Around The World In Eighty Days – Jules Verne

Sapi-sapi menghentikan kereta, dan berjalan beriring-iringan, seolah mereka tak merasa telah menghambat perjalanan. Parbleu! Apakah Fogg sudah memperkirakan kecelakaan ini dalam rencananya.

Novel pertama dari Penulis legendaris Jules Verne yang kubaca. Dijuluki sebagai Father of Science Fiction. Kemasyurannya tentu saja sudah akrab di telinga literasi, sudah lama ingin menikmatinya. Suatu saat pasti kubaca juga dua novel lain yang legendaris Journey to the Center of the Earth (1864) dan Twenty Thousand Leagues Under The Sea (1870). Jules Gabriel Verne (8 Februari 1823 – 24 Maret 1905) adalah seorang novelis kelahiran Nantes, kisah ini bermula di London, bukan Prancis.

Kesempatan baca akhirnya tiba saat ke Bus Taka Taman Kota Galuh Mas menemukan novel ini, kubaca cepat dengan dramatis saat Senin (11/02/19) pulang kerja hujan lebat, kawasan Surya Cipta mencipta genangan di pintu keluar sehingga sembari menanti reda saya baca di kantor sampai tuntas. Sungguh menyenangkan melahap buku keren di tengah hujan dengan segelas kopi.

Ceritanya tentang seorang rumahan yang perfeksionis, pendiam dan penyendiri. Phileas Fogg adalah seorang anggota dari kelompok pembaruan, dah hanya itu. Kumpul sama teman-temannya di klub reformis, main kartu sekedar main kartu bukan sebagai obsesi, Tuan Fogg bermain bukan untuk menang tapi sekedar bermain semata. Baginya, permainan adalah sebuah kontes, sebuah perjuangan, sebuah rintangan, namun perjuangan yang minim gerakan dan tak harus bersusah payah. Sesuai dengan seleranya. Diskusi dan ngopi sama rekan sejawat ini akhirnya sampai pada debat tentang sebuah Koran yang memuat berita analisis perjalanan mengelilingi dunia yang mungkin bisa dilakukan dalam 80 hari. Dalam 80 hari perhitungan menurut The Daily Telegraph: London ke Suez melalui Mont Cenis dan Brindisi, dengan kapal uap (7 hari). Suez ke Bombay, dengan kereta api (13’). Bombay ke Calcuta, kereta (3’). Calcuta ke Hongkong, kereta (3’). Hongkong ke Yokohama, kapal api (6’). Yokohama ke San Fransisco, kapal api (6’). San Fransisco ke New York, kereta (7’). New York ke London, kapal api dan kereta (9’). Totalnya 80 hari. Teman-temannya nyeletuk itu ora mungkin Lik, Fogg yakin bisa. Dan malam itu juga mereka bertaruh. “Aku akan bertaruh 4000 pound bahwa perjalanan seperti ini mustahil.” Kata mereka, uang disatukan dan Fogg komit. Hari itu hari Rabu, 2 Oktober akan berangkat dari London pada ruangan di perkumpulan pembaharuan, di hari Sabtu, 21 Desember pukul 8.45, jika tidak uang 20.000 pound akan melayang. Pria Inggris tak kan bercanda ketika dia membicarakan hal-hal serius yang dijadikan taruhan. Deal!

Di hari itu kebetulan Fogg mempekerjakan pelayan baru asal Prancis. Dia orang Prancis, dan orang Prancis suka sekali mengobrol. Passepartout yang juga tak gaul, menilai tuannya adalah sosok tenang. Betapa sederhananya pria ini. Ia adalah manusia mesin yang asli. Setidaknya aku tak merasa keberatan melayani mesin. Jadi betapa terkejutnya malam itu, ia pulang cepat dan memberi perintah tak terduga. “Kita tak butuh kopor. Hanya tas karpet dengan dua pakaian atas dan tiga pasang kaus kaki untukku dan untukmu hal serupa.” Malam itu juga mereka ke stasiun untuk memulai perjalanan panjang, seolah tanpa persiapan matang, hanya tas berisi pakaian dan uang. Berangkat dalam kereta di gerbong kelas pertama jam 8:40, lima menit kemudian peluit berbunyi dan perlahan-lahan kereta mulai meninggalkan stasiun. Just in time!

Passepartout yang shock sampai lupa mematikan kompor, haha, lucu sekali ini pelayan. Padahal dia adalah orang rumahan hingga saat ini. Segalanya tergesa, sang pelayan bersikukuh jamnya tak perlu menyesuaikan wilayah, padahal mereka berjalan ke arah Timur sehingga seharusnya mundur menitnya. Jam ini tak akan cocok dengan matahari. Malang sekali si matahari. Seharusnya jam itu diatur setiap bujur baru, karena jarum terus menuju ke arah barat yang merupakan arah yang berhadapan dengan arah matahari, sehingga hari menjadi lebih pendek empat menit di setiap derajat.
Secara bersamaan ada kasus perampokan bank dengan nilai luar biasa besar. Pihak bank memberi pengumuman bagi mereka sangat bersemangat untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan senilai dua ribu pound, dan 5% dari jumlah barang rampokan yang ditemukan. Perampok yang hebat selalu mirip dengan orang jujur. Seorang detektif swasta bernama Fix mencurigai Fogg-lah perampoknya, perjalanan keliling dunia ini hanya alibi guna melarikan diri. Maka ia pun mengejar, naik kapal dan kereta demi menangkap Fogg sembari menunggu surat penangkapan yang akan dikirim ke kantor polisi di tiap wilayah yang mereka datangi. Bumi telah mengecil sejak manusia dapat mengelilinginya 10 kali lebih cepat dari seratus tahun yang lalu.

Perjalanan ini menuai banyak argumen di media massa, banyak taruhan beredar, dapatkan Fogg melakukannya? Awalnya banyak yang optimis, tapi lambat laun menurun. Lord Albemarle, seorang bangsawan tua yang lumpuh, satu-satunya pendukung Fogg. “Jika suatu hal mudah dikerjakan, pertama kali yang harus dilakukan adalah menjadi orang Inggris.” Perjalanan ke Timur ini sungguh seru sekali. Ada saja hambatan yang diluar logika tercipta.

Ketika di India, naik kereta, relnya belum sepenuhnya jadi sehingga harus sewa gajah. Eh ralat, beli gajah! Gajah Kiouni lalu mencari pawang berkenalan dengan Kholby. Eh di tengah hutan ketemu suku pedalaman yang aneh. Melewati ahli sihir, mengiringinya dengan teriakan liar dan agamis mereka. Feringhea, pemimpin Thuggee dan juga raja pencekik yang memegang kekuasaan. Mencekik korban demi menghormati Dewi Kematian, tanpa mengucurkan darah. Pandangan mereka mengenai adanya keberadaan makhluk yang menyeramkan membuat orang-orang malang ini memilih berkorban lebih dari cinta atau fanatisme agama. Upacara yang mengerikan akan tersaji di mana seorang wanita akan dikorbankan. Logikanya Fogg cuek saja melanjutkan perjalanan, tapi tidak. Nuraninya terketuk, rombongan ini menjalankan misi penyelamatan! “Astaga, kau lelaki yang memiliki belas kasihan.” Seluruh distrik utara Vindhia adalah teater pembunuhan dan perampasan tak ada hentinya. Ada tempat suci yang dibangun di antara dua sungai suci: Gangga dan Jumna. Diluar duga mereka ditangkap karena masalah yang ‘sepele’ di Pagoda Pillaji. Polisi adalah representasi hukum, dan hukum sangat sakral di Inggris.

Saya tak perlu menjelaskan proses penyelamatan aneh ini, yang pasti rombongan ini bertambah satu dengan bergabungnya Aouda, ia bisa memilih kehendak sendiri. Pulau di Singapura tidak begitu mengagumkan, di sana tidak ada gunung-gunung, tetapi bukan berarti tidak ada pertunjukan. Sesampai di Hongkong, kendala lain datang. Fix yang menyamar selama ini jua bergabung seolah hanya pelancong, tapi Passepartout malah membuat kesalahan karena mabuk sehingga saat kapal sewa berangkat ia ditinggal. Hanya keajaiban yang membuatnya kembali bertemu di Shanghai. Berikutnya, Pass yang tahu kebusukan Fix membuat cek cok, tapi tetap perjalanan terus harus gerak sehingga mereka melanjutkan ke Nagasaki dan Yokohama.

Yang sulit adalah bagaimana cara menyeberangi samudra Pasifik yang membentang empat ribu tujuh ratus mil antara Jepang dan Dunia Baru. Pasifik hampir menyerupai namanya ‘tenang’. Toh akhirnya mereka menginjakkan kaki di San Fransisco. Dari ujung Barat ke Timur, melintasi banyak Negara bagian Amerika menuju New York, disinipun banyak keseruan dilibatkan. Ada Kontes kampanye politik antara Camerfield dan Mandiboy. Membuat masalah dengan seseorang sehingga di atas laju kereta api mereka berniat berduel, dramatis sekali terjadi pembajakan kereta oleh Suku Sioux. Pertempuran seru bak film action koboi klasik, yang sedihnya membuat Pass tertangkap. Saat di stasiun Fort Kearney, Fogg membuat keputusan berani. Melakukan misi penyelamatan tiga orang yang disandera suku Sioux. Bersama kapten Protocor dan delapan puluh pasukan mereka menghadang maut. Gagasan tuannya membuatnya bahagia, dia merasakn cinta, sebuah jiwa. Penampilan luar yang dingin. Dia mulai menyukai Fogg.

Saat akhirnya sampai New York, mereka ketinggalan tiga jam saat kapal yang menuju Inggris ternyata sudah berlayar. Namun tak mau menyerah Fogg mencari kapal sewa untuk mengarungi samudra. Ada seorang nahkoda yang berniat ke Prancis, disewa jua dengan mahal dan terpaksa tapi ternyata Fogg dengan berani merampas! Kapal senilai lima puluh ribu dolar dan dibeli enam ribu dolar untuk dibakar! Kapten Speedy yang terkejut. Dan segala rupa ini pada akhirnya berlabuh di Liverpool. Pertanyaannya tentu bukan bisakah mereka mengelilingi dunia, karena dengan penjelasanku bahwa berangkat dari London dan berakhir di Liverpool dengan rute ke Timur saja sudah pasti bisa, pertanyaannya adalah apakah bisa dalam 80 hari sesuai kesepakatan klub Reformis? Nah, kalian akan terhenyak sekali lagi saat Pass yang kecewa, Fix yang berengsek, Aouda yang menangis, dan Fogg yang pasrah menemukan fakta mengejutkan! Bagaimana jika Fix memiliki surat penahanan atas dirinya di saku, sangat kagum olehnya. Pastinya dia bukan siapa-siapa melainkan hanya keledai bodoh.

Ceritanya mungkin tertebak, tapi jelas cara penyampaian, konflik yang dihadirkan, pemecahan masalah yang tak lazim sekaligus luar biasa, sampai sekat-sekat masalah yang diterjang benar-benar memukau. Hebat, adalah kata pertama yang kulontarkan sesuai baca. Saya baca dalam tiga hari. Selesai baca semalam saat hujan lebat menerjang Karawang Timur pas jam pulang kerja, sehingga memaksa tertahan di kantor sampai selepas isya. Menyenangkan sekali membaca buku bagus. Terbitan Narasi, perlu banyak koreksi. Typo banyak sekali ditemukan, hingga ratusan kali ada. Sayang sekali, buku bagus diterjemahkan dengan kurang bagus.
Tak ada yang bisa kita lakukan selain pergi dari sini!”

Bayangan besar, didahului dengan sinar terang perlahan maju melintasi kabut yang memberi kesan fantastis. Jelas saya terkesan, ide mengelilingi dunia di abad 19 di mana alat transportasi belum secanggih kini sungguh brilian dan berani. Bukan sekedar jalan-jalan, bukan ala back packer yang suka selfie dan pamer gaya, Around The World adalah representasi nyata petualangan tanpa bumbu fiksi imajinasi. Segalanya tampak asli dan menantang.

Ditambah nilai kemanusiaan, hubungan erat tuan dan pelayan serta bagaimana sebuah harga diri dipertaruhkan. Sempurna sudah.

80 Hari Keliling Dunia | By Jules Verne | copyright 1873 | Diterjemahkan dari Around The World In Eighty Days | Penerbit Narasi | Penerjemah Denna Fanhmi S dkk. | Penyunting Nina Artanti R. | Desain sampul Ema Avianti | Cetakan pertama , 2018 | 325 hlm.; 11.5 x 18.5 cm | ISBN 979-168-522-3 | ISBN 978-979-168-522-1 | Skor: 5/5

Karawang, 120219 –– Benny Goodman & His Orchestra – King Porter Stomp
Thx to Bus Taka Galuh Mas, Karawang

Iklan

Sesat Pikir Para Binatang – Triyanto Triwikromo

Benarkan kita hanya binatang yang terus-menerus berikhtiar menjadi manusia, Veva?

Semua manusia menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan yang keliru. Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya dimiliki Tuhan. Karena itu aku tak mau berdebat soal otak lagi.” | “Kau mau mengajakku berdebat soal angin?” | Aku menggeleng, “Aku ingin mengajakmu berdebat tentang maling.”

#1. Setelah Pembunuhan Pertama
Ketika cerita dibuka, hal pertama yang terlintas adalah Orang Aneh-nya Albert Camus karena kuncinya jelas: pembunuhan, pantai, Aljazair, pisau. Kisahnya merentang, dari pembunuhan pertama yang berawal dari taruhan, petualang ke negeri asing, kejahatn demi kejahatan, sampai akhirnya identitas diungkap. “Apakah para pembunuh tidak memiliki agama sehingga mereka tidak punya belas kasih?

#2. Lembah Kematian Ibu
Ironi seorang ibu. Perceraian yang merenggut ketiga anaknya dari dekap karena dibawa mantan suaminya, dan bagaimana ia bertahan hidup dengan ‘anak-anak’ yang lain. Sampai akhirnya tanda-tanda kegilaan muncul. Rob mungkin mulai mengirim sihir busuk. Bagaimana kucing-kucing ini bisa berbicara jika tak ada cenayang yang menyusupkan suara Rob ke taring-taring runcing? Segeralah temukan kisah-kisah para martir Tuhan yang lebih tersiksa daripada kamu. Rasakan luka Kristus, pahami derita Musa. Setelah itu, asuhlah kucing ini sebagaimana kau mengasuh anak-anakmu. “Hanya iblis yang memisahkan aku dari kalian. Hanya iblis yang tak memberi kesempatan seorang ibu untuk mengasuh anak-anaknya…”

#3. Cahaya Sunyi Ibu
Ini adalah salah satu yang terbaik. Respon manusia saat menghadapi masa tua, imaji yang melambung dan keturunannya yang sibuk melawan waktu. Sang ibu yang dirawat di panti wreda Glendale berteman dengan Caroline dan pengaruhnya membentuk semacam konspirasi rumit, entah siapa yang salah segalanya tumpang tindih dan beberapa fakta tetap disembunyikan. “Kalau Caroline mati, pasti tak lama lagi aku juga mati.”

#4. Sihir Suresh
Seorang novelis sedang menggali ide, sedang mengembangkan cerita tentang pembunuhan Gina. Namun ternyata penyelidikan lebih lanjut tak seperti yang tampak kulitnya, karena beberapa lapis kejahatan malah membuat benang makin kusut, seakan kesaksian demi kesaksian itu bualan belaka. Ayu balik diteror, beranikah tetap menerbitkannya? “Dan kau percaya pada apapun yang ia katakan?”

#5. Tak Ada Eve di Champ-Elysees
Paris yang menawan, menawarkan kepahitan kisah manifesto seorang wanita yang ingin sebelum mati mandi parfum dalam bath tub. Sang aku adalah pasangannya, Nicole ingin mengadopsi bayi dan alasan-alasan mengapa hal itu harus terwujud. Gabriel yang malang. “… tubuhku akan selalu wangi jika kau segera memberiku momongan..”

#6. Bunga Lili di Tenda Pengungsi
Manusia unggul kau tahu, adalah manusia bebas. Keinginan membakar sebuah kamp pengungsian menjadi perdebatan eksistensi manusia. Sentimen ras, budaya, agama dan dogma manusia unggul. Adois yang keras, seorang nasional sejati Jerman yang menolak imigran. “Keluarga kita dikutuk untuk mahir mengendus bau kematian pasangan hidupnya…”

#7. Cara Bodoh Mengolok-Olok Quentin Tarantino
Ini cerpen terburuk dalam daftar. Sekalipun hanya komedi, Tarantino jelas seorang sutradara dan penulis skenario jempolan, tak etis mengolok sekalipun secara bodoh. Sungguh tak selaiknya diplesetkan gini. Ga tega baca tiap bab-nya, permulaannya sungguh busuk. Terjemahan atau saduran selalu lebih buruk dari karya asli. Akan tetapi percayalah, kalimat-kalimat yang kususun akan lebih baik karena pengalaman mengajarkan bahwa menterjemahkan dan menyadur karya buruk justru bisa menghasilkan karya cemerlang. “Kau menelponku dari neraka?”

#8. Semacam Gangguan Kecil pada Tawa Tuhan
Kalau sebelumnya yang dipleset adalah film, kali ini karya sastra. Sama ga sukanya. Jika kau menganggap cerita-cerita mapan itu merupakan perwujudan ketegangan manusia untuk meraih simpati Tuhan, kau boleh menyebut kisah-kisah yang kutulis sebagai semacam gangguan kecil pada tawa Tuhan. Dari Milan Kundera, Nietzsche, Akutagawa sampai Burges. “Karena kau – dan seluruh manusia masa kini – hanya mahir berpaling pada persoalan. Berpaling menjadi kata kunci seluruh tindakan. Dan ini, kau tahu Zarathustra, adalah tindakan para pengecut.”Nietzsche.

#9. Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain Yang Dibakar Oleh Polisi Agama
Kalau ini tentang buku-buku yang dibakar atau di mata mereka adalah buku-buku berbahaya. Saya sih menyebut tulisan ke-9 ini sebagai esai bukan cerpen. Dengan mencari. Dengan mencariku, pada saat sama dia sesungguhnya menemukan hal-hal paling tidak dipercaya, tidak mungkin digapai, tetapi meringankan kehidupan, dan menyembuhkan. Ini memang semacam pandangan Triyanto terhadap tindakan pemerintah dalam kasus pembakaran buku “… aku hanya tertarik pada kemampuan mencintai dunia, bukan menistakannya, bukan membencinya dan diriku, mampu memandangnya… dengan cinta dan ketakjuban dan penghormatan tertinggi…

#10. Samin Kembar
Pada tanggal 7 Februari 1907 Samin Surosentiko ditangkap lalu diasingkan oleh kompeni ke Sawahlunto, Padang. Dengan sudut pandang sang asisten Residen Blora, Aku bercerita keajaiban yang terjadi karena suatu malam sang aku didatangi Samin dan bercerita bahwa kompeni tak kan bisa menangkapnya. Kejutan manis di akhir ala detektif, sungguh asyik. “Kepalaku adalah rumahku. Pesantrenku, pesantren untuk badanku sendiri, berada di Kalang. Aku bertetangga dengan hujan. Aku sering bercakap-cakap dengan sungai.”

#11. Penguburan Kembali Sitaresmi
50 tahun tak bicara, akhirnya sang aku berani mengungkap fakta tragedi pembunuhan di Bukit Mangkang. “Apakah salah percaya pada hal-hal menakjubkan? Bukankah kisah-kisha para nabi di kitab-kitab suci juga menakjubkan?” Nah begitulah, 23 perempuan yang tewas penuh desus yang menguar itu dibuka. Lalu ia pun kembali membisu… “Siapapun akan menganggap ceritamu berlebihan.”

#12. Serigala di Kelas Almira
Di kelas IV Sekolah Dasar Merah Putih menjadi riuh karena lolongan berkali-kali memanggil arwah leluhur. Mereka sedang memainkan semacam drama sandiwara, Bu Prita sang guru mengajar bernyanyi dan gerak aneh delapan murid istimewanya. Dan kali ini desis dan lolong Almira sebagai serigala yang mengejar Selma menjadi benar-benar membuas. “Ceritakan pada kami, segala yang kau ketahui dalam mimpimu, sayang.”

#13. Jalan Bahagia Para Pembunuh Buaya
Saya bekerja di biro jasa pembunuh buaya dan penebar kebahagiaan. Mataratu yang memulai pekerjaan barunya bersama 99 calon lain. Dan histori tahun 1942 bagaimana para gerilyawan bersinggungan dengan 15 buaya paling buas. “Andaikata Anda tak terlalu buas, pada kehidupan berikutnya, saya akan menjadikan Anda sebagai kekasih sepanjang usia. Saya akan terus mencumbu Anda, tanpa jeda.”

#14. Sesat Pikir Para Binatang
Sebagai cerpen yang dipilih sebagai judul buku, cerita penutup ini memang istimewa. Sang Aku bekerja di kebun binatang Halasmon. Jadi penasaran dengan buku ‘Tak Ada Agama Untuk Binatang Pertama’, kutipan absurd ini, “Jika binatang diberi kesempatan memeluk agama, sebaiknya mereka tidak memeluk agama manusia. Agama para binatang – apa pun namanya – mungkin lebih bisa menjadikan hewan-hewan saling mengasihi, tidka baku bunuh dan memuliakan sesama.” Nasehat dan petuah Pak Nuh terus mengalir menjelaskan aturan dasar kebinatangan, dan kesesatan pikir mereka… Terus terang aku bingung apakah sesungguhnya mereka perlu beragama atau tidak ketika sebentar lagi seseorang akan membakar kebun itu dengan tanpa pernah memikirkan agama para hewan dan tumbuhan itu.

Kita baru saja bertemu dan kau tak suka pada pertanyaan yang terdengar seperti olok-olok seorang filsuf. Ini adalah kumpulan cerpen kedua yang kubaca dari Triyanto Triwikromo setelah Celeng Satu Celeng Semua, buku itu kubeli ga sengaja sih, penjual daring temanku yang kuminta masukkan daftar buku apa saja yang di bawah harga 50K, karena budget berlebih. Buku ini kurasa polanya mirip, bila tak mau dibilang sama. Rumit dengan banyak pengandaian, telaah dunia kedua, fabel dengan aturan tak lazim, pemakaian diksi yang benar-benar dipilih dan dipilah, sampai tersusun kalimat yang memang bagus. Beberapa kali baca di Kompas Minggu, dulu sih. Sekarang sudah ga langganan. Yang paling diingat ya Serigala di Kelas Almira, karena kubaca pas pindahan rumah dan Kompasnya kubaca terlambat karena masih dikirim ke rumah orang tua, kalimat ini yang paling mengena, “Hanya dewa matahari yang bisa mengubah serigala menjadi manusia, biarkan hantu-hantu sialan itu keluar dari tubuhnya.”

Ilustrasinya juara. Hebat. Benar-benar dibuat dengan menakjubkan, bagaimana sosok-sosok gaib, binatang fantasi sampai sketsa para manusia berkepala hewan dibuat dengan detail keren. Dengan warna hijau yang dominan. Yang paling bagus memang yang dipilih sebagai kover. Manusia bersayap berbaris membelakangi kita. Selain gambar yang memang unik, tempak ada rahasia yang akan disampaikan. Gambar-gambar ini dibuat oleh R. Kokoh Nugroho, pelukis gambar asal Semarang yang sudah malang melintang di banyak pameran galeri lukis. Beliau adalah pendiri dan pengelola Grup Rumah Pensil.

Entah kenapa saya kurang suka sama cerita yang memplesetkan atau menyadur karya terkemuka favorit kita. Kebetulan saya sudah melahap Kappa jadi sudah tahu kutipan ini dari Akutagawa Ryunosuke,Karena manusia buruk berbiak dan kita, termasuk kalian bangsa kappa, tak bisa membasminya.” Namun untuk buku yang belum kubaca memang jadi membuat penasaran, semisal Serat Bolonggrowong, “Aku tak pernah membaca buku. Setiap yang kau lihat – gerak angin, kelebat anjing, kepak sayap gagak, dan api yang membakar jerami – adalah buku. Paham semua tanda-tanda alam dan zaman lebih berharga daripada pengetahuan dari 1.000 buku.” Jadi memang mengutip karya orang lain berlebih itu tak baik, hanya akan mempesona pembaca yunior.

Hidup ini permainan kecil sebelum mati dalam dekapan maut yang memesona. Aku akan berjuang melawan diriku sendiri. Melawan sesuatu yang sulit dirumuskan sebagai musuh sejati, melawan rahasia Perjuangan adalah mendaki gunung dan kau tak bertanya untuk apa mendaki gunung. Tawamu adalah kuasamu, karena itu tertawalah. Kau boleh tersenyum saat memandang dan merasakan teror Stalin.

Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

Sesat Pikir Para Binatang | Oleh Triyanto Triwikromo | GWI: 571610020 | Editor Cicilia Prima | Desainer sampul Iksaka Banu | Penata isi Lisa Fajar Riana | Pelukis sampul & Ilustrasi isi Kokoh Nugroho | Fotografer lukisan Nugroho Dwi Adiseno | Cetakan pertama, April 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 090219 – Ella Fitzgerald – Indian Summer (live)

The Handmaid’s Tale – Margaret Atwood

Mungkin hidup yang kupikir kujalani ini adalah suatu delusi paranoid. Dalam kesaksian lebih baik mengarang sesuatu daripada bilang tidak punya apa pun untuk dibeberkan.”

Inilah buku yang paling kutunggu di tahun 2018. Isu novel akan diterjemahkan sudah muncul bulan Oktober 2017. Saat itu WAG Bank Buku langsung ramai mengantisipasi. Tahun 2018 awal dalam proses, kiranya akan terbit pertengahan tahun. Mulai hilang rasa sabar untuk rilis tahun itu saat November, karena semakin mundur prosesnya, pihak Penerbit memberi jawab: hati-hati menterjemahkannya agar bagus, dan tak mengecewakan. Saat harapan meredup, akhirnya pada tanggal 28 Desember 2018 akun twitter resmi Gramedia mengumumkan bahwa buku rilis tanggal 31 Desember 2018 bersama Exit West karya Mohsin Hamid dan The Mystery of Three Quarters, buku ketiga Sophie Hannah seri Poirot. Wew, benar-benar di ujung tahun. Saya langsung ke Gramedia Karawang sepulang kerja, saya telurusi rak new release ga nemu, saya search di komputer ga ada. Kecewa. Huhuhu… esoknya di tahun baru saya japri ke akun ig Gramedia Karawang menanyakan, dan ternyata sudah tersedia hari itu. Maka selepas liburan di Wonderland Waterpark Galuh Mas saya mampir untuk beli novel ini (dibanderol 109.000) dan biografi Pelukis Hendra karya Agus Darmawan T (dihargai 95.000). Angka yang cukup untuk mendapat cash back 40.000. Di bulan Januari pula, buku ini kuselesaikan baca di tengah duka dan perenungan. Kami sudah belajar melihat dunia melalui potongan celah-celah.

Kisahnya memang rumit, sedari awal. Setelah opening quote terdiri dari tiga hal, yang memang mewakili dengan pas isi cerita, saya kutip ulang di sini:
#1. Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata Yakub: “Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati.” Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan berkata: “Akulah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” Kata Rahel: “Ini Bilha, budakku perempuan, hampirilah dia, supaya ia melahirkan anak di pengkuanku, dan supaya oleh dia aku pun mempunyai keturunan.” – Kejadian, 30:1-3
#2. Untuk diriku sendiri, setelah lelah selama bertahun-tahun menawarkan pikiran-pikiran kosong, hampa, sia-sia, dan setelah sekian lama putus asa untuk mencapai keberhasilan, untungnya aku mendadak punya proposal ini… – Jonathan Swift, A Modest Proposal
#3. Di padang pasir tak ada papan petunjuk yang bertuliskan, Kau tidak boleh makan batu. – Pepatah Sufi

Seperti judulnya, ini kisah tentang handmaid, para perempuan yang mengenakan gaun merah dan sayap putih. Dengan sudut pandang orang pertama bernama Offred, tapi itu nama baru. Ia punya nama lain yang sekarang tak dipakai oleh siapapun karena itu dilarang. Ia mengatakan pada dirinya sendiri itu tidak penting, namamu seperti nomor teleponmu, berguna bagi orang lain. Termasuk para handmaid lain: Alma, Janine, Dolores, Moira dan June. Sahabatnya. Mereka dikisahkan pasif, dan sangat berhati-hati. Aturan-aturan yang tak pernah diucapkan namun diketahui setiap perempuan: jangan membuka pintu untuk orang yang tak dikenal, bahkan kalau dia mengaku seorang polisi. Peluang mengetahui dunia luar salah satunya dengan belanja. Berbelanja adalah tempat kau mungkin bertemu seseorang yang kaukenal dari masa lalu atau Red Center. Berita sekecil apapun sangat berguna. Kadang-kadang mereka berharap dia menutup mulutnya dan membiarkanku berjalan dengan tenang. Tapi handmaid haus berita, berita apapun; bahkan kalau itu berita palsu, pasti ada maknanya.

Setelah kalimat-kalimat panjang yang membingungkan, akhirnya kita tahu bahwa ini adalah sebuah kisah masa depan yang runtuh. Sebuah Negara yang dikudeta, menata ulang segalanya dari awal. Keadilan dibenamkan ke lumpur terdalam, seolah masa kembali ke era kegelapan. Ketika kami memikirkan masa lalu, hal-hal indahlah yang kami munculkan. Kami ingin percaya bahwa begitulah adanya waktu itu.

Ada bagian yang berulang, seolah karakter bernama Bibi Lydia adalah malaikat pemberi petunjuk yang harus ditaati, dihormati dan pemberi safaat. Beberapa diantaranya: (1). Ada lebih dari satu macam kebebasan kata bibi Lydia, kebebasan untuk melakukan sesuatu dan kebebasan dari sesuatu. (2). Perempuan-perempuan ini bisa saja terbuka, atau tidak sepertinya bisa memilih waktu itu. Kita dulu adalah masyarakat yang sekarat, kata bibi Lydia, karena terlalu banyak pilihan. (3). Bersikap rendah hati berarti tidak menampakkan diri kata bibi Lydia, jangan lupakan itu. Menampakkan diri sama artinya disetubuhi. Kalian para gadis seharusnya suci, tak disetubuhi. (4). Kewajaran, kata bibi Lydia adalah hal-hal yang kau terbiasa. Ini mungkin tak terlihat wajar bagimu sekarang, tapi setelah sekian waktu akan begitu. Ini akan menjadi wajar. (5). Bukan para suami yang harus kalian waspadai, kata bibi Lydia tapi para istri, kalian harus selalu membayangkan perasan mereka. (6). Di dalam kamar mandi, di dalam bak mandi, kau sangat rentan kata bibi Lydia, ia tak bilang terhadap apa. (7). Rambut harus panjang, tanpa ditutupi kata bibi Lydia. (8). Kalau kalian punya banyak barang, kata bibi Lydia kalian terikat pada dunia fana dan melupakan nilai-nilai kerohanian. Kalian harus menghidupkan semangat kemiskinan. Berbahagialah orang yang lemah lembut. (9). Kata bibi Lydia, untuk apa menghantamkan kepala ke tembok? Kadang gambaran yang dia katakana begitu mengerikan. (10). Ini adalah jantung negeri, di sini aku memiliki hidup yang begitu berkecukupan, semoga Tuhan membuat kita bersyukur, kata bibi Lydia. (11). Mereka memberi kami kesempatan untuk membiasakan diri terhadap waktu kosong. Tidur-tidur ayam kata bibi Lydia, dengan gaya seperti malu-malu. Dan seterusnya… di buku ga dijelaskan runut seperti ini, terserak dan dituturkan bagian demi bagian, sungguh aneh, hal remeh temeh diatur, sabda-sabda tak bertuah. Nantinya di bagian akhir barulah terang, efek melawan aturan ini sungguh mengerikan. Ada hal-hal yang tidak boleh diberitahukan kepadaku, kau lebih baik tidak tahu, hanya itu yang dapat kukatakan.

Pace cerita sangat lambat, hari demi hari yang hampa dan bagaimana cerita mengalir secara tenang. Aku ingin percaya ini suatu kisah yang kuceritakan. Aku perlu percaya itu. Aku harus percaya. Kita adalah orang-orang yang tak masuk koran. Kita dulu tinggal di bagian putih kosong di pinggir koran. Tinggal di sana memberi kita kebebasan lebih. Kita dulu tinggal di jeda antara cerita-cerita. Memang era yang suram, mayat-mayat digantung sebagai wujud intimidasi penguasa terhadap rakyat. Kami memang seharusnya memandanginya: itu gunanya mayat-mayat itu di sini, tergantung di tembok. Mayat-mayat itu tergantung adalah para penjelajah waktu, manusia-manusia yang menyalahi zaman. Mereka datang kemari dari masa lalu. Karena aku menceritakan ini kepadamu, aku menciptakan keberadaanmu. Aku bercerita maka kau ada.

Sebagian disampaikan dengan puitis. Bulan adalah batu dan langit ini penuh dengan benda-benda yang mematikan, tapi demi Tuhan betapa indah pemandangannya. Pengetahuan adalah percobaan. Mungkin aku tidak benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin sebaiknya aku tidak tahu. Mungkin aku tidak sanggup untuk tahu. Kajatuhan pertama manusia dalam dosa adalah kejatuhan dari kemurnian ke dalam pengetahuan. Cerita satu arah seperti ini memang lebih mendalam menggunakan ‘keakuan’, karena seolah sang pencerita mendongengkannya kepada pembaca. Kau tidak menceritakan suatu kisah hanya untuk dirimu. Selalu ada orang lain.
Setiap bab, kita ditunjukkan penutup malam. Malam hari adalah milikku sendiri untuk dipakai semauku asalkan kau tak bersuara. Asalkan kau tak bergerak. Asalkan aku tiduran diam. Namun ga setenang itu, karena sutau malam sang Komandan mengundang ke kamarnya, untuk bermain kartu. Kesenangan masa lalu yang exclusive. Sesuatu itu berharga hanya karena menjadi langka dan sulit didapatkan. Termasuk pamer, barang-barang yang di masa normal biasa saja, di era itu jadi begitu menawan. Alkitab itu alat yang berbahaya: siapa yang tahu apa yang akan kami lakukan dengannya kalau sampai jatuh di tangan kami? Kami boleh mendengarkan sang Komandan membacakannya pada kami, tapi kami tak boleh membacanya. Kita bukan di posisi untuk bertanya mengapa. Aku tetap bertanya demi ritual kesopanan.

‘Kesenangan’ itu jelas terlarang. Tuhan bukan satu-satunya pihak yang tahu, jadi mungkin ada cara untuk mencari tahu. Aku harus ingat, baginya aku hanya keinginan sesaat. Dan kesempatan membaca buku-buku lama yang dulu dimusnahkan. Setiap melihat peluang menikmati buku, ia berusaha sekuat tenaga mengingat. Siapa yang bisa mengingat rasa sakit begitu rasa itu telah hilang? Yang tersisa darinya hanyalah bayang-bayang, bahkan tidak di dalam pikiran tetapi di dalam daging. Rasa sakit menaruh tandanya padamu, tetapi tanda itu terlalu dalam untuk dilihat. Tak terlihat, tak terpikirkan. Ada kalimat yang menjadikan penasaran: Sum es est, sum us estis sunt. Nolite te bastardes carborundorum. Sang Komandan dengan enteng bilang artinya, “Jangan biarkan para bajingan itu menindasmu.” Ironis bukan? Dan dengan masam kita dipaksa senyum. Ia diam seribu bahasa, kesunyian melingkupi. Tapi kadang-kadang diam juga sama berbahayanya. “Ya, kami sangat bahagia.” Gumamku. Aku harus mengatakan sesuatu. Apa lagi yang bisa kukatakan? Bagaimana mungkin kami tahu kami bahagia, bahkan pada waktu itu. Sebab setidaknya kami punya itu, lengan-lengan untuk memeluk. Mencoba memasukkan informasi sebanyak mungkin ke dalam kepalaku sebelum menghadapi masa kelaparan berikutnya. Kalau ini makan, maka akan setara dengan kerakusan mereka yang kelaparan, kalau ini hubungan seksual, makan akan setara dengan hubungan seksual yang cepat dan diam-diam, dilakukan dengan berdiri di suatu gang.

Fakta berikutnya yang bikin trenyuh adalah bahwa para handmaid bertugas melahirkan. Fungsi kami adalah penghasil keturunan: kami bukan selir, geisha, wanita penghibur. Sebaliknya segala sesuatu telah dilakukan untuk mengeluarkan kami dari kategori itu. Kami adalah Rahim dua kaki, itu saja. Wadah-wadah suci, cawan-cawan suci berjalan. Kecemburuan bisa mencelakainya, sebelumnya ada kasus seperti itu, semua anak diinginkan sekarang ini, tapi tidak oleh semua orang. Melahirkan adalah kerja keras, kau seharusnya berkonsentrasi. Bagaimana mungkin aku iri terhadap seorang perempuan yang jelas-jelas mandul dan tidak bahagia? Kau hanya bisa iri terhadap seseorang yang memiliki sesuatu yang menurutmu seharusnya kau miliku juga.

Ini juga tentang kesepian-kesepian. Bicara dengan dinding. Aku akan pura-pura kau bisa mendengarkanku. Tapi percuma, sebab aku tahu kau tidak dapat mendengarkanku. Tidak ada orang yang mati karena kurang bercinta, kita mati karena kurang cinta. Sang Handmaid sering merenungkan masa lalunya menjanjikan bersama sang kekasih. Kini semua sirna. “Jangan sampai aku memergokimu berurusan dalam cinta, tidak ada cinta-cintaan di sini. Jarinya digoyang-goyangkan di hadapan kami, cinta tidak penting.” Apa yang berbahaya di tangan banyak orang, katanya dengan muatan ironi atau tidak, menjadi cukup aman bagi mereka yang motifnya tidak tercela. Kami tidak pernah mengucapkan kata cinta, tidak sekalipun. Itu namanya mencobai nasib; itu namanya asmara, nasib buruk.

Ketika kisah ditarik mundur, kita akhirnya tahu semua ini akibat perebutan kekuasaan. Kebahagiaan kami terbentuk sebagian dari ingatan. Memaafkan juga suatu kekuasaan. Memohon maaf juga suatu kekuasaan, dan tidak memberi atau memberi maaf adalah suatu kekuasaan, mungkin kekuasaan terhebat. Maka otomatis saya menyambungkannya dengan Negara kita yang saat ini jelang Pemilu, bukan hal mustahil bila puncak pimpiman dipegang orang yang salah, Negara bisa runtuh? Masa depan ada di tangan kalian. Di tangan kalian. Tangan-tangan kamilah yang seharusnya berisi, masa depan yang dapat digenggam tapi tak dapat dilihat.

Suka sama karakter Moira yang melawan. Moira selalu lebih logis daripada aku. Tentang kenyataan bahwa dia suami orang, dia bilang aku mencuri wilayah perempuan lain. Sepanjang kisah ia menjadi semacam anomasi para handmaid, nasibnya di akhir juga dijelaskan, yang ternyata tak lebih baik dari mereka. Tinggal aku dan kau yang terpojok, sayang. Dia mengutip ungkapan yang biasa dipakai ibuku, tetapi dia tak bermaksud melucu. Iman hanyalah satu kata yang dibordir.

Dia tidak melakukan apapun dari kemungkinan-kemungkinan itu kuanggap sebagai kemurahhatian serta keberuntungan yang paling menakjubkan. Jelang akhir, ada bagian yang indah terutama saat kisah diputar ulang-ulang dan ulang. Aku menginginkan apa pun yang mematahkan kebosanan ini, mendobrak tatanan yang dianggap pantas. Aku harus percaya dia tahu. Di dalam kondisi serba kekurangan ini kau harus percaya pada segala macam hal. Bukan seperti itu kejadiannya. Lalu bukan seperti itu juga kejadiannya…. Begini kejadiannya. Well, pintar sekali memainkan pola. Fiksi yang melingkupi ketegangan.

Jangan berpikir seperti itu, kalau kau berpikir seperti itu, kau akan membuatnya terjadi. Harapan selalu ada, di tengah ketidakpastian nasib. Mayday. Mayday. Mayday. Itu dari bahasa Prancis berbunyi M’aidez, artinya tolong aku. Kami juga bisa diselamatkan. Seakan kode itu bisa disampaikan menembus langit dan diterima di ujung samudra. Yang harus kuhasilkan adalah sesuatu yang dibuat bukan sesuatu yang dilahirkan.

The Handmaid’s Tale jadi agak personal bagiku, ketika sebuah kenyataan pahit disampaikan. Dari semua mimpi, ini yang terburuk. Saya yang baru kena musibah, sempat tak kuat untuk melanjutkan baca saat sampai di bagian ini. “Pengalaman keduanya, tidak termasuk anaknya sendiri, dulu. Dia pernah keguguran saat hamil delapan bulan...” Menangis dan larut dalam kesedihan. Berita ini terdengar palsu, tidak masuk akal, seperti sesuatu yang kaukatakan di televisi. Aku tidak ingin menceritakan bagian ini. Aku berkata dalam hati bahwa aku terlalu gelisah untuk minum kopi lagi.

Buku yang butuh konsentrasi berlebih untuk menikmatinya. Seperti Never Let Me Go karya Kazuo Ishiguro yang megah dan futuristic, Kisah Sang Handmaid juga rumit dan berliku. Endingnya luar biasa, hukuman mati jadi semacam penghakiman wajar. Ya bisa jadi, kalau aku, aku akan memilih diberi waktu sebelum mati. Dan Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Bagian epilog semestinya ga perlu, jangan menggamblangkan suatu akhir yang indah. Masa lalu adalah kegelapan yang luas dan penuh gema. Suara-suara menggapai kita dari sana, tapi apa yang mereka katakan kepada kita diwarnai oleh ketidakjelasan yang melingkupi tempat asal mereka, dan sekeras apa pun mencoba, kita tidak selalu berhasil mengartikan suara-suara itu dengan tepat menggunakan pemahaman atau cahaya dari masa ini.

Aku ingin melihat apa yang bisa dilihat, melihat dia, mengamati dia, menghafalkan dia, menyimpan dia sehingga aku bisa hidup dari imaji itu nantinya. Kami adu diam selama mungkin. Ya Tuhan, jangan buat aku memilih.

Kisah Sang Handmaid | By Margaret Atwood | copyright O. W. Toad Limited 1985 | Diterjemahkan dari The Handmaid’s Tale | 618186020 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Stafanny Irawan | Editor Hetih Rusli | Sampul Staven Andersen | Pertama terbit Desember 2018 | ISBN 9786020619583 | ISBN Digital 9786020619590 | 448 hlm; 20 cm | Skor: 5/5
Unruk Mary Webster dan Merry Miller

Karawang, 040219 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head