Derby Della Capitale 2019

LBP 3-0
Derby gengsi selalu patut dinanti. Roma sudah dipastikan nirgelar lagi, puasa terus berlanjut. Hahahaha… Lazio masih ada harapan di Copa. Bisa jadi laga ini imbang, tapi rasanya gengsi seharusnya meminta ada pemenang. Penguasa Ibu kota.

AP
Lazio v Roma 0-1
Dzeko
Roma sedang bersemangat mengejar top 4. Lazio sedang kesulitan bikin gol. Dzeko akan menjadi pembeda.

Takdir
2-1, Immobile
Serie A sejatinya berakhir dengan juara Juve. Tinggal laga laga receh demi gengsi semacam derby gini. Lazio punya semangat lebih setelah lepas Liga Sparing. Akankah jadi derby terakhir Safin Savic?

YR
Lazio 1-2 Roma.
Dzeko
Walau bertindak sebagai tuan rumah, Roma tetap lebih unggul dari Lazio.
Dzeko akan tampil sebagai pembeda.
Roma bertekad raih point penuh demi UCL musim depan

AW
Lazio 0-2 Roma, Dzeko
Lazio sedang dalam periode kurang baik. Roma justru sedang dalam konfidensi baik. Dzeko akan jadi protagonjs di game ini.

Emas Totti
Lazio 2-3 roma
Dzeko
Derby ibukota yg sangat tidak dinantikan.Tapi pertemuan 2 tim yg minim prestasi ini selalu menarik.Roma akan mencuri kemenangam di stadion sewaan mereka.3 poin buat kado kelahiran putri @⁨Bob FOC⁩

Siska
Lazio 3-1 Roma
Immobile
Lazio wajib menang, untuk mengejar jarak poin dengan Roma.
Lazio wajib menang untuk menjaga gengsi.
Karna kalah dari Roma jelas akan sangat malu.

HASBI
Lazio 1-3 Roma
Dzeko
AS Roma meraih 4 kemenangan di 4 pertandingan terakhir di seluruh kompetisi, sementara Lazio belum pernah meraih kemenangan di 4 pertandingan terakhir di seluruh kompetisi. Jadi, derby della capitale kali ini akan menjadi pertandingan mudah untuk AS Roma. Edin Dzeko yang sedang on fire akan menjadi salah satu pencetak gol di laga ini.

HAS 2-1
SMS
SMS baru saja berulang tahun kemarin. Padaderby kali ini SMS mendapat motivasi lebih untuk membungkam serigala ibukota. Gol nya dari tendangan jarak jauh akan menjadi penentu kemenangan.

Bolaitubal.com
Lazio 1-1 Roma; Dzeko
Roma telah memenangkan tiga pertandingan berturut-turut dan mengimbangi AC Milan dalam perebutan tempat keempat. Mereka akan fokus di Liga Champions juga melawan Porto minggu depan. Tetapi memenangkan derby akan selalu menjadi prioritas.

Kafe Calik, Karawang 020319 – Jazz Legacy – Bad Romance (Lady Gaga jazz version)

Telembuk – Kedung Darma Romansha

Cara Kedung bercerita tentang kampung halamannya lewat buku dan makian. Anda akan menemukan diskusi antar teman cs yang sudah dengan fasih memaki dengan berbagai tingkatannya, ceplas-ceplos, guyon bersama kopi, rokok dan memang apa adanya bersama teman sebotol. Indramayu dalam sudut pandang sang Penyair: Keprihatinan ataukah nuansa optimisme? Seperti kata Mak Dayem, “cerita ini hanya masa lalu, yang penting itu sekarang!”

#1. Akeh loro ati ing wong, naming saking duriat. (Hati sering disakiti orang hanya karena asal-usul dan derajat). – Sunan Gunung Jati

#2. Aja lunga yen wruh kang pinaranan, lan aja mangan ugi, yen rwuh rasane, rasane kang pinaran, aja nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di. (Jangan pergi kalau belum tahu yang dituju, dan jangan makan juga, kalau belum tahu rasanya, rasanya yang dimakan, jangan berpakaian juga, kalau belum tahu kegunaan pakaian). – Suluk Linglung Sunan Kalijaga

Dibuka dengan dua kutipan Para Sunan, sebelum kita arungi kerasnya hidup. Ini adalah sekuel dari Kelir Slindet, yang belum membaca novel debut Kedung itu bila ingin benar-benar tune in dengan buku ini sebaiknya baca dulu, walaupun kita disuguhi semacam ringkatan prolog sejumlah lima halaman, tapi akan terasa nikmat bila tahu sendiri kisah cinta yang keparat Safitri dan Mukimin. Karena banyaknya kenangan yang timbul tenggelam dan berdesakan di kepala Safitri. Sehingga tak begitu mengingatnya. Kenangan itu berebut tempat di ruang ingatannya. Saling bertabrakan dan berselisih. Dan kenangan yang paling kuat akan muncul dengan sendirinya pada momen-momen tertentu.

Kebetulan saya sudah baca tahun tepat tahun lalu. Buku ini juga pas kubeli Februari tahun lalu, baru saya nikmati paruh kedua Februari ini dalam seminggu. Tepat kumulai baca Minggu pagi tanggal tujuh belas setelah Subuh sampai Subuh lagi hari Jumat tanggal dua dua. Buku ini sempat mau kubakar waktu tahu sang Penulis di Yogyakarta dan kusangka bersinggungan Puthut EA, tapi lewat saling balas komen di sosmed akun penjual daring langganan Paperbook Plane bahwa nama Romansha bukanlah mengacu pada romanisti, hufh… wokeh mari kita ulas. Kepalin tangan sambil teriak #ForzaLazio dulu dong Bung…

Kisahnya memang langsung berlanjut dari Kelir Slindet, tapi ga secara terang menjelaskan nasib berikutnya Safitri dan Mukimin. Kata Mukimin bahkan baru muncul setelah hampir mencapai seratus halaman, memang terasa beda cara bercerita antara orang yang hanya mengarang dengan orang yang benar-benar menjalaninya sebagai pengalaman. Untuk lebih seru, Bung Kedung tak membuka langsung kedok sang ‘karakter baru’ Sang Diva, proses awal dia menelumbuk hingga nantinya dibuka siapa dia sesungguhnya. Menjadi telembuk bukan dorongan Mang Alek tapi atas kemauanku sendiri. Kita ada di tahun 2000 di sebuah daerah bernama Tumaritis. Dengan sabar dan telaten, sang Pencerita merunut segalanya. Sampai lima tahun berselang, emosi kita diaduk. Seperti pengakuannya jelang akhir, “Sebagai pencerita saya mesti menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Safitri dan Mukimin. Dan itu butuh proses penggalian yang tidak singkat. Jadi harap maklum.” Ya, sabar saja halaman buku ini menyentuh empat ratus jadi memang tak perlu tergesa. Bung Kedung sedang memetakan kenyataan-kenyataan dalam frame cerita, jadi memang harus telaten.

Barangkali karangan seperti pahala dan dosa. Akan terus menempel di dinding hati manusia. Kisah ini dibagi dua: Kisah Yang Tak Selesai dan Sepenggal Kabar Dari Kota Mangga. Selisihnya lima tahun, dan ternyata setelah selesai baca, kisahnya tetap tak usai. Saya suka hal-hal yang menggantung gini, seperti kata Kawabata, ‘seni untuk seni’ menampilkan spekulasi dan rangkaian sketsa kehidupan jauh lebih penting ketimbang kesimpulan. Begitu pula dalam sebuah bab buku Kafka: The Trial di mana saat Joseph K sedang dalam dilema bertemu pengacara dengan semena-mena, di akhir bagian ada kalimat berujar: ‘Bab ini tidak sampai selesai’. Dengan dibiarkan seperti itu, pembaca dibiarkan menafsir kejadian dengan lebih gereget.

Nah di Telembuk, kisah kasih yang menjadi tanya adalah siapa yang menghamili Safitri? Seperti kenangan, meskipun sudah menjadi masa lalu namun nyata di pikiran. Bung Kedung sudah memberi klu, banyak klu malah, bahkan sudah sangat dekat ketika pelakunya sudah dibocorkan ke karakter lain, sahabat lamanya: Govar, tapi tetap saja sekalipun Govar dekat dengan pencerita, kisah ini tak usai. “Jika kamu menganggap semua orang itu jahat, itu akan memperburuk nasibmu. Dan jika kamu menganggap semua orang baik, itu juga akan memperburuk nasibmu.” Dadi sopo jane pelakune Lik?

Dengan pintar, karakter yang paling lurus bernama Aan ketika tersudut menjawab ‘aman’, apakah pernah nelembuk? Saat itu juga saya curiga Aan adalah Kedung, tapi saat di tengah buku para karakter bermunculan dan saling protes, bahkan ada Aan dan Kedung sendiri. Muncul sebuah dialog antar karakter dan sang pengarang, dan ini menurutku lucu. Benar-benar bermain aman, Sang Penulis adalah dalang semuanya, kalian mundurlah. Setiap tokoh sudah dijatah kemunculannya, jadi diam dan nikmati! Asem, kirik! “Semua orang pernah munafik. Tapi setidaknya aku sadar, daripada pura-pura tidak sadar.”

Hidup lurus, baik hati dan kaya raya adalah tabu, atau hanya ada dalam kitab. Sebenarnya kami ingin hidup tenteram dan bisa makan, sudah cukup. Hidup terkadang dipaksa melakukan dosa adalah sebuah pembenaran para pelaku pelacuran. Prinsipnya sederhana sesuai petuah Mak Dayem itu tak penting. Entah dia seorang pejabat, pengusaha, atau rentenir, tak penting baginya. Yang terpenting seberapa banyak uangnya. Itu menguntungkan Diva dan tentu dirinya. Sang senior sedang berpetuah kepada junior, ilmunya diturunkan dengan sukses. “Itulah kenapa dari dulu bilang sama kamu, janganlah kaku, karena kaku itu mudah dipatahkan. Bersikaplah lentur itu jauh lebih baik, bahkan bisa berbalik dengan kekuatan dua kali lipat.”

Saya jadi teringat pengalaman saya di tahun 2008 di sebuah pesta pernikahan teman ada acara musiknya. Karena pada dasarnya saya suka joget, saya otomatis ikut goyang ke atas panggung. Shock, ternyata para penikmat lagu itu menghambur-hamburkan duit kepada sang penyanyi seolah dia adalah pusat tata surya yang wajib dikitari materi berlimpah. Saya yang tak bawa uang dan setelah beberapa lagu disinggung, yo wes tentu mending saja turun. Gila saja, itu uang dapat dari nguli berhari-hari masak dilepas begitu. Otak warasku selalu bekerja cepat dan tepat waktu. Saya mendapat jawabnya di sini. Orang-orang terus bergoyang sambil melayangkan uang puluhan ribu ke penyanyi dangdut. Melayang dan terus melayang. Mereka seperti menemukan dunia lain. Melupakan segala peristiwa pahit, masa lalu, utang, dan anak-istri di rumah. Bau badan mereka menyengat bercampur dengan bau alkohol. Ini bukan karangan, ini fakta. Seolah mereka terhipnotis, aneh? Ya tapi fakta!

Kalau mau masuk surga harus melakukan empat perkara: yang pertama murah senyum, yang kedua bicara yang bagus, yang ketiga murah tangan, dan terakhir orang yang punya hati dan takut kepada Gusti Allah. Pengajian vs dangdutan. Sebuah ironi beneran dimainkan, bagaimana dunia adalah siksaan bagi mereka yang menghamba padaNya. Sementara di pengajian terlihat sepi-sepi saja. Paling hanya dua sampai tiga orang yang berjualan, itu pun karena kehabisan tempat di sekitar organ tunggal. Bukan hanya peserta pengajian yang kalah kuantitas, para penjualpun dapatnya hanya dari limpahan! Edan emang. “Jalan setan itu banyak dan terlihat mengigurkan, godaannya macam-macam. Salah satunya dangdutan di seberang…” Kisah Kiai Barseso dan tiga dosa besar: Membunuh, Memperkosa atau minum minuman keras. Sudah sering saya dengar doeloe pas remaja, bagaimana minuman keras adalah pangkal dosa, di sini kembali disebut. Yang sayangnya dosa itu sudah satu paket. Saya sih ga melihat hal ini hanya ada di Indramayu, lihatlah Koran-koran, berita di tv banyak pemuda tewas akibat miras oplosan. Dan benar juga kata mang Rohim, semua kota pasti ada pelacurannya. Ada yang bilang, kalau mau tahu karakter seseorang, lihatlah teman-teman dekatnya. Ada sepuluh saja orang seperti Sodikin di Indramayu, dijamin perslindetan akan naik cepat.

Saya mendapat beberapa kosakata baru, salah duanya adalah saat di sebuah paragraf terdapat pepatah ‘dayung olih kedung’ Ternyata nama sang Penulis artinya danau/waduk. Lalu untuk kata ‘cibiuk’ sendiri artinya bau tak sedap. Di dekat rumah ada sebuah resto gaya Sunda dengan nama Cibiuk. Ada yang bisa jelaskan kenapa sebuah rumah makan mahal bernama ‘bau tak sedap?’ Selain itu banyak kalimat tak baku, atau sengaja dibuat apa adanya sesuai pelafalannya. Salah satu yang bikin kzl ya ‘tepdek’, sialan penyesuian Inggris ke Indonesia-nya benar-benar seadanya. Memang banyak penyesuaian itu akhirnya menjadi Baku lewat KBBI seperti kasus LPG yang akhirnya membaku jadi elpiji. Siapa tahu nantinya dari sini ada kata aneh yang dibakukan. Kesandung ning rerata, kegentus ning awang-awang.

Lalu saya merasa klik dengan kalimat ‘Bagaimana seorang calon kuwu dapat memimpin warga, jika memimpin keluarganya sendiri tidak becus.’ Mengkorelasikannya dengan pilpres tahun ini, di mana salah satunya adalah duda, cerai hidup. Benarkan ada garis lurus mengurus keluarga dan kota, dan tentu di sini adalah Negara? Kalau kalian akhirnya sepakat memaklumi bahwa pada akhirnya sang kuwu nelembuk, maka harusnya itu menjadi YA, ada. Sekarang banyak orang berbuat baik tapi musiman dan pasang iklan. Sekarang kebaikan bisa dipesan sesuai kebutuhan. Kirik!

Sama seperti di buku pertama yang membuatku penasaran sama cerita Baridin dan Surtaminah, Telembuk mencipta penasaran sama buku Komik Tumaritis karya Tatang S. Bacaan remajaku kurang jauh, mungkin terlalu lurus dan standar: novel-novel detektif Christie, Holmes, majalah Bobo, Ananda, komik Donald, bahkan saat sekolah sempat langganan Annida! Jadi buku-buku miring yang disampaikan banyak yang ga kenal, doeloe pas sekolah seorang guru bahasa Indonesia di tengah mengajar pernah berujar melarang kami membaca karya Freddy S, yang bagi anak sekolah malah penasaran. Tapi doeloe memang akses terbatas, jadinya ya tetap tertinggal. Dua tahun lalu saya berkesempatan beli salah satunya, terasa biasa saja. Apakah karena saya yang sudah dewasa atau internet sudah memenggal vulgarisme jadul? Entahlah…

Kehidupan pelacur setelah baca buku ini menjadikanku penasaran akan keseharian mereka. Profesi yang benar-benar ada, merangkap dua kerja sekaligus. Menjual suara di atas panggung dan tubuh di atas ranjang. Ia menemui banyak lelaki beragam profesi. Ia memegang semua rahasia laki-laki yang pernah tidur dengannya, bahkan di antaranya kenal istrinya. Ah rahasia, kata yang misterius. Jadi benar seharusnya bukan ‘kita berdua’ tapi cuma kita berenam yang tahu: Kita, Tuhan, malaikat, jin dan syaitan. Nah, waspadalah! Siapa tahu suatu saat kita jadi seorang yang kecewa dalam memilih figur. “Aku mengaguminya karena sejak dulu dia selalu rajin salat berjamaah di masjid. Lelucon macam apa ini? Aku berusaha membuang jauh pikiran-pikiran buruk itu.

Semua orang pasti kangen dengan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Tapi semua orang ingin cepat melupakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Kita ini pengecut, Min. tidak mengakui kesalahan, juga tak mau mengingat hal buruk. Ini adalah sesuatu yang wajar, sudah seharusnya begitu. Namun bagaimana cara memilah yang baik dan buruk dalam ingatan saat tiba-tiba kenangan muncul? Kata FMku, saat pikiran buruk melanda bilang saja ‘CUT’ tarik napas 7 detik, tahan 4 detik, hembuskan 5 detik dengan pelan. Rumus 7-4-5, lakukan berulang kali sampai tenang. Pikiran buruk akan tertumpas. Sedang pikiran yang baik, ya dipupuk bahkan perlu divisualkan. Lebih manjur lagi, dicetak dan ditempel impian itu di tempat strategis agar ada kendali mewujud.

Yang disayangkan mungkin nasib Mukimin yang amburadul, tapi ingat cerita yang bagus adalah yang berkonflik berat jadi karakter utama ya didorong ke kegelapan sedalam mungkin, sesakit mungkin. Cinta yang kandas, banyak sekali novel klasik membahasnya, dan abadi. Mukimin & Julie, Romeo & Safitri, duh! Dia menjadi kebal dengan marah dan makian. Aku menganggap hidupku main-main. Dan aku mulai tidak peduli dengan nasihat-nasihat kacangan itu. Berlagak bijak dan seperti malaikat. Kirik! Orang seperti Mukimin ada banyak, dari keluarga kaya disekolahkan di pesantren agar benar, tapi rontok oleh kerasnya hidup. Saya sendiri punya teman di kampung, anak pengepul sawah melimpah, kaya raya, malah menjadi berandal, lalu disekolahlan di pesantren agar lurus, gagal. Apakah ada asmara dibalik keterpurukan hidupnya? Tak tahu, kalau saya cari tahu, pulang kampung dan mengajaknya wawancara, lha… saya jadi Kedung nantinya dong. Cukuplah.

Pada akhirnya saya harus menarik kesimpulan ulasan ini, karena kalau saya ngoceh kemana-mana review ini akan makin melebar ga jelas. Selain sudah tembus 2,000 kata (maksimal kata dalam ulasan blog-ku), sekarang Sabtu pagi, waktu bacaku makin tersedot. Maka kita tutup saja tulisan ini. Karena hidup ini aneh, dengan orang-orang aneh. Coba kalian pikir, bagaimana orang begitu ingin tahu nasib seseorang. Lalu ketika nasib seseorang itu menjadi baik, kalian kecewa karena nasib kalian jauh lebih buruk. Gosip memang andalan cerita, dan banyak yang bagus. Novel sekelas ‘Pembunuhan Roger Ackoyd’ (apakah sudah benar judulnya? Saya lagi males cari di rak buku) karya Agatha Christie saja menggunakan gosip sebagai pemicu kisah. Duh, saya kok malah melebar cerita lagi. Mau kututup ini. Nah, Telembuk adalah buku produk generasi millennium, di mana akses informasi sudah melipah ruah. Sastra kita pun mengalami pergolakan dan variatif, termasuk kebebasan berkata-kata. Banyak kata kasar di sini, jelas. Banyak adegan dewasa di sini, ya iyalah judulnya saja sudah berlabel dewasa. Kalau novel Eka Kurniawan: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas saja di kover belakang tertuliskan 21+ maka Telembuk harusnya juga dilabeli. Seperti Dendam, terasa penjahat kelamin yang amatir di mata Telembuk.

Ya seandainya. Tapi Anda tahu kenapa ada orang menciptakan kata ‘seandainya’? Kenapa semua orang di dunia ini bersepakat membuat kata ‘seandainya’? Ini kata-kata yang mengerikan. Bagaimana seandainya Telembuk tak rilis di waktu yang sama dengan Dawuk? Bagi penyuka kisah yang aktual di kehidupan sekitar, jelas Telembuk akan sangat memuaskan. Keras. Kejam. Vulgar. Apa Adanya. Ini buku bukan untuk pecinta dongeng Disney. Hanya apes saja di Kusala head-to-head dengan Dawuk yang fenomenal. Hebat Kedung, ditunggu karya berikutnya. #ForzaLazio-sha

Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta Yang Keparat | Oleh Kedung Darma Romansha | Cetakan pertama, Mei 2017 | Penyunting Dian Dwi Anisa | Pemeriksa aksara Maria Puspitasari | Cover Nugroho Daru Cahyono | Penata letak Azka Maula | Penerbit Indie Book Corner | 14 x 20 cm | xiv + 414 hlm. | ISBN 978-602-3092-65-9 | Skor: 5/5

Untuk ayahku Wadin (alm.) & ibuku Darsini

Karawang, 280219 – 020319 – Lena Horne – Stormy Weather