Old Death – Karl May

Orang idiot paling pengecut dapat menjatuhkan seorang raksasa dengan sebutir peluru yang tak lebih besar dari kacang. Itu sebabnya kita harus bertindak cerdas.” Old Death

Catatan ini sebenarnya sudah mulai kusiapkan tanggal 17 Feb untuk pos tanggal spesial 25 Feb di hari lahir sang Penulis, tapi ternyata butuh editing lebih jadinya baru sempat pos hari ini. Pasca lihat Oscar saya bukannya lanjut ngetik malah tidur siang. Hiks, tidur siang pas hari kerja memang nikmat. Cuti yang sejati.

Apakah ada yang memiliki saran? Jika ada yang punya ide, sekarang waktu yang tepat untuk mendengarnya. Kisah detektif di abad ke 19 di Amerika Serikat yang keras, perjalanan dari kota ke kota dengan transpotasi seadanya, berliku dan butuh perjuangan ekstra. Nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail, dibantu oleh orang-orang hebat di sekeliling dan berjalan dengan analis apriori. Karl May ketika menulis kisah, memang tak pernah ke Amerika sehingga detail kota tak tajam. Belati adalah simbol pemimpin.

Ini adalah seri kedua dari tiga buku Winnetou, jadi saya tak tahu bagaimana kisah sebelumnya tiba-tiba saya disuguhkan sebuah polemik, tokoh utama Old Shatterhand dalam posisi perjalanan setelah berpisah dengan Winnetou, begitu juga endingnya, cerita tak selesai karena memang bersambung. Wokeh, kalau ada kesempatan baik akan kutuntaskan awal dan akhir seri karena seri II ini secara keseluruhan cerita detektif ala koboi ini cukup memuaskan. Klasik. “Jika saja aku mengetahui apa yang ada di dalam benak Gibson dan ke mana dia bermaksud menyeret Ohlet!” | “Ya tentu saja, adalah sebuah teka-teki. Dia harus memiliki tujuan yang memandunya.”

Kisahnya tentang Old Shatterhand yang selesai menjalankan tugasnya dan memulai petualangan baru, dia ditempatkan dalam bencana kapal pecah dan seluruh hartanya ludes. Seorang pria keturuan Jerman ini lalu kembali ke New York setelah ngopi bareng teman lamanya Henry. Di New York dia berkenalan dengan kepala detektif Taylor yang lalu memperkenalkan seorang bankir yang juga keturunan Jerman, Ohlert yang memiliki seorang putra bernama William. Dari William inilah tersiar kabar bahwa ia baru saja menarik uang lima ribu dollar dan melanjutkan perjalanan ke Louisville. Dan ternyata itu adalah penipuan, pelakunya adalah perampok kakap bernama Gibson. Gibson adalah seorang penipu kelas atas yang sudah lama berkeliaran di Amerika Serikat dan Meksiko dengan menggunakan nama samara berbeda.

Dan inilah kisah utama buku ini, pengejaran duo William Ohlert dan Gibson. Old Shatterhand mengikuti jejak dari satu kota ke kota lain, sesuai judul bab pertamanya: detektif swasta, dia mengejar dengan banyak gaya. Yang pertama menarik perhatianku adalah puisi. Ketika aku membaca surta kabar aku biasanya membaca puisi terakhir kali, atau biasanya tidak pernah. Triknya variatif, dari menyamar sebagai editor surta kabar dengan mengejar seorang penyair yang menginap di sebuah hotel sampai pura-pura sebagai pria tersesat yang minta petunjuk jalan. Kisahnya tentang salah satu cinta yang paling setia, tetapi pada saat yang sama cinta yang tak bahagia. “Itulah yang kuduga, karena hubungan cinta yang tak bahagia adalah penderitaan terbesar, menyayat hati dan paling kuat yang kuketahui.”

Untuk menyetujui keputusan pengadilan dan berharap mereka akan menganggapnya sebagai katalis untuk awal kehidupan yang lebih baik dan berguna. Bertemu sang legenda Old Death, nah ternyata beliau adalah pahlawan lokal yang termasyur akan penyamaran lihai dan kini siap membantu proses pengejaran ini. Old Death terkenal membawa pelana kuda ke mana-mana, seekor kuda mudah didapat, tetapi pelana yang bagus sulit ditemukan. “Ya, mengapa tidak? Apakah kau malu? Urusan siapa kalau aku membawa pelana ke mana-mana bersamaku untuk membuat nyaman di padang rumput atau di hutan sekali-kali.” Jangan gunakan senjatamu, letakkan senjatamu di bawah kursi bersama pelanamu. Perlawanan hanya akan membuat situasi lebih buruk.

Sebenarnya Gibson nyaris tertangkap saat mereka tak sengaja bertemu di sebuah bar, sayangnya Old Shatterhand melakukan kesalahan, dan kurang cekatan sehingga terlepas lagi. Termasuk saat bertemu Old Death ia tak menyampaikan maksudnya langsung. Berkenalan dengan lamban, padahal sang legenda ternyata memang suka kisah petualang dan siap membantu. Yah, kalau langsung ketangkep cerita ini ga akan panjang juga sih. “Aku tak pernah mengharapkan pembayaran untuk nasihat yang kuberikan.”

Aku pernah mendengar mereka disebut sebagai bangsa pemikir, tetapi mereka tak tahu apa-apa tentang cinta. Bagian terbaik kisah ini mungkin saat proses penipuan di kapal, bagaimana seorang nahkoda-pun dilibatkan dalam proses pelarian. Jadi saat tahu ada penjahat separatis dalam kapal, para penumpang, kru dan sang jagoan melakukan siasat tricky. Mengusir mereka dengan gaya! Jika seorang Indian melihat potongan rambutmu, dia akan mati ketakutan. Tidak ada sebutir debu dan setitik noda terlihat. Itu tidak sesuai dengan niat untuk menemukan keuntungan di Barat.

Manusia bebas untuk melakukan segala sesuatu yang akan memungkinkan dia mencapai targetnya. Seandainya kau terbuka kepadaku, kedua pemuda itu sudah berada di tanganmu sekarang.” Bagian terbaik kedua ya saat pengepungan, yang justru menjadi korban. Memainkan siasat, para jagoan pura-pura tersudut lalu saat para penjahat sudah masuk ke perangkap, pintu di tutup sehingga mereka yang menyerang justru adalah yang ditawan. Kelompok separatis Ku Klux Klan yang menjadi bab dua sekaligus akhir menyajikan kisah heroik sang Old Death, lihai dalam mencium jejak bak film-film imajinasi bisa membayangkan siapa saja yang sudah datang ke tempat itu hanya dengan menciumi tanah, menganalisis kedalaman jejak kaki, sampai hal-hal yang dianggap mitos bahwa itu ilmu mistis. Aku menghargai pengetahuan melakukan kebaikan sekali dalam hidupku dan tidak akan menjualnya dengan harga berapapun. Padahal itu semua bisa dijelaskan. “Jika kau memiliki sepotong kapur, gambarlah denah rumahmu dan tata letak halaman di atas meja itu, sehingga aku bisa mengetahui arahku! Biarkan aku keluar drai pintu belakang dan tunggu di sana sampai aku kembali. Aku takkan mengetuk, tetapi menggaruk pintu dengan jari-jariku. Jika seseorang mengetuk, itu bukan aku, kau tidak boleh membukanya.

Bahkan rencana terbaik bisa gagal, Sir. Ini bukan hanya berperikemanusiaan, tetapi juga cerdas dengan membiarkan mereka masuk dan kemudian mengunci mereka di dalam sehingga kita menangkap mereka dalam keadaan hidup. Sayangnya memang kisah tak tuntas, harus melanjutkan ke buku ketiga untuk tahu akhir petualangan pengejaran Gibson ini. Semua penjahat sebenarnya pengecut. Keberanian mereka hanya muncul ketika melakukan kekerasan terhadap orang yang tak berdaya.

Karl Friedrich May lahir di Hohenstein-Ernstthal, Kingdom of Saxony pada tanggal 25 Februari 1842. Lahir dari keluarga penenun miskin, anak kelima dari 14 bersaudara, sembilan diantaranya meninggal saat lahir atau hidup beberapa bulan. Tak lama setelah lahir, ia sempat mengalami gangguan pengelihatan akibat kurang gizi, akhirnya bisa melihat kembali pasca operasi saat usia lima tahun. Seberapa suara bersorak untuknya jua. Dia membungkuk dalam-dalam, dalam bentuk setengah lingkaran, seolah seluruh dunia telah bertepuk tangan.

Saat berusia 27 tahun, ia dihukum tujuh tahun penjara karena dakwaan mencuri. Dalam penjara itulah ia banyak membaca buku dan belajar geografi, inspirasi inilah yang membuatnya menulis kisah petualangan. Karl May meninggal tanggal 30 Maret 1912 di usia 70 tahun karena penyakit paru.

Itu diluar kebiasaanku, mengirim sejumlah manusia pada kematian mereka dengan serentetan tembakan tanpa memberi mereka bahkan satu saat pun untuk merenungkan dosa-dosa mereka.

Old Death: The Wild West Journey | By Karl May | Diterjemahkan dari Winnetou II – Old Death: The Wild West Journey | copyright 1893 (versi Inggris oleh Marlies Bugmann (2008) | Penerjemah Preti Rianawati Prabowo | Penyunting Fitri Pratiwi dan Lis Sutinah | Proof Reader Tim Redaksi Visimedia | Penyunting grafis R Nuruli KWM | Penerbit Visimedia | Cetakan pertama, 2014 | vii + 160 hlm.; 140 x 210 mm | ISBN 979-065-219-4 | Skor: 4/5

Karawang, 17-250219 – Charles Mingus – Self-Portrait in Three Colors

HBD Karl May – 25021842 – 25022019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s