Masa Depan Sebuah Ilusi – Sigmund Freud

Aktivitas-aktivitas kita mencakup sejumlah besar hipotesis yang ketidakberdayaannya dan bahkan absurditasnya sepenuhnya kita sadari. Hipotesis-hipotesis itu kita sebut ‘fiksi’, tapi karena berbagai alasan praktis maka kita harus bertingkah ‘seolah-olah’ kita meyakini fiksi tersebut.”

Buku tipis yang awalnya ingin kucepat tuntaskan sekali duduk. Nyatanya ga segampang itu Ferguso. Menjadi buku pertama dari empat buku yang kutuntaskan saat kubeli akhir Februari dari Dema Buku lewat pre-order Circa, rencanaya segera ulas agar cepat kelar. Ternyata butuh waktu dua minggu untuk benar-benar menyelesaikannya. Buku kecil ide besar, bisa jadi ya. Setelah kutarik ke belakang ingatan ini, ini adalah buku pertama Sigmund Feud yang selesai kubaca. Edisi The Future of an Illusion, terjemahan pertama ke Indonesia, keren Circa. Lanjutkan! Padahal dah berbulan-bulan pengen beli Tafsir Mimpi, ga kewujud jua. Jika The God Delusion berteriak, maka Masa Depan Sebuah Ilusi hanya berbisik, tentang agama, tentang peradaban, tentang manusia.

Saya telah tersesat jauh dari garis yang ditetapkan bagi penyelidikan. Bukunya muter-muter, sebuah esai yang mengemukakan bahwa agamamu ya agamamu, kalau kamu percaya agamamu maka taati, jangan kena pengaruh orang lain, termasuk Freud ini. Orang beriman tidak akan membiarkan keyakinannya dirobek darinya, baik oleh argumen atau larangan. Sebagaimana seseorang tidak bisa dipaksa untuk meyakini, maka tak ada seorangpun juga yang bisa dipaksa untuk mengingkari. Freud sendiri lebih defensif dengan bilang ‘Jika ada satu orang yang mungkin yang terluka oleh publikasi ini maka orang itu adalah diri saya sendiri.’ Namun defensif yang nakal, Anda harus membela ilusi relijius dengan seluruh kekuatan Anda. Sepanjang mereka tidak mengetahui bahwa orang-orang tidak lagi percaya pada Tuhan, maka segalanya baik-baik saja. Tetapi mereka pasti akan mengetahuinya bahkan jika potongan tulisan ini tidak dipublikasikan. Freud memang ateis tapi tetapi tak tendesius untuk mengajak pembaca ayo dong ikut aku! atau dalam istilah yang dia gunakan dalam ‘Pengalaman Religius’: si durhaka yahudi. Beliau hanya memaparkan pendapat-pendapatnya, logika serta hasil penelitiannya yang terkenal dalam Penemuan psikologis bahwa manusia diperlengkapi dengan watak-watak instingtual yang paling bervariasi, yang tujuan utamanya ditentukan oleh pengalaman-pengalaman pada masa kanak-kanak awal. Psikoanalisis tercipta dan psikoanalisis sudah berjumpa dengan banyak kecurigaan dan kehendak buruk. Psikoanalisis membawa pada penyangkalan Tuhan dan ideal moral, sebagaimana kita selalu mencurigainya. Jadi ketika Anda memutuskan menikmati buku-buku beliau, ayoo open minded. Setiap anak menampakkan proses tranformasi pada kita, hanya melalui sarana itulah ia menjadi makhluk bermoral dan makhuk sosial.

Agama lahir dari ilusi ‘kanak-kanak’ manusia memiliki patron, sang kakap. Lantas melalui agama pula peradaban melahirkan ilusi tentang akhirat, dunia kompensasi bagi penderitaan-penderitaan yang dibebankan oleh peradaban bagi manusia dalam kehidupan ini. Agama, harus kita akui melekat pada peradaban, dipilihkan orang tua untuk dianut penerusnya. Orang Arab akan terlahir sebagai Muslim, orang Barat dengan Kritianinya hingga Jepang dengan anutan Shinto-nya. Ketika menginjak remaja, saat mulai tumbuh pilihan hidup disitulah kritikal berpikir timbul. Jadi pada saat intelek sang anak muncul, doktrin-doktrin agama telah berada pada kondisi tidak bisa disangkal. Orang-orang dengan segera akan bertindak sama terhadap dongeng agama, terlepas dari advokasi ‘seolah-olah’.

Freud sadar bahwa tugasnya bukan menetapkan aturan yang memaksa melainkan hanya (mencoba) mencari kebenaran melalui metode ilmiah. Ia mencoba menelaah kemajuan teknologi dengan aturan baku agama. Sains terus berkembang pesat, agama jalan ditempat. Seribu tahun lalu umat Kritiani berbondong ke Gereja tiap Minggu, Muslim memuliakan hari Jumat dan kini sama, sampai nanti ke masa depan akan sama. Seribu tahun lalu, orang menyalakan api dengan batu, sekarang api bisa dicipta dalam sekali klik, suatu saat bisa jadi menyalakan api hanya dengan telepati, siapa tahu? Sains memang mengajak manusia menuju ke hal-hal yang mustahil. Peradaban mengajukan satu resiko yang lebih besar jika kita mempertahankan sikap kita kini terhadap agama daripada jika kita meninggalkannya.

Agama dengan jelas sudah mempersembahan layanan yang hebat bagi peradaban manusia. Peradapan harus dipertahankan melawan individu, dan regulasi-regulasi, institusi-institusi, beserta perintah-perintahanya diarahkan pada tugas tersebut. Sepanjang mereka bisa tetap aman dari hukuman karena melakukan hal-hal tersebut, dan tak diragukan lagi kondisinya memang selalu demikian sepanjang zaman peradaban yang banyak. Sebuah peradaban yang tidak bisa memuaskan partisipan-partisipannya dalam jumlah yang sangat besar dan membawa mereka pada revolusi tidak memiliki kesempatan keberadaan yang abadi.

Dalam pemikiran Freud, Agama bukan merupakan pemilik kebenaran, maka kita harus menyembunyikan fakta itu dan berjalan dengan cara yang ditentukan oleh filsafat ‘seolah-olah’. Setelah mengakui bahwa doktrin-doktrin agama adalah ilusi, kita dengan segera dihadapkan pada pertanyaan lebih lanjut: tidakkah mungkin aset-aset kultural lain yang kita pandang tinggi dan kita jadikan sebagai pengatur kehidupan kita itu juga memiliki kodrat yang sama?

Jika kenyataan ini adalah ilusi maka kemudian kita berada di posisi yang sama dengan Anda. Mengingatkanku pada novel Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Bagaimana ilusi mencipta pemikiran dan pemikiran membuat segala yang tak mungkin terasa nyata. Kebutuhan-kebutuhan manusia juga merupakan sepotong realita dan pada kenyataannya merupakan satu potongan yang penting dan satu potongan yang sangat memprihatinkan.

Menurut Freud kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran yakni sadar, prasadar dan tak sadar. Kematian itu sendiri bukan kepunahan, ia bukanlah satu gerak kembali ke kondisi tanpa nyawa yang anorganik, melainkan satu permulaan sejenis eksistensi yang baru yang berada dalam jalur perkembangan menuju sesuatu yang lebih tinggi. Penekanan telah berpindah dari yang bersifat materi ke yang bersifat mental.

Konsep teorinya adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku dan perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibu. Dari ibu, anak menyusui, lalu waktu menempa untuk mengikuti tindakan (norma) bapak. Bapak primitif adalah imaji Tuhan yang asli, model yang kemudian dibentuk sebagai sosok Tuhan oleh generasi-generasi berikutnya.

Peradaban juga sering sekali dibahas. Regulasi-regulasi peradaban hanya yakin, bahwa manusia tidak suka bekerja secara spontan dan bahwa argumen-argumen tidak memiliki faedah melawan hasrat mereka. Sebuah tindakan rutin memang terasa nyaman, tapi sebenarnya manusia punya kekuatan adaptif yang hebat. Lebih lagi, benar-benar tepat untuk mengatakan bahwa peradaban memberikan gagasan-gagasan ini terhadap individu, karena individu menemukan gagasan-gagasan ini sudah ada. Kehidupan di dunia ini melayani tujuan yang lebih tinggi, tak ada keraguan bahwa tidak mudah untuk menebak apakah tujuan itu, tetapi itu pasti menunjukkan sesuatu penyempurnaan kodrat manusia.

Segala yang terjadi di dunia ini merupakan satu ekspresi niat-niat intelegensi yang unggul dibanding kita. Saya sempat ‘terhopnotis’ akan ujaran bahwa pendidikan seolah adalah jembatan yang dipercaya, padahal banyak hal sekedar teori. Kita merasa puas dengan membiarkan apa yang dipelajari di sekolah untuk dipercayai; tetapi kita tahu jalan untuk mendapatkan keyakinan pribadi tetap terbuka. Kita tahu bentuk pulau Sulawesi sejenis jahe dari peta, kita tak tahu sebenarnya tapi percaya saja. Saya tak pernah ke pulau tersebut tapi yakin sekali ada. Semacam itulah keyakinan. Pertama, ajaran-ajaran ini harus diyakini karena mereka sudah diyakini para leluhur primitif kita. Kedua, kita memiliki bukti-bukti yang sudah diwariskan kepada kita dari masa-masa primitif yang sama tersebut. Ketiga, merupakan suatu yang sama sekali terlarang untuk mengajukan pertanyaan terhadap autentifikasi mereka. Credo quia absurdum – aku percaya karena hal itu absurd. (Bapak Gereja Awal terhadap Tertullin 155-240 M).

Karakteristik ilusi adalah bahwa dia dihasilkan dari harapan-harapan manusia. Dalam hal ini ilusi mendekat pada delusi psikiatris. Maka ilusi-ilusi di sini tidak seperti ilusi relijius, sanggup menerima koneksi. Ah kita kembali pada hakikat harapan, kita diberi harap, kita mendamba sesuatu yang dijanjikan. Coba kita renungkan, untuk apa kita Sholat wajib sehari? Ada harapan tentunya di sana. Setanpa pamrihnya kita memberi sumbangan pada kaum papa, pastinya ada sejenis ‘permintaan’ di kehidupan setelah kematian bahwa kita akan diselamatkan dengan apa yang disebut pahala. Orang pada umumnya, lebih bahagia pada masa ketika doktrin-doktrin relijius memiliki kekuasaan yang tanpa batas, tentunya tidak juga bahwa mereka lebih bermoral. Apa yang sudah saya katakan tentang ketidakmungkinan membuktikan dokrin-dokrin relijius mengandung sesuatu apa pun yang baru. Mungkin harapan-harapan yang sudah saya akui pun bersifat ilusi juga.

Harapan untuk memiliki emas banyak, sebanyak mungkin emas, sungguh merupakan sesuatu yang telah banyak diredam oleh pengetahuan kita pada masa kini tentang faktor-faktor penentu kekayaan, tetapi kimia tidak lagi menganggap transmutasi logam-logam menjadi emas sebagai sesuatu yang tak mungkin. Ditambahkan juga luka-luka yang ditimbulkan baginya oleh alam yang belum dijinakkan – manusia menyebutnya Takdir.

Mayoritas umat manusia merasa bahagia, dalam hal menghibur mereka, dalam hal membuat mereka berdamai dengan kehidupan dan dalam hal menjadikan mereka sarana-sarana kebudayaan, maka tak ada seorang pun yang akan bermimpi mencoba untuk mengubah kondisi sekarang ini. Semua baik-baik saja para pemimpin ini adalah orang-orang yang memiliki wawasan unggul seputar kebutuhan-ketubuhan kehidupan dan yang telah bangkit pada ketinggian penguasaan harapan-harapan instingual mereka sendiri.

Ada banyak pertanyaan yang tak terjawab oleh sains hari ini. Tapi kerja saintifik adalah satu-satunya jalan yang bisa menuntun kita pada satu pengetahuan tentang realitas di luar kita sendiri. Seratus tahun lalu saat ada orang bilang bahwa suatu hari aka nada orang bisa berbicara antar benua tanpa kabel, pasti pada bilang itu ilusi! Dua ratus tahun lalu kalau ada yang bilang, manusia bisa terbang, ah mimpi. Tiga ratus tahun lalu kalau ada yang bilang informasi bisa dikirim antar Negara dalam hitungan detik, pasti dianggap gila! Mereka memberi nama ‘Tuhan’ untuk semacam abstraksi samar yang telah mereka ciptakan bagi mereka sendiri. Suara daya pikir adalah satu suara yang lembut tetapi ia tidak berhenti sampai mendapatkan satu pendengar. Semua itu ilusi sampai sains mewujudkannya.

Karena massa bersifat malas dan tidak cerdas; mereka tidak memiliki rasa suka terhadap penolakan instingtual, dan mereka tidak bisa diyakinkan oleh argument tentang ketidakrelaannya hal tersebut; dan individu-individu yang menyusun massa saling mendukung satu sama lainnya dalam memberikan kebebasan terkendali bagi ketidakdisiplinan mereka. Lalu mereka harus membebaskan manusia dari teror-teror alam, mereka harus mendamaikan manusia dengan kejamnya. Takdir, khususnya bagaimana ditampakkan dalam bentuk kematian, dan mereka harus memberi ganti bagi manusia atas penderitaan dan kekurangan-kekurangan yang dipaksakan oleh kehidupan berabad secara umum bagi mereka.

Seni menawarkan kepuasan-kepuasan pengganti bagi penolakan-penolakan kultural tertua dan masih merupakan yang paling dalam dirasakan, dan karena alasan itu maka seni memiliki fungsi berbeda dari yang lainnya untuk mendamaikan manusia dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dibuatnya atas nama peradaban. Den Himmeluberlassen wir. Den Engeln und den Spatzen – kami tinggalkan surga bagi malaikat dan burung pipit Deutschland bagian I, Heine. Jangan menyerah, tetap semangat!

Kita sampai di akhir tulisan. Kesimpulannya, anggapan Freud bahwa agama itu suatu ilusi masa depan yang dengan demikian memaknai beliau tak percaya Tuhan. Ini hanya pandangan seorang filsuf, kembali kepada masing-masing lagi. Jangankan kita yang sudah terentang satu abad dari kehidupannya, yang langsung berhubungan dengan Freud, muridnya sendiri yang juga filsuf Carl Jung menolaknya. Dalam sebuah tulisannya Jung berujar, “Kalimat pria ini berkecamuk dalam ingatan saya dan di dalamnya terdapat akhir dari persahabatan kami. Freud sedang menempatkanotoritas pribadi di atas kebenaran.” Tulisan Freud memang kontroversial. Dan Jung sudah menentukan pilihan pemikirannya, ‘Aku tak mau mempertaruhkan otoritasku.’

Sebuah ilusi bukan sesuatu yang sama dengan sebuah kesalahan, tidak juga bahwa sebuah ilusi pasti merupakan sebuah kesalahan. Penutup bukunya jleb. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.” Wah! Semakin sedikit yang diketahuinya tentang masa lalu dan masa kini, terbukti akan semakin rentan pula pertimbangannya tentang masa depan. Esok itu ternyata tak seilusi yang dijabarkan bukan? Sains vs Agama, sampai kapan tema ini berkecamuk?

Masa Depan Sebuah Ilusi | By Sigmund Freud | Diterjemahkan dari The Future of an Illusion | New York: W.W. Nortin & Company, Inc. 1961; Penerjemah edisi Inggris James Strachey | Penerjemah Cep Subhan KM | Penyunting Asef Saiful Anwar | Penata letak dan sampul Kaverboi | Penerbit Circa | cetakan pertama, Februari 2019 | xi + 95 hlm.; 12 x 18 cm | ISBN 978-602-52645-4-2 | Skor: 4/5

Karawang, 020319 – 090319 – The Ray Bryant Trio – Little Susie

Iklan

2 thoughts on “Masa Depan Sebuah Ilusi – Sigmund Freud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s