The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society: Film Spesial Untuk Pecinta Buku

Juliet Ashton: “Do you suppose it’s possible for us to already belong to someone before we’ve met them?”

Drama cinta kehidupan yang menarik. Persahabatan, cinta, perang, tragedi, permusuhan, dan sederet buku yang mendamba. Ini adalah film special untuk para pecinta buku. Dibuat oleh Mike Newell, orang yang mencipta Edward Cullen tewas kena Avadra Kedabra, dibintangi oleh Lily James yang sinarnya memancar dari awal sekali film sampai ending. Film drama romantis di era pasca Perang Dunia Kedua. Kisahnya mungkin terlihat klise, tapi keberanian mengambil keputusan, sebuah tindakan ambil resiko demi (ehem..) cinta, ya demi cinta, adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan luar biasa. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tindakan sang protagonis atas segala konsekuensi di akhir benar-benar laik dihargai, diapresiasi dan sungguh tindakan berani. Siapa yang menolak kemewahan? Siapa yang berani melepas kenyamanan hidup? Siapa yang rela masa depan yang mapan itu dihempaskan? Demi cinta, yang jiwaku ada di tangannya. Kalian belum tentu bisa, kawan-kawan.

Judulnya agak aneh memang, di mula sekali dijelaskan bahwa nama itu terucap secara spontan ketika sekumpulan warga Guernsey di pulau Channels tahun 1941, dicegat pasukan Jerman yang memang sedang menduduki wilayah tersebut. Karena sedang diberlakukan jam malam, sekumpulan warga saat ditanya ngapain keluar malam-malam, salah seorang menjawab dengan seadanya habis acara di klub baca, nama organinasi/perkumpulannya? ‘Perkumpulan Sastra Guernsey dan Pie Kulit Kentang’. Aneh? Ya. Setidaknya ada akar kenapa judul film seperti ini.

Kisah lalu merentang ke tahun 1946 pasca Perang, Inggris menata kehidupan. Dari pusat kota London, seorang Penulis jelita berusia 32 tahun Juliet Ashton (diperankan dengan anggun oleh Lily James) sedang melakukan tur buku, promosi buku baru, dan segala hal dalam percobaan mendongkrak penjualan. Dengan nama pena Izzy Bickerstaff, yang kebetulan adalah buku yang terselip dalam saku saat interogasi di pembuka. Tampak betapa akrab ia dengan editornya Sidney Stark (Matthew Goode), saling mengisi dan sering jalan bareng. Sepintas terlihat begitu tampak serasi dan potensial menjadi pasangan sempurna. Memang ada pasangan yang lebih hebat dari dua orang kutu buku, Penulis dan Editor? Rasanya sulit menandingi. Sidney kita catat dulu.

Sementara kehidupan London yang meriah ala tahun 1940an berjalan, Juliet juga berkawan akrab dengan seorang militer tampan Mark Reynold (Glen Powell). Di sini terlihat sang pria tampak mapan, wibawa, serta menjanjikan kemewahan hidup. Kehidupan yang glamor dalam komunitas kalangan atas, makan malam mewah, sampai hal-hal yang begitu mengidam untuk kaum hawa: perhiasan mahal dan cinta yang membuncah. Catat juga, dulu nama Mark.

Nah, suatu hari Juliet mendapat surat dari pulau terpencil di Guernsey, daerah yang berbatasan dengan Perancis, mengenai kegiatan malam Jumat mereka membacakan buku. Klub baca tersebut terus berlanjut ternyata. Sang pengirim adalah Dawsey Adams (Michiel Huisman) bilang di Guernsey yang sepi sulit menemukan buku buku bagus, salah satu yang dicari adalah Essays of Elia, Charles Lamb nya Shakespeare. Korespoden pun terjadi. Ketertarikan, dorongan untuk menulis lebih lanjut komunitas ini, dan rasa penasaran akan nasib seorang pemudi yang hilang menghantar Juliet ke pulau tersebut. Kejutannya, saat akan naik kapal. Di pelabuhan yang riuh. Juliet dilamar oleh Mark Reynold. Kejutan itu tak bisa ditolaknya, dengan ciuman romantis di pinggir kapal. Dengan lambaian tangan berjari cincin janji suci, Juliet menuju petualangan baru.

Di Guernsey, Juliet tinggal di penginapan yang aneh. Induk semang penyuka gosip, dan bagaimana nasib orang-orang di masa perang memiliki pandangan negatif atas Elizabeth McKenna (Jessica Brown Findlay) yang hilang saat Perang. Elizabeth didakwa menghianati Negeri karena berkencan dengan tentara Jerman. Bahkan ia memiliki anak, Kit yang kini diasuh oleh Adams. Nah selama di pulau itulah Juliet menemukan banyak sekali pengalaman seru yang bisa mengubah hati dan pikirannya. Bergabung dalam klub buku, menelusuri memori bagaimana sesungguhnya sikap warga terhadap pendudukan, sampai akhirnya kedekatannya dengan Adams menimbulkan banyak spekluasi. Niatan Juliet di sana memang awalnya membuat tulisan klub buku ini, menemukan banyak kejanggalan sampai akhirnya kemarahan anggota bahwa pertemuan ini tak boleh masuk cetak. Masa lalu Elizabeth diungkap berkat Mark yang punya koneksi militer, sampai akhirnya fakta menyakitkan harus dibuka. Roman Juliet dan Adams menambah panas suasana, karena kejutan tunangan tiba mendadak membuat drama ini makin merumit. Adam kita catat juga tentunya.

Bagaimana Juliet akhirnya harus memilih di antara tiga hati: sang militer yang mapan dan tampan yang sudah jadi pacarnya, sang editor nyentrik yang cocok sekali dari segala sudut, atau sang pemuda dari pulau terpencil yang menebar cerita cinta dalam kesederhanaan, di antara kegalauan kata yang harus diketik. Sang penulis tahu yang terbaik buatnya, sang penulis tahu yang terbaik buat penonton.

Kisah Penulis melakukan riset dan menemukan cinta walaupun sudah punya kekasih mungkin terdangar klise, penelusuran sejarah sampai akhirnya dihantam kepahitan hidup bisa jadi sudah banyak, sebuah komunitas dengan keceriaan sekaligus kemarahan sudah hal biasa, wajar ada gesekan. Setting pasca perang dan warga kembali menata hidup filmnya juga sudah banyak dibuat. Pesona Lily James sudah umum terlihat di berbagai film. Kelebihan The Guernsey adalah paket komplit tersebut, dikombinasi serta diramu dengan keteguhan hati. Dan keberanian mengambil keputusan akhir yang luar biasa. Salutlah sama Juliet, berani melawan arus kenyamanan.

Diadaptasi dari buku karya Mary Ann Shaffer dengan judul yang sama yang menulis berdasarkan riset langsung ke Cambridge lalu ke tempat aslinya di Guernsey, Channels Island, buku ini sejatinya biografi Kathleen Scott, istri dari seorang petualang kutub dari Inggris, Robert Falcon Scott, film ini bahkan tak dilirik sama sekali di Oscar. Padahal tahun 2018, film tentang Penulis lain Lee Israel dengan konflik batinnya dalam Can You Ever Forgive Me? Kurasa setara kualitasnya. Film yang nirgelar setelah duo Oscar Aktris dan pendukungnya rontok. Bagi pecinta buku, jelas dua film ini begitu seksi.

Ada banyak bagian menarik di film ini yang nostalgia sekali. Pertama, saat Juliet menemukan buku Charles Lamb yang ia kirimkan. Di kamar berdebu, buku ditumpuk bersama buku usang lain. Tulisannya di ujung kanan atas, buku itu dipersembahkan olehnya. Jelas, ini kebiasaan saya sekali karena semua buku yang kubeli, ujung kanan atas selalu kusematkan identitas dan kenangan saat beli bersama siapa, kapan dan dalam momen apa. So sweet dan touch, Juliet tersenyum sendirian. Siapa yang tak meleleh melihat namamu diukir dalam kenangan seseorang? “Benda yang kecil. Hanya sebuah buku. Namun ini membawaku jauh ke sini.”

Kedua saat Juliet membalas surat Adams, dengan latar ia Ke toko buku mencarikan buku yang diminta Charles Lamb’s Tale-nya Shakespeare. Dan kata-kata balasan surat, “Bagaimana babi bisa membuatmu memulai perkumpulan sastra?” duh nuansa indah menghadiahkan buku untuk orang asing. Dulu saya ‘merayu’ cewek dengan memberi mereka hadiah buku di hari special, sayangnya ga ada yang nyambung. Sulit sekali menemukan kekasih yang sehobi sebagai kutu buku, dulu era sekolahku jangankan sosmed, HP saja barang mewah. Oiya, dengan istriku saya selalu ingat pas kita sepakat menikah, saya membawakan hadiah buku. Bukan sastra, bukan novel fiksi, bukan pula favorit genre fantasi. Tapi buku pertama yang kuhadiahkan kepada May adalah buku resep masakan! Waktu itu ia bilang gap inter masak, dan saya reflek beli buku cara masak. Sampai saat ini masih tersimpan, tapi ibunya yang simpan. May nya sudah bisa masak walau ala kadar, dan memori hadiah buku selalu membayangi.

Ketiga tentu saja saat jelang akhir, bagaimana Juliet mengetik dengan begitu intens. Adegan selama tiga menit itu begitu romantis disajikan. Kegigihan menulis kala hujan, panas, dan keletihan mendalam. Melakukan riset dari beberapa buku, buka-buka catatan sampai telaah di banyak buku dengan serakan di berbagai sudut (surga buku), sampai akhirnya menemukan sekuntum bunga kering yang tersemat. Bunga yang bisa jadi pemicu keputusan akhir mengingat adegan di kamar yang canggung itu Cek dan risek data era lalu, tanpa Goggle gan. Klasik! “Sesuatu telah terbuka, entah kenapa setelah menulisnya membuatku bersemangat lebih.”

Lebih keren lagi, Juliet memutuskan tak akan mencetaknya, dia konsisten dengan janjinya dengan komunitas, buku itu special dipersembahkan untuk mereka yang laik dan pernah mengalaminya sendiri. Ini kisah nyata, draft itu tak terbit sama sekali sampai akhirnya tahun 2006 muncul ke permukaan. Tahun 2008 final draft diterima dan izin diterbitkan dari Annie Barrows, putri dari saudarinya Cynthia. Sepuluh tahun kemudian kita nikmati dalam film. “All I wanted was to write a book that someone would like enough to publish.”

Film tentang buku dengan latar apapun, cinta, tragedi, perang, super hero sampai sekadar klub buku yang menyaji drama antar anggota selalu mudah menyentuh hatiku. Mari kita lihat buku apa saja yang terilhat di film ini: To The Lighthouse (Virginia Woolf), Treasure Island (Robert Loius Stevenson), The Tempest (William Shakespeare), Jane Eyre (Charlotte Bronte), The Importance of Being Earnest (Oscar Wilde), The End (A.A. Milne) sampai buku yang menjadi pemicu kisah Charles Lamb nya Shakespeare. Betapa menyenangkan buku-buku pujaan kita mewarnai layar. Dan tentu saja The Guernsey masuk dalam daftar elit itu.

We have to write about them.

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society | Year 2018 | Directed by Mike Newell | Screenplay Don Roos, Kevin Hood | Novel by Mary Ann Shaffer, Annie Barrows | Cast Lily James, Jessica Brwon Findly, Tom Courtenay, Michiel Huisman, Katherine Parkinson, Matthew Goode | Skor: 4/5

Karawang, 130319 – 130419 – Coldplay – Death and All His Friends

#PutihkanGBK

Iklan

One thought on “The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society: Film Spesial Untuk Pecinta Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s