Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

Ichigo: “I am not so noble to risk my life for strangers or so low to desert people in trouble.”

Cerita penjaga perdamaian kota, menghantar arwah-arwah penasaran untuk ke soul society, dan memburu para hollow (monster) agar dunia kembali tenang. Fantasi yang menggairahkan.

Dibuka dengan tragedi di mana ada ibu dan seorang anak yang mencoba memberi payung pada gadis yang menangis di pinggir danau yang ternyata adalah jelmaan, menewaskan Masaki Kurosaki (Masami Nagasawa). Tahun melompat dan kini Ichigo Kurasaki (Sota Fukushi) adalah seorang pelajar, ia bisa melihat hantu. Keistimewaan itu suatu hari memberinya kesempatan menjadi petarung. Di kamarnya tiba-tiba muncul seorang cewek berkimono dengan pedang dan kecurigaan menatap sekeliling, Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki) adalah seorang shinigami yang tugasnya berburu hollow, si Rukia yang terkejut bahwa keberadaanya diketahui manusia yang kemudian malah menjadi manusia karena kekuatannya secara tak sengaja tersalur ke Ichigo. Dalam sebuah kesempatan langka yang mendesak, ia sepenuhnya mentransfer tenaga dalamnya. Rukia terjebak, yang lalu menyamar sebagai murid baru pindahan, mengambil tubuh gigai (tiruan). Ichigo yang bisa melihat hantu ternyata memiliki kekuatan spiritual besar.

Kota Karakura yang butuh seorang shinigami untuk menjaganya dari serangan hollow, memaksa Rukia melatih Ichigo. Ia tinggal di kamar Ichigo, dan menjadi bagian kehidupan manusia. Secara keseluruhan sejatinya Bleach memang menceritakan hubungan mereka berdua. Fokus yang tepat. Bermain pedang, ditembaki bola tenis, mengangkat beban, ketahanan fisik. Tumbuh benih cinta, wajar. Rukia yang seorang shinigami yang menyamar menjadi menusia malah jatuh hati dalam keseharian, dan ini adalah dosa. Kesalahan. Ichigo yang memiliki love interest Orihime Inoue (Erina Mano), terlihat cemburu tapi Bleach ga jatuh dalam roman drama remaja, hanya kisah sempilan. Seorang murid freak, Uryu Ishida (Ryo Ishizawa) menambah rumit keadaan karena dengan panah saktinya ia ternyata adalah seorang Quincy. Quincy adalah makhluk langka yang memiliki dendam terhadap shinigami, maka hubungan Uryu dan Ichigo menjadi lawan-teman. Dan jadilah Ichigo seorang shinigami pengganti.

Sementara dari seberang, sepasang shinigami kakap Renji Abarai (Taichi Saotome) dan Byakuya Kuchiki (Miyavi) dari dunia 6 meminta Rukia untuk kembali, ia terlalu lama menjadi manusia. Renji adalah teman masa kecilnya, dan Byakuya adalah kakaknya! Di sini jelas Byakuya tampak sangat keren, semua kalimat yang diucapkan tenang tapi menohok, khas seorang antagonis bengis yang seolah tak terkalahkan. Mereka meminta Rukia membunuh Ichigo agar kekuatannya kembali, Rukia yang jatuh hati tentu saja menolak. Bahkan sampai diultimatum bila tak segera mengeksekusinya, keduanya akan dibunuh. Ichigo meminta kesempatan, ia akan berlatih lebih keras guna membasmi The Grand Fisher, hollow raksasa paling dicari yang digambarkan mengerikan dengan wajah bak topeng badut keji dan banyak lengan panjang berburu (bayangkan!). Seolah monster-monster Ultraman adalah barbie. Maka dalam adegan puncak, kota Karakura luluh lantak diterjang monster, Ichigo menjadi shinigami guna bertarung menumpasnya, sang Quincy membantu dengan panah, dan sajian dahsyat makhluk raksasa menjelma tornado tersaji epik. Mungkin kelemahannya hanya kurang lama adegan pertaruhannya, ga sampai berdarah-darah, adu kuat itu malah menjadi rentan. Jadi siapa yang akhirnya menyerah? Rukia yang meminta kekuatannya kembali? The Grand Fisher yang ternyata adalah pembunuh ibunya akankah bisa dimusnahkan? Uryu yang menaruh dendam kesumat kepada shinigami? Ataukah akhirnya Byakuya yang tampak amortal membumihanguskan semuanya? Rekomendasi tonton!

Skoringnya sangat pas, musik rock yang menghentak ketika mengiringi pertarungan, wow keren, gitar eletrik yang menyayat-nyayat hati ala Mad Max. Lagu “News From the Front”dari Bad Religion diselipkan di tempat yang semestinya, bukan sekadar iringan tapi juga menampilkannya dalam poster kamar. Panel manga dipindahkan dalam live action, mencoba sesetia mungkin, dalam sebuah mega adu pedang yang rupawan, bahkan ada adegan duel di atas dua bis di mana pedang bisa memanjang dan mebelit bak ikat tali. Tambal sulam beberapa bagian wajar, tapi secara keseluruhan sudah dalam arah yang tepat. Ceritanya mudah dipahami, untuk penonton awam sekalipun langsung klik sedari awal pengantar dunia Soul Society. Eksekusi ending, cerita jagoan dengan pedang besar menjadi sangat logis, sangat pas sekali. Rasanya sekuel hanya menanti waktu. Adaptasi sesukses ini jelas menuntut kelanjutan.

Tak perlu jadi pengikut manga-nya (termasuk saya) untuk bisa menikmati sajian live action yang seru ini, apalagi fan beratnya pasti jingkrak-jingkrak. Seperti inilah seharusnya anime menjelma nyata, sedih sekali menyaksikan Dragon Ball di-evolution-kan Amerika sepuluh tahun lalu. Luluh lantak, Bleach jelas di jalur yang sangat tepat. Poin pentingnya jelas, melibatkan kreator aslinya Tite Kubo dalam proses film. Kesuksesan ini jelas memicu anime lain untuk mewujud nyata, Naruto menjadi sangat mungkin, One Piece? Sherina Munaf pastinya gemetar menanti. Tak perlu warna-warni berlebih laiknya kartun, tak perlu efek sangat berlebih untuk menyuplai cerita, Bleach justru tampak seakan lebih sederhana, monsternya ga seglamor hollywood, efek CGInya ga senyata IMAX, tapi justru inilah nilai lebihnya. Kuat dalam bercerita, melaju dalam kecepatan konstan, dan aksi perang dengan porsi yang imbang. Banyak karakter, seolah tancap gas di opening, wajar. Anime memang selalu memberi banyak sekali tokoh dengan keistimewaan masing-masing, Bleach dengan cerdik menyajikan pengenalan itu dengan tulisan singkat dan durasi tepat. Bahkan ada sebentar adegan penjelasan dunia fantasi yang terpecah dua dengan title card kartun, bagaimana hollow harus diburu dan roh-roh gentayangan harus dikembalikan ke masyarakat jiwa. Jagoan kita berambut orange dengan model anak milenial, tampak nyentrik dan gaul. Karakter Yasutora ‘Chad’ Sado adalah contoh bagus, bagaimana muncul seketika, menitnya tak signifikan tapi bisa memberitahukan penonton bahwa ia adalah teman dekat sekaligus partner sang protagonis, bahkan di adegan yang tak lebih dari tiga menit di pertempuran saat di restoran, ia bisa menghalau lemparan benda padat dengan satu tangan, jelas ia punya keistimewaan juga bisa melihat kehadiran arwah tapi memang sengaja tak terfokus. Mustahillah berjilid-jilid series itu dipadatkan semua dalam durasi movie. Mungkin kahadiran Kisuke Uraha yang kurang eksplore, tapi tetap Ok. Mungkin untuk kelanjutan akan lebih detail. Kita semua tahu adaptasi manga dan anime mayoritas menjadi hancur, hampir semuanya: Dragon Ball, Full Metal Alchemist, Attact on Titan, Ghost in the Shell, Death Note, dst. Bleach kembali menaruh harapan itu.

Film rekomendasi Huang, teman grup Bank Movie, yang kilat kuunduh, kutonton langsung tuntas dalam gerimis malam libur, dan puas. Rasanya wajib kumasukkan dalam daftar film terbaik 2018 yang besok kudata. Apakah kesuksesan ini akan menghantarku (kembali) menjadi penikmat anime? Enggak, waktu menjadi kendala utama. Kecuali mini seri, rasanya film berpuluh-puluh bagian dengan ratusan karakter kayak gini sudah ga cocok kunikmati. Cukuplah sekali tonton selesai. Cukuplah saya tahu Dragon Ball, Naruto, One Piece, Crayon Shincan dan segelitir panel manga. Bleach yang mempesona datang terlambat, para hollow sudah menyebar dan memporakporandakan kota. Dan saya tetap duduk tenang membaca novel.

Bleach always be bleach

Bleach | Year 2018 | Directed by Shinsuke Sato | Screenplay Tite Kubo (Manga), Ardwight Cahmberlain, Shinsuke Sato, Daisuke Habara | Cast Sota Fukushi, Hana Sugisaki, Ryo Yoshizawa, Miyavi, Taichi Saotome, Erina Mano, Yu Koyanagi, Seiichi Tanabe, Yusoke Eguchi, Masami Nagasawa | Skor: 4/5

Karawang, 300319 – Sheila on 7 – Tunjuk Satu Bintang

2 komentar di “Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

  1. Adaptasi Death Note yg asli jepang bagus kak, sama sekali nggak hancur,,, kalau yg holiwut belum sempat nonton sih. Adaptasi anime/manga lainnya yang bagus ada Erased (2016) dan yang paling bagus adalah Detroit Metal City (2008).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s