Ups! – Rieke Diah Pitaloka

“luapkan | limpahkan saja itu selagi nafas berhenti | atau | maut tiba-tiba menjemput dan suaramu menghilang | tertimbun tanah | ayo | tanggalkan | lepaskan semua ikatan yang membalut | mari kita bersenang-sennag saja | segera mulai permainan | pura-pura jadi adam dan hawa | cengkrama di taman eden | ayo | tak udah malumalu atau lamalama | waktu kita hanya sesaat tak perlu pikir kata sesat | mari purapura saja jadi adam dan hawa | yang jalankan hasrat ciptaan tuhan | ups! | alarm berbunyi | saatnya kita pulang | mari kenakan kedok purapura | biar suamiku, suamimu tetap percaya | cinta dan tubuh kita | hanya untuk mereka | ups!” – puisi penutup dalam buku Ups!

Buku kumpulan puisi pertama yang kubaca tahun ini, sesuai menyelesaikan memoar-nya Pablo Neruda saya berusaha menikmati satu buku puisi tiap bulannya untuk mengejar ketertinggalan. Ups! menjadi pembuka, yang sayangnya terlahap biasa. Berisi 40 puisi dengan sebuah ulasan panjang 29 halaman di bagian akhir oleh Eka Budianta, seorang penyair dan pengulas sastra. Justru review bung Eka lebih bagus, walaupun sedikit dibantu dorong menuju arah positif, tapi jelas secara keseluruhan buku ini gagal. Saya sih sepakat, penyair dan penulis kita masih dominan laki-laki. Pandangannya bahwa perempuan mungkin butuh perjuangan lebih untuk menyeruak di dunia literasi bisa saja hanya paparan umum dan tak sepenuhnya bisa jadi pegangan, tapi lihatlah keadaan sekarang. Semua kesempatan, semua peluang terbuka lebar tanpa memintas genjer. Ga sepenuhnya sepakat, ada kalimat hiperbolis yang beliau kemukakan, “Seharusnya seluruh dunia terguncang membaca sajak itu (tentang dua kematian: Munir dan M. Yusuf). Mengapa? Sebab pembunuhan yang disengaja adalah tragedi klasik manusia.” Yup, yang ga kusetujui adalah kata-kata, ‘seluruh dunia terguncang!

Seusai melahapnya, saya masih belum bisa ‘masuk’, masih menggantung menikmati sajak-sajak yang (mencoba) satir, menyindir Pemerintah, penguasa. Menyitir perang, keluh dan kritik terhadap perang Irak dan penderitaan akibatnya. Menyinggung pembunuhan Munir, sang pejuang HAM sampai hal-hal remeh terkait memandang purnama atau cinta dua remaja.

Puisi ditulis antara tahun 2003 – 2005 di berbagai tempat, terlihat dominan di Kukusan. Dengan front huruf yang variatif, diksi yang melimpah, ukuran yang fleksibel dengan selingan gambar ilustrasi yang catchy. Komentarku masih saya, maaf susunan puisi seperti ini dengan mudah dibuat. Semua orang bisa, hanya perlu menyediakan waktu barang lima sampai sepuluh menit duduk di kafe, dalam perjalanan luar kota atau bahkan sedang duduk di kakus, kata-katanya yang tak beraturan bisa dengan mudah disusun. Hurufnya bisa dipetik seketika tanpa perlu banyak pemiliran pencarian ilham. Sejauh ini saya belum terpesona satu buku kumpulan puisi-pun. Buku Aku Djuman Djaya yang berdasarkan hidup Chairil Anwar, itu bukan sajak murni, namun lebih seperti biografi dengan prosa yang kental.

Keke, panggilan akrab sang Penulis lebih kita kenal dalam sitcom Bajaj Bajuri sebagai Oneng yang berakting bodoh, istri cantik yang pikirannya loading. Saat menulis Ups! Keke adalah seorang asisten dosen lulusan magister ilmu filsafat, seorang aktivis yang lumayan vocal terhadap kesetaraan dan tentu saja artis. 13 tahun berselang, kita tahu di masa antara itu beliau adalah politikus sebuah Partai dari oposisi menjadi Partai penguasa, semasa Pemerintahan SBY begitu vocal menyuarakan rakyat, menjadi calon pejabat sehingga wajahnya lebih sering menghiasai media massa sebagai tokoh publik bukan sebagai penyair atau penulis buku. Tentu hal-hal itu tak terbentuk serta merta, Keke sudah menempanya sedari dulu. Dari puisi-puisi ini terlihat beliau memang mewakili suara-suara kegeraman warga kebanyakan. Seperti serangan AS ke Irak tahun 2003, saat itu saya masih sekolah, mengikuti perkembangan lewat media massa, bahkan deadline waktu yang diminta Amerika itu saya ikut mengawasi jam saat pelajaran berlangsung. Geram, kesal terhadap perang, Keke membingkainya. Banyak. Kita semua benci perang, tapi perang malah terus saja terjadi. Seolah adu kekuatan adalah hobi. Kritik Keke yang nyalang berbunyi “sampai kapanpun kehidupan lebih berharga dari politik busukmu.” Akankah masih relevan dengan masa sekarang saat beliau sendiri adalah politikus?

Yang paling kusuka dalam kumpulan Ups! adalah puisi ‘Aku – Ramadhan – Ibu’ yang ditampil sederhana tapi mengena. Saya tulis ulang di sini:

ruasruas sahur setiap ramadhan | mengingatkan pada ibu | saat aku kanakkanak | selepas subuh aku ditemani suara mesin jahit ibu | menelusuri kain bungabunga yang kami beli di pasar | “biar kamu bisa pakai baju baru,” katanya | saat aku gadis | selepas subuh aku ditemani gumam ibu | menghitung untung dagangan yang kami jual keliling kampung | “biar kita bisa buat kue!,” katanya | saat aku dewasa | selepas subuh rindu ibu tak pernah pupus | “……….” | bu sebentar lagi lebaran | seperti biasa, | setangkai sedap malam akan kutaruh di pusaramu – kukusan, ramadhan 2004

Puisi yang berhasil adalah puisi yang bisa menghantar pembaca/pendengar terlibat, bisa merasakan sentuhan itu secara langsung. Walaupun dalam pengalamanku adalah alm. Ayah, puisi ini bisa menyatu dan menyentuh setiap individu sebagai anak yang selalu merindu kebiasaan setiap Ramadan. Rutinitas tiap tahun yang didamba selepas subuh itu akan terkenang, akan selalu menjadi bayangan indah. Ah memori…

Sayangnya, puisi yang berhasil macam gini ga banyak. Lebih banyak yang mengawang, lebih malesi yang bertema cinta remaja, perumpamaan adam hawa, kerinduan seorang kekasih, dan sindiran yang tak mengena. Seperti kata Eka Budiana dalam ulasan di buku ini, “Pembacaan sajak oleh penyair sendiri oleh Keke, rata-rata sukses besar. Mengapa? Sebab Keke sebagai artis, pandai menghidupkan kata-kata dalam puisinya. Tetapi, kalau puisi itu tercetak dan dipersilakan ‘jalan sendiri’ ke pembaca yang terjadi bisa sangat berbeda.Penyair dituntut memberi jiwa pada kata dan huruf yang ditulisnya, agar hidup dan bebas merambah berbagai sudut dunia sastra. Sebagai teks, setiap puisi Keke dituntut bisa menembus latar belakang bahasa, budaya, sejarah, dan menawarkan nilai-nilainya sendiri.”

Saya sendiri bukan penggiat literasi yang rajin ngumpul mendengarkan penyair menyuarakan kata-kata langsung, bahkan kalau mau diingat ke belakang, saya tak pernah mengikuti komunitas puisi manapun. Hanya komunitas baca, dan jelas kebanyakan novel. Dalam WAG, Bank Buku puisi juga nyaris tak tersentuh. Kita lebih sering membicarakan novel, sejarah, filsafat hingga perkembangan terbaru dunia perbukuan. Jadi wajar, butuh waktu lebih bagiku untuk bisa menikmati sajak.

Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperti kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar. “Ah, samudra ini bagai tanpa tepi. Aku bagai sebuah perahu diombang-ambing ombak tanpa henti.” – Hari Itu.

Ups! | Oleh Rieke Diah Pitaloka | GM 201.05.021 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 2005 | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | ISBN 979-22-1774-6 | Skor: 2/5
Karawang, 300119 – Nikita Willy – Pernikahan Dini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s