Mata Malam – Han Kang

Harus menyerah, jika pilihan lainnya hanya mati, kalian harus membuang senapan dan langsung menyerah. Cari cara untuk menyelamatkan diri.” Mereka sedang berjalan dalam barisan. Mengikuti perintah kami, mereka berjalan dalam satu barisan sambil mengangkat kedua tangan. Apakah dengan begitu mereka selamat?

Tidak tahu. Karena sepertinya itu hal yang wajar untuk dilakukan. Kisah tentang tragedi di Korea Selatan pada tanggal 18 Mei 1980, bagaimana sebuah demonstran buruh, mahasiswa dan warga dibubarkan dengan kekerasan yang mengkibatkan banyak kematian. Uprising Gwangju menjadi sejarah hitam Negeri Gingseng laiknya peristiwa pembersihan PKI tahun 1965 di Indonesia, semakin mengesahkan bahwa era diktator memang harus diruntuhkan. Katanya, bulan adalah bola mata malam.
Aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara untuk berdoa sampai selesai.

Tuhan akan memaafkan dosa kami, seperti kami memaafkan mereka. Aku tidak memaafkan dan dimaafkan siapapun. Buku dibagi dalam tujuh bab yang berarti ada tujuh karakter yang diambil sudut pandang.

#1. Burung Kecil (Sang Pemuda, 1980)
Bagian dalam cermin adalah dunia dingin dan tenang. Ia diam memandang wajah asing yang menatapnya dari dunia ini, memandang pipi yang masih lembam kebiruan. Butuh waktu beberapa halaman untuk memahami Mata Malam ini akan ke arah mana, dah biasa saya ga baca kover belakang, takut kena spoiler. Pembukanya adalah narasi berisi sebuah gedung yang mencekam karena mayat bergelimpangan, sederet panjang ranjang berisi orang mati, dan ini bukan yang terakhir karena akan datang lagi truk berisi lebih banyak tubuh terluka atau sudah tak bernyawa. Karena memang ga paham Korea, maka saya ngalir saja sampai pada satu titik klik bahwa kekejaman ini dilakukan oleh tentara pemerintahan yang menembaki warganya sendiri. Kamu merasa aneh melihat mereka menggelar bendera Korea di atas peti mati dan mengikatnya kuat-kuat dengan tali. Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? Kenapa mereka menyelimuti peti mati dengan bendera Korea? Seolah-olah yang membunuh mereka bukan Negara. Ia baru berusia 15 tahun saat hari naas itu terjadi.

Ya, ironis memang. “Benar, bau busuk bisa hilang jika kita menyalakan lilin.”

#2. Napas Hitam (Kawan Sang Pemuda, 1980)
Ketika seseorang masih hidup, di mana gerangan burung kecil yang pergi ketika orang itu mati? Di dahi yang berkerut, di bagian atas kepala seperti lingkaran cahaya, atau di suatu tempat di jantung? Berikutnya kita diajak berpindah karakter, kalau yang pertama adalah sang pemuda (lebih tepatnya sebenarnya remaja), kita sekarang ke kawannya yang sudah mati. Ia menjadi saksi tumpukan mayat, betapa malaikat kematian begitu sibuknya. Bahwa di dunia sesaat setelah kematian, satu jiwa dengan jiwa lain tak bisa komunikasi, mereka hanya bersinggungan, dimensi yang sama frekuensi lintas yang beda. Kekejaman militer dikupas sedemikian mengerikan. Padahal hanya bunyi tetesan air, tapi aku mengingatnya, seakan-akan ada orang yang datang.

Manusia meninggal yang menghuni dunia antara. Ke mana jiwa pergi ketika raga sudah mati? Mendadak kamu berpikir begitu. Berapa lama jiwa bertahan di sisi raganya semula?
Yang menakutkan itu tentara. Orang mati sih tidak menakutkan.”

#3. Tujuh Tamparan (Sang Penyunting, 1985)
Sudut berganti dengan aneh, sekarang kita menjadi seorang penyunting. Melesat lima tahun kemudian. Tentang peristiwa berdarah itu, ditulis, diedit, disunting hingga nantinya akan disebarluaskan – diwartakan. Pihak Pemerintah tentu saja menyunat segala hal yang buruk tentang mereka. Sang penulis dicari, penerbit diancam, jurnalisme dibungkam. Terdengar familiar dengan periode kelam Indonesia masa Orde Baru? Ya, di Korea hal seperti ini ternyata juga terjadi. Di Korea Selatan yang sekarang tampak sangat maju itu, tahun 1980an masih mencekam. Aku tidak akan menghabiskan hidupku hanya untuk melindungi diri sendiri.

Tiba-tiba kamu berpikir jendela itu seperti sesuatu menghembuskan napas yang panjang. Malam, seperti makhluk raksasa, membuka mulut untuk menghembuskan napas dingin yang lembab. Udara panas yang tadi memenuhi kantor tertutup, terisap ke dalam paru-paru kelam. Tujuh tamparan untuk perempuan itu terjadi sore jam empat di tengah pekan. Keras dan berkali-kali. Bukan keluhan yang tercipta, tapi sebuah kesumat tulus untuk menegakkan kebenaran. Gulingkan Chun Doo Hwan si Penjagal. Aku ingat perasaan tidak takut lagi, perasaan rela mati, perasaan segar, seakan-akan darah puluhan ribu orang terkumpul membentuk satu pembuluh darah.

#4. Besi Dan Darah (Sang Tahanan, 1990)
Aku butuh lebih banyak kenangan. Aku harus memutar kenangan, lebih cepat lagi, agar tidak terputus. Ini sama seramnya. Setelah bercerita para korban yang meninggal kita diajak menjadi korban yang selamat, ditahan, disiksa, diintimidasi hingga traumatis bak zombie, sepuluh tahun kemudian. Kisahnya detail di hari berdarah itu bahwa banyak anggota demo sebenarnya yang memegang senjata tapi mereka tak menggunakan untuk benar-benar melindungi diri, banyak remaja, anak-anak dan sang karakter utama yang terlihat senior pun baru berusia 23 tahun. Divonis sembilan tahun, tapi tak sampai setahun dibebaskan bersyarat, bebas apa? Hati mereka remuk redam atas penyiksaan. Seandainya masa pada musim panas semi tahun itu kembali lagi, kamu mungkin akan mengambil jalan yang serupa. Seperti ketika kamu hanya sibuk menghindar dalam permainan menghidari bola waktu dirimu masih SD, sampai akhirnya kamu harus memegang bola karena hanya dirimu sendirian yang tersisa.

Kita pikir senapan bisa melindungi kita.”

#5. Bola Mata Malam (Sang Gadis Buruh, 2002)
Bukan berarti pula kelompok massa pertama bersifat biadab. Kebiadaban yang memang pada dasarnya ada pada manusia, pada mereka hanya menjadi ekstrem akibat kekuatan massa. Sang pencerita berikutnya adalah korban yang tampaknya hanya ikut-ikut demo, selalu memanggil kak Seong Hee. Menurut konstitusi, kita sama berharganya dengan orang lain. Berarti kita juga punya hak yang setara, menurut Peraturan Buruh. Mengandalkannya, menjadikannya panutan, segala hal yang disampaikan menjadi acuan tindakan. Di tahun 2002 ia diminta wawancara media, tapi menolak. Akhirnya dikirim rekorder agar menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan, merekam sendiri. Kemudian kita tahu betapa berat masa itu. Menghadapi hari esok dalam hilang hasrat, bahkan ketika halaman bab ini akan habis saya sampai hampir menangis, bagaimana manusia bisa sekejam itu mengambil hak hidup dengan tangan-tangan kotor. Ke mana nurani pergi?

Apakah kamu bisa bersaksi dan mengatakan bahwa kamu menderita karena kecupan singkat, karena sentuhan tangan di pipimu, dan bahkan tatapan mata yang singgah di lengan dan betismu pada musim panas? Kamu berdiri terdiam tidak tahu ke mana perginya sesuatu yang bagai burung kecil itu saat melihat wajah keriput nenek yang telah berubah menjadi mayat.

Ya, saya dengar.”

#6. Ke Arah Bunga Mereka (Ibunda Sang Pemuda, 2010)
Ini bagian paling menyedihkan. Menjadi sang ibunda korban tragedi. Sebagai janda yang membesarkan tiga anak, anak pertama bekerja ke Seoul, anak kedua hidup dalam satu atap dan si bungsu adalah remaja yang tewas di bab pertama. Kejadian saat hari H sungguh ‘menggemaskan’. Sang ibunda malam itu sudah datang ke gedung dengan anak nomor dua, mencari si bungsu. Dibentak petugas, diminta kembali pulang oleh tentara dengan acungan senjata, karena sekarang berlaku jam malam. Awalnya anak keduanya melawan, memaksa. Namun dengan tenang sang ibu memintanya mengalah pulang, ia tak mau kehilangan anaknya lagi. Dan esoknya kita tahu, si bungsu tewas. Gemas, karena misi menyelamatkan nyawa orang terkasih itu hanya sejengkal dalam gedung, dibatas tembok saja! Sedih, menyedihkan sekali dunia ini. Katanya, pohon hanya bernapas satu kali sehari. Mereka menghirup dalam-dalam cahaya matahari saat terbit, kemudian mengembuskan dalam-dalam karbon dioksida saat matahari terbenam.

Dong Ho…, hiks.

#7. Lampu Berselimut Salju (Sang Penulis, 2013)
Aku dihadiahi radio kecil oleh seseorang. Radio itu bisa memutar balik waktu. Katanya aku hanya perlu memasukkan tanggal ke layar digital radio itu. Aku menerima dan memasukkan waktu ’18:05:1980’. Aku harus ke tanggal itu jika aku ingin menulis tentang peristiwa 18 Mei. Yang terakhir kita menjelma menjadi sang Penulis, Han Kang. Ia menuturkan bagaimana jalan liku untuk menulis kisah ini. Ditelusur, dicek and ricek, wawancara, meminta izin pada para keluarga korban, dan alasan mengapa kisah ini harus dituturkan. Saat Uprising Gwangju terjadi, Han Kang baru berusia sepuluh tahun.

Sekarang kita sudah memiliki raga, jadi seharusnya kita tidak perlu menggerakkan tubuh jika ingin bertemu. Namun kalau aku tidak punya tubuh, bagaimana caranya menemui Kakak? Bagaimana aku bisa mengenali Kakak yang tidak bertubuh? Ada ingatan yang tak bisa sembuh. Ingatan tersebut tidak memudar seiring berlalunya waktu, tapi malah akan menjadi satu-satunya yang tersisa ketika segala yang lain terkikis.

Well yeah, saya tak mengikuti segala hal berbau Korea. Saya tak tahu musik-musik K-Pop, drama K-Pop, atau sekedar selintas lewat di beranda sosmed langsung saya skip. Lebih bikin males, mereka memiliki nama-nama yang mirip. Di ulasan ini saya hanya menyebut tiga nama dan saya yakin seminggu lagi hanya satu yang akan kuingat, mungkin sebulan kemudian lupa semua nama-nama karakternya. Hanya sang Penulis yang mudah diingat. Kecuekanku ini, termasuk dunia literasi dari Negeri Gingseng. Kenapa saya putuskan baca ini, yang pertama ini adalah terbitan Baca. Saya sudah baca dua terbitan lama mereka, keduanya masuk best 100 Novel versiku: Herman Hesse: Stephenwolf dan karya William Golding: The Lord of the Flies (Apakah mereka dari Penerbit yang sama? Entahlah). Kiranya mereka fokus ke karya terjemahan sastra dunia, maka saat dari Penulis Vegetarian yang mengalahkan buku Eka Kurniawan ini dialihbahasakan, hanya masalah waktu saja saya pasti nikmati. Jadi wujud lahap buku ini bukan karena Korea-nya tapi penghargaan Man Booker International Prize 2016. Ini penghargaan jaminan mutu. Kedua ini adalah buku hadiah dari rekan sekerja Iyul yang bulan lalu resign untuk fokus jadi IRT. Sejatinya kalau Iyul ga belikan buku ini (dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) saya juga akan beli paket 100,000 tiga buku itu (bersama Vegetarian dan Kafka), tapi justru saya malah dapat durian runtuh bahwa Mata Malam sudah pesan di Dema Buku, yo wes jadinya budget itu saya alihkan untuk Harbolnas kemarin, meluncur ke Mizan Store.

Jadi seberapa bagus kisah tragedi Uprising Gwangju ini? Rekomendasi dah, untuk penikmat sastra yang butuh konsentrasi lebih. Kata-katanya disusun dengan jeli, terjemahan Ok banget, hanya menemukan satu typo: rasa rakut – halaman 60; kover fresh dalam artian Mata Malam sendiri adalah bulan dengan coretan urek-urekan bulan hitam. Terima kasih Penerbit Baca, terima kasih Dema Buku, terima kasih sekali untuk Iyul.

Sepertinya Vegetarian dan karya Han Kang berikutnya yang beralih bahasa Indonesia tinggal tunggu waktu yang tepat untuk kubaca. NexT…

Mata Malam | By Han Kang | Diterjemahkan dari Human Acts | copyright 2014 | First published in Korea by Changbi Publishers, Inc | Indonesian translation rights by Baca Publishing House, 2017 – Bentang Aksara Cahaya | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Arif Bagus Prasetyo | Pemeriksa aksara Moh. Sidik Nugraha | Penata isi Aniza Pujiati | Perancang sampul Wirastuti – TEKOBUKU | Ilustrasi sampul Freepik | Cetakan I: Oktober 2017 | ISBN 978-602-6486-12-7 | Skor: 4/5

Karawang, 12-131218 – Sherina Munaf – Ada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s