A Man Called Ove – Fredrik Backman

Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan.” Parvaneh dalam bahasa Farsi artinya apa ya?

Cinta sejati takkan mati. Cinta Ove kepada Sonja sungguh sederhana, sekaligus sungguh romantis. Detail ini bikin kesal mungkin, tapi benar juga. Ketika Sonja memotong rambut, Ove akan jengkel terhadap istrinya selama berhari-hari karena Sonja tidak tampak sama. Itulah yang paling dirindukan Ove, mendapati segala sesuatu sama seperti biasanya. Frederick Backman adalah blogger dan kolomnis Swedia. Tokoh Ove pertama muncul di blog-nya dan para pembaca mendorong untuk dikembangkan guna dibukukan. Senangnya ada blogger sukses gini, memotivasi kita para pemula untuk terus lebih giat mengetik kata demi kata. “Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa mempercayakan sesuatu yang lebih penting padanya.”

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi anak-anak yang tidak pernah dimiliknya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Ini adalah buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu ternyata juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil sih dari sudut pandang kakek-kakek. Bagaimana warga yang suka langgar rambu lalu lintas, mereka memasang beberapa polisi tidur dan sejumlah plang besar, “Banyak Anak Kecil” di kawasan rumah-rumah mereka sendiri. Tapi ketika sedang menyetir melewati rumah orang lain, semuanya itu sekan kurang penting. Terobos aturan sederhana terkait mobil yang tak boleh lewat. “Menakjubkan betapa terburu-burunya kita.” Sampai orang-orang masa kini yang awam mesin dan bangunan yang menurut generasi old adalah sesuatu yang basic tapi bagi kita seakan rumit!

Mengingatkanku pada bapak, bahwa isi token listrik saja beliau tak bisa, sementara saya disuruh benerin kipas saja gagal, bahkan kipas yang masih putar yang sejatinya cuma rusak gara-gara ada bunyi ‘krik krik krik’ kini setelah saya otak-atik malah rusak total. Mantab! Maafkan aku. “Seluruh jalan berubah menjadi rumah sakit jiwa. Kekacauan total. Sekarang ini, kau bahkan harus keluar dan memundurkan caravan mereka. Dan bahkan kau tidak bisa memasang pengait dengan benar.” Hiks. Gap generation.

Saya mulai baca di Minggu pagi saat mengantar istri ambil raport Play Group Hermione di ruang tunggu sampai akhir pekan lalu. Pas seminggu, ketawa ngakak ga jelas bagian awal kisah sungguh lucu. Orang tua yang mengeluhkan segalanya. Mengeluh adalah sesuatu hal yang sangat dikuasainya. Hemat (atau bisa juga dibilang pelit), mobil menggunakan lebih sedikit bahan bakar jika terus bergerak, dibandingkan yang berhenti sepanjang waktu. ‘Setidaknya dia menghemat bensin.’ Bukannya Ove bermaksud membeli ham dalam tawaran khusus itu. Namun mengamati harga-harga selalu patut dilakukan. Jika ada salah satu yang tidak disukai Ove di dunia ini, adalah saat seseorang berupaya menipunya. Istriku juga ga terlalu peduli harga di Indomart atau Alfamart, sayalah yang memperhatikan kenaikan harga, sayalah yang memilah beli, saya juga yang menetapkan barang, ‘sedang ada diskon’ atau normal. Duh, sepintas lalu, Ove banget ternyata saya ini. Juga orang tua yang tak banyak bicara, lebih suka di belakang layar. Inilah yang dipelajari Ove, jika seseorang tidak punya sesuatu untuk dikatakan, dia harus mencari sesuatu untuk ditanyakan. Ove sangat meyakini beberapa hal: keadilan, kesetaraan, kerja keras dan dunia yang menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena ingin medali, diploma atau tepukan tangan di panggung, tapi hanya karena memang begitulah seharusnya. Pengenalan karakter yang nyeleneh, beli ipad atau komputer yang bukan komputer, nantinya jadi adegan penting di akhir. Kau adalah sebagaimana adanya dirimu. Kau melakukan apa yang kau lakukan, dan itu sudah cukup bagi Ove. Yah, kita dibenturkan keadaan pria tua kesepian apa adanya. Sampai akhirnya kita tahu sebuah kabar duka. Kematian istrinya, Sonja yang bikin nangis pembaca, membuatku menangis. Nasib memang tak ada yang bisa tebak. Prinsip yang diemban sama dengan ayahnya. “Aku punya istri. Saat ini, hanya saja sedang tidak ada di rumah.” Secara naluriah Ove meragukan semua orang yang tingginya melebihi seratus delapan puluh sentimeter; darah pasti tidak bisa mengalir sejauh itu hingga otak. Mengirim bunga, dua ikat setiap hari (cara belinya, hahahaha). Curhat di depan nisan, sunyi menghadapi kehidupan yang ditikam sendiri.

Besok sama baiknya dengan hari ini untuk bunuh diri. Lalu kita sampai pada titik nol, niatan Ove untuk mengakhir hidupnya. Ketika percobaan pertama gagal, jelas saya bisa menebak ke arah mana kisah ini. Dengan tali gantung, dengan asap mengepul, dengan menghadapi laju kereta api, dan seterusnya. Dengan tenang, ia dicipta gagal. Selalu, ya selalu, ada yang menggagalkan. Salah satu yang sering dikirim malaikat untuk mencegahnya adalah tetangga baru yang memiliki kombinasi anggota keluarga aneh. Sang kepala keluarga, Patrik adalah konsultan IT yang awam pekerjaan tangan, menyetir mobil dengan gegara,parkir saja miring dan suatu saat jatuh dari tangga. Seberapa sulit menetapkan kanan dan kiri lalu melakukan sebaliknya? Bagaimana orang seperti itu bisa bertahan hidup. Bagaimana mungkin seseorang bisa menghabiskan hidupnya merindukan hari ketika dia menjadi tak berguna? Lalu istrinya dengan nama aneh, keturunan Iran seorang imigran Parvaneh yang kini sedang hamil tua. Saya jatuh hati sama karakter ini, nama Parvaneh rasanya ok juga buat anak ketigaku. Ntar, coba diskusi sama istri ah. Lalu ada dua anaknya yang lucu, berusia tujuh tahun dan tiga tahun. Yang selalu mengingatkan Ove untuk tidak berkata kasar. “Tidak! Sialan! Tidak ada yang oke di sekitar sini.” Keluarga Patrik menghiasai mayoritas kisah karena akan bersinggungan terus.

Lalu perseteruan dengan si tua Rune yang akan dikirim ke panti jompo setelah perjuangan berlarut dua tahun yang gagal, oleh istrinya Anita menyerah? Sulit bagi seseorang untuk mengakui kesalahannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru selama waktu yang sangat lama. Masa lalu terkuak, ada dendam, ada hawa panas menguar yang membuat Ove dan Rune, sahabat lama yang kini bermusuhan. Seperti orang waras manapun, Ove berpendapat hanya orang sok pamer yang mengenakan setelan terbaik pada hari kerja.

Ada pemuda yang mencintai gadis tetangga, dengan meminta Ove membetulkan sepeda. Murid masa lalu Sonja, pecinta William Shakepeare. Yang uniknya malah jadi penggerak segala kelucuan di kafe. Ove bukan jenis orang yang suka basa-basi, dia menyadari setidaknya belakangan ini, bahwa itu cacat karakter serius. Langsung to the point. Kau merindukan hal-hal aneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan berbalik ketika tidur. Kau bahkan rindu mengecat ulang ruangan untuknya.

Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonist. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. Bagaimana ia piatu, dan akhirnya menjadi yatim piatu karena sang ayah meninggal tertabrak kereta. Ove melanjutkan pekerjaan ayahnya, drop out sekolah dengan kerja keras menghidupi kebutuhan. “Itu pekerjaan jujur dan layak dilakukan.” Dia bukan lelaki yang merenungkan hal-hal semacam itu. Akan tiba saatnya dalam kehidupan semua laki-laki, ketika mereka harus memutuskan akan menjadi jenis lelaki macam apa. Apakah menjadi jenis lelaki yang membiarkan orang lain menguasai mereka atau tidak. Dia cukup puas dengan mengingat, pada hari itu dia memutuskan untuk menjadi semirip mungkin dengan ayahnya. Ya, panutannya adalah orang tuanya sendiri. Salah satu yang bagus sekali terkait penemuan tas di kereta. “Saya bukan jenis orang yang mengadukan perbuatan orang lain.” Ia tahu siapa yang mengambil, tapi ga banyak omong hanya mengembalikan dompet yang berhasil direbut. “Ketika seseorang tidak bicara terlalu banyak, mereka tidak bicara omong kosong juga.”

Kekuatan utama kisah ini adalah cinta sejati. Cinta Ove kepada Sonja yang tak bertepi. Masa kematian ayahnya hingga ketemu Sonja menjadi masa hampa. Dia tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik hal yang terjadi kepadanya hari itu. Namun dia berhasil berhenti menjadi bahagia. Dia tak bahagia selama beberapa tahun setelah itu. “Kau hanya perlu seberkas cahaya untuk mengusir semua bayang-bayang.” Dia membuat lemari buku untuk istrinya dan istrinya mengisi lemari dengan buku-buku karya orang yang menuliskan perasaan mereka hingga berlembar-lembar. Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove. Cinta melimpah ruah yang diberikan kepada seorang special, benar-benar suami ideal. Awal perkenalan mereka juga sangat unik, Ove jatuh hati pada pandangan pertama. Hari-hari yang kelabu tiba-tiba tampak berkilau. Bayangkan, Ove rela mengikuti naik kereta api saat Sonja pulang padahal lawan arah, demi duduk bersama, yah walaupun ia lebih banyak diam dan Sonjalah yang ngoceh. Beberapa bulan kemudian, Ove akan berjalan menyusuri peron itu bersama perempuan yang ditakdirkan untuk dinikahinya. Namun tentu saja pada saat itu dia tidak sama sekali mengetahui. Sungguh kisah yang romantis tanpa bumbu pemanis berlebih. Sonja tertawa dan tertawa dan tertawa hingga huruf vokal menggelinding melintasi dinding dan lantai seakan tidak mau menghiraukan hukum waktu dan ruang. Bagian saat Ove menyatakan kasih sayangnya sungguh indah, mendeklamasikan bahwa lelaki hanya memerlukan beberapa hal sederhana dalam kehidupan: atap di atas kepala, jalanan lengang, merek mobil yang tepat dan perempuan untuk dianugerahi kesetiaannya.

Setiap orang harus tahu apa yang diperjuangkan. Aku akan belajar sambil membaca.” Pasangan ini tampak cocok, seorang guru yang ceria dengan banyak buku dan pria pekerja keras yang pendiam yang memiliki cinta membuncah. Saling mengisi, saling mencinta. Istrinya memang tidak pintar memahami masalah prinsip. Namun kisah keluarga kecil ini tak lama cerianya, kita dibenturkan kenyataan pahit saat mereka berlibur ke Spanyol dengan naik bus. Istrinya sering berkata, “Semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu.” Bagian paling menyedihkan, saya nangis. Serius. Ga tega, ga rela. “Aku merasakan kehilangan yang begitu besar Ove, begitu kehilangan seakan jantungku berdetak di luar tubuh.” Tuhan berencana, manusia yang menentukan. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.”

Ada bagian yang mengusik kita, interaksi Ove dengan mobil Saab-nya. Ya Saab-nya adalah cinta kedua Ove setelah Sonja ketiganya rumah, mungkin. Ada yang orang yang begitu obsesif dengan kendaraan. Salah satunya rutinitas pagi. Dia duduk di kursi pengemudi dan memutar tombol pencari stasiun radio setengah putaran ke depan lalu setengah putaran ke belakang, sebelum membetulkan semua kaca spion. Seperti yang dilakukannya setiap kali memasuki mobil Saab-nya. Seakan seseorang telah secara rutin memasuki Saab itu dan iseng mengubah semua kaca spion dan stasiun radio Ove. Wkwkwkqq… aneh. Bahkan nantinya si Saab ini jadi trivia menyenangkan di eksekusi ending. Ove mencintai Saab, jelas tapi ada orang yang setia dan benar-benar ga mau ganti merek lain, ga mau berpaling dengan yang lebih modern sekalipun kendaraan baru itu baru luar biasa. Hebat. Salut. Keren. Totalitas tanpa batas, #ForzaLazio. Mobilku Toyota, dan ga menutup kemungkinan suatu hari pindah ke Honda atau Daihatsu bahkan ke Mercedes (hehe ngimpi), sah-sah saja. “Mengapa pula aku mengucapkan sesuatu. Kau ingin membeli mobil Prancis. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang lain, kau sendiri sudah cukup banyak masalah.”

Ove walaupun freak tapi tetap mencoba menjadi bagian dari masyarakat, bahkan menjadi ketua asosiasi warga. Salah satu aktivitasnya adalah inspeksi warga pagi hari, memastikan segalanya aman. Bangun pagi cek sampah, cek kendaraan warga, cek jalanan, cek remeh temeh kala subuh, gilax. Dia tak pernah mencoba narkoba dan nyaris tak pernah berada di bawah pengaruh alkohol. Hanya orang tolol yang menganggap kehilangan kendali adalah keadaan yang patut diburu. Ada plang di area pemukiman, kendaraan dilarang melintas. Bikin rusuh. Prinsip anehnya, dia mencoba memberitahu Sonja agar tidak memberi uang pada pengemis di jalanan karena mereka hanya akan membeli minuman keras dengan uang itu. Namun sedikit banyak ada benarnya. Mungkin terdengar pelit, yah wanti-wanti wajar sih. Dan Sonja bilang, “ketika seseorang memberi sesuatu pada orang lain, bukan hanya si pengemis yang diberkati tapi juag si pemberi.

Kedukaan adalah hal ganjil. Cinta adalah sesuatu yang ganjil. Kehidupan adalah sesuatu yang ganjil. Endingnya sudah sangat pas, mungkin ketebak karena tiap mau bunuh diri gagal, Ove jelas mendapat pencerahan. Tetangganya yang unik Parvaneh (sekali lagi, catet yes!) jelas menjadi kunci utama, belajar menyetir, minta tolong memperbaiki rumah, sampai kedua anaknya kini dekat, “Badot!”. Waktu, kedukaan, dan kemarahan mengalir serempak dalam kegelapan pekat berkepanjangan, dan keluarga Patrik memberi warna baru pasca kematian Sonja. Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Tul banget!

Swedia Berjaya. Setelah terpesona dengan Johas Jonasson dalam The 100-Years-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, kini saya juga tertakjub sama –lagi-lagi- seorang kekek bernama Ove. Sungguh hebat, karakter utama orang tua extraordinary, novel-novel Swedia jelas wajib antisipasi berikutnya. Mungkin target berikutnya novel tetralogy Gadis Bertato Naga, rasanya hanya tinggal tunggu waktu tepat untuk dinikmati. See

Jadi Ove melawan seluruh dunia, kamu tak sendirian. Ove and me againt the world! Dan saya sepakat. “Semua orang ingin menjalani kehidupan yang bermartabat, tapi arti bermatabat berbeda bagi orang yang berbeda.”

A Man Called Ove | By Fredrik Backman | Terbitan Sceptre, imprint of Hodder & Stroughton – an Hachette UK Company | Ditrtjemahkan dari En man som heter Ove | copyright 2014, Published by arrangement with Partners in Stories Stockholm AB, Sweden | Penerjemah Ingrid Nimpoeno | Penyunting Jia Effendi | Penata letak CDDC | Perancang sampul Muhammad Usman | Cetakn I, Januari 2016 | ISBN 978-602-385-023-5 | Penerbit Noura Books| Skor: 4/5

Karawang, 23-241218 – Tasya – Ketupat Lebaran
#PrayForBanten

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s