Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra – Paulo Coelho

Aku menangis karena dia sahabatku yang kusayangi, tapi aku tidak tahu menahu tentang kesulitan-kesulitannya. Aku baru tahu setelah dia datang mengetuk pintu dan meminta pinjaman uang.”

Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk. Tak ada konflik, tak ada tekanan kepada pembaca untuk menebak, atau sekedar menduga, tak ada hal apapun yang perlu dikhawatirkan. Teoritis murni dari seorang guru kepada warga yang terdampak (akan) perang. Mungkin buku semacam ini akan mempesona kalangan awam yang butuh pencerahan hidup, mungkin petuah-petuah ndelujur panjang lebar akan makna hidup gini akan memukau seseorang yang frustasi. Mungkin… yang jelas buku tanpa konflik gini ga akan bisa membuat pecinta fiksi melonjak girang. Datar tanpa riak sama sekali, seolah sebuah danau di tengah hutan yang permukaannya tenang, lurus, tanpa ada gelombang nan riak. Jangan pernah berharap ada orang yang melempar batu dalam danau itu, karena hutan itu hutan perawan!

Kalau ngomongin Yerusalem maka otomatis pikiran saya akan tertuju pada sosok Penulis Karen Armstrong. Saya dalam perjalanan membaca Sejarah Tuhan, buku-buku beliau sangat konsen ke sana. Kota suci dengan tiga agama. Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra bersetting di Yerusalem pada 14 Juli 1099 Masehi atau tahun 4859 bagi kaum Yahudi, atau tahun 492 Hijriah bagi muslim. Waktu yang krusial karena esok di kota ini ada Perang, efek seruan Paus Urban II pada tahun 1088 di Clemont, Prancis di depan ribuan massa yang menyatakan protes terhadap Turki yang menduduki Tanah Suci saat itu, dianggap menganiaya peziarah Kristen, memicu perang sehingga seruan berkobar Perang Suci-Perang Salib untuk kembali merebutnya. Dengan bumbu kekayaan alam Tanah yang Dijanjikan dan memastikan para peserta perang mendapat pengurangan dosa, tragedipun dicipta. Di akhir pidato ia berujar ‘Deus le volt’ yang berarti ‘Tuhan Berkendak’ yang menjadikannya teriakan perang selama 200 tahun, ada delapan Perang Salib besar dan banyak perang kecil. Pengaruh Perang Salib jelas begitu luar biasa terhadap peradaban, memuluskan jalan bagi Renaissance yang mengarah pada kemajuan Eropa modern.

Cerita paragraf tadi ga ada di buku, cuma dari sejarah yang kubaca. Nah, buku ini adalah efek dari serbuan tersebut. Sang guru dikelilingi warga berbagai ras dan golongan berdiskusi di tanah terbuka. Atau lebih tepatnya sang guru berpetuah, seolah semua tanya tentang kekhawatiran hidup yang dilontarkan bisa ‘ditangkal’ dengan damai. Sebagai catatan saja, saya akan ketik ulang semua pertanyaan dan jua narasinya, silakan ditelaah.

#1. Aku ingin memulai dengan menulis demikian: “Kini, menjelang akhir hayatku, kuwariskan pada mereka yang datang kemudian, semua yang kupelajari saat masih berjalan di muka Bumi. Semoga mereka bisa mendapatkan manfaat darinya.”

#2. Lalu tetanggaku Yakob berkata: “Ajari kami tentang kekalahan.”

#3. “Jabarkanlah tentang mereka yang kalah,” pinta seorang saudagar ketika melihat sang Guru sudah selesai bicara.

#4. “Ceritakan tentang kesendirian.” Kata perempuan muda yang akan menikah dengan putra salah satu orang terkaya di kota itu, namun kini harus pergi mengungsi.

#5. Lalu seorang anak lelaki yang terpilih sebagai salah satu yang akan pergi, mengoyak pakaiannya dan berkata: “Kotaku menganggap aku tak cukup layak untuk maju perang. Aku tak berguna.”

#6. Dan seorang penjahit bernama Almira berkata: “Sesungguhnya aku bisa saja pergi sebelum tentara-tentara itu datang, dan seandainya aku pergi, saat ini tentu aku sudah bekerja di Mesir. Tetapi sejak dulu aku takut akan perubahan.”

#7. Lalu seseorang berkata: “Ketika segalanya tampak kelam, kita perlu menambah semangat. Maka bicaralah pada kami tentang kemuliaan.

#8. Lalu seorang pemuda yang mesti berangkat malam itu juga berkata, “Aku tak pernah yakin arah mesti kuambil.”

#9. Lalu seorang perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi namun belum bersuami, berkata “Cinta selalu melewatiku begitu saja.”

#10. Namun ada seorang pemuda yang tak sependapat, “Kata-katamu indah namun sesungguhnya kami tak pernah punya banyak pilihan. Nasib kami sudah direncanakan oleh kehiduoan dan masyarakat kami.” Seorang tua menimpali, “Dan aku tak bisa kembali untuk memulihkan momen-momen yang hilang itu.”

#11. Lalu istri seorang saudagar berkata, “Bicaralah pada kami tentang seks.”

#12. Lalu salah seorang pejuang yang besok akan menjemput ajal – namun toh memilih untuk datang ke lapangan dan menyimak perkataan sang guru – berkomentar: “Kami terpecah belah padahal kami persatuan, kota-kota di jalur para penyerbu menderita akibat perang yang tidak mereka inginkan. Apa yang harus dikatakan orang-orang yang berhasil selamat pada anak-anak mereka?”

#13. Seorang perempuan muda yang jarang keluar rumah karena merasa tak seorang pun tertarik padanya berkata, “Ajari kami tentang keluwesan.” Setiap orang di pekarangan itu menggerutu. “Apa gunanya pertanyaan itu, sebentar lagi kita akan diserbu dan darah akan mengalir di setiap jalanan di kota ini.” Namun sang guru tersenyum, dan senyumannya bukan senyum mengejek, namun senyum hormat atas keberanian perempuan muda itu.

#14. Dan seorang pemuda yang selalu bangun pagi untuk menggiring kawanan dombanya ke padang rumput di seputar kota berkata: “Kau telah menempuh ilmu, sehingga lidahmu fasih berkata-kata indah, sedangkan kami harus bekerja untuk menghidupi keluarga kami.

#15. Lalu seorang yang tadi bertanya pekerjaan menanyakan hal lainnya: “Mengapa ada orang-orang yang lebih beruntung ketimbang yang lainnya.”

#16. Dan Almira, yang masih meyakini bahwa pasukan malaikat dan para penghulu malaikat akan turun dari surga untuk melindungi kota suci itu, berkata: “Bicaralah pada kami tentang mukjizat.”

#17. Lalu seorang lelaki yang tengah mendengarkan lagu-lagu perang dari balik tembok-tembok kota itu, dan mencemaskan keluarganya berkata: “Bicaralah pada kami tentang kecemasan.”

#18. Lalu seorang anak muda berkata, “Beritahu kami tentang masa depan.

#19. Lalu seorang lelaki yang bisa menulis, dengan tergesa-gesa mencoba mencatat setiap patah kata yang terucap dari mulut sang Guru, lantas berhenti sejenak untuk beristirahat dan merasa seperti orang kerasukan. Lapangan itu, wajah-wajah lelah itu, para pemuka agama yang mendengarkan sambil bersiul, semuanya seolah-olah bagian dari mimpi. Maka untuk membuktikan bahwa pengalaman ini sungguh nyata, diapun berkata: “Bicaralah pada kami tentang kesetiaan.”

#20. Lalu seorang pria yang dahinya kerut-merut oleh usia, dna tubuhnya penuh bekas luka dari sekian banyak pertempuran yang dilaluinya berkata: “Bicaralah pada kami tentang senjata-senjata yang mesti digunakan kalau sudah tak ada lagi cara lain.”

#21. Di tengah para pendengar itu ada seorang pemuda ketika melihat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala yang menandakan pertemuan dengan Sang Guru akan berakhir, berkata “Bagaimana dengan musuh?”

#22. Malam telah turun sang Guru menoleh pada para pemuka agama yang semenjak tadi mendengarkan semua perkataannya, dan dia bertanya apakah yang hendak mereka tambahkan. Ketiganya mengangguk.

#23. Karenanya pergilah, dan ceritakan pada semua orang apa yang kalian dengar sore ini, supaya kita bisa menolong saudara kita sebelum dia membutuhkannya.

Sengaja saya malah tulis semua tanya, karena saya yakin kalian bisa menjawabnya. SEMUANYA. Tak perlu jadi filsuf, tak perlu para cendikiawan hebat untuk bisa mengurai semua pertanyaan dasar tersebut. Ga akan jauh dari kata positif thinking, positif feeling. Pengetahuan bukanlah kebenaran absolut tentang hidup dan mati, tetapi sesuatu yang membantu kita menjalani hidup. Tak ada yang tahu hari esok sebab setiap hari memiliki saat-saat baik dan buruknya sendiri.

Kata-kata sang Guru sejatinya lebih cocok dikutip, dibagikan dan dibuat status buat dipajang di sosmed. Lebih jleb ini ketimbang semua buku-buku Tere Liye yang basic sekali, lebih manteb ketimbang nasehat meluap-luap Mario Tegar atau lebih pas ini ketimbang segala kalimat motivator video di Youtube. Masalah Manuskrip adalah, konfliknya mana? Percuma esok perang tapi dua ratus halaman hanya diskusi aja, laiknya janji film Action yang rilis di Summer tapi isinya hanya ngegoliam panjang lebar tak tentu arah yang akan membuat kaum Hypies mengerutkan kening. Lihatlah buku Dunia Sophie, itu buku sejatinya hanya rangkupan filsafat dari zaman sebelum Masehi sampai aktual abad ke 20 tapi kenapa masih relevan dan sangat menarik? Karena Jostein Gaarder mencipta narasi yang bagus, menghadirkan konfliks, memberi ketakutan kepada sang tokoh betapa fiksi senyata realita. Manuskrip enggak, ceritanya satu arah menggurui pembaca, yang akan manut manggut manggut, layaknya pendengar pengajian malam Jumat.

Segala sesuatu memiliki alasan untuk hidup. Ada orang berkata, “Aku tak pernah punya kesempatan. Aku tak cukup berani. Aku takut melangkah ke depan, blah blah blah…” alamak, besok perang woooy angkat kepalamu tegak. Ga ada yang bisa ubah nasibmu selain kamu sendiri! Jangan mencoba untuk beguna, jadilah diri sendiri. Itu sudah cukup, dan itu saja sudah membuat perubahan besar. Tak seorangpun bisa kembali ke masa lalu, tapi setiap orang bisa maju ke masa depan. Anugerah terbesar yang dilimpahkan Tuhan adalah kemampuan untuk mengambil keputusan. Ayo ambil keputusan, jangan hanya celoteh, praktekan impian kalian. Sekarang!

Satu lagi yang kini agak langka dan mahal adalah saling menghormati, menghargai semua pendapat, saling menjaga perasaan. Kau juga akan dihormati dan dicintai hanya kalau menghormati dan mencintai dirimu sendiri, dan orang lain. Hidup sederhana, keluwesan cita rasa, setiap kebudayaan memiliki standar keindahan sendiri. “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi juga dengan firman Tuhan.”

Dan seperti kata-kata yang dikutip di pembatas buku ini, “Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.” Bersyukurlah wahai tukang tidur yang bisa pules sepulang kerja seolah hari esok masih sangat panjang dan menjanjikan. Allhu Akbar!

Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra | By Paulo Coelho | Copyright 2012 | Sant Jordi Asociados Agencia Literaria S.L.U., Barcelona, Spain | Diterjemahkan dari Manuscrito Encontrado em Accra | GM 40201140041 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Tanti Lesmana | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | cetakan kedua, Juli 2014 | ISBN 978-602-03-0279-9 | 208 hlm.; 20 cm | Skor: 2.5/5

Untuk N.R.S.M., sebagai ucapan syukur atas mukjizat itu, dan untuk Monica Antunes, yang tak pernah menyia-nyiakan berkat-berkatnya.

Karawang, 140319 – Trio Larose – Swingo

Thx to Titus Pradita untuk pinjaman bukunya

Iklan