Bartleby si Juru Tulis – Herman Melville

Selamat tinggal Bartleby, aku pergi dari sini. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan memberkatimu, entah bagaimana caranya. Ini untukmu…”

Bartleby si Juru Tulis (1-78). Sekarang aku harus berjuang untuk berhenti peduli dan tak akan lagi ikut campur, dan hati nuraniku setuju denganku, meskipun tentu saja aku tak kan seberhasil yang aku mau.

Waktu di mana manusia paling tenang dan bijak adalah tepat sesaat ia bangun dari tidurnya. Kisahnya sederhana, setting tempat minimalis dalam bilik kerja dengan tulisan embel-embel: kisah-kisah Wall Street, maka jelas mereka adalah orang kantoran di bursa saham. Dengan sudut pandang orang pertama, di mana sang pencerita adalah AKU maka kita diajak menelusur kehidupan tempat kerja era abad 19. Sebagai bos, awalnya aku mempekerjakan dua juru tulis dan satu pesuruh kantor. Ada si Catut, Kalkun dan Biskuit Jahe. Bukanlah nama yang lazim ditemukan di buku alamat, hanya panggilan akrab.

Kalkun tua orang Inggris berbadan pendek dan gemuk, usianya seumuran denganku sekitar enam puluh tahun. Di pagi ia sangat cerah dengan semangat pagi menggebu, setelah istirahat siang cahayanya redup, kehilangan gairah, kehabisan tenaga. Mengingat jelang sore yang loyo, kadang membuatku jengkel, tapi yah memang sudah uzur. Aku tetap menghargai tenaganya di pagi hari. “Saya anggap saya ini tangan kanan Tuan.”

Catut berumur dua puluh lima tahun, berjanggut, pucat dengan wajah mirip bajak laut. Kupikir ia adalah korban ambisi dan gangguan pencernakan. Ambisinya mencerminkan ketidaksabaran, usia muda menggebu, sejatinya sebagai penyalin itu harus sabar. Gangguan pencernakan itu menggangu sehingga ia mudah marah dan gugup. Tapi konsistensi energinya sangat diperlukan.”Hanya Tuan yang berhak memutuskan perihal ini.”

Perpaduan mereka cukup unik, Kalkun semangat pagi Catut paginya emosian. Kalkun loyo setelah istirahat, Catut menemukan ketenangan selepas makan siang. Kombinasi sempurna. Pekerja ketiga, Biskuit Jahe berusia dua belas tahun, ayahnya adalah pekerja penarik kereta yang bermimpi suatu saat anaknya bisa bekerja di balik meja, bukan di belakang kuda. Jadi ia menitipkan si Biskuit ke kantorku sebagai pesuruh untuk belajar tentang apa saja yang bisa disarikan, tentang hukum, keuletan, tukang antar surat, dan segala hal termasuk jadi cleaning service, gajinya satu dollar seminggu. Mengejar sebanyak mungkin pengalaman adalah hal paling berharga untuk remaja. “Dengan hormat Tuan, saya senang hati membelikan kertas surat untuk Tuan.”

Pekerjaanku sebagai penengah dan pemburu surat, penyusun segala macam dokumen, jadi ketika membutuhkan satu lagi juru tulis aku pasang iklan lowongan. Dan muncullah Bartleby, rapi tapi pucat, pantas tapi mengundang iba, sedih tiada terobati. Orangnya tenang dan kalem, sehingga kurasa cocok untuk mengimbangi gejolak jiwa Kalkun dan emosian si Catut. Orang lain punya takdir yang lebih megah, tapi tujuan hidupku di dunia ini Bartleby, adalah memberimu bilik kerja untuk kau tinggali selama kau mau.

Awalnya sungguh memuaskan, Bartleby mampu menyalin banyak sekali dokumen seolah lapar, dan ia melakukannya dengan sangat baik karena terlihat menikmati pekerjaan ini. Sekali lagi, awalnya. Ia sama sekali tak mau istirahat menulis, ia menulis siang malam, kala ada matahari dan sinar lilin di kala butuh pelita. Bahkan jatah liburnya pun dihabiskan di kantor. Ada sesuatu dalam diri Bartleby yang membuatku berpikir bahwa ia tak mungkin menggunakan hari Minggu untuk berkarya atau melakukan hal sekuler. Waktu menempanya menjadi pendiam, sangat pendiam malah. Anti-sosial. Bekerja saking rajinnya bak mesin, jelas segala hal yang berlebihan juga ga bagus. Memang kesopanannyalah yang selain melunakan amarahku, menggerus kejantananku.

Masalah timbul kala salinan dokumen membutuhkan cek dan ricek. Sudah lazim satu juru tulis dengan yang lain saling silang untuk saling cek, aneh sekali Bartleby ga mau mengecek tulisan rekan kerja. Dengan simpel berujar, “Saya tidak mau.” Seakan itu adalah prinsip, sehingga didesak dan dipaksa bagaimanapun ia konsisten ga mau. Lebih parah lagi, salinannya sendiri akhirnya juga ga mau dicek lagi olehnya sendiri! Wuih weleh weleh weleh… ono opo rek. Permintaan bos yang lazim dan masuk akal terkait pekerjaan, lho. Biskuit Jahe sampai berkomentar, “Saya pikir ia agak gila.” Kemudian terpikir olehku bahwa kemalangan, kesendirian, kesepian yang ia alami pastilah sangat menyengsarakan.

Keteguhannya, kegigihannya, kengganannya untuk tak melakukan hal-hal tak penting, kerja kerasnya yang tanpa henti (kecuali ketika ia memilih untuk melamun di bilik kerjanya), ketenangannya, ketetapan perilakunya dalam keadaan bagaimanapun juga, menjadikannya berharga dari kantorku. Namun seberapa lama? Masalah gawat akhirnya muncul, karena bukan hanya tak mau mengecek salinan dokumen, bahkan Bartleby menolak instruksi lainnya, segala instruksi bos! Ga mau kirim naskah, ga mau merapikan dokumen, ga mau dipanggil ke ruangan, ga mau segala perintah. Emoh! Emboh! Ogah! Dan kemudian muncullah segala hal aneh, agak mistis, dan segala kelangkaan sifat manusia. Bartleby freak, ada apa gerangan? Surat surat pembawa pesan kehidupan itu melaju menuju ajal.

Sayang sekali pengalaman pertama saya dengan Penulis besar Herman Melville ternyata seperti ini, biasa saja. Padahal kemahsyuran Moby Dick begitu tinggi. Banyak hal tentang Melville dibicarakan dalam dunia literasi. Menanti-nanti dialihbahasakan dengan sabar dan diwujudkan OAK dengan memilih cerita pendek. Padahal ini hanya satu cerita pendek, kenapa berani berdiri sendiri? Harusnya bisalah ditambah dua tiga cerita lagi, why? Jelas saya tak puas menuntaskan hanya satu cerita pendek satu buku, harga jadi pertimbangan utama, kepuasan petualangan nanggung. Dan walaupun kisahnya lumayan keren, secara overall jadinya ga plong. Ada yang mengganjal, ada sesuatu yang menahan, ada yang kurang. OAK menyebutnya fiksi/novel pendek, saya menyebutnya buku satu cerpen.

Kubaca cepat, kala dalam angkot perjalanan ke IIBF September lalu, dan kutuntaskan sekali duduk. Bayangkan, satu cerpen dalam satu buku! Kurang worth it dibeli, tapi yah karena buku-buku Herman sulit dicari di Indonesia kurasa sepuluh tahun ini harganya bisa tiga kali lipat. Masak sih, Penulis sebesar beliau penerbit major ga ada yang mau ambil?

OAK sendiri menerbitkan exclusive karena cetakan ini dinomori! Ini pertama kalinya saya punya buku dengan nomor seri. Sudah jelas mereka melihat masa depan, buku ini masuk kolektor edition, cult novel dan layak dipajang dalam rak perpustakaan. Saya mendapatkan edisi nomor 226. Akan abadi, tak seperti Penerbitnya sendiri yang mengejutkan tahun ini tutup.
Herman Melville adalah seorang guru dan awak kapal, anak ketiga dari delapan bersaudara. Kedua kakeknya adalah pahlawan perang kemerdekaan, kedua orang tuanya adalah orang berada. Lahir pada tanggal 1 Agustus 1819 di New York, nama aslinya tak memakai huruf ‘e’ di akhir, yaitu Melvill. Debut bukunya tahun 1846, Typee yang terinspirasi kala petualangan ke pulau Polinesia sukses, dilanjutkan Omoo setahun berselang, lalu Mardi (1849), Redburn (1849) dan White Jacket (1850). Setahun berselang barulah novel fenomenalnya terbit, Moby Dick. Novel inilah yang mengangkat namanya, menjadikannya penulis terkenal yang mengangkat secara finalsial. Sayangnya buku-buku berikutnya kembali meredup sehingga beliau kembali mengalami masalah keuangan, Pierre (1852), Israel Potter (1855) dan Confidence Man (1857). Bartleby, Si Juru Tulis ada dalam kumpulan cerita pendek Piazza Tales yang terbit tahun 1856. Jadi wahai para penerbit indie kesayangan kita semua, kapan maha karya Moby Dick dialih bahasakan?

Apakah kau tahu kau menyengsarakanku karena kau tak mau beranjak dari pintu kantor lamaku meski sudah lama diusir?”

Bartleby, Si Juru Tulis | Herman Melville | Oak, 2017 | Diterjemahkan dari Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall-Street | Pertama terbit oleh Dix, Edward and Co. Tahun 1856, New York | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Ika Novita | Penata letak Hengki Eko Putra | Pemeriksa aksara Solihin | Penerbit Oak | Cetakan pertama, Maret 2017 | ix + 78 hlm.; 12 x 18 cm | ISBN 978-602-60924-1-0 | Skor: 3/5

Karawang, 181218 – Ari Laso – Mengejar Matahari
Atlanta 1-1 Lazio, seharusnya.

Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi

Ibuku melahirkanku
Sebagai seorang anak
Anakku melahirkanku
Sebagai seorang ibu – ‘Kelahiran’

Kumpulan puisi (lagi?), kapok Lombok ya? Aya naon?

Barangkali tak ada yang lebih alami dalam kodrat manusia daripada arus energi di antara dua tubuh biologis serupa: yang satu meringkuk damai di dalam tubuh lain. Yang kemudian akan mengerahkan seluruh tenaga, untuk mendorong keluar yang satunya. Darinya tumbuh akar kisah-kisah tentang, ketergantungan antar manusia yang paling dalam. Dan keterasingan yang paling kelam. – Of Woman Born

Aku merasa lebih tak berdaya bersamamu daripada tanpamu. – Trying To Talk With A Man (Adrienne Rich, 1929-2012)

Setelah dibuka dua kutipan Rich, kita langsung diajak ‘bersenandung’. Berisi 62 puisi, seperti sebelum-sebelumnya seakan acak tanpa aturan baku (emang puisi ada aturan baku?). Seperti tulisan asal, mencomot kata, disusunkan, dirimakan, dirata kiri, selesai. Saya baca dalam tiga kali kesempatan duduk, pertama Sabtu pagi pas mengantar istri periksa kandungan di Klinik Dokter Sitorus, Alhamdulillah hasil USG bayi perempuan. Kedua Minggu pagi bangun lebih dini sebelum mengantar anak ambil raport di Play Group, Hermioneku ranking satu, yey! Ketiga Senin pagi tadi sebelum mandi, ditemani segelas kopi dan iringan lagu Sherina Munaf di laptop, sebelum berangkat kerja, semangat Moanday. Saya nikmati di sela baca A Man Called Ove yang padat, pria tua penggerutu. Puisi ini memang saya baca santai, buku tipis, amat tipis malah, tak sampai 100 halaman, ada beberapa yang kosong, ada ilustrasi sederhana warna hitam seolah potongan gambar jendela, pintu dan sudut rumah. Saya masih belum yakin, nyamannya puisi itu dibaca nyaring atau lirih atau hanya dalam hati?

Contoh bagian yang agak sulit, untuk kita (eh saya) logika ada di bagian ‘Tidur’ ada sebaris yang berbunyi ‘Ia mengambil kepalaku di tangannya’, membuatku mengernyitkan dahi, menyipitkan mata. Sampai kubaca berulang kali, biasanya kalau saya kurang paham bacaan akan kuulang, akan kucerna lebih lama, akan kubaca nyaring sampai masuk ke kepala, yah kalau masuk. Tapi setelah empat lima kali percobaan masih belum nggeh, opo maksudte?

Pada dasarnya saya suka yang sederhana, ga ngawang-awang. Saya senang bagian ‘Jarak’ di akhir bertuliskan: ‘Ingat ayah merindukan kita dari amat jauh, dan ibu kerap memarahimu karena dekat.’ Mengingatkanku pada Mbak ku, Mbak Pur di Palur, dulu pas satu atap kita sering sekali marahan, rebutan mandi duluan tapi dasarnya malas bangun pagi, cepat-cepatan ambil lauk goreng saat sarapan, rebutan remote tv, rebutan nasi ‘berkat’ sepulang ayah kondangan, bagaimana poster Marcelo Salas-ku disobeknya karena marah, bagaimana peralatan kosmetiknya saya obrak-abrik sebagai balasan. Itu dulu, saat jarak tak jadi soal kita dua saudara yang bagai air dan api. Kini saat sama-sama dewasa, dan saya terlontar di perantauan, rasanya momen-momen ‘memarahi’ itu jadi merindu. Ah waktu, ah jarak.

Yang kusuka lagi sederhana pula di judul ‘Layar Lebar’ bagian akhir berbunyi: ‘Lihatlah tembok ini, dengarlah ia berbicara. Runtuhkan aku dengan krayon-krayonmu, mainkan layar lebar yang menayangkan mimpi-mimpi kau dan ibumu.’ Menelisikku pada putriku yang sukanya coret-coret tembok, bukan hanya dengan crayon, pensil warna atau stabilo, ia bahkan menggambar kapal di tembok pakai lipstick! Ya saya biarkanlah sambil ketawa, daya kreatif balita memang lagi tinggi-tingginya. Paling kita arahkan, belikan buku yang banyak, crayon seabreg demi mewujudkan layar lebar a la Hermione.

Bagian ‘Beres Beres’ kurasa unik, kek barang yang akan dibereskan, kata-katanya juga diserakkan sembarang. Sampai saya ikut gemes kugores ‘wuzz wuzz wuzz wuzz’ dengan stabilo kuning. Wahai para pujangga, apakah hal-hal receh gini yang membuat kumpulan puisi malah menjadi menarik?

Dari daftar ini saya paling suka ‘Jalan-Jalan’, dan sekali lagi karena kesederhanaannya, dekat dengan kita, kita jadi bagian dalamnya. Saya ketik ulang deh, cuma beberapa kalimat:

Seorang anak di dalam kereta, didorong ibunya | Anak bertanya, “Ke mana kita pergi, Ibu?”, jawab Ibu, “Keliling-keliling saja.” | Anak melihat bola-bola dan balon-balon di toko mainan, ibu mengamati berbagai rupa biskuit Itali di balik kaca | Anak menonton mobil dan sepeda yang bersliweran di jalan, ibu membaca sebuah pengumuman tentang karnaval | Anak melihat anjing lewat dan boneka jerapah yang jatuh di jalan, ibu bersapa dengan tetangga tentang cuaca | Anak mengamati poster-poster film di bioskop, ibu juga | Anak melihat dan menunjuk lampu yang baru saja dinyalakan, ibu berkata kepada anak tentang gelap yang sudah dekat | Anak menunjuk sekelompok burung-burung melintas langit senja, ibu berkata sudah waktunya kita berbalik pulang | Anak bertanya, “Besok keliling-keliling lagi?”, ibu mengangguk, mendorong kereta lebih cepat.

Sederhana kan? Justru kekuatan utama fiksi adalah kita ‘ada’ di dalamnya. Mengingkanku akan pengalaman jalan ke mal dengan hanya ‘menonton’ keadaan, melihat sekeliling, menyaksikan hiruk pikuk kesibukan manusia, makhluk yang bisa berpikir ini. Kebetulan saya hobi jalan kaki. Membayangkan segalanya akan disapu zaman, generasi dulu kita yang ganti, generasi sekarang akan diganti anak cucu. Dan interaksi anak-ibu ini sungguh lucu. Sekeping cerita Jalan-Jalan yang bagi setiap umat, hanyalah fakta kecil sambil lalu. Kebahagiaan mewujud dari dalam, bukan?

Kalau mau, kalian bisa menelusur blog ini, saya ga banyak membaca dan ulas puisi. Dari ratusan buku, hanya segelintir yang pernah kunikmati semacam Chairil Anwar, itupun semi-biografi Sjuman Djaya: Aku gara-gara AADC. James Joyce dalam Bilik Musik, yang setelah kuingat lagi ternyata belum kuulas. Atasi Amin dalam Potret Diri hingga karya Nanang Suryadi dalam Penyair Midas, yang ini pemberian teman menang kuis. Oiya, jangan lupakan jua buku Yopi Setia Umbara: Mengukur Jalan, Mengulur Waktu yang saat kubeli ternyata karena ketertarikan kovernya aduhai, dan kalau ingatanku kulempar dua bulan lalu, saya ‘terjerat’ Ibu Mendulang ini lebih karena kovernya yang bagus berwujud kuda-kudaan dengan latar yang cathy. Duh! Dijamin dalam koleksiku, tak ada (atau belum ada?) nama-nama besar Penyair Joko Pinurbo, tak ada bukunya Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang hingga mungkin yang hampir dekat dan sering kutimang bukunya di Gramedia, Goenawan Mohamad, hingga detik ini tak pernah kutenteng ke kasir. Betapa kering dahaga syair romantis di daftarku. Hiks,…

Saya belum nyaman sama rima puisi. Termasuk setelah menuntaskan baca Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, debut karyanya yang menyabet juara III Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2015. Saya malah terpesona sama editor bernama Sasa. Sudah puluhan terbitan Gramedia, akhir-akhir ini di tangan beliau hal-hal non teknis ini jadi nyaman dilahap. Minimalis kesalahan ketik, enak buat baca. Bahkan pernah saking penasarannya sama ini orang, satu buku siap saya coretin bila ada typo atau kesalahan dasar dalam cetak, sampai sekarang belum nemu. Keren. Memang selayaknya penerbit besar punya editor berkelas, dan jelas Sasa mencipta hal itu dari buku tebal sampai buku setipis ini, semuanya bagus. Hebat!

Pas SD dulu saat baca Majalah Bobo, mayoritas pinjam atau beli murah bekas 100 perak di lapak buku dekat Tugu Gladag Solo, kolom puisi sering kali kuabaikan. Selain panel komik yang terkenal itu, saya lebih suka artikel di Arena Kecil, Tak Disangka hingga cerpen-cerpen kiriman pembaca. Puisi hampir selalu kena skip. Oiya, ada juga Majalah Ananda yang lebih padat tulisan karya, saya lebih sreg di bagian humor malah ketimbang puisi. Pas SMP bahkan saat tugas Bahasa Indonesia bikin puisi, puisi saya lebih seakan narasi prosa ketimbang berima yang membuat bu guru dan seisi kelas tertawa ketika dibaca di depan. Entah beneran karena lucu atau saking amburadul nan kacau. Tentang pengalaman mencuri mangga tetangga dengan ketapel. Dan sampai kini sudah keluarga pun, dalam rak perpus mungilku tak banyak buku puisi. Walau setiap ulang tahun anak istri, saya belikan satu pot bunga, saya ini ga romantis. Walaupun setiap pagi bangun tidur, saya kecup mereka di kedua pipi, saya ini tak romantis. Sekalipun setiap berangkat kerja saya cium keningnya, saya merasa ga bisa meromantis. Walaupun sepulang kerja, istri cium tangan dan anak minta gendong dalam dua putaran, jelas saya belum bisa mencipta puisi yang syairnya melodrama bikin air mata keluar atau membuat trenyuh pembaca (atau pendengar?). Saya tetaplah pembaca fiksi, segala rupa, segala jenis. Namun tidak untuk puisi, salut buat para penikmat karya genre yang satu ini.

Jadi bagaimana penilaian Ibu Mendulang? Manifesto Flora jelas memuaskan, seharusnya menang karya pertama atau kedua. Kumpulan puisi ini kurasa sama saja dengan buku kumpulan syair yang lain, kayaknya pernah saya bilang gini ya? Hehe, repeat order please! Rataan tak memuaskan, tapi juga ga mengecewakan. Ga bikin kapok karena jelas ini bukan puisi terakhir yang kubeli atau nikmati, juga ga bikin candu karena memang beginilah selera. Tak bisa ditebak. Sebagai uneg-uneg penutup saya kutip kalimat terakhir buku ini, untuk saya, untuk kamu, untuk kita. Mungkin.

“…atau sekali-kali, sembunyilah.”

Ibu Mendulang Anak Berlari | Oleh Cyntha Hariadi | GM 616202020 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, April 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Copy editor Sasa | Desainer buku Roy Wisnu | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-2763-1 | Skor: 3/5

Karawang, 171218 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah

Bunga Rose di taman?
Bunga Rose di taman, Rani, Intan, Rayen

Pekan Ke 16: Atlanta Vs Lazio

LBP 0-3
Indahnya jadi Laziale, penderitaan jarang menang kembali menerpa. Kepergian Felipe Bale Anderson sangat terasa, Luiz Alberto ternyata ga segarang musim lalu. Savic drop, dan lini tengah sungguh mengkhawatirkan. Bangkitlah sekarang.

AW
Atalanta 2-2 Lazio, Papu Gomez
Lazio akhir-akhir ini doyan main seri. Lazio sebenarnya bisa menang ini seri. Tapi Papu Gomez akhirnya jadi kartu seri.

Takdir
0-4, Immobile, DDLDDL adalah rekor Lazio saat ini, sungguh hasil buruk untuk pesaing papan atas. Inzaghi akan mengerahkan seluruh akal, pikiran dan segala kekuatan tuh jiwa raga, daya upaya, dari negeri antah sampai negeri wonderland demi mengembalikan kepercayaan skuat The Great. Hasilnya langsung terlihat, hujan gol terjadi dengan Correa sebagai pemain terbaik. Go go go…

DC
Atalanta 2-1 Lazio
Zapata
Bermain di Stadio Atleti Azzurri d’Italia akan menguntungkan buat home side. Sekaligus kelabu buat tim tamu. Pesta bagi Atalanta.

Hanny Mei Prayitno
Atalanta 1-2 Lazio; Cirrooooooo
Kau mengatakan jika kau bisa terbang, kau tidak akan turun kembali. Kau menuju ke arah langit yang biru. Tidak pernah mengingat “Kesedihan”. Sekarang baru mulai memahami “Rasa Sakit”. Bahkan perasaan ini telah kusentuhkan padamu, sekarang hanya berubah menjadi “Kata-kata”.

Karawang, 151218

Kekuatan Ngobrol

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan – Umar Kayam

Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apalagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau sudah salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Saya langsung teringat buku self improvement yang kubaca tahun 2000an karya Dorothy Sarnoff berjudul: ‘Bicara Dapat Mengubah Hidup Anda’. Salah satu paragraf favoritku adalah ini: “Anda berkewajiban bicara dengan orang lain sedemikian rupa sehingga Anda tidak hanya menarik perhatian namun juga merangsang mereka untuk berpartisipasi. Apakah Anda seperti mendempul kepercayaan diri atau menenggelamkan mereka? Apakah Anda menawarkan pembukaan untuk membuat sesuatu dengan cara pandang mereka sendiri atau mengunci mereka? Di atas itu semua, apakah Anda memperlihatkan minat pada mereka atau hanya pada diri sendiri. Percakapan, seperti permainan lempar-tangkap, tidak dapat hanya satu pihak. Jika seseorang melambungkan, ada satu kesunyian yang mendebarkan sampai bola tadi ditangkap dan dilemparkan kembali.” Ya, percakapan alias ngobrol bisa menjadi seru atau menjemukan, seolah permainan lempar tangkap bola. Umar Kayam mencipta komunikasi itu dengan menakjubkan.

Makanlah ketika lapar, berhentilah makan sebelum kenyang’. Hal awal yang terlintas setelah baca buku ini selain kekuatan ngobrol adalah kutipan dari Nabi. Buku ini sungguh minimalis. Saya pernah menanyakan beberapa kali ke teman-teman penjual daring buku-buku Umar Kayam setelah terpesona Para Priyayi. Semua bilang kosong, terbitan Grafiti jelas sudah jadi cult sekarang. Masuk edisi kolektor. Maka keinginan itu terpendam lama. Sampai akhirnya diterbitkan lagi sama Pojok Cerpen. Maka saat kesempatan itu datang, saya bener-bener melepas dahaga lapar. Sayangnya buku ini sungguh tipis, saya baca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya, sekali duduk dengan kopi mengepul yang bahkan belum tandas sepenuhnya. Well, saya belum kenyang. Saya masih ingin menikmati karya-karya Kayam… waduh. Hanya dengan percakapan. Dengan berbicara! Dengan membicarakan satu kejadian tertentu, atau satu orang tertentu, atau satu hari tertentu, berulang kali, hal-hal yang amat detail pasti timbul.

#Kata Pengantar: Eka Kurniawan
Kebanyakan kata ‘bahkan’ dan ‘bahwa’ (saya hitung ada 13 bahkan, 7 bahwa), bahkan kata pengantarnya lebih panjang dari cerpen yang terpanjang sekalipun dari buku ini. Sempat memboring diputer-puter, poin utama sih sebenarnya sepakat bahwa Umar Kayam jago banget menciptakan nuansa obrolan yang sungguh mengasyikkan. Kekuatan ngerumpi, hal-hal yang tampak sederhana di mata umum, di Indonesia yang lumrah kita jumpai di sekitar kita tentang aktivitas komunikasi itu di sebuah gedung apartemen New York, aktivitas itu menjelma barang mahal. Menjadi komoditas utama cerpen-cerpen Umar Kayam. Kalau mau dipadatkan lagi dalam satu kalimat, ‘buku ini sukses karena karakternya hidup!’ “Kata kata, Mademoiselle, hanyalah kulit luar sebuah gagasan.” Kata Hercule Poirot dalam novel Pembunuhan ABC

#1. Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan
Pembuka yang keren. Minimalis adegan banyakin ngoceh, minimalis setting tempat, minimal karakter. Hanya dalam beberapa menit, dalam ruangan terjadi percakapan sepasang kekasih. Jane adalah janda yang butuh perhatian, Marno adalah suami selingkuh, orang Indonesia yang menatap keluar kaca gedung, memperhatikan kunang-kunang. Mereka cuma ngobrol dari awal sampai akhir, ditemani minuman martini dicampur gin dan vermouth atau bourbon, Pembaca dibiarkan mengimajikannya, dibuat gemas sendiri. Cerita dalam satu ruang ini jelas sangat elok untuk diadaptasi dalam sandiwara atau sekedar teater mini. Kekuatan ada di dialog, mengingatkanku pada naskah film-film Quentin Tarantino.

Sudahkah aku ceritakan hal ini padamu?”

#2. Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa
New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Mulutnya terus menganga dan terus menelan manusia tanpa pilih-pilih. Cerita pendek kedua juga mengedepankan kekuatan ngobrol. Temanya adalah kesepian. Kalau yang pertama seorang wanita kesepian yang pengen ngerumpi dengan kekasih, kali ini seorang istri yang kesepian siang harinya sang suami kuliah, dan bersama anaknya yang masih bayi terkurung dalam ruang. Tetangga yang cuek khas kota besar, tapi akhirnya ia pun memberanikan diri memperkenalkan diri ke semua tetangga, salah satu yang ‘terjerat’ adalah Madame Schlitz. Terdengar seperti seorang bangsawan Jerman atau Austria? Ya, kemudian hal-hal aneh terjadi.

Dan aku, aku salah satu yang tertelan itu. Bukankah itu mengerikan?”

#3. Sybil
Pinternya mengolah plot. Kasus orang cuek dengan latar tak biasa. Sybil adalah gadis yang kesepian di liburan musim panas, ibunya yang single parent sering mengajak Tuan Robertson, lelaki asing untuk tidur di tempat mereka. Sybil yang bosan diberi uang satu dollar untuk kelayapan, ketemu tetangga yang akan pergi keluar rumah dengan entengnya menitipkan anaknya berusia 6 tahun, Susan kepadanya sampai sore ini. Sybil belum mengiyakan, tapi uang diterima. Maka mereka naik bus ke park, menikmati suasana pantai. Susan yang ceriwis, mengajak Mr. Todd boneka kesayangan. Ada tindakan tak terduga Sybil pada akhirnya. Dan dengan aneh, kisah ditutup wow.

Kau memang suka kalau aku pening kepala pagi-pagi gini.”

#4. Secangkir Kopi & Sepotong Donat
Ini tentang pelayan kafe yang diperlakukan istimewa sama pelanggan, sama beberapa pelanggan, sama salah seorang pelanggan. Narasinya berkutat terus dalam suasana tempat makan. Salah satu pelanggan Pemuda kakaktua memainkan kertas tisu untuk saling bertukar pesan sama Peggy. Kenapa ajakan kemarin ga datang? Kenapa kamu berbeda? Deretan kecemasan ala kadar itu memang tak sampai membuat kursi baca terjungkal, tapi jelas ini jenis ngobrol yang tak lazim.
Lagi-lagi komunikasi adalah kunci, kali ini lewat secarik kertas dan memang benar, kuncinya adalah timing. Cring cring cring, thank you.

Bapak mabuk lagi semalam, ibu dipukuli. Now get out get out!”

#5. Chief Sitting Bull
Unik, aneh, dan manakjubkan. Sederhana, tapi justru dari hal sederhana inilah kekuatan kisah ini. Seorang kakek Charlie yang menjalani rutinitas di hari tuanya, agak terganggu dengan ulah menantunya Mary. Ia biasa naik kuda hitam atau putih dalam carousel, siang itu ia terlambat sehingga kuda itu sudah dinaiki seorang anak. Tak mau menunda sampai putaran berikutnya, Charlie membujuk anak kecil itu dengan santun dan penuh gaya. Berperan sebagai Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Dah yah, berhasil. Kegiatan rutin sampai sore pun terlihat wajar, dengan sekumpualn burung dara, dan pertemuan dengan lansia lain, dst.

Namaku bukan Bill.”

#6. There Goes Tatum
Ketika usai baca cerpen ini dan juga sekaligus buku ini. Saya langsung berujar, wah pengalaman pribadi? Tampak nyata, senyata ancaman belati si bocah negro. Dua tokohnya hidup. Cerpen penutupnya juga sederhana, sekilas lewat, sekilas wuuzzz… seperti judulnya. Namun sangat mengena, tampak santai tapi mengintimidasi. Di Riverside Park yang tampak lengang, seorang anak negro mengemis 50 sen. Dengan rintik gerimis, sesaat ada pencopetan, sekilas lalu dan sebuah aksesoris tangan pun berpindah tangan.

Made in Switzerland.”

Ini adalah buku kedua Umar Kayam yang saya nikmati setelah Para Priyayi yang keren itu. Masuk ke dalam best novels sepanjang masa versiku. Seribu Kunang adalah buku debut yang pertama terbit tahun 1972, menyabet cerpen terbaik Majalah Horison tahun 1968. Kelihatan sekali beliau memahami lanskap tempat bercerita. Beliau memang lulusan M.A. dari Universitas New York tahun 1963 dan meraih gelar Ph. D tahun 165 di Universitas Cornell. Saya sudah ngefan beliau sejak baca Priyayi, jadi buku ini dan berikutnya hanya penegasan. Ia tidak ingin menaklukkan apa pun, melainkan hanyalah menjelajah kemungkinan-kemungkinan.

Bukunya mungil, ga nyampai seratus halaman. Dulu pas baca Para Priyayi, setahuku terbitan Pustaka Utama Graviti, sekarang ternyata diterbitkan lagi oleh Pojok Cerpen. Dan baru tahu juga, ini penerbit baru, Seribu Kunang adalah debut mereka! Wow, good luck. Ditunggu kumpulan cerpen berikutnya, kalau boleh usul terjemahkan buku Kate Chopin, saya terpesona sama Kisah Dalam Satu Jam dan menjadi penasaran dengan cerita lain beliau. Tapi sebelum yang lain, rasanya Pojok Cerpen berkewajiban untuk menuntaskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen Umar Kayam lainnya, karena cerpen yang harusnya sepuluh kini hanya muncul enam. Why?

Nonton tv bersama Mr. Todd.”

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan | Oleh Umar Kayam | Cetakan pertama, Agustus 2018 | Pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya (1972) dan Pustaka Utama Grafiti (2003) | xxvii + 92 hlm., 12 x 18 cm | ISBN 978-602-52260-6-9 | Ilustrasi sampul Nurari Pertiwi | Perancang sampul Antonius Riva Setiawan | Penata letak isi Aziz Dharma | Pemeriksa aksara Isma Swastiningrum | Penerbit Pojok Cerpen | Skor: 4/5

Karawang, 141218 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Thx to Iyul, pas satu minggu kelar baca ulasnya.

Mata Malam – Han Kang

Harus menyerah, jika pilihan lainnya hanya mati, kalian harus membuang senapan dan langsung menyerah. Cari cara untuk menyelamatkan diri.” Mereka sedang berjalan dalam barisan. Mengikuti perintah kami, mereka berjalan dalam satu barisan sambil mengangkat kedua tangan. Apakah dengan begitu mereka selamat?

Tidak tahu. Karena sepertinya itu hal yang wajar untuk dilakukan. Kisah tentang tragedi di Korea Selatan pada tanggal 18 Mei 1980, bagaimana sebuah demonstran buruh, mahasiswa dan warga dibubarkan dengan kekerasan yang mengkibatkan banyak kematian. Uprising Gwangju menjadi sejarah hitam Negeri Gingseng laiknya peristiwa pembersihan PKI tahun 1965 di Indonesia, semakin mengesahkan bahwa era diktator memang harus diruntuhkan. Katanya, bulan adalah bola mata malam.
Aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara untuk berdoa sampai selesai.

Tuhan akan memaafkan dosa kami, seperti kami memaafkan mereka. Aku tidak memaafkan dan dimaafkan siapapun. Buku dibagi dalam tujuh bab yang berarti ada tujuh karakter yang diambil sudut pandang.

#1. Burung Kecil (Sang Pemuda, 1980)
Bagian dalam cermin adalah dunia dingin dan tenang. Ia diam memandang wajah asing yang menatapnya dari dunia ini, memandang pipi yang masih lembam kebiruan. Butuh waktu beberapa halaman untuk memahami Mata Malam ini akan ke arah mana, dah biasa saya ga baca kover belakang, takut kena spoiler. Pembukanya adalah narasi berisi sebuah gedung yang mencekam karena mayat bergelimpangan, sederet panjang ranjang berisi orang mati, dan ini bukan yang terakhir karena akan datang lagi truk berisi lebih banyak tubuh terluka atau sudah tak bernyawa. Karena memang ga paham Korea, maka saya ngalir saja sampai pada satu titik klik bahwa kekejaman ini dilakukan oleh tentara pemerintahan yang menembaki warganya sendiri. Kamu merasa aneh melihat mereka menggelar bendera Korea di atas peti mati dan mengikatnya kuat-kuat dengan tali. Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? Kenapa mereka menyelimuti peti mati dengan bendera Korea? Seolah-olah yang membunuh mereka bukan Negara. Ia baru berusia 15 tahun saat hari naas itu terjadi.

Ya, ironis memang. “Benar, bau busuk bisa hilang jika kita menyalakan lilin.”

#2. Napas Hitam (Kawan Sang Pemuda, 1980)
Ketika seseorang masih hidup, di mana gerangan burung kecil yang pergi ketika orang itu mati? Di dahi yang berkerut, di bagian atas kepala seperti lingkaran cahaya, atau di suatu tempat di jantung? Berikutnya kita diajak berpindah karakter, kalau yang pertama adalah sang pemuda (lebih tepatnya sebenarnya remaja), kita sekarang ke kawannya yang sudah mati. Ia menjadi saksi tumpukan mayat, betapa malaikat kematian begitu sibuknya. Bahwa di dunia sesaat setelah kematian, satu jiwa dengan jiwa lain tak bisa komunikasi, mereka hanya bersinggungan, dimensi yang sama frekuensi lintas yang beda. Kekejaman militer dikupas sedemikian mengerikan. Padahal hanya bunyi tetesan air, tapi aku mengingatnya, seakan-akan ada orang yang datang.

Manusia meninggal yang menghuni dunia antara. Ke mana jiwa pergi ketika raga sudah mati? Mendadak kamu berpikir begitu. Berapa lama jiwa bertahan di sisi raganya semula?
Yang menakutkan itu tentara. Orang mati sih tidak menakutkan.”

#3. Tujuh Tamparan (Sang Penyunting, 1985)
Sudut berganti dengan aneh, sekarang kita menjadi seorang penyunting. Melesat lima tahun kemudian. Tentang peristiwa berdarah itu, ditulis, diedit, disunting hingga nantinya akan disebarluaskan – diwartakan. Pihak Pemerintah tentu saja menyunat segala hal yang buruk tentang mereka. Sang penulis dicari, penerbit diancam, jurnalisme dibungkam. Terdengar familiar dengan periode kelam Indonesia masa Orde Baru? Ya, di Korea hal seperti ini ternyata juga terjadi. Di Korea Selatan yang sekarang tampak sangat maju itu, tahun 1980an masih mencekam. Aku tidak akan menghabiskan hidupku hanya untuk melindungi diri sendiri.

Tiba-tiba kamu berpikir jendela itu seperti sesuatu menghembuskan napas yang panjang. Malam, seperti makhluk raksasa, membuka mulut untuk menghembuskan napas dingin yang lembab. Udara panas yang tadi memenuhi kantor tertutup, terisap ke dalam paru-paru kelam. Tujuh tamparan untuk perempuan itu terjadi sore jam empat di tengah pekan. Keras dan berkali-kali. Bukan keluhan yang tercipta, tapi sebuah kesumat tulus untuk menegakkan kebenaran. Gulingkan Chun Doo Hwan si Penjagal. Aku ingat perasaan tidak takut lagi, perasaan rela mati, perasaan segar, seakan-akan darah puluhan ribu orang terkumpul membentuk satu pembuluh darah.

#4. Besi Dan Darah (Sang Tahanan, 1990)
Aku butuh lebih banyak kenangan. Aku harus memutar kenangan, lebih cepat lagi, agar tidak terputus. Ini sama seramnya. Setelah bercerita para korban yang meninggal kita diajak menjadi korban yang selamat, ditahan, disiksa, diintimidasi hingga traumatis bak zombie, sepuluh tahun kemudian. Kisahnya detail di hari berdarah itu bahwa banyak anggota demo sebenarnya yang memegang senjata tapi mereka tak menggunakan untuk benar-benar melindungi diri, banyak remaja, anak-anak dan sang karakter utama yang terlihat senior pun baru berusia 23 tahun. Divonis sembilan tahun, tapi tak sampai setahun dibebaskan bersyarat, bebas apa? Hati mereka remuk redam atas penyiksaan. Seandainya masa pada musim panas semi tahun itu kembali lagi, kamu mungkin akan mengambil jalan yang serupa. Seperti ketika kamu hanya sibuk menghindar dalam permainan menghidari bola waktu dirimu masih SD, sampai akhirnya kamu harus memegang bola karena hanya dirimu sendirian yang tersisa.

Kita pikir senapan bisa melindungi kita.”

#5. Bola Mata Malam (Sang Gadis Buruh, 2002)
Bukan berarti pula kelompok massa pertama bersifat biadab. Kebiadaban yang memang pada dasarnya ada pada manusia, pada mereka hanya menjadi ekstrem akibat kekuatan massa. Sang pencerita berikutnya adalah korban yang tampaknya hanya ikut-ikut demo, selalu memanggil kak Seong Hee. Menurut konstitusi, kita sama berharganya dengan orang lain. Berarti kita juga punya hak yang setara, menurut Peraturan Buruh. Mengandalkannya, menjadikannya panutan, segala hal yang disampaikan menjadi acuan tindakan. Di tahun 2002 ia diminta wawancara media, tapi menolak. Akhirnya dikirim rekorder agar menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan, merekam sendiri. Kemudian kita tahu betapa berat masa itu. Menghadapi hari esok dalam hilang hasrat, bahkan ketika halaman bab ini akan habis saya sampai hampir menangis, bagaimana manusia bisa sekejam itu mengambil hak hidup dengan tangan-tangan kotor. Ke mana nurani pergi?

Apakah kamu bisa bersaksi dan mengatakan bahwa kamu menderita karena kecupan singkat, karena sentuhan tangan di pipimu, dan bahkan tatapan mata yang singgah di lengan dan betismu pada musim panas? Kamu berdiri terdiam tidak tahu ke mana perginya sesuatu yang bagai burung kecil itu saat melihat wajah keriput nenek yang telah berubah menjadi mayat.

Ya, saya dengar.”

#6. Ke Arah Bunga Mereka (Ibunda Sang Pemuda, 2010)
Ini bagian paling menyedihkan. Menjadi sang ibunda korban tragedi. Sebagai janda yang membesarkan tiga anak, anak pertama bekerja ke Seoul, anak kedua hidup dalam satu atap dan si bungsu adalah remaja yang tewas di bab pertama. Kejadian saat hari H sungguh ‘menggemaskan’. Sang ibunda malam itu sudah datang ke gedung dengan anak nomor dua, mencari si bungsu. Dibentak petugas, diminta kembali pulang oleh tentara dengan acungan senjata, karena sekarang berlaku jam malam. Awalnya anak keduanya melawan, memaksa. Namun dengan tenang sang ibu memintanya mengalah pulang, ia tak mau kehilangan anaknya lagi. Dan esoknya kita tahu, si bungsu tewas. Gemas, karena misi menyelamatkan nyawa orang terkasih itu hanya sejengkal dalam gedung, dibatas tembok saja! Sedih, menyedihkan sekali dunia ini. Katanya, pohon hanya bernapas satu kali sehari. Mereka menghirup dalam-dalam cahaya matahari saat terbit, kemudian mengembuskan dalam-dalam karbon dioksida saat matahari terbenam.

Dong Ho…, hiks.

#7. Lampu Berselimut Salju (Sang Penulis, 2013)
Aku dihadiahi radio kecil oleh seseorang. Radio itu bisa memutar balik waktu. Katanya aku hanya perlu memasukkan tanggal ke layar digital radio itu. Aku menerima dan memasukkan waktu ’18:05:1980’. Aku harus ke tanggal itu jika aku ingin menulis tentang peristiwa 18 Mei. Yang terakhir kita menjelma menjadi sang Penulis, Han Kang. Ia menuturkan bagaimana jalan liku untuk menulis kisah ini. Ditelusur, dicek and ricek, wawancara, meminta izin pada para keluarga korban, dan alasan mengapa kisah ini harus dituturkan. Saat Uprising Gwangju terjadi, Han Kang baru berusia sepuluh tahun.

Sekarang kita sudah memiliki raga, jadi seharusnya kita tidak perlu menggerakkan tubuh jika ingin bertemu. Namun kalau aku tidak punya tubuh, bagaimana caranya menemui Kakak? Bagaimana aku bisa mengenali Kakak yang tidak bertubuh? Ada ingatan yang tak bisa sembuh. Ingatan tersebut tidak memudar seiring berlalunya waktu, tapi malah akan menjadi satu-satunya yang tersisa ketika segala yang lain terkikis.

Well yeah, saya tak mengikuti segala hal berbau Korea. Saya tak tahu musik-musik K-Pop, drama K-Pop, atau sekedar selintas lewat di beranda sosmed langsung saya skip. Lebih bikin males, mereka memiliki nama-nama yang mirip. Di ulasan ini saya hanya menyebut tiga nama dan saya yakin seminggu lagi hanya satu yang akan kuingat, mungkin sebulan kemudian lupa semua nama-nama karakternya. Hanya sang Penulis yang mudah diingat. Kecuekanku ini, termasuk dunia literasi dari Negeri Gingseng. Kenapa saya putuskan baca ini, yang pertama ini adalah terbitan Baca. Saya sudah baca dua terbitan lama mereka, keduanya masuk best 100 Novel versiku: Herman Hesse: Stephenwolf dan karya William Golding: The Lord of the Flies (Apakah mereka dari Penerbit yang sama? Entahlah). Kiranya mereka fokus ke karya terjemahan sastra dunia, maka saat dari Penulis Vegetarian yang mengalahkan buku Eka Kurniawan ini dialihbahasakan, hanya masalah waktu saja saya pasti nikmati. Jadi wujud lahap buku ini bukan karena Korea-nya tapi penghargaan Man Booker International Prize 2016. Ini penghargaan jaminan mutu. Kedua ini adalah buku hadiah dari rekan sekerja Iyul yang bulan lalu resign untuk fokus jadi IRT. Sejatinya kalau Iyul ga belikan buku ini (dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) saya juga akan beli paket 100,000 tiga buku itu (bersama Vegetarian dan Kafka), tapi justru saya malah dapat durian runtuh bahwa Mata Malam sudah pesan di Dema Buku, yo wes jadinya budget itu saya alihkan untuk Harbolnas kemarin, meluncur ke Mizan Store.

Jadi seberapa bagus kisah tragedi Uprising Gwangju ini? Rekomendasi dah, untuk penikmat sastra yang butuh konsentrasi lebih. Kata-katanya disusun dengan jeli, terjemahan Ok banget, hanya menemukan satu typo: rasa rakut – halaman 60; kover fresh dalam artian Mata Malam sendiri adalah bulan dengan coretan urek-urekan bulan hitam. Terima kasih Penerbit Baca, terima kasih Dema Buku, terima kasih sekali untuk Iyul.

Sepertinya Vegetarian dan karya Han Kang berikutnya yang beralih bahasa Indonesia tinggal tunggu waktu yang tepat untuk kubaca. NexT…

Mata Malam | By Han Kang | Diterjemahkan dari Human Acts | copyright 2014 | First published in Korea by Changbi Publishers, Inc | Indonesian translation rights by Baca Publishing House, 2017 – Bentang Aksara Cahaya | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Arif Bagus Prasetyo | Pemeriksa aksara Moh. Sidik Nugraha | Penata isi Aniza Pujiati | Perancang sampul Wirastuti – TEKOBUKU | Ilustrasi sampul Freepik | Cetakan I: Oktober 2017 | ISBN 978-602-6486-12-7 | Skor: 4/5

Karawang, 12-131218 – Sherina Munaf – Ada

Kisah Dalam Satu Jam

Dunia yang palsu, mengapa pendanganmu menyilaukan kami.”

Kumpulan cerpen Penulis dunia. Nama-namanya sudah mendunia, sebagian besar sudah akrab di telinga. Pas memutuskan beli ya karena karya mereka adalah jaminan kualitas. Jarang saya beli kumpulan cerpen dengan sistem keroyokan gini, iseng ambil pas di Zona Kalap IIBF 2018.

#1. Kerangka – Rabindranth Tagore
Kisah pembuka yang luar biasa. Kisah sederhana di tangan Tagore menjadi wow. Tentang balas dendam, tentang cinta yang tak sampai. Ditulis dengan halus, tanpa menggebukan amarah arti kesumat itu sendiri. Ada ruang berisi kerangka, dengan sudut orang ketika kita disajikan cerita berlapis bagaimana kisah tragis menjadi dahsyat. “Apakah kau masih di sini?

#2. Kasus Pembunuhan – Graham Greene
Pembunuhan ganjil dengan sebutan ‘Kasus Peckham’. Di dini hari yang remang pembunuhan terjadi. Menghadirkan beberapa saksi salah satunya Nyonya Salmon yang melihat jelas dari sibak tirai jendela. Begitu sidang pengadilan telah berjalan dan niscaya Anda pun akan berpendapat pastilah si penjahat, Adams akan dihukum gantung. Namun sebuah bukti lain mengejutkan sehingga segala yang tampak yakin menjadi kabur. Kisah dengan cerdas melontarkan pilihan ketiga, dan ending yang mengerikan. “Anda lihat orang itu sekarang ada di sini.”

#3. Perkampungan Indian – Ernest Hemingway
Orang Indian akan menyukai sesuatu jika diberi kesempatan. Tentang persalinan di seberang dermaga. Nick dan ayahnya dijemput orang Indian untuk membantu kelahiran, pasangan sang ibu hamil kemarin sakit parah sehingga saat persalinan berlangsung ia mendekam dalam kamar dengan erangan sakit tiada tara. Lebih nyaring dank eras ketimbang proses persalinan itu sendiri. Akhirnya sendiri menyedihkan. Ironi bagaimana sang Penulis akhirnya malah berakhir dengan bunuh diri. “Apakah banyak manusia yang bunuh diri?

#4. Burung Bulbul – Marxim Gorky
Cerita keempat tetap luar biasa, bagaimana siulan burung bulbul menjadi penanda. Bagaimana orang dengan teknik khusus bisa mencipta siulan burung bulbul. Trik dan segala keahlian itu mengecoh para penumpang kapal. Kesedihan merambat di atas sungai yang tampak lesu. “Ketika saya sudah mahir meniru kicau burung, orang-orang desa mengatakan kepada saya. Teruskan bersiul, Misha…” Kita telah mendengar kicau burung bulbul, burung yang menjadi mahsyur karena penyair, bukan karena anak desa penjiplak tadi. Ternyata mengetahui kenyataan tak lebih indah dari ilusi.

#5. Kisah Dalam Satu Jam – Kate Chopin
Bagaimana dengan kita, akankah kita ke surga nanti?” Sebagai cerita yang diambil sebagai judul utama, kisah ini benar-benar keren. Tragis, unik dan sungguh diluar duga. Nyonya Mallard yang mengidap penyakit jantung diberi tahu dengan tenang oleh Josephine, adiknya bahwa Brently Mallard sang suami ada dalam daftar orang ‘meninggal’ dalam musibah. Mereka mengatakan mencoba sehalus mungkin. Sedih, dan mencoba menyangkalnya Nyonya Mallard menyendiri dalam kamar. Ia muda dan cantik, kesedihan ini tak bisa dibiarkan berlarut, sampai akhirnya kisah menemui titik kejut yang dahsyat. “Bebas, bebas, bebas.”

#6. Rumah Di Jalan Buntu – Mahesh Bhargava
Empat Sekawan: Biman Guha, Paritosh Sen, Mayank Cahtterji dan Surajit Gangguly selalu tampak bersama di kampus sebagai para penikmat seni, sastra dan cerita petualangan. Keempatnya melakukan perjalanan ke Calcuta, mereka harus istirahat bermalam di sebuah rumah di jalan buntu. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi. “Jika sungai Gangga melimpah airnya, orang-orang miskin yang tinggal di sepanjang tepi-tepinya akan kehilangan barang-barang dan tempat tinggalnya.”

#7. Sumur Thakur – Prem Chand
Cerita klasik dari Banaras. Gangi yang membutuhkan air bersih untuk minum Jokhoo yang lemah, hanya tersedia air lumpur. Ada sebuah sumur di keluarga kaya tuan Thakur. Kebimbangan, kenekadan, atau sebuah tindakan buruk dalam menentukan pilihan? Malam itu Gangi melakukan sesuatu yang sungguh liar. “Kami hanya berpikir lebih baik bekerja keras dan mandiri.”

#8. Glushenko Dan Bunga Aster – Hellen Melpomene Brown
Tentang dialog-dialog panjang di meja makan. Para bangsawan Ukraina, Prancis dan beberapa utusan menikmati malam dengan santai sampai akhirnya bunga aster yang dimaksud butuh ‘pertolongan’. “Pernahkah kau membaca kisah Star Rover karya Jack London? Pengalaman-pengalamannya di penjara.” Mereka selalu bilang jangan habiskan untuk pesta pernikahan atau jangan habiskan uang untuk pemakaman. Walau begitu, ayahku bukanlah seorang ahli kayu, melainkan seorang ahli sihir.

#9. Pendosa – Sherman Alexie
Tentang mimpi buruk Jonah akan perang. Kepanikan melanda, sebagian menyangkal, sebagian peduli dan bersiap. Ini kisah anekdot sebelum perang saudara pecah di Amerika, dan seperti yang sudah kita ketahui, pertempuran akhirnya terjadi, mimpi Jonah benar. “Ibu, akan terjadi perang.” Kami memasuki cahaya terang, aku memasuki cahaya terang.

#10. Bayi Dalam Bak Sampah – Donne Bartholomew
Cerpen dari Singapura dengan judul asli, ‘The Baby in the Rubish Bin’. Seorang anak yang selalu menghindari bak sampah saat pulang karena sebal ada Froggy, kodok berisik. Namun suatu hari ia menemukan bayi dalam bak sampah, dan esoknya koran-koran memberitakan penyelamatan itu. “Seorang pahlawan.

#11. Kain Kafan – Prem Chard
Pasangan miskin yang aneh, Madhava dan Budhiya. Budhiya sakit keras. Lalu Gheeso sang pengerajin kulit, memberi saran pada sobatnya agar menengok istrinya. Madhava yang juga aneh keberatan. Mereka melarat dan sungguh menderita. Bahkan saat Budhiya esoknya meninggal mereka ga kuat beli kain kafan. Sumbangan datang, terkumpul dan mereka pun mencoba mencari kain ke pasar. Sungguh mengejutkan uang receh itu malah habis buat mabuk. “Kita bilang saja uangnya jatuh dari sarung yang kita pakai. Mereka tak akan percaya, tapi mereka akan memberi kita uang lagi.” Duh, berengsek!

#12. Selembut Tangan Ibuku – Robert Fontaine
Suami istri tua yang masih saja terkejut akan tingkah pasangannya. Hidup memang untuk dinikmati, tetapi apa yang kita impikan lagi jika sudah berumur 80 tahun dan sudah menikah lebih dari 50 tahun. Bukankah semua jalan sudah dilewati, semua laut sudah diseberangi? Sang aku, sang anak menjadi pencerita bagaimana kedua orang tuanya dengan tingkah aneh melewati malam. Ayahnya pergi dan tak kembali, kekhawatiran melanda, dan pencarian terjadi. Esoknya saat ayah mereka pulang, dengan santai menjawab. “Aku pergi ke bioskop.” Oh. Dan fakta-fakta kasih sayang yang abadi tersaji. Saat dia menggenggam kedua jari tangannya dalam berdoa atau menepuk tangannya, jarak antara bumi dan bulan bisa berubah.

#13. Harta Terpendam – Alberto Moravia
Kisah tak lazim bahwa dari obrolan di rumah makan sebuah penginapan memicu kriminal. Si tua Marinese melontarkan sebuah kabar bahwa ia memiliki emas yang terpendam di pekarangan. “Suatu hari kelak saat tua renta dan tak mampu bekerja, aku akan menggalinya.” Maka sang aku, pelayan dan Remigio merencana merampok, meminta paksa petunjuk tempat penyimpanan emas. Dengan berbekal sekop, linggis dan sepucuk pistol malam itu kejahatan tercipta. “Dan apa yang kau lakukan dengan pistolmu?”

#14. Gadis Pintar – Margaret Bonham
Ia ingin menarik perhatianmu, dan kamu memberinya perhatian.” Penutup yang bagus. Kisah tentang penulis yang mengirim naskah ceritanya ke media. Koran The English Review dipimpin oleh lelaki bernama Stendel, dibantu sekretaris laki-laki Mark Pellini. Suatu hari seorang tukang pos mengantar sebuah kiriman naskah cerita bagus sekali, benar-benar narasinya hebat sampai-sampai apa yang dikisahkan tampak nyata. Sang pengirim gadis introvert yang freak. Cerpen berikutnya ‘Ruang Tunggu’ sama hebatnya, sampai-sampai Stendel terbawa cekam saat naik kereta dan di ruang tunggu seolah muncul karakter cerpen, mengancamnya. Penutupnya nge-twist bagaimana cerpen sang gadis berkisah pembunuhan oleh sopir taksi, siapa korbannya, kalian akan begidik. “Aku tidak bohong Mark! Karangan Nona Anna itu benar-benar terjadi pada diriku.”

Harbolnas, menikmati Mizan Store

Ditemukan banyak typo, editing yang buruk, layout berantakan. Entah bagaimana semua itu diloloskan untuk dicetak, dan betapa menyedihkan untuk dijual! Sebuah penerbit kecil, penerbit indi sekalipun hal-hal dasar harus tetap diperhatikan. Proof reader, cek and ricek, sumber yang valid dst. Bahkan setiap profil Penulis seharusnya ada foto, ada yang kelewat kosong. Seolah editingnya memang tak tuntas, atau malah mencari foto Penulis ga ketemu? Di era digital gini? Alamak!

Sayang sekali, tulisan sebagus ini dibawakan dengan ala kadarnya. Ibarat makan udang rebus kualitas restoran bintang lima disajikan dalam semangkuk plastik berdebu. Sulit untuk cetak ulang bila sajiannya penuh minor gini. Namun saya percaya, 30, 40, atau 50 tahun lagi buku terbitan kecil gini akan langka dan menjadi cult. Dan saya berpendapat Kisah Dalam Satu Jam bakalan menjelma cult, cocok untuk kolektor!

Kami akan melaksanakan apa yang menjadi tugas kami, dan kami akan melaksanakan tugas dengan cepat dan tanpa menimbulkan rasa sakit.”

Kisah Dalam Satu Jam | Kumpulan Cerpen Penulis Dunia, diterjemahkan dari berbagai sumber | Cetakan I, Februari 2015 | Diterbitkan oleh Penerbit Literati | Penerjemah dan Editor Edi Warsidi | Lay out Rozal Rabas | Desainer sampul M. Shodiq N. | 242 hlm.; 13 x 19 cm. | ISBN 978-602-8740-41-8 | Skor: 4/5

Karawang, 121218 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti

Satu Hari Bersamamu – Mitch Albom

Aku tidak mau menjadi biasa-biasa saja. Orang yang bisa terlupakan begitu saja.”

Ada begitu banyak hal dalam hidupku yang ingin kuperbaiki. Begitu banyak peristiwa yang ingin kuulang. Poin utama novel ini mungkin adalah kesempatan. Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kau sayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau mengganggap mereka akan ada selamanya? Bagaimana kalau kau bisa mendapatkan kembali satu hari itu? Menakjubkan bagaimana otak bisa berfantasi demikian jauh. Satu hari bersamamu, ibu.

Kisahnya agak klise, ketebak, dan ini (mungkin karena) bukan buku pertama Mitch Albom yang saya baca maka seolah ini adalah pengulangan. Bagaimana manusia yang menerungi kehidupan di dunia antara, di dunia lain, lalu kita ambil hikmah kehidupan, betapa hidup kita adalah anugerah, syukuri saat ini. SEKARANG. Jadi yah, ga mengejutkan, kisah ini manjadi familiar. Pertama wow, kelima masih Ok deh, kesepuluh dah bosan. Berikutnya standar. Menjadi rata-rata telah dianggap sebagai sebuah standar kegagalan.

Aku ingin memperbaiki banyak hal dengan orang yang kucintai.
Sesuai judulnya, buku ini bercerita dalam satu hari. Dibuka tengah malam, siang, sore dan ditutup malam harinya. Runut, dengan sesekali memainkan pola flash back. Ibuku mengisi penuh hidupku semasa kanak-kanak – memberi saran, mengkritik, segala hal yang biasa dilakukan seorang ibu. Kadang aku bahkan berharap dia tidak merecoki aku.

Awalnya kita diajak sebagai sang Penulis (sudut Albom tentunya), ia sedang menunggu, menghabiskan waktu sendiri di tempat duduk bersama kertas dan alat tulis. Lalu ada seseorang yang nyamperin, menawarkan kisah bahwa ada seorang mantan atlit yang pernah ke World Series, pernah mencoba bunuh diri. Charles ‘Chick’ Benetto mempunyai hidup yang laik untuk diceritakan, maka sang Penulis pun menemuinya. “Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.” Dengan berbekal ingatan akan kenangan ibunya dan segala masa lalu yang mengharu, kita pun memasuki babak sesungguhnya. Masa lalu tidak seharunya menghilang seperti itu.

Maka kitapun mendapat sajian cerita kenangan, mulai dari sangat awal. Sudut pandang berganti ke sang mantan atlit. Terlahir dari keluarga bahagia, Chick sangat mencintai ibunya, ayahnya selalu mendorong untuk menjadikannya atlit softball – impian ayahnya yang dilanjutkan ke anak. Sedari kecil para ibu membangun ilusi tertentu tentang anak-anaknya, dan salah satu ilusiku adalah aku menyukai diriku sendiri, karena ibuku menyukaiku. Ketika dia meninggal, pemikiran itu ikut menghilang. Dan begitulah yang terjadi saat orangtuamu meninggal, kau serasa berangkat berperang seorang diri, setiap kali, tak ada lagi yang mendukungmu. “Pohon menghabiskan harinya memandangi Tuhan.”

Chick memiliki seorang adik yang sangat penurut dan seolah bisa dibentuk sesuai kehendak orang tua. Keluarga ini seolah tiba-tiba berantakan – padahal beneran berantakan, tapi karena dari sudut pandang anak kecil, kita tak tahu sejatinya apa yang terjadi, awalnya. Ketika suatu malam ayah Chick pergi dan tak kembali kecuali saat-saat akhir pekan sesuai jadwal kunjungan. Anak sekecil itu tak tahu bahwa orang tua mereka cerai. Kenapanya akan terjawab di akhir kisah, sejatinya ini akan jadi kejutan utama cerita ini. Tapi jelas, saya tak terkejut karena memang tertebak. Cerai, palingan ada orang ketiga dan yah, selurus. Nah hari-hari berikutnya sungguh perjuangan. Ibunya yang janda menjadi gunjingan. Dan yang lebih parah, ibu masih muda dan cantik. Maka bagi para wanita dia adalah ancaman, bagi para pria dia adalah kesempatan, dan bagi anak-anak keanehan. Kalau kupikirkan lagi, tidak satu pun pilihan bagus.

Sebagai single parent dari keluarga menengah ke bawah, jelas masalah ekonomi pada akhirnya muncul. Aku percaya itu. Perceraian mengubahmu, membawamu pergi dari segala sesuatu yang kaupikir kau tahu dan segala sesuatu yang kaupikir kauinginkan, dan mengantarmu ke dalam berbagai macam hal yang lain, seperti diskusi tentang korset ibumu dan apakah dia seharusnya menikah lagi dengan orang lain. Ibunya memilih membesarkan buah hatinya sendiri, mulia tanpa dibagi dengan pasangan baru. Dengan kasih sayang sepanjang masa. Dia menyayangiku saat datang dan pergi, pada saat-saat terburuk dan terbaik. Dia memiliki sumur rasa sayang yang tak berdasar buatku. Ibuku beranggapan mengklakson orang adalah tindakan tidak sopan; pada tahun-tahun sesudahnya dia selalu mengingatkan adikku bahwa anak laki-laki yang tidak mau datang mengetuk pintu depan rumah tidak pantas menjadi pria yang dikencani.

Yang terjadi saat impianmu menjadi nyata adalah kesadaran yang perlahan luruh bahwa impianmu tidaklah seperti yang kaubayangkan. Impian Chick untuk menjadi atlit pro akhirnya terwujud, namun ada efek yang sungguh menyakitkan. “Charley, aku sangat bangga padamu.” Itu adalah titik tertinggiku. Aku berhenti kuliah, setahun kemudian. Itu adalah titik terendahku. Siapa yang pantas disalahkan? Uang kuliah yang diperjuangan ibunya seakan menguap percuma demi ambisinya menjadi olahragawan, yang pada akhirnya juga sungguh biadap, ternyata dia tak setangguh pemain pro yang diharapkan, segala usahanya menembus pemain hebat gagal bertahan lama, ia tak maksimal. Dan menjadi tak terdengar adalah dasar bagi seseorang untuk menyerah, dan menyerah adalah titik awalmu melepaskan diri. Sedih bagian ini, ibunya bekerja dobel shift, menjadi pembantu, menjadi penjaga toko menjadi apa saja asal halal demi pendidikan sang buah hati, namun semua terhempas seketika saat Chick memutuskan mengundurkan diri dari kuliah demia karir olahraganya, tanpa minta pertimbangan, tanpa kabar lebih lanjut. Sedih sekali. Hal yang manjdai karma, balasan saat putri Chick menikah tanpa minta restu. Hiks, tak diundang di acara pernikahan anak, hanya dikasih tahu dia sudah menikah. Huhuhuhu…

Anak yang merasa malu karena ibunya, hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup.”
Dalam berkeluarga, Chick juga akhirnya berantakan. Perceraian, bahkan anaknya pun berontak, dia biasa lari ke arahku setiap kali aku pulang kerja, dengan lengan terulur, berseru “Ayah, gendong aku.” Sekali ini, putri kecilku tak akan meraih tanganku dan menenangkanku, dia milik orang lain sekarang. Ironi kehidupan ataukah memang hal semacam ini garis hidup yang biasa dalam keluarga berantakan? Aku tidak ditanyai. Aku hanya dikabari. Kesepian dan alkohol menjadi pelarian. Walau kau ingin mati, kau terselamatkan. Siapa yang bisa menjelaskan itu?

Dia bilang aku pintar dan bahwa pintar itu berkat, dan dia berkeras supaya aku membaca satu buku seminggu, dan mengantarku ke perpustakaan untuk memastikannya. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa.

Nasehat ibunya selalu terpatri. Kau harus mengusahakan bersama-sama, dan kau harus mencintai tiga hal: 1). Satu sama lain 2). Anak-anakmu (kalau kau sudah punya! Tahu maksudku, kan?). 3). Pernikahanmu. Sebuah pengalaman pahit itu, sayangnya bukannya terhindar malah terulang. “Kembali menjalani yang pernah kautinggalkan itu lebih sulit daripada yang kaukira.”

Saat turun, karena saat kau mendaki memusatkan perhatian sepenuhnya untuk mencapai puncak, kau menghindari semua kesalahan. “Punggung sebuah gunung adalah peperangan melawan tabiat manusia. Kau harus hati-hati dengan hidupmu saat menuruninya, sama saat kau menaikinya.” Maka suatu hari saat ia menjalani rutinitas kerja yang tak ideal itu, ayahnya menghubunginya bahwa ada pertandingan amal, pertandingan eksebisi para mantan pemain pro dan kebetulan salah seorang tak bisa hadir. “Kalau kau tak berani menanam uang, kau tidak akan mendapatkan uang.” Ayahnya mengusahakan, mendorong Chick untuk ambil bagian, mencoba kembali eksis, diminta mendekati orang-orang itu, carilah koneksi! Mencoba segala cara agar sang putra tetap ada dalam lingkup olahraga. Padahal saat itu hari Minggu, Chick punya acara lebih penting dengan keluarga dan ibunya. Dia punya pilihan dan harus memutuskan. “Menyia-nyiakan waktu itu sungguh memalukan, kita selalu berfikir kita punya terlalu banyak waktu.”

Aku menyadari, betapa sifat orangtuamu diteruskan melewati dirimu kepada anak-anakmu, entah kau menyukainya atau tidak. “Aku melakukan apa yang penting bagiku, aku menjadi seorang ibu.” Pilihan hidup terkadang terlihat salah, Chick pastinya menyesali pilihan itu, tapi bisa apa? Dia menunduk. Aku menghembuskan napas. Semakin kau membela kebohongan, semakin marah kau jadinya. Kau punya satu keluarga, kau tak boleh menukarnya. Tidak boleh mendustainya. Kau tidak bisa menjalani dua dalam waktu bersamaan. Berpindah-pindah dari satu ke yang lain. Waktu tak bisa diulang?!

Percaya, kerja keras, cinta – kalau kau punya hal-hal ini, kau bisa melakukan hal apapun.” Banyak hal berubah saat kau tak lagi dalam bahaya. Dan kesampatan satu hari yang Chick peroleh menghabiskan hari bersama ibunya, tampak nyata, tampak benar-benar bisa menemui orang terkasih yang sudah meninggal, bisa menyampaikan banyak hal yang tertunda. Bercerita dalam tawa, berbagi. Nostalgia. Tapi akhirnya apa? Dunia antara, dunia yang ditawarkan malaikat itu semu. Hal-hal yang sudah terjadi tak bisa diubah, waktu terus meluncur linier, Chick hanya bisa mengubah masa depannya. Termasuk kita – pembaca.

Rahasia-rahasia, hal itu akan menghancurkanmu.”

Satu Hari Bersamamu | By Mitch Albom | Copyright 2006 | Diterjemahkan dari For One More Day | 6 16 1 86 013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Olivia Gerungan | Sampul Orkha Creative | Cetakan kelima, September 2016 | 248 hlm; 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 111218 – Nikita Willy – Pernikahan Dini


Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Minggu pagi mudik 4-Nov-18 di Palur saat mudik dengan kopi mengepul dan Pulang kerja di Rabu malam seusai lari sore sembari menunggu hujan reda.