Pad Man: Sweet of Sweetness

Lakshmi membuat mesin pembalut. Tapi Pari membuat Lakshmi. Namamu bukan hanya nama pembalut Lakshmi. Namamu di hati Lakshmi… kau pertama, kau kedua, kau ketiga, kau keempat, kau kelima (balik badan dan berjalan pelan, tertunduk), kau keenam, kau ketujuh, kau kedelapan…” (dan menangislah!)

=== tulisan ini mungkin mengandung spoiler ===

Gilax, endingnya jleb sekali. Saya dah mau kesel sama teman-teman yang merekomendasikan (banyak lagi) ketika film tinggal setengah jam. Namun lima belas menit akhir saat di New York segalanya jungkir balik, film inspiratif ini bisa saja menjadi hambar jika tak digubah menjadi kisah kasih tak sampai. Kiranya akan menjadi film umum, bagaimana jalan orang sukses menapaki karir sebagai pengusaha. Memang berdarah-darah (dalam artian darah sesungguhnya Bro), penuh perjuangan, dan saat sang istri mendepak kala perjuangan tertatih, terseret luka nestapa di titik terendah, ada seorang gadis yang menemani, ada uluran tangan untuk kembali semangat, bersama membangun kejayaan dari bawah, dan akhirnya mencinta. Kita disuguhi sebuah realita yang gilax. Padman is a superman. Benar-benar hebat. Polos, cerdas, klasik, setia tanpa syarat, beri kami pelukan hangat itu kawan! Dan ini adalah kisah nyata, seorang innovator dari India yang menyelesaikan permasalahan alam, bagaimana wanita tiap bulan datang bulan, hanya 12% yang mengenakan pembalut. Bukan karena tak mau, tapi gara-gara urusan ekonomi. Sungguh pelik. Padman sang pahlawan Nasional. Padma Shri Pan Man.

Film Bollywood, alurnya sungguh Bollywood kebanyakan. Nyanyi, drama, keceriaan yang hakiki. Sempat skip ketika nada lagu mulai terdengar berkumandang. Anehnya sang tokoh utama malah tak mudah senyum seolah menanggung beban berat. Tanpa tahu ini film tentang apa, hanya bermodal rekomendasi dari sang maestro panutanqu ‘In Lee We Trust’ saya bahkan butuh tiga kali percobaan menyelesaikan tonton. Percobaan pertama pasca membantai Roma, film belum menyentuh sepuluh menit sudah terlelap. Percobaan kedua, karena begadang baca letih dan tak bisa tidur maka kuputuskan memindahkan file ke HP untuk teman jelang tidur, dapat satu jam, HP kelindes selimut, nyenyak. Dan akhirnya malam minggu ini, Karawang gerimis, di tengah malam saya tuntaskan. Gilax, ternyata saya mellow juga. Nangis menyaksikan tatapan hampa Pari di bandara, mengusap air mata saat penjelasan di taksi. Apapun yang terjadi, hidup terus berjalan. Ah cinta. Ah logika. Bgst!

Ceritanya memang tentang seorang pria yang lugu tentang masalah wanita, Lakshmikant Chauhan (diperankan dengan gagah oleh Akshay Kumar), pasca menikah tahun 1998 barulah ia tahu bahwa perempuan mengalami menstruasi tak boleh masuk rumah, tak bisa bergaul, tabu untuk dibicarakan. Pasangan ini bahagia tapi Laxmi merasa ada yang salah. Selama lima hari terkucil, ternyata istrinya Gayati (Radhika Apte) menggunakan kain biasa untuk meredam darah yang keluar. Ada pembalut yang laik tapi harganya 55 rupee, sangat mahal. Maka ketika Laxmi membelikannya di apotek untuk Gayatri, ia menolak. Bukan karena setia pilih pakai kain, tapi karena duitnya. Di rumah ini ada ibu, saudara perempuan dan jika hanya sang istri yang mengenakan pembalut di mana harga diri. Aku akan membelikan mereka semua juga, well mau makan apa? Padahal saat ia menanyakannya ke dokter, sungguh akibatnya bisa buruk untuk kesehatan.

Dari sinilah lampu ide Laxmi menyala, bagaimana kalau kita buat pembalut sendiri saja? Percobaan demi percobaan dimulai. Dari mencari kain, kapas, mengikatnya sendiri, membungkusnya dengan daun dan saat barang itu diberikan ke istri malah diamuk. Dah kerja sana, ini urusan perempuan! Tabu! Pamali! Ga usah berurusan dengan rutinitas alam. Namun Laxmi ga mau menyerah, sebuah kecelakaan ayunan memberi masukan ide, bahwa untuk kepuasan pelanggan harus dibuat uji coba serta dinanti feed back. Laxmi meminta darah segar ke temannya yang tukang daging, dan di pinggir sungai itulah ia kembali bereksperimen. Kali ini pembalutnya ia pakai, ia teteskan darahnya berkala. Awalnya lancar, dan sempat mau bikin saya manyun, lhaa gampang men bikin penemuan. Eh di tengah kota, pembalutnya bocor, celananya berhamburan kena darah, sang lelaki pemakai pembalutpun langsung bergegas terjun ke sungai. Malu. Ia disidang warga, ada yang teriak ia pakai ilmu hitam, melakukan dosa, penghinaan terhadap perempuan dst. Keluarganya yang malu memutuskan akan pindah, tapi ketimbang keluarganya yang cabut Laxmi sendirilah yang keluar dari desanya dengan perasaaan berkecamuk. Mendapat ejekan, cacian, dikucilkan.

Menyerah? Tidak. Percobaan dilanjutkan, ke kampus IIT Madras, Muruganantham untuk mencoba mencari feed back para mahasiswi, menjadi pembantu professor demi mendapat ilmu kanuragan, tapi ternyata anaknya yang milenial mengenal Google. Meminta dikirim sample bahan berserat selulosa, untuk diuji. Sang professor sendiri lalu memperlihatkan proses pembuatan pembalut di perusahaan besar yang mensyaratkan empat langkah. Agar barangnya hygiene dan layak guna. Lakshmi Enterprise menelpon dari warnet, klasik. Haha…

Disinilah perjudian sesungguhnya, bak Thomas Alva Edison yang menemukan pijar bohlam. Laxmi mencoba, menempa, membuat mesin dari keterbatasan dana, ilmu, tenaga, segalanya. Peluh itu menghasilkan produk, tapi siapa yang mau coba? Dan muncullah kelinci percobaan Pari Walia (diperankan dengan keren oleh Sonam Kapoor) yang cantik, feed backnya positif. Yes! Sejak kemunculan pertama, saya dah merasa ada yang sitimewa sama ini cewek. Bening jos. Kemudian dicobalah diikutkan dalam IIT Delhi innovation fair, semacam kompetisi Nasional para pelopor India. Presentasinya lucux, benar-benar polos dan apa adanya. Dengan bintang berkelas Amitabh Bachchan memerankan dirinya sendiri. Memberi sambutan jelang pengumuman pemenang, memberi warna tersendiri film ini. “Kau penggemarnya? Emang siapa yang bukan penggemarnya?”

Walau tak memenangkan hadiah utama 200,000 rupee tapi penemuannya potensial untuk dikembangkan. Mendapat gelar ‘Life-Changing Innovation of the Year’. Hak cipta ada, dan siap produksi massal. Namun Laxmi menolak, ia ingin produknya tetap untuk kalangan bawah, dua rupee, swasembada, dari rakyat untuk rakyat, salut, mulia, hebat. Jadi akhirnya Pari terus turut membantu, dan menjadi saksi proses kembang penemuan ini, ia banyak terlibat. Dipasarkan di warga sekitar, dikembangkan dengan penuh cinta, perlahan tapi pasti pembalut dari Lakshmi enterprise diterima, ya karena murah dan laik pakai. Saat sampai sini saya memperoleh alarm penting, dimana Gayatri? Di mana sang pasangan hidup saat perjuangan itu tertatih? Saat ditanya produk harus punya merk, maka ditunjuklah Pari. Duuh… so sweet. Jadilah produk itu bernama wanita yang pertama mengenakannya. Dari sini saya memprediksi, akan ada benih cinta diantara mereka. Semakin hari semakin besar. Puncaknya Laxmi diundang PBB ke New York untuk memberikan pidato inspirasi. Dan boom! Menangislah kalian.

Film ini menang besar di eksekusi ending. Pidatonya di New York menggunakan bahasa Linglish (Lakshmi English) dengan terbata dan gugup, diambil dalam sekali shoot. Natural, hebat, komikal. Inspiratif, menggugah, dahsyat. Film ini diadaptasi dari buku karya Twinkle Khanna berjudul The Legend of Lakshmi Prasad yang terbit tahun 2016. Fakta mengejutkan di tahun 2000an wanita India 98% belum memakai pembalut sungguh ironis. Abad 21 di salah satu Negara berpenduduk terpadat di dunia. Sebuah siklus bulanan menjadi pembicaraan tabu, seolah mens adalah dosa. Jelas dengan penemuan mesinnya yang sederhana, hygiene, efektif dan efisiennya, Lakshmi layak dapat penghargaan setingginya. Film dengan edukasi dan motivasi tanpa perlu kata-kata mutiara yang tayang di prime time. Keren.

Saya tak akan membahas detail orang-orang yang ada di belakang layar atau para pemerannya yang awam bagiku. Namun jelas aktris Sonam Kapoor berhasil mencuri hati, laiknya saat pertama lihat Anushka Sharma dalam PK. Laikkah filmnya diburu? Mari kita coba.

Pad man is superman. Such a rare film ever. Pari… (kiss). “Sekarang aku bersamamu.”

PadMan | Year 2018 | Directed by R. Balki | Screenplay R. Balki, Swanand Kirkire | Cast Akshay Kumar, Radhika Apte, Sonam Kapoor, Jyoti Subhash, Urmila Mahanta, Suneel Sinha, Amitabh Bachchan| Skor: 4.5/5

You thinking I am mad. But mad only becoming famous.”

Karawang, 100319 – Dizzy Gillespie & His Orchestra – Night In Tunisia

*) ditulis dini hari Minggu, 10 Maret 2019 setelah menyaksikan filmnya, bersama segelas kopi dan deretan lagu The Legacy of Jazz, mumpung masih segar di kepala dan menjadikan ulasan film setelah vakum lama sekali. Terakhir nulis Pooh? Astaga jeda yang tak wajar.

8 komentar di “Pad Man: Sweet of Sweetness

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s