The Best Films 2018

Wrinkle In Time yang ditunggu-tunggu itu rontok, Disney mengacak-acak perlintasan frekuensi kisah antar semesta. Chritopher Robin yang imajinaf remuk jua dalam adaptasi. Pun Mary Poppin Returns yang terlalu biasa untuk sekuel raksasa.

Daftar ini sempat menerjang angka 31 film. Pangkas, padatkan, ringkas, rank. Tahun 2018 bisa jadi begitu menikmati banyak film 4 sampai 5 bintang.

Dari pencarian putri tercinta yang hilang sampai sang pembasmi monster hollow. Dari jentikan Thanos yang melenyapkan separuh pahlawan sampai kasus penipuan dunia literasi. Dari tempat sunyi yang mencekam sampai komedi zombie ‘one take’. Dari konser perpisahan yang mengharu sampai konser ke Amerika Selatan yang rasis. Dari cerita pahlawan India sampai kejutan Peter Parker. Dari lajang tua mencari cinta sampai drama pembantu rumah tangga. Tersaji penuh gaya.

31 Maret 2019, ketiga kalinya saya nge-ranking film terbaik tahun sebelumnya. Inilah 14 film terbaik 2018 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. The Equalizer 2 – Antoine Fuqua
Sekuel yang sama hebatnya dengan seri originalnya. Film untuk para pecinta buku. Kejutan bagaimana orang yang mengulurkan tangan seolah menolong ternyata adalah orang yang menjerumsukan. Film seri pertama Denzel Washington yang berseri. Tetap tenang, tetap mematikan. “… today you got to choose.”

#13. Searching – Aneesh Chaganty
Film detektif amatir versi modern di mana semua kamera yang menyorot penyelidikan menggunakan kamera komputer. Benar-benar ga nyangka pelaku ‘penculikan’ adalah orang tersebut. Seru, tragis, mendebarkan. Salut buat perjuangan sanga ayah David menemukan klu demi klu yang terserak di dunia maya. Searching Margot. “I didn’t know her. I didn’t know my daugther.”

#12. Bleach – Shinsuke Sato
Adaptasi manga yang luar biasa menyenangkan. Monster raksasa hijau menguasai kota, penjaga perdamaian tiba dengan intrik antar dimensi. Badai menerjang kota dan menewaskan Ichigo, “Saya masih hidup. Saya belum menyerah. Saya tak akan menyerah”

#11. A Quite Place – John Krasinski
Sssttt… bersuara berarti mati. Ketegangan makin maksimal saat disaksikan dalam kesunyian bioskop. Minimalis karakter, minimalis tempat, minimalis volume. Menegangkan. Sssttt… dan pesona Emily Blunt menyelamatkannya. “Your father will protect you. Your father will always protect you.”

#10. Can You Ever Forgive Me? – Marielle Heller
Penulis Lee Israel yang frustasi, kesulitan ekomoni mendorongnya melakukan kejahatan. Kejahatan yang mungkin tampak sepele di mata hukum, tapi sungguh biadap bagi para kolektor sastra. Chemistry dengan pemabuk aneh yang saling mengisi, Melisa McCarthy dan Richard E. Grant sungguh lucu. Pengen jegal, senyum kecut di tengah duka. Dan ini kisah nyata! “Can you keep a secret?”

#9. Love For Sale – Andibachtiar Yusuf
Bahkan ada yang menyandingkannya dengan (500) Days Of Summer yang fenomenal itu. Pencarian pasangan di usia jelang paruh baya yang menyakitkan. Jualan cinta yang tak ada indahnya. Dasar Kelun! “Sungguh mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan, tapi kukira, mengambil resiko tak pernah ada salahnya.”

#8. Black Panther – Ryan Coogler
Kejutan Marvel 2018, film solo super hero yang menghentak tatanan. Berbulan-bulan bertahan di bioskop Karawang, melibas logika. Bagaimana sang raja bangkit, terjatuh dan bangkit lagi demi bersatu dengan pasukan Avenger. “…And its’ hard for a good man to be king.” Wakanda Forever!

#7. Pad Man – R. Balki
Kisah nyata di India, di mana para perempuan tak mengebakan pembalut hygiene manjadi pelatuk Laxmi untuk menemukan mesin pembuat pembalut yang murah. Dan kisah cinta tumbuh di waktu yang tak tepat. Sudah tepat tindakan Lakshmilant ‘Laxmi’ Chauhan di ending itu, sudah sangat tepat. Namun tetap saja, sungguh mengharu. “… kau keenam, kau ketujuh, kau kedelapan...”

#6. Spider-Man: Into the Spider-Verse – Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Peter Parker adalah Spider-man. Scene after credit Venom menjelaskan kematiannya, dan bagaimana kalau muncul Spider-man lain? dan bukan hanya satu? New York yang damai? Nope, Sony melipatgandakan pula para villain! “This could literally not get any weirder…”

#5. Roma – Alfonso Cuaron
Keindahan film hitam putih yang kuat dalam (hampir) semua segi, drama berkelas kehidupan pembantu rumah tangga di Meksiko yang keras. “We are alone. No matter what they tell you, we woman are always alone.”

#4. Bohemian Rhapsody – Brian Singer
Film dengan kepuasan teknikal maksimal. Membuat fan Queen kegirangan, menjaring pendengar baru. Ya, saya. Saya langsung membeli complete album Queen setelah menyaksikan. Dan di Oscar laik menang banyak, hanya keok di satu di kategori puncak. Merinding saat lagu Love of My Life. “You’re a legend Freddy.” / “We’re all legends.”

#3. Cut of the Dead – Shinichiro Ueda
Comedy of the year. Horor ngakak. Film zombie aneh dan luar biasa sukses mengocok perut semua penonton. Tertawa sejadi-jadinya dalam gedung bioskop. Luar biasa lepas. Ga nyangka, drama tv tanpa iklan tanpa putus itu ternyata dibuat dengan kegilaan tiada dua. Film low budget yang menghentak tatanan.

#2. Green Book – Peter Farrelly
Pengalaman pertamaku nonton bioskop sendirian. Benar-benar sendiri, melewati pergantian malam dengan drama berkelas. Dari semua kandidat best-picture jelas secara hiburan, road-move ini juaranya. Pertama kalinya film terbaik Oscar dipilih yang benar-benar terbaik. Chemistry sopir dan majikan yang menyenangkan. Ekspresi pertama kali makan KFC, oh my… “Its takes courge to change people’s heart.”

#1. Avengers: Infinity War – Anthony Russo, Joe Russo
Wow wow wow. Ekspektasi yang tinggi itu tetap terpenuhi. Marvel merayakan 10 tahunnya setelah Iron Man meluluhlantakkan tatanan. Thanos dan jentikannya yang memukau umat manusia. Cahaya mentari yang menyilaukan dan mengejutkan semua penonton. Red code! End Game menanggung beban yang luar biasa berat bulan ini. Salute Russo Brothers! “Your optimism is misplaced, Asgardian.”

Karawang, 310319 – Sherina Munaf – Primadona

Daftar ini sempat mencantumkan Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald yang menggantung, The Guerney Literary and Potato Peel Pie Society yang romantis, Dragon Ball: Broly yang menyesakkan, Mission Imposible: Fallout yang seru, Cold War yang mengharu, First Reformed yang puitis, Isle of Dog yang animasi unik, Mary Queen of Scots yang menyakitkan Saoirse Ronanku di ending, dst.

Happy Birthday Winda Luthfi 13 tahun, sayangku, manisku, cintaku.

Pekan Ke 29: Inter vs Lazio

LBP 0-3
Milan kalah semalam membuat Laziale dan Interisti senang. Inter berpeluang menjauh, Lazio berusaha mendekat. Akan lebih indah buat keduanya Roma ikut tersungkur. #ForzaLazio

AP
Inter v Lazio 1-0
Perisic
Inter harus menang agar tak disalip Milan. Lazio tentu tak ingin kalah demi menjaga posisi di top 7. Perisic akan menjadi pembeda.

Damar IRR
Inter 1-2 Lazio, Immobile
Forza gamelaggio. Kali ini Elang akan mematuk ular. Tiga poin wajib bagi Biancoceleste.

Hasbi
Inter 1-1 Lazio, Immobile
Inter Milan akan kesulitan menghadapi Lazio meskipun main di kandang sendiri. Lazio tentu akan memberikan perlawanan sengit. Skor 1-1 cukup realistis dengan Immobile mencetak gol tunggal Lazio.

Takdir
Inter 0-2 Lazio, Immobile
Pertandingan main mata. Saudara tua yang saling mengasihi. Kali ini Inter mengalah demi Primaveranya menuju zona juara.

AW
Inter vs Lazio 2-1, Perišić
Inter sedang dalam grafik naik. De Vrij siap jadi tokoh licik. Perišić nyekor langsung icik-icik.

Javier Bergomi
Inter 3-1 Lazio, Perisic
Match penting bagi Nerazzurri untuk semakin mengamankan posisi di zona UCL mumpung Tim tetangganya kemaren kalah sama Tim terbaik Kota Genoa. Lazio bisa dikalahkan dengan skor yang cukup telak.

DC
Inter 2-0 Lazio
Brozovic
Inter menang. Lazio kalah. Ga ada imbang.

Emas
Inter 2-2 Lazio, Ciro
Partai tim papan tengah kembali tersaji. Sama ngotot. Sama ngeyel.

HAS
Inter 0-1 Lazio, Acerbi
Duel perburuan zona UCL masih ketat. Lazio akan tampil allout vs Inter yang sedang “bermasalah”. Acerbi akan membuat kota Milan berduka akhir pekan ini.

YR
Inter 4-1 Lazio
Icardi
Inter akan menghancur leburkan Lazio.
Demi peluang lolos ke UCL musim depan.
Dan menggagalkan upaya Lazio lolos UCL musim depan. Karena Roma lebih mampu berbicara di UCL ketimbang Lazio.

Mie Ayam Sopo Nyono Perumnas – Karawang, 310319

Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

Ichigo: “I am not so noble to risk my life for strangers or so low to desert people in trouble.”

Cerita penjaga perdamaian kota, menghantar arwah-arwah penasaran untuk ke soul society, dan memburu para hollow (monster) agar dunia kembali tenang. Fantasi yang menggairahkan.

Dibuka dengan tragedi di mana ada ibu dan seorang anak yang mencoba memberi payung pada gadis yang menangis di pinggir danau yang ternyata adalah jelmaan, menewaskan Masaki Kurosaki (Masami Nagasawa). Tahun melompat dan kini Ichigo Kurasaki (Sota Fukushi) adalah seorang pelajar, ia bisa melihat hantu. Keistimewaan itu suatu hari memberinya kesempatan menjadi petarung. Di kamarnya tiba-tiba muncul seorang cewek berkimono dengan pedang dan kecurigaan menatap sekeliling, Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki) adalah seorang shinigami yang tugasnya berburu hollow, si Rukia yang terkejut bahwa keberadaanya diketahui manusia yang kemudian malah menjadi manusia karena kekuatannya secara tak sengaja tersalur ke Ichigo. Dalam sebuah kesempatan langka yang mendesak, ia sepenuhnya mentransfer tenaga dalamnya. Rukia terjebak, yang lalu menyamar sebagai murid baru pindahan, mengambil tubuh gigai (tiruan). Ichigo yang bisa melihat hantu ternyata memiliki kekuatan spiritual besar.

Kota Karakura yang butuh seorang shinigami untuk menjaganya dari serangan hollow, memaksa Rukia melatih Ichigo. Ia tinggal di kamar Ichigo, dan menjadi bagian kehidupan manusia. Secara keseluruhan sejatinya Bleach memang menceritakan hubungan mereka berdua. Fokus yang tepat. Bermain pedang, ditembaki bola tenis, mengangkat beban, ketahanan fisik. Tumbuh benih cinta, wajar. Rukia yang seorang shinigami yang menyamar menjadi menusia malah jatuh hati dalam keseharian, dan ini adalah dosa. Kesalahan. Ichigo yang memiliki love interest Orihime Inoue (Erina Mano), terlihat cemburu tapi Bleach ga jatuh dalam roman drama remaja, hanya kisah sempilan. Seorang murid freak, Uryu Ishida (Ryo Ishizawa) menambah rumit keadaan karena dengan panah saktinya ia ternyata adalah seorang Quincy. Quincy adalah makhluk langka yang memiliki dendam terhadap shinigami, maka hubungan Uryu dan Ichigo menjadi lawan-teman. Dan jadilah Ichigo seorang shinigami pengganti.

Sementara dari seberang, sepasang shinigami kakap Renji Abarai (Taichi Saotome) dan Byakuya Kuchiki (Miyavi) dari dunia 6 meminta Rukia untuk kembali, ia terlalu lama menjadi manusia. Renji adalah teman masa kecilnya, dan Byakuya adalah kakaknya! Di sini jelas Byakuya tampak sangat keren, semua kalimat yang diucapkan tenang tapi menohok, khas seorang antagonis bengis yang seolah tak terkalahkan. Mereka meminta Rukia membunuh Ichigo agar kekuatannya kembali, Rukia yang jatuh hati tentu saja menolak. Bahkan sampai diultimatum bila tak segera mengeksekusinya, keduanya akan dibunuh. Ichigo meminta kesempatan, ia akan berlatih lebih keras guna membasmi The Grand Fisher, hollow raksasa paling dicari yang digambarkan mengerikan dengan wajah bak topeng badut keji dan banyak lengan panjang berburu (bayangkan!). Seolah monster-monster Ultraman adalah barbie. Maka dalam adegan puncak, kota Karakura luluh lantak diterjang monster, Ichigo menjadi shinigami guna bertarung menumpasnya, sang Quincy membantu dengan panah, dan sajian dahsyat makhluk raksasa menjelma tornado tersaji epik. Mungkin kelemahannya hanya kurang lama adegan pertaruhannya, ga sampai berdarah-darah, adu kuat itu malah menjadi rentan. Jadi siapa yang akhirnya menyerah? Rukia yang meminta kekuatannya kembali? The Grand Fisher yang ternyata adalah pembunuh ibunya akankah bisa dimusnahkan? Uryu yang menaruh dendam kesumat kepada shinigami? Ataukah akhirnya Byakuya yang tampak amortal membumihanguskan semuanya? Rekomendasi tonton!

Skoringnya sangat pas, musik rock yang menghentak ketika mengiringi pertarungan, wow keren, gitar eletrik yang menyayat-nyayat hati ala Mad Max. Lagu “News From the Front”dari Bad Religion diselipkan di tempat yang semestinya, bukan sekadar iringan tapi juga menampilkannya dalam poster kamar. Panel manga dipindahkan dalam live action, mencoba sesetia mungkin, dalam sebuah mega adu pedang yang rupawan, bahkan ada adegan duel di atas dua bis di mana pedang bisa memanjang dan mebelit bak ikat tali. Tambal sulam beberapa bagian wajar, tapi secara keseluruhan sudah dalam arah yang tepat. Ceritanya mudah dipahami, untuk penonton awam sekalipun langsung klik sedari awal pengantar dunia Soul Society. Eksekusi ending, cerita jagoan dengan pedang besar menjadi sangat logis, sangat pas sekali. Rasanya sekuel hanya menanti waktu. Adaptasi sesukses ini jelas menuntut kelanjutan.

Tak perlu jadi pengikut manga-nya (termasuk saya) untuk bisa menikmati sajian live action yang seru ini, apalagi fan beratnya pasti jingkrak-jingkrak. Seperti inilah seharusnya anime menjelma nyata, sedih sekali menyaksikan Dragon Ball di-evolution-kan Amerika sepuluh tahun lalu. Luluh lantak, Bleach jelas di jalur yang sangat tepat. Poin pentingnya jelas, melibatkan kreator aslinya Tite Kubo dalam proses film. Kesuksesan ini jelas memicu anime lain untuk mewujud nyata, Naruto menjadi sangat mungkin, One Piece? Sherina Munaf pastinya gemetar menanti. Tak perlu warna-warni berlebih laiknya kartun, tak perlu efek sangat berlebih untuk menyuplai cerita, Bleach justru tampak seakan lebih sederhana, monsternya ga seglamor hollywood, efek CGInya ga senyata IMAX, tapi justru inilah nilai lebihnya. Kuat dalam bercerita, melaju dalam kecepatan konstan, dan aksi perang dengan porsi yang imbang. Banyak karakter, seolah tancap gas di opening, wajar. Anime memang selalu memberi banyak sekali tokoh dengan keistimewaan masing-masing, Bleach dengan cerdik menyajikan pengenalan itu dengan tulisan singkat dan durasi tepat. Bahkan ada sebentar adegan penjelasan dunia fantasi yang terpecah dua dengan title card kartun, bagaimana hollow harus diburu dan roh-roh gentayangan harus dikembalikan ke masyarakat jiwa. Jagoan kita berambut orange dengan model anak milenial, tampak nyentrik dan gaul. Karakter Yasutora ‘Chad’ Sado adalah contoh bagus, bagaimana muncul seketika, menitnya tak signifikan tapi bisa memberitahukan penonton bahwa ia adalah teman dekat sekaligus partner sang protagonis, bahkan di adegan yang tak lebih dari tiga menit di pertempuran saat di restoran, ia bisa menghalau lemparan benda padat dengan satu tangan, jelas ia punya keistimewaan juga bisa melihat kehadiran arwah tapi memang sengaja tak terfokus. Mustahillah berjilid-jilid series itu dipadatkan semua dalam durasi movie. Mungkin kahadiran Kisuke Uraha yang kurang eksplore, tapi tetap Ok. Mungkin untuk kelanjutan akan lebih detail. Kita semua tahu adaptasi manga dan anime mayoritas menjadi hancur, hampir semuanya: Dragon Ball, Full Metal Alchemist, Attact on Titan, Ghost in the Shell, Death Note, dst. Bleach kembali menaruh harapan itu.

Film rekomendasi Huang, teman grup Bank Movie, yang kilat kuunduh, kutonton langsung tuntas dalam gerimis malam libur, dan puas. Rasanya wajib kumasukkan dalam daftar film terbaik 2018 yang besok kudata. Apakah kesuksesan ini akan menghantarku (kembali) menjadi penikmat anime? Enggak, waktu menjadi kendala utama. Kecuali mini seri, rasanya film berpuluh-puluh bagian dengan ratusan karakter kayak gini sudah ga cocok kunikmati. Cukuplah sekali tonton selesai. Cukuplah saya tahu Dragon Ball, Naruto, One Piece, Crayon Shincan dan segelitir panel manga. Bleach yang mempesona datang terlambat, para hollow sudah menyebar dan memporakporandakan kota. Dan saya tetap duduk tenang membaca novel.

Bleach always be bleach

Bleach | Year 2018 | Directed by Shinsuke Sato | Screenplay Tite Kubo (Manga), Ardwight Cahmberlain, Shinsuke Sato, Daisuke Habara | Cast Sota Fukushi, Hana Sugisaki, Ryo Yoshizawa, Miyavi, Taichi Saotome, Erina Mano, Yu Koyanagi, Seiichi Tanabe, Yusoke Eguchi, Masami Nagasawa | Skor: 4/5

Karawang, 300319 – Sheila on 7 – Tunjuk Satu Bintang

Perempuan Pala – Azhari

Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu, di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing persis jentera menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharus kulit sagu yang mengantar awan itu…”

Dari penulis fenomenal Kura-Kura Berjanggut yang berisi hampir seribu halaman yang tahun lalu menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa, inilah kumpulan cerita pendek produksi Buku Mojok. Kubaca singkat malam minggu kemarin (23-3-19) saat menjadi sopir keluarga, saat mereka ke mal memanjakan mata dengan sepatu dan pakaian, saya tak masuk ke mal. Justru menepi di sebuah ruko terdapat mini market di Galuh Mas, untuk sebotol teh dingin untuk nebeng baca. Lalu kutuntaskan saat sampai rumah. Baca kilat, karena memang tipis dan tak butuh banyak telaah.

Setelah dua pengantar dari Penerbit dan Prof. James T. Siegel kita mengarungi cerita rakyat Aceh. Berisi 18 cerita, sebagian besar pendek-pendek, bahkan seakan dibuat tergesa. Seperti di cerita pembuka berisi sehalaman, itupun tak penuh yang didedikasikan untuk sang professor. Beliau sendiri memilah pendapatnya bahwa Aceh dalam keadaan ‘Kami’ dan ‘Mereka’. Aceh dalam dilema ratusan tahun, lepas cengkraman kompeni, masuk ke republik ini dengan gejolak tak henti. Teori penjajahan metode, ‘mereka dan kita’ kebetulan baru kubaca pekan lalu dalam buku Sapiens (Yuval Noah Harari), lebih halus menyebutnya sebagai imperium. Tak ada yang salah, tak ada yang baik-jahat, segalanya adalah dialektika sejarah.

Titah langit dianugerahkan kepada kaisar bukan untuk mengeksploitasi dunia, melainkan untuk mendidik umat manusia. Orang Romawi juga menjustifikasi kekuasaan dengan berargumen bahwa mereka mempersembahkan perdamaian, keadilan, perbaikan bagi orang-orang bar-bar. Orang-orang Jerman yang liar dan orang-orang Galia yang bercorat-coret cat tadinya hidup dalam kebejatan dan kejahilan sampai orang-orang Romawi menjinakkan mereka dengan hukum, membersihkan mereka dalam pemandian umum, dan memperbaiki mereka dengan filosofi. Kemaharajaan Maurya pada abad ke-3 SM menjadikan penyebaran ajaran Budha ke dunia yang jahil sebagai misinya. Para khilafah muslim menerima titah ilahi untuk menyebarkan wahyu yang dibawa sang Nabi, secara damai bila mungkin namun menggunakan pedang bila perlu. Imperium Spanyol dan Portugis menyatakan bahwa bukan kekayaan yang mereka cari di Hindia dan Amerika, melainkan agar orang-orang berpindah agama yang benar. Matahari tak pernah berhenti menyinari misi Britania untuk menyebarkan ajaran kembar liberalism dan perdagangan bebas. Uni Soviet merasa terikat kewajiban untuk menggerakan derap sejarah yang tak terhentikan dari kapitalisme menuju kediktatoran utopia kaum proletar. Banyak orang Amerika Serikat kini percaya bahwa pemerintah AS memiliki kewajiban moral menyebarkan manfaat-manfaat demokrasi dan hak asasi manusia ke Negara-negara dunia ketiga, bahkan hal-hal itu diantarkan dengan rudal dan F-16. (hal. 235)

Jadi lihatlah hubungan Belanda-Hindia, dan kini Indonesia-Aceh atau apalah segala hubungan yang umum disebut penjajahan.

#1. Demi Kegembiraan Para Diplomat
Cerita sangat singkat tentang kembali dibukanya pintu Indonesia ketika peralihan Orde Lama ke Baru, para diplomat Amerika dengan gembira kembali berpesta di negeri tropis yang megah ini. Jamuan istimewa pada perundingan-perundingan baru yang ramah dan bersahabat diterjunkan di bandara Polonia, Medan.

#2. Air Raya
Nuh itu seorang yang sunyi, sahabatnya binatang belaka. Hikayat Nabi Nuh yang dinukil dalam hubungan anak-ibu dan kesetiaan. Nabi Nuh yang meninggalkan anak-istri karena tak percaya bahwa air akan menjulang hingga menenggelamkan gunung sekalipun. Hikayat itu, menjadi benang merah bahwa sang lelaki berlayar meninggalkan anak-istri, dengan hujan mendera tak henti. Ibu sudah menunggu di rumah. Dia meski mengajarkan Nuh mengenai kerinduan – karena dia tahu orang seperti Nuh tak paham arti kerinduan.

#3. Di Dua Mata
Rumah adalah yang paling aman dan yang paling mudah ditemukan. Tentang mata yang setia mengawasi kegiatan di luar rumah dari balik gorden. Sungguh mata itu berbahagia. Tak jemu menikmati momen bahkan sampai beratus-ratus sore.

#4. Hikayat Asam Pedas
Nek Sani dengan segala kehebatannya meracik masakan dari berbagai bumbu yang ada. Awalnya bertutur bagiamana bumbu-bumbu itu berhasil didapat. Dari oleh-oleh para pembesar sepulang Haji, belimbing wuluh dari tetangga yang terjatuh dari pohon, cabe rawit dari kebun belakang hingga krimer dari Pawang Lemplok dari Tanjung. Saat kuah kuah asam pedas mendidih, sesuatu yang tak dinyana terjadi. Tentu, sepadan dengan rasa ikan itu: manis tak termaknai.

#5. Hujan Pertama
Riwayat ramalan hujan dan berkah dari malaikat mikail. Kemahiran ibu dalam melihat tanda-tanda langit, seperti memperkirakan musim atau meruwat kapan kepastian puasa pertama atau hari raya, sangat membantu penduduk kampung yang masih memegang kuat tanda-tanda alam sebagai petunjuk. Bukan hanya hujan, koak burung malam, kupu-kupu masuk rumah dst. Tanda-tanda alam itu menjadi cerita pertanda. “Sebentar lagi akan terdengar kulik elang, menyiratkan kematian Pang Kadi kepada seluruh kampung…

#6. Ikan dari Langit
Tukang syair yang ngoceh di jalan-jalan kampung. Menjelang pemilihan umum, ia datang membawa rapa’i dan suara diparau-paraukan. Akan jatuh ikan dari langit, ikan yang dibuang Tuhan. Ikan-ikan perliharaan Abu Lahab. “Dia datang dikirim angin.” Masih belum nggeh nama ikan yang lafalnya akronim sebuah partai. Ikan apa ya?

#7. Kenduri
Kenduri. Selamatan orang meninggal. 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari. Ah, hikayat larangan melakukan yaa siinan yang digunjing di Jawa itu ternyata juga diperdebat di ujung Barat Indonesia. Saya jadi ingat saat di kampung dulu, saya yang masih remaja disertakan dalam kenduri semacam itu dengan pede dan nyaring dan khidmatnya mendoakan mendiang. Hingga akhirnya pada suatu masa, para pemuda pembaruan tiba di kampungku dan melarang, mengancam, membubarkan kebiasaan itu. Di sini sang ibu yang kehilangan saudaranya, terus didatangi dalam mimpi. Pertanda untuk kembali mengadakan kenduri, tapi kan sudah dilarang dalam budaya? Beranikah? “Mimpi itu, Tinggo, mimpi itu…”

#8. Perempuan Pala
Cerita pilihan yang dijadikan judul. Riwayat kebun pala yang ditanam iseng itu malah menjadi komoditi. Sang kakek bercerita bagaimana hikayat dulu ada kebun di sana. Awalnya pohon pisang, sebagai penutup pembunuhan tiga orang, lalu diganti pohon pala. Cerita pembunuhan yang dicerita dengan tenang. Dulu ia mengira tongkat lelaki tua yang keluar dari mulut ibu tak cukup sakti untuk membuat naga kekal menjadi batu. “Kulit buah kuning bulat yang menggantung itu dapat dimakan, bukan?”

#9. Kupu-kupu Bermata Ibu
Kalau di Jawa, saat ada burung prenjak berkicau di pohon-pohon depan rumah itu artinya akan ada tamu. Di sini, saat ada kupu-kupu masuk ke rumah maka akan ada tamu. Karena cerpen ini cerpen kelam, maka kisahnya bukan tamu baik tentunya. Setelah kehilangan anak sulung dalam penculikan, sang ibu selalu was-was ketakutan. Siapa berikutnya? “Aku tak mungkin menolak dan menutup pimtu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#10. Menggambar Pembunuh Bapak
Menggambar di tanah sketsa seorang pembunuh bapak. Aneh sekali. Memberi simpul senyum dalam sketsa, kejam. Memberi codet di pipi. Diantara bunga-bunga yang jatuh di tanah, dilukis dengan kaki dengan penerawangan masam. Dan dia melakukan berhari-hari. Dia sudah tak bersekolah.

#11. Menunggu Ibu
Kesetiaan ibu tidaklah buta. Cerita sedih yang menyentuh sekali. Sang kakak yang buta, sang adik yang penasaran, sang ibu yang bertutur bagaimana suami/ayah mereka meninggal. Lalu taruhlah belalang dalam kamar tidur, di atas bantal. Ditafsir sebagai reinkarnasi almarhum, belalang itu ditaruh di tempat istimewa dan dijaga. Hingga seuatu ketika, sebuah tragedi dicipta. Harum daging yang memualkan.

#12. Orang Bernomor Punggung
Cerita sederhana ini bisa jadi adalah favoritku. Narasinya lurus menyenangkan. Seorang pelarian menempati sebuah kampung asing, dipersila tinggal di gubuk pinggir daerah perbatasan hutan. Ia kepergok pook. Kampung yang terpencil itu dibantu, dibentuk dan dipersebahkan teknologi bernama sumur. Sebagai tukang kayu yang kokoh dan murah senyum, di mana di pungguhnya ada nomor 81. Sambutan baik itu menjelma petaka saat wabah muncul. “Terang saja punggungnya berjimat.”

#13. Pengunjung
Kesalahannya cuma satu: memalingkan sekilas wajahnya ke arah timur. Pengantin baru yang dicelaka-celakain karena melakukan hal pamali. Bisa jadi itu muhasabahnya. Bahkan jangan berpikir untuk menyebut nama kampung celaka itu.

#14. Jubah
Seorang penjual obat keliling telah menyaru sebagai perwira polisi sebanyak tiga kali, enam kali sebagai kadi, puluhan kali sebagai pegawai kantor purba kala dan sebagai apoteker hampir seumur hidupnya. “Kita, tiba pada malam yang sama dengan setan.”

#15. Yang Dibalut Lumut
Ini cerita seram sejatinya. Entah kenapa ditutur dengan santai seolah melihat mayat, banyak mayat terapung di sungai adalah kelaziman. Sang kakek dan cucunya yang memancing menghentikan kegiatannya karena ada mayat hanyut. Setiap mayat dibalik untuk dilihat wajahnya, siapa tahu itu adalah bapaknya. Ada mayat yang baru tapi sudah dibalut lumut sehingga tak bau, mukjizat orang baik begitu jua sebaliknya. Sampai di sini saja, tampak mengerikan bukan? Ranie dan memori horor di bantaran sungai.

#16. Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud
Cerita ini disebut sebagai cikal bakal Kura-Kura Berjanggut. Abdoel Gaffar yang seorang Belanda menjadi mualaf dan menelusuri Aceh, menuliskan laporannya, menggoreskan si Ujud yang seorang mata-mata itu mati atas eksekusi Raja Nurrudin. Dan itulah bakat dia yang sesungguhnya: menyusupkan kisah ke dalam kisah, yang membutuhkan keahlian tinggi untuk mengetahui mana riwayat yang shahih dan mana riwayat yang dhaif. Namun tunggu dulu, ada yang coba diluruskan dan kalian bisa tahu kisah panjang itu di bukunya langsung yang tebalnya melebihi al kitab. Hikayat Lamuri.

#17. Cermin Mao Tse-Tung I
Cerita pemimpin Front Pembebasan Nasional Acheh-Sumatra, Hasan Tiro yang mendapat hadiah sebuah cermin yang konon milik ketua Mao saat memimpin Tentara Merah dalam menghindari kepungan tentara Kuomintang. Cermin ajaib yang bisa membiaskan bayang masa depan, termasuk Perang Dunia I. namun sang pemimpin bosan dan meminta bayang itu menampakkan dirinya.

#18. Memoar
Letkol Sudjono yang bermimpi. Dia mendengar para senior yang bertugas di Timor Timur dan Irian Jaya berhasil membebaskan diri mereka dari mimpi-mimpi yang mereka tak inginkan dengan menulis memoar. Setelah mencoba berkali-kali gagal, sang Letkol ketakutan dan membenci tempat tidur. Pada tahun kesepuluh, dia merasa memoar itu menghianati dirinya. Memoar itu menolak memprcayai alasan pembunuhan Tengku Bantaqiah dan tiga puluh pengikutnya di Beutong Ateuh pada 23 Juli 1999.

Secara keseluruhan sekadar bagus, tak istimewa. Cerita kelam tentang pembunuhan-pembunuhan ditulis langsung oleh putra daerah, seharusnya bisa lebih detail dan merasuk. Saya membandingkan kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata, yang saya sebut sebagai salah satu buku kumpulan cerita terbaik. Bung Seno tak langsung di Timor Timur saat menulisnya, hanya dari laporan. Motif dan alurnya banyak sama, tapi kenapa bung SGA yang melihat dari sudut jurnalistik malah lebih merasuk dan jleb? Perempuan Pala malah terasa berulang-ulang, kurang variatif. Bapak yang hilang/meninggal, Aceh yang gejolak selalu menyudutkan republik sampai cerita satu-dua halaman yang lebih sederhana lagi. Makanya saya suka cerita lelaki yang bertahan hidup dengan punggung bernomor, karena tampak paling tak lazim. Pasrah, kokoh dan abadi.

Masih bisa menikmati, masih sip karena sejatinya tak ada satupun drama cinta atau roman picisan yang terkandung di dalamnya, jadi OKlah. Ditunggu karya berikutnya.

Dan alangkah setianya pala-pala itu, Mala. Ia akan terus berbuah sampai bertahun-tahun lagi. Sampai sku tiada dank au menua. Di mana ada perang, pala-pala ini akan terus memberikan gunanya.”

Perempuan Pala & Rerumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi | Oleh Azhari | copyright 2015 | Penyunting Fahri Salam | Perancang sampul Narto Anjala | Ilustrator sampul dan isi Saiful Bachri | Penata letak Narto Anjala | Pemeriksa aksara Prima S. Wardhani | Penerbit Buku Mojok | ISBN 978-602-1318-12-6 | Skor: 3.5/5

Karawang, 240319 – Ari Lasso – Jalanku Tak Panjang

Captain Marvel: Juru Selamat Telah Tiba

You have three names. What do people call you?” / “Fury”

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Pada kenyataannya hanya dua orang yang memanggilnya Nick. Tony Stark dan Agen Maria Hill. Selain itu? Cukup panggil Fury. Emakmu? Anakmu? Cucumu nanti dipanggilnya? / Cukup Fury. Setelah tertunda berkali-kali, akhirnya saya menyaksikan film solo super hero cewek pertama Marvel Universe. Sempat ingin menghabiskan malam dengan Us yang ternyata hari kedua tayang di CGV Festive Cuma tiga show dan jam tayang paling akhir selepas isya, jadi setelah melongok Gramedia sekadar lihat buku (Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan diskon jadi seharga 60k), saya habiskan pergantian hari ke Jumat dalam bioskop.

Tanpa embel-embel apapun kecuali tribute untuk mendiang Stan Lee yang emosional, film langsung tancap gas seolah mengejar pangkas menit, bahkan judulnya baru muncul di penghujung. Kita ada di tahun 1995. Carol ‘Vers’ Danvers (Brie Larson) adalah pasukan perdamaian galaxy dari Kree Empire di Planet Hala, bersama rekan sejawat Yon-Rogg (Jude Law) mengemban misi penyelamatan Perserikatan Planet-Planet. Vers sering kali bermimpi sebuah masa yang tak dialaminya, bertemu orang-orang asing di sebuah tempat asing tentang penemuan sesuatu terkait penelitian rahasia. Yon mengajak Vers untuk mengendalikan emosi, lebih tenang dan sabar. Nasihat dari teman sejati, laik dituruti.

Melalui instruksi Ronan (Lee Pace), bos mereka. Mereka lalu terlibat dalam misi penyelamatan Soh-Larr (Chuku Modu) dari terkaman gerombolan Skrull yang dipimpin oleh Talos aka Teller (Ben Mendelsohn) yang jahat. Gerombolan hijau ini bisa berubah wujud (shift shaper), setelah melihat makhluk lain ia bisa mengubah penampilan. Mereka tampak bengis, kejam, dan seolah ingin menguasai semesta. Maka ketika penyergapan itu gagal, Vers tertangkap dan diinterogasi. Bukan sekadar tanya jawab kek di kantor polisi, tapi tubuh Vers digantung terbalik, kepalanya disusupi port untuk menarik kenangan/ingatan/berita dalam kepala. Sebuah masa yang tersimpan itu coba digali, ditelusuri dan telaah mencari link. Ditemukanlah sebuah klu, seorang wanita bernama Dr. Wendy Lawson aka Supreme Intelligence (Annette Bening) adalah kuncinya. Maka misi itu berubah, Vers yang memiliki kekuatan di kedua tangannya sempat kabur dan meledakkan pesawat, pertarungan angkasa itu mengakibat mereka terdampar di planet C-53, alias bumi.

Vers mendarat di kedai film Blockbuster, didatangi seperangkat polisi karena merusak fasilitas, agen S.H.E.I.L.D legendaris itu muncul dengan mata lengkap, Nicholas Joseph Fury (Samuel L. Jackson) bersama agen Coulson (Clark Gregg) mencoba mengejar Vers yang juga mengejar pasukan hijau yang kini naik kereta. Dan trailer fenomenal itu, saat Larson menghajar nenek-nenek (nenek itu ternyata diperankan oleh Marilyn Brett) terwujud. Sempat berharap adegan adu otot di atas kereta yang melaju bakalan seseru Spidey atau Wanted, ternyata enggak terwujud, musuhnya hanya kroco. Kemunculan cameo rutin Stan Lee, kali ini menjadi penumpang kereta sembari baca buku naskah untuk Kevin Smith’s Mallrats (1995) dengan berujar ‘Trust me true believer.’

Vers yang menjelma gadis bumi menelusuri peta, mencari jejak Lawson dan akhirnya ditemui Fury. Mengajaknya kerja sama, mencari sebuah pusat penelitian proyek Pegasus (Potential Energy Group/Alternate Source/United State) yang misterius, sebuah fakta mengejutkan pertama di film ini akhirnya terungkap. Melalui pencurian arsip yang tersimpan, kita tahu ternyata Lawson sudah meninggal enam tahun lalu. Fury menggunakan sidik jari yang melekat di tanda pengenal untuk masuk ruang tertutup, Vers menggunakan kekuatan tangannya, jebol saja! Haha… Dan dalam arsip foto tahun 1989 itu Vers ada di dalamnya! Kenyataan ini memberi bukti bahwa ia pernah di bumi, mengenal mereka dan terlibat dalam pertaruhan. Sementara koneksi ke sahabatnya terus terjalin, meminta bantuan agar pasukan Skrull tak lebih cepat menemukan tesserat.

Kejar-kejaran itu menemui titik di Louisiana di sebuah rumah Maria Rambeau (Lashana Lynch), Vers makin terkejut karena Maria yang mereka tuju ternyata adalah sobat lama. Mengenal baik, bahkan anaknya Monica Rambeau (Akira Akbar) begitu merindukannya. ‘Jaketnya kusimpan’, Hiks… Vers dan Lawson dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kupas kulit bawang itu sedikit demi sedikit terlihat, Talos dkk yang kini juga di sana, akhirnya mengajak bersekutu. Ketimbang saling adujotos ga berkesudahan, maka bareng-bareng saja membuka kotak hitam. Dan (mungkin) melalui Komputer Pentium Satu dengan disket berdenyit, kitapun tahu segala yang tampak di depan kita tak senyata itu. Sahabat kita tak sebaik yang kita sangka, dan bagaimana Vers mendapat kekuatan itu, dan seterusnya. Kotak Hitam membuka tabir surya eh maksudnya membuka tabir pahit. Apalah itu, link koordinat menuju tesserat terbuka dan mereka semua meledakkan diri dalam pertarungan ala Star Trek, bonus kucing heboh bernama Goose! Berhasilkah mereka mencegah perang antar galaxy?

Jangan bandingkan dengan Avenger yang sudah tiga seri yang tertata rapi dan bergelimang pujian. All hail Russo Brothers! Captain Marvel jelas belum sesempurna itu. Atau seri lain yang gagah dan macho. Sekalipun Captain feminism dengan kepalan tangan berapi yang langsung mengingatkanku pada manusia api nya F4, tapi tetap secara keseluruahn sungguh lemah dalam cerita. Banyak lubang, sebagian menjemukan. Skoring yang krusial – maaf saja, buruk sekali (Pinar Toprak gagal di debut wanita pertama dalam Marvel). Pondasi bagus MCU itu agak retak di sang Kapten. Harapanku memang tak muluk, yah sesuai ekspektasi yang rendah sih. Memang mau berharap apalagi ketika jagoan cewek disodorkan dalam film laki-laki? Terang saja, semua mata tertuju pada Endgame, jadinya ini seolah hanya sebuah jembatan. Marvel harus diakui pinter bikin timeline. Kurasa porsi action-nya sudah pas. Mungkin kurang humor (bandingkan dengan Thor yang melimpah ruah), terasa lambat untuk sebuah film penyambung gini. Sempat terkantuk di bagian Jude Law mendarat di bumi, tapi kembali terperangah lagi saat misi para manusia hijau itu adalah bukan kekuasaan. Walau perubahan itu terlalu mendadak, begitu juga perubahan gesture Talos yang memelow. Hiks…

Kemunculan Nick Fury yang banyak sangat jelas memberi keceriaan, dialah penyelamat sesungguhnya sang kapten. Alasan kenapa ia bermata satu juga akhirnya terungkap, agak mengejutkan. Ending Infinity yang memaksa ia menekan pager darurat itu dilanjutkan di scene after credit pertama. “Di mana Fury?” menyenangkan sekali melihat bersatunya dua kapten bersama Nathasa dan Hulk, walau hanya secuil. Seharusnya karena ini film MCU di tengah perang, munculkan sekilas saja Bleky kek, Iron Man kek, Doctor Strange kek atau siapapun anggota Avengers. Ternyata enggak ada. Bayangkan, di First Class, Wolvie cuma muncul sebentar untuk bilang ‘Enyahlah!’ aja membuat saya bersorak kegirangan. Sayang sekali, di Captain ga ada. Paling yang agak seru pas tahu ada dog tag ‘Vers’ itu berasal dari ‘Danvers’ atau kata Mar-Vell yang menjadi cikal kata Marvel. Kejutan main villain yang ternyata adalah itu, ga terlalu mengejutkan lagi karena hal macam gini sudah banyak dibuat dan ketebak. Aktor sebesar itu ga mungkin hanya sebagai sidekick satu film.

Lagu tahun 90an yang menghantar kilas masa lalu senang sekali saat didendangkan, terutama ‘Just A Girl’ dari No Doubt. Mengingatkanku pada kaset pitaku yang dulu sering kuputar yang sekarang entah di mana. Trivia lucu saat Fury membuat proyek Avengers yang didapat Fury dari tulisan di foto pesawat Carol naiki. Logo S.H.E.I.L.D yang dikira lambing klub basket. Agak kzl juga saat Minn-Erva bilang bumi itu shithole. Sampai hal-hal kecil semacam Goose yang imut yang dibintangi empat kucing profesional bernama Reggie, Rizzo, Gonzo, dan Archie. Mungkin ini film lemah dalam rangkaian Marvel, bukan salah Brie Larson yang alergi kucing sehingga tiap scene bersama Goose harus menggunakan boneka atau efek komputer. Film ini selamat hanya karena masuk rangkaian Marvel (dan Fury) sehingga trivia kecil saja menjadi daya pikat. Captain salah dipenanganan orang-orang di belakang kamera terutama sekali di naskah dan skoring.

Dari semua film superhero cewek yang pernah ada, dari Elektra, Catwoman, Supergirl, sampai Wonder Woman. Untuk kali ini saja, Marvel kalah sama DCU. Kalah jauh, penanganan Wonder Woman jelas sudah benar. Bukan hanya cast tapi secara keseluruhan. Siapa yang bisa menolak kecantikan natural Gal Gadot.

Para perempuan dikasih playstation, dilempar ke bak sampah. Perempuan diberi sebuah komik, yah beginilah. Boys always be boys. Ini mainan lelaki, sekalipun aktor utama perempuan, masalah adu fisik gini serahkan pada pejantan. Well, cukup kali ini saja cewek diserahi proyek film superhero besar. Terlalu beresiko.

Dan mari kita sambut Russo Brothers, benarkah permainan ini benar-benar berakhir? Tenang, juru selamat telah tiba.

Captain Marvel | Year 2019 | Directed by Anna Boden, Ryan Fleck | Screenplay Anna Boden, Ryan Fleck, Geneva Robertson-Dworet | Cast Brie Larson, Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, Jude Law, Annette Bening, Lashana Lynch, Clark Gregg | Skor: 3.5/5

Dedicated to ‘Stephen “Cajun” Del Bagno, Thunderbird 4’ adalah pilot dan konsultan film yang meninggal saat proses produksi.

Karawang, 220319 – 240319 – Goo Goo Dolls – Here Is Gone

Go Set A Watchman – Harper Lee

Dimanakah iblis berada? Di sini, di Maycomb.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Aku mencintaimu. Terserah kau saja. Aku tujuh puluh dua tahun dan aku masih terbuka untuk menerima saran. Sebuah sekuel yang merentang jauh dari buku originalnya. Harper Lee terkenal dengan Penulis satu buku sepanjang hidupnya, rekor itu pecah juga tahun 2015 lalu saat beliau merilis novel ini, cerita lanjutan sang gadis pemberani Jean Louise Finch. Setahun berselang beliau pamit. Sejatinya Go Set A Watchman adalah draft novel pertama yang diajukan penerbit tapi ternyata malah To Kill A Mockingbird yang akhirnya terbit 11 Juli 1960. Integritas, kesabaran, humor adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan Atticus Finch.

Seperti bukunya yang merentang jauh, kisahnya juga merentang jauh, kini Jean Louise adalah seorang gadis perantau New York dan tutur kata pembukanya berujar ia dalam perjalanan pulang kampung ke Maycomb dengan berkereta Cresent Limited. Stasiun Montgomery terletak di siku Alabama. Perjalanan kereta lebih memikat ketimbang udara, karena manusia melambat dan bisa menikmati pemandangan hijau dari jendela. Dia sudah dua puluh dua tahun tidak menginjakkan kaki di stasiun ini. Greenville, Evergreen, Maycomb Junction.

Selama perjalanan ini, kita diajak mengikuti pikiran Jean sekaligus memberitahukan kepada kita apa saja yang terjadi dalam rentang waktu akhir buku satu ke saat ini. Kisah flash back yang sepotong-potong itu diantaranya. Sejarah pernikahan keluarga Finch. Gadis dari Montgomery yang berusia lima belas tahun lebih muda dan memboyongnya ke Maycomb. Ketika Atticus berusia empat puluh dua tahun, Jeremy lahir, yang merupakan nama ayah dan ayah dari ayahnya, empat tahun kemudian Jean Louise lahir, yang merupakan nama dari ibu dan ibu dari ibunya. Dua tahun kemudian istrinya tergeletak meninggal. Jean Graham Finch menderita kelainan jantung, yang dua puluh tahun kemudian merenggut putra sulungnya yang tergeletak di depan kantor kerja Atticus Finch. Atticus Finch mirip ibunya; Alexandra dan John Hale Finch mirip ayah mereka. Ya sebuah keberanian Pengarang mematikan salah satu karakter penting, Abang Jean Loiuse meninggal secara mendadak karena penyakit turunan tersebut. “Bukankah kau seharusnya sudah merelakannya. Biarkan yang mati beristirahat dengan tenang.”

Jean kini pacaran dengan Henry yang memiliki bekas luka merah jambu, dimulai di bawah mata kanannya, menyentuh sudut hidupnya. Tidak ada pemuda yang lebih tampan, kata orang-orang Maycomb daripada Henry Clinton. Kau boleh mencintai siapa pun, tapi nikahilah orang yang mirip denganmu adalah petuah yang telah dihafalkan. Ia adalah seorang pemuda yang menjadi asisten ayahnya, sekaligus sebagai sosok pengganti Jeremy. Atticus memperlakukan Henry seperti anak sendiri, memberinya cinta yang seharusnya milik Jem. Jatuh cinta adalah perkara ya atau tidak. Cinta bukan satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Ada banyak macam cinta, tentu, tapi semuanya sama-sama menghendaki jawaban ya atau tidak. Cintai siapapun, tetapi nikahi orang yang sejenis denganmu.

Acara mudik rentang waktu dua minggunya. “Aku punya dua minggu hanya untuk duduk-duduk, menikmati kemurnian dan kesederhanaan.” Sering cekcok dengan bibinya. Kebiasaannya merokok sedikit mengejutkan, tidak ada yang dapat menandingi kenikmatan rokok pertama pada pagi hari, katanya. Bibinya yang memilih melajang seumur hidup juga menjadi corong liberalism dunia Barat, setiap orang punya hak, punya pilihan. Sering kali ia menyindir Jean. “Aku yakin kau adalah Finch terburuk yang pernah ada. Mr. Finch sudah tujuh puluh dua tahun dan kau sudah seratus tahun dalam urusan seperti itu.” Bagaimana caranya menjadi wanita penggoda? Pertama-tama tahan lidahmu. Jangan menyanggah omongan lelaki, terutama kalau kau tahu bahwa kau bisa mengalahkannya. Banyak senyum. Buat dia merasa hebat. Sebutkan kebaikan-kebaikannya, dan layani dia. Bahkan dalam sebuah malam yang berkabut, Jean yang menghabiskan waktu dengan Henry sampai tantangannya mandi di sungai membuatnya muak dan saling marah, seolah Jean menebar aib keluarga. Mandi bugil tengah malam bersama kekasih? Apa kata dunia? “Wanita akan terpikat pada pria yang lihai mendekatinya, tapi pada waktu yang sama tetap menjaga jarak, kalau kau bisa menguasai trik ini. Buat mereka merasa tak berdaya, terutama kalau kau yakin bahwa mereka sangat percaya diri. Jangan pernah meragukan dirimu di hadapan mereka dan jangan terang-terangan mengatakan bahwa kau tidak memahami mereka.” Nasehat bagus dari sang perawan tua. “Pada saat usiamu segini, Jean Louise, kelakuakn semacam itu sudah tak bisa diterima.

Kalau kau tidak punya banyak keinginan, hidupmu selalu berkecukupan. Kisah masa kecil Jean yang lucu dengan Jeremy dan Hill. Dengarkan aku, Dill Pickle Harris! Masa remajanya yang kalut kala mendapati menstruasi pertamanya. Karena itu sama alaminya dengan bernapas. Dan akan mendapatkannya sampai umur lima puluhan. Bahkan untuk gadis yang banyak membaca buku, pengalaman pertama datang bulan pun tetap membuat shock. “Dengan semua buku yang kau baca, kau bocah terbodoh yang pernah kukenal… tapi aku mengerti karena kau tak pernah mendapat kesempatan.” Pembantunya yang berkulit keling begitu setia mengabdi. Ciuman pertamanya yang kacau. Dengan muka merah padam, Albert menarik Jean Louise dalam pelukan dan menciumnya. “Melakukan apa, Ada Belle?”

Di Amerika ternyata sistem pendidikannya sama dengan kita, di mana saat memasuki Sekolah Menengah Pertama, tempat duduk kita acak, siapa datang duluan dialah yang berhak menempati kursi manapun, begitu juga ruang kelasnya yang tiap hari berpindah. Dia memiliki kapasitas terbatas untuk menerima perubahan dari sekolah dasar; dia tidak senang karena harus pindah kelas setiap saat dan diajar oleh guru yang berbeda-beda. Kau tak akan memiliki teman seperjuangan. Politik membuatku bosan setengah mati. “Aku tidak punya teman yang lebih baik darinya.” Dan sekolah membuatnya bosan. Jean Louise kuliah di Georgia lalu ayahnya bilang sudah waktunya ia mencari jati diri ke New York atau tempat lain. Jean Louise sedikit tersinggung dan merasa terusir dari rumah. Aku membencinya selama dua tahun pertama. New York mengintimidasiku hingga suatu pagi saat seseorang mendorongku di bus dan aku membalas mendorong. Setelah itu aku sadar bahwa aku menjadi bagian dari kota itu. Membaca koran-koran New York aku yakin yang kau baca adalah ancaman, pengeboman, dan sebagainya.

Ada yang sudah baca The Strange Case of Alger Hiss? Saya belum, tapi judul aneh itu semirip novel Robert Louis Stevenson. Masuk buruan! Karakter paling bagus disini menurutku justru malah paman Jean. Gaya fashion boleh datang dan pergi, tapi pamannya dan Atticus akan berahan pada rompi mereka selamanya. Pecinta buku yang juga memilih lajang. Buku cenderung menumpuk di tempat-tempat yang sering didudukinya, karena sudah menjadi kebiasaannya untuk duduk di mana saja. Maka ada tumpukan buku di tempat –tempat tak terduga. Seorang dokter nyentrik yang sangat mencintai keponakannya. “Kau, Nona adalah orang yang keseratus lima. Menjadi filsuf memang menyenangkan, tetapi kita tidak maju-maju… kau akan hancur bila mengaku, tetapi juga akan hancur bila tak mengaku…” Dr. Finch menarik sebuah bangku tinggi di dekat meja dan menaruh Rose Aymer di atasnya. Aku ini kuno tetapi percaya sepenuh hatiku, aku ini semacam demokrat pengikut Jefferson. “Tolong jangan selalu mengulang perkataan terakhir dari kalimat, yang kukatakan padamu.

Cintanya kepada Henry tak perlu diragukan namun, keduanya memang mentah terkait prinsip hidup. Aku ingin hidup di sini dan aku juga suka hal-hal yang disukai pria lain. Aku ingin mendapatkan rasa hormat dari kota ini, aku ingin melayaninya, aku ingin diakui sebagai seorang pengacara, aku ingin mencari uang, aku ingin menikah dan memiliki keluarga… Jean berpandangan lain. Aku mengagumimu karena kau bekerja sangat keras untuk segala yang kau miliki, semua hal yang kau capai, kukira kau berjuang keras untuk itu, tetapi ternyata tidak. Kukira kau punya nyali, kukira…

Dia merentangkan kedua lengannya dan bersandar ke pohon. Dia menatap Maycomb dan tenggorokannya tercekat: Maycomb membalas tatapannya. “Kau gambar saja fotonya dan aku akan membuat perangnya.” Ketika situasi memaksa seseorang untuk melepas koneksi politik yang selama ini mendefinisikan mereka maka mereka pasti komunis.
Dan tentu saja buku ini akan terus menonjolkan sang pengacara yang brilian, Atticus Finch. Atticus tidak pernah mencari makna sesungguhnya tragedi ini, dia membesarkan kedua anaknya sebaik mungkin dan usahanya sebenarnya berhasil bila dilihat dari kasih sayang anak-anaknya kepadanya. Ayahnya tak pernah salah memahami maupun menanganinya, kecuali sekali waktu ketika dia berusia sebelas tahun, saat dia pulang sekolah dan mendapati darahnya mulai mengalir. Bulan lalu, ia berusia ketujuh puluh dua, tapi Jean Louise selalu menganggapnya berumur pertengahan lima puluhan. Seolah Atticus tak bertambah tua. Jika sebagian besar pria memiliki prinsip hidup dan berusaha menerapkannya menjalani hidup, Atticus menikmati segala sesuatu dalam kehidupannya dalam kehidupannya tanpa kehebohan, tanpa perayaan berlebih dan tanpa pencarian jiwa. Berhenti bekerja untuk mengabdikan seluruh waktunya kepada pelestarian pemisahan berdasarkan warna kulit. Yah, sebagian orang memang memiliki kegemaran yang aneh.

Tak heran ia menjadi ayah panutan. Segalanya ditiru oleh Jean. Secara reflek dia bertanya, “Apa yang akan dilakukan Atticus?” dia tak menyadari, dirinya memuja ayahnya. Jean Louise terlalu menghambur-hamburkan kasih sayangnya, dan terlalu membanggakan kenyamanan dunianya. Hukum adalah panduan hidup Atticus. Atticus sangat jarang melakukan kesalahan tetapi Atticus juga melakukan kesalahan seperti kita semua. Kewarganegaraan adalah keistimewaan yang harus diusahakan oleh setiap orang, bukan sesuatu yang diberikan begitu saja atau disepelekan.

Salah satu kebiasaan Jean yang kusuka dari dua buku ini ya jelas, seorang kutu buku. Seolah sebagian yang diadegankan adalah pengalaman bersama. Dia kembali ke kamarnya, memadamkan lampu kamar, meraba-raba lampu baca dan menyalakannya. Jean Louise merangkak ke ranjang tempatnya dilahirkan, membaca tiga halaman dan tertidur dengan lampu menyala. Betapa sering saya tertidur dengan berselimut muka buku! Fanatik. Kata benda. Seseorang yang percaya buta pada agamanya, golongannya, kepercayaan,dan pendapat. Jangan cemas makianmu padanya, dia pengacara, dia sudah pernah dimaki lebih buruk.

Hukum Gereja kita sebaiknya melarang penampilan Fanny Cosby, dan Rock of Ages adalah penghinaan atas Tuhan. Apa itu D.V. – Deo Volente (atas kehendak Tuhan). Ucapan orang Katolik yang bisa diandalkan. Aku di posisi menarik tapi lemah, dia selalu menempatkan diri di posisi klien. Semua yang diceritakan klien pada pengacara adalah rahasia. Kau kesal karena melihatku melakukan sesuatu yang menurutmu salah, tetapi aku mencoba membuatmu seperti di posisiku.

Bagian yang lucu, bagaimana Jean Louise menerima tamu teman-teman sebayanya. Boring, ga nyambung dan begitu membuatnya jengah. Baginya matahari tak akan terbit atau tenggelam tanpa sabda Bill, semua yang dikatakan Bill adalah wahyu. Hester benar-benar mencintai suaminya. Kau memang ganjil kadang-kadang. Dia gila, segila rubah, dan dia jauh lebih pintar daripada rubah. Ya ampun, aku benar-benar mabuk. Jean Louise mungkin akan mengerti bahwa seumur hidupnya, ia mengidap cacat visual yang tak ia sadari dan dipedulikan oleh orang-orang terdekatnya: ia terlahir buta warna.

Endingnya menghentak. Luar biasa. Menarik di awal, meledak pecah di tengah lalu melompat kegirangan di akhir. “Kalian adalah anak-anak yang hanya ada dalam mimpiku tetapi seperti yang dikatakan Kipling, itu adalah sebuah kisah lain.” Mungkin terdengar biasa, tapi sungguh cinta sejati memang bermakna ganda, di mana ujung satunya adalah pengorbanan tak bertepi. Tak ada yang adil di dunia ini. Aku sekarang merokok, kadang-kadang. Ini aslah satu hakku sebagai orang tua, kadang aku merasa gelisah dan merokok membuat tanganku sibuk. “Kenapa kau mau repot-repot keluar menemuiku, kutahu kau tak suka keluar rumah. Aku mencintai ibumu!”

Tuhan tidak akan memberimu cobaan lebih dari yang kau bisa jalani. – Pepatah kuno Maycomb itu sering dipakai oleh para wanita rapuh yang melayat, sebisa mungkin menenangkan pihak yang ditinggalkan. “Kelahiran manusia merupakan hal yang paling tidak menyenangkan. Berantakan, menyakitkan, dan kadang beresiko. Dan selalu berdarah.” Neraka adalah jarak abadi.

Menghancurkan kenangan di benaknya. Tak bisa. Masa-masa di kampung halaman akan terus melekat, masa lalu yang berat akan teringat indah kala kau menyendiri merenungi hidup. Dewa-dewa begitu jauh dari kita, mereka tak boleh turun selevel dengan manusia. Mungkin saya sudah sefanatik dulu ketika kumandang adzan bergegas ke rumah ibadah, yang pasti pula saya sudah terkontaminasi debu dunia. “Kukira takut pada Tuhan adalah awal dari kearifan. Kerendahan hati.” Dia lebih mementingkan itikad baik, tapi pengetahuan teologinya sangat kurang. Kalau kau belum berada di jalan perang, maka tak lama lagi kau akan mengalaminya.

Maycomb County adalah rumahku sayang, tempat terbaik yang aku tahu. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan Jean. Kau ingin menghentikan waktu, tapi tidak bisa. Cepat atau lambat, kau harus memutuskan apakah kau memilih Maycomb atau New York. New York bukan duniaku. Yang kumaksud adalah: setiap aku pulang, aku kembali ke dunia dan saat aku meninggalkan Maycomb, rasanya meninggalkan dunia. Doeloe saat lajang dan seolah dunia masih sangat panjang terbentang di depan saya memiliki pilihan tinggal mengabdi di Palur bersama keluarga besar atau memilih Cikarang/Karawang? Nyatanya saya tak sepemberani Jean. Salut! Kuharap putriku kelak akan mempertahankan apa yang menurutnya benar. Daerah ini penuh dengan orang sepertimu, tetapi kami butuh lebih banyak dirimu. Teman-teman justru membutuhkanmu saat mereka salah. Mereka tak butuh kamu saat mereka benar. Kau tak kan pernah bisa mengelurkan kota ini dari tulangmu. “Maksudmu Atticus membutuhkanku? Tidak juga, yang kumaksud Maycomb.”

Seorang Finch tak akan lari. Saat kau berhenti lari, dan berbalik, kau butuh keberanian besar. Sayang sekali tak ada kesempatan kedua, waktu tak bisa di tarik ke belakang kala saya menangis di pelukan ibu dengan tiket bus di tangan, betapa saya mencintai Palur tapi memilih pergi darinya. Saya hanya mencoba menjelaskan bahwa dalam usaha melakukan sesuatu yang benar kita justru membiarkan diri kita terbuka untuk sesuatu yang mungkin benar-benar berbahaya di masa depan. Hanya saja setiap aku pulang selama lima tahun terakhir – sejak sebelum itu bahkan. Sejak saya kuliah – selalu ada yang berubah. Aku ingin menjerit sekeras yang kubisa. Kau bukan satu-satunya yang punya masalah. Semua manusia di dunia, punya kepala, lengan dan kaki, terlahir dengan harapan di hati.

“Kosong, Paduka!”

Go Set A Watchman | By Harper Lee | Terbitan Penguin Random, London 2015 | Copyright 2015 | Diterjemahkan dari Go Set A Watchman | Penerbit Qonita | Penerjemah Berliani Mantili Nugrahani & Esti Budihabsari | Penyunting Tim Redaksi Qonita | Proofreader Emi Kusmiati | Deasiner sampul Glenn O’Neill | Ilustrator sampul Getty Images & iStockphoto | Cetakan I, September 2015 | 288 Hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-1637-88-3 | Skor: 5/5

Mengenang Mr. Lee dan Alice

Karawang, 150319-200319 – Queen – Love of My Life (Live Youtube)

Pekan Ke 28: Lazio Vs Parma

LBP 3-0
Zona aman 40 sudah. Membantai Roma sudah. Tinggal nikmati perjalanan liga sampai akhir. Masih ada harapan di Coppa Laz. #ForzaLazio

YR
Lazio 2-2 Parma
Immobile
Lazio sebagai tuan rumah mengincar kemenangan.
Tapi Parma butuh poin penuh.
Untuk bersaing di kompetisi Eropa

AP
Lazio v parma 1-0
Caicedo
Lazio harus menang untuk menjaga harapan top 4. Parma udah aman dari degradasi. Caicedo harus bisa bikin gol lagi.

DC
Lazio 2-0 Parma
Ceicedo
Di kandang dan menang. Itu hasilnya. Kegembiraan buat Laziale.

HASBI
Lazio 2-2 Parma
Gervinho
Parma beberapa kali menahan imbang tim besar di Serie A. Lazio tidak akan mudah mengalahkan Parma. Gervinho akan menyulitkan pertahanan Lazio.

HaS
Lazio 2-1 Parma
Caicedo
Lazio akan memanfaatkan kekalahan Roma. Dengan kemenangan ini Lazio berpeluang masuk ke Zona UCL. Caicedo menjadi pahlawan kemenangan Lazio.

Emas Nani
Lazio 1-2 parma
Gervinho
Denting piano kala jemari menari.Nada merambat pelan,di kesunyian malam saat datang rintik hujan.
Bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan.

Takdir
Lazio 3-1, Savic
Merayakan dengan suka cita atas skor pagi tadi, Laziale punya semangat lebih. Salamin Murgia holic. All hail SPALnation.

AW
Lazio vs Parma : 3-1, Correa
Tanpa Immobile yang absen, harusnya ini jadi panggung Caicedo unjuk aksi. Dengam ditopang Joaquin Correa bukan hal sulit Lazio bisa menang. Demi tiket liga Sparing, Lazio akan amankan 3 poin keramat yang bikin tenang.

Valdas Ivanauskas
Lazio 6-1 Parma
Marusic
Partai yg bakal berujung hujan gol, elang ibukota bakal menghantam Tim feminim Parma dgn skor telat supaya bisa menjaga asa target 4 besar.

CEO DKI Reborn
Lazio 3-1 Parma; Safin Savic
Degrit tertinggal 8 poin dari zona cempyen. Sedangkan parmalat cukup aman dari jurang degradasi, musim mereka sudah selesai. Jadi dapat dipastikan tuan rumah akan lebih ngoyo dan ngotot.

Karawang, 170319

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra – Paulo Coelho

Aku menangis karena dia sahabatku yang kusayangi, tapi aku tidak tahu menahu tentang kesulitan-kesulitannya. Aku baru tahu setelah dia datang mengetuk pintu dan meminta pinjaman uang.”

Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk. Tak ada konflik, tak ada tekanan kepada pembaca untuk menebak, atau sekedar menduga, tak ada hal apapun yang perlu dikhawatirkan. Teoritis murni dari seorang guru kepada warga yang terdampak (akan) perang. Mungkin buku semacam ini akan mempesona kalangan awam yang butuh pencerahan hidup, mungkin petuah-petuah ndelujur panjang lebar akan makna hidup gini akan memukau seseorang yang frustasi. Mungkin… yang jelas buku tanpa konflik gini ga akan bisa membuat pecinta fiksi melonjak girang. Datar tanpa riak sama sekali, seolah sebuah danau di tengah hutan yang permukaannya tenang, lurus, tanpa ada gelombang nan riak. Jangan pernah berharap ada orang yang melempar batu dalam danau itu, karena hutan itu hutan perawan!

Kalau ngomongin Yerusalem maka otomatis pikiran saya akan tertuju pada sosok Penulis Karen Armstrong. Saya dalam perjalanan membaca Sejarah Tuhan, buku-buku beliau sangat konsen ke sana. Kota suci dengan tiga agama. Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra bersetting di Yerusalem pada 14 Juli 1099 Masehi atau tahun 4859 bagi kaum Yahudi, atau tahun 492 Hijriah bagi muslim. Waktu yang krusial karena esok di kota ini ada Perang, efek seruan Paus Urban II pada tahun 1088 di Clemont, Prancis di depan ribuan massa yang menyatakan protes terhadap Turki yang menduduki Tanah Suci saat itu, dianggap menganiaya peziarah Kristen, memicu perang sehingga seruan berkobar Perang Suci-Perang Salib untuk kembali merebutnya. Dengan bumbu kekayaan alam Tanah yang Dijanjikan dan memastikan para peserta perang mendapat pengurangan dosa, tragedipun dicipta. Di akhir pidato ia berujar ‘Deus le volt’ yang berarti ‘Tuhan Berkendak’ yang menjadikannya teriakan perang selama 200 tahun, ada delapan Perang Salib besar dan banyak perang kecil. Pengaruh Perang Salib jelas begitu luar biasa terhadap peradaban, memuluskan jalan bagi Renaissance yang mengarah pada kemajuan Eropa modern.

Cerita paragraf tadi ga ada di buku, cuma dari sejarah yang kubaca. Nah, buku ini adalah efek dari serbuan tersebut. Sang guru dikelilingi warga berbagai ras dan golongan berdiskusi di tanah terbuka. Atau lebih tepatnya sang guru berpetuah, seolah semua tanya tentang kekhawatiran hidup yang dilontarkan bisa ‘ditangkal’ dengan damai. Sebagai catatan saja, saya akan ketik ulang semua pertanyaan dan jua narasinya, silakan ditelaah.

#1. Aku ingin memulai dengan menulis demikian: “Kini, menjelang akhir hayatku, kuwariskan pada mereka yang datang kemudian, semua yang kupelajari saat masih berjalan di muka Bumi. Semoga mereka bisa mendapatkan manfaat darinya.”

#2. Lalu tetanggaku Yakob berkata: “Ajari kami tentang kekalahan.”

#3. “Jabarkanlah tentang mereka yang kalah,” pinta seorang saudagar ketika melihat sang Guru sudah selesai bicara.

#4. “Ceritakan tentang kesendirian.” Kata perempuan muda yang akan menikah dengan putra salah satu orang terkaya di kota itu, namun kini harus pergi mengungsi.

#5. Lalu seorang anak lelaki yang terpilih sebagai salah satu yang akan pergi, mengoyak pakaiannya dan berkata: “Kotaku menganggap aku tak cukup layak untuk maju perang. Aku tak berguna.”

#6. Dan seorang penjahit bernama Almira berkata: “Sesungguhnya aku bisa saja pergi sebelum tentara-tentara itu datang, dan seandainya aku pergi, saat ini tentu aku sudah bekerja di Mesir. Tetapi sejak dulu aku takut akan perubahan.”

#7. Lalu seseorang berkata: “Ketika segalanya tampak kelam, kita perlu menambah semangat. Maka bicaralah pada kami tentang kemuliaan.

#8. Lalu seorang pemuda yang mesti berangkat malam itu juga berkata, “Aku tak pernah yakin arah mesti kuambil.”

#9. Lalu seorang perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi namun belum bersuami, berkata “Cinta selalu melewatiku begitu saja.”

#10. Namun ada seorang pemuda yang tak sependapat, “Kata-katamu indah namun sesungguhnya kami tak pernah punya banyak pilihan. Nasib kami sudah direncanakan oleh kehiduoan dan masyarakat kami.” Seorang tua menimpali, “Dan aku tak bisa kembali untuk memulihkan momen-momen yang hilang itu.”

#11. Lalu istri seorang saudagar berkata, “Bicaralah pada kami tentang seks.”

#12. Lalu salah seorang pejuang yang besok akan menjemput ajal – namun toh memilih untuk datang ke lapangan dan menyimak perkataan sang guru – berkomentar: “Kami terpecah belah padahal kami persatuan, kota-kota di jalur para penyerbu menderita akibat perang yang tidak mereka inginkan. Apa yang harus dikatakan orang-orang yang berhasil selamat pada anak-anak mereka?”

#13. Seorang perempuan muda yang jarang keluar rumah karena merasa tak seorang pun tertarik padanya berkata, “Ajari kami tentang keluwesan.” Setiap orang di pekarangan itu menggerutu. “Apa gunanya pertanyaan itu, sebentar lagi kita akan diserbu dan darah akan mengalir di setiap jalanan di kota ini.” Namun sang guru tersenyum, dan senyumannya bukan senyum mengejek, namun senyum hormat atas keberanian perempuan muda itu.

#14. Dan seorang pemuda yang selalu bangun pagi untuk menggiring kawanan dombanya ke padang rumput di seputar kota berkata: “Kau telah menempuh ilmu, sehingga lidahmu fasih berkata-kata indah, sedangkan kami harus bekerja untuk menghidupi keluarga kami.

#15. Lalu seorang yang tadi bertanya pekerjaan menanyakan hal lainnya: “Mengapa ada orang-orang yang lebih beruntung ketimbang yang lainnya.”

#16. Dan Almira, yang masih meyakini bahwa pasukan malaikat dan para penghulu malaikat akan turun dari surga untuk melindungi kota suci itu, berkata: “Bicaralah pada kami tentang mukjizat.”

#17. Lalu seorang lelaki yang tengah mendengarkan lagu-lagu perang dari balik tembok-tembok kota itu, dan mencemaskan keluarganya berkata: “Bicaralah pada kami tentang kecemasan.”

#18. Lalu seorang anak muda berkata, “Beritahu kami tentang masa depan.

#19. Lalu seorang lelaki yang bisa menulis, dengan tergesa-gesa mencoba mencatat setiap patah kata yang terucap dari mulut sang Guru, lantas berhenti sejenak untuk beristirahat dan merasa seperti orang kerasukan. Lapangan itu, wajah-wajah lelah itu, para pemuka agama yang mendengarkan sambil bersiul, semuanya seolah-olah bagian dari mimpi. Maka untuk membuktikan bahwa pengalaman ini sungguh nyata, diapun berkata: “Bicaralah pada kami tentang kesetiaan.”

#20. Lalu seorang pria yang dahinya kerut-merut oleh usia, dna tubuhnya penuh bekas luka dari sekian banyak pertempuran yang dilaluinya berkata: “Bicaralah pada kami tentang senjata-senjata yang mesti digunakan kalau sudah tak ada lagi cara lain.”

#21. Di tengah para pendengar itu ada seorang pemuda ketika melihat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala yang menandakan pertemuan dengan Sang Guru akan berakhir, berkata “Bagaimana dengan musuh?”

#22. Malam telah turun sang Guru menoleh pada para pemuka agama yang semenjak tadi mendengarkan semua perkataannya, dan dia bertanya apakah yang hendak mereka tambahkan. Ketiganya mengangguk.

#23. Karenanya pergilah, dan ceritakan pada semua orang apa yang kalian dengar sore ini, supaya kita bisa menolong saudara kita sebelum dia membutuhkannya.

Sengaja saya malah tulis semua tanya, karena saya yakin kalian bisa menjawabnya. SEMUANYA. Tak perlu jadi filsuf, tak perlu para cendikiawan hebat untuk bisa mengurai semua pertanyaan dasar tersebut. Ga akan jauh dari kata positif thinking, positif feeling. Pengetahuan bukanlah kebenaran absolut tentang hidup dan mati, tetapi sesuatu yang membantu kita menjalani hidup. Tak ada yang tahu hari esok sebab setiap hari memiliki saat-saat baik dan buruknya sendiri.

Kata-kata sang Guru sejatinya lebih cocok dikutip, dibagikan dan dibuat status buat dipajang di sosmed. Lebih jleb ini ketimbang semua buku-buku Tere Liye yang basic sekali, lebih manteb ketimbang nasehat meluap-luap Mario Tegar atau lebih pas ini ketimbang segala kalimat motivator video di Youtube. Masalah Manuskrip adalah, konfliknya mana? Percuma esok perang tapi dua ratus halaman hanya diskusi aja, laiknya janji film Action yang rilis di Summer tapi isinya hanya ngegoliam panjang lebar tak tentu arah yang akan membuat kaum Hypies mengerutkan kening. Lihatlah buku Dunia Sophie, itu buku sejatinya hanya rangkupan filsafat dari zaman sebelum Masehi sampai aktual abad ke 20 tapi kenapa masih relevan dan sangat menarik? Karena Jostein Gaarder mencipta narasi yang bagus, menghadirkan konfliks, memberi ketakutan kepada sang tokoh betapa fiksi senyata realita. Manuskrip enggak, ceritanya satu arah menggurui pembaca, yang akan manut manggut manggut, layaknya pendengar pengajian malam Jumat.

Segala sesuatu memiliki alasan untuk hidup. Ada orang berkata, “Aku tak pernah punya kesempatan. Aku tak cukup berani. Aku takut melangkah ke depan, blah blah blah…” alamak, besok perang woooy angkat kepalamu tegak. Ga ada yang bisa ubah nasibmu selain kamu sendiri! Jangan mencoba untuk beguna, jadilah diri sendiri. Itu sudah cukup, dan itu saja sudah membuat perubahan besar. Tak seorangpun bisa kembali ke masa lalu, tapi setiap orang bisa maju ke masa depan. Anugerah terbesar yang dilimpahkan Tuhan adalah kemampuan untuk mengambil keputusan. Ayo ambil keputusan, jangan hanya celoteh, praktekan impian kalian. Sekarang!

Satu lagi yang kini agak langka dan mahal adalah saling menghormati, menghargai semua pendapat, saling menjaga perasaan. Kau juga akan dihormati dan dicintai hanya kalau menghormati dan mencintai dirimu sendiri, dan orang lain. Hidup sederhana, keluwesan cita rasa, setiap kebudayaan memiliki standar keindahan sendiri. “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi juga dengan firman Tuhan.”

Dan seperti kata-kata yang dikutip di pembatas buku ini, “Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.” Bersyukurlah wahai tukang tidur yang bisa pules sepulang kerja seolah hari esok masih sangat panjang dan menjanjikan. Allhu Akbar!

Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra | By Paulo Coelho | Copyright 2012 | Sant Jordi Asociados Agencia Literaria S.L.U., Barcelona, Spain | Diterjemahkan dari Manuscrito Encontrado em Accra | GM 40201140041 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Tanti Lesmana | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | cetakan kedua, Juli 2014 | ISBN 978-602-03-0279-9 | 208 hlm.; 20 cm | Skor: 2.5/5

Untuk N.R.S.M., sebagai ucapan syukur atas mukjizat itu, dan untuk Monica Antunes, yang tak pernah menyia-nyiakan berkat-berkatnya.

Karawang, 140319 – Trio Larose – Swingo

Thx to Titus Pradita untuk pinjaman bukunya

White Fang – Jack London

Sekarang meraunglah, sialan. Meraunglah!”

White Fang menjadi buku kedua yang saya baca dari Penulis legendaris Jack London setelah The Call of the Wild yang fenomenal itu. Ini semacam prekuel (atau sekuel ya, entah duluan mana terbitnya), kalau The Call dari anjing rumahan menjadi ganas di alam, White Fang malah dari makhluk liar dan keras menjadi takluk pada manusia, atau di sini disebut dewa. Ia mematuhi kehendak para dewa. Mereka pembuat api, mereka adalah para dewa!

Cerita sama gilanya. Karena entah kenapa peristiwa yang berkaitan dengan makhluk hidup selalu terjadi dengan cara berbeda. Hebat sekali Jack, bisa memasuki dunia binatang seolah ia adalah bagian dari makhluk itu. Merasakan bagaimana kengerian di alam liar, menerornya dalam banyak sergapan. Dan inilah epitaph dari seekor enjing yang mati di jalur Northland – lebih singkat dari epitaph anjing-anjing lainnya, dari epitaph seorang manusia. Pengalamannya di Klondike, Yakon yang dingin jelas adalah inspirasi dari trilogi ini, satu lagi buku Martin Eden jelas dalam pemburuanku. Melihat banyak pemburuan mangsa dan mulai ikut ambil bagian.

Kisahnya tentang anjing blesteran serigala. Ayahnya seekor serigala, memang, ibunya seekor anjing, tapi bukankah abang White Fang mengikatnya di hutan selama tiga malam pada musim kawin? Ya, ceritanya panjang berliku. Kita dirunut dari orang tua White Fang, masa kecilnya hingga akhirnya nanti berkeluarga. Runut, tenang, lalu mengganas tak terkendali. Bermula dari perjalanan dua manusia di tengah hutan bersalju dalam kereta yang ditarik enam anjing. Mereka ada perjalanan membawa mayat dalam peti Lord Alfred, perjalanan sulit itu berakhir bencana. “Pemakaman jarak jauh adalah sesuatu yang tak sanggup kita dapatkan.” Satu persatu anjing penariknya tewas diterkam, serigala liar. Pertama Fatty, lalu Frog, berikutnya Spanker, lalu Bill bersumpah. “Terkutuklah jika aku melakukannya. Aku sudah bilang tak akan minum kopi kalau ada satu ekor anjing yang menghilang lagi, dan aku tak akan melakukannya.” Apakah terhenti? Tidak, perjalanan ke Fort McGurry masih panjang. Anjing keempat dan pada akhirnya pada kedua manusia itu terhempas, tersudut menanti maut. “Aku pernah dengar para pelaut membicarakan ikan hiu yang mengitari sebuah kapal. Serigala adalah hiu darat. Mereka lebih memahami urusan mereka dan mereka bukan mengikuti kita demi alasan kesehatan. Mereka akan membunuh kita. Mereka pasti akan membunuh kita.”

Berikutnya kita fokus pada binatang penarik segala bencana ini, serigala betina penggoda. Kalau ini digambarkan manusia, pastinya sangat cantik sampai menjadikan pertarungan pertaruhan demi menjadi pasangannya. Serigala liar itu saling bunuh dan bantai demi cinta serigala jelita ini, dari kawanan ini pada akhirnya yang tersisa hanya empat ekor, serigala betina, pemimpin muda, si mata satu dan serigala berumur tiga tahun yang ambisius. Saya sempat meprediksi bakalan menjadi pasangan muda, tapi ternyata tidak. Jack dengan berani mematikan mereka yang ambisius dan kokoh, yang menjadi pemenang adalah One Eye yang tua dan terluka. Karena ini adalah pencitraan alam liar, tragedi seks dunia alami yang hanya menjadi tragedi bagi mereka yang mati. Bagi mereka yang tidak mati, ini bukan tragedi, melainkan kesadaran dna pencapaian. Mereka menjalin cinta di tepian Mackenzie River, memadu kasih dan memiliki lima bayi serigala yang dirawat di gua. Nah disinilah sisi hebat buku ini, filosofis dan sungguh hebat kata demi kata yang disaji. Bukan pertama kalinya hal semacam ini terjadi dalam hidupnya yang panjang dan sukses. Ini sudah sering kali terjadi, tapi setiap kali selalu terasa mengejutkan baginya.

Jack dengan jeli menanamkan diri dalam bayi abu-abu serigala, bagaimana ia membuka mata, kelaparan menanti ibunya untuk memberi susu atau gumpalan daging lembut. Sisi manusiawi yang tersentuh dalam kaca mata bayi binatang. Menghilang di balik dinding merupakan keistimewaan ayahnya, seperti susu dan daging setengah cerna yang menjadi keistimewaan ibunya. Cahaya menarik mereka seakan-akan mereka tanaman, reaksi kimia kehidupan yang membentuk mereka menuntut cahaya sebagai sebuah kebutuhan hidup, dan secara kimiawi tubuh kecil mereka merangkak tanpa melihat. Yang terkuatlah yang bisa bertahan di kerasnya hidup, empat saudara abu-abu meninggal. Ia mendapati populasi dunianya sudah berkurang. Hanya tersisa satu saudara perempuannya. Saudarinya terus tidur, jerangkong kurus berbalut kulit yang nyala apinya semakin lemah, lemah dan akhirnya padam. Dan bayi serigala ini mencoba mencari jawab terhadap ‘sebuah dinding putih’ yang di sini adalah pintu tempat tinggalnya. Ia tidak tahu apapun mengenai konsep pintu. Ia tidak mengenal tempat lain, apalagi cara mencapainya. Jadi baginya pintu masuk gua adalah sebuah dinding – dinding cahaya. Dinding melompat di depan matanya. Ia menduga dirinya dalam dinding.

Bayi abu-abu belajar di dunia luar sendirian setelah lapar menyergap dan orang tua mereka tak kunjung datang. Menyaksikan arti bertahan hidup di sekeliling. Lynx dan landak sama-sama menunggu, masing-masing bertekad untuk hidup. Dan itulah sisi menarik dari permainan ini, jalan hidup satu makhluk bergantung memakan makhluk lain, dan jalan hidup makhluk satunya bergantung dengan tidak dimakan. Rasa takut! Tahukah kau, mereka sudah yakin mengenai kita. Sementara itu, mereka bersedia memakan apa pun yang bisa mereka temukan dan makan. Warisan alam liar yang tidak bisa dihindari maupun ditukar dengan makanan oleh hewan mana pun. Ada adegan unik, saat sang serigala muda ketakutan akan serangan elang. Dan tahulah kalian secara harfiah, ini adalah derby Roma. Elang memang terlalu perkasa, mengintai di udara, menerkam segala yang bisa dimakan di darat, serigala terbirit-birit. Ia tidak pernah merasakan sakit terjatuh, ia tak tahu apa itu jatuh. “Hewan itu tahu lebih banyak dari yang seharusnya diketahui oleh seekor serigala penuh harga diri.”

Didikan alam liar menjadikan bayi abu-abu kuat, adaptifnya yang cepat juga menempanya menjadi serigala pemburu yang tak kenal ampun. Ia menjadi kuat karena pernah tahu dirinya terancam hewan lain sehingga tahu apa itu mangsa. Tubuhnya yang mengagumkan ini, kulit yang hidup ini tidak lebih dari seonggok daging, sebuah pemburuan hewan-hewan lapar, yang akan dicabik dan disayat oleh taring-taring lapar, dijadikan makanan bagaikan rusa dan kelinci yang sering kali menjadi makanan mereka. Ia memiliki kekuatan alam. Rasa takut luar biasa menderanya, ini dunia asing yang mengerikan. Karena sesuatu yang asing merupakan elemen utama yang menyebabkan rasa takut. Pertumbuhan adalah kehidupan, kehidupan selamanya ditakdirkan untuk cahaya. Cahaya ya cahaya itu adalah kehidupan di luar gua, di alam liar, di dunia ini. Ia juga dibuat pening oleh perluasan ruang yang mendadak dan luar biasa ini. Sehingga ia mengenal rasa sakit, dan yang paling penting, ia belajar cara menghindari rasa sakit, pertama-tama dengan tidak megambil risiko akan sesuatu yang sakit. Ia mendapati dirinya menjadi seorang petualang di sebuah dunia yang benar-benar baru.

Di dunia ini tidak semuanya bebas, bahwa di dalam hidup ada batasan dan kekangan. Seluruh batasan dan kekangan ini merupakan aturan, mematuhi aturan itu merupakan jalan untuk menghindari rasa sakit dan jalan untuk mendapat kebebasan.

Bayi abu-abu tahu rasanya sakit saat ayahnya tak terlihat lagi beberapa lagi, tak kembali memberinya makan. Di tepi sungai dan sekelilingnya menjadi tempat bermain dan mencari mangsa. Alam liar tetaplah alam liar, dan ibu adalah ibu, selalu sangat protektif, entah di alam liar atau bukan. Ibunya tetap menjaga, tapi sampai kapan? Karena musim berganti, masa sulit datang dan pergi. Maka bayi abu-abu belajar mandiri. Ia baru saja menghancurkan beberapa makhluk hidup kecil. Sekarang ia akan memusnahkan makhluk hidup besar. Waktu demi waktu menjadikan pengalaman berharga. Ia terlalu sibuk dan bahagia untuk menyadari ia bahagia. Tujuan kehidupan adalah daging, kehidupan itu sendiri adalah daging. Kehidupan hidup dari kehidupan. Ada pemangsa dan mangsa, aturan adalah makan atau dimakan. Baginya kematian adalah rasa sakit yang paling hebat. Kematian adalah inti dunia asing gabungan seluruh teror dunia asing, satu-satunya bencana tak terduga dan tertinggi yang terjadi padanya. Hantu penasaran dari kebaikan dan kekuasaan yang diimpikan, potongan jiwa ke alam arwah.

Benar-benar filosofis kehidupan. Apa bedanya dengan manusia? Mencoba bertahan hidup di tengah pencakar langit yang sombong menjulang. Nah, sehalanya berubah ketika si abu-abu beranjak dewasa dan menemukan manusia. Rombongan manusia, asing dan tampak sangat berbeda dengan makhluk lain. Kekuasaan mereka akan benda-benda mati, kemampuan mereka untuk mengubah wajah dunia. Abu-abu lalu takluk oleh mereka, mengikuti hidup dalam perkemahan, merelakan kebebasannya dengan mau diikat.

Dan disinilah akhirnya kita tahu asal judul buku ini. White Fang – taring putih, bos pertama mereka memberi nama. Perubahan besar ini membuatnya dilema. Rasa penasaran pertumbuhan yang menyemangatinya – kebutuhan untuk belajar, hidup, dan melakukan sesuatu yang menghasilkan pengalaman. Dan dalam perkumpulan perkemahan ini, ia mengenal anjing lain. Lip-lip yang sombong dan seolah pemimpin binatang warga. Ini adalah perkelahian pertama dari banyak perkelahian yang dilakukan dnegan Lip-Lip, karena mereka musuh sejak awal, terlahir seperti itu, dengan sifat-sifat yang ditakdirkan untuk saling selalu bertentangan. White Fang sempat ingin kabur. Ia rindu pada rumah. Berlari kencang, menyongsong gua tepi sungai tapi ternyata sifat alami tunduk pada dewa mengantarnya mengikuti jejak langkah perkemahan. Desakan insting-insting sama yang membuatnya melolong pada bulan dan bintang di malam hari, dan membuatnya takut pada kematian dan dunia asing.

Begitu banyak hewan-manusia, pria, wanita, dan anak-anak semuanya mengeluarkan suara dan mengesalkan. Tidak dibutuhkan keimanan besar untuk mempercayai dewa semacam itu, tidak ada tekad kuat yang sanggup menyebabkan keingkaran terhadap dewa semacam itu. Tidak ada cara menghindarinya. Saat mengetahui ibunya sudah berubah, saat itu juga White Fang harus kuat. Hidupnya kini di tangan para dewa, dari satu tangan ke tangan lain, dari perkelahian satu ke perkelahian lain. Seekor anjing lengah, yang pundaknya tercabik atau telinganya robek sebelum ia menyadari apa yang terjadi, adalah anjing yang sudah separuh terkalahkan. Sebelum mengenal para dewa, Kiche adalah pusat semesta baginya. Dan sifat-sifat manusia yang berbeda tipa individu menghasilkan cinta benci yang tarik ulur. Sebenarnya ini merupakan kompensasi, karena selalu lebih mudah untuk bergantung kepada orang lain daripada berdiri sendiri.

Lempung White Fang sudah dibentuk hingga ia menjadi dirinya yang sekarang, pemurung dan kesepian, tidak penyayang dan galak, musuh bagi semua kaumnya. Sekolah kehidupannya lebih tangguh dan ia sendiri lebih tangguh. Vitalitasnya terlalu besar, cengkramannya pada kehidupan terlalu kuat. Dan pada akhirnya White Fang menemukan cinta, seorang manusia memberinya perlindungan, memberikan pelukan sayang dan makanan yang mencipta timbal balik. Endingnya seolah adalah cerita awal The Call, terlalu manis dan sempurna. Apa yang kamu tanam ya kamu tuai. Hidup serigala yang keras dan liar kini tenang dalam peluk dekap para dewa yang mencintainya.

Dengan resiko apapun harus tetap bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. Ia berlari sepanjang hari. Ia tidak beristirahat seakan-akan ia diciptakan untuk berlari selamanya. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.

White Fang | By Jack London | Diterjemahkan dari The Project Ebook of White Fang, by Jack London | Release date: March 16, 2005 [ebook #910] | [Last update: March 2, 2011] | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Jia Effendie | Proofreader Bernard Batubara | Desain sampul Amanta Nathania | Penataletak Landi A. Handwiko | Penerbit GagasMedia | Cetakan pertama, 2014 | vi + 330 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 979-780-700-2 | Skor: 5/5

Karawang, 120319 – Nikita Willy – Ku Tetap Menanti

*) Dibaca dalam sekali waktu dari siang sampai malam minggu pada tanggal 23 Feb 19 di lantai satu Blok H-279 bersama dua cangkir kopi serta deretan Jazz, menikmati hidup. Hanya tersela ibadah dan panggilan pulang Hermione untuk bergegas keburu es krim di rumah meleleh.