Smokol

Kumpulan cerpen yang bagus-bagus sekali. Tak seperti biasanya kumpulan cerita dari cerpen Kompas Minggu yang rumit, kali ini serpihan yang dimaktub lebih nyaman. Hanya beberapa yang rumit, saya nikmati dalam waktu sempit-pun bisa ‘masuk’. Enak juga membaca kumpulan cerpen yang sudah terpilih gini, ketimbang baca rutin tiap Minggu pagi ya mending dalam bentuk buku yang sudah fipilah para master sehingga dijamin Ok. Kompas masih yang terbaik, apalagi disaring (lagi).

#1. Smokol – Nukila Amal
Dipilih sebagai judul, cerita ini memang yang paling bagus. Sungguh mencengangkan, ketika baca bagian saat di surga di mana kenikmatan sudah tersedia tanpa batas dan syahwat pating tlecek, kalimat penutupnya ironis sekali: “… Maka Tuhan bersabda, kenapa tak dari dulu, wahai manusia.” Batre bergumam. Dunia fana yang waktu berjalan linier ini, akankah berisi ujung Tamat atau dibangkitkan demi dua tempat di alam lain nanti? Maka Smokol lewat Batara menggugat. “Orang tua mengajarkan kami menatap orang yang sedang bicara.

#2. Iblis Paris – Triyanto Triwokromo
Kisahnya diputar-putar dengan gaya unik. Bagaimana sebuah ancaman bermula dan dirunut mundur. Tentang Katra dan saudaranya Anjeli yang terusir dari Dhaka sehingga menjadi imigran di Prancis. Dan keadaan memaksa menjadikanku seorang pembunuh. Namun setelah bertahun lari dari Khun Shan, ternyata masa lalu terus menghantui dan hasrat lama meluap lagi. “Masa depan kita bukan di negeri ini.

#3. Kiriman Laut Yang Terlambat – Beni Setia
Konspirasi dan persekongkolan warga mencipta rusuh ke rumah Masteri. Tentang aib dan kesalahan yang timbul akibat norma. Masteri yang konon diketahui menyembunyikan perempuan di rumahnya, dengan tangis pilu malam-malam. Dengan setting kampung di pesisir pantai, ketakutan, kegelisahan, simpati, benarkah tangis itu tangis manusia? Atau hal ikwal dari dunia seberang yang menjalani lelakon tak tuntas urusan dengan dunia kita? Sampai di mana kekalutan manusia melawan indra pendengarnya? “Lelaki rembulan yang berpedati. Lelaki rembulan yang berpedati.

#4. Senja Di Pelupuk Mata – Ni Komang Ariani
Ini cerpen yang paling nyaman diikuti. Gamblang dengan tema yang dekat dan sungguh nyata. Seorang ibu yang menhadapi usia senja, yang melepas ketiga anaknya untuk menempuh masa depan. Tak ngawang, tak njelimet, dituturkan bagus, dan benar-benar nyata bisa hadir untuk setiap orang tua. Si sulung Luh Wayan menikah dengan bule yang terkesima tarian anaknya, cus ke Amerika. Anak kedua, Made Sari menikah setahun berselang dengan wartawan asal ibu kota. Dan Wardhani, si bungsu yang kini menikah dengan guru sejarah dengan domisili Bali, hufh akhirnya ada yang ‘jaga’ orang tua di kampung. Namun, poinnya sama. Di kala senja, kita akan makin terlupa dan ditinggalkan, manusia pada titik akhir akan merasa tak berharga, tak menarik, tak diinginkan. Bukankah ini sudah jadi siklus kehidupan? “Kamu tahu, bukan ajal yang tiang takuti, atau keinginanku ke Tanah Lot itu. Tetapi tiang baru benar-benar tahu rasanya, saat ajal membuat kita merasa kalah dan tak berdaya…”

#5. Cerita Dari Rantau – Anton Septian
Cerita era kolonial, ada enam karakter yang terlibat. Pertama, Henze yang tiba di Sunda Kelapa demi menjadi penambang emas di Sumatra, jua alasan keelokan warga pribumi yang konon kecantikan perempuannya seperti secuil firdaus yang jatuh ke bumi. Kedua, Tuan van Goens yang bertugas menumpas pemberontakan Sultan Ageng dari Mataram di Batavia. Ketiga Heinrich Schumann, seorang tentara Jerman yang terluka saat perang di Ternate. Di Hindia mencoba bertahan hidup setelah luka batin tak berkesudahan. Keempat, Wiraguna budak lokal yang diminta mengantar jalan-jalan nyonya ke pasar. Kelima, A San penjual sayur dan daging, siang itu ia melihat pelanggannya nyonya Belanda dan budaknya. Keenam, Pieter Mossel penjual budak. Lalu sebuah tragedi dicipta, bagaimana respon mereka menjadi seru karena Batavia yang termasyur menjelma bencana. “Semestinya kalian tidak datang ke sini. Tempat ini seperti neraka.”

#6. Terbang – Ayu Utami
Cerpen terbaik kedua setelah judul utama. Tentang penerbangan yang terpisah. Statistik bilang kecelakaan paling tinggi sebagai pembunuh adalah transpotasi darat tapi Ari, seorang istri dan ibu dua orang anak mempunyai paranoia saat di perjalanan udara. Bagaimana kisah pesawat jatuh membuatnya memutuskan bahwa saat keluarga ini melakukan perjalanan tak bolah bersamaan, karena bila lotere maut berpihak pada mereka maka harus ada yang selamat. Maka perjalanan dengan orang asing di samping menjadi sebuah rutinitas Ari, sang fotografer. Resiko menitipkan nyawa dalam kotak hitam, katanya. “Saya tak suka teknologi, teknologi membuat yang tua tidak dihargai.”

#7. Sakri Terangkat Ke Langit – S Prasetyo Utomo
Sakri dan kenangan masa lalu di pabrik gula. Malam itu ia menyusuri ladang bekas tebu, era sudah bergeser. Kebun tebu menyusut dan menjelma tamanan lain yang lebih produktif. Tak semua orang bisa move on dari era kejayaan pabrik gula. Sakri dan Arum dan rahasia keluarga coba dibuka dengan tenang. “Aku akan moksa. Akan kutinggalkan kalian, dengan tanpa menyisakan raga.”

#8. Mangku Mencari Doa Di Daratan Jauh – Martin Aleida
Tentang Mangku yang tak ingin mati dan jasadnya dibakar di Bali. Ayahnya mati dengan menyedihkan atas tanah dan tragedi lama 1965, tanpa doa dan ari mata. Dan keinginannya menyeberangi Selat Bali menuju Jawa lalu ke Sumatra, menjauh dari tanah kelahiran. Bali tempat dewa bersemayam, apapun yang keluar dari sini berhak atas kayangan. Perjalanan bersama monyet dan anjingnya menuju tanah yang dijanjikan, hingga akhirnya sebuah musibah terjadi saat sampai di Jakarta akan menyeberangi Selat Sunda. “Persis sebagaimana engkau dikuburkan ini, bagitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik kawan, diiringi doa…”

#9. Merah Pekat – Fransisca Dewi Ria Utari
Kisah ini langsung menguingatkanku pada film Pan’s Labyrinth. Kenangan serupa lumpur yang mengendap di dasar sungai. Mengeras menjadi kerak menunggu hujan turun untuk mengangkatnya kembali menjadi satu dengan aliran air. Yasmin yang melawan memori di rumah benteng. Rumah berhantu yang dihuni anak kecil bernama Dante. Misteri itu terkuak perlahan, dan Yasmin harus memutuskan menjadi penghuninya atau kembali ke dunia fana. “Kamu tak bisa ke sana. Mereka berbeda denganmu. Mereka malam, kamu siang.”

#10. Rumah Duka – Ratih Kumala
Seorang lelaki mati, dan keluarga yang ditinggalkan berduka. Jenis duka yang ganjil. Dengan sudut pandang orang pertama, sang aku, sang istri mengkremasi, membooking rumah duka, menyiapkan upacara perpisahan dengan jas terbaik almarhum. Ia tahu, suaminya suka ‘jajan’, sebagai pemain saksofon, musisi jazz yang menjelajah malam. Lalu sudut berganti dengan wanita lain, selingkuhan Bim dan bagaimana mereka bertemu, ngobrolin jazz nyambung. Ketika sang istri sudah memakaikan jas terbaik, bisakah ia menerima wanita lain itu juga memasangkan dasi terbaik almarhum suaminya? ”Bolehkah saya…?”

#11. Dalam Hujan Hijau Fiedenau – Triyanto Triwikromo
Seperi biasa, Triyanto memang ahlinya menyesatkan pembaca dengan banyak istilah asing dan tuturan bahasa tak lazim. “Arok, mein Herz” – Arok, buah hatiku. Bagaimana kisah aku, yang menghadapi maut dan dilema dalam sekat setelahnya. “Apakah kini kau menganggapku iblis paling rapuh, sehingga perlu memberiku malaikat pelindung? Apakah kau tidak lagi menganggapku memiliki kekudusan cinta? Sehingga perlu memberiku kisah percumbuan yang lain?”

#12. Berburu Beruang – Puthut EA
Mas Burman dan aku berpetualang berburu beruang dengan fantasi tak berbatas. Jelas ini terinspirasi dari kisah legendaris Don Quixote, sang satria pengembara. Maka setelah beruang bisa dibunuh, dan ‘jasadnya’ dikubur. Mereka berencana berburu hiu berikutnya. Tapi kemudian kekasih beruang itu ngamuk dan merusak kampung… “Latihlah terus imajinasimu, perkuat daya hidupmu dan terus asahlah daya ciptamu. Kau boleh terdesak, boleh mundur, tapi kalau kamu punya tiga hal itu, kau tidak mudah ditaklukkan.”

#13. Ratap Gadis Suayan – Damhuri Muhammad
Di dusun Suayan kabar baik diimbuhkan, kabar buruk berhamburan. Raisya, janda beranak satu akan selalu ada ketika kabar duka tiba. Ia akan datang paling mula untuk menangis di depan jenazah, sejadi-jadinya, sekencang-kencangnya. Sepilu-pilunya. Raisya, si tukang ratap. Masa lalunya menyedihkan, karena ditinggal suaminya kawin lagi. Anak semata wayangnya Laila yang harus memiliki masa depan yang lebih cerah. Di masa tuanya, Raisya menemukan hari yang dilema saat seorang yang dibencinya meninggal dunia. Apakah sanggup meratap seperti sedia kala ataukah kepuasan dalam dendam nan tawa? “Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur hidup?”

#14. Kartu Pos Dari Surga – Agus Noor
Cerita sedih keluarga. Seorang anak yang selalu menanti kiriman kartu pos dari mamanya di surga. Ren, seorang wanita karir yang sering melakukan perjalanan, di era digital ia masih saja mengirim kabar ke Beningnya, anaknya dengan menggunakan kartu pos. Marwan tak bisa, tak tega menjelaskan ke anaknya saat Ren meninggal dunia, maka kisah kartu pos itupun dicipta. Sampai kapan? “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya menerima kartu pos. Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan”

#15. Perempuan Sinting Di Dapur – Ugoran Prasad
Ini juga salah satu yang terbaik. Penutup yang sempurna. Lucu, sedih, tragis. Wak Haji Mail yang sekarat, setelah dua minggu di rumah sakit ia belum juga dijemput Izrail. Maka ia pun dipulangkan, masih dengan nyawa tapi tak sadarkan diri. Lalu masa lalunya dibuka. Mak Saodah yang memiliki warung makan di kampung memang galak, tapi ia memiliki resep rahasia yang membuat masakannya eunak dan lezat. Ia tak pernah tersenyum, anak-anak menjulukinya Nenek Sihir Dari Hutan Terlarang. Permintaan terakhir Wak Haji ternyata adalah persiapan tahlil ratusan orang yang memasak adalah Mak Saodah. Dan masa lalunya dengannya sungguh trenyuh. “Kudengar kau suruh makmu berhenti berdagang, Minah?” | “Ya, tapi Mak ga mau.” | “Kenapa?” | “Mak bilang, berdagang itu alasan hidup.” | “Berdagang?” | “Bukan, bukan berdagangnya. Memasak untuk orang kampung. Ya, itu yang menyelamatkannya. Itu menyelamatkanku.”

Buku dibuka dengan pengantar tujuh bagian tulisan Rocky Gerung: “Smokol”: Sebuah Perjumpaan Politik, orang yang saat ini terkenal dengan jargon ‘kitab suci adalah fiksi’. Ternyata beliau seorang dosen filsafat di Universitas Indonesia. Dengan banyaknya kata asing dan nukilan dari para orang tenar di masa lampau, sungguh tak terlalu nyaman untuk dinikmati. Buku ditutup dengan ulasan manis oleh Linda Christanty, seorang wartawan dan Penulis buku. Beda sekali cara menyampaikan uneg-uneg. Beda kelas, orang yang suka ngomong politik dan orang yang berkecimpung di sastra. Terlihat Linda lebih piawai merunut kelebihan serta keumuman 51 cerpen yang terbit di tahun sebelumnya sehingga saat dipadatkan dan dipilah 15 memunculkan Smokol yang terbaik. Alasannya juga pas, masuk akal, nyaman dan jleb sekali. Bahkan dijadikan judul epilog: Horor Di Meja Makan. Bravo Linda!

Smokol | Cerpen Kompas Pilihan 2008 | Penerbit Buku Kompas | Pertama terbit Juni 2009 | KMN 30105090028 | Penyunting Ninuk Mardiana Pambudy | Desain sampul Rully Susanto | xxiv + 170 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-423-2 | Cetakan kedua, September 2009 | Skor: 4.5/5
Karawang, 160219 – Bob Brookmeyer – Jive Hoot

Malam minggu di Festive Walk

Iklan