Mirage: Badai Akan Datang, Lubang Cacing Segera Tercipta – Selamatkan Aku

Aku sudah menyelamatkanmu. Sekarang giliranmu.”

Dua badai yang sama merentang 25 tahun dari 1989. Kasus pembunuhan yang harus dipecahkan yang melibatkan tukang jagal selingkuh, penuh misteri dan penebusan dosa masa lalu. Seorang anak tercinta hilang, atau lebih tepatnya belum terlahir, kini kita di dunia yang berbeda. Dikejar waktu 72 jam, berhasilkan Vera Roy menyelamatkan segalanya? Apakah kehidupan sebelumnya hanya delusi ataukah ini semua mimpi? Karakter wanita yang kuat dengan pasangan yang menarik, waktu yang tergelincir, misteri pembunuhan, cerita detektif, betapa ini adalah film paket komplit yang sungguh tak bisa ditolak. Tapi yang tadinya khayalan anak bisa menjadi kenyataan. Kita hidup dalam sistem yang kacau.

Seperti Source Code, Butterfly Effect, sampai Back To The Future, hidup yang bercabang. Kita perlu upaya sadar untuk mengetahui, sekarang di retakan waktu yang mana. Mendapatkan rekomendasi film ini dari panutanqu di Bank Movie, In Lee We Trust, awalnya skor 3.5 ga minat, skor naik 4 langsung unduh dan tonton. Ternyata menakjubkan sekali. Sayang aja, kutonton pasca kubuat daftar film terbaik akhir Maret lalu. Jelas film ini masuk lima besar 2018. Demi menyelamatkan Niko, demi menyelamatkan Gloria, demi menyelamatkan sang tokoh utama. Selamat datang di dunia pararel, yang bikin cerita pintar sekali. This is impressive movie. Well written, well shot, and well acted. An amazing plot and script. I was on the edge of my seat the entire time. It’s definetely to watch, highly recommended. Kusarankan untuk berhenti baca di sini, bagi yang belum dan ingin menikmati Mirage (Durante La Tormenta) film Spanyol yang rekomendasi banget. Saya sudah memperingatkan.

===Tulisan ini mengandung Spoiler===

Kisahnya tentang perjalanan lintas waktu demi menyelamatkan dan diselamatkan, ada tiga lapis. Perjalanan lintas waktu dengan kamera perekam, tv dan badai istimewa sebagai pemicu terciptanya lubang cacing. Dibuka dengan sebuah berita bahwa pada tanggal 9 November 1989 terjadi peristiwa bersejarah jelang runtuhnya Tembok Berlin, berita tersebut tersaji lewat siaran tv, malam hari di sebuah rumah di Spanyol. Seorang anak 12 tahun Niko Lasarte (Julio Bohigas-Couto) sedang berlatih gitar, direkam dengan kamera diletakkan di atasnya. Cuaca yang gemuruh di luar memberi sebuah kilatan retak pada waktu. Sang ibu berangkat bekerja, dan saat sendirian Niko mendengar suara mencurigakan dari rumah tetangga. Penasaran, menyelidiki dan betapa terkejutnya karena menemukan mayat tuan rumah Hilda Weiss di lantai bawah. Melihat sang suami Angel Prieto memegang pisau menuruni tangga, Niko ketakutan berlari keluar dan tragis dia tewas seketika tertabrak kendaraan.

Adegan berikutnya loncat, di rumah yang sama, kini dihuni oleh pasangan muda bahagia Vera Roy (Adriana Ugarte) dan David Ortiz (Alvaro Mortez), Vera adalah seorang wanita karir di rumah sakit lalu memutuskan menjadi ibu rumah tangga demi mengurus keluarga. Suaminya yang orang penting kantoran tampak wibawa, seorang pria bertanggung jawab. Dan putri semata wayangnya yang cantik menggemaskan Gloria Ortiz (Luna Fulgencio), membuat ayunan baru, menghabiskan banyak waktu dengan si kecil adalah anugerah terindah bagi Vera. Gambaran keluarga kecil yang ideal. Suatu saat, Vera menemukan korek api dalam saku sang suami, cek cok terkait komitmen berhenti merokok, dan melemparnya keluar jendela. Hufh… dari Aitor Medina sahabat sekaligus tetangganya bertutur tentang temuan tv jadul dan rekaman video tahun 80an, riwayat kematian Niko dan fakta tak terbantah sang pembunuh Angel hanya bertahan tiga bulan dalam penjara sebelum akhirnya bunuh diri. Lalu drama benar-benar dimulai saat malam petir saling bersahutan, Vera terbangun menuju ruang tengah, menemukan tv menyala menyiarkan berita tahun 1989 dan video rekaman di gudang diputar. Gambar yang terlihat adalah Niko yang ada di mula, dan betapa terkejutnya ia ketika bisa berinteraksi dengan Niko melalui gambar di tv, Vera dengan lantang meminta Niko untuk tak keluar menyeberang jalan, jangan Nak karena kau akan mati, saya adalah manusia masa depan! Dan ta-daaa… Niko selamat. Lha kok bisa? Ya, sebuah paradok waktu sudah dicipta.

Dokter Vera Roy terbangun di rumah sakit, pusing dan bertanya kebingungan karena para perawat dan asisten segera memintanya melakukan operasi. Ketika salah seorang memenaggilnya dokter Vera, dia terkejut. Apa? Dokter? Dia itu cuma perawat dan sudah resign, bahkan kini dia cuma seorang IRT, semua orang tentu saja serentak tak mengerti jua, termasuk penonton yang tak kena spoiler. Ono opo iki? Dan tahulah kita, ketika menit demi menit berjalan, bahwa kini Vera ada di kehidupan Niko yang selamat. Yang otomatis segalanya berbeda. Ketemu David, suaminya, oh bukan kini ia milik orang lain, menikah dengan Ursula mantannya. What? Lalu gmana anaknya? Gloria? Oh dia masih lajang. Dia adalah wanita karir yang sukses secara finansial, wanita mandiri sebagai dokter syaraf terbaik. Why? Gloria tercinta tak terlahir di dunia cabang Niko Tak Tertabrak! Orang yang terjebak dalam rekaman video, berkat cuaca buruk disertai petir sebagai sapaan Tuhan.

Vera hanya punya waktu 72 jam untuk mengejar badai terakhir, atau lubang cacing tertutup, ia harus menyelesaikan segalanya, memecahkan puzzle, menangkap petir tepat waktu, ia hanya ingin kehidupannya kembali, Gloria tercinta kembali. Menit film ada banyak di cabang ini, mayoritas dalam penyelidikan. Mencari Niko, oh Niko sudah pindah, kesaksiannya terhadap hilangnya bu Hilda karena pembunuhan tak didengar karena ia diberitakan ke Jerman, pulang. Angel kini hidup bahagia, tak terjadi apa-apa di malam naas itu. Benarkah? Malah, ia menemukan nama Niko adalah nama karakter dalam novel berjudul Mirage karya Karen Sardon yang didedikasikan untuk Niko Lasarte. Dibantu oleh inspektor Leyra (Chino Darin) Vera memburu sang penulis, bagaimana bisa ia mendapat ide cerita tentang lelaki yang selamat gara-gara nasihat video dari wanita yang berasal dari masa depan? Oh itu hanya khayal! Fantasi murni. Waduh… ini hanya fantasi? Niko adalah anak kecil pengidap skizofrenia. Halusinasinya terasa nyata sehingga mengilhaminya. Semua itu hanya ada dalam pikiran ibunya.

Semakin merumit, mereka lalu kembali mencari bukti lain, pembunuhan yang sudah terjadi 25 tahun lalu dengan sang pembunuh bebas berkeliaran. Dengan bantuan Leyra, saling kejar menyusun kepingan, Leyra menjaga Vera dari kejaran polisi karena dianggap bebahaya, tak waras, malah diberi kertas bertuliskan Hotel Belmonte kamar 1016. Saat di sana, bukan jawaban temuan Niko yang diharap yang didapat karena malah menemukan David yang berselingkuh. Menjijikan. Di cabang lain, ia adalah suaminya! Koneksi yang ada adalah korek api Arabesco. Meminta salaman, aku ingat seluruh kehidupan denganmu. Aku tahu alasanku di sini. Kejaran waktu itu menuai sebuah akhir di sebuah gedung lantai atas dengan pilihan tindakan yang mengejutkan. Tindakan bunuh diri yang menjadi picu demi mengembalikan kehidupan lama. Gilax! Ide gilax! Brilian.

Ada bedanya menjelaskan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’? Menjabarkan ‘bagaimana’ berarti menyusun ulang serangkaian peristiwa spesifik yang mengarah dari satu titik ke titik lain. Menjelaskan ‘mengapa’ berarti menemukan hubungan sebab-akibat yang menyebabkan terjadinya serangkaian spesifik itu dan bukan semua peristiwa lain.

Diawali dengan petir yang sama, Mirage mencapai kesimpulan tiga rangkaian waktu akhir yang berbeda. Ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terjadi percabangan-percabangan yang memungkinkan tindakan berbeda. Kekhawatiran mengenai masa depan menjadi pemain utama dalam teater akalbudi manusia. Ini bukan sekadar tentang mengubah masa lalu, lalu masa depanpun berubah. Karena setiap retakan yang dicipta memiliki takdir masing-masing maka, karakter utama harus memilih kehidupan mana yang mungkin ideal. Orang-orang cenderung berdamai dengan status quo menyatakan bahwa ‘beginilah akhir nasib saya, dan saya harus jalani dengan syukur.’ Namun tidak, Vera justru memilih kembali berjudi dengan waktu demi sang buah hati dengan bunuh diri dan sungguh meyakini bahwa di retakan waktu berikutnya ia bisa kembali memeluk Gloria. “Sekarang giliran kamu menyelamatkanku.

Menulis cerita perjalanan waktu yang berkelas sungguh sulit, banyak telaah dan spekulasi. Banyak penjelasan yang harus dipaparkan. Kalau sudah baca tentang teori waktu, dan nonton film lompatan waktu mungkin terdengar mudah dalam teori, praktiknya sulit. Mirage memaparkan lingkaran waktu dengan sangat rapi. Seharusnya tak multi tafsir karena sudah dijelaskan dengan gamblang. Apalagi di adegan interogasi sang pembunuh, detail-detail yang menjadi tanya di awal dan di tengah terjawab semuanya. SEMUANYA. Jadi penonton benar-benar tinggal menikmati dan terhenyak di depan layar. “Kalau kau ingin selamat, kau harus percaya.”

Kenyataan adalah sekarang, ya saat ini. Masa lalu tertinggal dan hanya menjadi ingatan samar, masa depan msiteri dan hanya menjadi harapan samar. Niko tewas tertabrak, fakta satu. Namun di pararel lain. Karena kenyataannya kini Vera bersama Niko yang selamat, fakta dua. Gloria adalah putrinya, fakta tiga. Namun sekali lagi itu di pararel lain. Kenyataan saat ini Gloria tak ada di dunia karena ia masih lajang! Niko seolah masa lalu dan Gloria seolah masa depan. Dan dengan sungguh berani, saya selamatkan kalian semua karena kalian bukan fiksi! Ending yang ditawarkan bisa jadi happy untuk semua orang baik hati dan tidak sombong, tapi itu belum cukup. ‘Saya harus memulai dari awal lagi!’ Situasi kita saat ini adalah tak terhindarkan sehingga kita memiliki lebih banyak kemungkinan di hadapan kita yang bisa kita bayangkan.

Bila kebahagiaan didasarkan pada merasakan hidup ini bermakna, maka agar lebih bahagia kita butuh menipu diri sendiri secara lebih efektif. Tak perlu delusi kolektif untuk menerawang dan berjalan di pararel lain, hanya orang yang menyalakan rekaman dengan petir yang tepat yang bisa menciptanya. Bisa jadi saat adegan akhirnya Niko mencium Vera, selesai sudah semuanya, tapi tidak. Jean-Jacques Rousseau bilang, ‘Apa yang kurasa baik – adalah baik. Apa yang kurasa buruk – adalah buruk.’ Vera berpendapat ia merasa buruk sekalipun penawaran itu sungguh menantang. Ga semua orang berani ambil keputusan itu lho, bukan hanya cewek.“Sekarang giliranmu.

Para pemikir terbaik sibuk memberi makna kepada kematian, bukan meloloskan diri darinya. Para dewa-dewi menciptakan manusia, mereka menetapkan kematian sebagai takdir manusia yang tak terhindarkan. Sesat pikir kilas balik. Dari masa lalu ke masa kini benarkah hanya ada satu jalan yang kita tempuh, tapi banyak sekali cabang jalan menuju masa depan? Setiap saat kita diberi opsi tindakan. Contoh pagi ini saya bangun tidur, memilih untuk di depan laptop melanjutkan menulis ulasan, padahal bisa saja saya pilih baca buku Sharp Objects yang baru kudapat separuh. Benarkah pilihan Sharp Objects itu hilang karena tak mau kuambil? Ataukah ada pararel lain yang tercipta sehingga membuat paradok baru? Vera tak mau menerima takdir itu, kecintaan dan kepercayaannya atas kehadiran Gloria memberikan kekuatan luar biasa.

Realitas yang dikhayalkan bukanlah kebohongan. Saya berbohong sewaktu saya mengatakan saya menggenggam erat tangan Sherina Munaf sewaktu nonton bioskop film Triangle, padahal saya tahu betul Triangle tak tayang di bioskop Indonesia. Realitas yang dikhayalkan adalah sesuatu yang dipercaya Vera, asal kepercayaan itu terus dipegang, realitas yang dikhayalkan memiliki pengaruh kuat. Realitas objektif berupa tv, kamera, termasuk meja dan gitarnya Niko. Realitas yang dikhayalkan berupa petir yang menyambar, pembunuhan Hilda, dan Gloria. Vera terus mempertahankan realitas yang dikhayalkan, yang diragukan banyak orang. Dan kalian sudah tahu hasilnya. Akar penderitaan sejati adalah pengejaran tiada akhir dan tanpa arti terhadap perasaan-perasaan sementara yang menyebabkan kita terus-menerus tegang, gelisah dan tidak puas. Kenapa Vera berani melemparkan diri dari atas gedung? Karena ia mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan itu.

Mirage sejatinya tentang kesadaran dan sudut pandang. Kesadaran dan kekuatan adalah hal yang mirip, semua perilaku itu digerakkan oleh kesadaran. Kesadaran masih menjadi misteri sains hingga kini, bagaimana bisa muncul seketika bangun tidur. Menurut ilmu psikologi, kesadaran adalah kesiagaan (awarness) seseorang terhadap peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan dan sensasi fisik. (Solso R. L., dkk, 2008). Tampaknya kesadaran manusia tidak ditentukan oleh organ tubuh, keberadaan energi, atau susunan DNA kita. Kata David Chalmer, kesadaran kita berasal dari tuhan sendiri. Vera terbangun di rumah sakit, kesadarannya pulih dan ternyata fakta yang ada ga match dengan fakta yang ada dalam pikirannya. Vera terbangun lagi di tempat tidur dengan David di sampingnya dengan begitu fakta telah kembali sejalan. Semua itu terkait kesadaran Vera, dan karena ia adalah sang tokoh utama, si sudut pandang cerita maka hanya memikili satu telaah kesadarannya. Perhatikan film-film time travel dari Source Code, Edge of Tomorrow, Triangle, dst semua memulai cerita dari terbangun tidur yang artinya awal sekali apa itu kesadaran. Cerpen saya tahun 2011 berjudul ‘Terjebak’ juga berulang dari awal bangun tidur berkat dering telpon. Ini semua tentang kesadaran. Betapa banyak kebenaran milik orang-orang malas yang telah diterima atas nama imajinasi. Perasaan kita hanyalah getaran sementara, berbuah setiap saat seperti gelombang samudera.

Jadi berhati-hatilah saat ada sebuah video interaksi dan wanita itu bilang dari masa depan. Aku bermimpi tanpa tidur, ini bukan sekadar khayalan (mirage).

Mirage (Durante La Tormenta) | Year 2018 | Spanish | Directed by Oriol Paulo | Screenplay Oriol Paulo, Lara Sendim | Cast Adriana Ugarte, Chino Darin, Javier Gutierrez, Alvaro Morte, Nora Navas, Miquel Fernandez, Julio Bohigas Couto | Skor: 5/5

Karawang, 060419 – 070319 – Trio Larose – Swingo – Sheila On 7 – Jalan Keluar

One thought on “Mirage: Badai Akan Datang, Lubang Cacing Segera Tercipta – Selamatkan Aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s