Guru Generasi Milenial – Tri Winarno

Berpuisi merupakan suatu kepandaian manusia memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif merangkai kata-kata terpilih dan membangunnya menjadi seni.” – Remy Sylado

Diluardugaku, bukunya sungguh menarik. Mungkin karena saya belum baca Aesop sehingga rangkuman kisahnya tampak wow, petuah dari cerita fabel legendaris ini memenuhi buku di awal. Ditarik hikmah dan petuah, sampailah aplikasi di kehidupan modern yang masih sangat relevan.

Bukunya mungil, tipis, tapi isinya padat. Ditulis oleh seorang pengajar, sehingga judulnya pas. Awalnya judulnya kurasa tampak klise, tampak biasa sekali. ‘Guru Generasi Milenial’ lah, paling isinya juga tentang tata cara mengajar di era sekarang, mengajar murid harus up to date, menuju industry 4.0 yang kompetitif sampai petuah terkait pendidikan yang efektif. Nyatanya ga sesimpel itu, Tri Winarno pernah menjadi guru Bahasa Indonesia SD Muhammadyah Program Khusus Boyolali (2005), SMK Muhammadyah 04 Boyolali (2005-2008), SMKN 2 Klaten (2008-sekarang), mengajarkan siswanya untuk peduli baca. Dan bacaan yang dianjur adalah sastra. Nah, dari pembuka ini saya tertarik. The Power of Ngobrol, bagaimana awal buku ini ditulis, sampai wujud cinta literasi.

Kekuatan ngobrol itu dibagi dalam tiga hal: dimensi pertama: hati dengan pikiran lahirlah ‘stip’, ‘pintu’, ‘lampu’; ‘pekerjaan dan cinta’; ‘kerja dan libur’; ‘peran guru di era disruptif’ dan ‘puisi bermain kata arkais’. Dimensi kedua: pikiran dengan lahirnya buku ‘Aasop yang terlupa’; ‘merawat cita-cita dengan pen’; ‘buku guru dan mahasiswa’; dan ‘Koh Put On: Satu Nasion’. Dimensi ketiga: lahirlah ‘Air wedang dan minuman dalam kemasan’; ‘cerpen meranting dan pohon’, ‘Generasi Z’ dan ‘Budaya itu bernama bermain.’ Bagaimana aplikasi dalam kehidupan kita? Ada baiknya saya tak mencerita detailnya, karena memang harus diresapi sendiri, dibaca sendiri semuanya.

Untuk dapat menulis puisi yang baik, seorang siswa harus membekali dirinya dengan pengetahuan, pengalaman berkaitan dengan fenomena sosial, politik, ekonomi, dan sebagianya. Ia juga harus memiliki pengalaman estetis membaca puisi, bacaan puisi berbobot tentunya. Tantangan mengolah kata dan bahasa agar menjadi seni berpuisi masih menemui jalan berliku, dan jelas ini tanggung jawab bersama untuk mengenalkan seni tulis sejak dini kepada generasi muda. Yang diperlukan adalah kreativitas dan napas panjang agar tak bosan dan berhenti di jalan.

Mari kita nikmati puisi Taufiq Ismail berjudul ‘Dengan Puisi Aku’: “Dengan puisi aku bernyanyi | Sampai senja umurku nanti | Dengan puisi aku bercinta | Berbaur cakrawala | Dengan puisi aku mengenang | Keabadian Yang Akan Datang | Dengan puisi aku menangis | Jarum waktu bila kejam mengiris | Dengan puisi aku mengutuk | Napas jaman yang busuk | Dengan puisi aku berdoa | Perkenalkanklah kiranya”

Martin Buber berkata bahwa pendidikan yang paling esensial atau mendasar adalah pendidikan karakter. Muhammad Nuh, Sang Menteri Pendidikan era SBY bilang hasil mengajar adalah pengetahuan, hasil pendidikan adalah karakter. Tujuan mengajar agar anak didik lulus ujian sekolah, tujuan pendidikan agar anak didik lulus ujian kehidupan. Profesor Universitas California, Svi Shaviro dalam bukunya Losing Heart (2006) berujar bagaimana ruang-ruang kelas yang mirip pabrik yang memproduksi sumber daya manusia yang akan dijual sebagai tenaga kerja, para murid yang berjuang keras guna mendapat nilai memuaskan agar lulus, serta orang tua yang selalu memacu anaknya dengan perkataan, “Belajarlah yang rajin, dapatkan nilai tinggi,” bukan “ Belajarlah yang rajin, jadilah orang bijak bestari.” Pendidikan telah kehilangan hatinya, kehilangan jati dirinya sebagai wahana untuk membuat manusia menjadi makhluk berkarakter.

Kisah Aesop yang dirangkum juga cukup menarik, saya langsung berniat membaca lengkapnya. Pelajaran moral yang dialami oleh seorang anak bernama Aesop yang terbang ke alam mimpi dan berada di Negara Fabel, bertemu lelaki tua berjanggut putih, dan bercakap hakikat negeri fabel. Negeri tempat para dewa belajarkebijaksanaan, yang mengherankan tak ada satupun sekolah. ‘Untuk belajar tentang hidup, seseorang tak perlu duduk dalam kelas.’ Dalam sepuluh kisah ini kita benar-benar menjadi pemerhati, banyak pelajaran hidup, dan dorongan untuk menjadi seorang bijak. Halamannya hanya 80, disadur oleh Andrew Bailey. Mengakrabkan buku-buku sarat norma kepada anak-anak lebih bermartabat daripada membelikan mereka tablet atau gawai canggih. Sudah saatnya rumah menjadi tempat berkreasi dan berbuku. Dan Hermioneku-pun tersenyum. “Tiap-tiap orang menjadi guru, tiap-tiap rumah jadi perguruan.” – Ki Hadjar Dewantara.

Di bab Cerpen Meranting Phon, disungguh buku tebal kolektor edition yang dikuratori oleh Anton Kurnia berjudul ‘Cinta Semanis Racun 99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia’. Saya sudah beli akhir tahun 2017, baru baca beberapa cerpen, belum tuntas. Bab ini semacam review Mas Tri terhadap buku berkover kuning ini. Runut, dipilih, dipilah yang laik untuk diperbincangkan. Oke sip, bulan depan saya tuntakan baca deh.
Baca puisi karya Shindunata serial Koh Put On, Anak Betawi sarat dengan kritik sosial. Saya belum baca, saya nukilkan salah satunya berjudul Anak Betawi: “Namaku Koh Put On | Cina Peranakan dari Betawi | Orang terima kalau aku dibilang aku anak Betawi | Apa artinya Cina | Jika sehari-hari hidupku lewat seperti orang Betawi | Yang biasa dan sederhana | Orang disebut Cina karena kaya | Sedangkan aku tak pernah tahu rasanya kaya | Kenapa lalu mereka tak mau menyebut aku anak Betawi saja | Andaikan hidup tak diukur dengan darah dan harta | Mungkin dari dulu orang takkan pusing | Apakah aku Cina | Karena seperti mereka | aku juga dilahrikan di tanah Betawi tercinta.

Jika engkau tidak dapat bekerja dengan cinta – hanya dengan kebencian – sebaiknya tinggalkan pekerjaanmu. Duduklah di gerbang kuil dan mintalah sedekah dari mereka yang bekerja dengan gembira.” Khalil Gibran. Bekerja dengan cinta merupakan kebahagiaan. Sebuah ramuan sederhana yang membuat perjalanan menghadapi rutinitas kehidupan tak menjemukan. Anggaplah bahwa bekerja ibarat bermain.

Berapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan buat membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu yang saya rindukan cuma kembali ke sini. Di gua inilah izinkan saya menggunakan istilah itu – saya luangkan beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh…” – dari buku Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez). Saya sudah baca dong, ini kisah tentang pecinta buku kelas kakap. Obsesi menggila terhadap buku.

Kesimpulannya, tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita kesehariannya dengan buku, kebiasaannya dengan teman ngopi sampai tuturan pengalaman istri dan ibunya yang bermain kata untuk menyampaikan kode rahasia dalam komunikasi, sekalipun itu hanya transaksi jual beli. Tulislah kisah yang memang kamu pahami, kegiatanmu sendiri, ga usah ngawang-awang. Dan tentu saja, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman adalah guru milenial terbaik untuk semua orang.

Tulisan ini saya tutup dengan kutipan dari Karlina Leksono, dalam buku Indonesia Baru (1999). “Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya adalah pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan penalaran individual, pemikiran kritis yang independen, dan pembangkitan kepekaan terhadap kemanusiaan…”

Guru Generasi Milenial | Oleh Tri Winarno | copyright 2018 | Editor Ngadiyo | Tata letak dan ilustrasi Yohanes Saputro | Foto isi Koleksi pribadi Tri Winarno | Sampul Adipagi | Penerbit Diomedia | Bekerja sama dnegan Rua Aksara (Bening Pustaka) | Cetakan pertama, Agustus 2018 | xviii + 118 halaman, 12 cm x 19 cm | ISBN 978-602-6694-66-9 | Skor: 3/5

Sebagai ungkapan terima kasih dan cinta mendalam pada ayah, ibu, kaka, adik, istri dan kedua anakku: Naila dan Azzam.

Karawang, 180219 – Aretha Franklin – Bill Bailey, Won’t You Please Come Home

Iklan