Captain Marvel: Juru Selamat Telah Tiba

You have three names. What do people call you?” / “Fury”

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Pada kenyataannya hanya dua orang yang memanggilnya Nick. Tony Stark dan Agen Maria Hill. Selain itu? Cukup panggil Fury. Emakmu? Anakmu? Cucumu nanti dipanggilnya? / Cukup Fury. Setelah tertunda berkali-kali, akhirnya saya menyaksikan film solo super hero cewek pertama Marvel Universe. Sempat ingin menghabiskan malam dengan Us yang ternyata hari kedua tayang di CGV Festive Cuma tiga show dan jam tayang paling akhir selepas isya, jadi setelah melongok Gramedia sekadar lihat buku (Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan diskon jadi seharga 60k), saya habiskan pergantian hari ke Jumat dalam bioskop.

Tanpa embel-embel apapun kecuali tribute untuk mendiang Stan Lee yang emosional, film langsung tancap gas seolah mengejar pangkas menit, bahkan judulnya baru muncul di penghujung. Kita ada di tahun 1995. Carol ‘Vers’ Danvers (Brie Larson) adalah pasukan perdamaian galaxy dari Kree Empire di Planet Hala, bersama rekan sejawat Yon-Rogg (Jude Law) mengemban misi penyelamatan Perserikatan Planet-Planet. Vers sering kali bermimpi sebuah masa yang tak dialaminya, bertemu orang-orang asing di sebuah tempat asing tentang penemuan sesuatu terkait penelitian rahasia. Yon mengajak Vers untuk mengendalikan emosi, lebih tenang dan sabar. Nasihat dari teman sejati, laik dituruti.

Melalui instruksi Ronan (Lee Pace), bos mereka. Mereka lalu terlibat dalam misi penyelamatan Soh-Larr (Chuku Modu) dari terkaman gerombolan Skrull yang dipimpin oleh Talos aka Teller (Ben Mendelsohn) yang jahat. Gerombolan hijau ini bisa berubah wujud (shift shaper), setelah melihat makhluk lain ia bisa mengubah penampilan. Mereka tampak bengis, kejam, dan seolah ingin menguasai semesta. Maka ketika penyergapan itu gagal, Vers tertangkap dan diinterogasi. Bukan sekadar tanya jawab kek di kantor polisi, tapi tubuh Vers digantung terbalik, kepalanya disusupi port untuk menarik kenangan/ingatan/berita dalam kepala. Sebuah masa yang tersimpan itu coba digali, ditelusuri dan telaah mencari link. Ditemukanlah sebuah klu, seorang wanita bernama Dr. Wendy Lawson aka Supreme Intelligence (Annette Bening) adalah kuncinya. Maka misi itu berubah, Vers yang memiliki kekuatan di kedua tangannya sempat kabur dan meledakkan pesawat, pertarungan angkasa itu mengakibat mereka terdampar di planet C-53, alias bumi.

Vers mendarat di kedai film Blockbuster, didatangi seperangkat polisi karena merusak fasilitas, agen S.H.E.I.L.D legendaris itu muncul dengan mata lengkap, Nicholas Joseph Fury (Samuel L. Jackson) bersama agen Coulson (Clark Gregg) mencoba mengejar Vers yang juga mengejar pasukan hijau yang kini naik kereta. Dan trailer fenomenal itu, saat Larson menghajar nenek-nenek (nenek itu ternyata diperankan oleh Marilyn Brett) terwujud. Sempat berharap adegan adu otot di atas kereta yang melaju bakalan seseru Spidey atau Wanted, ternyata enggak terwujud, musuhnya hanya kroco. Kemunculan cameo rutin Stan Lee, kali ini menjadi penumpang kereta sembari baca buku naskah untuk Kevin Smith’s Mallrats (1995) dengan berujar ‘Trust me true believer.’

Vers yang menjelma gadis bumi menelusuri peta, mencari jejak Lawson dan akhirnya ditemui Fury. Mengajaknya kerja sama, mencari sebuah pusat penelitian proyek Pegasus (Potential Energy Group/Alternate Source/United State) yang misterius, sebuah fakta mengejutkan pertama di film ini akhirnya terungkap. Melalui pencurian arsip yang tersimpan, kita tahu ternyata Lawson sudah meninggal enam tahun lalu. Fury menggunakan sidik jari yang melekat di tanda pengenal untuk masuk ruang tertutup, Vers menggunakan kekuatan tangannya, jebol saja! Haha… Dan dalam arsip foto tahun 1989 itu Vers ada di dalamnya! Kenyataan ini memberi bukti bahwa ia pernah di bumi, mengenal mereka dan terlibat dalam pertaruhan. Sementara koneksi ke sahabatnya terus terjalin, meminta bantuan agar pasukan Skrull tak lebih cepat menemukan tesserat.

Kejar-kejaran itu menemui titik di Louisiana di sebuah rumah Maria Rambeau (Lashana Lynch), Vers makin terkejut karena Maria yang mereka tuju ternyata adalah sobat lama. Mengenal baik, bahkan anaknya Monica Rambeau (Akira Akbar) begitu merindukannya. ‘Jaketnya kusimpan’, Hiks… Vers dan Lawson dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kupas kulit bawang itu sedikit demi sedikit terlihat, Talos dkk yang kini juga di sana, akhirnya mengajak bersekutu. Ketimbang saling adujotos ga berkesudahan, maka bareng-bareng saja membuka kotak hitam. Dan (mungkin) melalui Komputer Pentium Satu dengan disket berdenyit, kitapun tahu segala yang tampak di depan kita tak senyata itu. Sahabat kita tak sebaik yang kita sangka, dan bagaimana Vers mendapat kekuatan itu, dan seterusnya. Kotak Hitam membuka tabir surya eh maksudnya membuka tabir pahit. Apalah itu, link koordinat menuju tesserat terbuka dan mereka semua meledakkan diri dalam pertarungan ala Star Trek, bonus kucing heboh bernama Goose! Berhasilkah mereka mencegah perang antar galaxy?

Jangan bandingkan dengan Avenger yang sudah tiga seri yang tertata rapi dan bergelimang pujian. All hail Russo Brothers! Captain Marvel jelas belum sesempurna itu. Atau seri lain yang gagah dan macho. Sekalipun Captain feminism dengan kepalan tangan berapi yang langsung mengingatkanku pada manusia api nya F4, tapi tetap secara keseluruahn sungguh lemah dalam cerita. Banyak lubang, sebagian menjemukan. Skoring yang krusial – maaf saja, buruk sekali (Pinar Toprak gagal di debut wanita pertama dalam Marvel). Pondasi bagus MCU itu agak retak di sang Kapten. Harapanku memang tak muluk, yah sesuai ekspektasi yang rendah sih. Memang mau berharap apalagi ketika jagoan cewek disodorkan dalam film laki-laki? Terang saja, semua mata tertuju pada Endgame, jadinya ini seolah hanya sebuah jembatan. Marvel harus diakui pinter bikin timeline. Kurasa porsi action-nya sudah pas. Mungkin kurang humor (bandingkan dengan Thor yang melimpah ruah), terasa lambat untuk sebuah film penyambung gini. Sempat terkantuk di bagian Jude Law mendarat di bumi, tapi kembali terperangah lagi saat misi para manusia hijau itu adalah bukan kekuasaan. Walau perubahan itu terlalu mendadak, begitu juga perubahan gesture Talos yang memelow. Hiks…

Kemunculan Nick Fury yang banyak sangat jelas memberi keceriaan, dialah penyelamat sesungguhnya sang kapten. Alasan kenapa ia bermata satu juga akhirnya terungkap, agak mengejutkan. Ending Infinity yang memaksa ia menekan pager darurat itu dilanjutkan di scene after credit pertama. “Di mana Fury?” menyenangkan sekali melihat bersatunya dua kapten bersama Nathasa dan Hulk, walau hanya secuil. Seharusnya karena ini film MCU di tengah perang, munculkan sekilas saja Bleky kek, Iron Man kek, Doctor Strange kek atau siapapun anggota Avengers. Ternyata enggak ada. Bayangkan, di First Class, Wolvie cuma muncul sebentar untuk bilang ‘Enyahlah!’ aja membuat saya bersorak kegirangan. Sayang sekali, di Captain ga ada. Paling yang agak seru pas tahu ada dog tag ‘Vers’ itu berasal dari ‘Danvers’ atau kata Mar-Vell yang menjadi cikal kata Marvel. Kejutan main villain yang ternyata adalah itu, ga terlalu mengejutkan lagi karena hal macam gini sudah banyak dibuat dan ketebak. Aktor sebesar itu ga mungkin hanya sebagai sidekick satu film.

Lagu tahun 90an yang menghantar kilas masa lalu senang sekali saat didendangkan, terutama ‘Just A Girl’ dari No Doubt. Mengingatkanku pada kaset pitaku yang dulu sering kuputar yang sekarang entah di mana. Trivia lucu saat Fury membuat proyek Avengers yang didapat Fury dari tulisan di foto pesawat Carol naiki. Logo S.H.E.I.L.D yang dikira lambing klub basket. Agak kzl juga saat Minn-Erva bilang bumi itu shithole. Sampai hal-hal kecil semacam Goose yang imut yang dibintangi empat kucing profesional bernama Reggie, Rizzo, Gonzo, dan Archie. Mungkin ini film lemah dalam rangkaian Marvel, bukan salah Brie Larson yang alergi kucing sehingga tiap scene bersama Goose harus menggunakan boneka atau efek komputer. Film ini selamat hanya karena masuk rangkaian Marvel (dan Fury) sehingga trivia kecil saja menjadi daya pikat. Captain salah dipenanganan orang-orang di belakang kamera terutama sekali di naskah dan skoring.

Dari semua film superhero cewek yang pernah ada, dari Elektra, Catwoman, Supergirl, sampai Wonder Woman. Untuk kali ini saja, Marvel kalah sama DCU. Kalah jauh, penanganan Wonder Woman jelas sudah benar. Bukan hanya cast tapi secara keseluruhan. Siapa yang bisa menolak kecantikan natural Gal Gadot.

Para perempuan dikasih playstation, dilempar ke bak sampah. Perempuan diberi sebuah komik, yah beginilah. Boys always be boys. Ini mainan lelaki, sekalipun aktor utama perempuan, masalah adu fisik gini serahkan pada pejantan. Well, cukup kali ini saja cewek diserahi proyek film superhero besar. Terlalu beresiko.

Dan mari kita sambut Russo Brothers, benarkah permainan ini benar-benar berakhir? Tenang, juru selamat telah tiba.

Captain Marvel | Year 2019 | Directed by Anna Boden, Ryan Fleck | Screenplay Anna Boden, Ryan Fleck, Geneva Robertson-Dworet | Cast Brie Larson, Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, Jude Law, Annette Bening, Lashana Lynch, Clark Gregg | Skor: 3.5/5

Dedicated to ‘Stephen “Cajun” Del Bagno, Thunderbird 4’ adalah pilot dan konsultan film yang meninggal saat proses produksi.

Karawang, 220319 – 240319 – Goo Goo Dolls – Here Is Gone