, MFF. Waduh… dan sang suami Sean Townsend (Henry Golding) ternyata adalah penulis buku Catenbury Tales, buku yang istimewa di mata Stephanie karena pernah dibacakan di klub buku, menjadi bahan skripsi dan dibedah khusus dalam diskusi. Pasangan ini bahkan tampak mesra, berciuman mulut di depan tamu! Betapa gairah dan norma menjadi samar. Stephanie memandang dengan tatapan damba. Asem.

Alur menjadi sesuai prediksi, ketika Emily meminta Stephanie untuk menjemput anaknya karena ia ada perlu, yang ternyata terdata ke Miami. Menjadi pengasuh sementara, saling bantu teman, sementara sang suami Sean sedang ke London menemani ibunya yang sakit. Dan misteri pertama dilemparkan ke penonton. Setelah beberapa hari, Emily dinyatakan hilang. Melalui vlog-nya Stephanie mengungkapkan kesedihan. Laporan ke polisi, melacak keberadaan yang memungkinkan Emily kunjungi. Bahkan sang protagonist lalu menjelma bak detektif ketika masuk ke kantor tempat kerja Emily, mencuri berkas, membuka fakta kecil yang tak disangka. Dan ketika penyelidikan seolah menemui jalan buntu, sebuah temuan menyedihkan diungkap. Emily ditemukan tewas di danau, mobil sewa tunai ditarik, mayatnya diotopsi, sakaw gara-gara heroin, dan tiket perjalanan itu palsu. Di sini jelas, arah pikiran penonton pasti sama. Sang ibu tunggal, penggemar bukunya Sean yang kini jadi ayah tunggal. Berhari-hari menjadi pasangan saling melengkapi. Sean bekerja sebagai dosen, Emily menjelma ibu rumah tangga idaman dengan masakan istimewa. Dan kalau mereka akhirnya tinggal seatap, mencoba membangun hubungan adalah keniscayaan. Happily ever after? Nope! Ini film thriller, eh film yang mencoba thriller gan.

Pesan-pesan rahasia Emily disampaikan seolah ia menjadi arwah gentayangan. Memberi sang anak Nicky sebuah amplop berisi gambar saling silang dengan tulisan Brotherf*ker. Mencoba mengirim sinyal keberadaan. Bahkan suatu saat Stephanie mendapat telpon langsung dari almarhum. Wow, kamu mulai menggila! Kamu sudah stress tingkat atas, orang mati menelpon! Film ini mau ke film horror? Tak terima dikatakan gilax, Emily lalu menelusuri kehidupan masa lalu ‘sang arwah’. Saya sudah bilang dari awal bahwa Emily ternyata tak mati, kok bisa? Padahal kita sudah melihat dengan gamblang mayatnya dikebumikan. Yup, sampai disini cerita memang bagus banget. Tapi penelusuran lebih lanjut terhadap identitas almarhum menjadi plot jenaka. Silakan ketawa.

Seperti Baby Driver yang hebat dari awal sampai pertengahan, A Simple juga luar biasa mengesankan. Baby menjadi luluhlantak berkat, eksekusi konyol betapa mudah senjata diangkat dan dar der dor dalam adegan balap bak fast and furious. A Simple terjun bebas ketika kemunculan plot lain yang lalu sampailah adegan segitiga itu. Apalagi motifnya cuma itu. Duh, maaf sekali. Duet perdana dua aktris istimewa sebagai dua peran utama Lively dan Kendrick berakhir bencana. “Anna and Blake are forces to be reckoned with.” Moga ada lagi film mereka berdua sebagai pasangan utama. Jangan kapok yes.

Sisi positifnya adalah, cerita detektif akan memudahkan plot dengan menemukan mobil yang diperosokan ke danau, catat jua dengan sengaja. Searching juga gitu. Bahkan ini kejadian nyata, sang ratu cerita criminal Agatha Christie kita tahu, beliau memainkan peran nyata sandiwara hilangnya demi meraih simpati, atau lebih tepatnya meraih perhatian dari kekasih tercinta karena kekecewaan hidup. Jadi kalau mau bikin cerita penyelidikan, coba taruhlah mobil dalam danau, pastinya menarik perhatian pembaca, pers dan sel-sel kelabu.

Cerita ditutup bak sebuah kasha nyata dengan menampilkan tilisan singkat nasib para karakter utama. Credit title-nya kreatif sekali, layak dinikmati sampai ujung walau tak ada adegan apapun. Selama tulisan berjalan ke atas, potongan adegan, foto-foto karakter sampai sekelumit gambar warna-warni ditampilkan dengan gaya slash miring dan potongan garis yang indah. Siapa yang bisa menolak keseksian Lively? Siapa yang ga penasaran selipan foto-fotonya? Coba kalau credit title film-film dibuat gini, pastinya banyak yang bertahan hibngga detik akhir. Ditambah soundtrack-nya bagus-bagus. Dari Mambo #5 (A Little Bit of…) dari Lou Bega, Les Passants nya Zaz sampai Bonnie and Clyde nya Brigitte Bardot dan Serge Gainsbourg. Meriah.

Berdasarkan novel karya Darcey Bell dengan judul yang sama yang merupakan novel debut, bukunya belum rilis saat film sudah sepakat dibuat. Walau akhirnya beberapa hal diubah, seperti Sean yang sebenarnya kerja di Wallstreet di film menjadi dosen. Atau untuk penyederhanaan, dalam novel Stephanie bukan Vlogger tapi Blogger, dst. Salah satu konsep uniknya adalah pembuatan martini, Blake Lively bahkan berlajar langsung dan mendemonya saat CinemaCon.

Mungkin agak terselamatkan di ujung sekali ending, kala vlog-nya Stephanie menyentuh view sejuta. Sungguh bahagia, menyampaikan cerita yang bisa dinikmati banyak kalangan, apalagi ini hanya dari seorang ibu rumah tangga. Hati-hati saat sobat kamu nanya, apa hal paling gila yang pernah kamu lakukan, rahasia biarkan tetap menjadi rahasia. Ssstttcan You keep A Secret?

Well decent, until it wasn’t. The movie was quite enjoyable for the longest time. Well and tricky. Then the conclusion happened. Drop till the end, so disappointed. Is it a joke baby? Hufh… gone girl gone bad. Nah… nah… nah…

A Simple Favor | Year 2018 | Directed by Paul Feig | Screenplay Jesicca Sharzer | Cast Anne Kendrick, Blake Lively, Henry Golding, Ian Ho, Joshua Satine | Skor: 3.5/5
Karawang, 170419 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti – 190419 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Mann – I Know You So Well

#PemiluDay #TheGoodFriday

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s