Around The World In Eighty Days – Jules Verne

Sapi-sapi menghentikan kereta, dan berjalan beriring-iringan, seolah mereka tak merasa telah menghambat perjalanan. Parbleu! Apakah Fogg sudah memperkirakan kecelakaan ini dalam rencananya.

Novel pertama dari Penulis legendaris Jules Verne yang kubaca. Dijuluki sebagai Father of Science Fiction. Kemasyurannya tentu saja sudah akrab di telinga literasi, sudah lama ingin menikmatinya. Suatu saat pasti kubaca juga dua novel lain yang legendaris Journey to the Center of the Earth (1864) dan Twenty Thousand Leagues Under The Sea (1870). Jules Gabriel Verne (8 Februari 1823 – 24 Maret 1905) adalah seorang novelis kelahiran Nantes, kisah ini bermula di London, bukan Prancis.

Kesempatan baca akhirnya tiba saat ke Bus Taka Taman Kota Galuh Mas menemukan novel ini, kubaca cepat dengan dramatis saat Senin (11/02/19) pulang kerja hujan lebat, kawasan Surya Cipta mencipta genangan di pintu keluar sehingga sembari menanti reda saya baca di kantor sampai tuntas. Sungguh menyenangkan melahap buku keren di tengah hujan dengan segelas kopi.

Ceritanya tentang seorang rumahan yang perfeksionis, pendiam dan penyendiri. Phileas Fogg adalah seorang anggota dari kelompok pembaruan, dah hanya itu. Kumpul sama teman-temannya di klub reformis, main kartu sekedar main kartu bukan sebagai obsesi, Tuan Fogg bermain bukan untuk menang tapi sekedar bermain semata. Baginya, permainan adalah sebuah kontes, sebuah perjuangan, sebuah rintangan, namun perjuangan yang minim gerakan dan tak harus bersusah payah. Sesuai dengan seleranya. Diskusi dan ngopi sama rekan sejawat ini akhirnya sampai pada debat tentang sebuah Koran yang memuat berita analisis perjalanan mengelilingi dunia yang mungkin bisa dilakukan dalam 80 hari. Dalam 80 hari perhitungan menurut The Daily Telegraph: London ke Suez melalui Mont Cenis dan Brindisi, dengan kapal uap (7 hari). Suez ke Bombay, dengan kereta api (13’). Bombay ke Calcuta, kereta (3’). Calcuta ke Hongkong, kereta (3’). Hongkong ke Yokohama, kapal api (6’). Yokohama ke San Fransisco, kapal api (6’). San Fransisco ke New York, kereta (7’). New York ke London, kapal api dan kereta (9’). Totalnya 80 hari. Teman-temannya nyeletuk itu ora mungkin Lik, Fogg yakin bisa. Dan malam itu juga mereka bertaruh. “Aku akan bertaruh 4000 pound bahwa perjalanan seperti ini mustahil.” Kata mereka, uang disatukan dan Fogg komit. Hari itu hari Rabu, 2 Oktober akan berangkat dari London pada ruangan di perkumpulan pembaharuan, di hari Sabtu, 21 Desember pukul 8.45, jika tidak uang 20.000 pound akan melayang. Pria Inggris tak kan bercanda ketika dia membicarakan hal-hal serius yang dijadikan taruhan. Deal!

Di hari itu kebetulan Fogg mempekerjakan pelayan baru asal Prancis. Dia orang Prancis, dan orang Prancis suka sekali mengobrol. Passepartout yang juga tak gaul, menilai tuannya adalah sosok tenang. Betapa sederhananya pria ini. Ia adalah manusia mesin yang asli. Setidaknya aku tak merasa keberatan melayani mesin. Jadi betapa terkejutnya malam itu, ia pulang cepat dan memberi perintah tak terduga. “Kita tak butuh kopor. Hanya tas karpet dengan dua pakaian atas dan tiga pasang kaus kaki untukku dan untukmu hal serupa.” Malam itu juga mereka ke stasiun untuk memulai perjalanan panjang, seolah tanpa persiapan matang, hanya tas berisi pakaian dan uang. Berangkat dalam kereta di gerbong kelas pertama jam 8:40, lima menit kemudian peluit berbunyi dan perlahan-lahan kereta mulai meninggalkan stasiun. Just in time!

Passepartout yang shock sampai lupa mematikan kompor, haha, lucu sekali ini pelayan. Padahal dia adalah orang rumahan hingga saat ini. Segalanya tergesa, sang pelayan bersikukuh jamnya tak perlu menyesuaikan wilayah, padahal mereka berjalan ke arah Timur sehingga seharusnya mundur menitnya. Jam ini tak akan cocok dengan matahari. Malang sekali si matahari. Seharusnya jam itu diatur setiap bujur baru, karena jarum terus menuju ke arah barat yang merupakan arah yang berhadapan dengan arah matahari, sehingga hari menjadi lebih pendek empat menit di setiap derajat.
Secara bersamaan ada kasus perampokan bank dengan nilai luar biasa besar. Pihak bank memberi pengumuman bagi mereka sangat bersemangat untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan senilai dua ribu pound, dan 5% dari jumlah barang rampokan yang ditemukan. Perampok yang hebat selalu mirip dengan orang jujur. Seorang detektif swasta bernama Fix mencurigai Fogg-lah perampoknya, perjalanan keliling dunia ini hanya alibi guna melarikan diri. Maka ia pun mengejar, naik kapal dan kereta demi menangkap Fogg sembari menunggu surat penangkapan yang akan dikirim ke kantor polisi di tiap wilayah yang mereka datangi. Bumi telah mengecil sejak manusia dapat mengelilinginya 10 kali lebih cepat dari seratus tahun yang lalu.

Perjalanan ini menuai banyak argumen di media massa, banyak taruhan beredar, dapatkan Fogg melakukannya? Awalnya banyak yang optimis, tapi lambat laun menurun. Lord Albemarle, seorang bangsawan tua yang lumpuh, satu-satunya pendukung Fogg. “Jika suatu hal mudah dikerjakan, pertama kali yang harus dilakukan adalah menjadi orang Inggris.” Perjalanan ke Timur ini sungguh seru sekali. Ada saja hambatan yang diluar logika tercipta.

Ketika di India, naik kereta, relnya belum sepenuhnya jadi sehingga harus sewa gajah. Eh ralat, beli gajah! Gajah Kiouni lalu mencari pawang berkenalan dengan Kholby. Eh di tengah hutan ketemu suku pedalaman yang aneh. Melewati ahli sihir, mengiringinya dengan teriakan liar dan agamis mereka. Feringhea, pemimpin Thuggee dan juga raja pencekik yang memegang kekuasaan. Mencekik korban demi menghormati Dewi Kematian, tanpa mengucurkan darah. Pandangan mereka mengenai adanya keberadaan makhluk yang menyeramkan membuat orang-orang malang ini memilih berkorban lebih dari cinta atau fanatisme agama. Upacara yang mengerikan akan tersaji di mana seorang wanita akan dikorbankan. Logikanya Fogg cuek saja melanjutkan perjalanan, tapi tidak. Nuraninya terketuk, rombongan ini menjalankan misi penyelamatan! “Astaga, kau lelaki yang memiliki belas kasihan.” Seluruh distrik utara Vindhia adalah teater pembunuhan dan perampasan tak ada hentinya. Ada tempat suci yang dibangun di antara dua sungai suci: Gangga dan Jumna. Diluar duga mereka ditangkap karena masalah yang ‘sepele’ di Pagoda Pillaji. Polisi adalah representasi hukum, dan hukum sangat sakral di Inggris.

Saya tak perlu menjelaskan proses penyelamatan aneh ini, yang pasti rombongan ini bertambah satu dengan bergabungnya Aouda, ia bisa memilih kehendak sendiri. Pulau di Singapura tidak begitu mengagumkan, di sana tidak ada gunung-gunung, tetapi bukan berarti tidak ada pertunjukan. Sesampai di Hongkong, kendala lain datang. Fix yang menyamar selama ini jua bergabung seolah hanya pelancong, tapi Passepartout malah membuat kesalahan karena mabuk sehingga saat kapal sewa berangkat ia ditinggal. Hanya keajaiban yang membuatnya kembali bertemu di Shanghai. Berikutnya, Pass yang tahu kebusukan Fix membuat cek cok, tapi tetap perjalanan terus harus gerak sehingga mereka melanjutkan ke Nagasaki dan Yokohama.

Yang sulit adalah bagaimana cara menyeberangi samudra Pasifik yang membentang empat ribu tujuh ratus mil antara Jepang dan Dunia Baru. Pasifik hampir menyerupai namanya ‘tenang’. Toh akhirnya mereka menginjakkan kaki di San Fransisco. Dari ujung Barat ke Timur, melintasi banyak Negara bagian Amerika menuju New York, disinipun banyak keseruan dilibatkan. Ada Kontes kampanye politik antara Camerfield dan Mandiboy. Membuat masalah dengan seseorang sehingga di atas laju kereta api mereka berniat berduel, dramatis sekali terjadi pembajakan kereta oleh Suku Sioux. Pertempuran seru bak film action koboi klasik, yang sedihnya membuat Pass tertangkap. Saat di stasiun Fort Kearney, Fogg membuat keputusan berani. Melakukan misi penyelamatan tiga orang yang disandera suku Sioux. Bersama kapten Protocor dan delapan puluh pasukan mereka menghadang maut. Gagasan tuannya membuatnya bahagia, dia merasakn cinta, sebuah jiwa. Penampilan luar yang dingin. Dia mulai menyukai Fogg.

Saat akhirnya sampai New York, mereka ketinggalan tiga jam saat kapal yang menuju Inggris ternyata sudah berlayar. Namun tak mau menyerah Fogg mencari kapal sewa untuk mengarungi samudra. Ada seorang nahkoda yang berniat ke Prancis, disewa jua dengan mahal dan terpaksa tapi ternyata Fogg dengan berani merampas! Kapal senilai lima puluh ribu dolar dan dibeli enam ribu dolar untuk dibakar! Kapten Speedy yang terkejut. Dan segala rupa ini pada akhirnya berlabuh di Liverpool. Pertanyaannya tentu bukan bisakah mereka mengelilingi dunia, karena dengan penjelasanku bahwa berangkat dari London dan berakhir di Liverpool dengan rute ke Timur saja sudah pasti bisa, pertanyaannya adalah apakah bisa dalam 80 hari sesuai kesepakatan klub Reformis? Nah, kalian akan terhenyak sekali lagi saat Pass yang kecewa, Fix yang berengsek, Aouda yang menangis, dan Fogg yang pasrah menemukan fakta mengejutkan! Bagaimana jika Fix memiliki surat penahanan atas dirinya di saku, sangat kagum olehnya. Pastinya dia bukan siapa-siapa melainkan hanya keledai bodoh.

Ceritanya mungkin tertebak, tapi jelas cara penyampaian, konflik yang dihadirkan, pemecahan masalah yang tak lazim sekaligus luar biasa, sampai sekat-sekat masalah yang diterjang benar-benar memukau. Hebat, adalah kata pertama yang kulontarkan sesuai baca. Saya baca dalam tiga hari. Selesai baca semalam saat hujan lebat menerjang Karawang Timur pas jam pulang kerja, sehingga memaksa tertahan di kantor sampai selepas isya. Menyenangkan sekali membaca buku bagus. Terbitan Narasi, perlu banyak koreksi. Typo banyak sekali ditemukan, hingga ratusan kali ada. Sayang sekali, buku bagus diterjemahkan dengan kurang bagus.

Tak ada yang bisa kita lakukan selain pergi dari sini!”

Bayangan besar, didahului dengan sinar terang perlahan maju melintasi kabut yang memberi kesan fantastis. Jelas saya terkesan, ide mengelilingi dunia di abad 19 di mana alat transportasi belum secanggih kini sungguh brilian dan berani. Bukan sekedar jalan-jalan, bukan ala back packer yang suka selfie dan pamer gaya, Around The World adalah representasi nyata petualangan tanpa bumbu fiksi imajinasi. Segalanya tampak asli dan menantang.

Ditambah nilai kemanusiaan, hubungan erat tuan dan pelayan serta bagaimana sebuah harga diri dipertaruhkan. Sempurna sudah.

80 Hari Keliling Dunia | By Jules Verne | copyright 1873 | Diterjemahkan dari Around The World In Eighty Days | Penerbit Narasi | Penerjemah Denna Fanhmi S dkk. | Penyunting Nina Artanti R. | Desain sampul Ema Avianti | Cetakan pertama , 2018 | 325 hlm.; 11.5 x 18.5 cm | ISBN 979-168-522-3 | ISBN 978-979-168-522-1 | Skor: 5/5

Karawang, 120219 –– Benny Goodman & His Orchestra – King Porter Stomp
Thx to Bus Taka Galuh Mas, Karawang

Iklan